XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 17 Juli 2010

BROOKLYN'S FINEST : Pertentangan Baik Buruk Kriminalitas & Kepolisian

Tagline:
This is War. This is Brooklyn.

Storyline:
Berkisah tentang tiga petugas polisi New York dengan latar belakang yang berbeda-beda. Sal yang menangani narkoba kesulitan menutupi biaya hidup keluarganya termasuk kehamilan anak kembar istrinya dan kedua putrinya yang beranjak remaja. Lalu Eddie yang bertugas patroli jalanan hanya memiliki sisa 7 hari sebelum masa pensiunnya tiba dan ia harus mencari makna dari tugas sehari-hari yang sudah ia lakukan selama bertahun-tahun. Kemudian Tango yang sebetulnya preman tetapi diangkat sebagai detektif demi menyelidiki mafia kulit hitam termasuk salah satu sahabatnya Caz yang juga menjadi targetnya. Ketiganya mengalami pergulatan masing-masing untuk tetap di jalurnya atau keluar dari itu.

Nice-to-know:
Film pertama Wesley Snipes yang diedarkan di bioskop Amerika setelah terakhir Blade : Trinity (2004).

Cast:
Richard Gere pertama kali muncul lewat serial televisi, Chelsea D.H.O. (1973). Disini ia berperan sebagai polisi patroli paruh baya, Eddie.
Pernah dinominasikan Aktor Terbaik Oscar 2005 dalam Hotel Rwanda (2004), Don Cheadle bermain sebagai detektif "dua sisi" Tango.
Ethan Hawke mengawali akting via Explorers dan kali ini kebagian peran polisi pemberantas narkotik Sal yang berjuang demi keluarganya juga.
Wesley Snipes sebagai Caz
Vincent D'Onofrio sebagai Carlo
Brian F. O'Byrne sebagai Ronny Rosario
Will Patton sebagai Lt. Bill Hobarts
Lili Taylor sebagai Angela
Ellen Barkin sebagai Agent Smith

Director:
Film layar lebar pertama Antoine Fuqua yaitu mengarahkan debut Hollywood superstar Hongkong, Chow Yun Fat dalam The Replacement Killers (1998).

Comment:
Bagi yang pernah menyaksikan karya Fuqua sebelumnya mungkin sudah familiar dengan gaya sutradara kulit hitam yang satu ini. Biasanya ia menampilkan suasana kelam yang berawal dari tragedi serta memberikan tekanan penuh pada setiap karakternya. Dan itu diulanginya lagi disini. Sal yang harus berdiri antara keluarga atau karirnya, dipotretkan dengan sangat baik oleh Hawke yang belakangan namanya seperti ditelan bumi. Tango yang harus memilih bekerjasama dengan kepolisian atau memihak sahabatnya sendiri, dijiwai dengan emosi yang tepat oleh si aktor watak Cheadle. Eddie yang lurus hidupnya harus mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk tugas yang sebetulnya tidak diwajibkannya, diekspresikan dengan pas oleh Gere yang sudah semakin berumur tetapi tetap kharismatik.
Plotnya bisa dikatakan klisenya film polisi ditambah dengan unsur rasialis yang nampaknya masih kental di New York, pernah disyut dengan brilian dalam Crash (2004). Namun yang membedakan adalah eksekusi Fuqua terhadap jajaran castnya cukup memukau disamping kemampuan di atas rata-rata aktor-aktrisnya tersebut. Durasinya yang panjang penuh dengan dialog-dialog tajam sinis yang sarat kata "fuck", jika saya membawa counter tentunya bisa memberikan data yang valid! Beberapa tembakan tak terduga mungkin akan mengejutkan anda disertai dengan kucuran darah tentunya. Harus diakui sedikit membosankan di awal tetapi berhasil mencapai klimaks yang mengejutkan di akhir. Brooklyn's Finest cukup bagus tetapi tidak cukup bagus untuk dikenang oleh audiensnya.

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$27,154,426 till mid May 2010.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 16 Juli 2010

I KNOW WHAT YOU DID ON FACEBOOK : Pergumulan Dunia Maya Membawa Polemik

Tagline:
Cinta, Persahabatan dan Perselingkuhan.


Storyline:
Seringkali bersitegang dengan pacarnya Reno karena berbeda prinsip, Luna mulai menimbang-nimbang untuk mereview hubungannya itu. Terlebih ia melihat rumah tangga kakaknya Marlene yang tidak bahagia bersama Aryo. Saat curhat dengan sahabatnya Via, timbul ide gila di antara keduanya yaitu saling menghapus account Facebook satu sama lain dan menambahkan pacar masing-masing. Kemudian Via terlihat bermain api dengan Reno, sebaliknya Luna dan Hedi bertukar pikiran satu sama lain. Di lain kesempatan, kakak Reno, Doni yang seorang gay tertarik dengan rekan kantornya, Erick sembari berkenalan dengan seseorang yang menggunakan nama “Monyet Guy” pada Facebooknya. Bagaimana akhir kemelut dari persilangan antar karakter yang dimulai dari situs ternama universal tersebut?


Nice to know:

Diproduksi oleh Digital Film Maker bekerjasama dengan Sisterbros Nationtainment.


Cast:
Baru saja bermain sebagai hantu dalam Sehidup Semati (2010), Fanny Fabriana kembali berperan sebagai Luna, wanita cantik sukses mandiri nan perfeksionis.
Terakhir cukup mencuri perhatian dalam Romeo Juliet (2009), Edo Borne kali ini bermain sebagai Reno, kekasih spontan yang punya pemikiran slebor.
Kimmy Jayanti sebagai Via
Fikri Ramdhan sebagai Hedi
Restu Sinaga sebagai Aryo
Imelda Therinne sebagai Marlene
Agastya Kandou sebagai Doni
Yama Carlos sebagai Erick

Director:
Debut penyutradaraannya dalam Claudia/Jasmine (2008) cukup memuaskan. Kini Awi Suryadi berkolaborasi dengan Alberthine Endah dalam menulis skripnya.

Comment:
Facebook sebuah situs jejaring sosial yang sudah bertahan lebih dari 2 tahun di Indonesia. Keuntungannya sangat banyak yang sebagian besar dari anda sudah tahu semua. Kekurangannya terkadang menghiasi halaman surat kabar yang menjurus aksi kejahatan. Tidak heran. Semua teknologi ada plus minusnya. Inilah yang ingin diangkat oleh Awi dalam film terbarunya yang konon dipersiapkan dengan serius.
Plotnya mengenai dua wanita yang saling bersahabat tetapi karakternya bertolak belakang. Luna yang introvert mendambakan hidup yang stabil dengan sosok pacar yang well-organized di sisinya. Sebaliknya Via yang ekstrovert memimpikan hidup yang dinamis dengan sosok kekasih yang spontan di sampingnya. Keduanya diperankan dengan baik oleh Fanny yang kebetulan berkulit terang dan Kimmy yang berkulit gelap. Kontras sekali! Lho?! Lantas bagaimana dengan aktornya? Edo cukup dominant sebagai pria tidak dewasa yang egois dan belum tahu apa yang sesungguhnya dimauinya dalam hidup. Emosinya tertangkap dengan jelas dan intonasinya menggambarkan segala kecamuk perasaannya. Sayangnya Fikri tidak banyak mendapatkan kesempatan untuk eksplorasi dan karakternya cenderung ditinggalkan begitu saja.
Sekarang kita kembali lagi pada kinerja Awi. Permainan kameranya bolehlah diacungi jempol dengan sudut-sudut pengambilan gambar yang tidak biasa, termasuk sooming layar Blackberry nyaris di setiap kesempatan. Jangan lupa bawa kacamata anda untuk membacanya dengan jelas, atau anda ketinggalan dialog-dialog tidak bersuara tersebut. Segala konflik yang sebetulnya dibangun dengan cukup baik sekali lagi mencapai klimaksnya sebelum film berakhir. Selepas itu film kembali mengambang dan akhirnya terselesaikan dengan luka terbuka. Apakah menutup luka tersebut cukup untuk menyembuhkan tanpa harus diobati? Anda tahu jawabannya!

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 15 Juli 2010

PENGANTIN TOPENG : Jati Diri Pembunuh Bergunting Rumput

Storyline:
Randy dan Alexa yang akan menikah setelah berpacaran selama 3 tahun mengajak ketiga teman mereka yaitu Billy, Kinar dan Rosa untuk berlibur ke pantai selatan di kawasan Jawa Barat. Kelimanya tanpa ragu-ragu segera melepas pakaian satu persatu dan melakukan sesi foto bareng selama berjam-jam hingga senja tiba. Acara api unggun dimulai Billy dengan cerita seram hingga Kinar menutupnya dengan permainan pertanyaan atau tantangan yang sempat menyudutkan Randy. Kelimanya sepakat melanjutkan perjalanan ke hotel yang sudah dibooking tetapi malang mobil mereka mogok di tengah jalan. Malam semakin mencekam sampai Alexa menemukan sebuah pondok yang berisikan sesosok mayat pria. Tanpa mereka sadari ada sesosok berjubah hitam bertopeng misterius mengintai dari kejauhan..

Nice to know:
Diproduksi oleh BeSINema dan diproduseri oleh Eko Kristianto.

Cast:
Masayu Anastasia sebagai Alexa
Lolita Putri sebagai Kinar
Adelia Rasya sebagai Rosa
Hardy Hartono sebagai Randy
Gabriel Tabalujan sebagai Billy
George Timothy sebagai adik Alexa

Director:
Ditulis dan disutradarai oleh Awi Suryadi yang pernah menangani horor remaja, Sumpah Pocong Di Sekolah (2008).

Comment:
Entah apa yang menjadi target Awi dalam membuat film ini. Proses syuting yang singkat, casting yang nekad, plot cerita sulapan, produksinya pun balapan. Dan kesemuanya itu hanya menghasilkan film yang tidak maksimal sama sekali. Aktor-aktrisnya di luar nama Masayu tampil amatir terutama Hardy. Sorry, anda tidak hanya menjual tubuh disini tetapi akting. Jika memang belum banyak jam terbang, setidaknya buatlah itu terlihat meyakinkan. Lolita dan Adelia hanya menjual kesintalan tubuh berbalut bikini. Lain halnya dengan Gabriel yang menjual lidahnya yang seringkali terjulur ke luar di sebagian besar scene. Haiz. Melihat tingkah laku mereka semua, sayapun bersin-bersin.
Plot ceritanya sudah berulang-ulang kali diangkat film lokal sejenis. Andai ada 5 film bergenre thriller slasher maka 90% ceritanya sama persis. Jadi saya tidak akan membahasnya lagi. Cukup membicarakan beberapa ketololan fakta yang sering terjadi yang akan anda temukan juga disini yaitu pelaku akan menggiring korbannya ke dalam jebakan, segerombolan orang yang dalam sekejap tercerai-berai entah karena berbagai alasan hingga mudah dihabisi satu persatu, si pelaku pun menang pada akhirnya. Semua penonton sudah tahu tipikal film sejenis, yang bisa disiasati hanyalah twist yang masuk akal dan proses pengungkapannya itu. Dan Pengantin Topeng ini gagal melakukan delivery tersebut. Twistnya yang seharusnya menjadi suspensi yang mengejutkan dibabarkan begitu saja dan itupun tidak langsung menutup layar dengan klimaks. Masih ada penjelasan motif sang pelaku mulai dari masa lalu hingga masa kini secara panjang lebar. Apakah itu penting jika konstruksi cerita saja sudah tidak mendukung? Ah sudahlah, anggap saja Awi berusaha membuatnya masuk akal dan saya membelanya untuk eksperimen tersebut. Tidak ada yang salah bukan? Lagipula ia sudah cukup maksimal memberikan make-up yang baik pada korban-korban pembantaian!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 12 Juli 2010

HAPPY GO LUCKY : Keberuntungan Pemula Kesengsaraan Perjudian


Storyline:
Hock Lee Poh adalah pejudi kelas kakap yang keras kepala. Bahkan ketika istrinya melahirkan Fu Xin, Poh tetap berjudi dan kalah! 30 tahun kemudian, Fu Xin telah tumbuh menjadi wanita yang ceria dan berbudi pekerti. Meskipun berulang kali disakiti ayah dan kakak tirinya Donna yang hobi senang-senang itu, Fu Xin tetap bekerja dengan riang di sebuah pusat refleksi. Fu Xin yang sering dianggap membawa sial justru mendatangkan keberuntungan saat Undian 4D yang tak sengaja dibelinya memenangkan hadiah utama yaitu 2 juta dollar Singapore. Namun apakah ayahnya bisa disadarkan dari pengaruh buruk perjudian?

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Fuxing dao ini sudah dirilis di negara asalnya Singapore pada tanggal 4 Maret 2010.

Cast:
Pernah mendukung Jackie Chan dan Owen Wilson dalam Shanghai Knights (2003), Fann Wong berperan sebagai Fu Xin
Richard Low sebagai Hock Lee Poh
Patricia Mok sebagai Donna Poh
Liu Ling Ling sebagai Lao Cai
Marcus Chin sebagai Jackson

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Harry Yap.

Comment:
Jika harus menyebutkan beberapa judul film Singapore rasanya hal yang sangat sulit dilakukan oleh anda. Alasannya bisa jadi karena nyaris tidak pernah ada yang beredar di bioskop Indonesia atau memang sulit ditemui videonya dalam bentuk apapun juga sehingga tak pernah berhembus kabar samasekali dari industri perfilman sana. Kali ini Blitzmegaplex “berbaik hati” mengimpor film terbaru dari Fann Wong, biduanita sekaligus aktris Singapore yang sudah cukup dikenal publik Asia.
Harry Yap yang selama ini dikenal menyutradarai film/serial televisi sedikit “berjudi” untuk menulis skrip sekaligus menyutradarainya. Plotnya sederhana saja yaitu sebuah keluarga disfungsi yang terdiri dari ayah dan dua orang putri. Konfliknya seputar kerja keras berbudi baik yang kontras dengan perjudian berakhlak serakah. Aura kesialan dan keberuntungan pun silih berganti menghampiri di sepanjang 103 menit yang amat mudah ditebak juntrungannya ini.

Fann Wong, Richard Low dan Patricia Mok memang berhasil menciptakan tawa lewat sederetan adegan slapstick di saat berbagi layar. Namun karakterisasi mereka begitu dangkal yaitu hitam dan putih sehingga penonton hanya perlu berpihak pada salah satunya. Setidaknya Fann tetap berhasil memancarkan sinarnya dengan karakter Fu Xin yang simpatik dimana sisi akting emosionalnya begitu terjaga di setiap tikungan yang ada.

Sayangnya ide lemah Harry tidak dapat ditutupi saat pengeksekusiannya. Gaya televisi masih terbawa disini dimana syut close-up terhadap masing-masing karakternya masih begitu dominan. Belum lagi penggunaan dialek Hokkien dan Konghu bertukaran dimunculkan demi menghasilkan aksen yang lebih mudah memancing tawa penonton. Alur ceritanya mengalir linier begitu saja, seakan Harry sendiri kebingungan menambahkan unsur kejutan yang mampu membuat film ini tak mudah dilupakan.
Happy Go Lucky dengan modal poster yang kurang menarik tetap mampu membuat anda terjaga sampai akhir meskipun harus menguap berkali-kali. Tenang! Tawa segar rasanya dapat mengusir kantuk yang menyerang, terima kasih pada situasi komedi yang berulang kali disodorkan. Setidaknya ending film ditutup dengan perasaaan senang dan bersyukur bahwa segala proses yang dijalani dengan ketulusan dan kesabaran pada akhirnya akan membuahkan hasil yang lebih kekal adanya.

Durasi:
103 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 11 Juli 2010

PREDATORS : Terjebak Pemangsa Planet Asing

Tagline:
The most dangerous killers on the planet... but this is not our planet.

Storyline:
Royce terbangun saat meluncur dari pesawat dan mendarat di sebuah hutan asing dengan parasut. Ia tidak sendiri karena segera bergabung gadis militer- Isabelle, tentara Rusia- Nikolai, criminal San Quentin- Stans; tokoh Serra Leoa- Mombasa; raja obat bius- Cuchillo; pria Yakuza- Hanzo dan Doctor Edwin. Mencoba mereka-reka apa yang sesungguhnya terjadi, sekelompok makhluk tak teridentifikasi mulai menyerang mereka. Berada di planet asing, Royce dkk harus bersatu untuk bertahan hidup dalam permainan mematikan.

Nice-to-know:
Proses syutingnya selama 53 hari dan oleh produser Robert Rodriguez dimaksudkan sebagai sekuel Predator (1987) dan Predator 2 (1990).

Cast:
Sebelum ini tampil dalam High School (2010), Adrien Brody bermain sebagai Royce
Mulai dikenal setelah mendampingi Will Smith dalam I Am Legend (2007), Alice Braga kali ini kebagian peran Isabelle
Laurence Fishburne sebagai Noland
Topher Grace sebagai Edwin

Director:
Nimród Antal paling dikenal saat menangani Luke Wilson dan Kate Beckinsale dalam Vacancy (2007).

Comment:
Saya bisa katakan ini adalah versi lain dari The Condemned (2007) dan Death Race (2008), hanya saja musuhnya diganti predator. Disesuaikan dengan kondisi terkini daripada berusaha setia dengan prekuelnya, produser Rodriguez seakan memberikan perspektif baru bagi franchise ini dengan memaksimalkan efek CGI dan MTV style. Hasilnya? Bagi anda penonton muda, mungkin tidak berkeberatan samasekali.
Sutradara Antal sepertinya tidak terlalu mementingkan strategi yang digunakan manusia versus predator ini. Terbukti segala senjata “kelebihan” predator tidak dimaksimalkan sedangkan para manusianya seperti diharuskan berkelompok untuk kemudian terbunuh satu persatu. Padahal “adu pintar” merupakan salah satu elemen menarik yang pernah diusung film Predator jaman dahulu.
Brody sebagai aktor utama disini terlihat menduplikasi Arnold dari segi fisik terbukti tubuh kurusnya seakan disulap menjadi gembung berotot. Saya tidak katakan ia bermain buruk disini tetapi imagenya memang lebih ke arah aktor pintar yang mengandalkan akting daripada fisik. Braga cukup meyakinkan karena terlihat maskulin dan tangguh, pantas rasanya ia sebagai ikon wanita satu-satunya dalam film ini. Sebaliknya Fishburne nyaris tidak kebagian peran berarti lewat beberapa menit kemunculannya. Gracepun masih kurang cocok untuk tampil kejam seperti itu. Sisanya seperti tidak teridentifikasi karena cast yang terlalu banyak dan tidak terfokus padahal mereka merupakan bintang-bintang berkualitas dalam list Hollywood.
Menurut saya, Predators versi baru ini lebih menyerupai permainan mortal kombat alias membunuh atau dibunuh terlepas dari ketidak seimbangan antara dua pihak yang bertikai. Bukankah itu yang menarik dimana yang kuat tidak selalu menang dan yang lemah tidak selalu kalah? Sebuah episode franchise tenar yang dibekali spesial efek canggih tapi tidak terlalu meyakinkan, lebih banyak dibantu dengan pencahayaan minim dan setting malam hari. Belum lagi dikombinasikan dengan plot cerita yang simpel tapi tidak sampai memberikan kreatifitas yang baru ataupun twist yang patut ditunggu di endingnya.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$52,000,688 till Oct 2010

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 10 Juli 2010

THE DESPICABLE ME : Kesulitan Baru Si Pencuri Ulung

Quotes:
Gru-We are going to pull of the TRUE crime of the century... we are going to steal the MOON!

Storyline:
Setelah sukses melakukan pencurian-pencurian besar di seluruh dunia tidak membuat Gru puas. Ia merencanakan pencurian terbesar dalam sejarah yaitu mencuri bulan! Untuk itu ia dibantu asistennya, Dr. Nefario dan segerombolan minions pekerja demi mengambil pistol pengecil benda yang dimiliki oleh saingan beratnya, Vector yang jauh lebih muda. Sayangnya Gru tidak bisa menandingi kelengkapan fasilitas mewah Vector sampai ia melihat tiga anak yatim piatu, Margo, Edith dan Agnes yang berhasil memasuki kediaman megah Vector. Segera saja Gru memanfaatkan tiga gadis kecil kesepian itu yang sebetulnya mendambakan kehadiran seorang ayah. Akankah misi Gru berhasil dan mengubah hidupnya pada akhirnya?

Nice-to-know:
Adegan saat Gru mengenakan pakaian luar angkasa sebelum memasuki roket mengingatkan kita pada plot serupa dalam Armageddon (1998).

Voice:
Pertama kali mengisi suara kartun lewat Over The Hedge (2006), Steve Carell kali ini beraksen Rusia sebagai si pencuri ulung, Gru
Jason Segel sebagai Vector
Russell Brand sebagai Dr. Nefario
Julie Andrews sebagai Gru's Mom
Will Arnett sebagai Mr. Perkins
Kristen Wiig sebagai Miss Hattie
Miranda Cosgrove sebagai Margo
Dana Gaier sebagai Edith
Elsie Fisher sebagai Agnes

Director:
Kolaborasi pertama sekaligus film kedua bagi Pierre Coffin dan Chris Renaud yang sebelumnya menangani masing-masing Gary's Fall (2003) dan No Time for Nuts (2006).

Comment:
Merupakan salah satu animasi yang paling ditunggu di musim panas 2010 ini sudah mencuri perhatian publik saat trailernya dirilis beberapa bulan yang lalu. Jika biasanya sebuah film menampilkan trailer dari rangkuman adegan-adegan terbaiknya, tidak demikian dengan animasi ini yang masih menyimpan beribu-ribu kejutan di dalamnya. Tidak percaya?
Plotnya bisa dibilang tidak terlalu orisinil tetapi tetap terasa fresh karena kreatifitas tinggi yang dikembangkan trio Ken Daurio, Sergio Pablos dan Cinco Paul. Terbagi dalam dua subplot utama yaitu perseteruan antar pencuri handal dan peran orangtua angkat terhadap bocah-bocah malang. Yang spesial adalah pemberian nyawa pada karakter-karakternya dengan porsi yang adil. Kita akan melihat sosok Gru yang egois kasar dan bekerja sangat efektif, Vector yang kaya raya dan cerdas, ketiga bocah perempuan yang nakal sekaligus menggemaskan dan lain-lain. Visualisasi mereka juga kaya warna dan gaya, belum lagi anjing Gru yang ganas dan bergigi tajam serta ribuan minions berwarna kuning dengan polah tingkah masing-masing yang tidak terduga. Proses dubbing juga terbilang tepat karena semua pengisi suara melakukan tugasnya dengan baik, kredit khusus buat Carell yang beraksen Rusia dengan baik. Suara Pharell Williams juga mengalun dengan indah mengiringi momen-momen khusus.
Efek 3D yang dibebatkan pada film ini juga terbilang memuaskan. Warna-warni yang bertabrakan tidak akan membuat anda pusing karena disajikan dengan tone warna yang soft dan sangat screen-friendly. Ohya, jangan buru-buru meninggalkan bioskop setelah credit title karena beberapa minions akan menyapa anda "langsung" ke luar layar! Segala aspek tersebut membuat The Despicable Me akan memuaskan audiens tanpa memandang batasan umur. Tua muda akan menikmatinya sebagai hiburan yang menyenangkan dengan berbagai balutan pesan moral. Solid and charming!

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$21,690,000 till early July 2010.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 09 Juli 2010

THE UNBELIEVABLE : Perjalanan Dokumentasi Fenomena Paranormal

Storyline:
Didasarkan pada siaran televisi popular Hongkong, The Unbelievable yang mengisahkan beberapa fenomena paranormal/supernatural yang terjadi di berbagai belahan dunia. Guru feng shui Master Szeto dan reporter cantik Rachel Chan beserta segenap kru melakukan perjalanan ke pedalaman Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Thailand untuk menemukan hal-hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bagaimana mereka dapat bekerja di tengah kekuatan atau suasana baru yang masih sangat asing itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Win’s Entertainment Ltd.

Cast:
Szeto Fat Ching
Rachel Chan
Chan Tat Nin
Kar Lok Chin
Lau Yung Hung
Law Chi Leung
Ping Ha
Tang Yan
Chen Kuan Tai

Director:
Wong Tak Bun.

Comment:
Mungkin bagi anda para penikmat acara jelajah di televisi baik makanan maupun supernatural bisa jadi jatuh cinta dengan film ini. Asalkan anda tidak bosan alias dengan mudah menduga apa saja yang akan tampil di layar. Sebaliknya bagi anda yang tidak pernah menyaksikan acara sejenis, rasanya akan tersentak kaget.
Nyaris tidak ada plot cerita, anggaplah ini sebuah documentary trip movie. Kasus demi kasus baru akan ditemui tim kru The Unbelieveable mulai dari kerasukan setan, ilmu hitam, praktek sihir, pengusiran setan, rumah berhantu, papan Ouija, pelepasan arwah dsb. Semua itu dijamin akan membuat anda takut ataupun jijik menyaksikan adegan eksekusi binatang dengan ekstrim plus berbagai ritual nudis dengan eksplisit. Terkadang cukup mengganggu memang apalagi jika menyebabkan anda muntah. Who knows?
Sutradara Wong Tak Bun menggunakan bahasa Konghu walau bersetting di Asia Tenggara. Ia dengan terampil memainkan pergerakan kamera senyata mungkin seakan penonton diajak langsung berada di belakang para kru tersebut. Permainan cahaya dan juga night mode bernuansakan hijau cukup mencekam untuk scene yang melibatkan arwah. Jajaran castnya juga berhasil diarahkan untuk serileks dan sewajar mungkin selama syuting berlangsung.
Pada akhirnya The Unbelievable akan membawa pengalaman baru bagi anda. But my suggest is “Don’t take it too seriously. Just watch and conclude in the end!”

Durasi:
75 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 08 Juli 2010

ISTRI BO'ONGAN : Membawa Pulang Pasangan Kontrak

Storyline:
Dirasa kedua orangtuanya tidak akan menyukai kekasihnya Amara yang wanita karir sukses, Arya nekad mengadakan kontes mencari pacar sewaan. Hal tersebut terdengar oleh Fani, eks pencuci mobil yang sedang membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya yang sakit di kampung. Ditemani sahabatnya yang gay, Hans diluar dugaan Fani terpilih. Setelah menyepakati perjanjian, Arya dan Fani pun pulang ke Magelang untuk bertemu Pak dan Bu Koesno sekaligus merayakan hari peringatan pernikahan mereka yang ke-30. Berbagai kejadian tak terduga membuat Arya mulai mengenal Fani lebih jauh lagi sekaligus menimbulkan kemelut cinta segitiga dengan Amara yang posesif itu. Siapa yang akhirnya dipilih Arya?

Nice to know:
Diproduksi oleh Kanta Indah Film dengan produser Budi Mulyono dan Koko Soenaryo.

Cast:
Masih mempertontonkan kejenjangan kaki dan semampai tubuhnya selayaknya dalam Taring baru-baru ini, Fahrani berperan sebagai Fani yang benci laki-laki hidung belang.
Masih serupa penampilan "rapi"nya seperti dalam The God Babe, Dwi Sasono bermain sebagai Arya yang lugu dan tidak sensitif.
Julia Perez sebagai Amara
Jessica Iskandar sebagai Dini
703 Richard sebagai Hans
Tarzan Srimulat sebagai Pak Koesno
Bari Bintang sebagai Dewa

Director:
Kerjasama kedua sutradara Arie Aziz dengan Fahrani setelah Perjaka Terakhir (2009).

Comment:
Jika anda pernah menyaksikan trailer film ini, maka itulah yang anda dapatkan. Ya! Semua adegan "penting" tersebut bahkan nyaris dihabiskan di lima belas menit pertama. Prolog dibuka dengan adegan di ranjang (bukan adegan ranjang) Arya dan Amara saat ibunya tiba-tiba menelepon dan meminta putra semata wayangnya itu hadir dalam hari ulang tahun pernikahannya. Tanpa dijelaskan panjang lebar Arya langsung mencap Amara bukan "tipe" orangtuanya dan sepakat menggelar kontes tolol itu. Dan kebetulan lain tanpa alasan kuat, Fani terpilih yang lagi-lagi didampingi sahabat karib yang "setengah" itu. Tidak meyakinkan untuk diteruskan? Sayapun merasa begitu. Namun saya tetap berharap akan ada sesuatu di pertengahan yang setidaknya tetap membuat saya terjaga, terlebih tone warna kulit yang digunakan sangat menina-bobokan mata.
Semakin dalam alur bergulir, saya malah merasa ketiga tokoh utamanya berakting sendiri-sendiri terutama Fahrani yang dominan sekali dengan bahasa tubuhnya. Dwi dan Jupe berganti-gantian dengan scene masing-masing yang sebetulnya tidak terlalu penting termasuk adegan syur Jupe dan Gaston yang bisa jadi salah satu scene yang paling layak ditunggu disini. Belum lagi Jessica dan Joe juga mendapat porsi yang seharusnya menyegarkan tetapi malah menganggu dengan repetisi yang itu-itu saja. Seharusnya interaksi Dwi dan Jupe ataupun Dwi dan Fahrani bisa lebih diasah untuk membangun konflik dengan lebih meyakinkan. Sayangnya hanya di menit-menit terakhir, adegan berduaannya Dwi dan Fahrani dengan background pemandangan kota Magelang yang rupanya cukup indah itu ditampilkan. Ah itupun rasanya belum cukup untuk menguatkan alasan mereka jatuh hati satu sama lain.
Sutradara Arie hanya berusaha menghibur tetapi tidak akan membuat audiens terkesan dengan plot yang sudah berjuta-juta kali ditawarkan tanpa kreatifitas yang memadai. Alhasil Istri Bo'ongan cenderung flat di sepanjang durasinya apalagi ditutup dengan klimaks yang tidak bernyawa seperti itu.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 07 Juli 2010

POCONG KELILING : Saat "Poling" Resahkan Warga Komplek

Storyline:
Jamal dan istrinya Astrid dilanda kepanikan saat satu-persatu penghuni rumah di kompleks sekitar mereka mulai pindah. Semua dikarenakan adanya pocong keliling yang kerapkali mengetuk pintu utama warga setempat setiap malam. Rumah-rumah yang ditinggalkan pun kosong dan sulit sekali mencari calon pembeli apalagi isu tersebut sudah santer kemana-mana yang menarik minat kameraman dan pembawa acara yaitu Akbar dan Monique yang sepakat meliput kejadian itu. Ada lagi Bombay dan Asbun, si maling kuburan yang mengambil kesempatan dari kericuhan tersebut. Ditambah kepala keamanan setempat, Dadang dan wanita simpanan, Barbara yang juga heboh sendiri. Apa yang sesungguhnya menyebabkan teror pocong keliling tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dan gala premierenya diselenggarakan di fX pada tanggal 6 Juli 2010.

Cast:
Catherine Wilson sebagai Barbara
Indah Kalalo sebagai Astrid
Donita sebagai Monique
Indra Birowo sebagai Jamal
Eric Scada sebagai Dadang

Director:
Pernah meraih predikat Sutradara Terbaik FFI lewat May (2008), Viva Westi menulis dan menyutradarai komedi horor pertamanya ini.

Comment:
Entah mengapa banyak sutradara berbakat Indonesia yang sengaja mendegradasikan dirinya belakangan ini demi mengikuti trend investor film lokal. Kali ini saya berbicara mengenai Viva Westi. Jujur saya tidak terlalu menggemarinya tapi mengapresiasi Suster N dan May yang cukup berkarakter itu.
Saya akan menyoroti 4 pasangan yang merangkai cerita dalam film ini. Pertama, dua orang maling kuburan yakni Bombay dan Asbun yang berusaha melucu tetapi sayangnya basi yang membuka prolog film yang entah apa relevansinya dengan tema cerita. Bahkan melibatkan hantu wanita Cina kaya yang meninggal? Oh no! Kedua, pasutri Jamal dan Astrid yang mulai mendingin dan sibuk dengan "mainan"nya masing-masing, Ketiga, kru televisi Monique dan Akbar yang ditugaskan liputan "tidak jelas" dan benar-benar terkesan salah tempat dan waktu. Keempat, pasangan Barbara dan Dadang yang baru diekspos di akhir cerita yang sepertinya bisa muncul dan menghilang lebih sering dibanding penampakan itu sendiri. Delapan orang itu secara bergantian mengambil posisi mereka dalam scene masing-masing. Namun sayangnya tidak ada benang merah cerita yang jelas yang mampu mempertegas karakterisasi yang berusaha dibawakan.
Pocong Keliling yang ditampilkan terlalu datar dan konstan sepanjang film ini akan membuat anda mati kebosanan sambil menyaksikan adegan demi adegan dengan rasa getir yang amat sangat selama kurang dari satu setengah jam. Saya pun terlelap dengan sukses tanpa menyadari anak-anak remaja tanggung yang entah sengaja atau berniat iseng sesekali melempari butiran-butiran popcorn dari arah belakang.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 06 Juli 2010

ALL ABOUT STEVE : Ketika Wanita Planet Obsesikan Kameraman

Quotes:
Mary Horowitz-Mary, why do you wear those stupid red boots all the time? You wanna know why? Because it makes my toes feel like 10 friends on a camping trip, that's why.

Storyline:
Tidak semua orang bisa menyukai Mary yang bekerja sebagai pembuat teka-teki silang di salah satu surat kabar ternama New York. Pasalnya terlalu Mary banyak bicara meskipun terhadap orang yang baru dikenalnya. Orangtuanya sepakat mengatur kencan buta bagi putrinya itu dengan Steve, seorang kameraman program televisi CCN yang dipandu oleh Hartman Hughes. Mary pun jatuh cinta pada Steve sejak pandangan pertama. Sebaliknya Steve yang awalnya antusias malah menganggap Mary gila karena selalu “berbicara”. Sayangnya Mary tidak memahami signal dari Steve dan malah menyusulnya melakukan peliputan lapangan. Serangkaian kejadian menarik pun terjadi dan saatnya Mary belajar dari semua itu.

Nice-to-know:
Di luar dugaan, Sandra Bullock datang ke acara Razzie Award untuk menerima penghargaan Aktris Terburuk dengan membawa sekeranjang penuh dvd All About Steve dan membagi-bagikan pada audiens untuk ditonton. Jika memang mereka tidak setuju ia menerima penghargaan tersebut, Sandra akan mengembalikan piala tersebut tahun depan dan mentraktir minum semua orang!

Cast:
Tak banyak yang tahu Sandra Bullock pernah bermain dalam serial televisi Working Girl pada awal 1900an. Disini ia berperan sebagai Mary Horowitz yang aneh dan tidak bisa bergaul dengan normal dengan orang-orang di sekitarnya.
Karir akting layar lebar pertama dilakoninya dalam Wet Hot American Summer (2001) dan kali ini Bradley Cooper melakoni tokoh Steve, seorang kameraman tampan yang digilai Mary.
Baru saja mengisi suara dalam Aliens In The Attic, Thomas Haden Church bermain sebagai Hartman Hughes, pemandu liputan khusus CCN yang flamboyan.

Director:
Pria kelahiran New Jersey bernama Phil Traill ini memulai kinerja penyutradaraannya lewat film tak ternama berjudul Hiccup (1998).

Comment:
Jika anda mengharapkan komedi romantis melihat poster film ini, rasanya anda akan kecewa. Saya sendiri bingung mengkategorikan film ini apakah drama satir, komedi hitam atau apapun namanya itu. Pada prolog film kita diajak berkenalan dengan tokoh Mary yang tinggi secara IQ tetapi rendah secara EQ lengkap dengan pola tingkahnya yang ajaib sepanjang durasi. Bagaimana pandangan hidupnya, pola pikirnya, caranya berkencan, gayanya bersosialisasi dan sejuta kebiasaan lainnya. Dari fakta tersebut rasanya ingin mengajak penonton untuk sejenak bersimpati padanya. Di beberapa scene bisa jadi berhasil tetapi lebih dominan faktor terganggunya! Dan Sandra Bullock sedikit berjudi disini. Ratu komedi romantis ini memang saya akui sukses membawakan karakter yang sangat unik dan berbeda dari biasanya. Namun sepertinya penonton tidak akan banyak peduli padanya. Kehadiran Bradley Cooper sebagai love interestnya juga tidak membantu. Tokoh Steve yang dilakoninya seolah hanya tersenyum, terkejut dan menghindar tanpa banyak improvisasi yang penting. Hm, keduanya juga bertukar chemistry yang janggal terlepas dari skrip yang mengharuskan seperti itu atau tidak. Minimnya pengalaman sang sutradara Traill juga berpengaruh besar pada kegagalan hasil akhirnya. Alhasil All About Steve hanya sedikit menawarkan sisi humanisme manis di bagian ending tetapi secara keseluruhan mengajak audiens menyaksikan makhluk-makhluk planet berakting di depan kamera termasuk Haden Church yang kaku itu. Rasanya lebih baik berpikir dalam mengisi teka-teki silang Mary selama satu setengah jam dibandingkan menonton film ini. Hmmm..

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$33,860,010 till early Dec 2009.

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent