Tagline:Too nice? Too honest? Too “you”? Help is on the way.
Storyline:Roger tumbuh dewasa sebagai seorang pecundang. Bekerja sambilan sebagai petugas tertib parkir keliling malah membuatnya terlibat masalah. Mendekati Amanda, tetangga cantiknya di apartemen juga tidak lancar. Atas saran Ian, Roger mengikuti kursus Dr. P dan asistennya, Lesher untuk mengubah nasibnya menjadi seorang pemenang. Ia tidak sendiri karena berjumpa dengan Eli, Ernie, Little Pete dan lain-lain. Satu demi satu instruksi dikerjakan Roger dan perlahan kepercayaan dirinya tumbuh. Namun proses itu diganggu saat ia mengetahui Dr. P juga mendekati Amanda. Siapa yang akan menang pada akhirnya?Nice-to-know:Merupakan remake berjudul sama di tahun 1960 karya Robert Hamer yang dibintangi oleh Ian Carmichael, Terry Thomas dan Alastair Sim.Cast:Jon Heder mulai dikenal semenjak membintangi Napoleon Dynamite (2004). Kali ini ia berperan sebagai pecundang Roger yang sebetulnya cerdas dan tangguh, hanya saja tidak percaya diri.Aktor senior ini telah masuk dalam jajaran Hollywood Walk of Fame di tahun 2004, Billy Bob Thornton disini bermain sebagai mentor Dr. P yang sangat culas dan banyak akal.Jacinda Barrett sebagai AmandaMichael Clarke Duncan sebagai LesherSarah Silverman sebagai BeckyDavid Cross sebagai IanDirector:Todd Phillips memulai karir sutradara lewat Road Trip (2000) yang sangat menghebohkan kalangan remaja satu dekade lalu.Comment:Entah harus menyalahkan siapa jika ternyata film ini baru tayang di Indonesia 4 tahun setelah dirilis di Amerika sana. Ya 4 tahun, saudara-saudara sebangsa dan setanah air! Bahkan trailernya sendiri sudah wara-wiri sejak tahun 2009 di bioskop-bioskop ibukota. Mungkin peribahasa last but not least berlaku disini. Toh menurut saya film ini juga berkualitas lumayan.Sepintas memang hanya terlihat sebagai komedi remaja biasa yang penuh humor slapstick dan menjurus seks. Hm, nanti dulu jika anda berpikir seperti itu. Plot yang biasa dan klise yakni from zero to hero ternyata disajikan dengan cukup menyenangkan. Semua itu tak lepas dari gemilangnya penampilan Heder dan Thornton. Lihat bagaimana transformasi Heder yang berwajah culun dan berpenampilan sangat biasa. Sebaliknya Thornton terlihat cool dan kharismatik disini. Keduanya bagaikan kutub magnit Utara dan Selatan yang bertolak belakang tetapi berbagi chemistry dengan pas satu sama lainnya. Barrett juga cantik dan manis sebagai love interest kedua leading actor itu. Belum lagi dukungan dari Clarke Duncan, Silverman, Cross dkk yang walaupun tidak dominan tetapi cukup berarti.Kita patut angkat topi pada kiprah sutradara Phillips yang juga bertindak sebagai penulis scenario. Scene per scene dihadirkannya dengan komedik tapi tidak berkesan norak. Beberapa twist maju mundur menjelang ending juga cukup berhasil dalam memainkan emosi penonton yang sejak awal diyakini berempati pada karakter Roger.Pada akhirnya School For Scoundrels tak hanya menghibur sebagai tontonan ringan tetapi memiliki pesan moral yang tinggi. Bagaimana seharusnya seseorang tetap optimis dan fokus dalam mencapai tujuannya tanpa berusaha menjatuhkan orang lain. Hidup kita memang milik kita sendiri dan semuanya akan berbuah tergantung perbuatan kita masing-masing.Durasi:105 menitU.S. Box Office:$17,803,796 till end of 2006Overall:7.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Quotes:Alice-My name is Alice. I had worked for the Umbrella Corporation. Five years ago, the T-Virus escaped, and everybody died. Trouble was... they didn't stay dead.
Storyline:Ketika seluruh dunia sudah terinfeksi virus mematikan akibat ulah Umbrella Corporation, Alice melanjutkan perjalanannya untuk mencari sesamanya yang masih bertahan hidup sekaligus menempatkan mereka semua ke tempat teraman. Dan tanpa diduga, Alice berjumpa Claire yang disangkanya sudah tiada. Mereka berdua tiba di Los Angeles dan bertemu dengan beberapa orang yang selamat yaitu Luther dkk dan tawanan mereka, Chris yang misterius. Gerombolan baru ini akhirnya sepakat menerobos kawanan zombie dan bertekad menemukan suatu tempat bernama Arcadia. Berhasilkah mereka?Nice-to-know:Subjudul Afterlife sempat dipertimbangkan untuk dipakai pada seri ketiganya sebelum diputuskan Extinction.Cast:Setelah Extinction, Milla Jovovich sempat membintangi 2 film di tahun 2009 yaitu A Perfect Gateway dan The Fourth Kind sebelum kembali dalam peran Alice.Ali Larter sebagai Claire RedfieldWentworth Miller sebagai Chris RedfieldKim Coates sebagai BennettShawn Roberts sebagai Albert WeskerSergio Peris-Mencheta sebagai AngelSpencer Locke sebagai K-MartBoris Kodjoe sebagai LutherDirector:Nama Paul W.S. Anderson mulai dikenal setelah mengadaptasi game ternama Mortal Kombat ke dalam film layar lebar di tahun 1995.Comment:My name is Alice.. Kalimat opening yang sudah berulang kali didengungkan dan ingatan saya langsung melayang pada ketiga prekuelnya sekaligus membuat saya berpikir apa saja yang akan ditawarkan di episode keempat kali ini. Dan dugaan tersebut tidak salah, Afterlife kembali mengulang plot yang sama dengan setting yang berbeda. Beberapa adegan pada opening bahkan mengingatkan kita pada I Am Legend dimana Will Smith mendengar broadcast news akan suatu tempat evakuasi yang aman dan berusaha mencarinya dengan harapan menemukan sesama manusia yang masih hidup. Memasuki pertengahan barulah interaksi Alice dengan Claire ataupun Luther cs menjadi suguhan yang menyenangkan. Tentu saja harus ada korban baru yang berjatuhan bukan? Munculnya zombie jenis baru dengan monster dari dalam mulut turut memperkaya khasanah sekuel ketiganya ini.Entah usaha menarik minat pasar Asia disengaja atau tidak tetapi prolog yang mengisahkan branch Umbrella Corporation yang bersetting di Tokyo terasa sedikit dipaksakan apalagi kemudian muncul beberapa nama ternama dari sana termasuk biduanita Mika Nakashima. Pada scene ini, aksi Alice-Alice sangatlah over the top dan menurut saya akan menjadi bagian favorit para fans RE.Overall, Resident Evil : Afterlife samasekali tidak menawarkan sesuatu yang baru. Masih dibungkus dengan cerita yang dangkal dan tidak eksis tetapi tetap dibekali dengan visualisasi yang menakjubkan, lebih karena ditambahkan elemen 3D di dalamnya. Ini adalah sekadar hiburan belaka bagi para pecinta franchise RE tetapi tidak untuk saya. Open ending juga menyiratkan akan ada terusannya lagi dan lagi. Sangat melelahkan membayangkannya..Durasi:95 menitU.S. Box Office:$43,893,958 till mid Sept 2010.Overall:6.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Tagline:Believe In Him
Storyline:Pendeta Cotton Marcus sepakat merekam momen pengusiran setan terakhirnya di pertanian keluarga Sweetzer yang terletak di pedesaan Louisiana, Baton Rouge. Produsernya Iris dan kameraman bernama Daniel selalu siap menangkap setiap adegan yang melibatkan Cotton. Namun kali ini Cotton tidak menghadapi kasus pengusiran setan biasa. Ia dihadapkan pada gadis 16 tahun, Nell yang seringkali kehilangan kendali dirinya. Belum lagi kehadiran ayah dan kakak kandung Nell yakni Louis dan Caleb yang protektif dan temperamen. Bagaimana iman dan kepercayaan diri Cotton mengatasi semua itu?Nice-to-know:Film ini hanya berbujet 1,8 juta dollar dan dikirim ke teater dengan kode "Scrutiny".Cast:Menggunakan nama-nama yang belum ternama sama sekali.Patrick Fabian sebagai Cotton MarcusAshley Bell sebagai Nell SweetzerIris Bahr sebagai Iris ReisenLouis Herthum sebagai Louis SweetzerCaleb Landry Jones sebagai Caleb SweetzerTony Bentley sebagai Pastor ManleyDirector:Film panjang kedua yang disutradarai oleh Daniel Stamm setelah A Necessary Death (2008).Comment:Tanpa ekspektasi apapun saya menyaksikan film ini seperti halnya kemunculan tiba-tibanya di cinepleks 21 tanpa banyak pemberitaan terlebih dahulu. Menit-menit awal sudah memperlihatkan bahwa ini adalah sebuah film bergaya dokumenter dengan menggunakan kamera tangan. Tema yang diangkat tergolong tidak baru tetapi mampu dicampur dengan ide-ide segar yang belum tersentuh sebelumnya oleh film-film sejenis. Selama 30 menit pertama anda akan dijamu oleh nuansa komedik yang seakan didesain untuk mengolok-olok scene legendaris dari horor lawas. Kengerian sendiri baru muncul setelah setengah perjalanan film yang terus terang sangat terbantu oleh lighting yang menentramkan mata dan sound yang menyayat-nyayat telinga.Dua nama yang outstanding disini adalah aktor televisi Fabian yang mempotretkan karakter pendeta dengan sangat manusiawi juga Bell yang memvisualisasikan karakter gadis kesurupan dengan sorot mata, mimik dan gesture yang mengerikan. Sutradara Stamm tergolong sukses memaksimalkan bujet sangat rendah menjadi sebuah tontonan menarik.Jika anda pecinta film pengusiran setan semacam The Exorcist dengan segala sekuel prekuelnya dan film hantu bergaya dokumenter semacam Blair Witch Project, The Last Exorcism bisa jadi pilihan tepat mengingat originalitas plot dan open ending yang sangat twisted itu. Namun kubu yang tidak menyukai dua judul yang baru saya sebutkan akan sulit jatuh cinta dengan film ini dan merasakan kebosanan dan kebingungan yang luar biasa sepanjang durasi film. Saya sendiri berada di pihak tengah dan akhirnya memberikan skor demikian. Pesan saya, pikir dua kali sebelum menebak dimana film ini akan berakhir dan buat konklusi sendiri untuk didiskusikan bersama dengan teman menonton anda.Durasi:85 menitU.S. Box Office:$38,062,322 till mid Sept 2010.Overall:7 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Storyline:Beberapa waktu silam, Emily dan Andy tengah merayakan bulan madu di Pantai Biru. Malang di tengah kemesraan, keduanya disatroni 3 perampok yang membunuh Andy dan membuang Emily ke jurang.Masa kini, adik Emily yang bernama Maya melakukan pencarian kakaknya. Ia berjumpa enam muda-mudi masing-masing pasangan Ryan-Naomi, Amel, Jazzy, Jojo dan Gathan yang sedang berekreasi sekaligus melakukan sesi pemotretan. Lelaki tua penjaga penginapan, Pak Solikum mengingatkan mereka agar berhati-hati terhadap makhluk gaib yang dijuluki Dedemit Samber Nyawa di daerah sekitar yang kerapkali meminta korban jiwa. Apakah sesungguhnya Emily masih hidup? Bagaimana teror Dedemit Samber Nyawa tersebut dapat dihentikan?Nice-to-know:Diproduksi oleh Kanta Indah Film & BIC Production dan diproduseri oleh HM Firman Bintang.Cast:Catherine Wilson sebagai EmilyKeith Foo sebagai RyanUli Auliani sebagai NaomiCynthiara Alona sebagai JazzyDebby Ayu sebagai AmelFendi Trihartanto sebagai JojoDirector:Absen di bulan suci Ramadhan, Nayato Fio Nuala kembali dua minggu kemudian dengan thriller horor terbarunya yang berjudul cukup berdaya tarik ini.Comment:Leburkanlah 2 film berikut: Darah Perawan Bulan Madu (Hartawan Triguna) dan Air Terjun Pengantin (Rizal Mantovani) yang sama-sama rilis 2009. Voila! Jadilah karya terbaru Nayato yang siap tayang tetapi apakah layak tonton? Temanya seperti tersebut di atas mengenai pasangan muda-mudi yang diganggu saat berbulan madu dan sekelompok muda-mudi yang diteror saat rekreasi. Nampaknya kreatifitas sudah semakin sulit dikembangkan dewasa ini. Seakan tidak cukup lemah, diperparah juga dengan masuknya tokoh adik kandung sang penebar teror tanpa maksud dan tujuan yang jelas serta berbaur begitu mudahnya dengan para sahabat tersebut.Dengan kekonyolan plot dan skenario yang saling berlomba-lomba itu lantas apa lagi yang bisa dijual? Tentu saja panorama dan jajaran castnya. Panorama Pantai Biru memang cukup indah dan keahlian sutradara sekelas Nayato yang cukup pandai bermain angle memang berguna disini. Trio aktris Uli, Cynthiara, Debby kembali mempertontonkan kemolekan tubuh mereka dengan bikini minim. Belum lagi sosok Catherine yang tidak jelas apakah hantu atau manusia yang berkostum sangat eksotis (anda akan mengerti maksud saya jika menontonnya!). Ohya ada juga Keith Foo yang wajah dan tubuhnya bisa jadi menyegarkan bagi penonton wanita (dan sebagian penonton pria tentunya). Rasanya "penampilan" kesemuanya merupakan "akting" tersendiri di film ini.Mungkin kejam jika saya katakan Pengantin Pantai Biru lebih merupakan kumulasi sampah-sampah kertas Nayato yang berisi satu dua coretan ide lalu diremas-remas dan dibuang tanpa penyelesaian apapun. Namun memang itulah kenyataannya. Skip it!Durasi:70 menitOverall:6 out of 10Movie-meter:6-sampah!6.5-jelek ah7-rada parah7.5-standar aja8-lumayan nih8.5-bagus kok9-luar biasa
Storyline:Di sebuah hutan, Moniq selaku sang sutradara tengah mengarahkan Linda dan Arumi berakting dalam sebuah film pendek. Saat memakai wig, tiba-tiba Linda bersungguh-sungguh mencekik Arumi. Hal ini langsung dihentikan teman-temannya. Linda yang kesurupan tidak terkendali sampai wig yang dikenakannya dilepas oleh Dana. Setelah kejadian itu, mereka ditempeli oleh pocong terus menerus bahkan hingga pulang ke rumah masing-masing sekalipun! Zacky meminta bantuan engkongnya yang seorang paranormal untuk mencaritahu apa yang mengganggu mereka sesungguhnya. Siapakah gadis bernama Titin yang disebut-sebut engkongnya?Nice-to-know:Diproduksi oleh Rapi Film.Cast:Zaky ZimahLeylarey LesesneMonique HenryArumi BachsinSazha CarissaDana ColeRozie MahallyDirector:Bisa dikatakan film horor komedi pertama Nayato Fio Nuala yang kali ini berkolaborasi dengan penulis Erry Sofid.Comment:Opening film ini harus diakui menjanjikan. 10-15 menit pertama akan membuat anda tertawa dengan beberapa adegan slapstick yang cukup mengena meskipun masih tidak jauh dari kata norak. Tetapi tidak apalah jika jatuhnya fun. Para penonton yang paham benar gaya seorang Nayato mungkin akan mengernyitkan dahi. Bingung sekaligus terkejut lalu timbul pertanyaan dalam benak kami semua. Benarkah inovasi sutradara misterius itu bisa berhasil kali ini?Pikir dua kali jika anda berpikir seperti itu. Berakhir masa "syuting" di hutan maka berakhir pula segala humor itu. Plot kembali dibawa seperti yang sudah-sudah yaitu penampakan demi penampakan yang menghantui karakter-karakter utama. Kali ini sang pocong yang menjadi momok pun mengeluarkan seribu jurusnya yang lebih tepat dibilang menjahili daripada menakuti. Terus terang saya kasihan sekali melihat makhluk berkain kafan putih itu disuruh mengintip, membayangi, mencolek, memecahkan cangkir bahkan bersembunyi di dalam lemari es! Entah berapa puluh kali (dan beratus kali sebelum diedit tentunya) Nayato menginstruksikan pocong sewaannya membombardir penonton dengan ketakutan/kegelian di setiap beberapa menit. Anda sangat tidak beruntung jika semua penonton seperti saya yang hanya bisa menguap menyaksikannya.Kehadiran Zaky Zimah sedikit membantu disini. Mimik muka lugu disertai gesture tubuh bodohnya terbukti ampuh memancing senyum audiens apalagi disenjata pamungkasi kata "najis". Monique, Leylarey cs seperti biasa hanya bisa merumpi dan beradegan mandi untuk kemudian berlari-lari ketakutan. Bahkan seorang Arumi yang tergolong rajin bermain dalam film Nayato lengser setelah 30 menit pertama, mungkin ia jatuh tertidur kebosanan hingga sang komandan tidak berani membangunkannya karena takut disumpahi pocong. Lho? Kesimpulan akhir, Pocong Jumat Kliwon ini tampaknya terlalu jenaka untuk menakuti ataupun terlalu seram untuk ditertawai? Anda yang putuskan.Durasi:80 menitOverall:6.5 out of 10Movie-meter:6-sampah!6.5-jelek ah7-rada parah7.5-standar aja8-lumayan nih8.5-bagus kok9-luar biasa
Quotes:Anna-You fried my blackberryDeclan-You fried the whole village!
Storyline:Berkarier sebagai penata apartemen, Anna Brady berharap-harap cemas saat kekasihnya yang kardiologis, Jeremy mengajak makan malam di restoran mewah yang diduga akan melamarnya. Namun harapan sirna karena Jeremy hanya membelikannya giwang dan berencana melakukan dinas ke Dublin. Mendengar ada tradisi di Dublin dimana seorang wanita bisa melamar pria setiap tanggal 29 Februari alias tahun kabisat, Anna nekad terbang kesana. Sayangnya karena cuaca buruk, ia mendarat di Wales dan penerbangan ke Dublin terpaksa ditutup. Mencari cara untuk pergi kesana, Anna malah berjumpa pemuda setempat, Declan yang setuju mengantarnya dengan sejumlah bayaran. Perjalanan panjang itu membuat dua orang asing tersebut saling mengenal. Benarkah Jeremy merupakan jodoh yang dinantikan Anna sesungguhnya?Nice-to-know:Bar Declan yang bernama "Caragh" dalam bahasa Gaelic berarti "Tersayang".Cast:Karir akting layar lebarnya dimulai lewat Drop Dead Gorgeous (1999) dan Amy Adams disini kebagian peran Anna Brady, wanita mandiri yang menginginkan cinta yang stabil dalam hidupnya.Angkat nama setelah berduet dengan Mandy Moore dalam Chasing Liberty (2004), Matthew Goode bermain sebagai Declan, pemuda cuek yang tidak terlalu mempercayai kekuatan cinta.Beberapa kali mendukung serial teve ternama seperti E.R, NYPD Blue, Party Of Five dsb membawa Adam Scott mendapatkan karakter Jeremy yang ambisius dan praktis.Director:Anand Tucker memulai debut penyutradaraannya lewat Saint-Ex (1996).Comment:Entah sudah beberapa banyak komedi romantis yang memanfaatkan Inggris Raya dan sekitarnya sebagai latar belakang? Harus diakui suasana, view dan tradisinya sangat kuat sehingga tidak heran menyimpan daya tarik tersendiri untuk sebuah percintaan. Film ini adalah salah satunya dan Tucker yang sebenarnya belum banyak berpengalaman sebagai sutradara berjudi cukup aman disini dengan memanfaatkan formula-formula baku nan standar.Dari segi cast pemasangan Adams dengan Goode terasa sedikit miscasting, belum lagi ditambah kehadiran Scott yang terkesan melengkapi saja. Mengapa saya katakan demikian? Adams merupakan salah satu newest America’s sweetheart yang pernah sukses dengan genre sejenis belakangan ini, lihat daya tarik kecerobohan yang jenaka dan kenaifannya yang menggemaskan disini. Sedangkan Goode hanyalah satu dari sekian aktor Inggris yang belum berhasil di Amerika. Namun toh keduanya berbagi chemistry yang cukup menyenangkan disini.Plot penemuan pelabuhan hati yang lain saat menunggu kepastian cinta dari sang kekasih kembali dibentangkan menjadi konflik yang harus diselesaikan. Proses ke arah sana seringkali melibatkan riak pertengkaran, penolakan, kebimbangan dan kesalahpahaman. Itulah yang akan selalu dinantikan penonton penyuka genre ini terutama wanita. Dan Leap Year yang mengangkat tradisi unik tahun kabisat ini tetaplah sebuah hiburan yang manis dan nyaman untuk dinikmati tanpa banyak embel-embel yang berlebihan. Bukankah cinta memang harus seperti itu?Durasi:95 menitU.S. Box Office:$25,893,485 till end of Feb 2010.Overall:7.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Quotes:Wally Mars-Did you just use my name as a verb?
Storyline:Wally dan Kassie telah bersahabat lama hingga mereka selalu berbagi satu sama lain. Tiba saatnya Kassie memutuskan untuk melakukan inseminasi buatan karena yakin tidak akan bertemu jodohnya dan tidak mau usianya terlambat mengandung. Wally yang diam-diam menyukai Kassie pun membantah ide gila tersebut. Namun tekad Kassie sudah bulat dan lewat sebuah pesta ia bertemu dengan Roland yang bersedia mendonorkan spermanya. Secara tidak sengaja ketika sedang mabuk, Wally malah menumpahkan botol sample itu dan menukarnya dengan miliknya sendiri. Bertahun-tahun rahasia tersebut disimpan hingga nasib mempertemukan Wally dengan Kassie lagi yang telah membesarkan seorang diri. Akankah terjadi sesuatu di antara mereka?Nice-to-know:Film pertama Miramax setelah dijual Walt Disney Company ke Colony Capital.Cast:Pernah meraih Golden Globe lewat serial televisi Arrested Development di tahun 2003, Jason Bateman bermain sebagai Wally.Memenangkan Golden Globe lewat serial televisi Friends di tahun 1994, Jennifer Aniston berperan sebagai Kassie.Patrick Wilson sebagai RolandJeff Goldblum sebagai LeonardJuliette Lewis sebagai DebbieThomas Robinson sebagai SebastianDirector:Kerjasama kedua Josh Gordon dan Will Speck setelah Blades of Glory (2007).Comment:Entah sudah berkali-kali film mengenai wanita yang menjalani inseminasi buatan diproduksi sebelumnya. Rasanya baru kemarin The Back Up Plan (2009) menyambangi kita di bioskop-bioskop ibukota. Apa yang bisa membuat film ini berbeda?30 menit pertama nyaris sama saja dengan yang sudah-sudah bahkan tingkah Bateman yang sedikit over-the-top cukup menyebalkan. Namun pergerakan setelahnya cukup di luar dugaan dimana plot mengalir lancar dan sangat dewasa. Meskipun mudah ditebak arahnya tetapi tidaklah klise karena karakterisasi para tokohnya dikembangkan dengan baik. Duet sutradara Gordon dan Speck memperpanjang cerita pendek karangan Jeffrey Eugenides dengan gaya penyutradaraan yang baik, tentunya hal ini tak lepas dari campur tangan sang penulis All Loeb yang kreatif dalam menyusun skrip itu.Bateman layak mendapat bintang disini. Ia begitu mendominasi scene dan transformasi sikapnya sangat terasa disini dari seseorang yang kekanak-kanakan menjadi seseorang yang bertanggungjawab. Aniston berakting tanpa improvisasi yang signifikan dari apa yang ia perlihatkan dalam chick-flick serupa. Perubahan dari wanita singel yang mapan hingga menjadi single mother tidak terlalu terasa. Si kecil Robinson ternyata cukup mahir beraksi di depan kamera, lihat bagaimana sorot matanya yang berbicara dan gayanya yang kalem. Sedangkan Goldblum dan Wilson sebagai supporting cast lumayan memberi kontribusi pelengkap.The Switch adalah komedi romantis yang tidak berfokus pada proses menuju cinta itu sendiri melainkan bagaimana seorang pria dan wanita dewasa mampu bersikap di atas situasi yang canggung dan tidak mengenakkan. Suguhan menghibur dan bisa jadi menginspirasi pria-wanita 40 tahunan yang kebetulan belum menikah di luar sana.Durasi:100 menitU.S. Box Office:$27,207,766 till end of Sep 2010Overall:7 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Storyline:Tangshan tahun 1976, gempa bumi besar melanda tiba-tiba di tengah malam. Suami istri Fang dan Yua Ni harus pontang-panting menyelamatkan putra-putri mereka yang berusia 7 tahun, Fang Da dan Fang Deng yang masih terjebak di rumah. Sayangnya bangunan runtuh demikian cepat dan dalam waktu singkat semuanya rata dengan tanah, hanya tersisa puing-puing. Esok harinya, Yua Ni harus menemukan kenyataan pahit. Selain kehilangan suaminya, ia harus memilih satu dari si kembar yang terjebak di reruntuhan. Yua Ni akhirnya menunjuk Fang Da tanpa mengetahui Fang Deng selamat di kemudian hari dan mengetahui keputusannya. Satu momen dilematis itu pada akhirnya mengubah sudut pandang ibu dan anak tersebut selama-lamanya.
Nice-to-know:
Arti sesungguhnya Aftershock adalah gempa kecil yang terjadi setelah gempa kecil yang terjadi setelah gempa besar sebelumnya di daerah yang sama.
Cast:
Zhang Jingchu sebagai Fang Deng / Wang DengChen Daoming sebagai Ayah Angkat
Chen Li sebagai Fang Da
Xu Fan sebagai Ibu Yua Ni
Chen Jin sebagai Ibu Angkat
Director:
Karya pria berusia 52 tahun bernama Feng Xiaogang ini yang paling saya ingat adalah The Banquet (2006).
Comment:Melihat trailernya selama 1 menit, anda akan mengalami kepiluan sekaligus rasa penasaran akan keutuhan jalinan kisahnya apalagi melihat nama sutradara Feng sebagai dalangnya. Terbukti ia mampu memperlihatkan setting China dalam rentang waktu panjang mulai dari tahun 1970an, 1980an, 1990an hingga 2000an secara brilian lengkap dengan kostum dan momen-momen bersejarah yang mengiringinya. Apalagi dibekali juga dengan musik latar yang menghanyutkan di sepanjang film. Thumbs up!Opening film yang diangkat dari novel yang mengacu pada kejadian sesungguhnya yang menelan korban jiwa sekitar 240.000 jiwa ini memang menampilkan visualisasi gempa yang sangat meyakinkan sekaligus mengerikan. Bagaimana bangunan roboh disana-sini dan orang-orang berlarian pontang-panting menyelamatkan diri dan anggota keluarganya. Sebagian besar bujet 25 juta dollar mungkin habis disini tetapi jelas harga sangat layak untuk membangun kekuatan cerita. Selepas 30 menit pertama, anda akan diajak mengikuti perjalanan ketiga tokoh utama selama 32 tahun mulai dari Yua Ni, Fang Da, Fang Deng. Kesemuanya terikat pada subplot baru masing-masing kaya akan konflik interpersonal tersendiri mulai dari hubungan ibu dan putranya, ayah dan putrinya, suami istri, orangtua dan anak angkatnya, kekasih remaja dsb. Xu Fan dan Zhang Jingchu menjiwai peranannya dengan luar biasa, bagaimana bahasa tubuh dan ekspresi keduanya mampu berbicara teramat jujur di depan kamera.Aftershock jelas tidak seperti film bencana yang dibombardir spesial efek ala Hollywood. Suatu potret perjalanan sebuah keluarga setelah dilanda kerusakan moril yang lebih parah daripada kehancuran fisik. Rangkuman emosi terluka, tertekan, menderita terangkum dalam dramatisasi yang kuat tanpa terkesan manipulatif. Saya dan beberapa penonton lain kerapkali harus menggigit bibir dalam-dalam untuk mengindahkan pelupuk mata yang mulai basah karena haru. Inilah film yang sangat manusiawi, realistis dan patut direkomendasikan untuk ditonton bersama seluruh anggota keluarga. Terlepas dari beberapa scene penting yang terasa editingnya atau terpaksa dipotong demi menyiasati durasi, film ini bisa jadi dicatat sebagai salah satu yang paling berharga dalam perfilman China. Semoga berjaya di ajang Oscar tahun depan kategori Film Berbahasa Asing Terbaik!Durasi:
130 menit
China Box Office:
CNY 534,000,000 till early Aug 2010.Overall:8.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Tagline:An act unforgiven. A father lost in grief.
Storyline:Setelah cerai dari istrinya, kebatinan Christian harus ditempa lagi saat mengetahui kematian putrinya tanpa sebab. Sebuah video tiba tanpa nama yang memperlihatkan putrinya, Jesse sedang mabuk ganja dan dicabuli oleh tiga laki-laki. Segera saja Christian merencanakan perjalanan untuk mencari tahu kejadian sesungguhnya yang mempertemukannya dengan Finn sang produser film yang akan menjadi titik awalnya. Kemudian Christian bertemu Alice yang tengah kabur dari rumahnya. Keduanya pun saling berinteraksi dengan caranya sendiri dimana Christian tetap merencanakan balas dendam terbesar yang harus ditempuhnya.Nice-to-know:Untuk mendapat dana produksinya, sebuah film pendek dirancang untuk adegan pembukanya. Film pendek tersebut akhirnya memenangkan Best Independent Drama (10-30 menit) di Queensland New Filmmaker Awards (2006).Cast:Peter Marshall sebagai ChristianCaroline Marohasy sebagai AliceBrad McMurray sebagai DerekJack Henry sebagai FinnEvert McQueen sebagai JimDirector:Steven Kastrissios.Comment:Di tahun 1970an pernah muncul Last House On The Left yang kemudian diremake berpuluh-puluh tahun setelahnya. Film ini bertemakan sama yaitu balas dendam orangtua atas perlakuan tidak menyenangkan yang menimpa putrinya. Bedanya kali ini sang ayah bertindak sendiri dan putrinya sudah keburu tewas. Mengapa saya bandingkan kedua film tersebut? Ada 3 hal yang mendasarinya. Pertama, latar belakang tahun 70-80an masih terasa kental. Kedua, pelaku balas dendam bukanlah orang yang menguasai keahlian khusus bela diri. Ketiga, adegan demi adegan yang diperlihatkan sangat miris sehingga anda akan menutup mata karena ngeri.Film berjudul asli The Horseman yang merupakan asli buatan Australia tahun 2008 yang lalu ini dibintangi aktor-aktris sana yang belum mempunyai nama di kancah internasional. Walau begitu kinerja mereka semua cukup meyakinkan terutama applaus khusus bagi Peter Marshall yang terlihat sebagai pria paruh baya biasa tetapi menyimpan kesigapan luar biasa yang dipacu oleh hati yang terluka. Sutradara Kastrissios juga nyaris tidak mengisi aspek musik disini karena menggarap film dengan gaya dokumenter dan nyaris hitam putih dengan tone warna yang monoton di sepanjang film.Semua hal yang saya sebutkan di atas itulah yang menyebabkan Back To Hell (judul peredaran Blitz Megaplex) ini layak ditonton dikarenakan terasa sangat real seakan-akan penonton diajak mensyut langsung kiprah seorang Christian. Sayangnya gunting sensor yang kelewat tajam sedikit menghilangkan kenikmatan menontonnya saat beberapa adegan sadis terpaksa dipotong begitu saja.Durasi:90 menitOverall:7.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent