XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label tony curran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tony curran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 November 2010

THE PRESENCE : Kehadiran Sosok Hantu Hitam Putih

Storyline:
Seorang wanita memutuskan tinggal di pondok terpencil di tengah hutan untuk lari dari trauma masa lalu dan hubungan cinta yang membelenggunya. Hari-hari sendiri sang wanita dilalui dengan berjalan-jalan di hutan tanpa mengetahui ada sosok tak berwujud yang mengawasinya dari jauh yang ingin memilikinya. Konflik dimulai saat kekasih sang wanita tersebut datang dan berusaha memenangkan hatinya kembali dengan melamarnya. Namun sang wanita masih bimbang untuk menerimanya. Tanpa mereka ketahui, sesosok hantu jahat mulai mengganggu mereka. Berhasilkah sang wanita mempertahankan kewarasannya untuk membuat keputusan terbaik dalam hidupnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Khartoum, Flatland Pictures, Saturn Harvest Films dan didistribusikan oleh Ram Indo untuk peredaran di Blitzmegaplex.

Cast:
Tahun lalu muncul dalam 2 film yaitu Leningrad dan Like Dandelion Dust, kali ini Mira Sorvino sebagai Wanita yang hidup menyendiri dalam sebuah pondok di tengah hutan.
Shane West sebagai Hantu
Justin Kirk sebagai Pria
Tony Curran sebagai The Man In Black
Muse Watson sebagai Mr. Browman
Deobia Oparei sebagai Woodsman

Director:
Debut penulisan sekaligus penyutradaraan pertama bagi Tom Provost.

Comment:
Jika anda pecinta horor klasik tahun 70-80an, anda perlu menyaksikan yang satu ini! Suasana sepi di tengah hutan di sebuah rumah pondok yang gelap, hanya bermandikan cahaya lampu minyak yang ditenteng kesana kemari. Dan anda bayangkan seorang wanita yang hidup seorang diri disana tanpa menyadari kehadiran makhluk kasat mata di sekitarnya. Merinding? Sudah seharusnya.
Namun The Presence bukanlah horor biasa jaman sekarang melainkan cenderung disebut horor klasik. Terbukti dari sinematografinya yang terbentang luas di daerah Oregon dengan musik latar yang mengagumkan dalam membangun suasana mencekam bergaya Alfred Hitchcock. Kinerja maksimal dari sutradara Provost yang sebetulnya masih sangat tidak berpengalaman ini. Pengadeganan yang lambat dan runut menjelaskan scene per scene. Anda akan dilanda kebosanan yang luar biasa pada separuh pertama durasinya. Percakapan yang terjadi pertama kali adalah tepat 13 menit setelah film dimulai, saya memang memperhatikan jam terus menerus menantikan interaksi pertamanya.
Saya merindukan Sorvino yang dulu sempat rajin bermain film tapi menghilang belakangan. Lumayan konsisten menjalankan perannya sebagai wanita labil yang trauma dengan kehancuran rumah tangga orangtuanya berdampak pada pandangannya tentang konsep cinta dan pernikahan itu sendiri. West sendiri nyaris tanpa dialog di sepanjang film selain berdiri mematung dengan muka pucatnya, mungkin hanya dua-tiga baris menjelang epilognya baru ia membuka suara. Kirk bermain cukup baik sebagai pria yang mencintai sang wanita terus berusaha meyakinkannya akan arti sebuah hubungan yang tidak semprna tetapi berharga untuk dicoba.
The Presence menghadirkan kisah hantu yang tidak biasa, dibalut dengan misteri, romantisme, kerapuhan sekaligus kengerian yang bisa membuat pikiran anda melayang-layang terutama bagian endingnya yang menutup layar secara eksplisit. Jelas bukan film bagi anda yang menyukai horor yang giat meneror. Namun pilihan tepat bagi anda para pecinta seni film yang solid dari sisi teknisnya.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 06 Mei 2009

SHUTTLE : Angkutan Menuju Perdagangan Wanita

Tagline:
All they wanted was a ride home.

Storyline:
Sudah tengah malam saat dua wanita muda yaitu Mel dan Jules kembali ke Los Angeles dari liburannya di Mexico. Mereka naik ke bus angkutan menuju pusat kota. Penumpang lainnya adalah seorang akuntan yang gelisah, Andy dan dua remaja pria bernama Matt dan Seth, yang satu bahkan mencoba memikat Jules. Mereka segera sampai ke sebuah jalan asing dengan dalih sang supir menghindari kemacetan. Lalu keadaan semakin memburuk karena supir mulai bertingkah psikopat dan mengancam mereka semua. Akankah perjalanan tersebut dapat menjadi yang terakhir bagi mereka?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Future Films dan Moody Street Pictures.

Cast:
Tahun lalu sempat membintangi Underworld : Evolution (2006) dan Miami Vice (2006), kali ini Tony Curran bermain sebagai tokoh antagonis tanpa nama.
Peyton List sebagai Mel
Cameron Goodman sebagai Jules

Director:
Pengalaman Edward Anderson sebelum ini adalah menulis Flawless (2007) yang dibintangi oleh Demi Moore dan Michael Caine.

Comment:
Memang harus diakui film ini memiliki kuku. Plot film ini mengalir perlahan, membuka jalinan cerita yang ada satu demi satu. Meskipun tidak banyak darah yang tumpah ataupun adegan sadis yang terlalu berlebihan, ketegangan yang dibangun cukup berhasil tercipta sepanjang film tanpa banyak hal-hal klise yang kerapkali ditampilkan film bergenre sejenis.
Curran melaksanakan tugasnya dengan baik. Tidak banyak latar belakang yang bisa terungkap dari karakter antagonis yang dimainkannya tetapi kita harus tahu banyak orang di luar sana yang mungkin memiliki motif ataupun kegilaan yang sama dengannya. List dan Goodman juga mampu menampilkan survival characters dengan cukup baik tanpa harus terlihat lemah. Sedangkan aktor-aktris pendukung lainnya cukup memberikan kontribusi yang tepat dalam merekonstruksi cerita.
Namun satu yang cukup mengganggu, di bagian pertengahan tokoh Mel sempat memiliki kesempatan membunuh Supir tapi tidak dilakukannya. Seharusnya dalam situasi terdesak seperti itu, setitik kans apapun harus dimanfaatkan sedemikian rupa. Itulah naluri manusia untuk bertahan hidup!
Sutradara Anderson meski masih miskin pengalaman lumayan berhasil menyajikan sebuah drama thriller yang tidak mudah tertebak begitu saja. Terbukti dari ending yang nuansanya samasekali berbeda dari apa yang coba disuguhkan sedari awal. Sebagian dari anda mungkin akan kecewa dibuatnya. Namun Shuttle tampaknya mengajarkan anda akan kebenaran pahit yang terjadi di luar lingkungan anda tinggal dimana wanita masih menjadi "komoditi" terbaik bagi pria berkuasa yang sakit jiwanya.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$10,625 till end of March 2009.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent