XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Selasa, 19 April 2011

SI ANAK KAMPOENG : Perjalanan Masa Kecil Sang Guru Bangsa

Quotes:
Awak akan terus berjalan, sampai mimpi dapat tergapai dengan sendirinya..

Storyline:
Syafii Maarif terlahir dari keluarga Sumatera Barat yang masih menganut paham matriarkat. Sayangnya ibunya Fathiyah sudah meninggalkannya sejak kecil hingga ia tumbuh bersama ayahnya Ma’rifah yang terus membekalinya dengan ilmu pengetahuan. Kesulitan belajar mulai dirasakan Syafii hingga ia bertemu Onga Sanusi, seorang tokoh dan pengajar Muhammadiyah yang mulai membuka pikirannya. Syafii memutuskan untuk merantau suatu saat nanti hingga kelak menjadi Buya Syafii Maarif yang juga dikenal sebagai Guru Bangsa.

Nice to know:
Diproduksi oleh Maarif Production dan Damien Dematra Production dimana premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI pada tanggal 19 April 2011.

Cast:
Radhit Syam sebagai Syafii/Pi’i
Pong Hardjatmo sebagai Onga Sanusi
Lucky Moniaga sebagai Ma'rifah
Virda Anggraini sebagai Fathiyah
Ayu Azhari
Maya Ayu Permata Sari
Ingrid Widjanarko
Elmendy
Mohammad Firman
Ayu Gumay

Director:
Damien Dematra terakhir menggarap Obama Anak Menteng (2010).

Comment:
Jika di kuartal terakhir 2010 lalu ada Sang Pencerah maka di kuartal kedua 2011 ini ada Si Anak Kampoeng yang kebetulan sama-sama mengangkat tokoh cendekiawan Islam. Kali ini adalah Buya Syafii Maarif yang menghabiskan masa kecilnya di Desa Calau, sebuah kampung terpencil di Minangkabau. Jangan coba membandingkan sebab karya tiap orang tentunya bercitarasa berbeda.
Bagi pengarang Damien Dematra seharusnya tidak terlalu sulit menerjemahkan tulisannya sendiri ke dalam format film. Begitu banyak peran yang dilakoninya dalam film ini termasuk penggarapan musik dan lirik nya yang sangat bernuansakan Sumatera Barat tersebut. Dan saya mengagumi apa yang dilakukannya dalam ini terlepas dari berbagai kekurangan di beberapa departemen.








Saat prolog bergulir sampai dengan setengah durasi film, saya tidak menemukan esensi apapun dari penyajian scene demi scene yang mengetengahkan profil Syafii di usia 3 tahun dan kemudian melompat ke umur 7 tahun. Damien tidak mampu memanfaatkan start awal untuk mengajak penonton bersinergi dengan sebuah film biografi yang sedang mereka saksikan.
Sedangkan paruh kedua film hingga penutupan, pembahasan konflik yang terjadi mengalami perbaikan dimana relasi Syafii dengan gurunya, ayahnya, sahabatnya, saudaranya mulai meruncing. Namun lagi-lagi Damien mencampur adukkan perasaan penonton tanpa maksud yang jelas dengan adegan sukacita dan dukacita yang silih berganti dihadirkan.
Radhit Syam bermain cukup maksimal sebagai Syafii kecil terutama saat berpidato di depan publik yang dilakukannya lumayan inspiratif. Sedikit fakta yang mengganggu adalah usia Radhit yang sesungguhnya terlihat jauh di atas tokoh Syafii kecil. Aktor kawakan Pong berakting agak di bawah kinerja terbaiknya meski karakter Onga Sanusi di tangannya masih terlihat arif dan berwibawa. Sayangnya Inggrid dan Ayu hanya kebagian 2 scene saja padahal kontribusi mereka seharusnya bisa lebih tinggi lagi.








Kebetulan sekali saya menyaksikan film ini bersama sahabat yang juga berasal dari Sumatera Barat sehingga banyak menemukan kesalahan referensi yang cukup fatal. Paling mendasar adalah penggunaan bahasa yang tidak seharusnya dan pemakaian beberapa properti syuting yang tidak semestinya ada dalam setting daerah sekitar. Rentang waktu yang dihadirkan di era 1930-1940an juga masih terasa kurang meyakinkan karena tidak dilengkapi dengan faktor-faktor pendukung.
Si Anak Kampoeng bukanlah karya di atas rata-rata seperti yang banyak diharapkan banyak orang. Emosi turun naik dan pengeksekusian yang cenderung flat tanpa gejolak menjadi kelemahan utamanya sehingga gagal menuntun audiens untuk berempati pada jalinan kisahnya. Meski demikian saya menghargai usaha Damien yang tampaknya sudah berupaya maksimal untuk menyajikan kisah Syafii kecil ini dengan sefaktual mungkin. Mudah-mudahan saja jika dilanjutkan sekuelnya akan ada perencanaan yang lebih matang lagi.

Durasi:
110 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 18 April 2011

THE EXTRAORDINARY ADVENTURES OF ADELE BLANC-SEC : Sejuta Petualangan Komplit Wartawati Eksentrik

Tagline:
A Face of Beauty. A Mind of Adventure.

Storyline:
Abad 20 di Paris, seorang penulis popular bernama Adele Blanc-Sec selalu mengerjakan misi apapun yang dibebankan padanya mulai dari membongkar kuburan, mencuri mumi, mengelabui polisi dsb. Tidak ada yang tahu bahwa sesungguhnya Adele memiliki saudari kembar yang tanpa sengaja terbunuh olehnya sehingga menyimpan rasa bersalah selama bertahun-tahun. Saat mendengar jika Esperandieu sanggup membangkitkan yang sudah mati, Adele tidak menyia-nyiakan kesempatan itu walau harus berseteru dengan pihak-pihak yang berbeda kepentingan dengannya.

Nice-to-know:
Diproduksi secara bersama-sama oleh Europa Corp, Apipoulaï dan TF1 Films Production.

Cast:
Sebelum ini mendukung Le Petit Nicolas (2009) yang cukup mengesankan itu, Louise Bourgoin berperan sebagai Adèle Blanc-Sec
Mathieu Amalric sebagai Dieuleveult
Gilles Lellouche sebagai Inspektur Albert Caponi
Jacky Nercessian sebagai Marie-Joseph Espérandieu
Philippe Nahon sebagai Le professeur Ménard
Nicolas Giraud sebagai Andrej Zborowski

Director:
Siapa yang tidak kenal nama sutradara Perancis populer Luc Besson? Karyanya sebelum ini adalah dua episode Arthur and the Minimoys (2007) dan Arthur and the Revenge of Maltazard (2009).

Comment:
Jika anda menyukai film petualangan semacam Tomb Raider, National Treasure ataupun The Mummy, bisa jadi anda berpikir untuk menemukan konten yang sama dalam film ini, terlebih setelah melihat poster dan judulnya. Nanti dulu! Karena terbukti Besson menerjemahkan komik best-seller karya Jacques Tardi ini dengan gaya yang unik
Adele Blanc-Sec adalah tipe heroine (pahlawan wanita) yang tidak memiliki senjata mematikan untuk menuntaskan misi-misinya, tetapi lebih memilih menggunakan pengetahuan, kecerdasan, keberanian, spontanitas dan permainan kata-kata yang dimilikinya. Belum lagi jika melihat sifat antusias, egois dan kewarasan yang dipertanyakan (ia menyimpan mayat saudarinya bertahun-tahun!). Semua itu membuktikan betapa kayanya karakterisasi seorang wartawati yang telah menyelesaikan banyak hal.








Tidak ada yang lebih pantas selain Bourgoin dalam mentransformasikan karakter Adele yang “ajaib” itu. Pergerakan bibir yang cepat dalam melontarkan ratusan kata-kata dalam sekali tarikan nafas sudah menjadi bukti tersendiri. Belum lagi “seribu” penyamaran kocak yang dilakukannya saat berusaha mendobrak penjara. Atau inisiatifnya mengendalikan berbagai jenis hewan. Dijamin anda akan terpingkal-pingkal dibuatnya!
Tokoh yang terlalu banyak dihadirkan memang tidak dibagi dalam porsi yang cukup. Semisal karakter Polisi, Inspektur, Presiden, Pemburu yang sepertinya hanya mengisi scene demi scene saja tanpa kekuatan berarti. Bahkan rata-rata menampilkan “kebodohan” komikal yang sangat umum dalam film-film Perancis bergaya komedi. Jika dikatakan setia dengan komiknya, saya juga belum bisa memastikan.








Sebagai sutradara handal, Besson berhasil membuat para penonton terhanyut dalam perjalanan Adele yang sulit diterka arahnya itu. Berbagai twist dihadirkan di sepanjang durasinya sehingga kita merasa sedang membaca sebuah buku berisikan banyak chapter dengan tema yang berbeda-beda. Penggunaan CGI nya juga tergolong mulus seperti visualisasi pterodactyl dan mumi hidup yang justru tidak menakutkan samasekali.
The Extraordinary Adventures Of Adele Blanc-Sec adalah sebuah tontonan fun dengan berbagai elemen fantasi yang mengasyikkan untuk diikuti. Hanya saja anda perlu sedikit mengesampingkan logika dan menerima apapun yang disodorkan dengan pikiran terbuka. Jika hasil box-office internasional nya menggembirakan, bersiaplah untuk sebuah trilogi baru dengan adaptasi dua komik lainnya yang akan segera menyusul!

Durasi:
105 menit

Europe Box Office:
$13,331,416 in France till May 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 17 April 2011

DES HOMMES ET DES DIEUX : Dilema Keyakinan dan Ancaman Hidup

Tagline:
In The Face Of Terror, Their Greatest Weapon Was Faith

Storyline:
Sekelompok biarawan Perancis sehari-hari menjalani hidup dengan beraktifitas dan berdoa dalam sebuah biara di Pegunungan Maghreb, Algeria. Namun ketenangan mulai terusik saat beberapa pekerja setempat dihabisi oleh teroris Muslim dalam sebuah perang sipil. Kini mereka harus memutuskan harus tetap tinggal atau kembali ke Perancis. Keyakinan terhadap agama dan persaudaraan erat dengan orang-orang di sekitarnya bisa saja mempengaruhi nasib mereka pada akhirnya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Why Not Productions, Armada Films, France 3 Cinéma dan mewakili Perancis dalam ajang Academy Awards 2011 kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.

Cast:
Lambert Wilson sebagai Christian
Michael Lonsdale sebagai Luc
Olivier Rabourdin sebagai Christophe
Philippe Laudenbach sebagai Célestin
Jacques Herlin sebagai Amédée
Loïc Pichon sebagai Jean-Pierre
Xavier Maly sebagai Michel

Director:
Nama Xavier Beauvois mulai dikenal setelah filmnya N'oublie pas que tu vas mourir (1995) memenangkan Jury Prize dalam ajang Cannes Film Festival.

Comment:
Konon kisah film ini diangkat dari kejadian nyata pada saat Perang Sipil di Algeria tahun 1990an. Terlepas dari seberapa kuatnya fakta yang digunakan rasanya tidaklah terlalu penting. Sebab pada akhirnya semangat yang mulia dan keyakinan yang agung di dalamnya yang membuat film ini berdaya jual tinggi di pasaran internasional dan ajang festival pada khususnya.
Secara khusus saya berterimakasih pada perhelatan Festival Sinema Perancis 2011 di Indonesia yang menghadirkan film ini sebagai penutup. Solidnya penyutradaraan, pendekatan yang intim beserta segala elemen pendukungnya cenderung berhasil mentranslasikan plot cerita yang tergolong sensitif ini. Yang saya maksud adalah dualisme sudut pandang agama yaitu Kristen dan Islam dengan semua perbedaan pandangannya.







Tempo film yang lambat tergolong stabil sepanjang film, lebih karena berfokus pada detail kehidupan sehari-hari para biarawan Kristen dalam melakukan segala aktifitasnya. Bahasa gambar yang sangat alami itu akan membuat anda menemukan arti dari keyakinan mereka. Harus dikatakan proses penyutradaraan Beauvois lebih terasa seperti dokumenter karena semua aspek terasa begitu nyata, tidak seperti sedang syuting.
Persaudaraan di antara para biarawan tersebut juga menjadi nilai plus tersendiri. Bagaimana 7-8 pria tersebut hidup bersama selama bertahun-tahun terlepas dari perbedaan kepribadian masing-masing. Hingga pada akhirnya keputusan sulit harus diambil yang mungkin memecah kelompok tersebut menjadi dua bagian. Dari kesemuanya, Wilson dan Lonsdale berakting dengan sangat menonjol terlihat dari bahasa tubuh dan intonasi mereka.






Of Gods And Men juga ditutup secara brilian sekaligus menghindari kontroversi yang mungkin timbul saat film ini dirilis secara luas. Salah satu yang paling tak terlupakan jelas ketika momen “The Last Supper” seakan dibangkitkan kembali lewat scene minum anggur bersama diiringi instrumental Swan Lake. Saya yakin anda akan merinding dibuatnya terlebih setelah dua jam diajak mengenal karakter-karakter luar biasa tersebut dari dekat satu persatu. Rasakan keheningan dalam suasana relijius yang melingkupi audiens yang rata-rata harus berada dalam kelompok umur tertentu untuk dapat mengerti sepenuhnya makna film ini.

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$2,749,093 till Apr 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 16 April 2011

POTICHE : Istri Setia Emansipasi Wanita 70an

Tagline:
France, 1977: Women's Liberation is in the air.

Storyline:
Suzanne Pujol telah menikah lama dengan suaminya Robert Pujol, pemilik pabrik payung yang otoriter sekaligus seorang buaya darat. Namun Suzanne lebih memilih diam dan mengurus rumah tangga sekaligus anak-anak mereka. Iapun mendapat julukan “Trophy Housewife” atas sikapnya itu. Semua mulai berubah saat karyawan pabrik menuntut keadilan dan hal ini menyebabkan Robert jatuh sakit. Untuk mengisi kekosongan sekaligus menenangkan situasi, Suzanne terpaksa turun tangan dibantu putra putrinya Laurent dan Joelle. Di luar dugaan, trik tersebut berhasil dan Suzanne memenangkan hati banyak orang. Sekembalinya Robert, keadaan menjadi panas karena persaingan suami istri yang tidak lagi sama. Belum lagi kehadiran mantan Suzanne,Maurice Babin yang sedang berkampanye menjadi walikota.

Nice-to-know:
Film yang judulnya berarti Trophy Wife ini diproduksi oleh Mandarin Films.

Cast:
Sempat dinominasikan Oscar kategori Aktris Terbaik lewat Indochine (1992), Catherine Deneuve bermain sebagai Suzanne Pujol
Gérard Depardieu yang kini berperan sebagai Maurice Babin juga pernah menjadi nominasi Aktor Terbaik dalam Cyrano de Bergerac (1990)
Fabrice Luchini sebagai Robert Pujol
Karin Viard sebagai Nadège
Judith Godrèche sebagai Joëlle
Jérémie Renier sebagai Laurent Pujol

Director:
François Ozon paling dikenal lewat salah satu thrillernya, Swimming Pool (2003) yang menjadi cult sampai saat ini.

Comment:
Film ini menjadi sasaran utama saya saat pertama kali melihat jadwal Sinema Perancis 2011 dan pilihan tersebut ternyata tidak salah. Komedi keluarga yang diusungnya memang terasa agak “berat” dengan berbagai konfliknya tetapi justru dibawakan dengan gaya yang santai dan mudah dicerna.
Sutradara Ozon menerjemahkan konsep retro dengan sempurna. Gaya dan feeling tahun 70an tertata dengan baik. Terima kasih pada kinerja kamera, editing, kostum, make-up, gaya rambut yang demikian rapi. Settingnya juga berhasil menggambarkan Perancis pada masa itu mulai dari pernak-pernik hingga strukturisasinya. Sepintas kita tidak akan percaya bahwa film ini dibuat di tahun 2010.
Deneuve merupakan salah satu aktris legendaris Perancis. Di tangannya peran Suzanne berkembang menarik sekaligus menjadi ikon emansipasi wanita pada masanya. Penonton akan berpihak padanya sejak awal dimana kepolosan, optimisme, kecerdasan, keceriaannya dijamin menginspirasi orang-orang di sekitarnya.Hubungan Suzanne dengan setiap anggota keluarga dan masa lalunya juga dipaparkan secara detail.
Luchini menerjemahkan tokoh pemimpin bertangan besi, suami yang tidak setia, ayah yang cuek dengan sedikit komikal bahkan kita akan merasa beberapa tindakannya cukup radikal. Sedangkan Depardieu terlihat kaku dan tidak berpendirian, perasaannya tidak berubah pada Suzanne walau hubungan mereka telah berakhir bertahun-tahun silam. Viard juga cukup mencuri perhatian sebagai sekretaris selingkuhan yang akhirnya berkoalisi dengan istri bos dikhianatinya itu.
Potiche merupakan sebuah komedi satir yang menghibur dan digarap dengan visualisasi yang memukau dengan warna-warni pastel yang cerah. Berbagai hubungan suami-istri, orangtua-anak, mantan kekasih dsb memang masih terkesan klise selayaknya tersaji pada film-film Perancis pada umumnya. Namun karakterisasi yang demikian kaya dalam mengartikan konfliknya berhasil mempertahankan energi hingga konklusi akhir.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$421,844 till Apr 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 15 April 2011

LA CHANCE DE MA VIE : Kesempatan Kedua Keberuntungan Cinta

Tagline:
Ce mec est une catastrophe ou... (This guy is a disaster or...)

Storyline:
Julien Monnier adalah seorang penasehat pasangan yang cerdas sekaligus sukses. Hal ini dimulainya sejak usia 8 tahun dimana ia mendamaikan ayah dan ibunya sendiri. Namun satu yang tidak banyak orang ketahui, wanita yang dikencaninya selalu mengalami nasib buruk! Itulah sebabnya Julien tidak pernah percaya pada hubungan spesial jangka panjang terhadap lawan jenis. Semua seakan berubah saat ia bertemu Joanna yang cantik dan pandai. Keduanya saling tertarik satu sama lain dan memutuskan berkencan secara intens. Apakah hal tersebut akan berlangsung lama atau Joanna seperti wanita-wanita lain akan meninggalkan Julien setelah serangkaian peristiwa buruk yang dialaminya?

Nice-to-know:
Film ini dirilis secara internasional pada tahun 2011. Namun sudah diputar duluan di beberapa festival pada akhir tahun 2010 yang lalu. Saat itu dapat dianggap sains fiksi karena beberapa scene mengambil waktu tahun 2011.

Cast:
Virginie Efira sebagai Joanna Sorini
François-Xavier Demaison sebagai Julien Monnier
Armelle Deutsch sebagai Sophie
Raphaël Personnaz sebagai Martin Dupont
Thomas N'Gijol sebagai Vincent
Brigitte Roüan sebagai Lydie
Yves Jacques sebagai Maxime Dupont

Director:
Nicolas Cuche sebelumnya lebih banyak menangani serial televisi di Perancis.

Comment:
Premis film ini harus diakui tidak terlalu original. Pada saat menyaksikan prolognya, saya langsung teringat berbagai judul film sebagai referensinya. Sebut saja salah satunya adalah Good Luck Chuck (2007) yang juga banyak menampilkan kesialan demi kesialan yang menimpa tokoh utamanya. Namun bukan sineas Perancis jika tidak bisa membawakan dengan gayanya tersendiri.
Efira dan Demaison memperlihatkan koneksi yang sangat menarik disini. Pertemuan dan pengembangan hubungan di antara mereka terjalin secara wajar seakan kita dapat merasakan keduanya benar-benar saling tertarik satu sama lain. Ada satu scene sulit yang dilakukan Efira yaitu pada saat berusaha menyelamatkan lembaran kertas design mobilnya di tengah kolam dan ia melakukannya dengan sempurna. Sedangkan Demaison memperlihatkan karisma sendiri sebagai konselor pasangan yang bermasalah walau pada akhirnya kepercayaan dirinya runtuh.








Sutradara Cuche mengakui beberapa kejadian yang terjadi dalam film ini memang terinspirasi dari kejadian nyata seperti saat Joanna tersesat akibat ulah supir taksi asing yang tidak mahir menggunakan GPS, atau ketika Julien menabrakkan mobilnya tanpa sengaja hingga dipersalahkan. Eksekusi yang dilakukannya terbilang dekat dengan kehidupan nyata yang mungkin saja kita alami.
La Chance de ma Vie saya katakana memang memberikan citarasa yang lezat untuk ukuran sebuah komedi romantik. Semua bumbu dirasa pas untuk membawa penonton antusias mengikuti perjalanan sepasang kekasih yang banyak menemui hambatan tersebut. Bukankah pada akhirnya semua tergantung sudut pandang anda pribadi dalam menilai segala sesuatunya? Sial untuk beruntung atau beruntung untuk sial? Dan jangan pernah mempermasalahkan cinta itu sendiri.

Durasi:
85 menit

Europe Box Office:
€4,727,059 in France till Jan 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 14 April 2011

QUIZ SINEMA PERANCIS 2011

Menangkan 5 tiket gratis untuk nonton film ini pada penutupan Festival Sinema Perancis 2011 yang akan dilangsungkan pada
Tanggal: Minggu, 17 April 2011
Waktu: 18.30
Tempat: Blitzmegaplex Grand Indonesia

International title:
Of Gods And Men

Original title:
Des hommes et des dieux

Tagline:
In The Face Of Terror, Their Greatest Weapon Was Faith

Storyline:
Sekelompok biarawan Perancis sehari-hari menjalani hidup dengan beraktifitas dan berdoa dalam sebuah biara di Pegunungan Maghreb, Algeria. Namun ketenangan mulai terusik saat beberapa pekerja setempat dihabisi oleh teroris Muslim dalam sebuah perang sipil. Kini mereka harus memutuskan harus tetap tinggal atau kembali ke Perancis. Keyakinan terhadap agama dan persaudaraan erat dengan orang-orang di sekitarnya bisa saja mempengaruhi nasib mereka pada akhirnya..

Cast:
Lambert Wilson sebagai Christian
Michael Lonsdale sebagai Luc
Olivier Rabourdin sebagai Christophe
Philippe Laudenbach sebagai Célestin
Jacques Herlin sebagai Amédée
Loïc Pichon sebagai Jean-Pierre
Xavier Maly sebagai Michel

Pertanyaan:
1. Sebutkan judul satu film Perancis yang paling berkesan yang pernah anda tonton!
2. Sebutkan keunggulan film-film Perancis menurut anda dibandingkan dengan film-film Hollywood!

Aturan main:
1. Mention jawaban dari kedua pertanyaan tersebut via Twitter @film_bioskop
2. Jawaban diterima oleh admin paling lambat pukul 20.30 hari ini (Jumat, 15 April 2011)
3. Nama-nama pemenang akan diumumkan malam ini pukul 23.00
4. Pemenang harap melakukan konfirmasi kembali kepada admin sesegera mungkin
5. Quiz ini hanya berlaku bagi yang berdomisili di Jakarta dsk.

Selamat mencoba! :)

CONTAMINATION : Infeksi Tikus Terhadap Publik Manhattan

Tagline:
There's something below us worse than hell

Storyline:
Sebuah apartment kelas bawah di Mulberry Street dihuni oleh mantan petinju Clutch, gay kulit hitam Coco, bartender Kay dan putranya beserta orang-orang lainnya termasuk dua manula Frank dan Charlie. Putri Clutch yaitu Casey juga baru tiba di New York setelah lama bekerja di Timur Tengah. Beberapa saat kemudian televisi menayangkan laporan yang menyebutkan adanya serangan tikus terhadap manusia. Wabah ini dikabarkan menular dan mengubah manusia menjadi semacam monster yang agresif. Akankah Manhattan menjadi kota mati pada akhirnya?

Nice-to-know:
Penulis sekaligus sutradara Shana Feste menulis skrip film ini lebih dari 3 bulan lamanya sambil bekerja sebagai pengasuh di daerah California Selatan.

Cast:
Di tahun yang sama turut membintangi film kontroversial yaitu World Trade Center (2006), Nick Damici kali ini bermain sebagai Clutch
Kim Blair sebagai Casey
Ron Brice sebagai Coco
Bo Corre sebagai Kay
Tim House sebagai Ross
Larry Fleischman sebagai Charlie

Director:
Merupakan debut pertama bagi Jim Mickle setelah sebelumnya menangani film pendek The Underdogs (2002).

Comment:
Masih karena kekosongan stok film studio besar Hollywood di Jakarta maka film seperti yang satu ini bisa mendapat “kehormatan” diputar di layar lebar. Namun jangan menganggap remeh terlebih dahulu karena kualitasnya tidaklah mengecewakan walaupun tergolong film kelas B yang berbujet rendah.
Plot ceritanya seperti perpaduan antara Quarantine dan 28 Days Later dimana setting apartemen tua nan sempit dan kekisruhan akibat infeksi menjadi tema utama yang ingin disampaikan. Prolognya memang agak lambat dimana pengenalan karakter demi karakternya dibangun dengan detail dalam nuansa suram, seakan menyiratkan adanya misteri yang disembunyikan kemudian.
Sutradara Micklem tidak terlihat berambisi menyajikan sesuatu yang terlalu ilmiah ataupun fiktif. Ia menyuguhkan semuanya secara wajar dan dapat dipercaya. Meskipun tidak ada penjelasan yang bisa diterima logika mengenai bagaimana tikus-tikus tersebut dapat membawa wabah maut, rasanya penonton juga tidak akan terlalu peduli dan tetap antusias mengikuti jalan ceritanya hingga berakhir.
Tidak ada nama-nama yang familiar di telinga anda yang mengisi cast film ini. Walaupun begitu kesemuanya bermain natural sesuai dengan potret masyarakat kelas menengah ke bawah yang “berjuang” untuk hidup. Karakterisasi yang cukup kuat terbangun pada masing-masing tokoh disini mampu membuat audiens mau peduli akan nasib masing-masing. Di antara semuanya, mungkin Damici yang paling berpengalaman dan pada beberapa scene ia menunjukkan hal itu.
Contamination jelas bukan film yang akan menjadi perhatian. Namun visualisasi di sepanjang durasinya yang begitu konsisten dengan kata “dark” dan “dirty” ini jelas memiliki nilai plus tersendiri. Kesampingkan kinerja handheld camera yang terkadang bergoyang-goyang karena terbukti tampilan “manusia tikus” cukup meyakinkan dengan suara yang mengganggu. Mungkin sebagian dari anda bahkan berimajinasi ada di tengah-tengah mereka.

Durasi:
80 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 13 April 2011

KUNTILANAK KESURUPAN : Penulisan Biografi Artis Mengundang Hantu

Quotes:
Maya-Kunti lapar gak, Maya masak nih, ada pepes anjing..

Storyline:
Momon menawarkan Wesley untuk menulis biografi artis tenar bernama Indra Devian dengan bayaran tinggi. Tanpa ragu karena novel buatannya juga sedang stuck, Wesley menerima tawaran itu. Sayangnya sejak saat itu, Wesley dan teman-temannya masing-masing Kevin, Dylla, Gizka tak terkecuali pembantunya Maya mendapat gangguan bertubi-tubi dari kuntilanak dan pocong. Bahkan adik kesayangannya, Alice mendadak menghilang. Apa sesungguhnya yang diinginkan kuntilanak tersebut? Adakah hubungannya dengan Indra Devian sebenarnya?

Nice to know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan screeningnya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 12 April 2011.

Cast:
Guntur Triyoga sebagai Wesley
Fero Walandouw sebagai Kevin
Irish Bella sebagai Alice
Reymond Knuliq sebagai Momon
Aziz Gagap sebagai Maya
Julia Perez

Director:
Film keempat Nayato di tahun 2011 ini setelah terakhir Virgin 3 kurang dari sebulan yang lalu.

Comment:
Another title, same storyboard. Jika anda melihat trailernya, saya katakan itu sudah jauh lebih penting daripada isi filmnya sendiri. Percayalah akan review saya berikut ini. Namun jika anda tetap penasaran tidak ada salahnya menyaksikan sendiri. Toh kita semua datang ke bioskop untuk mendapatkan hiburan terlepas dari perasaan puas/tidak yang muncul setelahnya.
Sutradara Nayato masih juga menggunakan template-template favoritnya yaitu kamar, rumah, kampus, hutan yang sama persis dengan karya-karya sebelumnya. Yang berbeda hanyalah sound effect rusak yang sengaja dibelinya untuk memekakkan seisi gedung bioskop. Mudah-mudahan anda tidak perlu ke Dokter THT sehabis menyaksikannya karena tentunya akan menghabiskan lebih banyak uang dibandingkan tiket bioskop yang tidak seberapa.
Masih ingat dengan cast Pocong Ngesot? Tiga diantaranya kembali lagi disini dengan peran yang sangat serupa yakni Aziz Gagap, Fero Walandouw, Reymond Knuliq tetapi dengan nama yang berlainan. Ditambah dengan dua bintang baru kesayangan Nayato yaitu Irish (Heart 2 Heart) dan Guntur (Gaby dan Lagunya). Kesemuanya seakan-akan diinstruksikan untuk berakting senorak dan selebay mungkin, tanpa peduli perasaan penonton yang sudah sangat terganggu.
Jika anda menganggap hanya kuntilanak yang menjadi momok disini, salah besar! Ia bertandem dengan pocong bahkan saling membagi tugas untuk menakut-nakuti orang-orang tertentu. Sungguh kerjasama yang baik walaupun pada akhirnya kemenangan mutlak tetap di tangan manusia. Betapa tidak, si kunti dan si pocong menjadi “bulan-bulanan” mulai dari disembur, ditendang, dikentutin, ditampol, kejeduk pintu dsb. Satu-satunya yang cukup manusiawi hanya pada saat si kunti digendong oleh Aziz Gagap ke dapur. Lucukah semua itu? Saya cuma bisa berkata, “Memprihatinkan!”
Kekurangan lain yang juga kentara adalah editingnya yang teramat kasar. Saya tidak menangkap manfaat pembagian scene per scene yang ujung-ujung selalu dipotong begitu saja, selayaknya stripping video klip gagal tapi tetap dipaksakan tayang demi menghabiskan durasi. Itulah minus terbesar yang saya tangkap ketika menonton Kuntilanak Kesurupan. Tak hanya mempertanyakan logika cerita tetapi juga penggunaan judul yang demikian. Dan jangan buru-buru meninggalkan bioskop setelah credit title bergulir untuk mendapatkan jawabannya (jika dirasa perlu)!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 12 April 2011

HEARTBREAKER : Menggagalkan Pernikahan Singkatnya Waktu

Tagline:
When it comes to break-ups... he's the business


Storyline:
Alex Lippi telah memperdaya banyak wanita lokal maupun internasional. Namun hal itu lebih karena tugasnya sebagai subyek pemutus hubungan bagi pasangan yang dituju. Adalah kakaknya Melanie dan suaminya Marc yang mendukung kinerjanya selama ini. Hingga konglomerat Van Der Berq mendatangi Alex dengan tujuan mengganggu pernikahan putrinya Juliette dan Jonathan yang akan diselenggarakan dalam waktu singkat. Alex harus bekerja keras untuk mendekatkan diri dengan Juliette. Apakah kali ini ia berhasil atau sebaliknya terperdaya oleh gadis yang mungkin menarik hatinya itu?

Nice-to-know:

Penulis Laurent Zeitoun mendapat ide film ini saat sepupunya jatuh cinta pada seorang pria yang menurutnya tidak memperlakukan wanita dengan baik. Zeitoun pun mengatakan pada pamannya bahwa mereka harus menyewa seorang aktor untuk memisahkan pasangan tersebut.


Cast:

Sebelum ini bermain dalam Persécution (2009), Romain Duris kebagian tokoh Alex Lippi
Terakhir berperan dalam La clef (2007), Vanessa Paradis menjiwai karakter Juliette Van Der Becq dengan sempurna
Julie Ferrier
sebagai Mélanie

François Damiens
sebagai Marc

Héléna Noguerra sebagai Sophie
Andrew Lincoln
sebagai Jonathan Alcott


Director:
Merupakan debut pertama bagi Pascal Chaumeil yang sebelumnya lebih banyak menangani film televisi.


Comment:

Berjudul asli L’arnacoeur, film ini mungkin mengingatkan anda pada sebuah produksi lokal beberapa tahun lalu yaitu Heartbreak.com dengan tema yang nyaris serupa tapi tidak sama. Paris sendiri sudah dikenal sebagai romance city dan digunakan sebagai latar belakang sebuah komedi romantik dengan sedikit bumbu action tentunya sudah berdaya jual tersendiri.
Premisnya memang menarik yaitu bagaimana memisahkan pasangan yang akan menikah dengan mengalihkan perhatian calon pengantin wanita untuk jatuh cinta kepada pria lain. Dua pertanyaan yang cukup mengganggu bagi saya adalah mengapa sang ayah merasa perlu menggagalkan pernikahan putrinya sendiri yang sudah mendapatkan pria tampan baik hati dan kaya raya sebagai pasangan hidupnya? Plus bagaimana Marc-Melanie dapat menggunakan peralatan berteknologi tinggi yang sedemikian canggih untuk melakukan sabotase?
Hm, jangan terlalu serius karena sutradara Chaumeil tidak akan memberi jawaban tetapi menyuguhkan rentetan scene yang akan membuat anda tetap terjaga di tempat duduk hingga credit title muncul. Kinerjanya tergolong lembut dimana sisi romantisme dan komedik tergarap secara seimbang mengiringi konsep “break-up” itu sendiri. Lengkap dengan sinematografi yang indah dengan lanskap segala penjuru kota Paris.
Kekuatan lain film ini adalah chemistry yang kuat antara Duris dan Paradis yang sama-sama mengundang simpatik. Duris sebagai Alex yang sigap, perhatian, karismatik walau terkadang ceroboh diimbangi oleh Paradis sebagai Juliette yang cantik, elegan meski sulit menetapkan hatinya sendiri. Keduanya didukung juga oleh Ferrier, Damiens, Noguerra, Lincoln yang masing-masing tampil memikat dengan peran masing-masing.

Heartbreaker jelas salah satu komedi romantik Perancis yang menjadi salah satu favorit saya setelah Hors de Prix (2006). Juga bukan sebuah film yang anda harapkan untuk memberikan kejutan pada akhirnya karena anda sendiri mungkin sudah bisa menebak kemana arah endingnya. Namun proses menuju tujuan tersebut sangat menarik untuk disimak terlebih perasaan jenaka dan hangat karena cinta yang ditimbulkannya. Sajioan yang dapat dinikmati oleh pria dan wanita sekaligus secara seimbang.

Durasi:

105 menit


U.S. Box Office:

$504,030 till Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 11 April 2011

A PERFECT GETAWAY : Liburan Bulan Madu Intai Psikopat

Quotes:
Cydney: Well, um... how close is it?
Nick: It's like everything else in Hawaii, as close as far away gets.

Storyline:
Cliff dan Cydney sepakat menghabiskan bulan madu mereka di pulau tropis Hawaii. Selama menjelajahi daerah sekitar, mereka bertemu dua pasangan lainnya masing-masing Kale-Cleo dan Nick-Gina. Air terjun dan pegunungan yang curam memang indah tetapi menyimpan misteri tersendiri saat dikabarkan ada pembunuh berantai yang sering menghabisi para turis. Ciri-ciri yang tercantum pada informasi di internet mengarah pada salah satu anggota grup tersebut. Berhasilkah mereka keluar hidup-hidup dari liburan impian itu.

Nice-to-know:
Sutradara Twohy sempat berdebat dengan studio untuk membiarkan film berjalan dengan rating R daripada versi PG-13.

Cast:
Film layar lebar pertama Steve Zahn adalah Rain Without Thunder (1992). Disini ia bermain sebagai Cliff Anderson
Menjadi aktor pertama kali dalam serial televisi Mr. & Mrs. Smith (1996), Timothy Olyphant kali ini berperan sebagai Nick
Milla Jovovich sebagai Cydney Anderson
Kiele Sanchez sebagai Gina
Marley Shelton sebagai Cleo
Chris Hemsworth sebagai Kale

Director:
David Twohy pernah mengarahkan Pitch Black (2000) yang diikuti sekuelnya The Chronicles of Riddick (2004).

Comment:
Sebuah thriller rasanya tidak lengkap jika tidak ditunjang oleh twist yang menggigit. Tentunya kita sebagai penonton akan merasa senang jika dibiarkan menebak-nebak sepanjang durasi dan saya katakan bahwa film ini cukup berhasil melakukannya. Padahal premisnya sendiri terlihat biasa-biasa saja alias tidak jauh berbeda dengan ratusan judul-judul sejenis yang sudah muncul lebih dulu.
Sutradara Twohy berhasil memanfaatkan setting Hawaii sebagai panggung yang sempurna bagi liburan indah sekaligus terasing dari peradaban. Bagaimana lembah, pegunungan, pantai, hutan, karang, pasir teramat eye-catching seakan mengundang siapapun untuk memanfaatkannya, untuk tujuan baik ataupun mungkin buruk.







Sinematografi yang demikian sempurna itu tidak diimbangi oleh tempo yang naik turun. Sejam pertama boleh dibilang semacam eksplorasi area dan juga pengenalan para karakternya. Hal ini memang terasa lambat dan sedikit membosankan. Namun penantian itu lumayan terbayar pada setengah jam terakhir dimana tensi semakin meningkat dan ditutup oleh klimaks berdarah yang mendebarkan.
Secara khusus saya memuji penampilan Zahn disini. Transformasi karakternya terjaga dengan baik. Sedangkan Jovovich, Olyphant, Sanchez melakukan usaha terbaiknya masing-masing. Memang tidak ada pendalaman karakter disini karena yang disuguhkan hanyalah identitas belaka dan aktifitas keseharian mereka. Beberapa aktor-aktris lainnya malah terkesan hanya mumpang lewat.
A Perfect Getaway memang berharga dinilai dari twist cerdas yang berusaha disuguhkan. Jangan salahkan penulis/sutradara yang dianggap berusaha membohongi audiens dengan usaha. Jika memiliki waktu luang, cobalah menyaksikan sekali lagi dari sudut pandang yang berbeda, mungkin anda akan berpendapat lain dan bisa jadi semakin mengagumi kinerja Twohy kali ini.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$15,483,540 till Sept 2009

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter: