XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 23 Oktober 2010

RED : Jangan Kambing Hitamkan Pensiunan Berbahaya

Quotes:
Marvin Boggs-Why are you trying to kill me?
Frank Moses-Look, why would I be trying to kill you?
Marvin Boggs-Because last time we met, I tried to kill you.
Frank Moses-That was a long time ago.
Marvin Boggs: Some people hold on to things like that.

Storyline:
Frank Moses menjalani hari-hari pensiunnya sendirian sambil terkadang berbincang dengan customer service Sarah Ross yang juga tidak beruntung dalam hal asmara. Namun ketenangan Frank mendadak terganggu saat rumahnya disatroni sekelompok pasukan rahasia yang membunuhnya. Bukan Frank namanya jika ia tidak bisa lolos sebab ia adalah seorang pensiunan CIA. Frank pun melarikan diri ke Kansas City dan melibatkan Sarah yang baru ditemuinya. Disana ia bergabung dengan mantan agen top lainnya yaitu Marvin, Joe dan Victoria yang ternyata menjadi target juga dari pasukan khusus yang dipimpin William Cooper. Siapa yang sesungguhnya mendalangi operasi tersebut? Berhasilkah mereka memaksimalkan pengalaman dan sisa keahlian untuk bertahan hidup?

Nice-to-know:
Brian Cox dan Helen Mirren memerankan agen Rusia dan Inggris. Dalam kehidupan nyata, latar belakang keduanya adalah sebaliknya dimana Brian Cox asli Inggris sedangkan Mirren yang lahir di Inggris beraksen Rusia.

Cast:
Tidak terlalu sukses dalam film terakhirnya Cop Out (2010), Bruce Willis berperan sebagai Frank Moses, pensiunan CIA yang terusik ketenangan hidupnya.
Angkat nama selama 5 tahun terakhir dari serial televisi Weeds, Mary Louise Parker kini bermain kembali dalam film layar lebar sebagai Sarah Ross.
John Malkovich sebagai Marvin Boggs
Hellen Mirren sebagai Victoria
Brian Cox sebagai Ivan Simanov
Morgan Freeman sebagai Joe Matheson
Karl Urban sebagai William Cooper

Director:
Pria kelahiran Jerman bernama Robert Schwentke ini terakhir dipuji saat mengarahkan Eric Bana dan Rachel McAdams dalam The Time Traveller’s Wife (2009).

Comment:
Ide cerita ini diangkat dari novel grafis D.C. Comics karya Warren Ellis dan Cully Hamner dengan genre action komedi. Tidak banyak hal baru yang bisa ditawarkan disini tetapi penyampaian ke penonton lah yang membuatnya berbeda dimana berbagai twist mampu membuatnya terasa fresh!
Dari segi aksi, penggunaan berbagai jenis senjata api, bom asap, granat sampai pertarungan tangan kosong para agen uzur tersebut ditampilkan dalam kapasitas penuh. Keahlian mereka yang sudah terpahat bertahun-tahun benar-benar menjadi senjata mematikan disini.
Dari segi humor, hubungan kerja yang terbentuk diantara mereka selama berpuluh-puluh tahun lamanya terasa menyimpan banyak cerita tersendiri sehingga celetukan maupun sindiran tajam bernada sarkastis tak jarang mampu menghadirkan derai tawa lepas yang tak berkesudahan di setiap scenenya.
Sutradara Schwentke juga dengan cerdas memadukan kedua elemen tersebut lewat perpindahan dinamis chapter demi chapter yang ditandai dengan postcard bertuliskan nama lokasi kejadian secara simultan. Teka-teki mengapa Moses dkk diburu CIA yang harus dipecahkan juga tidak lantas dijawab begitu saja. Pada awalnya mereka terlihat sama bingungnya dengan penonton tetapi melihat kegigihan mereka rasanya cukup membuat kita percaya akan kebenaran sejati yang berusaha diperjuangkan mereka. Lambat laun petunjuk demi petunjuk pun terbuka dengan sendirinya yang mengarah pada satu konklusi yang cukup untuk menjelaskan semua.
Dari jajaran cast, nama-nama senior ini bisa jadi jaminan sendiri. Willis kembali dengan peran superhero yang rapuh sekaligus tangguh di luar franchise Die Hard yang membesarkan namanya itu. Malkovich seperti biasa jago bertingkah konyol dan menyebalkan dengan berbagai ekspresi wajahnya itu. Cox dan Mirren lain lagi dalam menjiwai peranan dua mantan agen yang pernah saling mencintai, lihat ketangguhan mereka berdua membombardir musuh dengan revolver otomatis!
Dari generasi yang sedikit lebih muda diwakili oleh Karl Urban yang memberikan gambaran menarik sebagai agen CIA handal masa kini yang harus berdiri di antara tugas nyata dan kata hatinya sendiri. Jangan lupakan juga Mary Louise Parker yang innocent tapi berbagi chemistry yang manis dengan Willis disini.
R.E.D adalah sebuah comedy action flick yang sangat menghibur bagi penonton dari semua kalangan usia. Berbagai pakem film aksi dijaga disini dimana pahlawan tidak pernah membunuh orang baik sekalipun dan kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan pada akhirnya. Mungkin bukan film aksi kelas satu yang anda harapkan akan menjadi timeless masterpiece tetapi jelas akan cukup berharga mengisi waktu luang anda di kala akhir pekan yang santai.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$21,761,408 till mid Oct 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 22 Oktober 2010

SETAN FACEBOOOK : Arwah Penasaran Hantui Jaringan Online

Quotes:
Ronny-Siapa yang tau setan gak bakal gentayangan lagi?

Storyline:
Kecanduan Facebook memang lumrah terjadi di kalangan anak muda jaman sekarang. Remaja belasan tahun Farah termasuk salah satunya. Ia gemar sekali mengupdate status Facebooknya dimana saja dan kapan saja. Hal ini tak jarang merugikan dirinya sendiri karena diusir dari kelas pada saat mata kuliah dosennya ataupun dikomplain kekasihnya, Nauvam dan sahabat karibnya, Cici. Ketakutan mulai melanda Farah saat tahu satu persatu temannya yang mendapat konfirmasi pertemanan dengan sosok misterius bernama Mira Anindhita tewas mengenaskan. Farah meminta bantuan Rony yang jago hack yang mengarahkannya pada Oma Pujo, keluarga dekat Mira. Apa yang sesungguhnya terjadi dengan Mira?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh D’Color Entertainment dan diproduseri oleh Harris Nizam.

Cast:
Cindy Anggrina sebagai Farah
Boy Hamzah sebagai Nauvam
Jehaan Sienna sebagai Cici
Maeeva Amin sebagai Mira Anindhita
Waqid
Ricky Ertan

Director:
Helfi Ch Kardit mengawali karirnya dengan sebuah horor yang masih berkualitas lumayan yaitu Bangku Kosong (2006).

Comment:
Sejak awal cerita yang ditulis oleh M. Ilhamka Nizam dan Anggoro ini memang terkesan mengada-ngada. Namun dalam dunia perfilman tidak pernah ada standar baku yang tidak dapat digunakan. Ide senyeleneh apapun sebenarnya tetap bisa dikerjakan asal dibekali dengan kelengkapan-kelengkapan yang memadai. Bagaimana dengan film ini?
Sutradara Helfi tampaknya sekuat tenaga berusaha serasional mungkin menerjemahkan skrip tersebut dengan waras. Hal ini terlihat dari 30 menit pertamanya yang mencoba menampilkan latar belakang kehidupan remaja yang perlahan-lahan mulai menyikapi misteri yang dihadapinya. Namun semakin lama jatuhnya justru semakin tidak meyakinkan.
Pertama, kemunculan setan yang teramat janggal. Kadang ia muncul setelah lampu padam atau listrik mati yang anehnya masih bisa terkoneksi dengan internet? Provider apakah itu yang anti disconnect? Ataukah ia menggunakan portal khusus untuk memindahkan dirinya seperti pintu kemana saja? Sampai sini, itulah yang menarik untuk dicari tahu!
Kedua, motif setan yang semula misterius menjadi tidak penting lagi. Penonton sudah keburu jengah untuk digiring menuju ending yang sebetulnya dipersiapkan menjadi kejutan tersendiri. Balas dendamkah karena setan kebetulan lupa log out setelah sign in sehingga Facebooknya dihack orang? Hm, coba anda cari tahu sendiri.
Dua hal yang tidak meyakinkan itu semakin diperburuk dengan irrasionalnya tokoh-tokoh yang kebetulan “hidup” dalam film ini. Farah yang sok gaul bin oon, Cici yang makan teman, Nauvam yang peselingkuh, Ronny yang penjahat kelamin, Pak Dosen yang mesum dsb. Tidak ada satupun rasanya yang membuat kita bersimpati apalagi peduli pada nasibnya.
Segala uneg-uneg yang saya sebutkan di atas rasanya sudah cukup bagi anda untuk menilai kualitas Setan Facebook ini secara garis besar. Apalagi dengan penampakan yang ala kadarnya, rambut panjang dan muka rusak dalam gaun putih, mudah-mudahan setan ini bisa bertransformasi secara lebih sempurna dalam “sekuel”nya kelak. Twitter, anyone?

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 21 Oktober 2010

ROKKAP : Asmara Gadis Batak Pelukis Tuna Netra

Quotes:
Ivy-Semoga aja loe dapet jodoh orang Batak kayak gue.
Bow-Asal berambut!

Storyline:
Dikarenakan kecelakaan di masa kecil, Lingga yang kini berusia 31 tahun harus menjalani hidup sebagai tuna netra. Namun Tuhan yang maha adil memberikan kelebihan lain pada gadis Batak itu yakni memiliki kemampuan melukis yang mumpuni. Hasil karyanya itu dijual untuk menghidupi keluarga yang menyisakan ayah dan kakak perempuan yang sangat menyayanginya itu. Di belahan bumi lain, Bow terpaksa menyanggupi permintaan kedua sahabatnya, Gun dan Ivy untuk melakukan sesi foto pre wedding di Danau Toba. Disanalah Bow yang awalnya tertarik pada lukisan Lingga akhirnya bertemu dengan pelukisnya. Keduanya saling jatuh cinta satu sama lain meski ayah Lingga tidak menyetujui hubungan itu begitu saja dan juga Bow belum sepenuhnya putus dari kekasihnya, Vienna yang tinggal di Bali. Mampukah keduanya bersatu di antara segala perbedaan yang mendasar tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Promise Land Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di Senayan City XXI tanggal 20 Oktober 2010.

Cast:
Alex Abbad sebagai Bonaventura Christoper
Kinaryosih sebagai Lingga
Agastya Kandou sebagai Gun
Sarah Jane sebagai Ivy
Tongam Sirait sebagai Ayah Lingga
Iyuth Pakpahan sebagai Vienna
Yondik Tanto

Director:
Kolaborasi pertama BM Joe, Ginanti Rona Tembang Asri dan Hendra "Pay" Arifin Hutapea.

Comment:
Entah karena terlalu bersemangatkan indie atau tidak memiliki dana cukup untuk "berkampanye", film ini tiba-tiba melenggang mulus mengisi slot film nasional di minggu ketiga bulan Oktober 2010 ini. Hanya satu hari notifikasi! Namun melihat jajaran pemain dan sekilas posternya, rasanya masih ada sesuatu nilai tersembunyi yang coba dijual disini. Sekadar catatan tambahan, saya menontonnya bersama sekitar lima puluhan siswa-siswi pesantren yang juga didampingi bapak ibu guru mereka, bisa jadi sebagai wacana pembelajaran di sekolah.
Kinaryosih yang mengaku belajar aksen Batak selama sebulan penuh cukup berhasil menjiwai karakter gadis tunanetra Lingga yang berprofesi sebagai pelukis. Ketegarannya tergambar dari komunikasi yang dilakukannya kepada Yang Maha Kuasa serta kelembutan hatinya dalam bersikap terhadap sesamanya. Sedangkan Alex Abbad tampil di luar kebiasaannya yang urakan dan begundal, melainkan jiwa fotografer yang resah dalam mencari arti hidup sesungguhnya. Chemistry keduanya di dalam layar cukup menyatu meskipun alasan yang membuat keduanya cepat saling jatuh cinta tidak cukup kuat. Mungkin inilah yang dimaksud istilah "Rokkap" alias jodoh itu sendiri!
Sutradara Joe, Ginanti dan Pay berhasil menghadirkan lanskap Sumatera Utara dengan sedemikian indahnya. Pesisir Danau Toba yang menjadi latar belakang juga memberikan kontribusi sendiri dalam memanjakan mata. Plot ceritanya sangat kental dengan budaya Batak terbukti dari penggunaan bahasa, musik latar, setting hingga adat istiadatnya. Semua dihadirkan secara minimalis dan lembut, menyatu dengan kekuatan cerita sederhana yang coba dibangun dari awal.
Rokkap merupakan satu dari sangat sedikitnya film nasional off-mainstream yang berani mengusung idealisme tersendiri ini mungkin akan sangat membosankan bagi para penonton awam. Meskipun terkesan terburu-buru menutup layar, endingnya yang agak miris tak terduga sedikit banyak menjadikan drama ini cukup menggigit dan "bernilai" pada akhirnya.

Durasi:
75 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 20 Oktober 2010

THE FOUR-FACED LIAR : Menentukan Pilihan Persahabatan Cinta Sejenis

Quotes:
Molly: Never have I been thrown up against a wall and kissed hard.
Bridget: Never have I ever been turned down.


Storyline:
Bridget, Trip, Molly, Chloe, Greg adalah lima orang berusia 20 tahunan yang berusaha mencari jati diri masing-masing di tengah hiruk-pikuk kota New York. Sepasang sahabat karib dan sepasang kekasih bertemu di sebuah bar Irlandia yang terletak di jalan West Village. Melalui berbagai perjumpaan, keempatnya menjadi terikat satu sama lain dan terlibat cinta, pengkhianatan dan patah hati sekaligus. Begitu sulitkah menentukan identitas di tengah kehidupan yang serba abu-abu tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oeh Brillhart / Gonzales Productions, Cinescape Productions, OneZero Productions.

Cast:
Marja Lewis Ryan sebagai Bridget
Emily Peck sebagai Molly
Todd Kubrak sebagai Trip
Daniel Carlisle sebagai Greg
Liz Osborn sebagai Chloe

Director:
Feature film pertama bagi Jacob Chase setelah 6 film pendek sebelumnya.

Comment:

Sejujurnya saya tidak terlalu memperhatikan poster ataupun premis film ini sehingga memasuki pertengahan baru menyadari kalau ceritanya menyangkut lesbian dan pasangan straight yang berjuang mmepertahankan hubungan mereka. Okay, I’m an open-minded person. So, I treat every movies the same. Lagipula berapa banyak film yang bertemakan gay/lesbian yang bisa dirilis di bioskop Indonesia? Blitzmegaplex terbukti mampu memberikan ragam pilihan yang berbeda.
Judul film ini berasal dari nama sebuah bar di New York City. Ya lagi-lagi New York City yang dipilih oleh penulis skrip Marja Lewis Ryan sebagai setting lokasi kehidupannya. Bisa jadi terinspirasi oleh serial tenar Friends apalagi tokoh-tokoh utamanya memang beberapa pria wanita dewasa yang saling berinteraksi satu sama lain dengan segala problematikanya. Oleh karena itu sentralisasi karakter tidak terjadi karena frame selalu bergulir secara bergantian.
Dari segi akting, tidak ada masalah samasekali dari semua jajaran cast disini meskipun belum ada yang memiliki nama besar. Semuanya menghidupkan karakter masing-masing dengan pas dan natural. Terlebih Carlisle, Lewis Ryan dan Kubrak yang terlihat sangat menjiwai dengan ekspresi dan intonasi yang atraktif. Sayangnya kesemuanya itu pernah ditampilkan sebelumnya oleh puluhan judul Hollywood meski endingnya masih bersemangatkan indie movie yang kental.
Permasalahannya adalah saya tidak mampu berempati pada tokoh manapun juga dalam film ini. Bukan karena saya tidak mau peduli terhadap jalan cerita yang disodorkan melainkan kurangnya latar belakang dan visi masing-masing tokoh dalam menyikapi hidupnya. Seakan semuanya samar-samar dan sutradara Chase terus saja mengalir dengan supervisi dari Lewis Ryan yang tampaknya menyimpan ambisi pribadi tersendiri dengan proyeknya ini.
Kesalahan lain The Four-Faced Liar adalah kurang menyelipkan unsur komedi di dalamnya. Hal ini teramat penting untuk menyeimbangkan film yang sudah sarat dengan muatan sarkasme mengenai cinta, pengkhianatan dan patah hati itu sendiri. Namun jika anda menginginkan tontonan off-mainstream yang menjurus homoseksualitas (gay/lesbian), mungkin film ini bisa menjadi alternatif yang bijaksana. Belum tentu anda sependapat dengan saya, bukan?

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 18 Oktober 2010

GOOD LUCK CHUCK : Kutukan Kencani Wanita-Wanita Cantik

Quotes:
Cam Wexler-Why teeth?
Charlie-Same reason as every other dentist. Couldn’t get into med school.
Cam Wexler-That’s funny!
Charlie-My parents didn’t think so.

Storyline:
Bermalam dengan wanita cantik setiap malam? Itu adalah kutukan paling beruntung! Setidaknya bagi Charlie Logan mempunyai banyak wanita single yang mengantri di depan pintu kamarnya. Selepas berkencan dengannya dijamin mereka akan menemukan belahan jiwanya. Ketika pada akhirnya Charlie jatuh cinta sungguhan kepada gadis cantik bernasib naas Cam, kutukan itu membawa malapetaka. Akankah Cam seperti wanita lainnya hanya singgah sementara di hidup Charlie?

Nice-to-know:
Ide poster film ini diambil dari cover majalah “Rolling Stone” yang menampilkan Yoko Ono dan John Lennon dimana Lennon tampil telanjang.

Cast:
Sebelumnya muncul dalam thriller yang tidak terlalu sukses yaitu Mr. Brooks, Dane Cook kali ini menjadi dokter gigi Charlie alias Chuck yang dikutuk teman wanita semasa kecil agar tidak pernah merasakan cinta yang sesungguhnya.
Baru saja tampil dalam Fantastic Four : The Rise Of Silver Surfer, Jessica Alba kini menjadi gadis pengurus habitat pinguin di kebun binatang bernama Cam yang selalu tertimpa musibah dimanapun.
Dan Fogler sebagai Stu
Lonny Ross sebagai Joe

Director:
Merupakan debut penyutradaraan pertama bagi Mark Helfrich yang lebih sering menjadi editor film sebelumnya termasuk dalam Rush Hour 3 (2007).

Comment:
Ciri khas film-film yang dibintangi Dane Cook adalah karakternya tampan dan disukai banyak wanita. Tentu saja karena selama ini ia juga bertindak sebagai produsernya sehingga bebas melakukan apapun pada peran yang akan dimainkannya. Hal itu juga yang terjadi disini. Jika anda bukan penggemar Cook, bisa jadi muak akan stereotype tersebut. Namun cobalah mengesampingkan fakta tersebut terlebih dahulu untuk menikmati film ini.
Plot ceritanya sederhana dan premisnya nyaris tidak dapat diterima akal sehat. Namun selayaknya komedi romantis, premis macam apapun dapat dihalalkan untuk membangun suasana lucu dan manis. “Kutukan” yang menimpa Charlie memang terasa mengada-ngada tetapi seiring berjalannya cerita, hal tersebut rasanya dapat termaafkan. Semua elemen yang dihadirkan disini terasa klise dan mudah ditebak. Jika saja anda pernah menyaksikan film bergenre serupa setidaknya sekali sebelumnya maka sejak menit-menit awal, anda akan tahu film ini mengarah kemana.
Sutradara Helfrich memang lebih banyak bermain di humor slapstick yang penuh dengan kata-kata jorok dan tonjolan buah dada disana-sini. Beberapa adegan memang berhasil membuat saya yang tergolong kategori penonton moderat ini terpingkal-pingkal dibuatnya.
Cook bisa dibilang melakukan apapun disini mulai dari striptease nyaris telanjang hingga bercinta dengan boneka penguin di akhir credit title. Segala polah tingkahnya mungkin lucu tapi terkadang over-the-top. Beruntung masih ada karakter yang dimainkan Fogler untuk menetralisir “pesona” Cook yang dominan itu. Sebaliknya Alba banyak melakukan kecerobohan disana-sini mulai dari terantuk hingga terpeleset. Ajaib rasanya jika ia masih hidup sampai detik ini. Sedikit fakta yang mengganggu, mulai pertengahan hingga akhir film, kesialan Alba seakan menghilang begitu saja tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Jujur saja skill romantic comedy Alba masih di bawah rata-rata, mengingat ia bukan Katherine Heigl atau Amy Adams.
Good Luck Chuck bisa dikatakan sudah memiliki blueprint love story sehingga duet Cook-Alba tinggal mengikuti jalur yang ada. Sebagai sebuah komedi romantis harus diakui cukup memuaskan walaupun nyaris tidak ada kreatifitas yang baru disini. Namun yang perlu anda lakukan adalah membuang jauh-jauh pikiran serius saat menyaksikannya untuk bisa menikmatinya.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$34,925,283 till Nov 2007

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 17 Oktober 2010

STEP UP 3D : Perebutan Uang dan Gengsi Kompetisi Tarian Dunia

Quotes:
Luke-What is it that you love about dance?
Natalie-Everything you need to know is in my dancing.
Luke-Everything?

Storyline:
Masuk ke universitas baru tidak membuat persahabatan Moose dan Camille putus. Mereka tetap akrab satu sama lain hingga Moose tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya untuk tetap menari. Di sebuah taman umum, ia berkenalan dengan Luke yang membawanya ke gedung tua basis perkumpulan para penari hip-hop yang dinamakan The Vault. Luke bukannya tanpa niat karena tunggakan sewa gedung tersebut sudah 5 bulan tidak dibayar. Dan satu-satunya cara melunasinya adalah dengan memenangkan kompetisi dansa hip-hop dunia yang akan segera berlangsung. Di sisi lain, Luke juga harus berurusan dengan mantan partner dansanya, Julian yang sudah bergabung dengan Samurai, rival berat Pirates. Siapa yang akan keluar sebagai juara pada final World Jam tersebut?

Nice-to-know:
Adam G. Sevani dan Alyson Stoner sudah pernah bekerjasama sebelumnya dalam beberapa iklan 'JC Penney', video klip Missy Elliott dan rekaman Youtube mereka yang berjudul "Thriller" Remix.

Cast:
Sebelumnya mendapat peran kecil dalam Surrogates (2009) nya Bruce Willis, Rick Malambri bermain sebagai Luke, pentolan grup penari hip-hop Pirates.
Adam G. Sevani sebagai Moose
Sharni Vinson sebagai Natalie
Alyson Stoner sebagai Camille
Joe Slaughter sebagai Julien

Director:
Pria kelahiran Palo Alto pada 2 November 1979 bernama Jon M Chu ini masih melanjutkan Step Up 2 : The Streets (2008) yang juga ditanganinya.

Comment:
Sudah terbukti sebelumnya bahwa dalam film-film yang menonjolkan tarian, cerita bukanlah yang utama. Dan hal tersebut diulangi lagi disini. Plot ceritanya seperti ditulis dalam waktu 15 menit saja oleh duet penulis Amy Andelson dan Emily Meyer sehingga menghasilkan storyline yang klise.
Belum ditambah kinerja Duane Adler dalam menyusun dialog para karakternya yang benar-benar terasa easy dan cheesy. Kedua hal itu tidak dipungkiri sangat mempengaruhi akting para pemainnya. Di luar fakta bahwa nyaris semua aktor-aktrisnya adalah dancer, keempat tokoh utama mendapatkan porsi yang cukup dominan. Sevani sebagai Moose harus diakui lebih berkarakter dibandingkan Malambri sebagai Luke. Sevani seakan dihadapkan pada dua pilihan, studi atau tari dan chemistrynya dengan Stoner terkesan lebih jujur. Sayangnya fokus cerita lebih terarah pada pasangan Malambri dan Vinson yang tidak jauh beda dengan apa yang disuguhkan film-film sejenis sebelumnya.
Di samping empat nama di atas, para dancer asli itu menjalankan tugasnya dengan baik. Termasuk si kembar Santiago yaitu Martin dan Facundo Lombard serta Chadd Smith sebagai Robot Dance Vlad yang cukup mencuri perhatian.
Beruntung sutradara Chu tidak berlama-lama dalam bercerita, melainkan tetap berpusat pada konsep utama dalam melahirkan suatu tontonan tari hiphop yang koreografinya fresh dengan track-track R&B andalan dari nama-nama seperti Flo Rida, T-Pain, Mims, Busta Rhymes dll yang ear-catchy itu. Dalam hal ini Chu menyiasatinya dengan mempercepat tempo dan memaksimalkan unsur 3D yang sejak semula dibebatkannya. Nice work! Lihat openingnya saat Sevani menyuguhkan tarian pembuka di taman hiburan. Atau gelembung-gelembung sabun yang berwarna-warni saat Malambri dan Vinson bermain bersama. Atau warna-warni kostum The Pirates di tarian pamungkas. Semua itu menjadikan Step Up 3D tersaji dalam tarian berenergi tinggi yang dikombinasikan dengan permainan kamera yang inovatif. Layak tonton terutama anda yang sudah mengikuti dua prekuelnya. Nilai 7.5 untuk 2D dan 8 untuk 3D nya!

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$42,240,870 till mid Oct 2010

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 16 Oktober 2010

BOO : Terjebak Malam Halloween di Rumah Sakit Terbengkalai

Quotes:
Allan-I don't believe in ghosts.
Meg-Don't worry, you will.

Storyline:
Lima sekawan Emmett, Freddy, Marie, Kevin dan Jessie sepakat untuk merayakan malam Halloween di sebuah RS yang terbengkalai bernama Linda Vista. Sementara itu Allan bertemu dengan kawan ayahnya, Arlo Ray Baines dan meminta bantuannya untuk menemukan saudarinya, Meg yang lenyap di RS tersebut. Kedua kelompok ini bertemu di lantai 3 bekas institusi gangguan jiwa. Gangguan supernatural mulai menghantui mereka satu persatu. Jessie yang peka menelusuri masa lalu bahwa salah satu pasien Jacob yang selalu mencoba kabur adalah permasalahan utamanya. Akankah mereka berhasil keluar hidup-hidup dari sana?

Nice-to-know:
Dalam sebuah interview, sutradara Ferrante menyampaikan bahwa Dig Wayne yang memerankan Arlo Ray Baines alias Dynamite Jones memiliki lima episode sendiri antara lain Meet Dynamite Jones, Dynamite Ignited, Dynamite Jones vs The Dope Pope, Dynamite Jones vs Count Pimpula dan Dynamite Jones vs Frankenfro yang sempat muncul dalam pesawat televisi di film Boo ini.

Cast:
Jilon Ghai sebagai Kevin
Happy Mahaney sebagai Emmett
Nicole Rayburn sebagai Marie
Josh Holt sebagai Freddy
Trish Coren sebagai Jessie Holden

Director:
Anthony C. Ferrante ini seringkali menjabat sebagai penulis, produser, aktor, spesial dan visual efek dalam film-film kecil yang pernah ditanganinya.

Comment:
Rasanya baru kemarin kita menyaksikan Asylum yang rilis 2008 tapi baru tayang di Indonesia tahun ini. Sama halnya dengan Boo produksi Graveyard Filmworks yang rilis 2005 bahkan sudah beredar di Singapura tahun 2006 yang lalu! Walaupun telat tidak ada salahnya menyaksikan ini terutama bagi saya pecinta berat film horor/thriller dari berbagai kelas dan kualitas sekalipun.
Jika plotnya sudah sedemikian mirip dengan yang sudah-sudah tentunya yang bisa dijual dari sebuah film horor adalah akting dan ketakutan. Untuk aspek pertama, film ini flat. Bagi para aktor muda seperti Ghai, Mahaney, Holt tidak mengesankan samasekali. Sedangkan Coren yang harusnya memimpin sebagai Jessie juga tidak terlalu meyakinkan. Penglihatan-penglihatannya akan masa lalu cukup mengganggu alur yang berusaha dikembangkan. Tidak bisa disalahkan juga karena mereka semua belum memiliki jam terbang yang mencukupi. Beruntung masih ada karakter jagoan kulit hitam Dynamite Jones yang meskipun terasa out of place tetapi cukup memberikan warna tersendiri disini.
Sutradara Ferrante tergolong mampu menonjolkan aspek yang kedua yaitu ketakutan. Semua itu lebih dikarenakan setting rumah sakit yang memang sedemikian gelap, megah, usang dan ditinggalkan yang bahkan lebih seram dari kemunculan hantu itu sendiri yang lebih banyak memakai grafis visual efek. Permainan kamera dalam menangkap setiap sudut ruangan mulai dari dalam lift hingga tangga darurat juga terbilang sukses menakuti penonton. Tentunya tak lepas dari beberapa elemen kejutan tiba-tiba yang walaupun klise nyatanya masih bisa bekerja dengan baik.
Sebagai horor berbujet rendah, Boo cukup maksimal dan bahkan sedikit lebih baik daripada horor buatan Hollywood belakangan ini. Unsur gory nya cukup terjaga dan tidak sampai berlebihan. Secara keseluruhan dapat dikatakan film yang tidak terlalu baik kualitasnya tetapi saya tetap terjaga menyaksikannya selama 90 menit. That's why i gave it 7 out of 10!

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 15 Oktober 2010

PERJAKA TERAKHIR 2 : Mewarisi Kitab Pusaka Perguruan Silat

Storyline:
Lewat sebuah peristiwa pengutilan di supermarket tempatnya bekerja, Sam berkenalan dengan hansip yang sedang berkeliling, Sugeng. Kebetulan perguruan silat yang membesarkan Sam sedang mencari pemuda bertampang culun yang tiada berkemampuan untuk dijadikan murid. Ki Geledek, Bu Topan Mas Petir sepakat mengajari Sugeng semua ilmu-ilmu dasar yang harus dikuasainya. Namun tantangan semakin berat saat Ki Wedan yang menuntut balas dendam akan sakit hatinya kembali mengincar Kitab Pusaka perguruan Sam. Akankah Sam dan Sugeng berhasil bersatu menghadapi gempuran Ki Wedan yang kian tangguh itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Diwangkara Pictures.

Cast:
Fahrani sebagai Sam
Ringgo Agus Rahman sebagai Sugeng
Barri Bintang sebagai Ki Wedan
Barry Prima
Joe Project
Weni Rosaline

Director:
Jacki

Comment:
Masih dengan mengandalkan nama Fahrani untuk mendongkrak film ini. Jika di film pertamanya ada Aming yang kemayu, disini ada Ringgo yang culun. Tidak jauh berbeda, bukan? Dalam artian sama-sama untuk ditertawakan. Dalam menampilkan mimik konyol, Ringgo memang jagonya, mulai dari nyengir, mesum, serius bisa dilakoninya dengan baik. Fahrani kali ini banyak mengumbar tatonya yang terpampang di berbagai bagian tubuhnya yang langsing dan jenjang itu, tentu saja hanya dari bagian belakang. Selain mereka masih ada Barry Prima yang sekali lagi mempertontonkan sedikit kemampuan berlaganya. Lalu ada juga Barri Bintang yang terlihat cukup meyakinkan dengan jaket kulit serba hitamnya.
Sutradara Jacki dapat dikatakan berhasil memaksimalkan efek-efek pertarungan dengan seheboh dan seseru mungkin. Coba lihat adegan menghindari helm di openingnya, sedikit meniru The Matrix dengan stop motionnya. Atau batu-batu yang beterbangan di closingnya, mengingatkan pada film-film Stephen Chow semacam Kungfu Hustle dsb.
Semua konklusi di atas seakan menguatkan alasan anda untuk menonton sekuel ini. Namun nanti dulu, saya belum selesai. Permasalahan utama film ini adalah eksekusi yang sangat tidak maksimal sehingga sinematografi yang dihadirkan tak lebih dari kualitas FTV. Plot ceritanya yang terlalu simpel sebetulnya tidak bisa disalahkan jika disiasati dengan baik, tetapi semuanya mengalir secara linier tanpa jeda dari awal sampai akhir tanpa mempedulikan penonton yang mungkin saja sudah merasa jenuh pada menit-menit awal. Entah mengapa saya merasa aktor-aktrisnya sangat tidak camera-face disini, mungkin karena permainan kamera yang kurang maksimal mengcover sisi-sisi yang seharusnya tidak ditampilkan. Dari sisi humor lebih parah lagi karena formula yang digunakan teramat sangat kadaluarsa, seakan penonton sudah melihat hal serupa ribuan tahun yang lalu. Pemakaian angka 2 di belakangnya samasekali tidak relevan karena tidak berkorelasi apapun dengan Perjaka Terakhir sebelumnya. Entah apa yang berusaha dijual dari film yang kelewat ringan seperti sehelai bulu kemoceng tertiup jauh setelah dilintasi truk bermuatan penuh sampah ini.

Durasi:
75 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 14 Oktober 2010

RINTIHAN KUNTILANAK PERAWAN : Menjual "Keahlian" Bintang Porno Impor

Quotes:
Alice: I'm beautiful, sexy and gorgeous. Everybody would love me.

Storyline:
Lily dan Alice adalah dua saudari yang tumbuh bersama. Bedanya Lily selalu didampingi orang-orang terdekat dalam hidupnya seperti ibu yang menyayanginya dan kekasihnya Mike yang mencintainya. Sedangkan Alice terbiasa hidup menyendiri. Saat band Keren's manggung di sebuah bar, Alice berkenalan dengan Rifky sang vokalis. Mereka membawa Alice pada malam itu dan meninggalkan Lily dalam kecemasan. Paginya Lily mendapat mimpi buruk dan Alice mulai bertingkah aneh. Sejak saat itu korban demi korban berjatuhan. Apa yang sesungguhnya menimpa Alice? Siapa pembunuh misterius yang berkeliaran itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh K2K Production dan pressconnya dilakukan di Setiabudi 21 pada tanggal 11 Oktober yang lalu.

Cast:
Tera Patrick sebagai Alice
Angel Lelga sebagai Lily
Andreano Phillips sebagai Mike
Catherine Wilson sebagaiTania

Director:
Yoyok Dumprink

Comment:
Rasanya saya sudah bisa menulis esai panjang setelah 5-10 menit pertama film ini. Bukan esai yang baik tentunya karena berisi 1001 hal negatif di dalamnya. Sebut saja beberapa di antaranya; Band Keren's yang manggung di club yang bernuansa musik disko? Makhluk gaib yang sudah mengintai bahkan sebelum kejadian Alice malam itu? Alice dan Lily yang diceritakan bersaudara justru terasa berjarak ratusan meter di antara mereka? Lantas, apa lagi yang bisa diharapkan dari sisa durasinya?
Hm, tentunya KK Dheeraj punya senjata pamungkas tersendiri untuk menyiasati segala kekurangan itu yakni dengan mengimpor bintang porno Amerika, Tera Patrick! Ia tidak peduli samasekali jika sepanjang film Tera berbahasa tubuh sama anehnya dengan bahasa Inggris-Indonesia yang terucap dari bibirnya itu. Semua tokoh dalam film ini terasa miscasting dengan karakterisasi yang non-existing itu. Kemunculan Angel, Andreano dan Catherine hanyalah sebagai pelengkap derita yang tiada terselamatkan. Plot yang tidak jelas itu saat bercerita seperti menggali lubang keterpurukan yang semakin dalam lagi dan lagi.
Kontroversial tentunya akan mewarnai Rintihan Kuntilanak Perawan. Mulai dari pemakaian judul yang tidak senonoh hingga penampilan serba minim Tera yang tidak pada tempatnya. Dada "ekstra"nya terasa diumbar disana-sini dan jika berdampingan dengannya, Angel dan Catherine benar-benar terasa "kecil" secara fisik. No surprise! Ini adalah sebuah drama horor yang seakan tidak memiliki unsur "benar" samasekali di dalamnya sehingga penonton akan meninggalkan bioskop dengan bersungut-sungut kecewa.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 13 Oktober 2010

BEFORE SUNSET : Pertemuan Kedua Fase Kehidupan Berbeda

Quotes:
Celine-Memory is a wonderful thing if you don’t have to deal with the past

Storyline:
Jesse terbang dari Amerika ke Perancis untuk mempromosikan buku terbarunya. Tanpa diduga ia bertemu kembali dengan Celine, gadis Perancis yang pernah terlibat “hubungan unik” dengannya 9 tahun yang lalu. Tentu saja banyak yang telah berubah dalam kehidupan mereka dimana Celine sudah bekerja di organisasi perlindungan lingkungan sedangkan Jesse sudah menikah dengan satu anak. Sambil menunggu penerbangan Jesse yang tersisa 7 jam, keduanya sekali lagi menghabiskan waktu bersama dengan kisah-kisah kehidupan masing-masing yang penuh makna dan kenangan.

Nice-to-know:
Jesse yang diperankan Hawke diceritakan mengalami pernikahan yang gagal setelah istrinya mengandung. Pada kehidupan nyata setelah rilis film ini, Hawke juga menceraikan istrinya, Uma Thurman yang tengah hamil anak pertama mereka.

Cast:
Ethan Hawke terakhir mendukung Denzel Washington dalam Training Day (2001) dan disini kembali berperan sebagai Jesse.
Julie Delpy sebelumnya tampil dalam Looking for Jimmy (2002) dan kali ini melanjutkan karakter Celine.

Director:
Salah satu karya Richard Linklater yang paling berkesan bagi saya adalah The School of Rock (2003).

Comment:
Di akhir Before Sunrise, Jesse dan Celine berjanji untuk bertemu enam bulan lagi tetapi nyatanya tidak kesampaian dan malah berjumpa sembilan tahun kemudian! Sebuah plot sekuel yang sangat tidak biasa, bukan? Toh film ini tetap melanjutkan apa yang tertinggal sejak perjumpaan di Vienna itu. Jesse dan Celine sudah beranjak dewasa. Dan hal itu mampu diperlihatkan Hawke dan Delpy dengan maksimal. Hawke menyuguhkan karakter pria dewasa yang terjebak dalam perkawinan yang tidak membahagiakannya sedangkan Delpy membawakan karakter wanita mandiri yang tidak terlalu mementingkan cinta. Keduanya juga masih menampilkan chemistry yang kuat dimana perasaan-perasaan terpendam di antara keduanya masih tersimpan.
Sutradara Linklater berhasil menerjemahkan cinta remaja yang penuh mimpi menjadi asmara dewasa yang serba rumit. Sayang durasinya seperti terlalu singkat apalagi open ending yang mungkin bagi sebagian orang cukup mengganggu tapi sebetulnya bermakna dalam, membuat penonton menginterpretasikan sendiri dengan pendalaman masing-masing.
Before Sunset meskipun menyajikan plot cerita yang terlihat biasa akan membawa anda mengarungi makna kehidupan. Dialog-dialog yang jujur dan menyentuh layaknya membaca novel percintaan yang mengasyikkan. Bagaimana tahun demi tahun akan merefleksikan pandangan hidup anda tentang cita, cinta dan bahkan pernikahan. Dengan sisi artistik dan penambahan elemen musik yang semakin baik, film independen ini akhirnya diakui dunia lewat berbagai nominasi Oscar yang diterimanya. Two thumbs up!

Durasi:
80 menit

U.S. Box Office:
$5,792,822 till end of Oct 2004

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent