XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Rabu, 19 September 2012

CATCH .44 : Lackluster Thriller Without Any Conclusion


Quotes:
If you are going down, take everyone with you.  

Nice-to-know:
Sarah Roemer, Lizzy Caplan dan Kate Mara membatalkan keikutsertaan mereka dalam film ini.

Cast:
Malin Akerman sebagai Tes
Nikki Reed sebagai Kara
Deborah Ann Woll sebagai Dawn
Forest Whitaker sebagai Ronny
Bruce Willis sebagai Mel
Shea Whigham sebagai Billy
Jimmy Lee Jr. sebagai Jesse / Trucker
Brad Dourif sebagai Sheriff Connors

Director:
Merupakan
film kedua bagi Aaron Harvey setelah The Evil Woods (2007).

W For Words:
Film yang diperkenalkan pertama kali kepada publik melalui Cannes Film Festival 2011 di Perancis ini menggunakan “pendekatan” ala Quentin Tarantino dalam Pulp Fiction (1994). Premisnya pun tak jauh berbeda yaitu gerombolan pengedar narkoba yang mencoba untuk saling mengkhianati. Tiga nama familiar yang diyakini mampu menjual adalah Bruce Willis, Forest Whitaker dan tentunya si cantik Malin Akerman lewat multi karakteristik yang akan membuat anda menerka-nerka kemana arah film ini bergulir.

Tes, Kara dan Dawn tengah duduk di sebuah restoran pada pukul 3 pagi menanti sesuatu atau seseorang untuk menunaikan misi terakhir dari raja narkoba, Mel. Saat itulah, flashback terkuak mengenai siapa sosok Tes sesungguhnya dan apa yang membawanya terjerumus dalam dunia hitam. Seorang polisi yang menggilai Tes sejak awal pun dalam perjalanan menuju kesana dimana rencana yang awalnya tersusun rapi bisa saja menjadi berantakan.

Kesalahan fatal patut ditimpakan pada Aaron Harvey seorang. Skrip biasa-biasa saja yang terkesan setengah jadi itu tidak menawarkan intrik yang cukup tajam untuk menjaga antusiasme penonton atau pengembangan karakter yang dibutuhkan untuk keberpihakan nyata. Semua mengalir datar. Gaya penyutradaraan back and forth juga cenderung membingungkan karena pemenggalan bangunan cerita yang lemah. Satu-satunya hal yang benar dilakukannya adalah presentasi “bunuh atau dibunuh” yang mencipratkan darah secara meyakinkan.

Sosok Whitaker paling mencuri perhatian disini lewat penokohan Ronny yang “misterius”. Lihat bagaimana ekspresi dingin dan aksen Hispanik kental yang menyertai aktingnya. Akerman dapat dikatakan belum berhasil mengangkat film sebagai strong female lead diatas Reed dan Ann Woll meski daya pikat fisiknya tidak diragukan. Lain hal dengan Willis yang underused dimana keterbatasan screentime membuatnya tak mampu menjiwai karakter Mel yang eksentrik secara utuh. Kasus yang sama berlaku pada Dourif sebagai Sheriff Connors.

Pada akhirnya Catch .44 meninggalkan semacam hutang pada penonton. Bagaimana tidak? Klimaks letusan tiga pistol yang saling tertodong satu sama lain tidak dipaparkan lagi. Layar ditutup begitu saja tanpa dosa oleh Harvey. Goddamnit! Audiens mungkin akan menebak pihak mana yang kira-kira selamat tapi tidak terlalu peduli lagi dengan konklusi tersebut. Jika anda mengharapkan twist berlapis nan cerdas dari sebuah action thriller mumpuni, catch another well-known titles from the past. At least they won’t disappoint you like this one. Avoid!

Durasi:
94 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 18 September 2012

FALLIN’ IN LOVE : Romansa Segitiga Remaja Ala Sinetron


Quotes: 
Beben: Aku orang desa yang hidupnya biasa-biasa saja.
Larasati: Aku suka kok yang biasa-biasa saja.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Productions ini gala premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI pada tanggal 18 September 2012.

Cast: 
Adly Fayruz sebagai Rado
Mikha Tambayong sebagai Larasati
Agesh Palmer sebagai Nita
Boy William sebagai Beben
Yati Surachman
Jerry Likumahwa

Director: 
Merupakan film ke-17 bagi Findo Purwono HW setelah terakhir Suster Keramas 2 (2011).

W For Words: 
Jika topik cinta segitiga sudah ribuan kali diangkat ke layar lebar lantas apa lagi yang tersisa? Meski begitu, Mitra Pictures dan BIC Productions tetap mencoba peruntungannya di akhir kwartal ketiga tahun 2012 ini. Tumpuannya jelas ada pada ketiga bintang muda yang dianggap memiliki potensi untuk menjadi besar kelak yaitu Adly Fayruz, Mikha Tambayong dan Boy William selain tentunya sutradara yang juga sudah memiliki nama lewat serangkaian film percintaan remaja yang pernah dibesutnya yakni Findo Purwono HW, sebut saja salah satu yang terbaik yaitu Love In Perth (2010).

Larasati adalah tipikal gadis 16 tahun yang menggemari novel cinta dan film roman Korea. Di sekolah, ia jatuh cinta pada kakak kelasnya, Rado. Kedekatan keduanya terjalin lewat latihan softball bersama. Sayang mantan kekasih Rado, Nita tidak tinggal diam dan berhasil membuat Laras patah hati. Demi menghalau kesedihannya, Laras berangkat ke rumah nenek di Bandung dimana ia berkenalan dengan pemuda bersahaja, Beben. Akankah Laras mampu melupakan sosok Rado sepenuhnya dan beralih pada Beben yang menyayanginya?

Nyatanya penulis skenario Alim Sudio tidak mampu memberikan 'identitas' dalam filmnya. Saya tidak menemukan kohesi tarik menarik antara kesukaan Larasati akan drama Korea dengan kehidupan percintaannya yang labil itu, sekadar tempelan belaka yang bahkan tidak melekat samasekali. Laras tidak memiliki alasan yang kuat untuk langsung berpaling pada Beben hanya karena kebersamaan sehari semalam, Rado juga tidak terlihat bersungguh-sungguh menunjukkan perjuangannya untuk memenangkan hati Larasati.

Mikha seharusnya mampu memberi nyawa sebagai karakter sentral, tidak perlu bagus tapi cukup believable untuk menempatkan penonton berada di pihaknya. Kelemahan karakteristiknya semakin diperburuk dengan sikap malas membantu oma atau membolos dari sekolah. You still wanna cheer for this kind of girl? Sama halnya dengan Adly yang flat dalam menerjemahkan emosi apalagi menentukan pilihan hatinya. Sosok idola sekolah juga cuma dibangunnya lewat permainan softball dan sedikit pengolahan kata-kata manis terbungkus wajah lugu? Boy William mungkin satu-satunya yang terlihat 'berakting' disini. Penonton setidaknya mampu merasakan kelembutan dan ketulusannya dalam mencintai. Usahanya mengubah aksen kebarat-baratan menjadi Sunda khas pemuda desa pantas diapresiasi.


Sutradara Findo tidak cukup konsisten mengerahkan segenap kemampuan berceritanya. Latar belakang waktu pun tidak diperhatikannya, lihat bagaimana Beben mengajarkan Laras berkuda dari pagi sampai malam? Jangan lupakan satu scene apik nan epik ketika Laras dan Beben 'membubarkan' kawanan kunang-kunang dari kerimbunan yang lantas membentuk tanda hati. Ah! Sekuens adegan demi adegan juga terasa putus-putus sehingga bangunan cerita terkesan tidak utuh terlebih mendekati akhir film. 

Fallin' In Love berupaya keras menjual romantika remaja yang sedekat mungkin dengan kehidupan sehari-hari tapi sayangnya jatuh terlalu jauh dari realita. Rasa suka, senang, marah, terluka yang berujung pada bingung menentukan pilihan pun didramatisir sedemikian rupa hingga sampai pada satu konklusi, “Kamu harus memilih pakai hati, bukan mata.” Sebuah petuah sejak jaman batu yang masih saja ampuh digunakan sebagai penutup film cinta. By the way, semua segi dalam film ini nyaris tak ada bedanya dengan apa yang disodorkan sinetron stripping ala televisi kecuali tentunya layar besar yang memutarnya.



Durasi: 
80 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 17 September 2012

RAYYA, CAHAYA DI ATAS CAHAYA : Sinergi Dua Kalbu Terhempas Cinta


Quotes: 
Rayya: Rayya itu gelap, kegelapan butuh ngomong pada bintang-bintang bercahaya di atas langit, bukan ngomong pada sesama kegelapan.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Pic[k]lock Production dan Menara Alisya Multimedia ini gala premierenya akan diselenggarakan di Hollywood XXI pada tanggal 17 September 2012.

Cast: 
Titi Sjuman sebagai Rayya
Tio Pakusadewo sebagai Arya
Alex Abbad sebagai Kemal
Christine Hakim sebagai Bude
Lila Azizah sebagai Dea
Arie Dagienk
Verdi Solaiman
Masayu Anastasia
Fanny Fabriana
Vedie Bellamy
Bobby Rachman

Director: 
Merupakan film kelima bagi Viva Westi setelah terakhir kurang berhasil dalam Pocong Keliling (2010).

W For Words: 
Salah satu film yg paling saya tunggu akhir tahun 2011 lalu ini ternyata mengalami penundaan rilis hingga 10 bulan, bahkan mengalami pergantian judul menjadi Rayya saja dimana judul semula menjadi subjudul. Tak mengapa jika pada akhirnya tetap dapat dinikmati dan tentunya diapresiasi oleh para penikmat film lokal. Rasa optimis itu muncul kala melihat keterlibatan nama-nama besar di dalamnya, sebut saja Titi Sjuman, Tio Pakusadewo di jajaran cast serta sutradara Viva Westi yang juga menulis skripnya langsung bersama Emha Ainun Nadjib. 

Selebritis Rayya tengah mengerjakan proyek pembuatan autobiografinya dengan melakukan sesi foto sepanjang perjalanan Jakarta sampai Bali. Fotografer muda Kemal tak tahan dengan sikap moodynya hingga memutuskan mundur, digantikan oleh fotografer senior Arya. Sesungguhnya Rayya tengah menyimpan duka karena kekasihnya Bram memilih menikahi wanita lain. Beruntung Arya mampu memahaminya dengan baik karena kenangan pahit masa lalu yang juga disimpannya. Akankah kedua hati yang terluka itu dapat menimbulkan ikatan yang kuat?


Tokoh utama bernama Rayya ini digambarkan sempurna, setidaknya itulah anggapan orang-orang. Ia cantik, terkenal, kaya, bebas dan bisa menaklukkan hati pria manapun juga. Namun sebaliknya penonton diajak melihat sisi rapuh sebuah kesempurnaan, yang lahir karena kegundahan dan kasih tak sampai, lantas merasa berhak melampiaskannya dalam bentuk kemarahan. Sayangnya kita hanya mengenal Rayya dari fase tengah hidupnya, tanpa mengetahui latar belakang yang lebih dari itu. Proses pencapaian "status" tertinggi itupun tak digubris, menghapus marka penting yang dapat membantu pemahaman utuh terhadap karakternya.

Tokoh utama lain dari gender berlawanan adalah Arya yang jelas bukanlah tandingan Rayya. Ia konvensional, miskin dan pernah gagal membina rumah tangga bersama Dea yang telah memberinya satu putra. Namun pengalaman pahit tersebut justru menguatkan dirinya untuk menjalani cobaan hidup yang kian berat. Jika biasanya pria takluk pada Rayya, Arya justru mampu meredamnya dengan kharisma, kedewasaan dan kecerdasan yang tidak biasa, terlihat dari pemilihan kata-kata bernada sarkastik yang mementahkan semua tudingan.

Titi Sjuman bermain gemilang dalam mendefinisikan karakter Rayya walau tak semumpuni bayangan saya. Kemarahannya terkadang dilontarkan secara berlebihan tanpa kendali emosi yang wajar. Sebaliknya Tio berhasil menjiwai karakter Arya lewat pemaparan aksi reaksi yang terkontrol matang. Chemistry keduanya terbilang kuat dan believeable meski mendekati ending terkesan sedikit mengalami deviasi dikarenakan intensitas tinggi sejak menit pertama film bergulir. Penampilan singkat Christine Hakim tetap mencuri perhatian. Selain itu cameo berbagai artis yang tak asing lagi juga silih berganti hadir mengisi layar.

Sutradara Viva Westi memanfaatkan pemandangan panoramik sebagai latar belakang penceritaan yang mengalir penuh riak. Durasi 118 menit dimaksimalkan sedemikian rupa untuk mempresentasikan setiap adegan di segala sudut kota Yogya dan Bali dalam berbagai suasana pagi, siang, sore, malam memang semakin menegaskan bahwa aspek sosial budaya juga penting jika dilibatkan secara benar. Esensi road movie bermobilitas tinggi berhasil disampaikan secara detil tanpa impresi terburu-buru. 

Rayya sukses memberikan pengalaman sinema yang teramat dewasa untuk dimengerti benar. Sebuah studi kasus kompleksitas egosentris dan penyerahan diri seorang manusia dalam menyikapi setiap permasalahan yang menghampiri. Sisipan pesan moral disana-sini patut menjadi renungan tanpa muatan elemen yang terlampau berat untuk dipikul bersama. Cahaya akan selalu menjadi musuh kegelapan sekaligus memaknai harapan yang datang kelak. Momen dimana Rayya siap menyongsongnya dengan pribadi baru yang bersinar.


Durasi: 
117 menit

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 16 September 2012

CRAWL : Crawling Its Suspense Over Classic Approach


Tagline:
Everything was going to plan.  

Nice-to-know: 
Film yang menjalani proses syuting selama 25 hari ini menggunakan Blood Simple, Let The Right One In dan Rear Window sebagai referensi para pemainnya.

Cast: 
Georgina Haig sebagai Marilyn Burns
George Shevtsov sebagai The Stranger
Paul Holmes sebagai Slim Walding
Andy Barclay sebagai Travis
Paul Bryant sebagai Sergeant Byrd
Lauren Dillon sebagai Holly
William Garvey sebagai
Gus Summers

Director: 

Merupakan debut penyutradaraan Paul China.

W For Words: 
Melakukan premiere dan merenggut tiga piala di ajang bergengsi Screamfest Film Festival di Hollywood untuk kategori Sutradara Terbaik (Paul China), Aktris Terbaik (Georgina Haig) dan Sinematografi Terbaik (Brian J. Breheny) tentu bukanlah prestasi sembarangan. Thriller negeri kanguru ini menitikberatkan pada situasi tak terduga yang dihadapi para karakternya dimana rencana hanyalah tinggal rencana. Publik Indonesia berkesempatan menyaksikannya lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex yang sayangnya baru menjangkau Jakarta, Bekasi, Tangerang dan Bandung saja.
 
Pemilik bar Slim Walding menyewa jasa pembunuh bayaran dari Kroasia untuk menghabisi pemilik bengkel Rusty yang berhutang padanya. Sementara itu pelayan bar, Marilyn pulang kerja dengan perasaan berbunga-bunga karena yakin sang kekasih Travis akan melamarnya. Ia tidak tahu jika Travis tertabrak mobil sang pembunuh yang melintas. Yang terjadi kemudian, sang pembunuh masuk ke rumah Marilyn dan menyandera gadis tak bersalah tersebut. Mampukah Marilyn membebaskan diri sekaligus menghindari maut?

Penulis sekaligus sutradara Paul China tampak menggunakan pendekatan ala Hitchcock untuk menjaga suspensinya. Lihat saja setting lokasi dan elemen pendukung yang dipilih secara detail untuk memperkuat cerita dari bar kumuh ke rumah terisolir. Belum lagi close-up shot yang dipilih tak jarang menampilkan bagian tubuh tertentu saja mulai dari tangan yang meraba dinding, kaki yang menuruni tangga dsb. Semua itu diperkuat dengan ilustrasi musik menggetarkan milik Christopher Gordon.
 
Tiga karakter utamanya juga bermain kuat terlepas dari limitasi skrip di tangan mereka. Penampilan “berdarah dingin” George Shevtsov sebagai pria paruh baya Kroasia tanpa nama tanpa suara mungkin mengingatkan anda pada Javier Bardem dalam No Country For Old Men(2007). Acungan jempol patut dilayangkan pada Georgina Haig atas reaksi dan ekspresinya sebagai sosok protagonis malang yang berada pada tempat dan waktu yang salah. Paul Holmes juga terampil melakoni pemilik bar brengsek dengan segala sifat gelapnya.

Crawl merupakan thriller gelap dengan pendekatan klasik. Bukan sesuatu yang baru terlebih tema home invasion yang diusungnya tetapi jelas masih tersaji dengan brilian. Satu-satunya kendala adalah penunjuk waktu yang sepertinya harus direnggut dari genggaman anda karena tempo yang berjalan amat lambat atas rentetan peristiwa yang sebetulnya sederhana itu. Pertarungan penentuan hidup-mati antara Marilyn dan sang pembunuh dijamin akan membuat anda menahan napas setelah disuguhi beberapa tumpahan darah sebelumnya.

Durasi:
80 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 15 September 2012

BARFI! : Unconditional Loves Within Silent Beautiful Canvas

Quotes: 
His parents named him Murphy, but everyone calls him Barfi.


Nice-to-know: 
Awalnya Katrina Kaif dicasting sebagai narator tetapi membatalkannya tanpa alasan yang jelas. Kemudian 'Ileana D'Cruz terpilih untuk bergabung.

Cast: 
Ranbir Kapoor sebagai Barfii
Priyanka Chopra sebagai Jhilmil Singh
Ileana D’cruz sebagai Shruti
Haradhan Bannerjee sebagai Dadu
Sumona Chakravarti
Roopa Ganguly

Director:
Merupakan
feature film kedelapan bagi Anurag Basu setelah Kites (2010).

W For Words: 
Indonesia cukup beruntung mendapatkan kesempatan yang sama dengan India untuk menyaksikan produksi UTV Motion Pictures ini pada tanggal 14 September 2012 lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex. Garis besar plotnya sendiri berkisar mengenai pernyataan abadi bahwa cinta itu buta. Barfi memang tidak buta tetapi ia tuli, tetap tidak menyurutkan semangatnya untuk mengejar cinta sejati terlepas dari rasa pesimistis orang-orang di sekitarnya. Inilah film yang digadang-gadangkan akan mewakili India dalam ajang Academy Awards 2013 kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.

Murphy lahir dalam kondisi tuli yang lantas berdampak pada kebisuannya kelak. Satu-satunya kata yang bisa diucapkannya adalah Barfi yang kemudian menjadi nama panggilannya. Keluarganya yang miskin tetap hidup bahagia di rumah sederhana tepi bukit Darjeeling. Pertemuan dengan Shruti yang sudah bertunangan membuat Barfi jatuh cinta. Selain itu, Barfi juga berteman dengan Jhilmil, putri konglomerat yang menderita autis. Ketika Jhilmil menghilang, inspektur polisi malah mencurigai campur tangan Barfi yang diduga terlibat kasus penculikan dengan motif tebusan.
 
Skrip karya Anurag Basu dan Sanjeev Datta ini sebetulnya bisa saja terjebak dalam drama percintaan klise yang melankolis. Untungnya hal itu tidak terjadi. Perjalanan ruang dan waktu selama tiga masa mulai dari 1978, 1972 hingga 2012 menjelaskan evolusi hubungan ketiga karakter utamanya. Bagaimana rasa cinta, harapan, kekecewaan, penerimaan mampu berkolaborasi menciptakan suatu siklus panjang yang sangat emosional. Narasi Shruti yang juga menggunakan sudut pandang dirinya bertutur secara detil tanpa memihak.

Sutradara Basu mengawali film layaknya mimpi indah dimana perkenalan terhadap dunia Barfi yang naïf dan sunyi dilakukan secara ceria dan penuh warna. Sinematografer Ravi Varman menunaikan tugasnya dengan baik dalam menyuguhkan visualisasi Bengal Utara alias Darjeeling. Sayangnya di paruh kedua mengalami penurunan dimana cinta segitiga itu dibumbui dengan intrik yang tidak efektif dan ending yang mudah diterka. Perubahan mood signifikan yang juga turut menjebloskan penonton ke dalam penjara gelap nan depresi. Setidaknya dukungan musik gitar dan akordion dari Pritam Chakraborty serta tata kostum dari Aki Narula dan Shefalina masih cukup solid.
 
Ranbir Kapoor kembali menyajikan akting kelas festival dengan penjiwaan Barfi yang luar biasa mulai dari bahasa tubuh hingga ekspresi yang simpatik, mengingatkan anda pada Charlie Chaplin. Priyanka Chopra mendapat tantangan besar di luar kebiasaannya dengan peran Jhilmil yang autis. Ia melakukannya dengan wajar tanpa terlihat dibuat-buat dan tetap terlihat manis. Pendatang baru Illeana D’Cruz menjiwai tokoh Shruti dengan emosi yang terjaga meskipun digambarkan menentang norma sosial sekaligus kata hatinya sendiri. Chemistry antar ketiganya juga terbangun sempurna dalam tradisi unconditional love yang ortodoks.

Barfi akan menggugah anda, tanpa harus dikondisikan untuk itu. Film India yang sedikit mengadopsi gaya Perancis ini meleburkan semua elemen perasaan ke dalam sebuah kanvas cinta yang diwarnai pertemuan dan perpisahan lewat siklus yang berulang-ulang. Anda mungkin menemukan kemiripan referensi dengan The Notebook (2004) ataupun The Curious Case of Benjamin Button (2008). Apabila kebisuan mampu “berbicara” lewat senyum tulus dan sikap ikhlas tentu tak ada alasan bagi anda untuk tidak jatuh cinta pada sosok Barfi. A tender portrayal of a charming unlucky man who will inspire you the most!

Durasi: 
120 menit

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:



Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent 

Jumat, 14 September 2012

THE WATCH : Absolutely Predictable Alien Watchers


Quote: 
Evan: [Looking at green gunge] What a second I've seen this stuff before.
Franklin: Had you just won a Nickelodeon Kid's choice award?   

Nice-to-know: 
Awalnya film ini dikabarkan berjudul "Neighborhood Watch".

Cast: 
Ben Stiller sebagai Evan
Vince Vaughn sebagai Bob
Jonah Hill sebagai Franklin
Richard Ayoade sebagai Jamarcus
Rosemarie DeWitt sebagai Abby
Will Forte sebagai Sgt. Bressman
Doug Jones sebagai Hero Alien


Director: 

Merupakan feature film kedua bagi Akiva Schaffer setelah Hot Rod (2007) yang lebih banyak menangani acara Saturday Night Live ini.

W For Words: 
Intensi filmmakers sedari awal sudah jelas yaitu mengusung genre sci-fi comedy. Namun apakah tema alien tidak basi karena sudah dieksplorasi berulang kali dalam berbagai cara? Tampaknya duo produser Shawn Levy dan Tom McNulty masih cukup percaya diri dengan kwartet kocak Ben Stiller, Vince Vaughn, Jonah Hill dan Richard Ayoade yang diharapkan mampu menjaga kekuatan box-office nya terlebih di pasaran Amerika Serikat dan sekitarnya. Let’s see if it still works around the corner even after changing its’ original title.
 
Senior manager Costco, Evan mendapati salah satu petugas securitynya terbunuh mengenaskan di lingkungan kerja. Hal ini membuatnya berinisiatif mengumpulkan tim siskamling yang ternyata hanya menarik Bob, Franklin dan Jamarcus. Mereka sepakat mengintai kompleks tempat tinggal setiap malam untuk membekuk pelakunya yang disinyalir psikopat atau bahkan binatang buas. Rumah tangga Evan sendiri sedang bermasalah dimana istrinya Abby sangat mendambakan anak. Apa reaksi mereka saat mengetahui bahwa dalang di balik semua itu adalah kawanan alien yang berniat menguasai bumi?

Seth Rogen dan Evan Goldberg yang terkenal dengan komedi karakteristik dalam film-film sebelumnya kali ini tidak mampu menyuguhkan skrip yang fresh dan unpredictable. Terlampau banyak aspek dalam film bergenre serupa yang sudah digunakan sebelumnya, termasuk baru-baru ini dari Inggris yaitu Attack The Block (2011). Invasi alien yang dikombinasikan dengan satir gagal mengundang tawa ataupun ketegangan yang dibutuhkan untuk menjaga minat penonton. Belum lagi sempilan dialog dan adegan vulgar disana-sini yang tidak inspiratif samasekali, cenderung membuat kening berkerut.
 
Vaughn dengan tipikal family guy yang menghadapi masalah dengan putrinya tidak memberikan hal baru. Sama halnya Stiller yang malah berupaya menghidupkan momen menyentuh dengan istrinya gagal menunjukkan kepemimpinan di antara grup mereka. Jika harus memilih dua yang setidaknya likeable adalah Hill yang tengah naik daun dan Ayoade yang sedikit rasis. Keduanya mampu membangkitkan unsur komedik spontan tanpa harus bersusah payah. Penampilan khusus Billy Crudup sedikit membantu saat semua kecurigaan bertumpu pada karakter tetangga yang diperankannya.

Tampilan kawanan alien yang menyerbu bumi itupun amat tipikal, tidak inovatif dan tidak menyeramkan. Semua sisi yang dapat dijual The Watch pun nihil tak tersisa. Film ini hanya diperuntukkan bagi anda yang benar-benar menggemari old faces like Stiller and Vaughn or new ones like Hill and Ayoade yang “diyakini” kaliber di bidang komedi. Beri sedikit kredit pada sutradara Schaffer yang sebenarnya berbakat, terlihat dari kesiapan berbagai departemen pendukung. Yeah, faktor mitos makhluk angkasa luar itu sendiri sampai kapanpun tetap mengundang rasa penasaran, mengingat bumi bukanlah satu-satunya planet di dalam sistem tata surya kita ini. Who knows what is over there?

Durasi: 
102 menit

U.S. Box Office: 
$33,998,900 till Sept 2012

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 13 September 2012

MAMA CAKE : Brownies Penuh Muatan Rasa Hidup

Quotes:
Willy: Ngapain sih loe pake ngelempar hp orang segala?
Rakha: Gua cuma pengen liat hubungan loe berdua bener..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Falcon Pictures ini gala premierenya diadakan di Universitas Trisakti pada tanggal 11 September 2012.

Cast:
Ananda Omesh sebagai Rakha
Boy William sebagai Willy
Arie Dagienkz sebagai Rio
Dinda Kanyadewi sebagai Mawar
Renata Kusmanto sebagai Loly
Fajar Umbara
Herichan
Kinaryosih
Candil
Didi Petet
Ferry Maryadi

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Anggy Umbara.

W For Words:
Jika sekotak brownies kukus mampu menjadi obyek bercerita dalam sebuah film lokal tentu merupakan hal baru yang pantas diapresiasi. Khrisna Anggara menggunakan “merk” yang katanya tersedia di Bandung tersebut ke dalam skenario panjang lebar yang ditulisnya bersama Hilman Mutasi dan Sofyan Jambul. Produksi terbaru Falcon Pictures ini memang lebih tepat dikatakan sebagai road movie dari sudut pandang tiga pria muda usia 24 tahun yang bersahabat karib terlepas dari perbedaan karakter mendasar di antara mereka.

Rakha bertutur mengenai prinsip idealis, anak harus patuh pada orangtua walau menghadapi dilematis pengambilan keputusan yang menyangkut masa depannya sendiri. Willy berkisah mengenai prinsip bercinta, lelaki mesti menimba pengalaman sebanyak-banyaknya dengan perempuan yang berbeda-beda meski telah memiliki kekasih setia. Rio berbicara mengenai prinsip pencinta universal, manusia wajib mengasihi sesama makhluk hidup biarpun tak dilandasi hubungan harmonis dengan Sang Pencipta. Ketiga tokoh ini lantas “sibuk” mengulik problema masing-masing yang tertuang secara wajar mengalir.

Ananda Omesh dan Boy William memperlihatkan akting yang solid dengan range ekspresi yang luas. Namun terlihat mereka seakan menjadi dirinya sendiri dimana satu-satunya beban mungkin datang dari muatan dialog yang cenderung “berat”. Arie Dagienkz mungkin tidak mendapatkan kesempatan sebanyak dua nama itu tapi penampilan stupid dan annoyingnya cukup mencuri perhatian. Deretan pendukung ataupun cameo ternama mampu memperkaya ragam karakterisasi yang unik dan khas termasuk dua hot babes, Dinda Kanyadewi dan Renata Kusmanto sebagai love interest Rakha dan Willy.

Sutradara yang lebih dikenal dengan nama Anggy Umbara yang berangkat dari kultur musik metal lewat bandnya, Purgatory ini menampilkan sisi surealis melalui padang rumput/tumbuhan yang berwarna kebiruan di sepanjang panggung transisi bagi ketiga tokoh yang sedang dibesarkannya. Gaya penyutradaraan stylish ala MTV pun tercipta lewat permainan angle, shot dan frame yang mengingatkan kita pada panel-panel komik bergambar. Keunikan tersebut setidaknya sukses mempertahankan ritme film yang berdurasi amat panjang untuk ukuran sebuah film lokal.



Selipan pesan moral nyaris di setiap adegannya memang terkesan kamuflase, disamarkan sedemikian rupa agar tidak bersifat menggurui. Segi agama, sosial, budaya, ilmu pengetahuan tak luput dari pembahasan yang saling terkait. Aspek sosial mendapat porsi terbesar dimana persahabatan, hubungan antar anggota keluarga, pergaulan bebas, keperawanan sampai homoseksualitas dijabarkan lengkap dan menyeluruh. Tak jarang identitas seseorang dipertanyakan jika kelakuannya bertentangan dengan ajarannya sendiri. Isu yang sangat marak belakangan ini dan menjadi tolak ukur tersendiri yang dihubungkan dengan kualitas hidup.

Mama Cake adalah sebuah petualangan, proses pencarian jati diri yang melelahkan karena sangat berliku dan penuh hambatan yang tak ada habisnya. Andai saja editing yang ciamik itu bisa lebih berani melakukan pemangkasan disana-sini demi penceritaan yang lebih straight-forward. Tak usah takut didoktrin dengan ajaran yang ada, cukup ikuti saja perjalanan penuh emosi yang amat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Brownies memang tidak terlihat menarik tapi jelas mudah dinikmati. Simbolisasi cerdas yang tentunya membawa angin segar bagi perfilman nasional di tengah kekeringan inisiatif yang inovatif.

Durasi:
143 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter: