XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label donita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label donita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Januari 2012

MY LAST LOVE : Takdir Cinta Terakhir Rasa Bersalah

Quotes:
Angel: Gua punya pengalaman, orang yang paling gua kenal adalah orang asing buat gua.



Storyline:
2 tahun sudah, Angel menjalin cinta dengan Hendra. Namun musibah tragis tak dapat ditolak, Angel ditabrak oleh mobil mewah Martin yang melaju kencang. Dalam kekalutan, Martin malah melarikan diri dan memilih bercerita pada sahabatnya, Ferdy. Angel memang selamat tapi menderita kelumpuhan yang merenggut masa depannya termasuk Hendra yang memilih meninggalkannya. Sahabat dan sepupu Angel, Nadya dan Anton mengajaknya berlibur ke vila untuk menenangkan diri. Di sanalah Angel bertemu dengan Martin tanpa sengaja. Martin yang prihatin berupaya mengembalikan keceriaan dan kesehatan Angel kembali hingga tumbuh benih kasih di antara mereka. Akankah keduanya berkesempatan memiliki cinta terakhir masing-masing?


Nice-to-know:
Diproduksi oleh MD Pictures dimana gala premierenya diadakan di Studio XXI eX pada tanggal 17 Januari 2012.


Cast:
Evan Sanders
sebagai Martin

Donita
sebagai Angel

Ajun Perwira
sebagai Hendra

Rozie Mahally sebagai Ferdy
Caroline Elodie
sebagai Agnes

Jordi Onsu
sebagai Anton


Director:

Merupakan film pertama Nayato Fio Nuala di tahun 2012 ini.


Comment:

Cerita My Last Love yang kondang dari Agnes Davonar cukup membekas dalam ingatan saya karena menyentuh sanubari. Subjudulnya adalah kisah cinta gadis lumpuh dan pria penderita HIV. Namun apa yang terjadi sehingga Ery Sofid dan Agnes Davonar memutuskan untuk mengubah plot ceritanya sedemikian rupa. Apakah ini permintaan MD Pictures atau murni inisiatif dari seorang Nayato Fio Nuala? Jika ada dari anda sekalian yang mengetahui jawabannya, sudi kiranya untuk berbagi informasi.

Kapabilitas Donita untuk memerankan tokoh sendu tidak perlu diragukan lagi. Ia dapat menitikkan air mata dengan mudah apapun kondisinya. Karakter Angel di tangannya memang terasa mellow. Sayangnya proses melupakan Hendra begitu saja dan langsung mencintai Martin yang baru dikenalnya dalam waktu singkat terkesan terlalu mudah. Untungnya Caroline Elodie dan Jordi Onsu lumayan memberikan kontribusi sebagai sahabat-sahabat setianya yang kocak dan baik hati.


Evan Sanders pernah mempesona dalam Dealova (2006). Namun kefasihannya berakting dalam berbagai judul sinetron kejar tayang stasiun televisi lokal justru terbawa disini. Peran pesakitan memang cukup meyakinkan dibawakannya walaupun transisi dari pria muda bergaya hidup jetset tanpa komitmen cinta terasa mendadak. Nama Ajun Perwira yang mengisi peran Hendra seakan mendompleng ketenarannya yang meroket belakangan ini. Sedangkan Rozie Mahally yang kebagian tokoh Ferdy selama ini memang setia sebagai “pengikut” Nayato.

Berbagai kejanggalan juga patut dicermati dalam film ini. Tidak diceritakan faktor apa yang memungkinkan seseorang bisa sembuh dari kelumpuhan. Lantas menyaksikan Angel bisa dibonceng sepeda oleh Martin dengan gampangnya juga menimbulkan tanda tanya besar. Belum lagi keluarga Martin yang kaya raya secara materi tapi mempercayakan perawatan putra kesayangannya di rumah sakit kurang berkelas. Semua itu akan membuat anda mengernyitkan kening pertanda kebingungan.

Kinerja Nayato sebagai sutradara kali ini sedikit banyak mengingatkan saya pada Cinta Pertama (2007) yang bertemakan serupa. Salah satu bukti bahwa ia mampu membesut sebuah film yang melebihi standar rata-rata! Dramatisasinya tergolong pas tanpa memaksakan diri untuk terlalu cengeng. Berbagai momen menyentuh yang ada pun berhasil dimaksimalkan untuk membangkitkan simpati penonton akan kelangsungan hubungan Martin dan Angel yang tidak “sempurna” tersebut.

Tak dipungkiri, bagi saya My Last Love merupakan film terbaik Nayato dalam 5 tahun terakhir! Meskipun sesungguhnya saya mengharapkan eksekusi yang lebih setia pada ide originalnya yang lebih kompleks tersebut. Bagaimanapun juga tidak ada salahnya jika sesekali memberikan rekomendasi #KamisKeBioskop bagi Nayato kali ini. Suguhan keikhlasan dan ketulusan cinta situasi dari pemasangan Evan dan Donita yang sama-sama rupawan itu pada akhirnya menjadi nilai tambah tersendiri.

Durasi:
91 menit


Overall:
7 out of 10


Movie-meter:

Selasa, 25 Oktober 2011

KEHORMATAN DI BALIK KERUDUNG : Keadilan Poligami Cinta Tak Sampai

Quotes:
Ifand: Mengapa kamu ada di sini?
Syahdu: Karena takdir mempertemukan kita..


Storyline:
Gadis cantik bernama Syahdu hidup sederhana bersama ibunya yang sakit-sakitan dan juga adiknya Ratih. Saat mengunjungi kakek-neneknya di lain kota, Syahdu berkenalan dengan pemuda soleh, Ifand yang juga ternyata tertarik padanya. Kedekatan keduanya tidak terelakkan menimbulkan cinta. Sayangnya hal tersebut ditentang warga sekitar sehingga Syahdu memilih pergi dan menikahi Nazmi yang bersedia membantu biaya pengobatan ibunya. Ifand yang terluka pun akhirnya menikahi Sofia yang amat tulus menyayanginya. Beberapa tahun kemudian, Syahdu dan Ifand dipertemukan kembali. Akankah cinta mereka berujung kebahagiaan di atas kekalutan?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision dimana screening terbatasnya diadakan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 26 Oktober 2011.

Cast:
Donita sebagai Syahdu
Andhika Pratama sebagai Ifand
Ussy Sulistiawaty sebagai Sofia
Nadya Almira sebagai Ratih
Jordi Onsu sebagai Andi
Iwa Rasya sebagai Nazmi

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Tya Subiakto Satrio, salah satu penata musik film terbaik yang dimiliki Indonesia.

Comment:
Entah apa yang ada di benak Amalia Putri saat mengerjakan skrip film ini. Terus terang saya penasaran apakah ia menyaksikan Pupus (2011) atau Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap (2011) sebelumnya sehingga menghasilkan karya yang teramat mirip. Perbedaannya, Pupus drama cinta remaja, Kejarlah drama cinta beda kasta sedangkan Kerudung sudah bisa diduga dari judulnya drama cinta bernafaskan religi. Bukan kebetulan jika ketiganya dibintangi oleh Donita dan dua diantaranya diperani oleh Andhika Pratama.
Donita disini lagi-lagi mengumbar air mata. Scene menangisnya kembali menjadi andalan utama. Kasih tak sampai, diduakan cinta, ditinggal kawin, perasaan tersakiti dan sederetan kejadian dramatis lainnya bisa menjadi alasan karakter Syahdu untuk menangis. Meski saya bukan Muslim tetapi penggunaan kerudung Donita di sepanjang film sangatlah mengganggu karena dikenakan dengan setengah niat. Apakah dimaksudkan untuk menegaskan karakter Syahdu yang tidak memahami agamanya sendiri? Hm, rasanya masih ada cara lain yang lebih tepat.
Sebaliknya Ussy memulai debutnya dengan gemilang. Mudah-mudahan kerudung yang menjadi judul film ini memang diperuntukkan bagi karakter Sofia, wanita tegar berhati besar yang benar-benar menjunjung tinggi kehormatan diri lewat sikap ikhlas dan “nrimo”nya. Kalimat terakhir ini mohon jangan diartikan bahwa saya mendukung setiap perempuan untuk menerima nasib untuk “dimadu” suaminya. Saya selalu percaya bahwa konsep pernikahan adalah satu adanya.
Peran Andhika disini mengingatkan pada apa yang dilakukan Fedi Nuril dalam Ayat-Ayat Cinta (2008). Sayangnya turun naiknya emosi tokoh Ifand pantas dipertanyakan saat ia mengencani Syahdu, menikahi Sofia, meminang Syahdu hingga terkesan berpihak pada Sofia kembali dalam berumahtangga. Tentunya penonton perlu mengetahui proses pergolakan batin yang lebih kentara untuk dapat mengerti alasan-alasan Andhika melakukan semua itu.
Debut Tya Subiakto sebagai sutradara memang dipertanyakan banyak orang yang merasa karyanya ini menilik dari sinematografinya lebih “bergaya” Nayato yang kebetulan hanya duduk di bidang departemen kamera kali ini. Namun saya percaya pengalaman Tia mengerjakan scoring musik dan bekerjasama dengan sineas-sineas tanah air turut membekalinya ilmu penyutradaraan. Film pertamanya ini masih diwarnai dengan sentuhan feminis pada sudut pandang karakter-karakternya, sesuatu yang rasanya cuma bisa dilakukan oleh seorang wanita.
Kehormatan Di Balik Kerudung bukanlah karya sempurna yang lagi-lagi mencoba mengejawantahkan kasus poligami dengan pendekatan yang sudah tidak asing lagi. Bagaimanapun juga pembelajaran kaum wanita untuk menghadapi pria semacam ini tetap patut diingatkan dari waktu ke waktu, baik sebagai istri tua atau muda sekalipun. Anda bukannya tidak punya pilihan tetapi sangatlah penting untuk mengambil sikap tegas demi kepentingan sendiri, bukan orang lain.

Durasi:
105 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 24 Agustus 2011

KEJARLAH JODOH KAU KUTANGKAP : Pemuda Desa Kepincut Gadis Model Metropolitan

Quotes:
Asep: Kalo Asep udah cinta jangankan beda kota, beda dunia juga bakal Asep kejar!



Storyline:
Pernikahan yang tidak diinginkan Asep akhirnya terjadi juga karena keluarganya sudah memilih Enok. Dalam perjalanan, melintaslah Farah di dalam mobil beratapkan sunroof yang datang ke kampung Asep untuk sesi pemotretan luar ruang. Seketika Asep jatuh hati pada Farah dan keduanya pun menghabiskan seharian bersama karena kendaraan dinas Farah yang mogok. Asep tidak peduli akan ketidaksukaan Emak dan warga setempat dengan para pendatang tersebut. Sepulangnya Farah ke Jakarta, Asep nekad kabur dari rumah untuk menyusulnya. Apa yang bisa dilakukan pemuda desa di kota metropolitan yang samasekali asing baginya?


Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures & Bic Production dimana gala premierenya diselenggarakan di Studio XXI eX pada tanggal 23 Agustus 2011.


Cast:

Andhika Pratama sebagai Asep
Donita
sebagai Farah

Lidya Kandau sebagai Ibu Asep
Joe P Project
sebagai Paman

Polo sebagai Supir Taksi
Mucle
sebagai Ustad

Bertrand Antolin
sebagai Brandon


Director:

Merupakan film kedua bagi Indrayanto Kurniawan setelah Saus Kacang (2008).


Comment:

Percintaan pemuda desa dengan gadis metropolitan. Entah sudah berapa kali tema serupa diangkat ke layar lebar sebelumnya. Masih segar dalam ingatan (meski sebetulnya tidak terlalu memorable) di penghujung tahun lalu ada Kabayan Jadi Milyuner. Jelas yang membuat berbeda adalah jajaran cast dan filmmaker yang terlibat di dalamnya. Masing-masing mempunyai versinya sendiri dan dikembalikan penonton mau berpihak pada yang mana.

Penulis skrip Benni Setiawan masih menunjukkan kelemahannya disini yaitu kesulitan menyatukan berbagai subplot yang sudah terbangun untuk kemudian dikonklusikan pada akhirnya. Pertemuan Asep dan Farah di bagian openingnya bahkan tanpa tedeng aling terlebih dahulu. Terlalu cepat dalam menyimpulkan ada “sesuatu” di antara keduanya setelah cinta pandangan pertama Asep atau Farah yang harus menginap satu malam dimana keduanya terlibat perbincangan yang tak terlalu krusial.
Permasalahan utama film adalah terlalu terfokus pada Andhika dan Donita. Dunia seakan milik mereka berdua, tokoh-tokoh lain yang timbul tenggelam begitu saja seakan berada di “dunia lain” tanpa memiliki pengaruh yang bisa menguatkan bangunan cerita. Kemana Enok setelah dibatalkan pernikahannya? Mengapa reaksi Mak Asep datar seakan tanpa kekhawatiran menyambut kembali kepulangan putra kesayangannya? Apa alasan Bertrand putus sambung dengan mudahnya? Semua pertanyaan tersebut tidak akan pernah anda temui jawabannya.

Rasanya di jaman sekarang ini sulit untuk percaya ada pemuda selugu (kalau tak mau dibilang bodoh) Asep yang sebegitu naifnya mau bersusah payah menerapkan prinsip agamanya di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Bagaimana alasan gadis cantik modern hidup dalam kemewahan seperti Farah yang mau peduli pada pemuda desa yang baru sekali ditemuinya itu termasuk mengajaknya tinggal bersama (baca berdua) di apartemennya? Sekeras apapun Andhika dan Donita menampilkan penjiwaan yang sesuai dengan karakter mereka dalam film ini, tetap sulit bagi penonton untuk tidak mengerutkan kening saat menyaksikan polah tingkah keduanya di sepanjang durasi.
Jika sebelumnya sutradara Indrayanto masih cukup berhasil dengan duet suami-istri Ashraff-BCL yang merusak suasana Nyepi di Bali dalam Saus Kacang yang setidaknya mampu menyuguhkan romantisme pembangkit senyum kecil, tidak kali ini dengan pasangan Andhika-Donita. Percayalah tangisan meyakinkan Donita dalam berbagai scene sekalipun tidak mampu menyelamatkan film. Apalagi diiringi scoring musik yang tidak pada tempatnya.

Konsep komedi yang ditawarkan Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap ini tergolong masih mampu memancing tawa. Sayangnya bukan tawa lepas melebarkan mulut melainkan tawa kecut mengerutkan kening. Mungkin setelahnya anda harus berpikir keras untuk mencari alasan melakukan itu. Ya setidaknya dua pesan moral coba disematkan kali ini yakni ingatlah akan pedoman agama di setiap tingkah lakumu dan budayakan tolong menolong antar sesama. Terdengar sesuai dengan tontonan Idul Fitri? Anda sendiri yang menentukan!


Durasi:
100 menit


Overall:

6.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 27 Mei 2011

PUPUS : Dilematis Pengharapan Cinta Gadis Lugu

Quotes:
Cindy: Masalahnya aku cewek.. Aku butuh kejelasan..

Storyline:
Beranjak dari daerah ke Jakarta untuk menempuh ilmu, Cindy dikerjai para seniornya pada masa orientasi siswa hingga membawanya berkenalan dengan seniornya Panji yang memiliki tanggal ulang tahun persis dengannya. Cindy pun jatuh cinta pada pandangan pertama meski masih bertanya-tanya apakah Panji memiliki perasaan yang sama. Hari-hari berlalu, Hugo yang juga populer di kampus mulai mendekati Cindy yang semakin bingung dengan sikap Panji yang tidak jelas. Kini pilihan ada di tangan Cindy apakah ia akan bertahan mencintai Panji dengan segala kemisteriusannya itu sebelum harapannya benar-benar pupus.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dan gala premierenya diadakan di Plaza Senayan XXI pada tanggal 25 Mei 2011 yang lalu.

Cast:
Donita sebagai Cindy
Marcel Chandrawinata sebagai Panji
Arthur Brotolaras sebagai Hugo
Ichsan Akbar sebagai Eros
Kaditha Ayu
Vicky Monica

Director:
Merupakan film ke-14 bagi Rizal Mantovani yang diawali oleh proyek keroyokan Kuldesak di tahun 1999.

Comment:
Rizal Mantovani merupakan satu dari sedikit sutradara lokal yang sukses bermain nyaris di semua genre mulai dari horror, drama, thriller hingga action. Favorit setiap orang tentunya berbeda-beda dan andalah sebagai penonton yang menilai. Bagaimana dengan drama yang terkesan picisan yang satu ini? Yang trailernya sudah wara-wiri dan sukses mencuri perhatian di bioskop-bioskop tanah air selama beberapa bulan terakhir?
Kisahnya sendiri nyaris merupakan pengulangan drama percintaan pada umumnya. Tarik ulur cinta dan maju mundurnya perasaan menjadi suguhan utama. Hanya saja sudut pandangnya dominan dari sisi perempuan sehingga unsur feminisnya lebih dominan kali ini. Sedikit twist coba dihadirkan di bagian akhir oleh penulis Alim Sudio untuk sedikit mengecoh penonton. Nice try! Meski sejak pertengahan saya sudah mulai dapat menerka endingnya.
Penunjukan Donita sebagai pemeran utama terbilang tepat. Wajah galau dan isak tangis sendunya sudah teruji dalam berbagai FTV dan kembali diperlihatkan sebagai Cindy disini. Sayangnya scene terbaiknya yang dilakukan di dapur tidak menjadi kejutan lagi karena sudah dipampang di trailer begitu saja. Sedangkan Marcel dituntut memberikan karakter lembut sekaligus misterius sebagai Panji. Namun perubahan sikap yang seharusnya lebih “tegas” di akhir cerita menjadi datar saja tanpa disertai alasan yang kuat. Meski demikian chemistry keduanya cukup menarik apalagi keduanya sangat camera-face.
Saya ingin menyorot perihal teknis gambar yang disuguhkan terkesan “terang-benderang” dan menyilaukan mata. Entah disengaja demi menimbulkan efek dramatisasi yang kental tapi nyatanya tidak berpengaruh apapun. Kekurangan yang satu ini tertolong oleh ilustrasi musik yang memang sudah terkenal tetapi diaransemen ulang dan dinyanyikan kembali. Terbukti lantunan suara Ahmad Dhani, Mahadewi maupun Donita sendiri cukup member jiwa pada film.
Pupus bisa saja menjadi sebuah karya yang jauh lebih baik lagi andai dikonsep dengan lebih matang dengan memperhatikan satu dua hal secara lebih detail lagi. Kerunutan dalam bercerita yang mengambil rentang waktu lima tahun dan intensitas klimaks emosi yang kurang konsisten memang sedikit mengganggu. Dan pada akhirnya tidak lebih dari sebuah drama percintaan yang sengaja dikonsep untuk mengharu-biru penonton wanita pada khususnya. Bukankah cinta memang butuh pengorbanan dan cucuran air mata agar benar-benar dapat dirasakan?

Durasi:
85 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 16 Desember 2010

POCONG RUMAH ANGKER : Misi "Pencarian" Berbuntut Penampakan

Storyline:
Bertindak sebagai reporter, Zaki, Joana dan Debby nekad menyambangi sebuah rumah kosong yang terkenal angker karena sering dijadikan tempat pembuangan mayat dalam kasus kriminal. Saat mendokumentasikan situasi bangunan dengan handycam, Joana malah membuka payung usang di dalam rumah tersebut. Hal tersebut diyakini Zaki yang juga diamini Debby akan mengundang makhluk-makhluk gaib. Sepulang dari sana, Zaki, Joana dan Debby kerap diganggu oleh berbagai penampakan yang sulit terjelaskan bahkan teman mereka yang juga seorang bule, Ipung disambangi gadis manis bernama Lilis yang mengaku mengenal trio tersebut di suatu tempat. Apa yang dimulai di tempat awal harus juga diakhiri disana. Maka mereka berlima berusaha menelusuri apa yang sesungguhnya diinginkan oleh makhluk gaib tersebut.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures – Bic Production.

Cast:
Donita
Zaki Zimah
Pamela Bowie
Krisna Patra
Radith

Director:
Koya Pagayo kembali lagi setelah terakhir membuat versi Indonesia Te[rekam] pada pertengahan tahun 2010 ini.

Comment:
Tibalah saat yang ditunggu-tunggu yakni mereview film terakhir sutradara paling produktif di tahun 2010. Anda tahu siapa namanya, tak usah saya sebutkan lagi. Pantang soalnya! Dan menurut pendapat saya, film ini seperti kompilasi dua filmnya sebelumnya yaitu Kuntilanak Beranak dan Sarang Kuntilanak. Namun dikarenakan mengangkat tema hantu mantan penari jaipong (dulu ronggeng) dan rumah angker maka judulpun diganti menjadi Pocong. Subyek horornya menjadi dua yaitu Pocong dan Kuntilanak sekaligus. Voila! Entah mana dari mereka yang bernama Lilis, tidak ada penjelasan, atau saya yang memang tidak perhatian karena tidak penting? Maafkan saya jika begitu.
Dari jajaran cast, beribu sayang Zaky tidak seperti tupai yang tidak jatuh berkali-kali di lubang yang sama, melainkan dakocan yang berkali-kali jatuh di genre film yang sama! Desperate keluar dari komedi layar gelas ke komedi horor layar lebar? Sekali-kali tidak masalah tapi kalau berkali-kali bikin eneg. Ia yang saya akui lucu di beberapa film sebelumnya kali ini gagal total. Jayus abis! Maaf Zaky, kali ini gaya melucu anda kurang ampuh dan amat sangat dipaksakan. Saya sebetulnya ingin tertawa tapi tidak menemukan alasan yang kuat melakukan itu. Sama halnya dengan Donita dan Pamela yang hanya berusaha bercantik-cantik dan menjerit-jerit ria tanpa ada efek positif bagi film ini.
Jika saya ada di posisi produser seperti HM Firman Bintang, maka saya akan menggaji Lilis 3x lipat! Kesulitannya paling tinggi karena harus berperan sedikitnya sebagai lima makhluk! Satu, sebagai gadis desa manis yang lugu. Dua, sebagai penari Jaipong yang lincah menarik. Tiga, sebagai gadis pendiam yang selalu menunduk dengan rambut awut-awutan. Tiga, sebagai pocong yang hobi "tampil". Empat, sebagai "gadis" misterius yang hobi merambat di tembok ataupun naik turun dengan kerekan tali. Sungguh usaha yang luar biasa!
Satu hal yang paling memorable (sekaligus penting) bagi saya adalah saat Debby mengisi gelasnya dengan air dari botol tetapi kosong saat diminumnya, berkali-kali! Cukup orisinil. Selebihnya Pocong Rumah Angker hanyalah pengulangan formula basi yang sudah expired beratus-ratus tahun lalu hingga meracuni otak sekaligus pikiran penonton yang kadung bingung dengan misi film ini sebenarnya. Masih berpikir ingin mencari pocong (atau membantu pocong mencari) di rumah angker?

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 07 Juli 2010

POCONG KELILING : Saat "Poling" Resahkan Warga Komplek

Storyline:
Jamal dan istrinya Astrid dilanda kepanikan saat satu-persatu penghuni rumah di kompleks sekitar mereka mulai pindah. Semua dikarenakan adanya pocong keliling yang kerapkali mengetuk pintu utama warga setempat setiap malam. Rumah-rumah yang ditinggalkan pun kosong dan sulit sekali mencari calon pembeli apalagi isu tersebut sudah santer kemana-mana yang menarik minat kameraman dan pembawa acara yaitu Akbar dan Monique yang sepakat meliput kejadian itu. Ada lagi Bombay dan Asbun, si maling kuburan yang mengambil kesempatan dari kericuhan tersebut. Ditambah kepala keamanan setempat, Dadang dan wanita simpanan, Barbara yang juga heboh sendiri. Apa yang sesungguhnya menyebabkan teror pocong keliling tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dan gala premierenya diselenggarakan di fX pada tanggal 6 Juli 2010.

Cast:
Catherine Wilson sebagai Barbara
Indah Kalalo sebagai Astrid
Donita sebagai Monique
Indra Birowo sebagai Jamal
Eric Scada sebagai Dadang

Director:
Pernah meraih predikat Sutradara Terbaik FFI lewat May (2008), Viva Westi menulis dan menyutradarai komedi horor pertamanya ini.

Comment:
Entah mengapa banyak sutradara berbakat Indonesia yang sengaja mendegradasikan dirinya belakangan ini demi mengikuti trend investor film lokal. Kali ini saya berbicara mengenai Viva Westi. Jujur saya tidak terlalu menggemarinya tapi mengapresiasi Suster N dan May yang cukup berkarakter itu.
Saya akan menyoroti 4 pasangan yang merangkai cerita dalam film ini. Pertama, dua orang maling kuburan yakni Bombay dan Asbun yang berusaha melucu tetapi sayangnya basi yang membuka prolog film yang entah apa relevansinya dengan tema cerita. Bahkan melibatkan hantu wanita Cina kaya yang meninggal? Oh no! Kedua, pasutri Jamal dan Astrid yang mulai mendingin dan sibuk dengan "mainan"nya masing-masing, Ketiga, kru televisi Monique dan Akbar yang ditugaskan liputan "tidak jelas" dan benar-benar terkesan salah tempat dan waktu. Keempat, pasangan Barbara dan Dadang yang baru diekspos di akhir cerita yang sepertinya bisa muncul dan menghilang lebih sering dibanding penampakan itu sendiri. Delapan orang itu secara bergantian mengambil posisi mereka dalam scene masing-masing. Namun sayangnya tidak ada benang merah cerita yang jelas yang mampu mempertegas karakterisasi yang berusaha dibawakan.
Pocong Keliling yang ditampilkan terlalu datar dan konstan sepanjang film ini akan membuat anda mati kebosanan sambil menyaksikan adegan demi adegan dengan rasa getir yang amat sangat selama kurang dari satu setengah jam. Saya pun terlelap dengan sukses tanpa menyadari anak-anak remaja tanggung yang entah sengaja atau berniat iseng sesekali melempari butiran-butiran popcorn dari arah belakang.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa