XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Rabu, 29 Oktober 2003

HOLLYWOOD HOMICIDE : Kerjasama Dua Detektif Memecahkan Kasus Industri Rekaman

Quotes:
K.C.-I know you're gonna say it's none of my business, but when's the last time you got laid?
Joe Gavilan-Non
e of your business.

Cerita:
Detektif polisi handal Joe Gavilan dipasangkan dengan partner baru K.C. Calden belum berhasil mengungkapkan pembunuhan di Tinseltown sehingga harus berkonsentrasi untuk sementara waktu pada hal-hal lain. Joe menjual real estate walau tidak terlalu berhasil dan K.C. mendambakan menjadi seorang aktor sambil menjadi guru yoga bagi sekelompok wanita muda nan seksi. Keduanya lambat laun harus saling beradaptasi untuk masuk ke industri rekaman yang dipercaya menjadi kunci dari semua kasus pembunuhan yang terjadi belakangan ini.

Gambar:
Sepenuhnya bersetting di California, Hollywood Homicide menyajikan scene-scene yang sangat realistis mengenai kehidupan sehari-hari Joe dan K.C. yang sepintas terasa menjemukan.

Act:
Sebelum ini gagal mengangkat K-19 : The Widowmaker (2002), Harrison Ford tetap dipercaya membidani Hollywood Homicide sebagai detektif senior Joe Gavilan yang flamboyan dan sok pintar.
Mengawali karirnya dalam remake Halloween H20 : 20 Years Later, Josh Hartnett cukup aktif bermain film 1-2 judul per tahunnya termasuk perannya disini sebagai detektif muda K.C. Calden yang lembut dan ambisius dan lembut.

Sutradara:
Sulit dipercaya sutradara kawakan Ron Shelton sejauh ini baru menghasilkan 7 judul termasuk debutnya Bull Durham (1988). Belum ada karya-karyanya yang dikenal luas publik alias mencetak box-office.

Komentar:
Paruh pertama film ini boleh dibilang teramat sangat menjemukan. Plot berputar-putar pada kehidupan Ford dan Hartnett yang seakan tidak terlalu penting untuk diketahui. Paruh kedua barulah drama komedi kepolisian ini berlangsung cukup menarik dikarenakan interaksi kedua tokoh utama mulai menimbulkan "riak" dan bekerjasama untuk memecahkan kasus pembunuhan (jika memang bisa disebut kasus!). Tapi semua itu sepertinya tidak mampu menolong kualitas film keseluruhan. Banyak pihak merasa Hartnett adalah miscasting dan Ford sudah memasuki "masa lelahnya" sehingga apa yang bisa dijual film ini, belum lagi ditambah storyline yang tumpang tindih dan saling (dipaksakan) terkait. Saya jamin penonton tertawa bukan karena leluconnya tapi karena apa yang ingin dijual film yang benar-benar "Double H (Harrison&Hartnett) for Hollywood Homicide".

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$30,013,346 till Aug 2003

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 30 Juli 1999

THE BLAIR WITCH PROJECT : Tersesat Mencari Penyihir Misterius

Tagline:
Everything you've heard is true.


Storyline:
Oktober 1994, tiga pelajar sekolah film masing-masing Heather, Josh dan Mike menelusuri hutan Blair untuk mencari bukti-bukti legenda urban Penyihir Blair. Petunjuk didapat lewat serangkaian interview terhadap penduduk lokal yang mempercayai keberadaan Penyihir Blair tersebut. Awalnya tidak ada yang aneh selain tumpukan batu-batu yang ditata dengan tangan ataupun susunan ranting-ranting membentuk simetris. Namun saat tersesat di tengah hutan dan kehilangan arah, mereka mulai panik terlebih setelah terdengar suara-suara aneh. Benarkah Penyihir Blair masih hidup dan tidak segan-segan berbuat keji pada siapapun yang mengganggunya?

Nice-to-know:
Tercatat dalam Guiness Book of World Records sebagai film indie berbujet rendah 22 ribu dollar yang menghasilkan 240 juta dollar sehingga persentase rationya paling tinggi yang pernah dibuat.

Cast:
Heather Donahue sebagai Heather
Joshua Leonard sebagai Josh
Michael C. Williams sebagai Mike

Director:
Kolaborasi Daniel Myrick dan Eduardo Sánchez yang menulis sekaligus menyutradarai film pertamanya ini.

Comment:
Lebih dari satu dekade lalu saya mendengar tentang film ini tetapi tidak pernah berkesempatan untuk menyaksikannya hingga saat ini. Dan film ini merupakan salah satu pionir mockumentary yang sangat menjamur dalam lima tahun terakhir dan tentunya tidak adil jika saya membandingkannya dengan Paranormal Activity ataupun judul-judul lain bergenre serupa.
Duet Myrick dan Sánchez terbukti ampuh. Skrip yang ditulis mereka benar-benar believeable, terlepas dari elemen-elemen dasar yang digunakan tapi tidak jatuh menjadi klise. Penggarapannya tergolong memuaskan untuk kategori amatir dimana proses editing yang minimal menegaskan konsep otentik film ini termasuk konsep hitam putih yang kadang dihadirkan. Namun kelemahannya, kamera yang bergoyang-goyang bisa jadi akan memusingkan anda.
Donahue, Leonard dan C. Williams tampil kompak dengan penjiwaan yang natural. Mereka memang dituntut melakukan improvisasi sendiri dan hasil akhirnya cukup meyakinkan. Ketiganya berhasil memperlihatkan bahasa tubuh depresif yang kentara dibandingkan menjelaskan situasi yang dialami dengan kata-kata yang biasa dilakukan. Penonton tidak keberatan untuk mengikuti perjalanan nasib apa yang akan menimpa mereka dalam pencarian misterius itu.
Meski harus diakui slow moving, The Blair Witch Project merupakan salah satu mockumentary terbaik yang pernah dibuat. Tidak ada satupun unsur-unsur ketakutan yang dibuat-buat disini. Dengan perlengkapan yang minimalis semakin menegaskan bujet rendah yang dimilikinya tetapi semua itu cukup beralasan untuk mempertahankan konsep alami. Sekaligus memaksimalkan imajinasi penonton dalam merangkai visualisasi horor di benaknya masing-masing dibandingkan harus menggunakan spesial efek berlebihan.

Durasi:
80 menit

U.S. Box Office:
$140,530,114 till Nov 1999

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 15 Januari 1999

AT FIRST SIGHT : Ujian Cinta Dalam Kebutaan

Quotes:
Virgil-Who are we kidding? I’m blind. I can’t see. See I don’t belong here. I’m not meant to see.
Amy Benic-You’re darn right you’re blind. I’m standing right here for you and you don’t even look.

Cerita:
Seorang arsitek perfeksionis, Amy Benic mengambil liburan di sebuah kota kecil dimana ia bertemu pemijat buta, Virgil Adamson. Dalam waktu singkat, keduanya saling jatuh cinta. Amy melakukan penelitian tentang operasi kornea untuk penderita katarak dan mengungkapkan ide tersebut kepada Virgil. Setelah melalui perdebatan, Virgil akhirnya setuju dan operasi tersebut berhasil. Kesulitannya adalah Virgil harus mempelajari banyak sekali hal untuk melatih indera penglihatannya tersebut. Masalah demi masalah mendera keduanya. Namun problem terbesar harus dihadapi bahwa Virgil mungkin akan kehilangan matanya kembali. Bagaimana Amy menyikapi semua itu?

Gambar:
Sudut-sudut kota Manhattan, urban sampai sub-urban berhasil ditangkap dengan pas di berbagai nuansa musim.

Act:
Memulai karir dalam Top Secret! (1984), Val Kilmer merupakan salah satu aktor papan tengah Hollywood yang bertahan lama. Dalam film ini, Val bertransformasi menjadi Virgil, pemijat buta yang berhati tulus tapi mendadak menjadi sensitif saat mendapat penglihatan baru.
Mira Sorvino paling dikenal di Indonesia lewat film sains fiksi Mimic (1997) kali ini kebagian peran sebagai arsitek cantik yang perfeksionis dan selalu berpikir jauh ke depan, Amy Benic yang juga mengalami kegagalan pernikahan dengan pria yang akhirnya menjadi rekan kerjanya.
Aktris lawas yang berakting sejak tahun 1983, Kelly McGillis sebagai Jennie Adamson, kakak Virgil yang sangat protektif terhadap adiknya yang kurang secara fisik.

Sutradara:
Pria kelahiran New York 1931, Irwin Winkler mulai dikenal luas sejak drama thrillernya The Net (1995) mencetak hit sekaligus melejitkan nama Sandra Bullock. Kinerja Irwin dalam At First Sight boleh diacungi jempol karena menguasai unsur-unsur drama dengan sangat baik.

Komentar:
At First Sight seakan terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama mengisahkan pertemuan Indah Amy dengan Virgil yang masih buta, bagaimana cara mereka berinteraksi untuk mengenal satu sama lain. Bagian kedua menekankan perjuangan Amy dan Virgil paska operasi mata, bagaimana cara mereka mengatasi masalah yang ada. Untungnya kedua bagian tersebut saling bersinergi dengan indah sehingga menghasilkan drama romantis yang menyentuh yang konon diilhami dari kisah nyata. Penjiwaan yang baik dari cast inti nya juga memberikan kekuatan sendiri. Niscaya anda akan tertawa sekaligus terharu saat menyaksikan film yang tidak sempat dirilis di bioskop Indonesia ini.

Soundtrack:
”It Never Entered My Mind” by George Shearing
A Kiss to Build a Dream On” by Louis Armstrong
”They Can’t Take That Away from Me” by Ella Fitzgerald and Louis Armstrong
”Let’s Keep it Going On” by She Moves
”Purpose to Be” by Nadirah Shakoor
”Y.M.C.A.” by The Village People
”Burn Rubber on Me (Why You Wanna Hurt Me)” by The Gap Band
”Easy Come Easy Go” by Diana Krall
”Mack The Knife” by Diana Krall
”Slapshot-The New York Rangers ‘Goal Theme’” by Bad Apple
”Love Is Where You Are” by Diana Krall

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$22,326,247 till March 1999

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 14 Desember 1990

EDWARD SCISSORHANDS : Balada Kehidupan Makhluk Bertangan Gunting

Quotes:
Kim-You're here... They didn't hurt you, did they?
[Edward shakes his head]
Kim-Were you scared? I tried to make Jim go back, but, you can't make Jim do anything. Thank you for not telling them that we...
Edward-You're welcome.
Kim-It must have been awful when they told you whose house it was.
Edward-I knew it was Jim's house.
Kim-You... you did?
Edward-Yes.
Kim-Well, then why'd you do it?
Edward-Because you asked me to.

Cerita:
Pada suatu ketika di sebuah istana nun jauh di atas bukit hiduplah seorang inventor yang menciptakan kreasi bernama Edward. Walaupun Edward memiliki pesona, ia tidaklah sempurna. Kematian inventor penciptanya yang tiba-tiba meninggalkan Edward belum terselesaikan dengan pemotong metal tajam sebagai tangannya. Tinggal sendirian sampai akhirnya seorang sales Avon yang baik hati membawanya pulang untuk tinggal bersama keluarganya. Dan dimulailah petualangan fantastis Edward dalam surga berwarna pastel yang bernama Suburbia.

Gambar:
Konsep perumahan suburbia yang colorful rupanya benar ada di Florida tanpa mengubah set aslinya. Kontras dengan nuansa istana Edward yang dingin dan sepi.

Act:
Sebelum tampil disini, Johnny Depp terkenal lewat serial remaja 21 Jump Street. Sebagai Edward, Depp menunjukkan penjiwaan yang sangat baik sebagai makhluk aneh yang tidak sempurna di luar tapi lembut di dalam.
Mengawali karir dalam Lucas (1986), Winona Ryder kebagian peran Kim, remaja putri yang awalnya menolak kehadiran Edward sampai akhirnya bersimpati pada nasib dan ketulusan Edward.
Penampilan apik Dianne Wiest sebagai Peg, sales Avon yang baik hati.
Penampilan terakhir sebelum tutup usia, Vincent Price sebagai The Inventor.

Sutradara:
Terkenal dengan film-film off mainstream dengan dunia khayalan dan makhluk-makhluk ajaib, Tim Burton adalah salah satu legenda Hollywood. Beruntung karena pemilihan cast yang gemilang, Tim akhirnya bisa mewujudkan imajinasi masa kecilnya lewat Edward Scissorhands.

Komentar:
Menyaksikan Edward Scissorhands seakan menikmati sebuah simfoni yang lengkap di segala aspek. Ada rasa ngeri, marah, miris, sepi, senang, tersentuh dsb silih berganti dari awal sampai akhir mengikuti balada hidup Edward. Paling ingat saat saya menonton film ini tengah malam di televisi pada usia 8 tahun, terharu sekaligus takjub dengan imajinasi visualisasi yang begitu kaya. Menonton ulang hampir 20 tahun kemudian, menurut saya film ini tetap timeless masterpiece. Setuju dengan saya?

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$56,362,352

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10