XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 15 Januari 2011

FASTER : Misi Balas Dendam “Hantu”

Tagline:
Slow Justice is No Justice.

Storyline:
Seorang narapidana yang dijuluki Driver dibebaskan dari penjara dan segera mencari orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan adiknya saat dikhianati dalam misi pencurian beberapa tahun lalu. Driver sendiri sebetulnya sudah ditembak mati tapi karena kelainan tulang tengkorak kepala mampu hidup kembali. Satu persatu kawanan pengkhianat dihabisi secara cepat dan brutal. Driver tidak mengetahui ada seorang polisi dan seorang pembunuh bayaran berkelas yang mengintainya dari jauh untuk menggagalkan balas dendamnya.

Nice-to-know:
Salma Hayek sempat menjalani proses casting tapi keluar seminggu sebelum syuting dimulai.

Cast:
Selain serial televisi Family Guy dan Transformers Prime, Dwayne Johnson juga membintangi 5 film lainnya di tahun 2010 termasuk sebagai Driver disini.
Pria berusia 55 tahun bernama Billy Bob Thornton ini terakhir terlibat dalam The Smell of Success (2009) dan kali ini bermain sebagai Cop
Carla Gugino sebagai Cicero
Oliver Jackson-Cohen sebagai Killer
Tom Berenger sebagai Warden

Director:
George Tillman Jr. terakhir menggarap film biografi berjudul Notorious (2009).

Comment:
Meskipun posturnya meyakinkan tetapi kualitas akting Dwayne Johnson berbanding terbalik. Jangan salah persepsi, saya tidak katakan buruk tetapi seringkali ia mendapat peran-peran yang tidak pas. Jika menyebutkan satu persatu rasanya akan menghabiskan waktu. Peran yang paling tepat untuknya hanyalah peran-peran yang menonjolkan aksi dan minim dialog. Dan itulah yang terjadi disini saat seorang The Rock back to basic secara cool.
Ia tidak sendirian karena lawan yang berseberangan dengannya yakni aktor anyar Jackson-Cohen memainkan karakter yang unik dengan sifat egosentris yang dominan dan rasa optimistis yang terkadang berlebihan. Kedua pribadi tersebut masih disokong pula oleh “always good” actor, BBT sebagai polisi yang menghabiskan hari-hari terakhir tugasnya sebelum pension dan Gugino sebagai penyelidik yang wajib mencaritahu targetnya dan motifnya demi meminimalisir jatuhnya korban.
Sutradara Tillman Jr. merupakan satu dari sedikit sutradara Afro-Amerika yang cukup berbakat dewasa ini. Dan ia memberikan energi yang penuh ke dalam film aksi bergaya unik yang sebetulnya tidak menawarkan hal yang baru selain mix and match subplots. Beruntung tidak banyak penggunaan spesial efek sehingga scene per scene terlihat wajar didukung oleh sinematografi dan editing yang lumayan mumpuni.
Bagi anda para pecinta genre serupa, Faster bisa jadi cukup memuaskan untuk ditonton. Namun saya ingatkan, aksinya tidak sebanyak yang anda harapkan dan lagi sang “pahlawan” kita tidak terlalu menemukan lawan-lawan yang sebanding disini termasuk pada klimaksnya yang seharusnya “lebih” nendang. Dan rasanya dari awal anda akan mampu menebak siapa dalang yang sesungguhnya. Benar begitu?

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$22,941,231 till mid Jan 2011.

Movie-meter:

Jumat, 14 Januari 2011

ALTITUDE : Terbang Berlima Memasuki “Dimensi” Lain

Tagline:
Don't Look Down.

Storyline:
Sebelum pindah ke Montreal, Sara bertekad membawa teman-temannya untuk menikmati konser, masing-masing adalah Sal, Mel, Cory dan Bruce. Perjalanan yang mereka tempuh bukan lewat darat tetapi pesawat terbang kecil yang akan dikendarai oleh Sara sendiri. Awalnya menyenangkan karena di ketinggian mereka bisa menikmati awan dan pemandangan. Namun saat Bruce panik akan turbulensi, keadaan menjadi tidak terkendali dan pesawat memasuki awan hitam yang misterius. Hal tersebut diperparah dengan kondisi pesawat yang ternyata tidak layak terbang. Ketakutan menghantui mereka satu persatu apalagi kekuatan supernatural yang sulit dijelaskan bisa saja mengintai.

Nice-to-know:
Bersyuting di British Columbia, Kanada dan didistribusikan oleh Anchor Bay Entertainment.

Cast:
Sempat mendukung The Haunting of Molly Hartley (2008), Jessica Lowndes disini bermain sebagai Sara yang kehilangan ibunya dalam kecelakaan pesawat di masa kecil.
Julianna Guill sebagai Mel
Ryan Donowho sebagai Cory
Landon Liboiron sebagai Bruce
Jake Weary sebagai Sal

Director:
Merupakan proyek film pertama bagi Kaare Andrews setelah 6 film pendek sebelumnya.

Comment:
Jika mencermati ide ceritanya yang sedikit berbau sci-fi seharusnya film ini bisa menjadi sesuatu yang fresh. Namun sayangnya penulis Paul A. Birkett seperti berusaha memaksimalkan ide setengah jadi yang pada akhirnya tidak jelas juntrungannya. Cerita dibuka dengan pengenalan lima karakter muda-mudi, sesuatu yang sangat tipikal bagi film thriller remaja. Dari situ berbagai subplot mengalir seperti berlomba-lomba untuk menjadi yang terpenting. Kita punya masa lalu si pilot cewek dan kekasih mentornya, belum lagi cinta segitiga antara sepupu si pilot dengan gadis yang justru mengencani pria brengsek. Tentunya dari sini anda bisa mulai mereka-reka urutan kematian dari mereka berlima.
Dari segi acting, sebetulnya malu untuk menyalahkan nama-nama baru tersebut yang cukup menjual dari segi tampang tapi miskin pengalaman. Saat mereka mulai menyalahkan satu sama lain dan berlomba-lomba memaki sekaligus berteriak di ruang sempit tersebut, tensi anda tentunya mulai meningkat. Bukan karena exciting dengan perkembangan cerita tetapi jengkel melihat dan mendengar semua itu. Rasanya penyampaian konflik dapat dilakukan dengan cara lain yang lebih tepat.
Meskipun mampu membesut adegan sempit di luar angkasa dengan cukup maksimal, sutradara Andrews malah terkesan lupa mempersenjatai kelemahan skrip sehingga tema yang disampaikan tidak lebih dari sekadar comotan salah satu bagian dari The Twilight Zone ataupun Outer Limits dengan semangat Stephen King mungkin? Campuran berbagai senyawa yang sangat mudah meledak jika tidak ditangani dengan baik.
Altitude sebetulnya tidak seburuk tulisan saya, hanya saja kekonyolan plot ceritanya tidak bisa ditoleransi atas dasar apapun juga. Semua karakter yang ada disini juga tak mampu menarik simpati penonton untuk peduli pada kelanjutan nasib mereka menghadapi “monster” dari dimensi lain jika memang benar ada. Endingnya yang berusaha dibuat smart dengan konklusi tersendiri niscaya malah membuat anda tertawa sinis dan buru-buru meninggalkan bioskop.

Durasi:
90 menit

Movie-meter:

Kamis, 13 Januari 2011

ANAKLUH : Cinta Kedua Kontra Peranan Ibu

Quotes:
"Buat aku, Mama seorang sudah cukup dari pada 1000 papa untuk aku"

Storyline:
Sudah belasan tahun, Idayu bertahan hidup menjanda dengan dua putrinya yang beranjak dewasa yaitu Mira yang sudah bekerja dan Kirei yang masih bersekolah. Suatu hari, Idayu bertemu dengan Nando. Keduanya terpikat satu sama lain sejak pandangan pertama dan mulai saling berkomunikasi. Idayu tidak segan mengajak Mira dan Kirei untuk turut mengenal Nando lewat telepon. Namun Mira mengartikan lain, kasih sayang seorang ayah yang sudah lama ia dambakan malah membuatnya jatuh hati pada calon ayah tirinya itu. Idayu tak kuasa menahan perasaan putri kandungnya sendiri dan memilih pergi ke Bali. Akankah Idayu dan Nando pada akhirnya bersatu terlepas dari segala masalah pelik yang tak mudah diselesaikan?

Nice to know:
Diproduksi oleh Bomb Creative Production dan gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI tanggal 10 Januari 2011.

Cast:
Terakhir mendukung 2 film di tahun 2010 yaitu Bahwa Cinta Itu Ada dan Aku Atau Dia, Rizky Hanggono kali ini berperan sebagai Nando yang masa kecilnya kekurangan kasih sayang seorang ibu.
Shara Aryo sebagai Idayu
Masayu Clara sebagai Mira
Suci Winata sebagai Kirei

Director:
Kembalinya Eduart Pesta Sirait di bangku sutradara setelah satu dekade yang lalu mengarahkan Joshua Oh Joshua (2001).

Comment:
Percintaan usia beda jauh terkadang merupakan suatu polemik tersendiri. Pernah menjadi topic dalam I Love You, Om dan kali ini diperumit lagi dengan cinta segitiga dimana gadis muda itu jatuh cinta pada kekasih ibunya yang sudah lama menjanda. Itulah yang terangkum dalam novel berjudul Anakluh Berwajah Bumi yang diadaptasi menjadi drama keluarga yang bersetting di Jakarta dan Bali sekaligus. Sebuah konflik radikal yang jika tidak ditangani dengan hati-hati akan terkesan tidak mengenakkan.
Sutradara Eduart yang sudah sangat berpengalaman sejak tahun 70an ternyata tidak kehilangan sentuhan emasnya dalam menyajikan aspek-aspek drama secara wajar dengan penekanan topik di beberapa scene. Satu kekurangan yang saya cermati adalah beberapa adegan slow motion setiap suguhan satu scene konflik berlalu disertai dengan alunan lagu dari Seventeen. Rasanya hal ini tidak perlu karena terkesan terlalu mendramatisasi apalagi sampai dilakukan berulang-ulang.
Dari segi acting, Rizky tampaknya sudah sangat berpengalaman sebagai lelaki baik hati yang kurang bisa mengambil sikap tegas. Namun rasanya penonton akan dapat memahami tindakannya jika ditempatkan pada posisi yang sama. Shara sebagai ibu muda mandiri memiliki daya tarik tersendiri. Wajah cantiknya terasa pas saat diclose-up kamera mampu menghadirkan kecemasan seorang ibu dan kebahagiaan seorang kekasih. Memang ia tidak 100% konsisten melakukannya tetapi sudah baik. Masayu dan Suci juga memberikan pendalaman yang lumayan bagus sebagai dua putri single parent, Mira yang spontan dan kurang kasih saying tampak berbanding terbalik dengan Kirei yang rasional dan lebih dewasa.
Esensi novel secara keseluruhan tentunya tidak mungkin masuk semua dalam sebuah film berdurasi satu setengah jam kurang lebih. Itulah yang menyebabkan banyaknya adegan flashback berwarna sepia untuk menjelaskan latar belakang karakternya masing-masing terutama Nando menghadapi problematika ibu-anak dan Idayu suami-istri. Namun bagi saya, penjelasan demi penjelasan ini malah kurang memberikan makna apapun walau jika dihilangkan juga pasti terasa ada yang hilang.
Terlepas dari beberapa kekurangan dasar yang disebutkan tadi belum lagi pengulangan konflik ibu anak yang sedikit melelahkan hingga akhirnya ditutup juga pada endingnya yang puitis itu, saya tetap mengapresiasi Anakluh sebagai sebuah tontonan di atas rata-rata yang kaya wacana apalagi pemandangan dan kultural Bali juga dihadirkan secara nyata. Saya rekomendasikan anda untuk pergi menonton film ini.

Durasi:
95 menit

Movie-meter:

Rabu, 12 Januari 2011

BAIK-BAIK SAYANG : Jatuh “Cinta” Bangun Band Pesantren

Storyline:
Pesantren La Tansa pimpinan Kyai Besar membebaskan siswa-siswinya untuk mengembangkan kesenian apapun yang mereka sukai. Adalah empat sekawan Apoy, Faank, Tomi dan Ovie yang sepakat merintis cita-cita mereka dengan membentuk grup musik. Hal ini kerapkali mendapat gangguan dari Hamzah, pemuda tambun yang iri pada kekompakan mereka. Pada suatu saat, Faank tanpa sengaja mencelakakan gadis yang dicintainya Westi ketika berkendara motor yang mengakibatkan Westi lumpuh. Ayah Westi pun mengusir Faank jauh-jauh karena tidak mampu membiayai pengobatan dan menjodohkan putrinya itu dengan mantan bosnya, Bagas yang kaya raya dan menaruh perhatian pula pada Westi. Meski telah dicoba dekat dengan gadis lain, Faank tetap memikirkan Westi seorang dan menciptakan sebuah lagu. Akankah pada akhirnya impian mereka terwujud?

Nice to know:
Diproduksi oleh Big Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 11 Januari 2011.

Cast:
Wali Band masing-masing Faank, Apoy, Tomi, Ovie
Intan Nuraini sebagai Westi
Arumi Bachsin sebagai Azizah
Sulis sebagai Nurul
Dennis Adhiswara sebagai Bagas
Didi Petet sebagai Kyai Besar
Alicia Djohar sebagai Ibu Westi
Agus Melasz sebagai Ayah Westi

Director:
Kolaborasi pertama bagi Iding Sunadi dan Dodi Mawon.

Comment:
Film seringkali dijadikan biografi bagi tokoh yang sudah mempunyai nama, tidak terkecuali mereka yang berkarya di bidang musik. Kondisi tersebut yang mendorong empat personil Wali menjadi sentralisasi cerita film yang judulnya diambil dari salah satu single hit mereka pula. Suatu perjudian yang cukup berani karena hasilnya bisa jadi buruk sekali jika terlalu mengedepankan ego.
Beruntung Faank, Apoy, Tomi dan Ovie tampil wajar menjadi diri mereka masing-masing disini. Jikapun ada improvisasi, hal tersebut masih dalam batas yang bisa diterima. Terutama Faank dan Apoy yang menurut saya mampu memberikan emosi tersendiri bagi perannya, keluguan yang dibalut semangat optimisme. Penonton akan diajak mengenal satu persatu personil Wali secara sederhana dan tidak terkesan ambisius samasekali.
Sutradara Iding dan Dodi menghadirkan tontonan yang cukup menarik, tidak terlalu ngepop ataupun terlalu berlarut-larut pada konflik di dalam pesantren itu sendiri sebagai proses awalnya. Saya angkat topi bagi Jujur Prananto yang menulis skenarionya dengan maksimal sehingga mempermudah film ini untuk terus mengintrusi subplot demi subplot yang dihadirkan karakter-karakter pendukung.
Intan Nuraini berakting maksimal sebagai Westi yang ceria hingga muram saat terpaksa duduk di kursi roda. Penghayatannya yang berurai mata rasanya cukup menggugah penonton apalagi chemistry nya dengan Faank terasa saling mengisi. Menarik melihat Arumi mau mengambil peran di luar film-film Nayato seperti yang pernah dilakoninya dalam 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta kali ini ia kebagian tokoh siswi yang santun. Dennis meski tidak mendapat porsi yang dominan tetap memberikan support yang tidak kalah penting sebagai Bos Bagas. Apalagi Didi Petet dan Alicia Djohar yang tak perlu diragukan lagi kontribusinya.
Walaupun kesan sinetron yang serba gampang tidak lepas sebagai label film ini, Baik-Baik Sayang tidak dapat dikatakan film sampah. Disinilah kontribusi soundtrack yang ear-catchy dan melantun membahana di setiap adegan yang memang tepat untuk itu berperan sangat besar. Bahkan hingga layar tergulung menutup ending yang terasa dipermudah itu, suara Faank akan tetap mengisi ruang telinga anda dengan lirik-lirik puitisnya. Hanya satu pintaku di siang dan malammu..

Durasi:
95 menit

Movie-meter:

Selasa, 11 Januari 2011

THE AMERICAN : Ketenangan Pelarian Terusik Kecurigaan

Quotes:
Father Benedetto: A man can be rich, if he has God in his heart.
Jack: I don't think God is very interested in me, Father.

Storyline:
Setelah selamat dari insiden di Swedia, penembak jitu Amerika bernama Jack alias Edward menghubungi kontaknya Pavel yang kemudian mengirimnya ke kota Abruzzian dengan berbagai peringatan. Jack akhirnya pergi ke Castelvecchio dan berpura-pura menjadi seorang fotografer selagi menunggu Pavel membereskan urusan geng Swedia nya. Pelan-pelan Jack belajar merangkai senjata untuk pembunuh bayaran Belgia sambil berkenalan dengan pendeta setempat Father Benedetto dan pelacur lokal Clara. Akankah Jack mampu keluar dari semua persoalannya dan tidak salah mempercayai orang?

Nice-to-know:
Jack / Edward menggunakan pistol jenis Walther PPK sama seperti James Bond.

Cast:
Terakhir kali menyumbangkan suara dalam Fantastic Mr. Fox (2009), George Clooney disini bermain sebagai Jack / Edward.
Irina Björklund sebagai Ingrid
Paolo Bonacelli sebagai Father Benedetto
Johan Leysen sebagai Pavel
Filippo Timi sebagai Fabio
Violante Placido sebagai Clara

Director:
Pria kelahiran Belanda bernama Anton Corbijn ini sebelumnya piawai menggarap beberapa video musik ataupun dokumenter untuk televisi.

Comment:
Pertama-tama harus saya katakan, film ini (lagi-lagi) bukan film konsumsi sembarang orang. Artinya butuh open-minded dan art lovers untuk menikmatinya. Sebuah thriller bergaya Eropa tahun 80an yang dirancang sedemikian rupa dengan teramat sangat tenang tanpa banyak gejolak yang berarti. Aspek inilah yang bisa jadi amat membosankan bagi anda yang salah mengartikan judul dan poster film ini seperti beberapa orang yang terbukti keluar dari gedung bioskop tanpa menunggu sampai habis. Namun sekalinya gejolak itu muncul, anda akan terpaku untuk mereka-reka apa yang terjadi selanjutnya. Percayalah!
Semua aktor aktris di luar Hollywood bermain menarik dan mampu membawakan gaya khas mereka masing-masing. Sosok Bonacelli sebagai Father Benedetto bahkan mengingatkan saya pada Alfred Hitchcock yang legendaris itu. Khusus Clooney tampaknya ia semakin nyaman dengan peran-peran off mainstream. Kesepian yang dihayatinya dalam Up In The Air kali ini diangkat ke level yang lebih tinggi lagi. Sepanjang film penonton akan diajak memposisikan diri di belakang tokoh Jack / Edward yang berbagi keahlian dan caranya berinteraksi dengan orang-orang yang baru ditemuinya. Chemistry dengan siapapun yang terhubung dengannya tergolong menarik dan memberikan nuansa tersendiri.
Sutradara Corbijn bisa jadi memiliki karir yang cerah di masa mendatang. Kemiskinan pengalamannya terbayar lunas dengan film feature debutnya yang didasarkan pada novel A Very Private Gentleman karya Martin Booth ini. Martin Ruhe selaku sinematografer juga berhasil menghadirkan lanskap Italia yang indah tanpa mengindahkan adegan-adegan indoornya baik siang maupun malam. Terkadang terlalu berlama-lama pada satu scene yang apik tapi hal itu memberi kesempatan kita untuk menikmatinya.
Jika anda menginginkan action thriller super cepat, lebih baik sewa kembali dvd franchise James Bond ataupun Jason Bourne trilogy. Sebab The American tidak akan memuaskan anda yang harus menunggu satu jam di awal untuk penceritaan detail cerita dan juga pengenalan karakternya. Namun percayalah endingnya pantas untuk ditunggu dan selagi menunggu mungkin tidak ada salahnya menikmati beberapa adegan syur yang lumayan artistik. Terima kasih pada gunting sensor yang membabat film ini hingga lebih kurang 100 menit untuk peredaran bioskopnya.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$35,596,227 till end of Oct 2010.

Movie-meter:

Senin, 10 Januari 2011

NEW TOWN KILLERS : Permainan Kucing Tikus Taruhan Uang Nyawa

Storyline:
Di Edinburgh, remaja Sean Macdonald hidup nyaris tanpa tujuan bersama kakaknya Alice Kelly yang tiba-tiba berhutang 12,000 pounds pada orang-orang berbahaya yang kemudian memaksanya menjual obat di Amsterdam. Saat kebingungan, Sean dihubungi dua pria tak dikenal yaitu Alistair dan Jamie yang menawarkannya uang sejumlah sama untuk bermain kucing tikus. Terdesak akhirnya Sean menerima tawaran tersebut tanpa menyadari Alistair adalah pembunuh sadis yang tidak berperikemanusiaan. Berhasilkah Sean bertahan hidup tanpa memikirkan untuk memenangkan kompetisi ini?

Nice-to-know:
Merupakan proyek kerjasama dari Independent, Str8jacket Creations, Scottish Screen dan Screen East.

Cast:
Terakhir sempat muncul dalam Hitman (2007), Dougray Scott kini bermain antagonis sebagai Alistair Raskolnikov
Satu dari dua film yang diperankannya di tahun 2008 selain The Edge Of Love, Alastair Mackenzie sebagai Jamie Stewart
Angkat nama via serial televisi Casualty (2005-2007), James Anthony Pearson berakting sebagai Sean Macdonald
Liz White sebagai Alice Kelly
Charles Mnene sebagai Sam

Director:
Pria kelahiran Skotlandia bernama Richard Jobson ini menggarap film keempatnya yang dimulai dari 16 Years of Alcohol (2003).

Comment:
Tidak banyak film indie khas Inggris yang terdengar di telinga publik perfilman dunia selain karya-karya Guy Ritchie yang sekarang bisa dikatakan salah satu sutradara papan atas itu. Kini ada sebuah film yang sempat diputar dalam ajang iNAFFF10 yang lalu akhirnya tayang regular di Blitzmegaplex dengan bersetting kota Edinburgh.
Banyak sekali film bertemakan permainan berhadiah sejumlah uang yang berujung mematikan sebelumnya. Yang membedakan disini adalah subyeknya dua orang yang salah satunya berjiwa psikopat.
Sutradara Jobson cukup terampil bermain dengan scene cepat tanpa terkesan melelahkan. Sinematografinya tergolong konstan dengan warna dark orange yang berpadu kontras dengan kegelapan malam. Anda akan menemukan banyak twist yang berbelok-belok di sepanjang film meski fokusnya hanya di tiga aktor utama tersebut.
Penampilan Scott cukup meyakinkan sebagai Alistair sehingga penonton dibuat percaya kegilaan jiwanya yang seakan tak pernah terpuaskan. Sebaliknya Pearson berakting cukup baik sebagai Sean yang terlihat lemah tetapi nyatanya lincah dan cerdas seperti kancil. Keduanya mampu menerjemahkan kubu yang saling berlawanan dengan baik.
Satu-satunya cela yang dimiliki New Town Killers adalah kesulitan menutup film dengan brilian. Ending yang kita harapkan akan menjadi pamungkas nyatanya tidak terjadi. Sayang sekali mengingat perjalanan menuju kesana sudah dikonstruksikan sedemikian maksimal. Meski demikian action thriller ini diyakini mampu mengaduk-aduk emosi anda untuk tetap terjaga mengikuti perburuan sekaligus mengetahui siapa yang menang pada akhirnya. Berani bertaruh?

Durasi:
100 menit

U.K. Box Office:
$3,280 till mid Jun 2009.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 09 Januari 2011

LET ME IN : Kompleksitas Berhubungan Dengan Gadis Vampir Cilik

Quotes:
Owen: Are you a vampire?
Abby: I need blood to live.
Owen: But how old are you, really?
Abby: Twelve. But... I've been twelve for a very long time.

Storyline:
Seringkali Owen yang berbadan kecil diganggu di sekolahnya. Ia tak bisa melawan terlebih menghadapi tekanan juga di rumah dari orangtuanya yang telah bercerai. Semua berubah saat Abby yang juga berusia 12 tahun sepertinya datang ke kota dan menjadi tetangganya. Abby banyak mengajarkan Owen untuk melawan sedangkan Owen juga membuka mata Abby akan ketulusan sebuah persahabatan. Tidak ada yang tahu bahwa sesungguhnya semenjak kedatangan Abby, banyak korban penduduk lokal yang berjatuhan dengan luka gigitan di lehernya. Siapakah Abby sebenarnya? Akankah Owen mampu menerima sahabatnya itu apa adanya?

Nice-to-know:
Kata "vampire" hanya diucapkan sekali selama durasi film.

Cast:
Pertama kali angkat nama lewat Romulus, My Father (2007), Kodi Smit-McPhee yang asli Australia ini berperan sebagai Owen, remaja putra yang sering diganggu anak-anak di sekolahnya.
Remaja berusia 13 tahun ini sebelumnya mencuri perhatian dalam Kick Ass (2010) sebagai The Hit Girl. Kali ini Chloe Moretz bermain sebagai Abby, vampir kekal yang tetap dalam tubuh anak berusia 12 tahun.
Richard Jenkins sebagai Ayah Abby
Cara Buono sebagai Ibu Owen
Elias Koteas sebagai The Policeman

Director:
Pria berusia 44 tahun asal New York bernama Matt Reeves ini sebelumnya sukses dengan Cloverfield (2008).

Comment:
Saya menyukai apa yang sudah ditampilkan Let The Right One In meski tidak terlalu memfavoritkannya juga. Lantas bagaimana dengan remake versi Hollywood ini?
Awalnya saya mengharapkan akan ada adaptasi yang sedikit berbeda. Namun secara keseluruhan ternyata 90% sama. Saya sedikit kecewa. Namun sepertinya Matt Reeves yang merangkap sebagai sutradara dan penulis skrip tidak ingin berjudi untuk mengubah apa yang sudah baku dari John Ajvide Lindqvist.
Yang membedakan hanyalah tone warna film. Jika versi aslinya dominan dengan warna putih pucat yang menyiratkan kesepian total maka versi remake ini merupakan kombinasi putih dan merah yang berkesan dingin sekaligus hangat. Hal ini tergantung mood tokoh Abby yang menerjemahkan sisi manusia sekaligus vampir di dalam dirinya. Hal dasar ini sudah terlihat dari posternya bukan? Saya menganggap ini suatu konsep yang menarik karena lebih memanusiakan film ini sendiri.
Talenta Moretz memang harus diakui. Karakter Abby dimainkannya nyaris tanpa ekspresi tetapi tetap mampu menerjemahkan kompleksitas di dalamnya. Diimbangi pula oleh Smith-McPhee yang membuat karakter Owen terasa lemah tetapi tulus. Kedua anak ini mampu berbagi chemistry secara wajar sehingga membuat penonton dapat menyelami dan memahami hubungan keduanya yang bahkan dapat diartikan romantisme pra-remaja. Saya nilai akting mereka sedikit di atas pendahulunya yang sebetulnya juga berperan sangat baik.
Let Me In akan mengajak anda masuk ke dalam dunia Abby dan Owen yang sunyi dan dingin. Perlahan pikiran dan hati anda akan terbawa mengikuti perkembangan hubungan mereka yang mulai menghangat dan bermakna satu sama lain. Bukan film yang akan membombardir anda dengan rasa takut dan exciting saat menontonnya tetapi membangun konstruksi cerita perlahan-lahan dengan kedalaman dan sisi emosional yang unik. Bisa jadi membosankan bagi anda yang tidak terbiasa dengan film off-mainstream seperti ini.

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$12,134,420 till Dec 2010.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 08 Januari 2011

LITTLE FOCKERS : Konflik Mertua Menantu Serta Nakalnya Anak-anak

Quotes:
Jack Byrnes: I'm watching you.
Greg Focker: Yeah, well I have eyes too, so I'll be watching you... watching me.

Storyline:
Beberapa tahun berlalu dari pertemuan dua keluarga besan yang menghebohkan, Greg dan Pam Fockers telah dikaruniai sepasang anak kembar yaitu Samantha dan Henry. Sekali lagi Kakek Jack mengkhawatirkan hegemoni keluarga Byrnes dimana menantu pertamanya, Dr. Bob telah gagal dan kali ini menyoroti kapabilitas Greg sebagai penerusnya. Kedatangan Jack dan Dina dalam menghadiri ultah si kembar menimbulkan kericuhan yang tak terelakkan. Terlebih kemunculan sahabat baik Greg, Kevin yang juga mantan Pam. Apakah Greg mampu menjawab tantangan Jack untuk menjadi "The Godfocker."?

Nice-to-know:
Dustin Hoffman sedianya mendapat porsi yang lebih banyak sebagai Bernie Focker, tetapi setelah mengetahui terjadi pergantian sutradara lalu menolaknya apalagi disertai perubahan skrip. Akhirnya Universal berhasil membujuh Hoffman untuk terlibat dalam 6 scene.

Cast:
Selain melanjutkan peran Jack Byrnes, Robert De Niro juga tampil dalam Stone dan Machete di tahun 2010 ini.
Sempat mengisi suara Bernard dalam Megamind kemarin, Ben Stiller kembali meneruskan tokoh Gaylord “Greg” Focker yang seorang perawat itu.
Owen Wilson sebagai Kevin Rawley
Dustin Hoffman sebagai Bernie Focker
Barbra Streisand sebagai Roz Focker
Blythe Danner sebagai Dina Byrnes
Teri Polo sebagai Pam Focker
Jessica Alba sebagai Andi Garcia
Laura Dern sebagai Prudence

Director:
Paul Weitz memulai karir sutradaranya lewat American Pie (1999) yang sangat tersohor di kalangan anak muda itu.

Comment:
10 tahun berlalu sejak kemunculan pertama Meet The Parents yang dilanjutkan Meet The Fockers 4 tahun kemudian telah membawa banyak perubahan. Salah satunya adalah evolusi komedi berkualitas yang sayangnya sangat sulit dipertahankan dewasa ini. Kreatifitas menjadi isu yang paling penting dan kali ini tugas tersebut diemban oleh duet penulis John Hamburg dan Larry Stuckey yang menggantikan Greg Glienna dan Mary Ruth Clarke.
Sekali lagi film berfokus pada hubungan Jack dan Greg seperti MTP. Banyak sekali pengulangan slapstick interaksi fisik yang “menjurus” termasuk pertukaran dialog sinis di antara mereka. Terkadang kita lelah mengikuti perseteruan keduanya yang saling mencurigai bukan karena tidak menarik, tetapi karena kita pernah melihat hal serupa sebelumnya!
DeNiro dan Stiller sendiri masih konsisten membawakan karakter mertua dan menantu seperti biasanya. Di luar mereka rasanya cukup menyayangkan nama-nama kawakan Danner, Streisand, Hoffman menjadi tempelan belaka. Bahkan Polo juga seakan tidak terlalu digubris kali ini. Wilson masih sama dengan celotehan sengau dan tingkahnya yang flamboyan. Kehadiran Alba sedikit mengintrusi plot cerita tapi tidak cukup berpengaruh kuat terhadap konflik itu sendiri.
Sutradara Weitz menghadirkan scene-scene komikal yang cenderung over-the-top. Sepertinya ia tidak tahu kapan harus berhenti dan memberi jeda yang cukup untuk membangun elemen lain di luar komedi itu sendiri yaitu kekuatan cerita! Diperparah lagi dengan arah film yang mudah sekali ditebak endingnya dan repeated humor scenes seperti yang sudah saya singgung di atas.
Pemilihan judul Little Fockers juga terasa ambisius karena Sam dan Henry bahkan tidak terlalu berkontribusi apapun untuk dapat disebut sentral cerita. Daisy Tahan dan Colin Baiocchi rasanya juga tidak cukup manis ataupun nakal untuk membuat penonton gemas pada mereka. Early Human School hanya merupakan ide yang kreatif tapi tidak dieksekusi dengan maksimal. Jika konsepnya sendiri sudah salah, lantas apa lagi yang berusaha dijual? Enough is enough. I don’t wanna see the fourth Fockers coming up whatsoever the title would be.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$102,576,190 till early 2011.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 07 Januari 2011

NOTHING BUT THE TRUTH : Reporter Wanita Berprinsip Menjadi Tahanan

Quotes:
Rachel Armstrong: A man leaves his family to go to jail to protect a principle, and they name a holiday after him. A man leaves his children to go fight in a war, and they erect a monument to him. A woman does the same thing, and she's a monster.

Storyline:
Reporter wanita Rachel Armstrong menulis cerita dalam sebuah kolom surat kabar mengenai Presiden yang menolak mengungkapkan keterlibatan CIA dalam peluncuran serangan udara di Venezuela dan ia menyebut nama Erica Van Doren sebagai salah satu agen CIA tersebut. Hal tersebut membuatnya menjadi tahanan dan dipaksa memberitahukan siapa sumbernya. Rachel menolak dan terpaksa menghabiskan hari-harinya di penjara dimana ia terpaksa mengabaikan fakta bahwa suaminya Ray dan putranya Timmy merindukan kehadirannya. Patton Dupois pun ditugaskan menginterogasi Rachel yang kemudian didampingi bossnya Bonnie dan pengacaranya Alan. Apa yang sesungguhnya dipertahankan Rachel dalam hidupnya?

Nice-to-know:
Rod Lurie membawa poligrafis asli untuk membuktikan ucapan tokoh yang dimainkan Vera Farmiga apakah ia bekerja untuk CIA atau tidak. Setelah syuting ternyata Farmiga berhasil menipu tes poligraf tersebut.

Cast:
Merupakan satu dari dua film yang dimainkan Kate Beckinsale sepanjang 2008 selain Winged Creatures. Saksikan aktingnya sebagai Rachel Armstrong, jurnalis yang harus dipenjara karena tulisannya.
Tahun 2007 lalu sempat cameo dalam serial kartun sukses The Simpsons, Matt Dillon kali ini bermain sebagai Patton Dubois.
Angela Bassett sebagai Bonnie Benjamin
Alan Alda sebagai Alan Burnside
Vera Farmiga sebagai Erica Van Doren
David Schwimmer sebagai Ray Armstrong
Courtney B. Vance sebagai Agent O'Hara
Noah Wyle sebagai Avril Aaronson
Preston Bailey sebagai Timmy Armstrong

Director:
Rod Lurie terakhir menggarap Resurrecting the Champ (2007).

Comment:
Saya tidak mengerti alasan film ini mengalami penundaan pemutaran regular begitu lama di Indonesia semenjak midnitenya. Padahal jarang sekali film Hollywood berkualitas serupa belakangan ini. Tidak perlu melihat terlalu jauh karena dari jajaran cast nya, anda akan menemukan nama-nama sekaliber Dillon, Beckinsale, Farmiga, Bassett, Schwimmer dll.
Rod Lurie bukan hanya berhasil menulis kisah yang sedikit berbau politik dari sudut pandang jurnalisme tetapi menyajikannya dalam unsur kemanusiaan yang kental. Tugas rangkap yang tidak mudah tentunya. Kesederhanaan gayanya dalam meramu plot dan mengeksekusinya dengan sewajar mungkin merupakan suatu kelebihan sendiri.
Beckinsale sebagai nyawa film ini tampil sangat brilian. Nominasi Aktris Terbaik Critics Choice Award 2009 pun akhirnya mampir di tangannya. Peran Rachel Armstrong dibawakan dengan penuh emosi yang teramat sangat wajar. Penonton akan diajak bersimpati mengikuti perjalanannya mempertahankan idealismenya walau harus mengorbankan diri sendiri dan keluarganya yang perlahan hancur. Bagaimana efek dipenjara dalam waktu yang cukup panjang dengan proses interogasi yang terus menerus sukses tergambar di wajahnya.
Saya selalu mengagumi Farmiga yang walau bukan fokus utama tetap memberikan kontribusi sendiri sebagai Erica Van Doren yang tangguh dan keras hati. Schwimmer yang biasanya tampil komedik kali ini bermain sebagai penulis yang juga seorang suami dan ayah yang tertekan oleh situasi. Jangan lupakan juga aktor kawakan Dillon yang justru terlihat antagonis disini sebagai penuntut yang tetap teguh memegang nilai-nilai hukum meski kadang bertentangan dengan hati nuraninya. Si kecil Bailey menunjukkan kelasnya sebagai calon aktor caliber masa depan sebagai Timmy. Very well done cast!
Terlepas dari alur lambat dan terlalu detail per adegan, Nothing But The Truth akan membuat anda mengerti kegelapan sisi terdalam seorang manusia saat dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit mengenai prinsipnya sendiri. Bagaimana pilihan tersebut bisa jadi berujung pada sebuah konsekuensi yang sangat tidak diharapkan kejadiannya. Simak endingnya yang simpel sekaligus menjawab segala pertanyaan yang tersimpan sepanjang film.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$3,045 till end of Dec 2008 (hanya 2 layar).

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 06 Januari 2011

THE MOST PROMINENT MOVIES OF 2010

Daftar berikut dibuat secara acak dan hanya disertai dengan alasan pemilihannya. Saya tidak kategorikan terbaik melainkan positive dan negative dimana yang menjadi ukuran hanyalah kesediaan dan keengganan menonton film itu sendiri.

*POSITIVE*

BANGKOK TRAFFIC LOVE STORY
Contoh komedi romantis yang sangat sederhana tapi tetap mampu menghadirkan perasaan hangat di dalamnya. Bagaimana cinta disikapi dengan keluguan dan ketulusan disesuaikan dengan kondisi percintaan jaman sekarang yang cenderung realistis dan bukan prioritas. Hebatnya film ini digarap oleh negeri tetangga yaitu Thailand yang memproduksinya untuk memperingati ulang tahun BTS disana.

AFTERSHOCK
Tanpa bermaksud menyinggung S.A.R.A, esensi film ini konon sangat mengena bagi kaum beretnis Tionghoa. Bagaimana seorang ibu harus mengorbankan salah satu anaknya untuk diselamatkan dalam pengambilan keputusan yang mendesak. Sebuah kisah kepahitan sekaligus kepiluan yang dibuka dengan spesial efek adegan gempa maha dahsyat yang meyakinkan.

DESPICABLE ME
Jangan anggap enteng animasi 3D termasuk ini salah satunya. Bagaimana cerita persaingan antar dua tokoh hebat dibalut dengan kasih sayang tiga anak yatim piatu yang berkelakuan polos. Jangan lupakan juga penampakan ribuan makhluk mini kuning yang disebut minions yang sukses menghadirkan efek 3D sampai menonjol di hadapan muka anda.

THE JONESES
Sepintas film ini terlihat seperti drama keluarga biasa. Jangan berkesimpulan terlalu cepat karena anda bisa jadi salah. Lihat bagaimana penjualan gaya hidup dilakukan dengan cara yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya yaitu sosok keluarga sempurna yang beranggotakan ayah, ibu, anak perempuan, anak lelaki yang berujung pada konflik intern di antara mereka.

PIRANHA
Sempat ditarik dari peredaran di Indonesia sebelumnya dirilis kembali setelah bulan puasa. Penyebabnya tentu saja karena intensitas adegan berdarah dan pornografi yang sangat tinggi yang tersaji dalam tempo cepat sekaligus durasi yang tergolong singkat. Kisah teror ikan-ikan ganas prasejarah ini merupakan salah satu remake terpopuler (bukan terbaik) yang pernah dibuat.

UP IN THE AIR
Bisa bayangkan jika anda harus menghabiskan nyaris seluruh hari-hari dalam setahun dengan traveling? Anda harus menonton film ini untuk mengerti perasaan itu. Bagaimana idealisme seorang pekerja kadang hancur oleh kenyataan, belum lagi rasa kesepian yang sangat manusiawi. Niscaya anda akan merenungi apa yang sebetulnya benar-benar penting dalam hidup setelah menontonnya.

TOY STORY 3
Hampir setiap orang pernah melewatkan masa kecil dengan mainan di tangannya. Pada saat itu anda pasti berpikir mainan adalah segalanya. Namun beranjak dewasa, apakah anda pernah memikirkan nasib mainan-mainan anda tersebut? Salah satu pionir di dunia animasi hidup ini membalut wacanadengan petualangan yang menarik.

INCEPTION
Saya bisa katakan ini adalah sebuah mahakarya cerdas yang mengambil sudut pandang dunia mimpi dan imajinasi. Sebuah konspirasi yang dibalut dengan intrik-intrik unik di dalamnya. Mungkin saja butuh 1001 persepsi untuk menerjemahkan isi film secara keseluruhan. Akan selalu jadi bahan diskusi yang menarik dalam forum dunia film dimanapun.

EVERYBODY’S FINE
Seorang ayah kesepian yang mengindahkan kesehatannya untuk mengunjungi ketiga anaknya yang sudah dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing. Di mata si ayah, anak-anaknya tetaplah anak-anak yang butuh perhatian dan kasih sayang. Suatu refleksi bagi hampir semua orangtua terhadap anaknya dan begitupun sebaliknya.

RAPUNZEL : A TANGLED TALE
Salah satu bukti kebangkitan kembali fairytale Disney yang dibalut dengan ide cerita yang fresh dengan penokohan karakter yang lebih dinamis. Belum lagi humor yang tidak melulu berasal dari dialog tetapi bahasa tubuh yang kreatif. Jangan lewatkan momen 3D paling romantis yang pernah ada saat berlayar di tengah danau dengan background lentera terbang.

*NEGATIVE*

LOST TRIBE

Sekelompok orang yang terjebak di sebuah pulau dengan makhluk predator misterius. Terdengar umum tentunya. Spesial efek buruk menjadi salah satu kelemahan film ini diperparah dengan alur lambat berputar-putar yang membosankan dibandingkan teror demi teror yang harusnya terjadi.

HAPPY TEARS

Sutradara tampaknya mencoba menampilkan satir komedi yang berpusat pada hubungan dua saudari dengan ayah mereka. Sayangnya semua humor yang dibawakan justru terasa kering, tidak ada unsure sinis samasekali. Yang ada hanyalah untaian pengadeganan imajinasi yang membosankan.

RISE OF THE DEAD

Cover film ini merujuk pada zombie alias mayat hidup. Tapi sayang apa yang diharapkan para pecinta genre film ini tidak akan terwujud. Pasalnya sepanjang film hanya disuguhkan seuntaian drama yang gelap dan hanya berputar-putar saja. Totally unattractive!

THE SEAMSTRESS

Dokter gila yang telah menjadi arwah penasaran siap membantai anda semua. Familiar dengan tema tersebut, Asylum bisa jadi salah satu contohnya. Film berkualitas buruk yang saya sebutkan tadi ternyata masih kalah buruk dengan yang satu ini. Tidak menyeramkan malah berakhir dengan ending yang konyol.

THE FOURTH KIND

Premis film yang satu ini sangatlah menarik tetapi berakhir dengan berantakan. Pemecahan karakter utama menjadi dua tokoh nyata dan imajiner menjadi penyebabnya. Penonton akan dibuat bingung untuk membedakan khayalan dan fakta apalagi semua dikonklusikan secara mengambang tanpa kejelasan.

THE BOX

Kolaborasi dua aktor aktris yang sebetulnya cukup kharismatik. Modal yang menjanjikan serta ide yang sebetulnya unik tidak dieksekusi dengan baik. Yang ada hanyalah drama misteri yang menjemukan dan tidak jelas juntrungannya mau dibawa kemana. Twist ending yang coba dilakukan tidak sukses dan berarti apa-apa.

REC 2

Prekuelnya dipuji kritikus sekaligus penonton dunia yang membawa genre serupa menjadi bintang belakangan ini. Nyatanya pengembangan plot cerita yang menyambung langsung dari REC malah dikaitkan dengan unsur agama yang tidak relevan. Tersajilah sebuah horor yang dari segi kualitas gambarnya sangat jauh dari baik.

VAMPIRES SUCK

Masih betah dengan plesetan-plesetan komedi masa kini yang sudah semakin tidak jelas juntrungannya? Coba buktikan sendiri dengan parodi yang satu ini yang terang-terangan menjiplak Twilight Saga yang sebenarnya sudah kehabisan gas dalam bercerita itu. Memuakkan!

THE KING OF FIGHTERS

Adaptasi video game biasanya buruk tetapi yang ini benar-benar buruk. Penokohannya terasa dangkal ditambah dengan scene per scene yang sulit dibedakan dengan film semi porno. Adegan pertarungan yang ditunggu-tunggu pun tidak terjadi sehingga endingnya totally anticlimax.

SPANISH MOVIE

Satu lagi parodi yang muncul dalam daftar ini. Kali ini bernuansakan Spanyol yang mengambil sampel film-film Spanyol sukses. Jatuhnya tidak kreatif tetapi menggelikan. Pengulangan demi pengulangan adegan yang sudah-sudah ditambah dengan dialog yang norak akan membuat anda tidak tahan untuk menyelesaikannya.