Quotes:
Connor Mead-Someone once told me that the power in all relationships lies with whoever cares less, and he was right. But power isn't happiness, and I think that maybe happiness comes from caring more about people rather than less...
Cerita:
Fotografer handal, Connor Mead memiliki reputasi buruk sebagai playboy yang menyukai wanita cantik dan segera mencampakkannya setelah jatuh cinta padanya. Sampai pada suatu ketika, Connor harus menghadiri pernikahan adik kandungnya, Paul dan berusaha menggagalkannya karena ia selalu menganggap pernikahan adalah ide yang mengerikan. Disitulah tiba-tiba Connor didatangi tiga hantu wanita yang mengajaknya berkeliling melihat masa lalu, masa kini dan masa depan. Akankah perjalanan tersebut bisa mengubah sudut pandang Connor sampai menemukan cinta sejatinya?
Gambar:
Hampir semua scene dilakukan di Massachusetts termasuk Castle Hill Crane Estate dan Martha & Mary Chapel. Penampakan hantu divisualisasikan dengan wajar dan cukup menarik.
Cast:
Mengawali karier aktornya dalam Dazed and Confused (1993), Matthew McConaughey disini bermain sebagai Connor Mead, playboy yang mencintai kebebasan dan menganggap cinta adalah sesuatu yang mustahil.
Debutnya dalam Dead Man's Walk (1996) telah membawa Jennifer Garner hingga tahap ini. Karakter Jenny Perotti yang lembut dan cerdas dijiwainya dengan cukup baik.
Memenangkan Oscar dalam Wall Street (1987), aktor kawakan Michael Douglas kali ini kebagian peran hantu Uncle Wayne yang flamboyan.
Juga didukung oleh Breckin Meyer dan Lacey Chabert sebagai sepasang mempelai, Paul & Sandra.
Sutradara:
Pria Amerika kelahiran tahun 1964, Mark Waters paling saya ingat lewat karyanya, Just Like Heaven (2005). Disini ia kembali dengan tema serupa yakni kemunculan hantu untuk mengungkap cinta sejati.
Comment:
Selayaknya film-film komedi romantis, awalnya kita diajak untuk melihat sang Don Juan yang terlihat sempurna yang sayangnya diperankan McConaughey. Mengapa sayang? Sebab sudah lebih dari tiga kali, ia bermain dalam genre yang sama dengan peran yang tidak jauh berbeda. Tapi tidak apa karena tetap menarik menyaksikannya beradu chemistry dengan Garner disini. Konsep film ini terasa lucu karena pendekatan yang digunakan agak berbeda dari kebanyakan yakni kemunculan hantu masa kini, masa lalu dan masa depan dalam proses mengubah seseorang. Dari sini kita diajak menelusuri sebab akibat perubahan pola pikir sang Don Juan terhadap cinta. Beberapa humor yang ditampilkan memang sedikit vulgar tapi tetap relevani dengan situasi cerita yang ingin dibangun. Pada akhirnya Ghosts Of Girlfriends Past hanyalah sebuah komedi romantis standar yang masih bisa menghibur. Terima kasih juga bagi sang sutradara yang berhasil menerjemahkan ide sederhana menjadi tontonan kreatif yang menyegarkan.
Durasi:
100 menit
U.S. Box Office:
$52,236,131 till August 2009
Overall:
7.5 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Quotes:
Maezumi: I Know the problem. Your Forehead is too small. A small Forehead means a small brain. Like a monkey. You should be swinging from a tree screaming "kya kya kya".
Storyline:
Abby nekad menyusul kekasihnya Ethan ke Jepang dengan mengandalkan pekerjaan di kantor hukum. Sayangnya Ethan kemudian pergi ke Osaka dan meninggalkan Abby di Tokyo. Dalam kesedihannya, Abby menemukan kebahagiaan lewat semangkuk ramen di kedai seberang tempat tinggalnya. Iapun bertekad berguru pada Maezumi yang terkenal galak itu apapun tantangannya. Lewat serangkaian proses, Abby pun belajar untuk menemukan identitas diri plus semangatnya kembali.
Nice-to-know:
Film terakhir Brittany Murphy yang beredar di Indonesia lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex.
Cast:
Pernah memenangkan Piala Standout Performance by a Young Actor – Female, Brittany Murphy bermain sebagai Abby
Toshiyuki Nishida sebagai Maezumi
Park Sohee sebagai Toshi Iwamoto
Kimiko Yo sebagai Reiko
Tammy Blanchard sebagai Gretchan
Director:
Merupakan film layar lebar ketiga bagi Robert Allan Ackerman setelah Safe Passage (1994) dan The Reef (1999).
Comment:
Brittany Murphy pernah dan sedang menjadi Hollywood’s next big actress. Semua orang menyukainya dan film-film yang dibintanginya mendapat sambutan bagus dari kritikus walaupun hasil box-office tidak bisa selalu menjadi acuannya. Mendengar kabar bahwa ia meninggal dunia di usia emas bagaikan petir di siang bolong. Sulit dipercaya tapi itulah yang terjadi. Tidak ada salahnya saya menaruh kredit khusus bagi film terakhirnya yang rilis di Indonesia ini.
Skrip yang ditulis oleh Becca Topol ini secara mendasar berkisah tentang makanan yaitu ramen pada khususnya. Sesuatu yang tidak terlalu mengejutkan karena sudah pernah dilakukan berkali-kali sebelumnya. Hanya saja kultur Jepang bisa jadi memberikan citarasa yang berbeda dengan spirit dan cara pandangnya yang unik itu. Film ini tidak juga dapat dikatakan persinggungan Barat dan Timur meskipun elemen itu tetap ada di sebagian plotnya.
Brittany menjiwai perannya dengan sangat baik. Jika bukan dia rasanya karakter Abby akan dicap bodoh, putus asa, kekanak-kanakan, pemalas, tidak bertanggungjawab, bermental pesuruh dsb. Tapi di tangannya semua kesan negatif tersebut menjadi berkonotasi menyenangkan. Itulah sebabnya penonton akan bersimpati padanya dan mau terus mengikuti perjuangan Abby meraih cita dan cintanya sekaligus meskipun prosesnya cukup panjang.
Nishida dan Yo juga menghidupkan karakter suami istri disini layaknya yin dan yang. Maezumi yang dari luar terlihat emosional, sinis, meledak-ledak memang menyebalkan tetapi diam-diam kita mengagumi kerja keras dan kedisiplinannya serta berempati akan rasa rindunya pada putra semata wayang yang tak kunjung pulang. Sebaliknya Reiko merupakan tokoh yang menenangkan dengan kesabaran dan sifat keibuannya seakan melambangkan kesantunan wanita Asia pada umumnya.
Sutradara Ackerman tidak terlihat canggung bermain dengan pernak-pernik Asia. Ia tidak berusaha mem-Barat-kan Tokyo tetapi tetap mempertahankan keotentikannya. Suasana restoran ramen yang sederhana itu berhasil dimaksimalkan sebagai setting yang tidak biasa, lengkap dengan tatami dan pintu kertasnya. Sayangnya semua proses yang sudah terbangun dengan konsisten itu sedikit melemah di bagian endingnya yang seharusnya bisa lebih meaningful.
The Ramen Girl sepertinya akan lebih mudah dijual di pasar Asia dibandingkan Amerika itu sendiri terlebih bagi anda yang pernah merasakan sendiri kenikmatan ramen asli yang kaya rasa itu. Senang rasanya ada film Hollywood yang syuting di Jepang tanpa embel-embel hantu Sadako ataupun samurai kuno sebagaimana biasanya. Jangan harapkan sebuah komedi romantis kali ini karena drama bersemangatkan ketekunan mencapai kesempurnaan hidup jelas tetap mampu menghibur anda. A hot bowl of Japanese ramen after movie, anyone?
Durasi:
100 menit
Overall:
7.5 out of 10
Movie-meter:
Cerita:
Diam-diam Lila mencintai Ferry yang sayangnya sudah menjalin hubungan dengan Reina. Hingga pada suatu ketika bersama Vivin dan Bimo, mereka berlima menginap di villa orangtua Reina. Malang saat asma Lila kambuh, mereka kesulitan mencari pertolongan dan menemukan sebuah rumah tua dekat danau untuk beristirahat sementara. Panik saat menemukan penampakan hantu wanita mengerikan dan Lila yang menghilang secara misterius, keempat sahabat tersebut meninggalkan rumah tua tersebut terburu-buru. Sekembalinya pada kesehariannya, Reina, Ferry, Vivin dan Bimo diteror terus menerus. Bersama Yunita kakak Lila, Vivin bertekad kembali ke rumah tua tersebut untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya menimpa Lila?Gambar:
Gambar-gambar minimalis dengan pencahayaan temaram masih menjadi andalan film ini. Sayangnya sosok hantu yang ditampilkan masih terlalu abstrak.
Cast:
Kerjasama horor kedua dengan sang sutradara setelah Lewat Tengah Malam, Joanna Alexandra berperan sebagai Vivin yang setia kawan.
Julia Perez turut mempertontonkan keseksiannya sebagai Yunita yang berusaha menemukan adiknya yang hilang secara misterius.
Cathrine Wilson
Garneta Haruni
Zaky Zimah
Andrew Ralph Roxburgh
Furry Citra
Sutradara:
Koya Pagayo yang memiliki beberapa alternate nama seharusnya tidak asing lagi bagi para penikmat film lokal khususnya genre horor.
Comment:
Seperti sudah saya katakan sebelumnya, tidak sukar menebak template horor yang digunakan Koya. Sekelompok remaja yang bersenang-senang untuk kemudian terdampar di sebuah bangunan tua yang menyimpan masa lalu mengerikan dan dihantui satu persatu untuk kemudian mati karena dendam. Lantas jika sudah tahu, apalagi yang harus diharapkan dari karya-karyanya? Terus terang, setiap saya menyaksikan hal serupa, saya hanya ingin tahu akan sehancur apa hasil akhirnya terlepas dari sekeras apapun usaha yang dilakukan Koya (jika memang ia cukup berusaha). Tak hanya itu, setting dan gaya penyutradaraan pun nyaris sama. Hanya perlu mengganti cast saja dan kali ini saya sedikit terhibur karena pilihan jatuh pada Joanna yang selalu tampil menyegarkan. Berhati-hatilah untuk mengulangi formula yang sama ke depannya karena penonton sudah sangat bosan, terbukti saya menjadi satu-satunya penonton di pertunjukan weekend siang dalam studio PIM 21 hari itu. Bayangkan!
Durasi:
80 menit
Overall:
6 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Quotes:
Michael Jackson: With the love, L.O.V.E.
Cerita:
Dibuka dengan teks singkat alias catatan kaki berbunyi “For the fans..”. Ya film ini memang diabadikan khusus penggemar setia ataupun orang-orang yang pernah mengenal nama Michael Jackson. Anda akan dibawa memasuki dunianya dan menyaksikan sendiri beberapa aksi panggung yang melejitkan lagu "Wanna Be Startin' Somethin'", “Speechless", "Jam", "Bad", "They Don't Really Care About Us", "Human Nature", “Smooth Criminal", "The Way You Make Me Feel", "I Just Can't Stop Loving You", “Thriller", "Beat It", "Who Is It", "Black or White", "Earth Song", “Billie Jean”, “Man In The Mirror”, dan beberapa lagu hit Jackson 5.
Gambar:
Hampir keseluruhan syuting dilakukan di Staples Center - 1111 S. Figueroa Street, Downtown, Los Angeles, California, USA dimana Jacko mempersiapkan konser akbar yang sedianya dilangsungkan pertengahan 2009 ini.
Cast:
Megastar Michael Jackson sesungguhnya pernah tampil sekilas dalam Men in Black II (2002) sebagai Agent M, mendampingi Will Smith dan Tommy Lee Jones. Kelahiran Indiana, 29 Agustus 1958, ia meninggal di usia 51 tahun karena penyebab yang disinyalir pengaruh konsumsi obat-obatan yang menggerogoti kesehatan tubuhnya.
Alex Al … Electric and Synth Bass
Nick Bass ... Dancer
Michael Bearden ... Keyboards
Daniel Celebre ... Dancer
Mekia Cox ... Dancer
Misha Gabriel ... Dancer
Chris Grant ... Dancer
Judith Hill ... Vocalist
Dorian Holley ... Vocal Supervision
Shannon Holtzapffel ... Dancer
Devin Jamieson ... Dancer
Bashiri Johnson ... Percussion
Charles Klapow ... Dancer
Jonathan Moffett ... Drums
Tommy Organ ... Guitar
Oranthi ... Lead Guitar
Darryl Phinnessee ... Vocalist
Mo Pleasure ... Keyboards / Trumpet
Dres Reid ... Dancer
Ken Stacey ... Vocalist
Tyne Stecklein ... Dancer
Timor Steffens ... Dancer
Sutradara:
Nama Kenny Ortega paling dikenal lewat trilogy High School Musical dari 2006-2008 walau baru yang terakhir yang diedarkan di layar lebar. Semuanya disambut dengan baik oleh public sehingga karir ke depannya terbentang lebar.
Comment:
Walaupun bergaya dokumenter, film ini menyajikan potret perfeksionis seorang Jacko yang merancang konsernya dengan sangat telaten mulai dari setting panggung, lighting, sound, koreografi dan semua efek pendukung. Belum lagi audisi besar-besaran yang dilakukannya untuk mencari dancer terbaik di seluruh Amerika. Beruntung semua orang-orang yang bekerjasama dengannya sangat kooperatif dan menghargai Jacko. Beberapa persiapan yang dilakukannya dalam menyajikan lagu-lagunya sangat cemerlang sehingga kita seperti diajak menonton konser megah yang sangat memanjakan indera penglihatan dan pendengaran kita. Dari segala polah tingkah lakunya di atas panggung, kita seakan diajak mengenal sosok Jacko lebih dekat, dimana kita selama ini melihatnya sebagai orang yang dingin, aneh, tidak sehat, ambisius, bertingkah dan sebagainya. This Is It adalah sebuah rangkuman hari-hari terakhir Jacko, film yang bisa dinikmati semua orang, terlepas penggemarnya atau bukan.
Durasi:
100 menit
U.S. Box Office:
$34,442,926 till Nov 2009
Overall:
8 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Quotes:
Jessica-Please God don't let me get killed. Please God don't let me get killed.
Cassidy-Stop giving him ideas.
Cerita:
Nyaris lulus dari kampus membuat pesta pribadi, enam anggota Theta Pi masing-masing Cassidy, Jessica, Claire, Ellie, Chugs dan Megan sepakat menggoda Garrett, adik Chugs di suatu kamar asmara. Malang karena hal tersebut berbuntut pada kematian Megan secara mengenaskan. Mereka kemudian sepakat menguburkan Megan di suatu pertambangan dan menyimpan rapat-rapat rahasia tersebut. Delapan bulan berlalu, tepat pada hari graduasi, kasus Megan kembali terkuak saat ponsel kelima saudari berbunyi secara bersamaan. Mau tidak mau mereka harus kembali memutar otak untuk menyelesaikan hal tersebut sampai benar-benar akhir sebelum satu-persatu menemui ajalnya.
Gambar:
Keseluruhan syuting dilakukan di Pennsylvania termasuk Soldiers and Sailors Museum and Memorial - 4141 Fifth Avenue untuk adegan graduasi.
Act:
Lima bidadari ditampilkan di film ini yang berakting berlari dan menjerit sepanjang film masing-masing Briana Evigan sebagai Cassidy, Leah Pipes sebagai Jessica, Jamie Chung sebagai Claire, Margo Harshman sebagai Chugs, Rumer Willis sebagai Ellie. Juga Audrina Patridge sebagai Megan, si korban utama di awal film.
Sutradara:
Memulai penyutradaraan sejak Beyond Suspicion (1997), Stewart Hendler memang banyak terlibat dalam genre thriller ataupun horor. Disini ia berusaha meremake film bergagasan sama yang pernah muncul di tahun 1983 lalu.
Comment:
Bisa dikatakan sebuah remake yang cukup berhasil jika dibandingkan Black Christmas (2006) atau Prom Night (2008). Plot ceritanya mungkin mengingatkan anda pada perpaduan Mean Girls dan I Know What You Did Last Summer dimana perkumpulan saudari kampus Theta Pi tersebut sudah disumpah untuk saling percaya, saling merahasiakan dan menjunjung solidaritas dimana kemudian terjadilah misteri pembunuhan yang baru bisa diungkap di akhir film. Tidak asing bukan? Untungnya thriller remaja ini berhasil menjaga tensi secara konsisten dari awal sampai akhir, terima kasih pada penampilan seksi para gadis-gadis tersebut yang cukup memanjakan mata dan saling melontarkan sindiran tajam satu sama lain. Beberapa scene pembantaian cukup sadis dan mengejutkan walau tidak ditampilkan secara eksplisit. Pelaku pembunuhan terasa dipaksakan "kerahasiaannya" sehingga memang tidak mudah untuk anda tebak. Secara keseluruhan, Sorority Row cukup menyenangkan sebagai sebuah tontonan ringan tanpa ekspektasi berlebihan terutama bagi anda pecinta genre slasher.
Durasi:
95 menit
U.S. Box Office:
$11,956,207 till Nov 2009
Overall:
7.5 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Quotes:
Laurie Strode-I'm not me.
Mya Rockwell-Who are you, then?
Laurie Strode-I'm Michael Myers' sister.
Cerita:
Beberapa waktu setelah pergulatan dengan psikopat pembunuh Michael Myers di sebuah bunker, Laurie Strode kerapkali dihantui mimpi buruk di tengah malam. Beberapa hari menjelang Halloween, Laurie semakin ragu bahwa Michael sudah tewas. Dugaan tersebut tidak salah karena Michael tengah kembali ke kota kelahirannya setelah lolos dari penjagaan mobil jenazah yang mengangkut tubuhnya. Lewat serangkaian peristiwa pembunuhan sadis, Laurie akhirnya mengetahui bahwa ia sebenarnya bernama Angel Myers dan saudari kandung Michael. Akankah tujuan Michael mendapatkan Laurie kembali berhasil?
Gambar:
Sebagian besar berlokasi di Georgia, USA, Halloween II kental dengan nuansa kelam malam yang mencekam. Beberapa adegan pembantaian teramat sadis walau diambil dari jarak jauh.
Cast:
Terakhir mendukung Obsessed (2009), Scout Taylor Compton kembali melanjutkan peran Laurie Strode. Disini ia terlihat lebih dewasa dan berusaha tegar menghadapi situasi sulit sekalipun.
Psikopat penjagal tinggi besar, Michael Myers dipegang oleh Tyler Mane yang pernah tampil dalam Troy (2004).
Psikiater Dr. Samuel Loomis dan Sheriff Lee Brackett masih dimainkan oleh dua actor kawakan, Malcolm McDowell dan Brad Dourif.
Sutradara:
Rob Zombie baru menghasilkan beberapa film dimana ia duduk di kursi sutradara. Namanya memang lebih dikenal sebagai penyanyi bersama grup bandnya yang pernah mengisi soundtrack Daredevil (2003) dalam tembang berjudul The Man Without Fear.
Comment:
Sempat kagum dengan usaha Zombie dalam meremake Halloween membuat saya berekspektasi lebih pada sekuelnya ini. Tetapi menit-menit awal yang menjanjikan hanya berhenti sampai memasuki dua pertiga film. Mengapa? Plot ceritanya hampir tidak ada karena scenario terasa dibuat dengan terburu-buru dan terkesan murahan. Karakterisasi Michael yang digambarkan detail psikologisnya di seri pertama kali ini hanya membunuh, membunuh dan membunuh dengan cepat dan sadis tanpa motif apapun sehingga terasa membosankan. Yang lebih mengganggu lagi, penampakan ibu kandung Michael dan kuda putih sepanjang Michael melakukan aksinya sungguh mengganggu. Maksud hati membangun visualisasi masa lalu sebagai paradigma Michael tetapi tidak tercapai korelasinya. Backsound klasik yang biasa melatarbelakangi Halloween series juga tidak terdengar samasekali disini. Cast meskipun sama tapi mereka tidak didukung penokohan yang kuat seperti sebelumnya, alhasil sulit bagi penonton untuk bersimpati pada sosok Laurie ataupun Sam Loomis. Kesalahan terbesar memang ada di sutradara yang seakan menghancurkan Halloween II sejak awal.
Durasi:
95 menit
U.S. Box Office:
$33,096,757 till Nov 2009
Overall:
6.5 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Cerita:
Lima sekawan masing-masing Ale, Jarot, Lukman, Sadat, Jago adalah geng penguasa daerah pinggiran sejak remaja. Dalam suatu peristiwa pertandingan sepakbola yang berbuntut pertikaian, Jarot tanpa sengaja membunuh seorang preman saat membela Ale yang mengakibatkan dirinya dipenjara bertahun-tahun. Kehidupan keras di penjara membentuk pribadi Jarot yang keras, terlebih ia merasa ditinggalkan teman-temannya seorang diri. Sekeluarnya dari penjara, Jarot bergabung dengan geng Naga Hitam yang selalu berseberangan dengan Ale dkk. Pada akhirnya, Jarot mungkin saja berhadapan langsung dengan orang-orang yang pernah dekat dengannya di masa lalu.
Gambar:
Seperti mendapat banyak influence dari film-film mafia Hongkong, gaya noir modern sedikit tertangkap disini. Terbukti gambar-gambar yang dihasilkan sedikit dark dengan tone yang cukup konsisten.
Act:
Baru saja tampil sebagai polisi konyol dalam The Police Movie, Vino Bastian kali ini berperan sebagai mafia muda penuh dendam, Jarot yang ditempa di penjara.
Terakhir terlibat dalam Susahnya Jadi Perawan, Fathir Muchtar disini bermain sebagai Ale, kepala geng yang ditakuti sahabat-sahabatnya.
Reza Pahlevi sebagai tokoh kunci, si bisu yang sulit ditebak.
Fanny Fabriana yang terakhir mendampingi Tora Sudiro dalam Preman In Love kebagian peran Aisya, love interestnya Jarot sekaligus adik kandung Ale.
Beberapa aktor debutan seperti Dion Wiyoko, Dallas Pratama, Ali Syakieb bermain sebagai Lukman, Jago dan Sadat.
Juga turut didukung oleh beberapa pemain senior seperti George Rudy, Agus Melasz, Ully Artha dll.
Sutradara:
Terakhir mengarahkan Vino dalam Realita, Cinta dan Rock & Roll yang cukup dipuji, Upi kembali setelah absen beberapa tahun dalam film Serigala Terakhir ini yang disebut-sebut film mafia pertama bergaya Indonesia. Akankah sukses seperti harapannya? Kita tunggu saja.
Comment:
Sulit rasanya menilai film ini secara keseluruhan karena dua unsur yang sangat bertolak belakang. Pertama, plot cerita yang sungguh terasa dipaksakan mulai dari awal sampai akhir sehingga agak tidak rasional. Hal tersebut berpengaruh pada skenario yang terkesan dibuat-buat dan dialog yang terkadang bodoh, tidak peduli sebaik apapun penjiwaan aktor-aktrisnya. Kedua, penggarapan yang dilakukan sebetulnya bisa dikatakan baik, terima kasih pada kemampuan sang sutradara. Konsistensi pengadeganan dibantu dengan backsound yang pas membuat film ini masih enak untuk diikuti. Jika kedua hal tersebut bersinergi, anda akan merasakan apa yang saya rasakan saat menyaksikannya, yaitu intensitas menonton yang asyik tetapi berkali-kali mengernyitkan kening. Durasi yang teramat panjang sama sekali tidak membantu, hanya memperpanjang bagian-bagian yang sebetulnya tidak perlu. Oleh karena kesalahan di rangka cerita, saya harus memberikan ponten rendah bagi Serigala Terakhir. Sayang sekali!
Durasi:
140 menit
Overall:
6.5 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Tagline:Attraction can be fatal
Storyline:Julian merupakan idola kampus karena jago taekwondo. Sayangnya karena masalah minuman keras membuatnya mendapat skorsing. Demi mengisi waktu luangnya, Julian setuju menjaga rumah megah Harry demi mendapat tambahan uang. Disanalah ia berjumpa gadis cantik berbikini merah yang diketahui bernama Anna yang dianggap keponakan Harry. Terjadilah percikan keintiman diantara mereka meski Julian sudah memiliki kekasih, Clare. Lambat laun Anna semakin obsesif dan Julian semakin terganggu insomnianya. Siapa sesungguhnya Anna?Nice-to-know:Diproduksi oleh Nexus 6 Films dengan bujet sekitar 1,5 juta dollar.Cast:Sebelum ini sempat muncul dalam Resident Evil : Extinction (2007), Christopher Egan bermain sebagai JulianBrooke Harmon sebagai ClareEmma Lung sebagai AnnaChristian Clark sebagai WesleyDirector:Kolaborasi sekaligus karya debut bagi Jeffrey Gerritsen dan John V. SotoComment:Di penghujung tahun 1980an pernah muncul sebuah thriller erotis sukses yang melejitkan nama Michael Douglas dan Glenn Close. Sejak saat itu banyak sekali film-film bertemakan sama dengan kualitas yang sangat jauh di bawahnya. Salah satu pengekornya adalah film buatan Australia ini yang dibintangi oleh aktor aktris yang dijamin belum pernah anda kenal sebelumnya. Sutradaranya pun baru memulai karirnya sehingga sinematografi yang dihasilkan agak miskin dan hanya memaksimalkan jelajah sebuah rumah luas nan mewah saja.Beruntung sekali film ini tidak jelas-jelas mengikuti pakem yang ada, tetapi membumbuinya dengan elemen supernatural memasuki pertengahan durasi film. Twist menarik di penghujung cerita disiapkan untuk anda. Penasaran? Saya tidak akan melakukan spoiler disini. Jangan cepat menyimpulkan film ini menarik dahulu. Masih banyak terdapat kelemahan mendasar diantaranya alur yang lambat dan sedikit pengabaian logika. Teror demi teror yang seharusnya bekerja dengan baik untuk genre seperti ini nyatanya seringkali menguap tanpa terselesaikan. Sayang sekali.Dari segi akting nyaris tidak ada yang istimewa. Julian yang digambarkan superior dalam olahraga malah terlihat "loyo" menghadapi gangguan. Emma sebagai antagonis juga tidak dibekali latar belakang yang cukup kuat untuk benar-benar diperangi protagonis dan penonton sekalipun. Sedangkan karakter Clare tidak mendapat porsi yang memadai untuk dikasihani. Alhasil Crush bisa jadi hanya akan membuang-buang waktu anda yang berharga. Jika anda memaksakan diri untuk tetap menontonnya sebaiknya langsung mulai dari pertengahan saja!Durasi:80 menitOverall:6.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Quotes:
Astro Boy-I was made ready
Cerita:
Seorang bocah cerdas, Toby tanpa sengaja tewas saat terkena ledakan percobaan ilmiah. Ayahnya Dr. Tenma berusaha membangkitkan kembali dengan membuat sebuah robot muda dengan kekuatan luar biasa "inti biru" dengan ingatan Toby. Sayang hal itu dianggapnya tidak dapat menggantikan putra yang dicintainya itu. Robot yang kemudian disebut Astro Boy itupun dibuang dari Metro City. Di tempat barunya, Astro berkenalan dengan Ham Egg, ayah sekumpulan anak-anak terlantar seperti Cora, Orrin, Sparx dsb. Berusaha menyembunyikan identitas aslinya, Astro malah terlibat dalam pertarungan robot-robot hasil rakitan Ham Egg. Sementara itu, terjadi kekacauan di Metro City saat Presiden Stone ngotot mengaktifkan "inti merah" untuk menguasai dunia. Tibalah saatnya bagi Astro untuk kembali dan menyelamatkan situasi dunia tempat ayah yang membuangnya itu.
Gambar:
Animasi yang ditampilkan memang masih kental dengan nuansa 2 dimensi tetapi diberi sentuhan modern sehingga terlihat lebih nyata dan halus.
Voice:
Aktor cilik ini awalnya bermain dalam Women Talking DIrty (1999) tetapi seiring waktu, Freddie Highmore cukup memiliki tempat di hati moviegoers dan kali ini dipercaya mengisi suara Toby alias Astro Boy.
Dr. Tenma oleh Nicolas Cage
Cora oleh Kristen Bell
Presiden Stone oleh Donald Sutherland
Dr. Elefun oleh Bill Nighy
Narator oleh Charlize Theron
Sutradara:
Film keduanya setelah Flushed Away (2006), David Bowers kini berkesempatan menangani salah satu manga terpopuler di dunia, Astro Boy yang telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa.
Comment:
Lima belas menit pertama terasaaaa sangat lambat dikarenakan dialog-dialog yang tidak berisi sama sekali sehingga membuat saya sempat terkantuk-kantuk di kursi terlebih setelah jam kerja yang melelahkan. Namun jika anda bisa melewatinya, niscaya plot cerita terasa lebih menarik terutama saat Astro meninggalkan Metro City. Dari sini tensi meningkat cukup tajam dikarenakan eksplorasi yang cerdas, fun dan menyentuh di beberapa bagian. Mungkin pada satu kesempatan, anda akan berpikir tentang Robots, Wall-E dan film-film sejenis produksi Hollywood tetapi ingatlah Astro Boy merupakan akar anime Jepang yang sudah mendunia. Oleh sebab itu masih ada nilai-nilai Timur yang diperlihatkan disini meskipun tim kreatif termasuk sutradara yang merupakan asli Amerika. Astro Boy memang berangkat dari beberapa ide kompleks yang jarang dibahas mengenai karakteristik robot yang abu-abu dan secara keseluruhan menawarkan animasi yang cukup menarik di tingkat yang lebih. Satu minus yang paling mencolok adalah theme alias background musik yang teramat miskin dimana hal tersebut biasanya sangat membantu film animasi.
Durasi:
85 menit
U.S. Box Office:
$6,702,923 opening week in end of Oct 2009
Overall:
7 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Quotes:
Marco-She’s hot, but she thinks she’s like the most talented person in school.
Victor Taveras-So maybe she is.
----------
Malik Washburn-I have talent.
Malik’s Mom-And who on Earth told you that?
Malik Washburn-You did.
Cerita:
Berdasarkan remake tahun 1980, ribuan bakat-bakat muda terpendam New York berkumpul untuk mengikuti audisi Seni Pertunjukan di Fiorello H. Laguardia High School. Tujuannya satu yaitu menjadi 200 orang yang lolos audisi dan mendapat training yang sangat ketat untuk mengejar impian mereka menjadi actor, aktris, penyanyi yang baik di bidangnya masing-masing. Tentunya semua itu tidaklah mudah karena proses yang harus dilalui teramat berat. Mimpi, harapan, angan-angan, ambisi, cita-cita pun membaur menjadi satu bagi remaja-remaja tersebut untuk menjawab semua tantangan yang ada.
Gambar:
Film bergaya semi documenter ini terasa sangat realistis. Adegan seni panggung yang ditampilkan sangat mengagumkan yang disyut langsung di Los Angeles dan New York City.
Cast:
Kay Panabaker sebagai Jenny Garrison
Asher Book sebagai Marco
Naturi Naughton sebagai Denise Dupree
Walter Perez sebagai Victor Taveras
Cody Longo sebagai Andy Matthews
Collins Pennie sebagai Malik Washburn
Kherington Payne sebagai Alice Ellerton
Anna Maria Perez de Tagle sebagai Joy
Paul McGill sebagai Kevin Barrett
Paul Iacono sebagai Neil Baczynsky
Megan Mullally sebagai Ms. Fran Rowan
Bebe Neuwirth sebagai Ms. Kraft
Kelsey Grammer sebagai Mr. Martin Cranston
Sutradara:
Berpengalaman mengarahkan serial teve, Dancelife pada tahun 2007, Kevin Tancharoen mendapat kesempatan meremake film berjudul sama produksi tahun 1980.
Comment:
Melakukan remake sebuah film adalah usaha yang tidak mudah karena penonton mau tidak mau akan membandingkan satu dengan yang lainnya. Itulah yang terjadi dengan Fame. Dari segi cerita, tidak banyak berubah, modernisasi kondisi coba dilakukan disesuaikan kondisi masa kini. Dari segi cast, beberapa remaja tampil mengagumkan seperti Kay, Collins dan Naturi, tetapi itu lebih karena kemampuan seni mereka yang memang baik. Sisanya hanya “tampil” dan “tampil” tanpa banyak improvisasi. Entah harus berterima kasih pada skenario atau tidak yang memang tidak memungkinkan mereka untuk melakukan itu dikarenakan focus karakter yang cukup sulit dibagi dengan adil. Peran sutradara sangat penting disini dan Kevin Tancharoen yang bisa dikatakan hanya berpengalaman menggarap video musik atau konser terlihat gagap mengadopsi esensi sebuah film musical. Pendek kata, Fame hanyalah sebuah tontonan musical seni panggung yang bergaya semi documenter yang untungnya didukung dengan beberapa penampilan memukau dari remaja-remaja berbakat tersebut yang mungkin saja menggetarkan dan menginspirasi anda yang menyaksikannya.
Durasi:
100 menit
U.S. Box Office:
$22,206,056 till end of Oct 2009
Overall:
7 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!