XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Rabu, 18 April 2012

AMPHIBIOUS 3D : Too Old For Such Scare













Quote:
Rudi: Lihat, sudah kubilang ada hal buruk di bawah sana!

Nice-to-know:
Sedianya akan dirilis pada bulan Oktober 2011 bersamaan dengan ajang iNAFFF05 tetapi mengalami kemunduran jadwal hingga enam bulan berikutnya.

Cast:
Janna Fassaert sebagai Skylar Shane
Michael Paré sebagai Jack Bowman
Monica Sayangbati sebagai Tamal
Verdi Solaiman sebagai Andi
Mohammad Aditya sebagai Big Rudi

Director:
Merupakan film ke-11 bagi Brian Yuzna dimana Rottweiler (2004) adalah yang terakhir beredar di bioskop-bioskop Indonesia.

W for Words:
Produksi Fu Works, Komodo Dragon, Komodo Films dan The 3D Company ini mengklaim dirinya sebagai film 3D Indonesia pertama walaupun produksinya masih patungan dengan Belanda. Naskahnya digubah oleh John Penney, Somtow Sucharitkul dan Brian Yuzna dari hasil pemikiran San Fu Maltha. Permasalahannya adalah mereka seakan terlambat setidaknya 20 tahun menggarap tema yang populer di masa silam itu tanpa perlu saya sebutkan judulnya satu persatu.
Ahli biologi kelautan, Skylar Shane menyewa jasa ekspatriat kapten kapal, Jack Bowman untuk mencari spesies prasejarah dari jaman Sileurian yang muncul karena tsunami di perairan Sumatera Utara. Sayangnya ekspedisi mereka terganggu karena ulah kawan-kawan Jack yang juga penyelundup itu terlebih mempekerjakan anak-anak di bawah umur termasuk Tamal yang kerapkali memohon kebebasan. Teror mulai muncul saat makhluk yang bernama Mixopterus itu muncul dan menelan korban satu persatu.

Alasan utama saya menyaksikan film ini adalah Brian Yuzna. Sutradara spesialis horor thriller kelas 2 (atau bahkan 3) yang film-filmnya masih enak ditonton karena faktor darah dan kejutan yang tidak menyenangkan. Sayangnya disini seberapapun ia berupaya, tidak mampu menutupi kekurangan akting para cast yang amat miskin, terutama orang-orang Indonesia itu sendiri yang saya tidak habis pikir mengapa bisa ikut-ikutan berbahasa Inggris. Dialog yang tercipta di antara mereka juga amat dangkal terlepas dari suspensi cerita yang sebetulnya masih bergulir itu.
Mixopterus tersebut dapat dikatakan kalajengking raksasa dimana ekornya yang tajam langsung dapat menusuk orang hingga tewas atau racunnya yang mematikan bisa disemprotkan untuk membutakan panca indera. Kemampuan hidup di darat dan di laut membuat hewan amfibi yang satu ini istimewa. Spesial efek yang dikomandoi oleh Orlando Bassi ini mampu mewujudkan penampakan Mixopterus dengan cukup mengesankan meski belum masuk kategori sempurna.

Satu-satunya kelebihan Amphibious 3D adalah memadukan unsur mistis lokal dengan makhluk predator dimana endingnya terbilang berani setelah melalui berbagai adegan berdarah yang harus digunting habis oleh LSF. Di luar itu, horor yang satu ini membosankan karena berjalan dalam tempo yang lambat dan narasi yang bertele-tele. Jermal yang digunakan sebagai latar belakang padahal sudah merupakan production value yang bagus untuk memicu ketegangan di atas keterasingan para karakternya. It has potential but not enough to deliver with all those lesser 3D gimmicks. Watchable for once before completely forgotten!

Durasi:
83 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 16 April 2012

GONE : Lazy Thriller Little Suspense

Tagline:
No one believes her. Nothing will stop her.

Nice-to-know:
Film yang berlokasi syuting di Portland, OR yang juga kampung kelahiran Joel David Moore ini tidak mengadakan screening di awal rilis.

Cast:
Amanda Seyfried sebagai Jill
Daniel Sunjata sebagai Powers
Jennifer Carpenter sebagai Sharon Ames
Wes Bentley sebagai Peter Hood
Sebastian Stan sebagai Billy
Nick Searcy sebagai Mr. Miller

Director:
Pria Brazil yang mengawali karir penyutradaraan feature film berjudul Nina (2004) bernama Heitor Dhalia ini mengerjakan film keempatnya sejauh ini.

W for Words:
Pemilihan judul film ini terbilang amat sederhana sehingga sulit bagi penonton untuk mereka apa kira-kira yang ingin disuguhkan oleh sutradara Dhalia dan penulis skrip Allison Burnett. Namun melihat nama dan wajah Amanda Seyfried terpampang besar-besar di poster, rasanya dialah nilai jual sekaligus karakter utama yang ingin dikedepankan. Sah-sah saja mengingat gadis bermata besar ini tengah naik daun di Hollywood berkat peran-peran yang sukses mencuri perhatian.
Jill yang baru pulih dari trauma penculikan yang dialaminya bertahun-tahun lalu kembali dilanda rasa takut saat adiknya yang alkoholik, Molly menghilang. Kasus yang belum terungkap membuat Jill yakin hal serupa akan akan terulang kembali. Jill menghubungi polisi yang tidak mempercayai kisahnya termasuk Peter Hood yang terus mengawasinya. Akankah Jill harus menghadapi sang penculik sendirian sekaligus membahayakan nyawanya sendiri?

Seyfried sendiri terbilang berhasil memerankan Jill yang paranoid (atau gila) karena dirundung kecemasan berlebihan. Meski demikian kemampuannya menganalisa, mencari alibi, mengumpulkan bukti sekaligus beraksi sendiri menghadapi penculik patut diacungi jempol. Terima kasih pada stereotype dimana pihak kepolisian lagi-lagi tidak bertindak sesuai harapan. Heroine wanita dalam sebuah film tergolong lebih mampu menimbulkan simpati penonton karena dianggap kurang “berdaya”.
Sepanjang film mungkin anda berusaha menebak apakah pelakunya ternyata salah satu dari orang-orang yang dikenal Jill. Kecurigaan bisa jadi dilayangkan pada polisi Peter atau kekasih Molly yaitu Billy. Suspensi tersebut disimpan rapat-rapat hingga bagian ending tapi sayangnya tak akan terlalu mengesankan anda pada akhirnya. Itupun dengan catatan, anda mampu bersabar menunggu menit demi menit dari sutradara Dhalia yang menggunakan tipikal film klasik Noir tanpa tendensi itu.

Bukan hanya itu, Dhalia tampak terlalu berusaha keras menghadirkan dunia yang gelap, misterius dan penuh sarkasme dimana setiap orang tampak memiliki agenda tersembunyi masing-masing. Hal yang mengaburkan batas antara nyata atau tidak sehingga penonton sulit untuk mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Gone memang lebih terkesan sebagai thriller kelas B dalam nuansa modern, hanya saja ambiguitas yang tak terjawab sempurna sangat mungkin meninggalkan rasa tidak puas selepas credit title bergulir.

Durasi:
94 menit

U.S. Box Office:
$11,527,305 till March 2012

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 15 April 2012

THE HOWLING REBORN : Twilight In Reverse For Poor Werewolf Movie


Tagline:
Full Moon. New Blood.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Anchor Bay Films dan Moonstone Entertainment ini merupakan sekuel tak resmi dari franchise The Howling yang telah menelurkan 7 seri dari tahun 1985-1995.

Cast:
Landon Liboiron sebagai Will Kidman
Lindsey Shaw sebagai Eliana Wynter
Ivana Milicevic sebagai Kathryn / Kay
Jesse Rath sebagai Sachin
Niels Schneider sebagai Roland
Frank Schorpion sebagai Jack Kidman
Kristian Hodko sebagai Tribe

Director:
Joe Nimziki sebelumnya pernah menggarap salah satu episode dalam serial televisi The Outer Limits di tahun 1997.

W for Words:
Saya tidak pernah benar-benar mengikuti franchise The Howling yang diawali di tahun 1985. Untuk itu informasi yang saya tahu hanyalah film tersebut berkisah tentang werewolf alias manusia serigala. Kini nyaris tiga dekade kemudian, muncullah spin-off nya yang diberi subtitle Reborn. Tidak terlalu menjanjikan karena di negara asalnya sendiri langsung rilis dalam format DVD. Beruntung (atau sial?) jika akhirnya bisa tayang di bioskop Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya.
Will dan Sachin adalah dua sahabat SMU yang tidak populer. Semua mulai berubah ketika menjelang kelulusan dimana Eliana yang telah menjadi idaman Will selama bertahun-tahun mulai menoleh padanya. Kesenangan yang berada di pelupuk mata seketika berubah menjadi mimpi buruk saat Will mengetahui siapa dirinya sebenarnya yang mewarisi gen khusus dari ibunya yang haus darah dan berniat menguasai dunia dengan armada barunya. Jalan hidup mana yang akhirnya Will pilih?

Skrip yang ditulis oleh Joe Nimziki dan James Robert Johnston ini bagaikan versi kebalikan dari Twilight saga. Ingat Bella yang biasa-biasa saja bersanding dengan Edward yang populer, sama halnya dengan Will dan Eliana, hanya saja status sosok prianya diganti, dari vampire menjadi werewolf. Kawanan Kay yang rajin bertelanjang dada itu juga mengingatkan pada kawanan Jacob Black. Ya, lagi-lagi peran orangtua amat menentukan bagi pilihan hidup sang anak. Ah terlalu banyak kemiripan disana-sini!
Sutradara Nimziki memang menekankan unsur drama yang cheesy mengenai remaja pria yang menyimpan cinta terhadap gadis pujaannya hingga harus menyikapi takdirnya sendiri apakah pemberian atau kutukan. Ia lupa bahwa penonton menginginkan sosok werewolf yang lebih nyata dalam porsi yang dominan, bukan terlihat seperti manusia mengenakan topeng serigala belaka dalam segelintir adegan yang sebetulnya mengingatkan pada lycan dalam Underworld franchise.

Seiring durasi berjalan, The Howling Reborn semakin terlihat lemah dalam bercerita terlebih membangun tensi dan suspensi yang diharapkan penonton. Kemana ratusan armada yang dikerahkan Kay di basement sekolah hingga sebegitu mudahnya dimusnahkan? Adegan pertarungan pamungkas yang ditunggu-tunggu pun berakhir antiklimaks. Usaha maksimal Landon Liboiron dan Lindsey Shaw dalam berakting pun terasa sia-sia, tenggelam dalam scoring music dan soundtrack yang buruk. Yes, the worst you can find in werewolf movie is you can’t really see the real transformation nor wolf fight whatsoever!

Durasi:
92 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 14 April 2012

DARK FLIGHT 3D : Frustration Among Characters Also Viewers


Tagline:
Have a safe journey!

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli 407 Tiawbin Phee ini rilis di Thailand pada tanggal 22 Maret 2012.

Cast:
Marsha Vadhanapanich sebagai New
Peter Knight
Poramet Noi-um
Anchalee Hassadivichit
X Thiti
Namo Tongkumnerd
Patree Taptong

Director:
Isara Nadee sebelumnya menangani Art of the Devil 2.

W for Words:
Thailand pertama kali dikenal lewat sajian horornya yang sukses go international seperti Shutter (2004) atau Alone (2007), bahkan yang terbaru Laddaland (2011) sukses menyabet 14 nominasi dari total 16 kategori dalam ajang Thai National Film Awards 2012 baru-baru ini. Meskipun pernah rilis sebelumnya Maenak 3D, film produksi Five Star Production ini tetap mengklaim dirinya sebagai film 3D Thailand pertama dimana pesawat terbang menjadi setting utamanya di sepanjang durasi.

Pramugari bernama New berhasil selamat dari kecelakaan maut pesawat 10 tahun silam. Kini ia memutuskan untuk terbang lagi bersama awak dan kru pesawat SA 407 lain demi mengobati trauma psikologisnya. Selama penerbangan banyak kejadian supernatural terjadi sehingga membuat para penumpang panik. Teror arwah penasaran semakin menjadi dan menyebabkan korban nyawa satu persatu berjatuhan. Akankah pesawat maut tersebut akan mengulang takdirnya?
Terinspirasi oleh Airplane! (1980) yang bergenre komedi dan sederetan judul lainnya yang bergenre thriller semacam Air Panic (2002) atau Snakes On A Plane (2005), film ini justru bermain dalam pakem horor murni! Sayangnya semua plot sudah terbaca sejak menit pertama dan tidak menyisakan twist yang menarik lagi untuk ditunggu penonton. Momen-momen menakutkan memang lebih tercipta lewat sikap paranoid penumpang yang tak jarang bereaksi berlebihan lewat teriakan keras ataupun tindakan berdarah dibandingkan sosok hantu yang sangat mengandalkan make-up tersebut.

Marsha Vadhanapanich yang berakting brilian dalam Alone (2007) kali ini tidak mendapat porsi yang memadai untuk mengeksplorasi karakternya secara tepat. Karakter kru pesawat yang dimainkan oleh Peter Knight dan juga seorang biksu muda sengaja dihadirkan untuk menggali masa lalu New yang tersimpan rapat itu. Selebihnya adalah X Thiti yang bermain sebagai pramugara feminin, Namo Tongkumnerd sebagai backpacker bebas, Sisangian Siharat sebagai gadis turis Hongkong serta Poramet Noi-um-Anchalee Hassadivichit-Patree Taptong sebagai keluarga bermasalah. Problem masing-masing di antara mereka amat terasa tarik-ulurnya demi memperpanjang durasinya.
Efek 3D nya tergolong minor tanpa perlu saya sebutkan satu persatu. Hal yang lebih menarik justru perubahan fisik pesawat mulai dari interior hingga eksterior yang sukses membuat penonton tercekat membayangkan bagaimana jika mereka ada di dalam situasi serupa yang bikin frustrasi. Dark Flight 3D nyaris tidak menawarkan sesuatu yang baru kecuali fakta bahwa inilah produksi negeri gajah putih yang masih melulu membuat iri industri perfilman kita yang terus berkutat di genre itu-itu saja. Ah andai saja 407 tidak pernah dimaksudkan untuk terbang kembali apalagi mendarat kemudian!

Durasi:
103 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 13 April 2012

SANUBARI JAKARTA : Omnibus Ketukan Hati Realita LGBT


Quotes:
Reuben: Kamu tuh pertama kali suka sama siapa?
Mia: Sama.. Monyet!

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kresna Duta Foundation, Ardhanary Institute, Ford Foundation dimana screeningnya diadakan di PPHUI pada tanggal 7 April 2012.

Cast:
Gesata Stella sebagai Theresa/Bianca
Agastya Kandou sebagai Aga
Reva Marchellin
Timothy Hendry Munthe
Pevita Pearce
Miea Kusuma
Hernaz Patria
Filippo
Tata Trianti
Herfiza Novianti
Permatasari Harahap
Albert Halim
Raditya
Gia Partawinata sebagai Acel
Alviano
Haffez Ali sebagai Drajat
Dinda Kanyadewi
Dimas Hary CSP
Belvany
Ajeng Sardi
Kiki Machina
Raina
Ence Bagus
Reuben Elishama Hadju
Irfan Guchi
Arswendi Nasution
Jefan
Intan
Deddy Corbuzier
Illfie
Rangga Djoned
Ruth Pakpahan
Bemby Putuanda

W For Words:
Isu LGBT alias Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender memang tidak dapat dihindari dan akan selalu mengiringi kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia manapun juga. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut meskipun pemahaman setiap orang jelas berbeda-beda. Lola Amaria yang menggandeng beberapa lembaga dan institusi berinisiatif merangkul filmmaker-filmmaker anyar untuk terlibat dalam proyek omnibus yang keseluruhan ceritanya ditulis oleh Laila Nurazizah ini.

Berikut urutan favorit saya:
KOTAK COKLAT - Sim F (10 menit) Transgender
Reuben dipertemukan oleh Mia. Keduanya saling menunjukkan ketertarikan dan sepakat berkencan. Seiring waktu berjalan, Mia mulai ragu apakah Reuben bisa menerima fakta siapa dirinya sesungguhnya. Ingatan keduanya kembali pada masa lalu ketika mereka masih anak-anak. Akankah Reuben mengurungkan niatnya untuk melamar Mia setelah melihat kotak rahasia itu?
>Back and forth antara masa kini dan masa lalu disajikan secara chic dan modern. Penonton diajak mengenal sosok Reuben dan Mia kecil dan dewasa dimana persinggungan konflik era masing-masing juga silih berganti dihadirkan. Adegan pamungkas di penghujung film yang dilematis itu membuktikan bahwa kesempatan kedua memang layak ditunggu.

KENTANGAline Jusrina (12 menit) Gay
Pasangan gay tengah melepas rindu setelah lama tak bersua. Gangguan demi gangguan tak kunjung reda mulai dari telepon ibu Drajat, skripsi yang belum kelar, kamar kos yang bocor di kala hujan hingga tetangga sebelah yang tiba-tiba meminjam golok. Semua itu membuat Acel gusar dan memutuskan untuk pergi dengan kekesalan yang memuncak di hatinya.
>Walaupun anda tak mengerti kedalaman rasa di antara dua pria yang saling menjalin cinta, segmen ini bisa memberikan gambaran jujur. Aline bertutur dengan lugas lewat suguhan adegan slapstick yang terbangun oleh dialog humoris vulgar nan menggelitik. Haffez Ali dan Gia Partawinata berakting dengan meyakinkan di atas perbedaan tingkatan sosial yang terbentang di antara mereka. Witty!

MENUNGGU WARNA - Adriyanto Dewo (10 menit) - Gay
Satrio tengah menunggu lampu merah berganti hijau tatkala melihat Adam di persimpangan dari kejauhan. Begitu berganti hijau, keduanya saling berkenalan dan menjalin hubungan asmara yang mulus dan jujur. Kebersamaan mereka seakan tidak dapat dipisahkan oleh situasi apapun. Apa yang terjadi jika Satrio harus kembali pada posisi awal lagi dimana masa depannya bisa jadi tak lagi sama.
>Permainan gambar hitam putih dari Adriyanto amatlah menarik, menyapu setiap sudut kota dengan guratan absurditasnya. Terkadang film ini seakan membawa penonton ke alam mimpi dimana semuanya terasa indah tanpa gangguan apapun. Sindiran terhadap salah satu “ormas” masyarakat yang acapkali menerapkan aturan sendiri tersebut menjadi tamparan halus.

1/2 - Tika Pramesti (10 menit) - Gay
Pewarnaan kontras dimana merah mewakili perempuan bernama Anna dan biru mewakili laki-laki bernama Abi. Keduanya sama-sama berhubungan dengan Biyan yang cuek dan berjiwa bebas. Perbedaan kepribadian membuat keduanya sering berargumen. Apakah sesungguhnya Anna dan Abi adalah satu orang dengan dua sisi liarnya terhadap pria yang mereka sukai?
>Konsep menarik dari Tika dimana film pendek ini bercerita dengan baik melalui analogi warnanya. Sosok Biyan yang petualang digambarkan cool. Sedangkan Abi/Anna cenderung introvert. Pertentangan suara hati dalam satu sosok memang lumrah terjadi bahkan pada orang normal sekalipun. Status gay/lesbian/biseksual seseorang lah yang membuat pertentangan tersebut menjadi semakin kompleks.

LUMBA-LUMBA - Lola Amaria (12 menit) - Bisexual
Saat menjemput putri kecilnya di TK Lumba-lumba, Anggya bersua dengan gurunya yang cantik, Adinda. Keduanya memulai “langkah” untuk saling mengenal hingga terjalin keintiman dalam waktu yang singkat. Suami Anggya, Aga yang ternyata seorang biseksual juga mulai mencium kejanggalan ini tapi memilih bungkam akan kepalsuan rumah tangga yang mereka jalani selama ini.
>Ide untuk membangun rumah tangga palsu bisa jadi menghinggapi gay atau lesbian manapun demi memenuhi tuntutan status sosial yang berlaku di masyarakat. Lola mengambil tema ini dengan taktis lewat storytelling yang lancar dan tepat sasaran. Gesture Anggya dan Adinda yang amat personal sudah cukup membuat penonton berimajinasi akan afeksi kasih sayang yang tengah mereka bagi bersama.

PEMBALUT - Billy Christian (7 menit) Lesbian
Pasangan lesbian yang tengah berargumen. Theresia yang memutuskan menikahi pria demi kelangsungan hidupnya ditentang keras oleh Bianca yang menganggap konsep itu tidak rasional. Perjumpaan terakhir mereka diwarnai oleh Bianca yang tengah datang bulan serta mantannya yang datang dari desa membuat Theresia semakin yakin dengan pilihannya.
>Plot ceritanya sendiri tergolong biasa. Namun yang luar biasa adalah akting pendatang baru yang mengawali karirnya sebagai LOOK model, Gesata Stella. Gesa memerankan empat karakter sekaligus dengan tampilan dan intonasi yang berbeda-beda. Penjiwaan secara emosional memang menguras upaya tapi ia berhasil melakukannya. Thumbs up! Pengarahan Billy Christian juga patut diacungi jempol yang kembali lagi dengan shot-shot andalannya. Interesting!

MALAM INI AKU CANTIK - Dinda Kanyadewi (9 menit) Bisexual
Seorang waria bernama Agus seharusnya hidup bahagia dengan istri dan anaknya di kampung. Kesulitan keuangan membuatnya terpaksa “menjual” diri kepada pria-pria penyuka seks menyimpang walaupun harus dicemooh warga sekitar kala pulang pagi setelah mangkal. Apakah Agus hanyalah korban dari kerasnya kehidupan kota besar atau justru memenuhi panggilan jiwanya?
>Kehidupan waria selalu menjadi cerita yang menarik jika berbicara tentang isu LGBT. Motif mereka masing-masing berbeda dan Dinda Kanyadewi kali ini menghadirkan tokoh Agus yang berperawakan besar dan berkepala plontos. Adegan seksual yang terkandung disini cukup eksplisit sekaligus miris untuk disaksikan, menegaskan getirnya proses bertahan hidup demi sejumlah uang yang tak seberapa.

TERHUBUNG - Alfrits John Robert (12 menit) Lesbian

Kartika adalah gadis yang hidupnya selalu diatur termasuk dijodohkan oleh ibunya dengan pria yang tak dicintainya. Sedangkan Agatha adalah gadis mandiri yang baru saja putus dari pasangan perempuannya karena memilihuntuk menikah. Suatu siang, keduanya sama-sama berniat membeli bra baru dan menuju toko yang sama. Akankah takdir bekerja dengan cara yang misterius?
>Tidak ada elemen yang spesial dalam segmen ini. Semua mengalir tanpa riak. Rumah tangga yang dijalani Kartika tidak sampai menohok dengan klimaks. Sebaliknya interaksi Agatha dengan sahabat pria yang sudah sangat mengertinya juga tidak meninggalkan kesan apa-apa. Pertemuan tanpa disengaja yang seharusnya menjadi klimaks juga tidak lantas mengisi kekosongan hidup di antara keduanya.

SURAT UNTUK A - Fira Sofiana (12 menit) Transgender
Pria paruh baya bernama Ari sedang mengetik selembar surat kepada seseorang bernama A. Ia menjabarkan perjuangan seorang perempuan berjiwa laki-laki yang nekad melakukan operasi kelamin demi mempertegas jati dirinya. Flashback masa lalu pun menunjukkan kebingungan A menghadapi lingkungan sekitarnya termasuk menyukai sesama perempuan di sekolahnya.
>Pendekatan yang dilakukan Fira terlalu linier sehingga tergolong datar terlepas dari usaha flashback untuk menekankan konfliknya. Alhasil penonton seperti hanya disuguhi serangkaian sekuensi adegan “tak bernyawa” yang membingungkan sebelum tertegun di bagian akhirnya tanpa mampu menangkap esensi yang sesungguhnya.

TOPENG SRIKANDI - Kirana Larasati (9 menit) Transgender
Seorang perempuan bernama Srikandi berdandan sebagai laki-laki dalam melakukan presentasi di sebuah kantor. Bos-bos perusahaan tersebut adalah para lelaki hidung belang yang kerapkali melecehkan wanita termasuk dirinya di masa lalu. Kini Srikandi membuka jati dirinya di hadapan mereka sambil mengingatkan siapa dirinya sesungguhnya yang sudah menjadi korban
>Impersonifikasi yang dilakukan Herfiza Novianti dari perempuan menjadi lelaki sebenarnya lumayan menarik tetapi pertentangan batinnya tidak cukup kuat untuk membuat penonton merasakan rasa sakit macam apa yang sesungguhnya pernah dialami oleh Srikandi. Penampilan Deddy Corbuzier dkk tidak membantu dan cenderung mengundang derai tawa.

Saya acungkan dua jempol bagi omnibus satu ini yang berani mengangkat tema sensitif. Sanubari Jakarta akan mengetuk pintu hati anda semua sewaktu melintasi babak demi babak kehidupan orang-orang yang dianggap “abnormal” oleh lingkungannya. Sebuah kenyataan yang tersimpan rapat tanpa bisa tersembunyikan di setiap sudut kota, berusaha agar tidak dihakimi norma-norma yang berlaku. Honest, witty and colorful presentation with every themes in it. Keep your mind wide open to understand its own message!


Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 12 April 2012

KUNGFU POCONG PERAWAN : Degradasi Kreatifitas Pasangan Mengganggu


Quotes:
Mey Mey: Kita harus hormat pada kakak tertua yang lagi makan kedondong. Hai kakak kedua cium pipi aku dong!

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh K2K Productions ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 9 April 2012.

Cast:
Olga Syahputra sebagai Boh Lam
Jessica Iskandar sebagai Mey Mey
Yadi Sembako sebagai Boh Siaw
Daus Mini sebagai Ang Pao
Rizky Putra sebagai Baron alias Amsyong Lu

Director:
Merupakan film kedua bagi Yoyok Dumprink di tahun 2012 ini setelah Kafan Sundel Bolong.

W For Words:
Ada satu yang menarik tatkala melihat poster film hasil desain Michael Tju beberapa bulan lalu. Pasalnya saya melihat penampakan yang sama persis dengan Kungfu Panda (2008) dimana latar belakang, warna dasar dan jenis huruf yang digunakan betul-betul jiplakan murni, lengkap dengan tagline: “Kata orang lebih dahsyat dari si panda?” Oh my God! Jika memang permintaan sang produser, maka dimana akal sehat seorang KK Dheeraj yang tak henti-hentinya membombardir masyarakat dengan karya-karya non orisinil?
Mey Mey yang merupakan kembang perguruan kungfu menaruh hati pada kakak kedua Boh Lam meskipun oleh gurunya dijodohkan dengan kakak pertama Boh Siaw. Tugas besar menanti Boh Siaw bersama dengan bocah Ang Pao yaitu mencari kitab sakti di hutan. Malangnya tak lama keduanya tewas dalam kecelakaan. Sementara itu, musuh bebuyutan Amsyong Lu dan kawanannya berhasil menculik Mey Mey sekaligus membunuh guru besar. Kini Boh Siaw dan Ang Pao yang telah menjadi pocong harus menyelamatkan Mey Mey sekaligus membalaskan dendam.

Dua hubungan “aneh tapi nyata” dihadirkan disini. Pertama, Olga Syahputra dan Jessica Iskandar yang tengah menjadi buah bibir karena diberitakan berpacaran. Nyatanya dalam film, percintaan mereka hanya dibahas di bagian pembuka dan penutup saja, itupun dengan interaksi konyol penuh dialog spontan menggelikan. Kedua, Yadi Sembako dan Daus Mini sebagai tandem pocong besar kecil yang (katanya) ahli kungfu. Ide untuk memodernisasi kostum dan penampilan mereka pasti mengingatkan anda pada Ajun Perwira dan Nycta Gina dalam Poconggg Juga Pocong.
Sutradara Yoyok Dumprink memang konsisten menghadirkan sinematografi layaknya FTV lengkap dengan ornamen musik ala Tiongkok. Entah mengapa saya yang kebetulan tumbuh dalam budaya Tionghoa merasakan pencemaran imej akan perguruan kungfu yang biasanya sakral itu. Sang guru besar diperlakukan dengan tidak senonoh oleh murid-muridnya, belum lagi tokoh Mey Mey yang seliweran tanpa latar belakang itu dengan bahasa Mandarin yang juga.. ah sudahlah. Bahkan ada adegan jiplakan dari Johnny English Reborn dimana Yadi Sembako menirukan Rowan Atkinson “menarik batu”.

Kesimpulan utuhnya adalah Kungfu Pocong Perawan samasekali tidak lucu dan tidak seru. Kelemahan skrip amat terasa menyelinap di setiap perpindahan adegan yang menandakan pergantian subplot. Humornya kering, berantemnya garing. Apa lagi yang anda harapkan? Jika terang-terangan dimaksudkan sebagai parodi mungkin bisa lebih dimaafkan. Namun mempertimbangkan banyaknya penjiplakan disana-sini yang disengaja membuat sisi kreatifitasnya terdegradasi ke tempat yang paling dalam. Mudah-mudahan film semacam ini tidak pernah mewakili wajah perfilman Indonesia!

Durasi:
77 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 11 April 2012

BATTLESHIP : Mind Your Brain For Mindless Entertainment


Tagline:
This summer, the battle for Earth begins at sea.

Nice-to-know:
Game “Battleship” itu sendiri diciptakan oleh Milton Bradley sejak tahun 1931 yang terinspirasi dari World War I.

Cast:
Liam Neeson sebagai Admiral Crane
Taylor Kitsch sebagai Alex Hopper
Alexander SkarsgĂ¥rd
sebagai Stone Hopper

Brooklyn Decker sebagai Samantha
Rihanna sebagai Raikes
Jesse Plemons sebagai Ordy
John Bell
sebagai Angus
Tadanobu Asano sebagai Nagata

Director:
Peter Berg
yang juga dikenal sebagai aktor ini terakhir menyutradarai film layar lebar yang dibintangi oleh Will Smith yaitu Hancock (2008).

W for Words:
Sebetulnya bukan hal baru jika sebuah blockbuster action Hollywood hanya menjual tembakan dan ledakan belaka. Untuk itu pasang ekspektasi serendah mungkin terhadap produksi Universal yang satu ini meskipun trailernya cukup menjanjikan apalagi rilisnya tergolong mencuri start di bulan April sebelum masa summer movies tiba. Terilhami oleh classic board game dari Hasbro yang juga sukses menelurkan Transformers franchise, rasanya anda bisa memiliki gambaran bagaimana perwujudan skrip yang ditulis oleh duet kakak beradik Erich Hoeber dan Jon Hoebert tersebut.
Alex Hopper adalah seorang letnan Angkatan Laut yang sembrono dan tengah meminta restu dari Admiral Crane untuk meminang putrinya, Samantha. Patroli yang dilakukan oleh Alex dan Raikes menangkap signal aneh dari perairan terbuka. Pertanyaan mereka tak lama terjawab saat kaum alien dengan kekuatan penghancur luar biasa mulai menyerang dan memporak-porandakan bumi. Alex yang juga “bersaing” dengan saudaranya Stone harus berkolaborasi dengan Nagata menyusun strategi demi mengalahkan musuh yang teknologinya jauh lebih unggul itu.

Di bawah arahan Peter Berg, film ini sudah berjalan di jalur tepat dengan berfokus pada dua sisi utama. Satu, serbuan alien unik berhelm yang membuat mereka dapat membedakan sinar merah dan hijau terhadap obyek di hadapan sesuai tingkat bahayanya. Tidak ada penjelasan logis mengapa mereka menyerang bumi, penonton dibiarkan larut dalam asumsi masing-masing. Kedua, perlawanan NAVY SEALs dengan taktik cerdas untuk menanggulangi musuh lebih terlihat seperti pertarungan video game dimana penonton seakan dikondisikan langsung sebagai pengamat pertama.
Tak ada satupun karakter protagonis disini yang tidak heroik tetapi tanpa latar belakang kuat. Taylor Kitsch patut dicap sebagai aktor beruntung karena peran-peran besar selalu jatuh ke tangannya. Namun tokoh Hooper di tangannya terasa dipaksakan berjiwa patriotik dengan superioritas tinggi dimana karismanya masih amat kurang. Asano jauh lebih berwibawa sebagai Kapten Nagata, Liam Neeson membawakan tone yang itu-itu saja sebagai Crane yang penggerutu, Rihanna yang hanya kebagian satu/dua kata dialog singkat diiringi dengan lari kesana kemari, Decker yang berfungsi sebagai pemanja mata, kesemuanya tidak akan memorable bagi anda selepas meninggalkan bioskop.

Bagaikan perpaduan Independence Day (1996) dan Transformers (2007), efek CGI digunakan secara efektif untuk menyajikan grafis pertempuran yang memukau. Kehancuran besar-besaran terhadap planet kita tercinta yang diwakili oleh segelintir negara ini dihadirkan secara singkat tanpa eksploitasi berlebihan. Namun kontribusi sound dan music department sangat mengingatkan kita pada Transformers : Dark of the Moon (2011) dimana suara bising dentuman disana-sini saya rasakan lumayan mengganggu indera pendengaran tapi setidaknya dalam skala yang lebih tolerable.
Terbukti Battleship masih mengusung patriotisme yang kental terutama dari sudut pandang Amerika Serikat, lihat bagaimana pensiunan tentara perang mendapat “penghargaan” tersendiri menjelang akhir. Plot cerita yang kosong dan karakterisasi yang lemah setidaknya tertutupi rapat oleh suguhan aksi yang intens dan visualisasi yang mencengangkan. Sudah cukup alasan bagi anda untuk duduk anteng melalui durasi yang sedikit terlampau lama itu. You got ships and battles in preceeding, should not mind with the mindless entertainment sometimes, right?

Durasi:
131 menit


Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6

6-poor

6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good

9-excellent

Selasa, 10 April 2012

HOUSEFULL 2 : Laugh Riot But Sometimes Failed Chuckles


Tagline:
The Dirty Dozen.

Nice-to-know:
Film berbujet INR 450,000,000 ini rilis 5 April 2012 di Indonesia, sama seperti di negara asalnya.

Cast:
Akshay Kumar sebagai Jolly 1 / Sunny
Asin sebagai Henna
John Abraham sebagai Jolly 2 / Max
Jacqueline Fernandez sebagai Bobby
Shreyas Talpade sebagai Jolly - 3 / Jai
Shazahn Padamsee sebagai Parul
Ritesh Deshmukh sebagai Jolly - 4 / Jwala
Zarine Khan sebagai JLo
Rishi Kapoor sebagai Chintu Kapoor
Randhir Kapoor sebagai Daboo Kapoor
Boman Irani sebagai Batook Patel
Mithun Chakraborty sebagai JD alias Jaggu Daaku

Director:
Sajid Khan menggarap film keempatnya sejauh ini yang justru awal karirnya diawali dengan genre horor yaitu You Must Be Scared (2006).

W for Words:
Saya tidak menyaksikan Housefull (2010) yang juga dibintangi oleh Akshay Kumar dan digarap oleh Sajid Khan tetapi menyempatkan diri untuk membaca sekilas ulasan yang kebanyakan melayangkan kritik pedas terhadap komedi yang mencetak sukses komersil ini. Sajid Khan bersama dengan Sajid Nadiadwala dan Farhad Sajid kembali berkolaborasi dalam menulis skrip tanpa alur dan benang merah yang jelas, murni mengandalkan adegan slapstick dan dialog penuh humor yang dominan di sepanjang durasinya.

Daboo dan Chintu adalah dua saudara tiri yang saling bersaing untuk mendapatkan menantu kaya bagi putri-putri mereka yaitu Bobby dan Henna. Jai dan Jolly, putra pria terkaya di Inggris – JD lantas mengutus Max dan Sunny ke rumah Kapoor sebagai Jolly. Padahal Max dan Sunny pernah berseteru karena seorang gadis bertahun-tahun silam. Kini reuni keduanya justru membutuhkan kekompakan untuk menuntaskan misi mereka sekaligus menemukan jodohnya masing-masing.
Dengan selusin casts yang terkesan ramai itu, Akshay Kumar berhasil menghibur dengan gaya komedinya yang elegan meski erangannya yang diulang-ulang itu cukup mengganggu. John Abraham memang tidak selugas biasanya dalam melucu tetapi karismanya tetap menjual. Dimana keduanya tampil pasti tercipta sebuah action yang menarik terlepas dari naturalisasi cerita yang mengkhususkan diri untuk itu. The duo’s sequences together are quite entertaining. Kehadiran Ritesh Deshmukh yang charming itu tergolong lebih efektif dibandingkan Shreyas Talpade yang porsinya lebih minor. Sayangnya empat aktris utama tak lebih dari fungsinya sebagai pemanis belaka.

Plot cerita yang lemah dan mudah ditebak tersebut justru diperparah dengan kebingungan sutradara Sajid Khan menyatukan kepingan demi kepingannya. Percakapan yang tercipta memang cukup menggigit tapi berkali-kali gagal menyentuh sisi humoris yang diinginkan. Beruntung lagu-lagunya amat berpotensi menarik perhatian, terima kasih pada Anarkali disco chali dan Pappa toh band bajaayein yang diyakini mampu membuat anda bergoyang menikmati koreografi unik dari aktor-aktrisnya yang tersaji di hadapan anda.
Housefull 2 diciptakan sebagai komedi “keras” yang dapat dinikmati jika anda mau mengesampingkan intelejensi. Cukup duduk manis menikmati adegan demi adegan yang disuguhkan dalam durasi yang seperti biasa panjang! Paruh pertama lebih menyenangkan tapi premisnya tidak cukup kuat untuk membawa masalah melewati intermission. Paruh kedua diawali dengan menjanjikan tapi justru kesenangannya semakin memudar hingga ditutup dengan klimaks yang dipaksakan. So, everybody’s happy? Kita jelas butuh alasan untuk tertawa, tentunya harus melewati proses tersenyum terlebih dulu.

Durasi:
145 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:



Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent