XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label david poernomo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label david poernomo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juli 2009

KUTUKAN SUSTER NGESOT : Penunggu Rumah Sakit Tua Jaman Belanda

Cerita:
Selepas merayakan kemenangan tim basketnya, asisten pelatih Derry dan segerombolan pemandu sorak berniat kembali ke Jakarta malam hari. Sayangnya malang tak dapat ditolak, bis yang mereka tumpangi terjatuh ke jurang dan terdampar di lembah yang sepi dan asing. Sebagian bermaksud menunggu pertolongan di bis termasuk Shanti yang ngebet berat dengan Derry. Sedangkan yang lain termasuk Derry dan gadis incarannya, Lina berusaha mencari bantuan di luar. Setelah berjalan jauh, mereka menemukan halaman kuburan tak terawat dan sebuah rumah sakit tua peninggalan Belanda. Segera saja mereka menyadari bahwa ada sesuatu kekuatan jahat yang tengah mengincar tumbal di dalam rumah sakit tersebut.

Gambar:
Hanya berlangsung satu malam sehingga gambar-gambar redup dengan suasana menyeramkan pekuburan dan rumah sakit tua sangat dominan.

Act:
Film keduanya setelah Oh Baby tidak membuat Randy Pangalila berakting lebih baik. Disini sebagai Derry, Randy masih terlihat kesulitan beradaptasi dari gaya sinetron ke layar lebar.
Dua akktris pendatang baru Fanny Ghassani dan Celine Evangelista sebagai Lina dan Shanti yang saling bersaing merebutkan cinta.

Sutradara:
Cukup sukses dari raihan jumlah penonton dalam film debutnya tahun lalu, Pocong Vs Kuntilanak membuat David Poernomo berani bermain di genre yang sama. Kali ini menyorot sosok hantu yang pernah dikerjakan saudara kandungnya, Jose Purnomo dalam Jelangkung yaitu suster ngesot.

Komentar:
Meski cukup berhasil mempertahankan intensitas film dari awal sampai akhir tapi sayangnya tidak didukung dengan cerita yang baik. Dialognya mengalir bodoh dan sangat tidak presisi ditambah dengan akting castnya yang tidak menunjang. Belum cukup? Rasa bosan akan menyerang anda saat menyaksikannya dan ditutup dengan sekelumit fakta yang tidak terlalu relevan serta berujung pada ketidakpastian yang absurd. Sedikit spoiler: arwah suster ngesot yang kelihatannya sudah “ditenangkan” tapi bisa muncul kembali. Bingung kan? Hm, tolong jangan berpikir untuk membuang uang anda!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 03 Februari 2009

GLITCH : Menyelidiki Vortex dan Perbedaan Waktu

Tagline:
Tersesat Dalam Waktu

Cerita:
26 Desember 2004 pukul 01:58, 6 jam sebelum tsunami terjadi berbagai kekacauan waktu di berbagai belahan bumi. Tiga sahabat, Andi, Dara, Teten sedang dalam perjalanan menjemput Sheila di Cibubur tiba-tiba terdampar di Bukittinggi. Keganjilan ini kemudian membuat mereka berempat berusaha menyelidiki fenomena alam dan misteri vortex dengan bantuan ahli di bidang Quantum Physic Research yakni Prof. David Leman yang keturunan Jepang. Akankah semua pertanyaan pada akhirnya akan terjawab secara ilmiah?

Gambar:
Visualisasi yang ditampilkan sebenarnya lumayan menjual. Beberapa lokasi di Bukittinggi, Padang cukup dimaksimalkan terutama Ngarai Sianok dan Jam Gadang.

Cast:
Satu-satunya yang berpengalaman di layar lebar termasuk Butterfly (2007), Andhika Pratama sebagai Andi
Fikha Effendi sebagai Sheila
Ikhsan Samiaji sebagai Teten
Amanda Faried sebagai Dara

Sutradara:
David Poernomo yang baru menghasilkan satu film sebelumnya yaitu spin-off Pocong Vs Kuntilanak kali ini mencoba genre sains fiksi dengan sentuhan spesial efek.

Comment:
Ide cerita film yang terpilih sebagai peserta Thailand International Film Festival 2008 ini memang cukup orisinil untuk ukuran film lokal. Genre sains fiksi yang jarang sekali diangkat tapi memiliki kekurangan fatal jika tidak didukung logika cerita yang baik. Inilah perjudian yang dijalani sang sutradara dimana hasil akhirnya serba tanggung, teori vortex yang kurang mendalam dan eksplorasi cerita yang tidak maksimal. Dari segi cast, sulit rasanya menyalahkan keempat karakter utamanya karena mereka sudah berbuat yang terbaik sebisanya. Beberapa elemen suspens cukup menjanjikan walau saya agak heran karena jatuhnya menjadi sedikit bernuansakan horor. Penggunaan spesial efek yang sederhana cukup mulus dilakukan. Secara keseluruhan, Glitch memiliki visualisasi yang baik dan berusaha bercerita tapi sayangnya lemah dalam logika dan penyelesaian sehingga terasa membosankan walaupun berdurasi pendek.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 12 November 2008

POCONG VS KUNTILANAK : Pertarungan Mistis Reputasi Dua Keluarga

Cerita:
Pada masa lalu, cinta tak terbalas Raden Soekotjo yang ingin memperistri Nyai Soroh membuatnya murka. Tanpa diketahui, Nyai Soroh yang akhirnya menikah dengan Von Klingen merupakan keturunan keluarga pemelihara kuntilanak. Raden Soekotjo pun tewas dan berpesan agar tali pocongnya tidak dibuka sehingga bisa membalaskan dendamnya.
Pada masa kini, Vonny yang mewarisi wangsit memanggil kuntilanak menolak bakat itu. Dia malah sibuk dengan ramalan kartunya sampai suatu saat bertemu Marcell yang ternyata keturunan Raden Soekotjo. Cinta berkembang di antara mereka tanpa tahu apa yang telah terjadi di masa lalu. Bagaimana akhir dari kisah percintaan mereka? Apakah dendam kedua keluarga itu bisa dituntaskan?


Gambar:
Sepanjang film cukup kental dengan nuansa horor dan mistis dengan pencahayaan minimalis di setting malam hari.

Act:
Sebagai pendatang baru Diana Puspita dan Ahmad Zaki memperlihatkan akting yang standar, tidak bisa dibilang jelek karena mereka cukup berhasil memerankan tokoh anak muda yang tentunya tidak jauh berbeda dengan keseharian mereka.
Didukung juga oleh bintang-bintang muda Alia Rosa, Aldy Taher, Amanda Faried, Ikhsan Samiaji.

Sutradara:
David Poernomo yang juga dikenal sebagai saudara kandung sutradara ternama Jose Poernomo kali ini membesut sendiri film debutnya. Tidak buruk untuk sebuah karya pertama, David sedikit bermain dengan spesial efek di beberapa adegan yang walaupun belum sempurna, bisa dikatakan inovasi baru.

Komentar:
Jangan bandingkan dengan beberapa film pertarungan dua ikon horor Hollywood yang selama ini sudah pernah kita saksikan. Untuk ukuran film lokal, eksekusinya dari awal sampai akhir bisa dikatakan baik namun tidak diimbangi oleh pengembangan skenario yang rasional. Ending film pun terkesan antiklimaks dan dipaksakan. Tentu saja, pocong dan kuntilanak kan tidak memiliki senjata untuk bertanding satu sama lain!

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10 (dengan mengesampingkan endingnya)

Penilaian:
Gw ga prnh nilai film dibawah 6 krn biar bagaimanapun itu sebuah karya seni
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!