XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label luna maya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label luna maya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Maret 2012

HI5TERIA : Omnibus Lima Kecemasan, Belum Ketakutan


Quotes:
Vita: Jika kepala terlepas dari ragamu, carilah wanita berbadan dua.. Atau bayi yang masih suci..

PASAR SETAN - Adriyanto Dewo (14 menit)
Sari mencari kekasihnya Jaka yang telah menghilang 3 hari di sebuah hutan pegunungan Lawu. Tak lama kemudian ia berjumpa seorang pendaki lain bernama Zul. Keduanya ternyata hanya berputar-putar di tempat yang sama selama berhari-hari. Ketika malam tiba, hutan mendadak ramai dengan suara dan cahaya yang terang benderang. Berhasilkah mereka keluar dari hutan tersebut?

WAYANG KOELIT - Chairun Nissa (24 menit)
Seorang jurnalis Amerika, Nicole bertugas untuk meliput pertunjukan wayang kulit di sebuah desa Jawa Tengah. Ketika menyadari bahwa semua anggotanya adalah perempuan, ia justru diikuti oleh kekuatan mistis yang sulit diperkirakan tujuannya. Nicole semakin terperangkap dimana satu-satunya yang bisa dipercaya adalah pemahamannya sendiri.

KOTAK MUSIK - Billy Christian (20 menit)
Ilmuwan muda bernama Farah terbiasa hidup modern dan independen dimana segala kejadian diyakininya mampu dijelaskan secara ilmiah. Namun penemuan kotak musik yang kemudian diikuti dengan hantu bocah perempuan kecil yang selalu mengikutinya membuat Farah goyah. Ia harus mulai mempercayainya atau segalanya terlambat.

PALASIK - Nicho Yudifar (21 menit)
Sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri dan putri remajanya tengah menikmati liburan di sebuah villa yang terletak di sebuah kota kecil Sumatera Barat. Kegembiraan tidak berlangsung lama karena sang istri diteror oleh setan kepala terbang tanpa badan yang tampaknya berhubungan dengan rahasia misterius masa lalu.

LOKET - Harvan Agustriansyah (18 menit)
Pada suatu malam sepi, seorang petugas penjaga loket parkiran basement sebuah mall mengalami kejadian aneh. Diawali dengan palang pintu loket yang tidak bisa terbuka hingga muncul sosok menyeramkan seorang perempuan setengah baya yang meneror dirinya. Benarkah ada kasus pembunuhan yang terjadi di sekitar situ?


Nice-to-know:
Diproduksi oleh Upi Production dan PT Kharisma Starvision Plus dimana screeningnya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 27 Maret 2012.

Cast:
Luna Maya sebagai Farah
Dion Wiyoko sebagai Zul
Ichi Nuraini sebagai Penjaga Loket
Poppy Sovia sebagai Novi
Tara Basro sebagai Sari
Kriss Hatta sebagai Teddy
Imelda Therinne sebagai Vita
Maya Otos sebagai Nicole
Sigi Wimala
Bella Esperance
Dinda Kanya Dewi

W For Words:
Regenerasi filmmaker harus tetap berjalan di belantara perfilman nasional, setidaknya itulah yang dikumandangkan oleh Upi yang sukses meyakinkan Chand Parwez Servia untuk kemudian memproduseri sekelompok anak muda yang sudah berkiprah sebagai pembuat film-film pendek berkualitas sebelumnya. Lahirlah sebuah omnibus horor thriller yang hendaknya tidak disamakan dengan produksi Thailand yakni 4BIA (2008) dan kelanjutannya Phobia 2 (2009) walaupun memiliki pendekatan yang kurang lebih sama.
Adriyanto Dewo, Chairun Nissa, Billy Christian, Nicholas Yudifar dan Harvan Agustriansyah tak menyia-nyiakan kesempatan langka ini untuk mengerahkan kemampuan terbaik yang mereka punya apalagi dengan mentor sekelas Upi. Dua nama yang paling outstanding adalah Ilun dan Billy, tak heran karena dari segi jam terbang mereka sedikit di atas yang lainnya. Urutan favorit saya adalah Wayang Koelit, Kotak Musik, Loket, Palasik dan Pasar Setan. Lihat SPOILER ALERT! di bawah jika anda ingin tahu detail penilaian saya.

Saya bersyukur omnibus horor thriller ini masih tetap setia dengan akar budaya lokal, terlihat dari penekanan masing-masing segmennya yang Indonesia banget. Satu garis lurus yang dapat ditarik adalah tokoh wanita yang menjadi sentralisasi cerita dan bukan kebetulan kalau semuanya ditempatkan sebagai korban. Lihat saja posternya yang jelas menampilkan wajah-wajah mereka dengan warna yang berbeda-beda. Komposisi scoring music dari Tya Subiakto juga tidak mengecewakan karena berhasil melebur pas untuk memancing rasa tertentu yang diharapkan oleh filmmaker.
Di satu sisi, HI5TERIA memang sukses mencuri start dengan teaser trailer yang kerap diputar pada ajang iNAFFF tahun lalu. Namun di sisi lain, hal tersebut justru dapat memancing ekspektasi yang kelewat tinggi dari para penikmat genre sejenis. Terlepas dari berbagai kekurangan minor, HI5TERIA tetap harus diapresiasi karena tujuan mulia produser dan kerja keras pekerja kreatif generasi penerus ini. Meskipun belum sampai mencapai batas phobia (baca: ketakutan) yang diinginkan, HI5TERIA tetap mampu memunculkan kecemasan dalam diri penonton yang bisa jadi akan dihadapkan pada situasi serupa di kehidupan nyata mereka selepas menyaksikannya.


SPOILER ALERT!
Pasar Setan: Saya melihat fokus berada di antara pencarian orang hilang dan keberadaan pasar setan itu sendiri. Dua elemen yang seharusnya saling memperkuat untuk koalisi cerita yang padat tapi nyatanya pasar setan itu sendiri hanya ditampilkan dalam satu adegan sebagai latar belakang belaka. Selebihnya Tara dan Dion yang sibuk berputar-putar di hutan Gunung Lawu tanpa menyadari bahwa keduanya telah meretas rentang waktu yang teramat panjang. Twist nya tidak buruk hanya saja pernah dilakukan sebelumnya dalam Pencarian Terakhir (2008).
Wayang Koelit: Entah mengapa instrumen musik dan atribut etnik yang digunakan benar-benar mampu menciptakan suasana magis yang mendirikan bulu kuduk. Sudut pandang dari tokoh utama Maya Otos yang berasal dari luar semakin mempertebal konflik pertentangan budaya yang terjadi. Jujur saja, adegan bayangan wayang merambat di dinding sempat menggetarkan saya selain kinerja make-up artist yang demikian baik dalam menyajikan “wajah” seram di tengah kekalutan malam. Twist nya tidak terlalu sulit ditebak dan adegan penutup persis dengan prediksi saya.

Kotak Musik: Tak pelak lagi, Luna Maya bermain paling menonjol dalam omnibus horor ini. Anda akan melihatnya bersikap mandiri, tak butuh cinta, profesionalitas dalam bekerja, apatis terhadap supernatural hingga bingung dengan pemahamannya sendiri. Aksesori kotak musik yang selalu iringi kemunculan arwah bocah perempuan itu menjadi momok tersendiri walau saya berharap sedikit penjelasan di akhir cerita mengenai “koneksi” khusus antara Farah dengan arwah yang mengikutinya. Twist nya terbilang memelintir konsep garis waktu sehingga kembali ke kondisi awal dengan keadaan yang berbeda 180 derajat!
Palasik: Sosok setan kepala terbang tidak ditampilkan dengan jelas di sepanjang durasinya padahal ini yang paling ingin dilihat penonton kecuali beberapa detik di akhir cerita yang efeknya masih terasa kasar. Untungnya penjiwaan Imelda Therinne sebagai obyek teror dalam kondisi hamil mampu mengangkat cerita. Keganjilan terjadi ketika Vita yang sudah berada di ambang kebebasannya justru kembali masuk ke dalam rumah tanpa alasan yang jelas?! Jangan lupakan kemunculan Poppy Sovia yang merupakan tokoh penting di balik twist nya.

Loket: Saya sependapat bahwa karyawan yang bekerja sebagai penjaga loket keluar masuk kendaraan shift malam di basement gedung itu memiliki nyali yang luar biasa. Ichi Nuraini menghidupkannya dengan pas apalagi dengan dukungan nyonya menyeramkan Bella Esperance! Sedikit lambat dalam bercerita di awal, Harvan akhirnya tancap gas di penghujung. Tetap saya merasa seharusnya film ditutup ketika Ichi “sadar”. Twist yang ditawarkan mungkin mengingatkan anda pada Triangle tapi sayangnya tidak tersampaikan dengan jelas. Anyway, this could be a great finale segment but came up quite short!

Durasi:
97 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 26 Desember 2011

MY BLACKBERRY GIRLFRIEND : Kontak Blackberry Dadakan Siksaan Hidup

Quotes:
Angel: Gua butuh orang yang bisa ngelakuin apapun yang gua mau!


Storyline:
Bekerja sebagai sales mobil, Martin berhasil membeli Blackberry bekas yang sudah lama diidam-idamkannya. Tak lama kemudian, sebuah contact bernama Angel memanggilnya dan segera masuk dalam kehidupannya. Angel yang berperangai kasar kerapkali menyulitkan Martin dengan permintaan-permintaan ajaibnya yang harus segera dituruti. Martin pun bertekad mencari tahu masa lalu Angel yang terhubung dengan seorang pria bernama Fendy. Berhasilkah Martin mengobati rasa sakit hati Angel yang sebetulnya hanya membutuhkan kehadiran seorang pria di sisinya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dimana press screeningnya diadakan di fX Platinum XXI dan Foodism pada tanggal 21 Desember 2011.

Cast:
Luna Maya sebagai Angel
Fathir Muchtar sebagai Martin
Hardi Fadhillah sebagai Hendra
Keith Foo sebagai Fendy

Director:
Merupakan film ke-4 bagi Findo Purwono HW di tahun 2011 setelah terakhir Ayah, Mengapa Aku Berbeda.

Comment:
Apakah anda pernah membaca cerita pendek berjudul My BlackBerry Girlfriend dalam situs Kaskus yang kemudian diterbitkan dalam bentuk novel karangan Agnes Davonar? Jika belum, rasanya sudah cukup menjadi alasan untuk menyaksikan film ini, selain fakta bahwa ponsel Blackberry keluaran RIM – Kanada tersebut sangatlah populer di kalangan masyarakat Indonesia khususnya kawula muda yang mengaku anak gaul dan rajin bersilaturahmi lewat BBM.
Skenario yang ditulis oleh Djaumil Aurora dan Agnes Davonar ini memulai sebuah komedi romantis dengan kekacauan yang tidak disengaja antar tokoh pria dan wanitanya hingga kemudian berkembang menjadi romansa yang manis karena tingginya frekuensi pertemuan yang sebetulnya tidak diharapkan itu. Sayangnya proses NO to YES tersebut masih terlalu instan sehingga maknanya kurang terasa, apalagi sampai mengiba penonton untuk mau bersimpati pada dua karakter utamanya.

Banyak sekali referensi film yang ditiru disini, sebut saja adegan bertukar sepatu selayaknya duet Jeon Ji Hyun dan Cha Tae Hyun dalam My Sassy Girl (2001) atau pertemuan di kereta serupa duet Sirin Horwang dan Ken Theeradej dalam Bangkok Traffic Love Story (2009). Apakah sedemikian miskin idenya hingga kemiripan sedemikian rupa pun tidak berusaha dialihkan ke sesuatu yang lebih kreatif? Apalagi jika berbicara cinta rasanya banyak sekali aspek yang dapat digali darinya.
Usaha Luna Maya dan Fathir Muchtar memang terlihat untuk berakting sewajar mungkin tanpa harus terkesan norak. Namun dangkalnya karakter mereka tanpa didukung oleh latar belakang yang jelas tidak mampu menghindari kesan tersebut. Beruntung Luna dan Fathir dikaruniai wajah yang rupawan sehingga penonton setidaknya masih akan betah menyaksikan penampilan keduanya yang berbau slapstick dan karikatural itu. Kontribusi Hardi dan Keith tidak dirasa penting dan berpengaruh pada bangunan cerita yang tersaji.

Sutradara Findo yang belakangan semakin terjebak dalam berbagai genre film yang berbeda-beda terlihat kesulitan menyatukan kepingan-kepingan plot cerita disini. Alhasil anda akan merasakan perpindahan “rasa” yang kurang mulus antara lucu, konyol, biasa hingga romantis. Bisa jadi kesalahannya disebabkan oleh skenario yang tidak menawarkan dialog-dialog berbobot tapi proses editing yang kurang rapi jelas tidak boleh lepas dari tanggungjawabnya. Perpindahan lokasi ke Singapura di penghujung cerita juga tergolong sia-sia jika hanya mengejar estetika saja.
Terlepas dari “cupu”nya dalam bertutur serta kurang kreatifitas dalam eksplorasi ide, My Blackberry Girlfriend sebetulnya memiliki dasar cerita yang lumayan menyentuh andai digarap dengan lebih serius. Rendahkanlah ekspektasi anda dan lupakanlah sejenak My Sassy Girl yang fenomenal itu, niscaya Luna bisa terlihat manis dan Fathir dapat terlihat lucu di hadapan anda. Tentunya Blackberry yang menjadi media mereka, ponsel dengan dua sisi mata pisau sehingga mampu memudahkan sekaligus menyulitkan komunikasi antara kedua belah pihak.

Durasi:
83 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Senin, 24 Mei 2010

RATU KOST-MOPOLITAN : Bahu Membahu Menyelamatkan Kost Dari Premanisme

Cerita:
Gina, Tari dan Zizi ngekos di tempat Ibu Laksmi di suatu gang sempit nan padat ibukota Jakarta walaupun harus menunggak pembayaran berbulan-bulan. Ketiganya yang masih berstatus mahasiswi pun bertekad mencari penghasilan tambahan, Gina menjadi wartawan freelance, Tari menjadi instruktur aerobik, Zizi menjadi seniman tatoo. Selain itu ada juga Seno, ketua Karang Taruna favorit mereka yang menyambi menjadi caddy di sebuah golf club. Ketenangan lingkungan seketika terganggu saat kepala preman, Rido datang bersama antek-anteknya yang bertujuan menguasai tanah yang akan diambil alih oleh PT. Garda Utama. Gina, Tari, Zizi bersama Seno pun memutar otak untuk mengusir Rido cs sekaligus mengamankan apa yang seharusnya menjadi hak warga setempat!

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di fX tanggal 24 Mei yang lalu.

Cast:
Cukup lama absen bermain film, Luna Maya kembali sebagai Gina yang cantik dan bercita-cita menjadi wartawan untuk menyambung hidup.
Terakhir bermain dalam Air Terjun Pengantin, Tyas Mirasih disini berperan sebagai Tari yang seksi dan juga berani.
Debutan Imey-Liem bermain sebagai Zizi yang percaya pada hal-hal mistik.
Fathir Muchtar sebagai Seno, ketua Karang Taruna yang tampan dan lucu.
Reza Pahlevi sebagai Rido, ketua preman yang aneh bin ajaib.
Yattisurachman sebagai Ibu Laksmi, pemilik kost.
Adi Kurdi dan Verina Widodo sebagai Bapak dan Ibu RT.

Director:
Ody C. Harahap terakhir mendirect Punk In Love mengenai empat muda-mudi punkers yang melakukan perjalanan ke Ibukota itu.

Comment:
Menyaksikan film ini mau tidak mau mencermati dua hal utama yaitu cerita dan humor. Dari segi cerita, harus diakui memang dangkal. Sebetulnya dangkal tidak menjadi masalah asal dibangun dengan struktur yang kuat. Namun film ini seakan menempatkan terlalu banyak hal di paruh pertama durasinya dan memaksa penonton untuk menerima saja situasi yang dihadirkan tersebut. Memang menginjak paruh kedua tidak terlalu mengganggu lagi tetapi tetap saja secara logika bercerita terasa ada sesuatu yang kurang. Dari segi humor mesti diapresiasi karena karakter Gina, Tari dan Zizi seakan mengingatkan kita pada Warkop DKI dan Luna, Tyas dan Imey tampil cukup kompak bahu-membahu mengatasi problema yang ada dengan solusi yang sekenanya. Tingkah laku ketiganya juga terasa spontan dan tidak dibuat-buat meski unsur berlebihan tidak dapat dihilangkan begitu saja. Beberapa adegan slapstik juga terkesan tempelan belaka tanpa alasan yang kuat seperti contohnya adegan Seno berganti pakaian yang diiringi instrumen yang nyaris sama persis dengan My Love nya Justin Timberlake?! Ataupun adegan bloon perilaku Rido dan anak buahnya yang absurd itu. Sutradara Ody yang juga merangkap sebagai penulis pada akhirnya cukup berhasil menjadikan Ratu Kost-mopolitan sebuah tontonan yang kocak menghibur walaupun dari penggarapan skrip masih kurang matang.

Durasi:
100 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 12 Mei 2009

JANDA KEMBANG : Gadis Misterius Pengundang Polemik Pinggir Kota

Cerita:
Gadis cantik misterius bernama Selasih datang ke desa Pulo Bantal untuk menghadiri pernikahan ketiga teman baiknya. Kontan warga desa geger dengan kecantikan Asih yang disinyalir janda kembang termasuk dua remaja tanggung, Fadli dan Radja. Kekosongan penyanyi di bandnya membuat Dodirama secara dadakan meminta Asih bernyanyi di panggung. Tak nyana Asih langsung disukai dan menjadi penyanyi tunggal meski membuat istri Dodirama, Yuli Nada cemburu. Kejadian demi kejadian berujung pada insiden wanita-wanita sedesa yang mengamuk dan berniat mengusir Asih dari Pulo Bantal. Siapa Asih sesungguhnya dan apa tujuannya datang ke Pulo Bantal?

Gambar:
Suasana pinggir kota ditampilkan menarik secara visual lengkap dengan atribut desa yang cukup mencolok.

Act:
Luna Maya terakhir main film hampir setahun lalu dalam Cinlok. Kali ini sebagai Selasih, Luna dituntut bernyanyi dangdut beberapa hit populer sembari menyembunyikan identitas aslinya yang misterius dengan cara lebih banyak bungkam.
Ringgo Agus Rahman sebagai Dodirama, pemimpin band yang menaruh hati pada Asih tapi seringkali berdalih untuk menyelamatkan statusnya di hadapan keluarga.
Sarah Sechan sebagai Yulinada, istri Dodirama yang hobi cegukan. Cemburu membuat Yuli menghasut warga sekitar dan seringkali bertengkar dengan suaminya itu.
Edric Tjandra sebagai Iwet, sepupu Asih yang kemayu.
Esa Sigit dan Rifat Sungkar sebagai duo sobat remaja Fadli dan Radja memperlihatkan akting yang natural.
Didukung juga oleh Sita Nursanti, Joe P Project, Joshua Pandelaki dll.

Sutradara:
Nama Lakonde bisa jadi teramat asing. Debut penyutradaraanya langsung mendapat supervisi dari sutradara pencetak box office, Hanung Bramantyo. Hasilnya? Janda Kembang terasa membumi dan cukup mudah diterima oleh penonton dari berbagai kalangan.

Komentar:
Sangat diinspirasi oleh film Italia, MALENA yang dibintangi Monica Belucci. Tapi tidak lupa unsur lokal masih ditonjolkan terutama lewat musik dangdut. Plot cerita yang dibangun sejak awal film memang menarik tapi sayang bangunan cerita masih kurang terkonstruksi dengan rapi sehingga banyak menyisakan lubang yang tak terjawab. Paling fatal terasa di ending dimana diselesaikan dengan begitu mudah dan penonton dipersilahkan mereka-reka sendiri. Hm, nikmati saja penampilan cantik Luna Maya bernyanyi dangdut dengan aransemen baru yang cukup menggigit.

Durasi:
100 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 30 Januari 2009

ASMARA DUA DIANA : Kemelut Dua Wanita Tercinta Hamil Bersamaan

Cerita:
Dengan kesupelannya, Asmara memiliki daya tarik tersendiri di mata wanita. Pertama adalah Diana Wulandari yang akhirnya menjadi istrinya. Beruntunglah Asmara sebab ayah Diana W adalah saudagar kaya yang tidak segan memberikan bisnisnya kepada menantunya itu. Kedua adalah Diana Dwiyana yang berkenalan tidak sengaja dan karena kencan beberapa kali mengaku hamil oleh Asmara. Kepanikan Asmara semakin menjadi karena istrinya juga diberitakan positif hamil. Berusaha membagi perhatiannya, Asmara melakukan hal-hal konyol dibantu oleh sopirnya, Norman. Diana D tidak tinggal diam dan meminta kakaknya yang seorang kolonel mencari Asmara. Bagaimana kemelut ini akhirnya dapat terselesaikan?

Gambar:
Adegan-adegan komikal terhampar di film ini lengkap dengan bahasa personifikasi yang membuat penonton bisa berasumsi sendiri!

Act:
Mantan VJ MTV sukses, Jamie Aditya didapuk menjadi Asmara, lelaki beruntung yang bermasalah dengan kesetiaan.
Luna Maya mengaku sejak awal tertarik memerankan seorang istri hamil yang lemah lembut bernama Diana Wulandari.
Debut perdana penyanyi seksi, Aura Kasih sebagai Diana Dwiyana yang liar sekaligus culas.
Turut didukung oleh Mario Maulana sebagai Norman sang sopir setia.

Sutradara:
Memulai debutnya lewat Claudia/Jasmine, Awi Suryadi kali ini bekerjasama dengan penulis skenario, Salman Aristo dalam mengarahkan komedi hitam yang sebenarnya agak tidak biasa di Indonesia.

Komentar:
Dengan iringan musik jazz ringan di hampir sepanjang film, Asmara Dua Diana sebetulnya cukup menyegarkan untuk diikuti. Aksi one-man-show nya Jamie cenderung kocak dan menghibur walau terkadang berlebihan, Luna tampil dinamis dan Aura tidak terlalu mengecewakan dalam debutnya walau masih ada beberapa kekurangan. Sang sutradara, Awi memang dikenal cukup kreatif dalam berkarya. Lantas apa kekurangan ADD ini? Jawabannya adalah nyawa film! Dari awal sampai akhir kita disuguhi plot yang agak rumit tetapi dipaksakan simpel sehingga banyak logika yang terabaikan hanya untuk mengejar twist pada bagian ending, itupun cenderung antiklimaks. Sehingga pada akhirnya penonton menjadi kebingungan mencerna esensi film yang baru saja mereka saksikan. Sayang memang karena sebetulnya ADD ini punya potensi yang cukup baik.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 14 Oktober 2008

CINLOK : Potret Rendezvous Sempurna di Stasiun?

Cerita:
Pada suatu ketika di sebuah stasiun, Cundra, seorang porter serabutan berkenalan dgn Nayla, seorang massage-girl di sebuah spa. Sayangnya untuk menutupi kondisi yg sebenarnya, mereka berdua berbohong dgn identitas masing-masing2. Cundra mengaku sbg eksekutif muda yg hampir menikah dgn desainer Tika dan Nayla mengaku sbg manajer hotel yg bertunangan dgn pengusaha Tyo. Keduanya yg sebetulnya saling tertarik berusaha menyusun kebohongan demi kebohongan. Namun apakah hal itu bisa menyatukan mereka?

Act:
Tora Sudiro tampil dgn peran stereotipenya, playboy badung slengean. Cukup berhasil memang walau beberapa kebiasaannya di film ini terkesan menjijikan.
Luna Maya bermain cukup manis tapi tidak cukup baik mengeksplorasi mimik muka dan gesture tubuhnya sbg seorang spa-therapyst yg dilanda kebimbangan untuk meneruskan kebohongannya sendiri.
Tukul dan Ria Irawan terlihat paling natural, sesuai dgn porsi mereka sbg org desa yg bingung menghadapi kehidupan kota besar.

Sutradara:
Guntur Soeharjanto cukup terampil mengarahkan film ini yg banyak mengambil setting di slums area di Jakarta.

Komentar:
Terlihat jelas film ini ingin mengulangi kesuksesan Otomatis Romantis yg manis romantis menghibur itu. Namun sayangnya, Cinlok terjebak menjadi komedi romantis yg serba tanggung mau dibawa kemana. Penyelesaian film pun terkesan digampangkan dan kurang inovatif. Sayang!

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Gw ga prnh nilai film dibawah 6 krn biar bagaimanapun itu sebuah karya seni
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!