Original title:L'instinct de mort
Storyline:Sejak muda Jacques Mesrine sudah menunjukkan karakternya yang keras dan pemberani. Seringkali ia berpindah-pindah dari pelukan satu wanita ke wanita lain sampai bertemu Sofia yang akhirnya memberinya 3 anak dan berujung perceraian. Kemudian ia berjumpa Jeanne yang berpaham sama dengannya. Keduanya melakukan perampokan bersama dan berakhir di penjara untuk waktu yang cukup lama. Namun bukan Mesrine namanya jika menyerah begitu saja. Ia pun merancang pelarian bersama Jean-Paul di tengah penjagaan yang ketat..Nice-to-know:Awalnya Barbet Schroeder sempat ditunjuk untuk mengarahkan dua film Mesrine ini.Cast:Mengawali karier akting layar lebar lewat Les cigognes n'en font qu'à leur tête (1989), Vincent Cassel bermain sebagai Jacques Mesrine yang dikenal sebagai musuh publik Perancis nomor satu pada jamannya.Cécile De France sebagai Jeanne SchneiderGérard Depardieu sebagai GuidoGilles Lellouche sebagai PaulRoy Dupuis sebagai Jean-Paul MercierElena Anaya sebagai SofiaDirector:Jean-François Richet sebelum ini mengarahkan film Hollywood, Assault on Precinct 13 (2005).Comment:Saya sedikit mempertanyakan mengapa film ini masuk ke Indonesia! Bukan atas dasar negatif tapi lebih merupakan pemakaian judul yang salah seakan merupakan satu film yang utuh. Padahal sebetulnya terbagi dua yang dirilis nyaris bersamaan yaitu Mesrine: Killer Instinct dan Mesrine : Public Enemy Number One. Bahwa tidak jelas part II nya apakah akan masuk kembali ke bioskop? Tidak ada yang tahu sejauh ini.Ini adalah film Eropa secara umum yang menceritakan biopik seorang Jacques Mesrine, gangster legendaris Perancis pada periode tahun 60-70an. Otomatis ingatan kita membubung pada Public Enemies (2009) nya Johnny Depp yang mengisahkan seorang John Dillinger, gangster legendaris Amerika pada periode tahun 30an. Dejavu? Tidak juga. Mesrine tetaplah tokoh unik yang secara luar biasa diwujudkan oleh aktor berbakat Vincent Cassel yang sudah membuktikan kualita aktingnya di berbagai film internasional. Semua scene utama Cassel mulai dari perampokan, penyanderaan, perkelahian, pembunuhan, penyiksaan, pelarian termasuk romantisme dan pemukulan terhadap wanita akan memporak-porandakan perasaan anda yang menyaksikannya. Terasa sangat real hingga dibutuhkan beberapa gunting sensor untuk beberapa bagiannya.Richet juga menyajikan sinematografi yang memuaskan. Setting tahun 60an dihadirkan dengan pencahayaan yang pas. Belum lagi close-up shot para tokohnya yang seringkali membuat audiens merasa terlibat langsung dalam adegan terkait. Tensi tinggi sebuah action thriller juga terjaga sepanjang durasinya sehingga perjalanan hidup seorang Mesrine sebelum menjadi legenda benar-benar tereksploitasi dengan maksimal. Yah mudah-mudahan saya berkesempatan menonton kelanjutannya. Jika tidak di bioskop maka terpaksa di dvd. Go see it!Durasi:110 menitU.S. Box Office:$413,958 till mid Sept 2010 (limited screens).Overall:7.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Quotes:Ahmad Dahlan-Kebenaran ada di tangan Allah, manusia hanya bisa berikhtiar.
Storyline:Setelah mendapat restu dari kedua orangtuanya, Darwis yang baru berusia 15 tahun meninggalkan Jogjakarta pada tahun 1867 demi mendalami Islam di Mekkah. Sepulang dari sana, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan dan mulai membenahi pelaksanaan syariat Islam ke arah yang lebih tepat. Langkah awalnya adalah mendirikan Langgar yang diikuti oleh sebagian pemuda yang tertarik pada visinya. Namun sayang tidak semuanya berpihak pada Ahmad Dahlan saat ia bertekad membenarkan kiblat yang salah di berbagai masjid termasuk Masjid Besar Kauman yang dikepalai oleh Kyai Penghulu Kamaludiningrat. Warga yang tersinggung merobohkan Langgar Ahmad Dahlan secara paksa dan menuduh ajarannya sesat. Istri tercinta, Siti Walidah terus menguatkan suaminya untuk terus berkiprah dan mendirikan Surau baru yang kemudian beranggotakan 5 murid setianya. Penggabungan dengan organisasi Budi Utomo juga menjadi titik tolak munculnya organisasi Muhammadiyah. Namun apakah jalan terbentang lurus begitu saja bagi Ahmad Dahlan?Nice-to-know:Diproduksi oleh MVP Pictures dan diproduseri oleh Raam Punjabi.Cast:Lukman Sardi sebagai Ahmad DahlanZaskia Adya Mecca sebagai Siti WalidahSlamet Rahardjo sebagai Kyai Penghulu KamaludiningratGiring Nidji sebagai SudjaDennis Adhiswara sebagai HisyamRicky Perdana sebagai SangiduMario Irwiensyah sebagai FachrudinAbdurrahman Arif sebagai DirjoIhsan Taroreh sebagai DarwisDirector:Karya kedua Hanung Bramantyo di tahun 2010 ini setelah Menebus Impian yang cukup mencuri perhatian publik itu.Comment:Tidak salah rasanya jika saya menempatkan film ini sebagai yang terakhir ditonton dari 4 film nasional yang rilis menyambut Idul Fitri 2010. Ujaran ternama "Save The Best For Last" berlaku disini, dari worst to the best, jika penasaran lihat tanggal postingan review saya. Bagaimana tidak? Film ini solid dari berbagai sisi. Sang sutradara dan penulis cerita Hanung memberikan energi terbaiknya untuk menerjemahkan semibiografi kehidupan seorang Ahmad Dahlan. Meski tidak menyeluruh kerunutannya dan hanya berdasarkan referensi faktual dari orang-orang di sekitarnya semasa beliau hidup, Hanung menampilkan sudut pandang yang menarik secara meyakinkan!Bagaimana seorang pemuda berkeyakinan tinggi berguru ke negeri seberang dan sebagai kyai mulai membagikan ajarannya sekembalinya ke tanah air hanya dengan satu tujuan, menjadikan Islam lebih bersahabat maknanya bagi para pemeluknya sendiri. Proses tersebut diterjemahkan dengan runut yang berujung pada timbulnya konflik saat hal tersebut ditentang oleh kaum-kaum tua yang merasa lebih benar. Para aktor muda disini menampilkan penjiwaan yang cukup natural mulai dari Ihsan sebagai Darwis muda, Mario, Ricky, Abdurrahman, Dennis hingga debut menarik Giring, sang vokalis Nidji! Kredit tersendiri disematkan pada Lukman, terlepas dari beberapa ciri khasnya yang masih muncul, menerjemahkan karakter Ahmad Dahlan dengan cemerlang mulai dari akting mengajar, berdialog hingga berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Penunjukan Slamet Rahardjo sebagai "rival" juga terasa tepat karena senioritas dan profesionalitasnya masih sangat tinggi. Justru Zaskia yang terasa paling minus disini karena logat Jawanya tidak kental dan "penampilan"nya tidak banyak berubah dari muda sampai tua.Indahnya sinematografi yang menghadirkan setting akhir 1800an dan awal 1900an secara pas berkolaborasi manis dengan ciamiknya musik latar sepanjang film hasil kinerja apik Tya Subiakto. Alur bercerita yang digunakan juga mengalir mulus tanpa ada kesan dipaksakan sehingga nyaman diikuti walau durasinya cukup panjang. Alhasil Sang Pencerah merupakan tontonan inspiratif sarat makna yang mampu melebarkan sudut pandang anda akan konsep berbagi sebuah kebenaran yang mumpuni dan arti sebuah perjuangan dalam menggapainya.Durasi:110 menitOverall:8.5 out of 10Movie-meter:6-sampah!6.5-jelek ah7-rada parah7.5-standar aja8-lumayan nih8.5-bagus kok9-luar biasa
Tagline:Fight or die!
Storyline:Tahun 117 Masehi, Kekaisaran Romawi sudah menguasai Mesir hingga Laut Hitam. Tetapi di Inggris Utara, Jenderal Quintus justru tertangkap kawanan Gorlacon yang juga dikenal sebagai bangsa Picts. Diutuslah Legion 9 yang dipimpin Jenderal Virilus beserta armadanya untuk membawa Quintus kembali sekaligus menghancurkan Gorlacon. Hal tersebut tidaklah mudah karena ada wanita serigala, Etain yang selalu berhasil melacak jejak mereka kemanapun pergi. Beruntung saat membutuhkan perlindungan, wanita Picts bernama Arianne memberikan pertolongan tulus pada Quintus dkk. Satu demi satu korban berjatuhan kemudian dan kini Quintus harus memimpin yang tersisa untuk mencapai area aman di perbatasan Romawi.Nice-to-know:Seorang arkeolog Jerman menemukan bukti adanya legion 9 yang dihapuskan dari sejarah karena tidak adanya kesaksian kuat yang menyatakan keberadaan mereka setelah pertempuran terakhir di Skotlandia.Cast:Baru saja mendukung Inglourious Basterds, Michael Fassbender bermain sebagai Centurion Quintus Dias yang tangguh dan optimistis.Angkat nama lewat 007-Quantum of Solace (2008), Olga Kurylenko sebagai Etain, wanita serigala yang haus darah Romawi.Andreas Wisniewski sebagai Commander GratusDave Legeno sebagai VortixAxelle Carolyn sebagai AeronDominic West sebagai General Titus Flavius VirilusNoel Clarke sebagai MacrosJJ Feild sebagai ThaxDavid Morrissey sebagai BothosUlrich Thomsen sebagai GorlaconImogen Poots sebagai ArianneDirector:Merupakan karya kelima bagi Neil Marshall setelah terakhir menggarap Doomsday (2008) yang bertemakan masa-masa paska kiamat dunia itu.Comment:Saya harus mengatakan unsur sejarah disini cukup meragukan? Eksistensi Legion Nine yang sesungguhnya serta pergulatan bangsa Picts dan tentara Romawi? Segala penjelasan yang akan mendukung jalan cerita secara keseluruhan disajikan dalam 30 menit pertama membuat saya mengantuk dan tidak memiliki pijakan apapun. Selepas itu barulah permainan kucing tikus dimulai dan saya mulai menikmatinya setidaknya untuk beberapa alasan. Pertama, Kurylenko membawakan karakter Etain dengan meyakinkan, sorot matanya yang tajam dan gesture tubuhnya yang sedingin es dalam memburu musuh-musuhnya. Kedua, latar belakang pegunungan Skotlandia yang menjadi ajang pertempuran divisualisasikan dengan baik dan menghidupkan unsur sepi nan membahayakan. Ketiga, sutradara Marshall kembali menyajikan darah dan kesadisan dalam porsi yang tepat, terlepas dari adegan berkelahi yang tidak terlalu detail yang tampaknya menyiasati bujet rendah ataupun teknik minimalis.Ketiga alasan tersebut rasanya cukup bagi saya untuk melakukan penilaian keseluruhan terhadap Centurion.Jangan harapkan epik seperti Spartacus, Gladiator, King Arthur dsb karena film ini hanya replika kecil dari judul-judul tersebut. Terbukti lebih difokuskan pada adegan aksi daripada pengembangan karakter para tokohnya yang sangat minim. Jika mau dicermati sebetulnya terdapat banyak hal yang mengganjal pikiran penonton selepas ending yang terasa ditutup dengan terburu-buru itu mulai dari apa, siapa, kenapa, bagaimana bisa terjadi. Tapi sudahlah tidak perlu ditelaah lebih jauh.Durasi:90 menitU.S. Box Office:$99,204 till early Sept 2010 (limited screens).Overall:7 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Storyline:Perang gerilya tahun 1947, Amir memimpin rekan-rekannya yaitu Tomas, Marius dan Dayan untuk menyelamatkan wanita-wanita yang mereka cintai yaitu Lastri, Senja dan Melati yang ditawan Belanda. Selepas itu mereka melanjutkan perjuangan di daerah Jawa Barat dan berjumpa dengan tentara Jenderal Sudirman untuk kemudian bersatu menuntaskan misi menghancurkan lapangan udara Belanda. Jenderal Van Mook yang berhasil lolos dari tawanan Dayan tidak tinggal diam. Ia menghimpun pasukannya untuk mendesak Amir cs yang secara jumlah dan persenjataan masih kalah. Namun semangat dan perjuangan merupakan suatu suntikan yang bisa membalikkan semua keadaan. Pertanyaannya apakah Amir cs mampu meminimalisir kerugian moral ataupun materiil dalam menghadapi Kompeni kali ini?Nice-to-know:Diproduksi oleh Margate House Film.Cast:Donny Alamsyah sebagai TomasRahayu Saraswati sebagai SenjaLukman Sardi sebagai AmirT. Rifnu Wikana sebagai DayanAtiqah Hasiholan sebagai LastriDarius Sinathrya sebagai MariusAstri Nurdin sebagai MelatiArio Bayu sebagai YantoRudy Wowor sebagai Van MookDirector:Masih disutradarai Yadi Sugandi sejak prekuelnya. Namun kali ini didampingi Conor Allyn yang sudah beberapa kali berpengalaman menggarap spesial efek film-film bujet besar Hollywood.Comment:Cukup disayangkan melihat nama Allyn Brothers yaitu Conor dan Rob sebagai penulis cerita dalam bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan langsung. Mengapa? Sebab ini adalah salah satu film kolosal modern kita yang mengacu langsung pada sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Namun tidak terlalu penting mengingat Yadi menjalankan fungsi sutradara dengan baik. Plotnya melanjutkan apa yang tertinggal di prekuelnya yaitu masa-masa paska kemerdekaan Indonesia dimana Kompeni masih berusaha menduduki wilayah-wilayah yang belum "merasa" dipersatukan NKRI. Semua konflik yang dihadirkan di paruh pertama film lebih merupakan konflik intern para pejuang nasional tersebut saja mulai dari kelompok Amir sampai pertemuan mereka dengan gerombolan pejuang Sudirman. Bagaimana satu sama lain berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk menjalankan misi di tengah keterbatasan sumber daya sekalipun ataupun mencoba bekerjasama dengan pihak baru yang masih mempertanyakan integritas bangsanya sendiri. Di paruh kedua barulah pertempuran melawan Belanda menjadi suguhan yang menarik dimana adu tembak, strategi hingga pelarian terasa cukup nyata.Dari jajaran cast, menurut saya Rifnu tergolong paling outstanding disini. Emosinya saat berjuang maupun terluka benar-benar terekam kamera dengan baik. Selain Rudy, Aryo dan Alex Komang tentunya yang sudah membuktikan kualita akting masing-masing. Jangan lupakan Atiqah yang membuka opening scene dengan gemilang. Sayangnya akting Lukman sebagai seorang pemimpin disini masih tergolong mentah lebih dikarenakan sentralisasi tokoh kerapkali berpindah-pindah selama durasi 95 menit tersebut.Spesial efek yang digunakan secara keseluruhan terlihat lebih rapi dan meyakinkan dibandingkan Merah Putih. Tensi ketegangan dan permainan emosi di dalamnya juga sedikit meningkat sehingga jiwa nasionalisme penonton turut dilibatkan disini. Namun Darah Garuda belumlah sempurna dikarenakan kemonotonan unsur drama yang berlarut-larut dan penyelesaian konflik yang terkesan serba tanggung. Saya harapkan sekuel penutup trilogi ini mampu mencapai klimaks yang diharapkan kita semua. Mari tunggu bersama!Durasi:95 menitOverall:7.5 out of 10Movie-meter:6-sampah!6.5-jelek ah7-rada parah7.5-standar aja8-lumayan nih8.5-bagus kok9-luar biasa
Storyline:Sammy kecil yang baru menetas dari telur induknya tertinggal oleh teman-temannya yang langsung berlarian menuju laut. Hanya satu yang peduli padanya yaitu Shelly yang tetap menyemangatinya untuk bergerak lincah menyongsong ombak. Sayangnya Shelly justru disambar seekor elang dan menghilang di perairan terbuka. Dalam hati, Sammy bertekad untuk menemukan tambatan hatinya suatu saat nanti. Terapung-apung di lautan, Sammy bertemu kura-kura Robbie dan mereka berdua tumbuh dewasa. Dalam perjalanan, keduanya bertemu gurita atau paus yang bersahabat hingga hiu atau justru manusia yang tidak bersahabat. Akankah serangkaian petualangan yang dilewati Sammy bisa membawanya pada Shelly?Nice-to-know:Diproduksi oleh nWave Pictures, Illuminata Pictures, Motion Investment Group dan didistribusikan oleh Studio Canal.Voice:Billy Unger sebagai Hatchling SammyIsabelle Fuhrman sebagai Hatchling ShellyDarren Capozzi sebagai RobbieSydney Hope Banner sebagai Loggerhead TurtleDenis Kacenga sebagai SharkDirector:Ben Stassen sebelum ini berpengalaman menangani Fly Me To The Moon (2008) yang juga dibuat dalam konsep 3D.Comment:Tanpa ada informasi detailnya, film produksi Belgia ini tiba-tiba muncul di bioskop Indonesia untuk konsumsi keluarga di liburan Idul Fitri ini, bahkan tidak jauh berbeda dengan tanggal rilis di negara asalnya yang awal Agustus lalu. Melihat premisnya ada kemiripan dengan Finding Nemo yang tersohor itu dimana plot utamanya adalah seekor penyu yang mencari sahabat masa kecilnya di lautan luas dan harus melewati berbagai macam petualangan serta bertemu banyak sahabat di dalamnya.Selain itu ternyata (entah nilai plus atau justru nilai minus) dibebani juga dengan unsur edukasi yang kental. Lihat saja prolognya yang menceritakan bagaimana segerombolan penyu yang menetas dari telurnya dan harus berlari menuju pantai untuk tumbuh dan berkembang disana, untung-untungan jika tidak disambar kawanan elang yang siap mencaplok! Dari situ cerita bergulir dan dinarasikan secara bergantian hingga mencapai klimaksnya. Jujur saja saya yang menonton 3D nya hanya menikmati 30 menit pertama saja dimana beraneka ragam ekosistem laut diperkenalkan dengan warna-warni yang eye-catching dan masih setia dengan ekspresi binatang khas film animasi. Namun apa yang terjadi setelahnya? Bangunan cerita menjadi berantakan dan seakan kehilangan fokus apakah menjadi film dokumenter ataupun biografi Sammy itu sendiri? Penuturan narasinya juga seperti pembacaan dongeng anak-anak yang meninabobokan.Alhasil Sammy's Adventure : The Secret Passage ini terasa serba tanggung untuk dinikmati orang dewasa kalau tidak mau dibilang membosankan. Padahal mereka harus menerangkan kepada anak-anak yang rasanya masih butuh penjelasan dalam mengikuti alur ceritanya. Benar-benar terkesan seperti sebuah film dokumenter yang dianimasikan demi mencapai tujuan pendidikan sehingga nyaris tak ada konflik berarti yang dikembangkan disini apalagi harus diselesaikan. Fail!Durasi:80 menitOverall:6.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Storyline:Dua warung baso yang berseberangan letaknya sudah lama bersaing yaitu Goyang Lidah punya Bang Kimbul yang berputera Udjo dan berkaryawan Uci serta Joget Lidah milik Ibu Umi yang berputeri Salma dan berpegawai Neneng. Tiap hari ada saja keributan mereka dalam menarik pelanggan. Udjo sendiri diam-diam menaruh hati pada Salma yang telah bertunangan dengan seorang bule bernama Jay. Lambat laun sabotase demi sabotase mulai terjadi yang berujung pada munculnya pemain baru yaitu Baso Super Delicious dengan tempat yang lebih megah dan mewah. Dikarenakan kedua orangtua mereka jatuh sakit, Udjo dan Salma harus memutar otak untuk menyelamatkan bisnis mereka masing-masing. Bagaimana akhir dari perseteruan ini?Nice-to-know:Diproduksi oleh Maxima Pictures dengan produser Ody Mulya Hidayat.Cast:Dewi Perssik sebagai SalmaDimas Seto sebagai UdjoSteve Emmanuel sebagai JayYurike Prastica sebagai Ibu UmiHarry D Fretes sebagai Bang KimbulDirector:Film keduanya setelah Menculik Miyabi yang cukup mencuri perhatian itu bagi Findo Purwono HW di tahun 2010 ini.Comment:Sutradara Findo terkenal dengan karya-karya ringannya yang seenteng butiran pop corn di tangan anda. Dan kali ini ia mengemban misi untuk menghibur audiens di musim libur Lebaran 2010. Apa yang diangkatnya? Ternyata persaingan antar para penjual baso! Dan sudah diperlihatkan trailernya yang cukup menyita perhatian setiap pembuka pertunjukkan selama beberapa minggu terakhir di bioskop itu. Dewi Perssik secara mengejutkan dipasangkan dengan Steve Immanuel dan Dimas Seto, padahal biasanya Hardi Fadhillah ataupun Budi Anduk cs! Terbukti strategi yang cukup jitu karena Dimas mampu "bertransformasi" menjadi pemuda sederhana yang terkesan "bloon" dan meleburkan dirinya di setiap scene yang disodorkan padanya. Not bad! Sedangkan Steve lebih mengandalkan ke-Indo-annya dari segi penampilan dan cara berbicaranya. Well.. Jangan lupakan penampilan kocak si Boim Harry De Fretes yang tetap mumpuni walau usianya sudah tidak muda lagi. Good job!Film yang awalnya saya prediksikan tak jauh beda dengan sampah-sampah terdahulu di luar dugaan cukup memenuhi kriteria standar sebuah hiburan ringan. Konflik yang dibangun dari prolog disajikan per layer dengan lumayan runut hingga mencapai puncaknya di ending dengan penyelesaian tersendiri yang rupanya masih mengandalkan "goyangan" DP. Tidak lupa ada tempelan bumbu cinta segitiga, rivalitas bisnis dengan trik-trik yang dipakai, pengkhianatan dalam skala ringan yang kesemuanya dipadu dengan humor-humor ringan menjurus walau untungnya tidak sampai terlalu norak jatuhnya.Terlepas dari editing yang tidak terlalu rapi, Lihat Boleh Pegang Jangan bisa jadi kuda hitam dari 4 film nasional yang dirilis bersamaan apalagi jika audiens menginginkan sesuatu yang benar-benar ringan sebagai tontonan bersama keluarga. Tunggu dulu, sudah berapa kali saya menyebutkan kata "ringan"? Coba anda hitung sendiri mulai dari awal!Durasi:95 menitOverall:7 out of 10Movie-meter:6-sampah!6.5-jelek ah7-rada parah7.5-standar aja8-lumayan nih8.5-bagus kok9-luar biasa
Storyline:Thufa tengah bimbang saat kliennya memutuskan untuk memakai jasa penyanyi dangdut senior Rhoma Irama untuk pentas panggungnya padahal ia telah berjanji pada kekasihnya Delon yang penyanyi pop untuk tampil. Belum selesai memutuskan, teman semasa kecilnya Ridho pulang ke Indonesia karena dipanggil ayahnya dengan tugas menciptakan nuansa baru pada musik dangdut yang didaulat musik asli tradisional Indonesia. Ridho sendiri tengah dekat dengan Haura Sydney, mahasiswi Australia yang sedang membuat karya tulis di Indonesia. Konflik cinta segitiga tersebut semakin memuncak ketika kepentingan demi kepentingan seakan saling bertubrukan. Siapa yang akhirnya dipilih Thufa dan bagaimana Ridho dapat menjawab tantangan ayahnya itu?Nice-to-know:Diproduksi oleh Rumah Kreatif 23Cast:Rhoma IramaRidho RhomaCathy SharonDelonPepeng NaifDirector:Endri Pelita & Asep KusdinarComment:Kesan paling tepat menggambarkan film ini menurut saya adalah tidak fokus! Duet sutradara Endri dan Asep memegang peranan yang sangat penting disini, Endri merangkap sebagai produser dan Asep memegang posisi penulis. Keduanya tampak terlalu ambisius menyajikan suatu tontonan yang mumpuni dari berbagai lini. Alhasil konsep cerita menjadi tercerai-berai tidak karuan. Coba bayangkan sebagai berikut:Pertama, ada sang legenda Rhoma Irama yang berusaha menginspirasi sebagai tokoh dangdut kenamaan Indonesia. Ia mencoba memperkenalkan putranya yang baru pulang studi dari luar negeri sekaligus mempertahankan kharismanya sendiri. Lihat beberapa scene yang mempertontonkan ilmu kanuragan dan kearifan guru besar yang dimiliki Rhoma. Masih cukup menjual rasanya.Kedua, ada cinta segitiga antara Ridho, Cathy dan Delon. Jujur saja ketiganya tidak berbagi chemistry dengan baik. Beruntung dari segi akting, Cathy masih cukup konsisten lumayan menutupi kekurangan Ridho dan Delon yang seringkali terlihat canggung kalau tidak mau dikatakan aneh di sebagian besar scene yang mereka lakukan kecuali scene menyanyi tentunya!Ketiga, ada penggemar berat Ridho yang berprofesi sebagai supir taksi. Subplot tambahan ini dibuat untuk memperpanjang konflik walau menjadi tidak terintegrasi dengan baik ke dalam bangunan cerita. Ending yang melibatkan tokoh ini teramat sangat ganjil dan terlalu didramatisir.Keempat, ada tokoh gadis bule yang entah darimana terpikir membuat karya tulis 200 halaman tentang dangdut?! Lihat bagaimana dengan mudahnya ia terpikat pada sosok Ridho dan mau terlibat dalam semua hal berbau dangdut tersebut. Weird!!Sinematografi yang ditampilkan sedikit bernuansa film tahun 1980an yang sayangnya tidak didukung oleh editing yang baik terutama saat pergantian scene sehingga terkesan seperti meloncat-loncat dari satu potongan klip ke yang lainnya. Musik latar yang disuguhkan malah lebih terasa India dibandingkan Melayu, entah jika kuping saya yang salah tangkap. Pada akhirnya Dawai 2 Asmara hanyalah sebuah proyek idealis yang dibuat dengan semangat tinggi tetapi belum memberikan hasil maksimal sebagai suatu tontonan utuh yang solid dari berbagai aspek.Durasi:100 menitOverall:7 out of 10Movie-meter:6-sampah!6.5-jelek ah7-rada parah7.5-standar aja8-lumayan nih8.5-bagus kok9-luar biasa
Storyline:Bercerita tentang dua orang yang tidak saling mengenal dari Thailand dan mengikuti biro perjalanan ke Korea. Sang pria bepergian sendiri dan hanya mengandalkan sebuah tas gendong dan sendal jepit, tidak menikmati trip yang melulu mengunjungi lokasi syuting serial-serial ternama Korea. Sang wanita yang seharusnya pergi dengan sahabatnya Meow malah berbohong kepada kekasihnya Jim yang pada akhirnya berbuntut masalah. Lewat serangkaian kejadian, keduanya sepakat melakukan perjalanan bersama ke seluruh pelosok Korea tanpa mengetahui nama masing-masing. Akankah timbul sesuatu di antara keduanya? Bagaimana setelah perjalanan tersebut harus berakhir?Nice-to-know:Diangkat dari buku laris berjudul Two Shadows In Korea.Cast:Sebelumnya pernah bermain dalam Hormones (2008), Chantawit Thanasewee bermain sebagai Darng yang ditinggal kawin mantan kekasihnya Goi.Neungtida Seopol berperan sebagai May yang memiliki kekasih posesif dan berusaha menikmati single trip di negara yang dikaguminya itu.Director:Terakhir turut menggarap salah satu segmen dalam 4BIA dan Phobia 2, Banjong Pisanyatanakol kini mencoba kemampuannya menggarap drama komedi romantis masa kini.Comment:Kesuksesan BTS tahun lalu mendorong GTH memproduksi film komedi romantis lagi untuk 2010 ini. Diilhami dari kesuksesan massal serial televisi Korea di negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand (dan juga Indonesia) selama beberapa tahun terakhir, terciptalah plot film ini. Perjalanan dua insan berlawanan jenis mulai dari proses saling mengenal, saling mengingkari, beraktifitas bersama, saling tertarik, saling berlawanan tujuan dan bersatu kembali adalah format baku drama romantis yang seringkali dipadu dengan humor sepanjang prosesnya. Yang berbeda disini hanyalah kedua karakter utama tidak saling bertukar nama sejak awal sampai akhir sehingga mereka benar-benar seperti dua orang asing yang berbagi cerita apapun juga!Thanasewee dan Seopol bermain ciamik dan berbagi chemistry yang kental disini. Neungtida cantik berseri-seri dan sepintas mengingatkan pada Chae Rim yang asli Korea itu, sangat pas pemilihannya mengingat film ini besar kemungkinan dijual di negeri ginseng itu juga. Chantawit berpostur tinggi kurus yang sepintas kalem culun ternyata jahil dan suka bercanda. Ia juga bertindak sebagai penulis skenarionya. Cukup mengagumkan karena tentunya ia sesuaikan dengan perannya juga sekaligus membawa kedua tokoh utama serealistis mungkin dalam berinteraksi.Sutradara Banjong ternyata tidak hanya piawai menggarap horor saja, ia menerjemahkan unsur-unsur drama komedi romantis dengan baik. Momen-momen kocak dan menyentuh dengan latar belakang lanskap setiap pelosok Korea tertangkap dengan baik. Aspek budaya negara bermata uang Won itu juga sesekali diangkat semisal festival turun salju di bulan April, tradisi pernikahan dll walaupun adegan di hotel dan kasino memang sedikit "di luar frame".Mau tidak mau, saya akan membandingkan film ini dengan BTS apalagi sekelumit adegan BTS sempat dihadirkan juga. Menurut saya BTS lebih sederhana, humanis dan realistis. Cekidot! Durasi yang panjang jujur sedikit melelahkan walau mungkin tidak terlalu dirasa. Terlepas dari formula klisenya, bagaimanapun juga Hello Stranger adalah komedi romantis bergaya road trip yang fresh, jenaka dan dibekali dengan sinematografi yang indah ini amat patut disaksikan bersama teman-teman ataupun pasangan anda. What's your name? Can you tell me?Durasi:130 menitOverall:8 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Tagline:It will get under your skin.
Storyline:Saat berencana camping di hutan, Polly dan kekasihnya yang lugu Seth merusak tenda mereka. Akhirnya keduanya memutuskan untuk menyewa motel murah di sekitar sana tapi di tengah perjalanan mobil mereka dibajak oleh pasangan buronan Dennis dan Lacey. Dennis memaksa Polly mengendarai mobil menuju pelarian mereka hingga tiba-tiba menggilas sesuatu di tengah jalan. Saat mengganti ban mobil, mereka berempat diserang oleh sel parasit asing. Apa yang terjadi sesungguhnya adalah permainan adu pintar sekaligus bertahan hidup.Nice-to-know:Sempat dinominasikan dalam Saturn Award 2009 kategori Best Horror Film.Cast:Angkat nama lewat serial Blade: The Series (2006), Jill Wagner kini kebagian peran utama Polly WattPernah mendukung Road Trip (2000), Paulo Costanzo bermain sebagai Seth Belzer.Sebelum ini tampil dalam Pride And Glory (2008), Shea Whigham disni bermain sebagai Dennis FarellRachel Kerbs sebagai Lacey BelisleDirector:Pria kelahiran Inggris bernama Toby Wilkins ini sebelumnya hanya berpengalaman menggarap film pendek yang berujung pada 7 episode serial televisi Devil's Trade (2007).Comment:Menjelang Lebaran, slot film lokal banyak diisi dengan film kelas B ataupun "under the radar" movies seperti yang satu ini. Plotnya mengenai parasit yang menyusupi tubuh manusia mengubahnya menjadi monster hidup yang bisa menjangkiti sesamanya. Sepintas mengingatkan pada Slither (2006) yang gory sekaligus menjijikkan itu. Tema yang dikembangkan cenderung orisinil tanpa perlu mengucurkan dana yang besar untuk bujetnya. Tidak mengherankan jika hanya terdapat 6 nama dalam jajaran castnya dan 3 yang aktif mulai pertengahan hingga akhir film! Dan secara mengejutkan juga, ketiganya tampil solid! Terutama Whingham yang cocok sekali sebagai Dennis, buronan kasar yang menampilkan sisi humanismenya terhadap kekasihnya Lacey. Tak kalah menonjol, Costanzo yang mempotretkan Seth, pemuda lugu berpendidikan dokter yang ternyata cerdas. Sedangkan Wagner bermain lumayan dalam mengimbangi kedua aktor yang tersebut di atas. Menarik melihat mereka saling berbagi scene sehingga dialog yang sederhana sekalipun tetap membuat anda terekat di bangku dengan tenang.Sutradara Wilkins menciptakan sosok teror lewat cara sederhana terlihat dari "penampakan" yang ala kadarnya dengan gerakan robotik disana-sini. Namun yang berhasil mencekam adalah kemisteriusan parasit itu sendiri, bagaimana dia mengintai target dan cara penyerangannya. Tidak buruk untuk debutan seperti dia yang meminimalisasi spesial efek atau usaha eksekusi yang terlalu berlebihan. Semua itu menjadikan Splinter sebuah thriller simpel yang mengasyikkan untuk disaksikan dalam durasi yang tergolong singkat. Meskipun endingnya mungkin sudah bisa ditebak, audiens rasanya tetap antusias dan senang-senang saja ditakut-takuti. Tontonlah sebelum hilang dari peredaran bioskop!Durasi:80 menitU.S. Box Office:$9,517 till end of Oct 2008 (only 4 screens).Overall:7.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Tagline:Priscilla: Hey, I have “F”, “C”, “K”. Now all I need is “U”
Storyline:Siswi teladan peraih beasiswa, Priscilla White yang masih polos mendapati dirinya sekamar dengan mahasiswi abadi, Naz yang gila pesta dan seks dalam asrama kampus. Melakukan protes tetapi ditolak, Priscilla menerima nasibnya dan fokus pada studi dan hubungan jarak jauhnya dengan Brad. Malang pada suatu pesta yang tidak sengaja melibatkannya, Priscilla malah mabuk dan melakukan hal-hal memalukan di depan kamera kru “Chicks Go Crazy” yang diprakarsai oleh Ed Curtzman Kini Priscilla harus merebut video itu kembali demi menjaga reputasinya selama ini.Nice-to-know:Skrip karya Jeff Seeman ini awalnya bertitel 'Mardi Gras' dan syuting di New Orleans. Kemudian dijuduli 'Virgin on Bourbon Street' saat memasuki syuting hingga akhirnya menjadi 'American Virgin' karena lokasinya berpindah ke Detroit.Cast:Rob Schneider sebagai Ed CurtzmanKebetulan juga bersama Scheider saat mengawali karir aktrisnya dalam The Hot Chick (2002), Jenna Dewan bermain sebagai PriscillaSebelumnya mendukung Prom Night (2008), Brianne Davis berperan sebagai NazChase Ryan Jeffery sebagai ChuckElan Moss-Bachrach sebagai KevinAshley Schneider sebagai EileenBo Burnham sebagai RudyDirector:Clare Kilner sebelum ini menggarap The Wedding Date (2005) yang bergenre komedi romantis itu.Comment:Begitu banyak komedi seks yang beredar di Amerika sana dan malangnya hanya sedikit yang mampu berbicara banyak di tangga box-office. Sebut saja dua diantaranya yang paling menonjol adalah American Pie dan Road Trip. Kini Echo Bridge Entertainment mencoba peruntungannya yang kebetulan juga memuat frase “American” pada judul filmnya. Hanya saja itu belum tentu mewakili remaja Amerika secara keseluruhan.Premisnya tidak terlalu istimewa sebetulnya. Terdapat tiga subplot utama yaitu seorang siswi teladan yang mencoba focus pada pencarian jati dirinya, persahabatan dua gadis yang dunianya bertolak belakang dan acara televisi yang khusus menayangkan gadis-gadis muda mempertontonkan tubuh mereka di depan kamera. Ketiga subplot tersebut membaur menjadi satu, meski saya merasa tidak terhubung dengan sempurna untuk menjadi sebuah kesatuan yang menarik.Paras Dewan mungkin membuat kita terpikir pada satu nama yaitu Neve Campbell. Menarik melihatnya menerjemahkan karakternya Priscilla sebagai perawan teladan yang sangat terukur tutur kata dan tindak tanduknya termasuk cara berpakaiannya. Di sisi lain Davis mewakili karakter “evil” dengan cukup lugas meski pada akhirnya ia bertransformasi juga. Sedangkan Schneider gagal dalam membawakan tokoh Ed yang murtad itu karena ketidak konsistenannya dalam scene yang memang sedikit baginya.American Virgin mudah ditebak alur ceritanya dan cenderung tidak menawarkan apapun untuk dapat dipikirkan selepas menontonnya. Rasanya aktor-aktris yang mendukung film ini tidak dapat dipersalahkan karena kelemahan utama memang terdapat di skrip. Belum lagi eksekusi yang dilakukan oleh sutradara Kilner tergolong lemah dalam memprioritaskan sisi drama atau komedinya. Alhasil film ini hanya menjadi pertunjukan payudara saja disertai dengan dialog-dialog yang tak jauh dari unsur seks belaka.Durasi:85 menitOverall:6.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent