XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label will ferrell. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label will ferrell. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 November 2012

THE CAMPAIGN : Good Political Satire For Expected Laughs


Quote: 
Mitch: What's it all about?
Cam Brady: America, Jesus, freedom.

 
Nice-to-know: 

Meskipun poster memperlihatkan dua tokoh utamanya berhadapan dari Capitol Hill di Washington, D.C., keseluruhan film bersetting di North Carolina dimana Cam dan Marty tinggal dan berkampanye.

Cast: 

Will Ferrell sebagai Cam Brady
Zach Galifianakis sebagai Marty Huggins
Jason Sudeikis sebagai Mitch
Dylan McDermott sebagai Tim Wattley
Katherine LaNasa sebagai Rose Brady
Sarah Baker sebagai Mitzi Huggins
John Lithgow sebagai Glenn Motch
Dan Aykroyd sebagai Wade Motch
Brian Cox sebagai Raymond Huggins


Director: 

Merupakan feature film kesembilan bagi Jay Roach yang angkat nama lewat Austin Powers : International Man of Mystery (1997).

W For Words: 
Awalnya sulit bagi saya menemukan alasan untuk menonton film ini. Faktor utama, saya tidak pernah menyukai seorang Will Ferrell yang sisi komediknya tak pernah berhasil membuat saya tersenyum apalagi tertawa, setidaknya tergambar dari beberapa judul film doi yang pernah ditonton sebelumnya. Namun melihat nama Zach Galifianakis sebagai kompetitornya dan juga Jay Roach di kursi sutradara, saya memutuskan untuk memberi kesempatan. Trailernya sendiri selama ini hanya terlihat wara-wiri di jaringan bioskop Blitzmegaplex, bukan 21 Cineplex. Heran!

Cam Brady adalah anggota kongres North Carolina yang telah berulang kali terpilih. Ketika dua pebisnis licik yakni Glenn dan Wade Motch mencalonkan Marty Huggins dalam pemilihan dengan motif tertentu, suara publik mulai terbagi. Selama ini Cam berada di atas angin dengan kampanye ternamanya “Family, Jesus and Freedom” meski tidak dibarengi usahanya memperbaiki sarana umum. Namun Marty yang mengandalkan kepeduliannya terhadap komunitas kemudian mencuat menjadi kandidat terlebih polesan Tim Wattley terhadap figurnya. Siapa yang akan menang pada akhirnya?

Premis film ini sendiri digagas oleh tiga orang termasuk Adam McKay, sedangkan dua lagi yaitu Chris Henchy dan Shawn Harwell turut mengembangkannya menjadi skenario. Penggambaran wakil partai Demokrat dan Republik seakan dibalik stereotype nya.  Cam dari Demokrat cenderung lebih radikal sedangkan Marty dari Republik malah lebih liberal. Konflik yang kemudian terbangun di sepanjang film hanyalah upaya keduanya untuk saling mengungguli di segala bidang hingga masuk ke area personal masing-masing yaitu keluarga.

Sutradara Roach memiliki jam terbang yang tinggi di genre komedi. Ranah politik modern America mulai dirambahnya sejak serial televisi Recount (2008) dan Game Change (2012). Kombinasi yang akhirnya cukup efektif untuk membangun satire dan slapstick secara simultan mulai dari yang ringan hingga yang paling ekstrim, sebagian besar berhasil dan sebagian kecil mungkin tidak. Misi Roach untuk membangun karakteristik secara seimbang setidaknya sukses. Karakter-karakter lain di luar kedua tokoh utama terbukti tak kalah menarik untuk disimak terlepas dari porsi yang lebih minim.
Ferrell dan Galifianakis disini bagaikan yin yang. Ferrell bahkan melakukan impersonifikasi George W. Bush dalam sosok Cam lengkap dengan skandal seksnya yang menjadi rahasia publik. Menarik melihat transformasi Galifianakis dalam sosok Marty yang pemalu dan tidak percaya diri menjadi optimis dan oportunis. Harus diakui mereka bermain satu dimensi dan tensinya sedikit menurun di paruh kedua. Beruntung di saat itu, Sudeikis, LaNasa, Baker, McDermott datang mengisi frame dengan keunikan masing-masing. Sumbangsih Cox, Lithgow, Aykroyd sebagai karakter-karakter senior berperan kunci juga tak bisa dikesampingkan begitu saja.

The Campaign mempunyai premis yang menarik dimana problematika politikus, rasisme, bisnis kotor, praktek korupsi, terorisme dihadirkan lewat visual eksplisit dan bahasa keras menggigit. Memang tidak sepenuhnya fresh tapi masih tetap relevan menggugah tawa dan menggalang rasa penonton sekaligus cukup peduli untuk berpihak pada salah satunya. Kesiapan mental anda untuk menerima komedi sejenis ini amat menentukan seberapa jauh anda akan menikmatinya sebagai hiburan belaka. Bagi saya tak ada salahnya menertawakan persaingan politikus Amerika apalagi menilik sejarah dan motivasi masing-masing yang berbeda-beda.

Durasi: 
85 menit 

U.S. Box Office: 

$96,744,503 till Nov 2012 

Overall: 

7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 30 Oktober 2010

MEGAMIND : Menjadi Pahlawan Atau Penjahat Itu Pilihan

Quotes:
Roxanne Ritchi-What’s the plan?
Megamind-It mostly involves *not dying*!
Roxanne Ritchi-That’s a good plan, I like that plan…!

Storyline:
Metro Man merupakan pujaan hati Metro City karena selalu berhasil menanggulangi kejahatan yang terjadi termasuk dari penjahat super Megamind yang menjalani hukuman kurungan berpuluh-puluh tahun. Namun asisten Megamind, Minion tidak tinggal diam dan berhasil membebaskan tuannya dari penjara. Megamind segera menyiapkan rencana besarnya yaitu menculik penyiar televisi Roxanne untuk menghancurkan Metro Man. Di luar dugaan rencananya berhasil dan Mega Mind segera menguasai dunia. Namun ia merasa bosan dan tidak ada tantangan lagi. Menggunakan gen Metro Man, Megamind mengubah si kameraman biasa Hal menjadi superhero baru Titan. Malangnya semua tidak berjalan sesuai rencana karena Titan justru menjadi jahat karena obsesif akan kekuatan barunya. Sekarang Megamind mesti menyelesaikan semua kekacauan yang telah dimulainya itu.

Nice-to-know:
Awalnya direncanakan berjudul “Master Mind.” Namun ternyata sudah dipatenkan oleh pembuat serial televisi dan board game tahun 1970an.

Voice:
Will Ferrell sebagai Megamind
Brad Pitt sebagai Metro Man
Tina Fey sebagai Roxanne Ritchi
Jonah Hill sebagai Titan / Hal
David Cross sebagai Minion

Director:
Tom McGrath sebelumnya mengerjakan dua film Madagascar yang tergolong sukses itu.

Comment:
Melihat trailernya tidak banyak yang saya harapkan dari film ini. Mengapa?
Karakter utamanya Megamind adalah super villain yang penampilannya tidak menjual. Wajah yang tirus, kulit berwarna biru gelap dengan jubah panjang hitam yang dikenakannya lebih mengingatkan saya akan tokoh Count Dracula! Sepintas tidak ada yang spesial darinya. Namun Dreamworks mengetengahkan konflik pergulatan batin dengan cukup matang. Sesungguhnya Megamind bukanlah orang jahat tetapi ia dianggap demikian. Yang terjadi kemudian adalah transformasi karakter yang dilakukannya sehingga pribadi aslinya yang berbicara pada akhirnya. Jujur storyline ini terasa agak berat bagi anak-anak meskipun yang sudah agak besar sekalipun.
Sekali lagi saya katakan, saya sulit menyukai seorang Will Ferrell. Namun dalam animasi yang hanya memakai suaranya, hal tersebut tidak mengganggu. Ferrell mampu menghadirkan sosok Megamind yang sinis sekaligus eksentrik dengan imej yang tepat. Brad Pitt seperti biasa “loveable” selayaknya seorang Metro Man yang dipuja-puja, tetapi film ini tidak bercerita mengenai dirinya. Tina Fey sendiri merupakan pilihan tepat bagi karakter reporter Roxanne yang witty sekaligus cerdas. Lain lagi dengan Jonah Hill yang sedari awal tone suara dan bahasa tubuh seorang Hal sudah demikian menyebalkan.
Sutradara McGrath tergolong berhasil menghadirkan visualisasi yang kreatif dengan pengeksekusian elemen 3D yang brilian sepanjang film. Namun saya merasa terlalu banyak hal yang ingin disampaikan pada dua pertiga durasinya sehingga film ini terasa sedikit membosankan bagi para penonton yang seakan dipaksa untuk diseret-seret mengikutinya. Beruntung endingnya ditutup dengan cukup manis dimana sisi emosionalnya tertangkap secara maksimal.
Megamind tidaklah sesolid Despicable Me dalam berbagai aspek tetapi masih cukup menyenangkan sebagai sebuah tontonan terutama jika anda bisa mencoba untuk menyukai sosok Megamind sejak menit awal film. Ohya kemunculan beberapa soundtracknya juga sangat tepat untuk menyokong bangunan cerita yang ingin dihadirkan. Pesan moralnya adalah jadilah dirimu sendiri dan selalu ikuti kata hatimu karena itulah karakter asli pembentuk kepribadianmu!

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 23 Agustus 2009

LAND OF THE LOST : Petualangan "Funky" Di Dunia Yang Hilang

Quotes:
Will Stanton-[on the rocks, to Rick] You ever get tired of being wrong?
Dr. Rick Marshall-[being chased by the T-Rex] I do! I really do!

Cerita:
Tiga tahun lalu, Rick Marshall dikeluarkan dari Departemen Sains karena teorinya yang dianggap konyol. Sekarang bekerja di musium George C. Page, Rick bertemu dengan Holly Cantrell, mantan mahasiswi yang pernah mati-matian mendukung teori Rick. Saat melancong ke gua Iblis tempat penemuan amplifier tachyon dengan pemandu Will Stanton, Rick dan Holly malah tersedot pusaran waktu dan dimensi sehingga terdampar di sebuah tempat yang diyakini sebagai dunia yang hilang. Hal-hal aneh segera mereka temukan disana termasuk perjumpaand engan manusia kera bernama Chaka. Akankah pada akhirnya Rick cs bisa keluar dari sana dan membuktikan teorinya benar?

Gambar:
Sebagian besar bersyut di Universal Studio, California untuk spesial efeknya. Beberapa scene mungkin mengingatkan kita pada adegan Jurassic Park terutama pada perburuan dinosaurus di awal film.

Act:
Salah satu aktor komedian papan atas Hollywood, Will Ferrell memulai karirnya dalam Men Seeking Women (1997). Kali ini berperan sebagai Dr. Rick Marshall yang pintar-pintar bodoh sekaligus ceroboh.
Pernah mendukung dwilogi tentang sepakbola Goal!, Anna Friel disini bermain sebagai Holly Cantrell, mantan mahasiswi Oxford yang berubah hidupnya setelah mempercayai teori Dr. Rick Marshall.
Danny McBride sebagai Will Stanton, sidekicknya Dr. Rick Marshall yang tidak sengaja terdampar dalam petualangan bersama.

Sutradara:
Sulit dipercaya setelah terbukti sukses dipuji saat mengarahkan aktor komedian lain Jim Carrey dalam Lemony Snicket's A Series of Unfortunate Events (2004), Brad Silberling maju dalam proyek ini bersama dengan Will Ferrell yang popularitasnya kurang teruji di luar Amerika. Kita lihat saja hasil perolehan box-officenya nanti.

Komentar:
Harus diakui kharisma Will Ferrell di luar Amerika belum sebesar Jim Carrey, Adam Sandler ataupun Ben Stiller. Saya pribadi sependapat karena menyaksikan beberapa filmnya sebelum ini, saya tidak menikmati humor yang dia sajikan. Ok tapi saya mulai menonton Land Of The Lost dengan pikiran "netral". Sepintas plotnya mirip Journey To The Center Of The Earth dan konon Land Of The Lost juga diangkat dari serial teve bertemakan sama. Dengan bujet besar yang mencapai 100 juta dollar, rasanya mudah bagi tim produksi untuk memaksimalkan spesial efek selama lebih kurang 90 menit. Banyak kejutan? Tidak juga, storylinenya sangat predictable. Hm, sepanjang film kita disuguhi lelucon absurd yang sebetulnya lucu tak lucu serta beberapa adegan yang memutar balikkan logika. Ada beberapa momen dimana saya bisa tertawa sekaligus merasa kecerdasan terlecehkan, berpadu dengan konten seksual yang tidak nyaman. Pada akhirnya ini hanyalah sebuah komedi ringan yang tidak banyak menawarkan inti dari makna kehidupan itu sendiri.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$49,392,095 till mid Aug 2009

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!