XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Minggu, 18 November 2012

NOW IS GOOD : Interpersonal Realities Teen Cancer Tearjerker


Tagline:
Live every moment, love every minute 

Nice-to-know: 

Karakter Tessa digambarkan memiliki rambut coklat di novel tetapi berganti menjadi pirang di film. Olivia Williams yang memerankan ibu Tessa menggunakan wig pirang untuk penyesuaiannya.

Cast: 

Dakota Fanning sebagai Tessa Scott
Kaya Scodelario sebagai Zoey
Olivia Williams sebagai Mother
Rose Leslie sebagai Fiona
Jeremy Irvine sebagai Adam
Paddy Considine sebagai Father


Director: 

Merupakan karya kedua bagi Ol Parker setelah Imagine Me & You (2005).

W For Words: 
Novel Inggris, “Before I Die” setebal 336 halaman telah diterbitkan oleh David Fickling Books di tahun 2007 bahkan sempat memenangkan Branford Boase Award 2008. Kini di tahun 2012, kolaborasi Goldcrest Pictures, BBC Films, Blueprint Pictures, Lipsync Productions, UK Film Council sepakat mengadaptasinya ke layar lebar dengan bintang utama Dakota Fanning, peraih nominasi termuda Screen Actors Guild Awards sepanjang masa di usia 7 tahun lewat I Am Sam (2001). Menarik bukan? Untuk itu kesampingkanlah premis serupa yang pernah muncul di film-film sebelumnya.

Gadis muda berusia 17 tahun bernama Tessa mengidap leukemia. Ia menolak semua proses pengobatan dan kemoterapi yang menyiksa demi mempercepat babak hidupnya. Ayahnya yang kuatir terus memantau perkembangan putrinya itu sambil sesekali dibantu mantan istrinya. Sahabat karib Tessa, Zoey membantunya menyelesaikan daftar hal-hal yang harus dilakukan sebelum mati. Keadaan mulai berubah saat tetangga barunya, pemuda tampan bernama Adam masuk ke dalam kehidupan Tessa yang secara perlahan membuatnya kembali bersemangat.

Hal pertama yang harus anda tolerir dari skrip demi bersikap obyektif adalah kecenderungan Tessa melawan orangtuanya sendiri. Bagian ini dapat dikatakan berjudi apakah sang tokoh utama mampu memenangkan simpati penonton. Saya maklum karena fakta yang terjadi memang demikian, pertentangan anak yang menginjak dewasa dengan orangtuanya kerap terjadi. Mari lihat dari sisi lain, Tessa adalah gadis pemberani yang tidak mau dikasihani oleh siapapun juga dan hanya ingin menjalani proses hidup yang mungkin tidak akan pernah sempat dilaluinya. Let’s try to fit ourselves in her shoes!

Dakota Fanning kembali bersinar dimana aksen British nya cukup meyakinkan. Tak peduli jika anda sebal pada Tessa di beberapa bagian, empati anda akan terbangun dengan sendirinya lewat sorot mata sayu dan sikap spontannya. Interaksinya dengan ayah, ibu, adik, kekasih, sahabat, dokter, suster terasa believable terlepas dari keklisean disana-sini. Karisma Irvine cukup mengimbangi lewat peran Adam yang tampan simpatik, lihat aksinya membuat snow angel di tanah bersalju. Kredit terbesar pantas diberikan pada Considine yang sukses menokohkan ayah yang tidak mau menerima kenyataan bahwa putrinya bernasib malang. Air mata saya jatuh melihat “kehancuran”nya kala bertengkar dengan Fanning.

Penulis skrip sekaligus sutradara Parker banyak mengandalkan one-liners yang mudah diingat semacam ‘Never have casual sex’, ‘Always try your hardest’ atau dialog jujur dari adik Tessa dan sarkastis dari Tessa terhadap orang-orang yang sesungguhnya menyayanginya itu. Fokus film memang ada pada substansi hubungan interpersonal walau harus mengabaikan degradasi penampilan penderita kanker dari waktu ke waktu. Gaya penyutradaraannya tergolong stylish terlepas dari beberapa kontinuitas yang patut dipertanyakan semisal, bagaimana Tessa kembali dari pantai dengan berjalan kaki setelah perginya bermotor?

Now Is Good adalah film remaja bertemakan leukemia dengan pendekatan realistis. Bagaimana reaksi seseorang dalam menghadapi situasi kritis tak selalu sesempurna dengan apa yang diharapkan. Sebagian besar dari anda jika ditempatkan di situasi yang Tessa hadapi, saya yakini akan menempuh jalan yang sama daripada harus terus menerus berdiam diri di atas tempat tidur dan pasrah menjalani segala macam pengobatan yang mungkin. Penguras air mata secara natural ini mengingatkan kita bahwa hidup hanyalah sekumpulan momen berharga, yang akan selalu datang dan pergi seiring berjalannya waktu.

Durasi: 
103 menit 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 17 November 2012

BREAKING DAWN PART 2 : Sweet Ending To A Series That You Love Or Hate


Quote:
Bella Cullen: I thought we would be safe forever. But "forever" isn't as long as I'd hoped. 

Nice-to-know: 

Film ini menghabiskan bujet $75 juta sekaligus tertinggi dari semua installment Twilight saga. 

Cast: 

Kristen Stewart sebagai Bella Swan
Robert Pattinson sebagai Edward Cullen
Taylor Lautner sebagai Jacob Black
Peter Facinelli sebagai Dr. Carlisle Cullen
Elizabeth Reaser sebagai Esme Cullen
Ashley Greene sebagai Alice Cullen
Maggie Grace sebagai Irina
Dakota Fanning sebagai Jane
Martin Sheen sebagai Aro
Kellan Lutz sebagai Emmett Cullen
Nikki Reed sebagai
Rosalie Hale 

Director: 

Merupakan feature film ketujuh bagi Bill Condon yang mengawalinya sejak Sister, Sister (1997).

W For Words: 
Lima tahun, empat buku, lima film yang menghasilkan lebih dari satu miliar dollar dari hasil peredaran di seluruh dunianya telah membawa kita pada episode penutup ini. Terima kasih pada para pecinta Twilight saga yang dikenal dengan sebutan Twihard atas sumbangsih dukungannya yang tak ternilai pada karya Stephenie Meyer ini. Bagi para penggemar franchise ini jelas akan senang melihat konklusi akhir dari cinta segitiga tak berujung Edward-Bella-Jacob. Sedangkan bagi haters mungkin akan bahagia mengetahui tidak akan ada lagi segala sesuatu yang berbau Cullen. Still not sure with the later though.

Bella
menikmati hidup barunya sebagai vampir apalagi kehadiran bayi perempuan, Renesmee yang bertumbuh cepat. Edward masih setia membantu Bella mengontrol kekuatan besar yang dimilikinya sedangkan Jacob tetap suportif menjaga putrinya kelak. Kebahagiaan terusik tatkala vampir Irina melaporkan Renesmee yang dianggap menyalahi aturan kepada Volturi yang sudah lama bersitegang dengan keluarga Cullen. Pertarungan besar antara dua klan tersebut bisa jadi tak dapat dihindari sehingga Bella-Edward dan the Cullens harus mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Anggapan finale ini bakal kehilangan gigi karena ending di buku yang konon mengecewakan ditepis oleh penulis skrip Melissa Rosenberg yang secara cerdas menonjolkan momen komedik dari keluarga vampir sohor itu. Paruh pertama menitikberatkan pada proses “adaptasi” Bella terhadap bentuk kehidupan barunya. Sifat emosionalnya terhadap Jacob di awal cerita tampak didramatisir. Untungnya tak berlangsung lama ketika romansa abadinya bersama Edward dihadirkan. Paruh kedua memperkenalkan berbagai karakter baru secara cepat dimana masing-masing memiliki kekuatan unik.

Sutradara Condon menunjukkan kelasnya dengan memperbaiki interaksi Edward-Bella-Jacob dari sekadar opera sabun belaka. Lihat bagaimana ketiganya terlihat beranjak dewasa dengan rasa tanggungjawab yang lebih besar. Sinematografi milik Guillermo Navarro di bagian pembuka mengingatkan anda pada episode National Geography dimana insting predator Bella mampu menjelajah dunia flora dan fauna secara detail. Sayangnya penggunaan CGI pada bayi Renesmee terlalu berlebihan. Sementara departemen make-up dan kostum berhasil menunaikan tugasnya dengan baik.

Stewart memberikan penjiwaan yang lebih baik pada sosok Bella dewasa, seorang istri sekaligus ibu. Usahanya untuk belajar “cepat” terpampang dari ekspresinya. Sama halnya dengan Pattinson yang mampu menampilkan sosok Edward yang terkendali tanpa harus kehilangan sisi lembutnya. Lautner tidak mendapat banyak porsi meski “transformasi” yang memamerkan kebugarannya masih menjual. Aktor senior Sheen paling mencuri perhatian dengan akting teatrikalnya lewat karakter Aro yang tricky. Pula Fanning yang mampu memaksimalkan minimnya kemunculan Jane menjadi memorable.

Breaking Dawn Part 2 bisa dikatakan episode terbaik dari franchise ini, bisa dinikmati para lovers dan haters sekalipun. Segi drama dan aksinya berjalan bersisian. Twist yang tersimpan di akhir muncul tepat pada waktunya. Klimaks pertarungan pun tergarap epik dimana unsur kekerasannya naik satu tingkat dari yang sudah-sudah. Tidak lupa tribute terhadap seluruh cast dan karakternya disisipkan dengan begitu manis. Flashback hubungan Bella dan Edward bisa jadi mengingatkan anda akan perjalanan cinta mereka yang selalu ditunggu lengkap dengan segala dialog klise nan puitis. You’ll love ‘em for thousand more.

Durasi: 
115 menit 

Overall:

7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 16 November 2012

JAB TAK HAI JAAN : Yash’s Last Breath All Time Romance


Quotes:
Samar Anand: I will not forget you, not as long as I breathe, not as long as I live... 

Nice-to-know: 

Lokasi syuting yang meliputi Mumbai, London dan Bangkok menghabiskan waktu 35 hari yang dimulai sejak 22 Februari 2012. 

Cast: 

Shah Rukh Khan sebagai Samar Anand
Katrina Kaif sebagai Meera
Anushka Sharma sebagai Akira
Rai
Anupam Kher
Rishi Kapoor

Director: 
Merupakan film ke-22 bagi Yash Chopra setelah 8 tahun absen melalui Veer-Zaara (2004).

W For Words: 
Semasa hidupnya, Yash Chopra dikenal sebagai King of Romance meski berada di belakang layar. Dua puluh dua judul yang sudah diselesaikannya telah menerima berbagai penghargaan internasional. Sayangnya pada tanggal 21 Oktober 2012 yang lalu, pria kelahiran Punjab ini menghembuskan nafas terakhirnya di usia 80 tahun akibat demam berdarah yang diderita sejak seminggu terakhir. Tentu anda tak ingin melewatkan film terakhirnya yang selesai syuting di bulan Maret 2012 yang lalu. Bagi yang belum pernah menyaksikan karyanya sebelumnya seperti saya tetap patut dicoba.

Mayor Samar Anand tergabung dalam Skuad Penjinak Bom Militer India yang telah berhasil menuntaskan 97 peledak. Saat itulah gadis belia penuh talenta Akira Rai datang untuk membesut sebuah film dokumenter. Lambat laun Akira jatuh cinta pada Samar yang tidak pernah membalas perhatiannya. Lewat buku harian terungkap bahwa Samar masih tidak bisa melupakan gadis relijius Meera yang begitu dicintainya belasan tahun lalu. Kecelakaan mobil yang terjadi pada akhirnya membuat Samar harus memilih siapa yang akan dicintainya.

Skrip yang dikerjakan oleh Devika Bhagat dan Aditya Chopra ini berupaya memadukan unsur klasik dan modern sekaligus atas nama kekuatan cinta. Lihat saja Samar dan Meera yang bercinta terlebih dahulu sebelum berkomitmen walau sebetulnya tidak lazim bagi negara Timur. Berbagai elemen melodrama klise yang terjadi di sepanjang film masih dipertahankan seperti gadis kaya yang tidak bisa menikahi pria miskin, mengabdikan diri pada pekerjaan untuk melupakan sakit hati, menjadikan agama sebagai hambatan romansa  hingga kecelakaan yang merenggut ingatan dan itu bukan hanya sekali saja.

Keahlian Yash membuat setting lokasi lokal seperti Pehalgam dan Ladakh sekalipun terasa hidup. Belum lagi London yang tergambar indah dalam tiga musim sekaligus. Terima kasih pada sinematografi cantik Anil Mehta dan editing ciamik Namrata Rao. Jangan kecilkan kontribusi musik milik AR Rahman lewat nomor-nomor seperti Challa, Ishq Shava dan Saans Mein walau tak akan terlalu memorable di telinga. Sutradara senior ini juga amat detail memperhatikan tiap aspek yang menerjemahkan dua kisah cinta berbeda jaman sekaligus tanpa kehilangan koneksi samasekali. 

SRK terbukti masih memesona di usia menjelang setengah abad dalam memerankan tentara yang menuntut kebugaran fisik. Tak perlu meragukan karismanya sebagai pecinta sejati yang mampu menaklukkan hati setiap wanita dari berbagai kalangan usia. Entah mengapa saya merasa chemistry nya dengan Akira lebih hidup dibanding Meera. Kaif memang cantik tapi perannya terlalu tipikal dengan emosi yang kurang tergali. Sebaliknya Sharma yang enerjik akan menawan hati anda dengan optimisme dan sikap blak-blakannya. Ketiganya mampu mempertahankan ritme romantika di sepanjang durasi yang kelewat lama itu.


Jab Tak Hai Jaan adalah elegi cinta tanpa syarat dengan rentang waktu yang panjang. Emosi anda akan naik turun dibuatnya sambil disuguhi presentasi memukau yang memanjakan indera. Bagaimana sebuah tema lawas yang timeless dapat menjadi versi baru yang begitu hidup di tangan Yash. Ya, mencintai yang benar memang butuh pengorbanan yang tidak sedikit. Pilihan itu akan selalu ada terlepas dari segala konsekuensinya kelak. Watch this as a tribute for Yash, viewers. We will never forget all the loves you had breezed into the cinemas.

Durasi: 
175 menit 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 15 November 2012

SEVEN PSYCHOPATHS : Bizarre Fun Psychotic Crime Comedy

Quotes:
Hans: An eye for an eye leaves the whole world blind.
Billy: No, it doesn't. There'll be one guy left with one eye. How's the last blind guy gonna take out the eye of the last guy left? 


Nice-to-know: 

Film ini awalnya direncanakan rilis terbatas pada tanggal 2 November 2012 sebelum dimajukan ke tanggal 10 Oktober 2012 dengan jangkauan lebih luas lagi.

Cast: 

Colin Farrell sebagai Marty
Sam Rockwell sebagai Billy
Christopher Walken sebagai Hans

Woody Harrelson sebagai Charlie
Michael Pitt sebagai Larry
Michael Stuhlbarg sebagai Tommy
Abbie Cornish sebagai Kaya
Olga Kurylenko
sebagai
Angela 

Director: 

Merupakan feature film kedua bagi Martin McDonagh setelah In Bruges (2008).

W For Words: 
Film ini menyusul jejak The Raid : Redemption (2012) dengan memenangkan gelar Midnight Madness People’s Choice Award di ajang Toronto International Film Festival 2012. Bagi yang tidak mengenal Martin McDonagh coba tengok filmnya sebelum ini yakni In Bruges (2008) yang juga dibintangi oleh Colin Farrell dimana dirinya juga bertindak sebagai produser, penulis skrip dan sutradara sekaligus. Gaya bertutur ala Quentin Tarantino dan Guy Ritchie pun akan anda temui disini, lengkap dalam aksen dan nuansa Inggris yang kental. Menarik bukan?

Penulis skrip Marty tengah kehabisan ide sehingga memilih untuk mabuk-mabukkan yang membuatnya ditinggalkan kekasihnya Kaya. Sahabatnya Billy seorang pembunuh bayaran dan rekannya Hans memang masih setia menemani. Namun keduanya menimbulkan masalah besar tatkala menculik anjing Shih Tzu bernama Bonia milik kepala mafia yang ditakuti yaitu Charlie. Kejadian tersebut memunculkan ide di kepala Marty untuk menulis skrip berjudul “Seven Psychopaths” dengan mengambil kejadian yang mirip dengan apa yang dialaminya saat ini sambil mencari jalan keluar untuk tetap hidup. 

Sebelum berbicara lebih jauh, anda perlu tahu dulu pengertian psikopat yaitu seseorang yang antisosial dengan perilaku yang cenderung merugikan orang lain. Tercatat 1% dari populasi manusia di seluruh dunia masuk dalam kategori ini. Dari luar mereka tampak normal dan samasekali sadar akan kegilaan yang bisa dilakukannya. Sosok yang kemudian terwakili oleh Billy, Hans dan Charlie dengan “cara”nya masing-masing mulai dari yang paling biasa hingga ekstrim sekalipun. Jangan salah, sisi rapuh mereka juga kerap tampak sehingga kompleksitas kepribadian semakin terwakili.

Berbagai referensi psikopat juga digelorakan lewat sejumlah karakter tanpa nama. Ada tentara Vietnam yang menyamar menjadi pastor, pembunuh bayaran misterius bertopeng atau sepasang kekasih kulit putih dan kulit hitam yang beraksi bersama. Tak jarang mereka yang fiktif ini mengintervensi cerita sungguhan sekaligus menegaskan absurditas kekerasan yang akan membuat anda terpekik atau bersorak sorai. Ya, cipratan darah melalui kepala meledak, leher tergorok, perut tertembak, tubuh tertusuk dsb akan mendominasi layar tanpa harus kehilangan unsur fun nya.

Perhatian anda akan tertuju pada interaksi “lempar-tangkap” Rockwell dan Walken yang berisikan dialog pintar-pintar bodoh nan provokatif sambil sesekali menyentil realita yang legendaris. Harrelson lagi-lagi kebagian tokoh kejam berperangai aneh, lihat bagaimana ia menangis ketika anjingnya terancam. Farrell sendiri lebih bersifat sebagai pengamat sekaligus penentu langkah selanjutnya yang patut ia jalankan. Sedangkan karakter wanita seperti dibahas pada satu bagian dalam film terbatas sebagai pemanis belaka meski Bright Clay dan Kurylenko cukup mencuri perhatian.

Seven Psychopaths merupakan satu dari sekian judul film yang menawarkan pengalaman nonton tergila. Komedi hitam berformat meta ini tidak kehilangan arahnya walau sesekali melangkah keluar jalur. Kinerja McDonagh bukan tanpa cela karena setiap ia “kembali” pasti menyisakan celah subplot yang tak mampu ditutupi. Namun ketajamannya dalam bertutur dan kerapiannya dalam mengeksekusi sejak menit awal selalu terjaga dengan penuh energi. Filosofinya kira-kira sebagai berikut, bertahan hidup mungkin keahlian terbaik yang dimiliki oleh seorang manusia semenjak terlahir di muka bumi termasuk kemampuan untuk membunuh atas alasan tersebut. It explains a lot in a way you could never guess!

Durasi: 
110 menit 

U.S. Box Office: 

$13,411,750 till Nov 2012 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 14 November 2012

TRAGEDI PENERBANGAN 574 : Ketika Sabuk Keselamatan KKD Tidak Menjamin Warasmu


Quotes:
Dini: Udahlah Tan, masalah Gundul Pringis itu kan cuma mitos!

Nice-to-know: 
KI 574 adalah nomor penerbangan pesawat Adam Air tujuan Surabaya-Menado yang jatuh di perairan Selat Sulawesi dan menewaskan seluruh penumpang pada tanggal 1 Januari 2007 yang lalu.

Cast: 
Kiki Amelia sebagai Dewi
Baby Margaretha sebagai Maya
Andreano Philip sebagai Pilot
Shiddiq Kamidi sebagai Siwa
Cheppy Chandra sebagai Johan
Tata Liem
Maia Novethesia
Nana Kharina
Violeta Mongi

Director: 
Merupakan debut penyutradaraan pertama bagi Assad MA setelah sebelumnya bertindak sebagai Dendam Pocong Mupeng (2010).

W For Words: 
K2K Productions rupanya sudah mencanangkan satu bulan satu proyek dengan mengesampingkan peribahasa, “Anjing menggonggong, kafilah berlalu.” yang artinya “Tak peduli orang mau caci maki, kami akan terus membuat film.” Semangat yang luar biasa kalau tidak mau dikatakan “ndablek” karena tidak didukung oleh pergeseran kreatifitas ke arah yang lebih baik. Judul terbarunya kali ini diembel-embeli dengan “Diangkat dari kisah tenggelamnya 574”, lengkap dengan tagline epik “Sabuk keselamatan tidak menjamin selamatmu..” Rasanya saya ingin mencubit pipi KK Dheeraj untuk memastikan ini mimpi atau bukan.

Empat remaja yaitu Dini, Gustav, Siwa, Tania tengah berlibur di suatu tempat di Surabaya dan mendengar mitos Gundul Pringis alias hantu berwujud kepala manusia yang seringkali saru dengan batok kelapa. Teror hantu itu menewaskan Tania di perkebunan kelapa sawit milik nenek Dini. Ketiga sahabat itu sepakat membawa jenazah Tania ke Manado menggunakan pesawat komersial. Bersamaan dengan mereka adalah pengusaha Johan yang sedang melarikan diri bersama sekretarisnya Maya setelah membantai istrinya Dewi. Penampakan Gundul Pringis tak menunggu lama untuk muncul di atas pesawat yang melaju di ketinggian ribuan kaki.

Siapa itu Melonys? Siapa itu Jane Yosijoko? Nama mereka tertera sebagai empunya ide cerita alias penulis skrip. Premis setengah jadi lantas diangkat menjadi sebuah skenario. Basically, kita punya dua kelompok disini yaitu tiga anak remaja yang tak simpatik dan sepasang pezinah. Berdiri di antara mereka ada dua hantu yakni Gundul Pringis dan arwah istri penasaran. Settingnya terjadi di sebuah hutan dan di dalam pesawat. Secara cerdas kesemua unsur tersebut dicampur aduk tanpa formula nalar dan bumbu logika. Hasilnya? Kening anda akan berkerut di sepanjang film.

Sutradara Assad MA berupaya sekuat tenaga meyakinkan penonton bahwa nyaris semua adegan berlangsung di atas pesawat yang tengah terbang seperti cahaya kelap-kelip, kondisi tidak stabil, kemunculan hantu di luar jendela pesawat dsb. Semua itu hanyalah trik saja dan apabila mata anda jeli pasti akan menemukan bloopers dimana-mana. Permainan efek khusus alias CGI amat terlihat di bagian penutupnya saat pesawat tak dapat diselamatkan dan terpaksa mendarat di laut. Sungguh menggelikan! Tidak ada ucapan terima kasih terhadap maskapai penerbangan manapun membuat saya bertambah yakin bahwa semua itu rekayasa. Yakinkan saya, Pak KK. Tolong yakinkan!

Semua aktor dan aktris yang terlibat tidak bisa disalahkan begitu saja. Limitasi karakteristik tidak memungkinkan untuk eksplorasi. Yang patut untuk dipersalahkan adalah keinginan mereka untuk tetap bermain secara nama-nama tersebut merupakan andalan K2K Productions. Anda hanya akan menyaksikan satu persatu menjerit atau berteriak histeris di sepanjang adegan. Entah apa yang ditakuti! Tak jarang semua suara mengganggu itu tenggelam dalam scoring musik yang terdengar megah. Saya pun tebak-tebakan, comotan dari mana lagi kira-kira. 

Tragedi Penerbangan 547 samasekali tidak menawarkan apa-apa. Simpati terhadap keluarga korban kecelakaan pesawat Adam Air beberapa waktu silam? Tidak! Penjelasan masuk akal dari semua kejadian supernatural yang terjadi? Tidak! Horor mencekam yang dapat mendirikan bulu kuduk? Tidak! Suspensi misterius yang bisa membuat anda bertahan hingga menit terakhir? Tidak juga! Semua ini adalah upaya “manipulatif” KKD lagi terhadap penonton film Indonesia meskipun dilakukan dengan cara yang halus. Ketika niat kuat untuk eksis tak dibarengi oleh itikad baik dan kualitas memadai maka beginilah hasilnya terlepas dari fakta bahwa arah penyajiannya sebetulnya sudah benar!

Durasi: 
80 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 11 November 2012

50/50 : Cancer Movie With Tears, Laughs and Life Lessons


Quotes:
Adam: See, but... that's bullshit. That's what everyone has been telling me since the beginning. "Oh, you're gonna be okay," and "Oh, everything's fine," and like, it's not... It makes it worse... that no one will just come out and say it. Like, "hey man, you're gonna die."


Nice-to-know: 

Joseph Gordon-Levitt benar-benar membotaki kepalanya selama syuting. Bersama Seth Rogen, mereka berimprovisasi sambil direkam walau adegan yang dimaksud tidak ada dalam skrip. 

Cast: 

Joseph Gordon-Levitt sebagai Adam
Seth Rogen sebagai Kyle
Anna Kendrick sebagai Katherine
Bryce Dallas Howard sebagai Rachael
Anjelica Huston sebagai Diane
Serge Houde sebagai Richard
 


Director: 

Merupakan feature film ketiga bagi Jonathan Levine setelah The Wackness (2008).

W For Words: 
Kanker merupakan salah satu penyakit penyebab kematian di dunia dimana jumlah penderitanya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Sudah banyak film yang mengangkat tema serupa, beberapa di antaranya yang memorable adalah Dying Young (1991), Biutiful (2010) atau Terms of Endearment (1993) yang sempat disebut-sebut dalam film ini. Dua nominasi di ajang Golden Globe 2012 untuk kategori Best Motion Picture – Comedy or Musical dan Best Performance by an Actor in a Motion Picture - Comedy or Musical untuk Joseph Gordon-Levitt tentu bukan prestasi sembarangan. Tak ada salahnya anda menyaksikan yang satu ini walau terlambat diputar di bioskop-bioskop Indonesia sekalipun.

Adam di usia 27 tahun adalah pemuda bergaya hidup sehat dan taat peraturan. Suatu hari ia memeriksakan diri ke dokter karena gangguan kesehatan yang berujung pada diagnosa tumor/kanker langka yaitu Schwannoma neurofibrosarcoma. Operasi pengangkatan yang dilakukan kemudian memiliki resiko keberhasilan lima puluh persen saja. Untuk itu ia berkonsultasi dengan terapis muda Katherine sambil mendapat dorongan semangat sahabat setianya Kyle dan ibunya yang dramatis, Diane. Berhasilkah Adam menghadapi tekanan berat dimana sisa waktunya mungkin tidak banyak lagi?

Penulis skrip Will Reiser berhasil menuangkan kisah hidupnya sendiri dengan kemiripan situasi dalam tokoh Adam. Itulah sebabnya perjalanan yang ada terasa jujur dan bermakna. Berbagai subplot yang sempat mengintervensi tidak mengganggu tapi memberikan pemahaman lebih dari sudut pandang yang berbeda. Bagaimana Adam menyikapi garis takdirnya sendiri sebagai pilihan, positif atau negatif. Bagaimana orangtua, sahabat, kekasih dan orang-orang di sekitarnya merespon kemalangan Adam sesuai dengan karakteristik masing-masing yang amat manusiawi.

Tugas Levine sebagai sutradara jelas tidak mudah karena subyek yang ditanganinya cenderung sensitif. Untuk itu ia berusaha “meringankan” nuansa gelap atau depresi dengan sempilan komedi satir yang cukup efektif memancing tawa getir. Perubahan tone secara simultan dari drama ke komedi atau sebaliknya memang tidak mudah apalagi bisa mempengaruhi keseimbangan film. Oleh karena itu paruh terakhir film menjadi sedikit terganggu apakah harus memfokuskan diri pada Adam pribadi atau substansi hubungan yang dimiliki dengan orang-orang di sekelilingnya.
Beruntung penampilan aktor-aktris disini terbilang spesial. Gordon-Levitt memberikan kompleksitas emosional yang dibutuhkan pada karakter Adam. Seseorang yang biasa hidup lurus dan teratur diajak untuk moody dan spontan. Rogen menjiwai tokoh “get going” secara menyenangkan dimana joke kasar dan pikiran kotornya sangat kontradiktif dengan sohib kecilnya tersebut. Kendrick menjembatani kecanggungan hubungan terapis-pasien dengan believable walau kepedulian di luar batas normalnya sebenarnya tidak masuk akal. Dallas Howard terampil memerankan tipikal gadis cantik oportunis. Sama halnya dengan Huston yang cekatan menghidupkan sosok ibu overprotektif yang menanggung beban berat.  

Kualitas film yang di atas rata-rata mengingatkan saya akan Juno (2007) dengan warna yang kurang lebih sama. Ragam interaksi yang sangat membumi jelas saling mendukung dengan reaksi yang diharapkan dari seorang penderita kanker. Tebaran dialog cerdas, natural, hangat dan konyol akan menghadirkan tawa dan haru secara bersamaan dalam diri penonton. Simpati deras mengalir terhadap tokoh Adam yang sebetulnya bingung harus senang atau sedih. Kanker memang tak pernah mudah untuk dihadapi tapi jelas butuh semangat untuk melaluinya, sekecil apapun kemungkinannya. This is a perfect example to learn about it and be grateful for what you already have.

Durasi:
100 menit 

U.S. Box Office: 

$35,014,192 till Dec 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 10 November 2012

WRECK IT RALPH : Best Video Game Movie With Heart and Messages


Quotes:
Wreck-It Ralph: It's hard to love your job, when no one else seems to like you for doing it... 


Nice-to-know: 

Password yang digunakan King Candy untuk mengakses game Sugar Rush adalah UP, UP, DOWN, DOWN, LEFT, RIGHT, LEFT, RIGHT, B, A, START. Ini adalah kode cheat bagi Contra pada NES dan juga controller Nintendo yang bisa memberi hingga 30 nyawa (bukan 3 seperti biasa) pada pemainnya.

Voice: 

John C. Reilly sebagai Ralph
Sarah Silverman sebagai Vanellope
Jack McBrayer sebagai Felix
Jane Lynch sebagai Calhoun
Adam Carolla sebagai Wynnchel
Alan Tudyk sebagai King Candy


Director: 

Merupakan debut penyutradaraan Rich Moore yang selama ini berpengalaman menangani TV series.

W For Words: 
Berani bertaruh bahwa anda yang umurnya tidak berbeda jauh dengan saya pasti pernah memainkan classic arcade games seperti Rally-X Pac-Man, Defender dan sebagainya. Arena dingdong pada masa itu menggunakan koin untuk mengoperasikannya, jauh berbeda dengan anak-anak masa kini yang lebih memilih bermain di rumah menggunakan komputer, PS 3, Nintendo Wii, Xbox dan berbagai perangkat mutakhir lainnya. Walt Disney is very thoughtful! Animasi terbarunya ini mengombinasikan petualangan seru dalam balutan komedi menyentuh yang bisa dinikmati semua kalangan umur.

Alkisah Ralph si penghancur bosan bertindak sebagai antagonis dalam video game Fix-It Felix Jr. Ia merasa dikucilkan dari penghuni mansion hingga memilih pergi. Partisipasinya dalam Hero’s Duty membuahkan medali emas kepahlawanan sekaligus tanpa sengaja melepas musuh mematikan ke dunia Sugar Rush yang bisa mengancam kelangsungan populasi dunia game. Sergeant Calhoun memburu virus tersebut sebelum berkembang biak sementara Ralph berupaya membantu gadis cilik Vanellope von Schweetz untuk ikut balapan walaupun dilarang oleh King Candy.

Trio Rich Moore, Phil Johnston dan Jim Reardon
sebagai penulis skenario masih menjaga pakem film-film Disney yaitu pencarian identitas diri yang sesungguhnya lewat serangkaian perjalanan tak terduga. Hal tersebut tak sepenuhnya menjadikan plotnya predictable karena terbukti beberapa twist masih disimpan hingga menit-menit terakhir. Selain itu dunia penuh warna dan setting kreatif rekaan sutradara Rich mampu menghadirkan visualisasi yang mengagumkan, baik di dalam maupun di luar dunia game. 3D nya menarik tapi bukan harga mutlak untuk menikmati animasi ini.

Sedikit pengetahuan tentang dunia video game dibutuhkan untuk lebih “menjiwai” petualangan yang disajikan. Ya, dunia magis yang baru akan hidup setelah waktu “aktif” nya berlalu ini memang imajinatif, lengkap dengan interpretasi kode, bit, piksel, avatar, kabel yang membuat para gamer bernostalgia. Humornya yang sedikit keras mungkin lebih bekerja pada penonton dewasa tapi setidaknya anak-anak lebih menghargai motion tokoh-tokohnya yang teramat kartunis tersebut. Soundtrack ear-catchy dari Owl City, AKB48 dsb semakin menghidupkan suasana. 

Ohya, sebagai pembuka ada animasi pendek hitam putih berdurasi 7 menit bertitel Paperman. Kisahnya sederhana yaitu seorang pekerja pria yang secara kebetulan bertemu seorang wanita cantik di jalan. Tanpa sengaja wanita itu meninggalkan bekas lipstik di kertas kerja sang pria. Yang terjadi kemudian adalah usaha pria mencari jalan kembali ke wanita tersebut, tentunya dengan sedikit bantuan takdir. Tanpa suara dan kata-kata, romantisme manis ini murni mengandalkan bahasa gambar yang mungkin mengingatkan anda pada pasangan Carl dan Ellie dalam Up (2009). Love it!

Jika mau mencermati, ruang lingkup Wreck-It-Ralph sebenarnya tidak seluas yang dibayangkan. Penampilan berbagai cameo lah yang menjadikannya variatif, sebut saja zombie, pac-man, Q*bert dan deretan karakter familiar lainnya. Itulah sebabnya film tak pernah kehilangan fokus plot utamanya. Saya berharap kesuksesan yang diraih akan membuka pintu kesempatan bagi spin-off lainnya dalam frame yang lebih besar lagi. Sementara itu nikmatilah dahulu animasi dengan hati ini yang menitikberatkan pada aksi heroik serta konsep persahabatan yang bermakna dalam. Bagaimana merasa nyaman dengan diri sendiri meski kerap mendapat cap negatif. This is the best video game movie ever made!

Durasi: 
101 menit 

U.S. Box Office: 

$49,038,712 till Nov 2012 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 09 November 2012

PARANORMAL ACTIVITY 4 : Similar Tricks Horror Going Downhill


Quotes:
Alex: Dad, what is that?
Doug: That is awesome!


Nice-to-know: 
Karakter yang dihidupkan Brady Allen yaitu Robbie diinspirasi dari Robbie Mannheim, seorang bocah yang disinyalir sebagai korban kerasukan sebelum menjalani proses pengusiran iblis dari tubuhnya di tahun 1959.

Cast:
Katie Featherston sebagai Katie
Kathryn Newton sebagai Alex
Matt Shively sebagai Ben
Aiden Lovekamp sebagai Wyatt 
Alexondra Lee sebagai Holly 
Brady Allen sebagai Robbie 
Stephen Dunham sebagai Doug

Director:
Henry Joost dan Ariel Schulman melanjutkan kerjasama mereka sebelumnya dalam Paranormal Activity 3 (2011).

W For Words:
Terima kasih pada Oren Peli yang sudah berhasil mengubah tren horor internasional lewat kemunculan Paranormal Activity (2007). Naskah orisinil tersebut dikembangkannya bersama Christopher Landon hingga seri ketiga. Sedangkan untuk seri keempat, Landon menggandeng Chad Feehan yang sebelumnya sempat menangani horor bertitel Beneath the Dark (2010). Konsep found-footage dengan mengambil lokasi di dalam rumah lantas menjamur dimana bermacam-macam judul lantas diproduksi di berbagai negara termasuk Indonesia sendiri. Tak usah sebut judul ya!

Lima tahun sudah Katie membunuh kekasihnya Micah, saudarinya Kristi dan iparnya Daniel sebelum mengambil keponakannya Hunter. Alex bersama ibunya Holly dan adiknya Wyatt yang tinggal di lingkungan setempat mulai mengalami kejadian aneh saat tetangga barunya Debbie tiba. Bukan hanya itu, Debbie yang dilarikan ke rumah sakit karena gangguan kesehatan menitipkan putranya Robbie yang segera akrab dengan Wyatt. Sahabat Alex, Ben melengkapi rumah mereka dengan webcam untuk merekam segala aktifitas yang terjadi. Apa yang akan mereka temukan kemudian?

Elemen baru nan unik yang biasa melengkapi franchise ini pun kembali muncul disini. Jika di seri ketiga sebelumnya ada kipas angin “dua ruang” maka kali ini diperkenalkan Kinect for Xbox 360. Sebuah perangkat yang mampu mendeteksi gerak secara 3D, mengenali wajah maupun suara melalui kamera RGB, sensor kedalaman dan mikrofon yang berjalan di perangkat software khusus. Efeknya adalah sosok anda akan terlihat seperti makhluk luar angkasa berwarna hijau di dalam kegelapan sekalipun. Adegan di ruang ini lalu menjadi trademark sehingga tak jarang panggung cerita kerap "berpindah" kesini.

Selebihnya duet sutradara Joost dan Schulman tidak menawarkan hal baru, masih dengan teknik kamera yang mirip, tata suara dan musik yang kurang lebih sama. Anda masih diajak mencari-cari "pergerakan" di segala penjuru ruangan, menunggu "kejutan" yang disiapkan serta mengumpulkan "asumsi" dari sudut pandang orang pertama. Benang merah yang berupaya dijalin dari seri pertama sampai ketiga cenderung maksa dengan korelasi minim yang pada akhirnya tidak menjelaskan apa-apa terhadap penonton yang akan memperdebatkannya kemudian.

Sayangnya penambahan tokoh tidak otomatis diikuti dengan kekayaan karakteristik. Perhatian kita seakan terpecah antara Alex-Ben dan Wyatt-Robbie dimana tak jarang terjadi intersection di antara mereka yang juga kurang maksimal. Perubahan sikap Wyatt terlalu instan seiring masuknya tokoh Katie ke dalam frame. Interaksi Newton dan Shively sesungguhnya menarik terlebih keduanya sama-sama digambarkan mempunyai sifat kepo. Wajah cantik Newton di layar lebar tentunya menjadi nilai plus tersendiri untuk memancing simpati dan rasa kepedulian pada karakter yang dibawakannya.

Paranormal Activity 4 justru terlalu ambisius untuk melipatgandakan teror di bagian penutupnya. Tak cukup satu tapi dua bahkan tiga! Ambiguitasnya malah menyisakan puluhan pernyataan tidak puas yang alih-alih memicu makian, bukan rasa penasaran terhadap franchise ini. Tambahan adegan di post-credit title juga terkesan dipaksakan untuk melanjutkan teror bernuansa err.. Hispanik? Well, someday they have to stop repeating the same tricks, similar formula. Especially considering its' quality is predictably weak and going downhill.

Durasi:
88 menit

U.S. Box Office:
$49,529,682 till Oct 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 08 November 2012

WON’T BACK DOWN : Genuine Drama Out Of Impossible Issues

Quotes:
Michael Perry: When I drink, I ask nosey questions.
Jamie Fitzpatrick: When I drink, I marry losers. 


Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh Walden Media dan Gran Via Productions ini sudah rilis di Amerika Serikat pada tanggal 28 September 2012 yang lalu. 

Cast: 

Maggie Gyllenhaal sebagai Jamie Fitzpatrick
Viola Davis sebagai Nona Alberts
Oscar Isaac sebagai Michael Perry
Holly Hunter sebagai Evelyn Riske
Rosie Perez sebagai Breena Harper
Emily Alyn Lind sebagai Malia Fitzpatrick



Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Daniel Barnz setelah Beastly (2011).

W For Words: 
Dengan jajaran cast terkemuka yang sudah terbukti kaliber Oscar, saya cukup heran melihat rating film ini amat rendah di IMDB, Rottentomatoes ataupun sejumlah situs film terpercaya lainnya. Hal itu tak menyurutkan langkah saya untuk menyaksikan film yang didistribusikan oleh 20th Century Fox ini. Dua jam kemudian, saya tahu jawabannya. Kedekatan premis dengan realita yang terjadi di kalangan  masyarakat Amerika Serikat pada khususnya membuat film ini kemudian dianggap sebagai propaganda semu, terlepas dari statusnya yang “hanya” terinspirasi dari kejadian nyata.

Jamie Fitzpatrick adalah single mother yang peduli pada pendidikan putrinya Malia yang bersekolah di Adams. Pasalnya Malia adalah penderita disleksia yang menyulitkannya untuk mengolah kata-kata. Sedangkan Nona Alberts tengah berjuang mendapatkan hak asuh putranya Cody yang idiot paska perceraian dengan suaminya Charles. Dua ibu itu bertekad mendapatkan beasiswa untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Sayangnya sistem sekolah yang tidak adil tidak memungkinkan hal itu sehingga membuat mereka bersatu melawan dewan dan perserikatan demi sistem sekolah yang baru.

Skrip yang digagas oleh Brin Hill dan Daniel Barnz ini memang masih menyisakan keklisean kontras disana-sini. Sebut saja guru baik versus jahat, orangtua peduli dan tidak peduli, anggota dewan suportif lawan tidak suportif atau perserikatan yang diwakili Riske berupaya menyuap Jamie dengan memberikan beasiswa bagi Malia lengkap dengan perbandingan sekolah elite dan buruk sekaligus. Proses dari nol hingga berisi memang diperlihatkan melalui perjuangan keras Jamie dan Nona tapi taj jarang masih terlalu instan. Too good to be true!

Gyllenhall berhasil mempotretkan sosok single mom pekerja keras siang malam yang amat memperhatikan perkembangan putrinya. Mata besarnya yang berbicara diikuti dengan gestur tubuhnya yang tegas terbilang pas menyampaikan kepribadiannya itu. Sedangkan Davis lebih sukses menjiwai sosok guru berdedikasi tinggi walaupun harus menghadapi proses perceraian dan terancam kehilangan hak asuh putranya. Sorot matanya yang tajam disertai dengan ambisinya yang kuat tergolong tepat menyampaikan antusiasmenya tersebut. Keduanya mampu menampilkan chemistry “tidak biasa” alias black & white yang saling melengkapi.


Film yang awalnya diberi judul And Still I Rise, Learning to Fly and Steel Town ini pada akhirnya mungkin terkesan memudahkan sebuah proses rumit dan tidak mungkin. Namun tujuannya jelas mulia yaitu menciptakan kualitas anak yang lebih baik lewat penempaan intensif di sekolah masing-masing meski harus didukung oleh angka statistik berapa yang bisa membaca normal dan tidak bertindak kriminal di kemudian hari. Apabila anda mengapresiasi pergerakan positif dalam menuntut perubahan dan determinasi tinggi untuk hasil yang lebih baik, Won’t Back Down samasekali tidak mengecewakan.

Durasi: 
121 menit

U.S. Box Office: 
$5,285,207 till Nov 2012

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 06 November 2012

JAKARTA HATI : Sekelumit Konflik Manusia Seantero Ibukota


Quotes:
Oh ternyata pacar kamu yang bikin istri saya mabuk laut?

Terbagi dalam 6 segmen:
ORANG LAIN (21 min)
Seorang pria di usia pertengahan 30 tengah mabuk di meja bar sambil mencelupkan cincin kawinnya ke dalam gelas di hadapannya. Tak lama datanglah seorang perempuan kisaran usia 20 yang mengatakan bahwa pacarnya berselingkuh dengan istri pria tersebut. Dalam situasi canggung, keduanya sepakat menghabiskan waktu dengan makan dan jalan bersama sembari membahas kekurangan pasangan masing-masing. Apakah mereka betul-betul mengenal diri sendiri?

MASIH ADA (17 min)
Marzuni adalah seorang anggota dewan yang ingin menyambangi rekan-rekannya di bilangan Senayan dengan membawa tas olahraga berisi uang tunai sejumlah satu milyar rupiah. Malang, mobilnya mogok dan supirnya tak mampu berbuat apa-apa. Marzuni lalu menyetop sebuah taksi dimana sang supir berceloteh tentang moral orang gede dan kecil yang memicu perdebatan di antara keduanya. Dalam perjalanan, Marzuni belajar bahwa anggapan negatif memang tak bisa lepas dari profesinya itu.

KABAR BAIK (19 min)
Bana adalah seorang polisi muda yang jujur dan disiplin meskipun banyak godaan untuk bermain kotor. Suatu saat, tahanannya adalah pria paruh baya yang ternyata ayahnya sendiri. Dituding melarikan sejumlah uang arisan berantai tetangganya sendiri, Bana harus menjalani prosedur pemeriksaan dan interogasi yang canggung. Interaksi keduanya mengungkapkan banyak cerita yang tidak diketahui Bana sekaligus menimbulkan dilema yang sulit dihindari.
HADIAH (18 min)
Seorang penulis skrip yang telah melewati masa emasnya, Firman tengah kekeringan ide dalam menyelesaikan apa yang dianggapnya akan meledak. Sahabatnya menyarankan via telepon agar Firman menghubungi langsung produsernya untuk membahas konsep komedi seks kacangan itu. Sementara putra Firman yang berusia 8 tahun merengek agar ditemani ayahnya datang ke pesta ultah teman sekolahnya yang kaya raya. Bermodalkan lima puluh ribu, Firman lantas mempertaruhkan harga dirinya.

DALAM GELAP (23 min)
Pemadaman listrik terjadi di sebuah kawasan Jakarta selepas maghrib. Pasutri muda yang biasa menyibukkan diri dengan gadget, media sosial dan seabrek kegiatan pribadi lainnya terpaksa berbicara satu sama lain. Sayangnya bahasan yang mereka ambil justru semakin memperkeruh suasana yaitu rahasia perselingkuhan masing-masing yang sudah diketahui keduanya. Betapapun mereka mencoba berdamai, kegagalan membina rumah tangga tak bisa ditutupi lagi.

DARLING FATIMAH (16 min)
Fatimah adalah perempuan keturunan Pakistan penjual darling alias dadar guling dan penganan lainnya di Pasar Senen. Kecantikan dan mulut manisnya selalu memikat para pembeli termasuk Ayun, pemuda keturunan Cina yang menaruh hati padanya. Interaksi mereka yang tak nyaman didengar karena terlampau jujur lambat laun mengarah pada cinta dimana hubungan keduanya mungkin menuju pada masa depan yang kompromis.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh 13 Entertainment ini gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 6 November 2012 yang lalu.

Cast: 
Slamet Rahardjo sebagai Marzuni
Andhika Pratama sebagai Bana
Roy Marten sebagai Ayah Bana
Dwi Sasono sebagai Firman
Agni Pratistha
Dion Wiyoko
Shahnaz Haque
sebagai Fatima
Framly Nainggolan sebagai Ayun
Surya Saputra
Asmirandah
Didi Petet
Jajang C Noer
Agus Kuncoro

Cowboy Junior

Director: 
Merupakan karya kedua bagi Salman Aristo yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis skenario ini.

Comment: 
Jika tahun lalu ada Jakarta Maghrib yang edar terbatas di jaringan bioskop Blitzmegaplex dengan konsep omnibus serupa dan durasi masing-masing segmen yang lebih singkat, maka kali ini Salman Aristo berupaya mengeksplorasi lebih jauh kedalaman hati segelintir orang yang dianggap mewakili idealisme kota Jakarta. Enam kisah pendek seperti Orang Lain, Masih Ada, Kabar Baik, Dalam Gelap, Hadiah, Darling Fatimah mengambil tema beragam yang ujung-ujungnya berpijak pada cinta itu sendiri. Hak rilis yang dipegang 21Cineplex jelas memberikan kesempatan yang lebih luas.

Kapabilitas Salman sebagai sutradara memang mengalami peningkatan. Permainan gambarnya jauh lebih variatif meski kontinuitasnya masih belum sempurna di beberapa bagian. Editing jempolan dari Cesa David setidaknya mampu menutupi hal tersebut. Dialog-dialog puitis nan menggigit tetap menjadi andalan dalam menohok perasaan penonton yang mungkin pernah berada di situasi nyata yang mirip. Sayangnya tata musik Jenal belum dapat menghadirkan penekanan nuansa yang diinginkan sehingga tak jarang pengadeganannya terasa kosong tanpa nyawa.

Dalam Gelap, Hadiah, Darling Fatimah, Masih Ada, Orang Lain, Kabar Baik. Urutan tersebut adalah susunan saya dari yang terfavorit hingga yang tidak. Ya, paruh pertama film ini menunjukkan kecanggungan yang tidak biasa sebelum diperbaiki dengan kefasihan yang lebih lancar di paruh kedua.
 Simak ulasan singkat saya terhadap masing-masing segmen. Abaikan jika anda tidak ingin tahu terlalu banyak.
Orang Lain>Kejutan berupaya disimpan rapat-rapat hingga akhir. Namun eksploitasi percakapan random tak cukup untuk menggali kepribadian dari sosok pria dan wanita disini sehingga logikanya sedikit terabaikan dan penonton tak mampu bersimpati pada keduanya. Wajah dan akting rupawan dari duet Surya Saputra dan Asmirandah setidaknya menyelamatkan bagian pembuka ini.
Masih Ada>Slamet Rahardjo tampak “sendirian” mengangkat segmen ini menangkis anggapan negatif orang-orang awam di sekitarnya. Penampilan Agus Kuncoro, Didi Petet, Herdin Hidayat yang juga tak kalah senior malahan tak cukup tegas menggarisbawahi pernyataan kontradiktif yang lahir dari stereotype pejabat negeri ini.

Kabar Baik>Pemasangan Roy Marten dengan Andhika Pratama nampaknya bukan ide yang bagus mengingat lintas generasi yang tidak didukung oleh kualitas akting yang sebanding. Konflik ayah penipu dan putra polisi seharusnya mampu memercikkan riak kekeluargaan yang kental, bukan sebatas cap legitimasi penegak dan pelanggar hukum.
Hadiah>Segmen inilah yang paling memiliki hati. Anda akan melihat kasih sayang tulus orangtua terhadap anak dan juga antar teman terlepas dari himpitan beban hidup dan kesenjangan sosial yang melatarbelakanginya. Dwi Sasono secara cemerlang menjiwai peran penulis skrip yang hidup di bawah bayang-bayang kesuksesan masa lalu sehingga lupa menyongsong masa depan. Simak pertukaran dialognya dengan sahabat di ujung telepon yang sukses menjelaskan segalanya.
Dalam Gelap>Segmen yang satu ini memang muncul dalam format steady shot minim cahaya. Pemadaman listrik yang berakhir pada perdebatan suami istri yang saling “menelanjangi” rahasia masing-masing tak memungkiri api rumah tangga yang mulai memadam. Dion dan Agni menyuguhkan gestur tubuh yang menarik disertai spontanitas kalimat sindiran yang tajam menohok walau ekspresi wajah tertutupi kegelapan.
Darling Fatimah>Keluhan saya cuma satu, Shahnaz terlalu cantik untuk peran wanita penjual di pasar. Meski begitu, usahanya menokohkan janda Pakistan pantas diacungi jempol. Sama halnya dengan Framly sebagai pemuda Cina Betawi berpendirian kuat. Interaksi Fatimah dan Ayun memang belum sempurna tapi chemistry mereka terbilang manis dalam merumuskan potensi cinta yang ada.

Menilik kualitas cerita secara keseluruhan, saya 
katakan Jakarta Hati tidak sebaik pendahulunya terlepas dari peningkatan aspek teknis yang kentara. Omnibus ini belum memiliki keseimbangan hakiki pada tiap segmennya dimana plot masing-masing tak mampu menyembunyikan kesan episodik dari sebuah potret besar. Penggunaan Jakarta sebagai ruang lingkup dan hati sebagai nyawa tampak terlalu berat untuk dirangkum terlepas dari durasi yang nyaris mencapai dua jam tersebut. Namun Salman jelas mempunyai niatan baik untuk bertutur dengan menempatkan kepingan hati ragam rasa di tiap sudut kota Jakarta yang hiruk pikuk.

Durasi: 
114 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter: