XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Rabu, 24 November 2010

THE PRESENCE : Kehadiran Sosok Hantu Hitam Putih

Storyline:
Seorang wanita memutuskan tinggal di pondok terpencil di tengah hutan untuk lari dari trauma masa lalu dan hubungan cinta yang membelenggunya. Hari-hari sendiri sang wanita dilalui dengan berjalan-jalan di hutan tanpa mengetahui ada sosok tak berwujud yang mengawasinya dari jauh yang ingin memilikinya. Konflik dimulai saat kekasih sang wanita tersebut datang dan berusaha memenangkan hatinya kembali dengan melamarnya. Namun sang wanita masih bimbang untuk menerimanya. Tanpa mereka ketahui, sesosok hantu jahat mulai mengganggu mereka. Berhasilkah sang wanita mempertahankan kewarasannya untuk membuat keputusan terbaik dalam hidupnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Khartoum, Flatland Pictures, Saturn Harvest Films dan didistribusikan oleh Ram Indo untuk peredaran di Blitzmegaplex.

Cast:
Tahun lalu muncul dalam 2 film yaitu Leningrad dan Like Dandelion Dust, kali ini Mira Sorvino sebagai Wanita yang hidup menyendiri dalam sebuah pondok di tengah hutan.
Shane West sebagai Hantu
Justin Kirk sebagai Pria
Tony Curran sebagai The Man In Black
Muse Watson sebagai Mr. Browman
Deobia Oparei sebagai Woodsman

Director:
Debut penulisan sekaligus penyutradaraan pertama bagi Tom Provost.

Comment:
Jika anda pecinta horor klasik tahun 70-80an, anda perlu menyaksikan yang satu ini! Suasana sepi di tengah hutan di sebuah rumah pondok yang gelap, hanya bermandikan cahaya lampu minyak yang ditenteng kesana kemari. Dan anda bayangkan seorang wanita yang hidup seorang diri disana tanpa menyadari kehadiran makhluk kasat mata di sekitarnya. Merinding? Sudah seharusnya.
Namun The Presence bukanlah horor biasa jaman sekarang melainkan cenderung disebut horor klasik. Terbukti dari sinematografinya yang terbentang luas di daerah Oregon dengan musik latar yang mengagumkan dalam membangun suasana mencekam bergaya Alfred Hitchcock. Kinerja maksimal dari sutradara Provost yang sebetulnya masih sangat tidak berpengalaman ini. Pengadeganan yang lambat dan runut menjelaskan scene per scene. Anda akan dilanda kebosanan yang luar biasa pada separuh pertama durasinya. Percakapan yang terjadi pertama kali adalah tepat 13 menit setelah film dimulai, saya memang memperhatikan jam terus menerus menantikan interaksi pertamanya.
Saya merindukan Sorvino yang dulu sempat rajin bermain film tapi menghilang belakangan. Lumayan konsisten menjalankan perannya sebagai wanita labil yang trauma dengan kehancuran rumah tangga orangtuanya berdampak pada pandangannya tentang konsep cinta dan pernikahan itu sendiri. West sendiri nyaris tanpa dialog di sepanjang film selain berdiri mematung dengan muka pucatnya, mungkin hanya dua-tiga baris menjelang epilognya baru ia membuka suara. Kirk bermain cukup baik sebagai pria yang mencintai sang wanita terus berusaha meyakinkannya akan arti sebuah hubungan yang tidak semprna tetapi berharga untuk dicoba.
The Presence menghadirkan kisah hantu yang tidak biasa, dibalut dengan misteri, romantisme, kerapuhan sekaligus kengerian yang bisa membuat pikiran anda melayang-layang terutama bagian endingnya yang menutup layar secara eksplisit. Jelas bukan film bagi anda yang menyukai horor yang giat meneror. Namun pilihan tepat bagi anda para pecinta seni film yang solid dari sisi teknisnya.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 23 November 2010

THE GAMER : Chaosnya Dunia Virtual Masa Depan

Quotes:
Ken Castle-I think it... you-fucking-do-it!
Kable-Look at this knife... imagine me sticking it into your gut. Think about it. Make it real!

Storyline:
Berkisah mengenai kehidupan di masa depan yang futuristik dimana orang dapat mengontrol/dikontrol orang lain seperti dalam video game. Untuk itu dituntut untuk dapat bertahan hidup daripada mati konyol sia-sia. Adalah satu pria yang harus menyelesaikan 30 pertarungan mematikan untuk selamat yang bernama Kable. Sudah 27 pertarungan ia lewati dengan mulus. Namun hal itu tidak membahagiakan sang pencipta, Ken Castle yang menginginkan Kable mati dengan menyewa berbagai pembunuh professional untuk menghentikannya. Akankah Kable berhasil lolos dan membuat perhitungan dengan Ken sekaligus berkumpul kembali dengan istrinya?

Nice-to-know:
Neveldine/Taylor sempat menginginkan film ini muncul dalam format 3D tetapi batal karena keterbatasan biaya.

Cast:
Awal kemunculannya di tahun 1997 sempat mendukung 007-Tomorrow Never Dies, Gerard Butler kini berperan sebagai Kable / John Tillman yang harus menyelesaikan "misi" besarnya.
Mengawali debutnya via Paycheck (2003), Michael C. Hall disini bermain antagonis sebagai Ken Castle
Amber Valletta sebagai Angie
Kyra Sedgwick sebagai Gina Parker Smith
Logan Lerman sebagai Simon Silverton

Director:
Sejauh ini merupakan film ketiga yang ditulis dan disutradarai oleh Mark Neveldine dan Brian Taylor setelah dwilogi Crank.

Comment:
Cukup sulit mengambil sudut pandang untuk menilai film ini. Jika anda tergolong penonton spesifik alias bisa menerima ide-ide baru, bisa jadi film ini spesial maknanya. Tapi jika anda tergolong penonton regular alias tidak neko-neko, dapat dipastikan film ini akan membuat kening anda berkerut.
Nyaris setahun lalu sempat heboh saat akan ditayangkan di jaringan bioskop Blitzmegaplex dengan judul aslinya The Gamer. Namun beberapa hari menjelang penayangannya ternyata dibatalkan dengan alasan tidak lulus sensor. Memasuki akhir tahun 2010, akhirnya diambil oleh jaringan bioskop 21 dan mengalami pergantian judul menjadi Slayers. Itulah yang membuat saya penasaran dan berharap ada sesuatu yang baru nan istimewa disini. Coba kita kupas satu persatu.
Dari segi plot cerita mungkin sedikit mengingatkan anda pada Surrogates nya Bruce Willis. Perbedaannya disini digunakan manusia asli yang juga punya kehidupan masing-masing. Sedikit inovasi disini, konsep “pengendalian” tersebut digabungkan dengan dunia virtual game dimana settingnya sendiri pun jauh ke depan.
Dari segi eksekusi, duet sutradara Neveldine/Taylor mengulangi apa yang pernah dilakukannya dalam Crank 2 : High Voltage. Pergerakan kamera yang bergoyang-goyang ditambah adegan aksi tanpa henti benar-benar mengganggu penglihatan dan daya tangkap manusia biasa. Jika saja ada jeda diantaranya dengan penggarapan yang lebih rapi, niscaya hasil akhirnya akan lebih menarik. Alur yang dipaksakan cepat dan sedikit melambat di akhir sedikit menutupi karakterisasi para tokohnya termasuk Butler dan Leguizamo yang biasanya gemilang. Sedangkan C. Hall sebagai antagonis sedikit over-the-top meski kesan menyebalkannya dapat.
Beberapa konsep seks virtual disini cukup mengganggu seperti contohnya pria gendut "Rick Rape" yang menyewa wanita penghibur untuk menjadi pemuas nafsunya. Saya tidak melihat ada korelasi dengan bangunan cerita utamanya. Dan jujur yang satu ini agak menjijikkan untuk ditampilkan demikian eksplisit. Beruntung kekerasan dan kesadisan dihadirkan dengan porsi yang pas tanpa lupa percikan darah yang memuncrat dimana-mana.
Slayers alias The Gamer sebetulnya mempunyai potensi sebagai futuristic action thriller yang baik, hanya saja diterjemahkan ke dalam sinematografi yang terkesan sembarangan dan bagaikan tanpa otak di dalamnya. Jelas bukan film yang bisa dinikmati siapa saja. Namun bagi saya, masih terdapat lebih banyak unsur minus dibandingkan plus itu sendiri. Konsep dunia virtual yang chaos disini semoga tidak menginspirasi pihak-pihak tertentu untuk mewujudkannya ke dunia nyata di masa mendatang.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$20,488,579 till early Oct 2009.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 22 November 2010

THE CRAZIES : Senjata Biologis Hancurkan Peradaban Kegilaan

Quotes:
Becca Darling-This is really happening...
Judy Dutton-It's gonna be alright, we're gonna be ok.
Becca Darling-You don't really believe that, do you?

Storyline:
Di Pierce County, Iowa, Sheriff David terpaksa membunuh penduduk lokal Rory Hamill yang mengancam keselamatan warga saat membawa senapan di tengah-tengah pertandingan baseball. Istrinya Dr. Judy memeriksa penduduk lainnya, Bill Farnum yang juga memiliki perilaku ganjil. Di tengah malam, Bill menyekap istri dan anaknya di dalam kamar dan membakar seluruh rumah sampai habis. Paginya, David dan wakilnya Russell Clank dipanggil oleh tiga pemburu yang menemukan pilot yang tewas di Hopman Bog dengan senjata kimia biologis di pesawatnya yang mencemari air seisi kota. Tak lama kemudian, angkatan militer berdatangan dan melakukan evakuasi dengan membunuh setiap populasi di Ogden Marsh. Berhasilkah David, Russell, Judy dan asistennya, Becca melarikan diri tanpa terkontaminasi?

Nice-to-know:
Setiap aktor yang bertransformasi menjadi “crazie" harus duduk untuk menjalani proses make up selama 3 jam!

Cast:
Tahun lalu tampil dalam 2 film sekaligus yaitu A Perfect Getaway dan High Life, Timothy Olyphant berperan sebagai David Dutton, sheriff yang berusaha mengambil langkah terbaik di setiap kondisi terburuk yang dihadapinya sekalipun.
Mengawali karirnya sebagai Pixie Robinson dalam serial televisi Sugar and Spice di tahun 1988, Radha Mitchell kali ini bermain sebagai Judy Dutten, dokter sekaligus istri sheriff yang berupaya mencari tahu asal usul orang menjadi “gila” mendadak.
Joe Anderson sebagai Russell Clank
Danielle Panabaker sebagai Becca Darling
Christie Lynn Smith sebagai Deardra Farnum
Brett Rickaby sebagai Bill Farnum
Preston Bailey sebagai Nicholas

Director:
Breck Eisner pernah menyutradarai Sahara (2005) yang dibintangi Penelope Cruz dan Steve Zahn.

Comment:
Merupakan remake dari horor klasik karya George Romero di tahun 1973. Salah satu yang menginspirasi banyaknya bermunculan film-film bertemakan zombie yang mengkontaminasi orang-orang di sekitarnya selama satu dekade terakhir. Sebut saja 28 Days Later yang cukup berkualitas. Lantas apa yang bisa diharapkan dari film ini?
Sutradara Eisner boleh dibilang masih setia dengan formula klasiknya, hanya saja ia bermain dengan tempo cepat disini sehingga seringkali meninggalkan penonton tanpa berpikir terlebih dahulu. Banyaknya adegan aksi yang muncul satu persatu sedikit menutupi kelemahan plot yang sebetulnya tidak istimewa itu. Sinematografi yang dihadirkannya tergolong sederhana tapi tetap mendukung suasana ketegangan yang juga dibangun dari score musik latarnya yang demikian maksimal.
Olyphant dan Mitchell merupakan aktor-aktris papan tengah Hollywood yang seringkali terlupakan. Namun keduanya bermain kuat disini sebagai suami istri yang mencoba bertahan hidup sambil berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sekaligus menyelamatkan apa yang tersisa dari kota yang mereka cintai itu. Anderson sebagai Russell turut melengkapi karakter David dan Judy dengan penjiwaan yang meyakinkan, lihat saat “kegilaan” mulai menyergapnya di klimaks cerita
Yang saya sukai dari The Crazies adalah film ini tidak terlalu memfokuskan pada zombie dan perilaku kegilaannya yang destruktif, melainkan bagaimana orang-orang biasa itu berusaha bertahan hidup di tengah situasi yang sangat tidak menguntungkan. Meski ketiganya merupakan tokoh sentral Ogden Marsh - sheriff, wakil sheriff dan dokter - toh mereka bukan pahlawan super yang mampu mengendalikan segala kondisi yang tidak dapat diduga. Namun bukan berarti tidak ada adegan sadis yang membuat anda bergidik karena beberapa scene dijamin membuat anda terpekik sambil tetap terjaga di kursi sepanjang film berjalan. Secara keseluruhan menyajikan perpaduan emosi campur aduk manusia dengan penyelamatan diri yang tak berujung sehingga muncullah satu remake horor berkualitas yang sudah sangat jarang kasusnya.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$39,103,378 till mid May 2010.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 21 November 2010

REYKJAVIK WHALE WATCHING MASSACRE : Terasing Dan Terjebak Di Kapal Pembantaian

Tagline:
Hunting humans in the cold Icelandic waters.

Storyline:
Sekelompok turis asing dari berbagai negara yaitu Jepang, Amerika, Perancis menikmati perjalanan menonton paus di Iceland. Sayangnya di tengah perjalanan, perahu mereka rusak dan harus diangkut oleh kapal penangkap laut sampai daratan. Perbedaan bahasa antara satu sama lain membuat munculnya konflik kultural. Di sisi lain keluarga pemilik kapal penangkap paus tersebut rupanya punya rencana lain bagi para penumpang dadakan tersebut. Sebuah mimpi buruk pun dimulai, bertahan hidup atau mati mengenaskan!

Nice-to-know:
Gunnar Hansen memerankan Kapten Pétur tetapi setelah paska produksi suaranya didubbing.

Cast:
Pihla Viitala sebagai Annette
Nae sebagai Endo
Terence Anderson sebagai Leon
Miranda Hennessy sebagai Marie-Anne
Aymen Hamdouchi sebagai Jean Francois
Carlos Takeshi sebagai Nobuyoshi
Miwa Yanagizawa sebagai Yuko
Halldóra Geirharðsdóttir sebagai Helga
Snorri Engilbertsson sebagai Anton
Gunnar Hansen sebagai Captain Pétur

Director:
Júlíus Kemp pertama kali menggarap film lewat Wallpaper: An Erotic Love Story (1992). Kali ini adalah karya ketiganya.

Comment:
Saya menyaksikan film ini pada iNAFF10 dan sold out hanya beberapa hari setelah pre-opening tickets sale. Sebuah pertanda yang baik? Mungkin saja. Apalagi film ini memperlihatkan poster klasik dengan nuansa merah hitam putih sekaligus menjual nama Gunnar Hansen yang terkenal lewat The Texas Chainsaw Massacre tetapi kita akan melihatnya disini sebagai pria biasa.
Thriller ini mengambil setting di Reyjavik, di atas sebuah kapal penangkap paus yang terombang-ambing di lautan beku tertutup lapisan es. Aha, lagi-lagi sebuah film Skandinavia yang mengambil unsur es ataupun salju sebagai latar belakangnya. Mudah diduga!
Beruntung plot ceritanya cukup orisinil terutama lebih karena cast internasional yang dihadirkannya lengkap dengan bahasanya masing-masing. Kita akan melihat keluarga Jepang yaitu suami istri dan putrinya. Juga ada pria Perancis yang congkak dan senang mabuk. Lalu ada tiga wanita Amerika yang sombong dan sinis. Belum lagi pria kulit hitam yang mendampingi dua gadis Kaukasia yang awalnya tidak saling mengenal. Kesemuanya berganti-ganti memandu layar sehingga kerapkali penonton bingung akan siapa yang sebenarnya menjadi fokus utama? Atau boleh juga memunculkan pertanyaan klise dalam film sejenis, siapa yang bertahan hidup pada akhirnya? Tentunya anda boleh menebak-nebak sejak menit pertama bergulir.
Reykjavik Whale Watching Massacre seakan setia pada pakem slasher thriller jaman dulu, lengkap dengan berbagai unsur black humor di dalamnya. Sutradara Kemp cukup konsisten melakukan tugasnya sehingga film ini mudah dinikmati dan kebanyakan audiens tidak akan bisa menebak caranya mengakhiri film ini. Sayang sekali Blitzmegaplex tidak melengkapinya dengan teks Indonesia, terlebih karena bermacam-macam bahasa yang dipakai, sedikit mengganggu penonton dalam menangkap isi keseluruhan. Namun beberapa adegan sadis dengan cipratan darah rasanya akan cukup memuaskan pecinta genre ini.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 20 November 2010

HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS PART I : Pencarian Horcrux Ungkap Rahasia Terkuat

Quotes:
Harry Potter-What do you know about the Deathly Hallows?
Mr. Ollivander-It is rumored there are three. To possess them all is to make oneself immortal. But few truly believe such objects exist. If it's true, you really don't stand a chance.

Storyline:
Kekuatan Voldermort semakin besar karena berhasil menguasai the Ministry of Magic dan Hogwarts. Harry, Ron dan Hermione bertekad melanjutkan usaha Dumbledore dan mencari Horcrux yang tersisa untuk dihancurkan sekaligus mengalahkan Voldermort. The Order tiba dan memerintahkan Harry untuk pindah dari Privet Drive. Satu-satunya cara ditempuh yaitu memberikan Polyjuice Potion untuk menciptakan kembaran-kembaran Harry sehingga membingungkan kawanan Death Eaters. Rencana tersebut berhasil walau harus mengorbankan beberapa kawan Harry. Kemudian Minister of Magic yaitu Rufus Scrimgeour menitipkan surat wasiat terakhir dari Dumbledore yang mewariskan Deluminator bagi Ron, copy buku "The Tales of the Beetle the Bard" buat Hermione dan bola Snitch pertama yang Harry tangkap dalam permainan Quidditch serta pedang Gryffindor yang hilang untuk Harry. Ketiganya sepakat melakukan perjalanan untuk mencari jawaban sekaligus menghindari kekuatan hitam yang diutus untuk menghalangi mereka.

Nice-to-know:
Dua pembatalan besar terjadi sebelum rilis filmnya yaitu durasi yang terlalu panjang sehingga dibagi dua bagian dan juga konversi ke 3D dari rencana semula.

Cast:
Daniel Radcliffe sebagai Harry Potter
Emma Watson sebagai Hermione Granger
Rupert Grint sebagai Ron Weasley
Bill Nighy sebagai Rufus Scrimgeour
Ralph Fiennes sebagai Lord Voldemort
Helena Bonham Carter sebagai Bellatrix Lestrange
Fiona Shaw sebagai Petunia Dursley
Alan Rickman sebagai Professor Severus Snape
Jason Isaacs sebagai Lucius Malfoy
Rhys Ifans sebagai Xenophilius Lovegood
Toby Jones mengisi suara Dobby

Director:
Tidak banyak yang tahu David Yates memulai karir penyutradaraannya lewat beberapa film pendek yang berujung pada film layar lebar pertamanya yaitu The Tichborne Claimant di tahun 1998.

Comment:
Harus diakui sisi gelap film ini sudah ditekankan sejak kemunculan logo Warner Bros yang membuka film, lalu dilanjutkan dengan tone warna yang dominan abu-abu dan biru gelap, belum lagi musik garapan John Williams yang kaya getaran nada-nada rendah. Beruntung saja semuanya itu dipercayakan pada tangan yang tepat yaitu sutradara Yates yang kali ini berusaha mengeksplorasi ketiga karakternya dengan kedalaman yang lebih dari prekuel-prekuelnya.
Yates memenuhi keinginan JK Rowling untuk menampilkan sisi lain dari persahabatan Harry-Ron-Hermione yaitu kedewasaan tanpa harus terkesan klise. Tentu saja, sebab 10 tahun berlalu dari awal petualangan mereka telah banyak terjadi suka duka yang mengubah persepsi masing-masing terhadap satu sama lainnya. Bagaimana komunikasi-komunikasi yang terjalin di antara ketiganya dihadirkan dalam kondisi serealistis mungkin, tak jarang terjadi jeda yang hanya diisi dengan sikap diam dan mimik penuh arti.
Tentu saja (seperti biasa) alurnya berjalan lambat, mungkin sedikit lebih lambat dari yang sudah-sudah. Walaupun beberapa adegan aksi cukup "membangunkan" anda terutama adegan di Dartfor Tunnel. Berbagai karakter di luar trio tersebut juga turut memperkuat cerita semisal karakter baru Rufus Scrimgeour, Xenophilius Lovegood, Gellert Grindelwald dsb. Belum lagi konsistensi karakter lama Bellatrix Lestrange, Lucius Malfoy dll. Jangan lupakan kemunculan Dobby yang sangat saya rindukan di penghujung cerita. Singkat tetapi sangat berarti!
Tak dipungkiri Radcliffe dan Watson menunjukkan perkembangan akting yang positif dengan kematangan mereka memerankan sosok Harry dan Hermione. Grint yang sedikit di bawah radar dibandingkan kedua rekannya itu tetap harus diacungi jempol dalam menokohkan Ron yang gegabah sambil sesekali menghadirkan tawa akibat tingkah lugunya itu. Hubungan ketiganya menjadi porsi yang utama dimana kecemburuan yang terjadi terkadang menghalangi kerjasama yang terjalin di antara mereka.
Harry Potter and the Deathly Hallows Part I ini dibalut dalam sinematografi yang brilian dan spesial efek yang bekerja dengan maksimal pada tempatnya masing-masing. Konstruksi cerita yang rapi dengan eksekusi skrip yang gemilang di luar Hogward seperti biasanya menjadikan Part II nya patut ditunggu bagi para pecinta Harry Potter pada musim panas tahun depan. Jadi bersabarlah. Ohya, sekadar catatan kecil, adegan awal yang menghadirkan 8 sosok Harry Potter secara 360 derajat cukup membangun sisi humor sekaligus rasa kagum. Awesome!

Durasi:
145 menit

U.S. Box Office:
$61,000,000 in opening week end of Nov 2010.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 19 November 2010

PENGAKUAN SEORANG PELACUR : Perjalanan Transformasi Alisa Menjadi Jenny

Storyline:
Berpacaran cukup lama dengan Bayu di desa, Alisa tak kunjung dinikahi dengan alasan belum mapan. Betapa sakitnya Alisa yang sudah menyerahkan segala-galanya ketika mendapati Bayu kembali dari kota dengan membawa tunangannya setelah bertahun-tahun merantau. Demi melupakan semuanya, Alisa pergi ke Jakarta dan menumpang tinggal di rumah Rachel, teman kecilnya. Kemudian Alisa berkenalan dengan Chiko, pemuda jalanan yang bersahabat. Namun diam-diam Chiko malah memanfaatkan Alisa dengan mencekokinya obat tidur dan menjualnya ke om-om hidung belang. Putus asa dan harus menyambung hidup, Alisa mengganti namanya menjadi Jenny dan menjadi pelacur. Setelah itu ia berkenalan dengan Michael, pengusaha kaya yang tulus mencintainya. Akankah Jenny mau membuka hatinya kembali dan jujur pada Michael akan siapa dirinya sebenarnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MM Creations dan diproduseri oleh Sagar M.M.

Cast:
Jenny Cortez sebagai Alisa / Jenny
Andi Soraya sebagai Rachel
Andreano Phillips sebagai Michael
Kanz Randhawa sebagai Chiko
Rian Emanuel sebagai Bayu
Gita Prisilfia
Kissinger Mae
Ayu Yohana
Tata Liem

Director:
Andrew Timothy.

Comment:
Heran dengan duet penulis Cherryl Samantha dan Andi Lim mendapat ide dari mana untuk menulis cerita film ini? Novel-novel stensilan kah? Atau film-film akhir 80an dan awal 90an yang marak bertemakan seks? Mungkin hanya mereka yang bisa menjawabnya. Yang pasti formula expired tersebut diperparah dengan kinerja sutradara Andrew Timothy yang mencampur adukkan dengan alur flashback. Sah-sah saja sebenarnya jika ada benang merah cerita yang jelas untuk melakukannya. Tapi tidak untuk menumpang tindih plot cerita dan tidak berdampak apapun pada gaya penceritaannya. Sadis!
Dari aroma pedesaan berpindah ke ibukota, saya cukup salut pada Jenny yang awalnya berdandan noni kampung hingga “bertransformasi” menjadi wanita penghibur bergaya modern. Konon syuting hari pertama film ini bertepatan juga dengan hari pertama bulan puasa yang lalu. Sadis! Jenny memang berhasil mempertontonkan keseksian tubuhnya tetapi tidak kemahirannya berakting. Ekspresi dan bahasa tubuhnya masih tergolong datar-datar saja sebagai perempuan yang tertindas dan bernasib malang. Bahkan ketegarannya yang harusnya memuncak di akhir film tidak terlihat samasekali.
Jangan lupakan “peran” Andi Soraya yang tidak menghadiri promosi film ini karena harus masuk bui. Lagi-lagi ia hanya sebagai pelengkap derita disini walau tak dipungkiri lebih “lumayan” dalam mendendangkan lagu temanya yang berjudul Terpisahkan. Lalu ada Andreano Phillip, kekasih Lia Trio Macan berkepala plontos ini rupanya “rajin” beradegan panas dalam film apapun yang ditawarkan kepadanya, terutama keluaran K2K yang tersohor sangat itu. Tidak penting lagi rasanya melihat perkembangan karir mantan juara Mr Internasional di tahun 2006 lalu itu jika bermain dalam film-film sejenis ini. Di luar ketiganya menjadi tidak penting lagi karena setelah satu dua scene syuting lalu menghilang ditelan bumi. Sadis!
Maafkan saya jika tulisan review kali ini lebih seperti tabloid gosip karena jujur saya bingung mau mengomentari apa karena filmnya benar-benar tidak penting. Anda menontonnya dalam 10-15 menit lantas akan bisa menebak akhir ceritanya. Istilah kata seperti mahasiswa mengerjakan soal ujian hanya sepertiga durasinya yang 90 menit. Lalu untuk menunggu teman-temannya apakah ia boleh tidur? Tentu saja. Bebas kok. Ini pula yang saya lakukan di dalam bioskop, tertidur di menit ke-20, terbangun melihat kanan kiri lalu menyimak cerita yang masih disitu-situ saja, tertidur kembali di menit ke-40 hingga tersentak menjelang akhirnya. Tepat sesuai prediksi! Dan saya tidak menyesal karena tertidur tersebut, toh saya masih tetap dapat menyelesaikan review ini dan menceritakan kepada anda betapa tidak berkualitasnya Pengakuan Seorang Pelacur yang ironisnya “dipaksa” bertarung dengan Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1 di tanggal rilis yang sama. Sadis!
Tiga kata sadis rasanya cukup mewakili jika anda tetap memaksakan diri nonton film ini dan disengat rasa kebosanan yang menyiksa karena penyajian drama kategori dewasa yang cheesy dengan alur yang amat sangat lambat. Mohon maaf bagi tim pembuat film ini jika kebetulan membaca review saya ini tetapi cobalah untuk lebih kreatif lagi di lain kesempatan demi kemajuan film nasional kita bersama.

Durasi:
75 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 17 November 2010

DETOUR : Video Online Bertahan Hidup Dari Psikopat Sinting

Tagline:
Your final hour.. Streaming online

Storyline:
Konon film ini diinspirasi dari kisah nyata! Saat mengendarai mobil kembali ke Norwegia, pasangan yang berencana menikah yaitu Martin dan Lina harus menghadapi jalan yang ditutup. Polisi patrol meminta mereka mengambil jalan pintas lain menuju hutan yang sepi dan gelap. Malang tak dapat dipungkiri, ban mobil mereka bocor setelah menerjang balok paku. Martin pun mencari bantuan dari penduduk lokal dan meninggalkan Lina di dalam mobil. Mereka berdua tidak menyadari adanya kamera-kamera yang dipasang di setiap sudut untuk mengamati gerak-gerik mereka. Akankah pasangan ini akan menjadi korban berikutnya dari sang psikopat yang mengintai dari kejauhan?

Nice-to-know:
Thriller berjudul asli Snarveien ini diputar dalam rangkaian festival WILHELM SCREAM yang sejenis dengan iNAFFF.

Cast:
Marte Christensen sebagai Lina
Sondre Krogtoft Larsen sebagai Martin
Jens Hultén sebagai Gunar
Johan Hedenberg sebagai Bosse
Malin King sebagai Lotta

Director:
Merupakan film perdana Severin Eskeland yang berusia 33 tahun ini setelah sebelumnya menggarap beberapa film pendek.

Comment:
Selama beberapa tahun terakhir ini, saya cukup mengenal Norwegia sebagai negara Eropa baru pencetak film horor/thriller yang cukup berkualitas. Lihat saja iNAFFF yang sudah berjalan 4 tahun selalu saja dihiasi karya-karyanya sebut saja Villmark ataupun dwilogi Fritt Vilt alias Cold Prey yang mencekam itu.
Dengan berpuluh-puluh tema yang sudah pernah digarap sebelumnya, lantas apa yang akan disuguhkan Detour? Rupanya kekejian “seorang” psikopat yang mendapat bayaran dengan menyiksa korban-korbannya dan menyiarkannya secara online kali ini dianggap cukup menarik. Hm, rasanya tidak terlalu orisinil karena banyak terdapat penggabungan plot dari film-film aksi ataupun thriller Hollywood sebelumnya.
Bedanya mungkin film ini diangkat dari kisah nyata, itu sebabnya banyak menghadirkan situasi sehari-hari yang seringkali dihadapi kita dan hal yang terburuk memang mungkin saja terjadi. Beberapa adegan sadis ditampilkan oleh sutradara Eskeland dengan teknik dan angle yang cukup baik. Namun sayangnya ia terlalu lama mengekspos yang satu itu sehingga para audiens menunggu dengan tidak sabar sampai dua pertiga durasi film berlalu.
Ketika pada akhirnya, tensi meningkat menuju klimaksnya, sepertiga sisa durasi rasanya tidak cukup untuk menggambarkan semuanya. Keklisean juga terjadi disini saat Marte yang memerankan karakter Lina dengan lumayan baik ini mulai bertransformasi dari pihak yang tertindas lemah sampai memberikan perlawanan.
Endingnya rasanya sudah bisa anda tebak. Namun bagaimanapun juga Detour masih cukup menyenangkan untuk ditonton terutama bagi anda pecinta thriller yang setia mempertahankan elemen-elemen thriller tradisional tetapi selalu bekerja dengan baik untuk menakut-nakuti itu.

Durasi:
75 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 16 November 2010

MONSTERS : Perjalanan Panjang Keluar Dari Area Terinfeksi

Tagline:
Now, it’s our turn to adapt.

Storyline:
Enam tahun lalu, NASA menemukan bahwa ada kemungkinan alien hidup di dalam sistem geologi bumi kita. Sekelompok ahli dikerahkan untuk mengumpulkan sampel tetapi hancur lebur begitu memasuki Amerika Tengah. Selanjutnya, bentuk kehidupan baru segera dimulai dan setengah Mexico dikarantina sebagai “Daerah Terinfeksi”. Keadaan tersebut membuat pihak militer Amerika dan Mexico berjuang keras untuk memusnahkan komunitas “makhluk asing” tersebut. Pada saat itulah seorang jurnalis Amerika setuju untuk mengawal seorang turis melewati daerah terinfeksi di Mexico menuju perbatasan Amerika yang aman.

Nice-to-know:
Film ini disyuting di lokasi yang sesungguhnya dimana terkadang tidak meminta ijin terlebih dahulu. Segala ekstra yang ada merupakan kejadian sebenarnya di sana tanpa direncanakan sebelumnya.

Cast:
Whitney Able sebagai Samantha Wynden
Scoot McNairy sebagai Andrew Kaulder

Director:
Film layar lebar pertama Gareth Edwards setelah sebelumnya hanya terlibat dalam serial televisi dokumenter seperti Heroes and Villains – Attila the Hun (2008) dan Perfect Disaster – Solar Storm &/ Super Tornado (2006).

Comment:
Harus diakui daya pikat terbesar film ini adalah bagaimana memaksimalkan 15000 U.S dollar untuk membuat sebuah drama thriller sains fiksi yang baik hanya dilakukan oleh satu orang saja! Coba tanyakan Gareth Edwards yang bertindak sebagai penulis skrip, sutradara, kameraman, teknisi suara, spesial efek dsb yang nyatanya berhasil menghadirkan film ala Hollywood, bahkan lebih baik dari beberapa film kelas B sejenis, sebut saja Cloverfield.
Jangan harapkan sebuah blockbuster yang seru dan menegangkan karena anda akan kecewa, sebagaimana yang dirasakan sebagian penonton “umum” pada saat opening iNAFFF10 di Blitzmegaplex Grand Indonesia. Namun jika anda termasuk penonton “luar biasa” niscaya dapat menangkap esensi film ini dengan baik.
McNairy dan Able berakting cukup maksimal dengan melahap keterbatasan skenario yang diberikan pada mereka. Mungkin saja keduanya dapat menerjemahkan keseluruhan cerita hanya dalam 30 menit saja tetapi chemistry keduanya cukup menarik sehingga tercipta interaksi unik selayaknya romantisme antar dua orang asing walaupun dialog-dialog antar Sam dan Andrew masih tergolong kosong. Mereka tidak berusaha mengumbar kemesraan disini walau akhirnya berciuman juga pada endingnya.
Setelah lebih dari sejam audiens menahan “klimaks” yang tidak kunjung datang walau sudah berkali-kali terpancing, sutradara Edwards rupanya lebih menitik beratkan karyanya ini sebagai road trip movie dengan latar belakang sains fiksi. Sesuatu yang jarang sekali dilakukan karena dikhawatirkan akan merusak minat penonton. Itulah sebabnya film ini hanya rilis terbatas dimana-mana karena bukan mainstream movie yang bisa dijual begitu saja.
Meskipun sedikit membosankan, Monsters akan tetap merekatkan anda pada kursi masing-masing hingga berujung pada suatu konklusi yang menjelaskan penggunaan judul ini. Menurut pengertian saya, monster disini bukanlah sebagai obyek (alien), melainkan sebagai subyek (militerisme adi kuasa). Dimana seringkali pihak yang dominan justru lebih mengerikan tindakannya. Sebuah film alternatif yang menarik dengan sudut pandang yang berbeda. Pujilah “kemampuan super” seorang Gareth Edwards dalam menangani Monsters ini!

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$60,620 till early November 2010 (limited screens).

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 15 November 2010

THE HAUNTING LOVER : Dibayangi Arwah Mantan Kekasih

Storyline:
Guangzhou di tahun 1940an, Kwong Leung cukup beruntung diterima bekerja di sebuah toko obat. Belakangan ia baru mengetahui fakta bahwa wajahnya sangat mirip pada putra ketiga keluarga pemilik yang sudah menghilang selama lebih dari 10 tahun lalu. Semenjak itulah berbagai kejadian supernatural yang tak terjelaskan mengganggu malam-malamnya termasuk kemunculan gadis cantik bergaun merah, Fu Yong yang juga mengidentifikasikannya sebagai mantan kekasihnya dahulu. Kwong akhirnya menyelidiki langsung bersama kekasihnya, Hsiao Chen ke Singapura perihal masa lalu yang terjadi di tempat itu. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Nice-to-know:
Berjudul asli Deng Zhe Ni Hui Lai dan diproduksi oleh My Way Film Co.

Cast:
Vanness Wu sebagai Kwong Leung
Ai Kago sebagai Hsiao Chen
Li Xiaolu sebagai Fu Rong

Director:
Film kedua bagi Wing Kin Yip setelah Gong fu chu shen (2009).

Comment:
Menggabungkan unsur drama percintaan dan horor dalam nuansa Cina kuno tahun 1940an, plot ceritanya mungkin tidak asing lagi bagi para penikmat film Hongkong sejak tahun 1990an. Saya cukup mempertanyakan motif sutradara Yip yang mengangkat tema serupa pada masa sekarang ini tanpa banyak sentuhan yang inovatif. Satu-satunya yang patut dipuji adalah konsistensi sinematografi tradisional yang disajikan olehnya termasuk kostum dan setting yang otentik.
Dunia nyata dan dunia lain juga ditampilkan secara bergantian dalam tone warna yang berbeda. Sekaligus menegaskan konsep misteri walaupun berbagai penampakan yang dihadirkan tidak menakutkan samasekali. Setidaknya kita masih bernafas lega bahwa film ini tidak terlalu berusaha mengedepankan spesial efek yang tidak meyakinkan.
Penampilan Vanness sebagai Kwong Leung sebetulnya cukup aneh, antara terbelakang mental dan terganggu kejiwaannya. Namun usahanya tergolong aman karena diharuskan memainkan dua karakter sekaligus. Yang menarik adalah kemunculan khusus Law Lan, karakter nenek menyeramkan yang mukanya sudah sangat familiar lewat berbagai franchise horor jaman dahulu.
The Haunting Lover tidak akan terlalu mengesankan bagi kalangan pecinta film masa kini. Arah cerita yang berputar-putar dan berujung pada suatu twist juga tidak terlalu menarik untuk menjaga antusias penonton untuk terus mengikuti sampai akhir. Hanya sebuah kisah cinta segitiga berbau supernatural yang hanya menarik untuk disimak bagi anda yang tengah merindukan film Mandarin bergaya masa silam.

Durasi:
90 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 14 November 2010

Quiz Databasefilm iNAFFF10 11-15 November 2010 telah ditutup!

Berikut adalah para pemenang yang masing-masing mendapatkan dua tiket nonton iNAFFF10 di Blitzmegaplex Grand Indonesia:
1. Sandra R
2. M. Firas B
3. Ivy F
4. Deden R
5. Dimas R

Saya ucapkan selamat bagi nama-nama di atas.
Silakan cek email masing-masing dan mohon dikonfirmasi kembali sebelum pukul 12.00 hari Senin tanggal 15 November 2010 ini.

Bagi yang belum beruntung kali ini, tetap pantau blog ini dan siapa tahu anda berkesempatan menjadi pemenang berikutnya dalam quiz-quiz mendatang!

SMS – Salam Movie Selalu! =)