XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label indrayanto kurniawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indrayanto kurniawan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Agustus 2011

KEJARLAH JODOH KAU KUTANGKAP : Pemuda Desa Kepincut Gadis Model Metropolitan

Quotes:
Asep: Kalo Asep udah cinta jangankan beda kota, beda dunia juga bakal Asep kejar!



Storyline:
Pernikahan yang tidak diinginkan Asep akhirnya terjadi juga karena keluarganya sudah memilih Enok. Dalam perjalanan, melintaslah Farah di dalam mobil beratapkan sunroof yang datang ke kampung Asep untuk sesi pemotretan luar ruang. Seketika Asep jatuh hati pada Farah dan keduanya pun menghabiskan seharian bersama karena kendaraan dinas Farah yang mogok. Asep tidak peduli akan ketidaksukaan Emak dan warga setempat dengan para pendatang tersebut. Sepulangnya Farah ke Jakarta, Asep nekad kabur dari rumah untuk menyusulnya. Apa yang bisa dilakukan pemuda desa di kota metropolitan yang samasekali asing baginya?


Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures & Bic Production dimana gala premierenya diselenggarakan di Studio XXI eX pada tanggal 23 Agustus 2011.


Cast:

Andhika Pratama sebagai Asep
Donita
sebagai Farah

Lidya Kandau sebagai Ibu Asep
Joe P Project
sebagai Paman

Polo sebagai Supir Taksi
Mucle
sebagai Ustad

Bertrand Antolin
sebagai Brandon


Director:

Merupakan film kedua bagi Indrayanto Kurniawan setelah Saus Kacang (2008).


Comment:

Percintaan pemuda desa dengan gadis metropolitan. Entah sudah berapa kali tema serupa diangkat ke layar lebar sebelumnya. Masih segar dalam ingatan (meski sebetulnya tidak terlalu memorable) di penghujung tahun lalu ada Kabayan Jadi Milyuner. Jelas yang membuat berbeda adalah jajaran cast dan filmmaker yang terlibat di dalamnya. Masing-masing mempunyai versinya sendiri dan dikembalikan penonton mau berpihak pada yang mana.

Penulis skrip Benni Setiawan masih menunjukkan kelemahannya disini yaitu kesulitan menyatukan berbagai subplot yang sudah terbangun untuk kemudian dikonklusikan pada akhirnya. Pertemuan Asep dan Farah di bagian openingnya bahkan tanpa tedeng aling terlebih dahulu. Terlalu cepat dalam menyimpulkan ada “sesuatu” di antara keduanya setelah cinta pandangan pertama Asep atau Farah yang harus menginap satu malam dimana keduanya terlibat perbincangan yang tak terlalu krusial.
Permasalahan utama film adalah terlalu terfokus pada Andhika dan Donita. Dunia seakan milik mereka berdua, tokoh-tokoh lain yang timbul tenggelam begitu saja seakan berada di “dunia lain” tanpa memiliki pengaruh yang bisa menguatkan bangunan cerita. Kemana Enok setelah dibatalkan pernikahannya? Mengapa reaksi Mak Asep datar seakan tanpa kekhawatiran menyambut kembali kepulangan putra kesayangannya? Apa alasan Bertrand putus sambung dengan mudahnya? Semua pertanyaan tersebut tidak akan pernah anda temui jawabannya.

Rasanya di jaman sekarang ini sulit untuk percaya ada pemuda selugu (kalau tak mau dibilang bodoh) Asep yang sebegitu naifnya mau bersusah payah menerapkan prinsip agamanya di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Bagaimana alasan gadis cantik modern hidup dalam kemewahan seperti Farah yang mau peduli pada pemuda desa yang baru sekali ditemuinya itu termasuk mengajaknya tinggal bersama (baca berdua) di apartemennya? Sekeras apapun Andhika dan Donita menampilkan penjiwaan yang sesuai dengan karakter mereka dalam film ini, tetap sulit bagi penonton untuk tidak mengerutkan kening saat menyaksikan polah tingkah keduanya di sepanjang durasi.
Jika sebelumnya sutradara Indrayanto masih cukup berhasil dengan duet suami-istri Ashraff-BCL yang merusak suasana Nyepi di Bali dalam Saus Kacang yang setidaknya mampu menyuguhkan romantisme pembangkit senyum kecil, tidak kali ini dengan pasangan Andhika-Donita. Percayalah tangisan meyakinkan Donita dalam berbagai scene sekalipun tidak mampu menyelamatkan film. Apalagi diiringi scoring musik yang tidak pada tempatnya.

Konsep komedi yang ditawarkan Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap ini tergolong masih mampu memancing tawa. Sayangnya bukan tawa lepas melebarkan mulut melainkan tawa kecut mengerutkan kening. Mungkin setelahnya anda harus berpikir keras untuk mencari alasan melakukan itu. Ya setidaknya dua pesan moral coba disematkan kali ini yakni ingatlah akan pedoman agama di setiap tingkah lakumu dan budayakan tolong menolong antar sesama. Terdengar sesuai dengan tontonan Idul Fitri? Anda sendiri yang menentukan!


Durasi:
100 menit


Overall:

6.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 03 Januari 2009

SAUS KACANG : Putus Cinta Itu Bukan Segala-galanya

Cerita:
Dalam sedu sedan ditinggal pria yang ternyata hanya main-main dengannya, Dewi bertekad melupakan semua. Hidupnya perlahan membaik dan membawanya menjadi seorang kepala chef. Sampai pada suatu hari seorang turis Malaysia, Fredo datang "mengacaukan" hotel dengan tingkah lakunya yang membuat jengah semua orang. Dewi berusaha menangani Fredo dengan kepala dingin karena prinsipnya tidak ada tamu yang tak bisa dihadapi. Namun ternyata mereka bertengkar dan kemudian berakhir dengan tugas membersihkan pura selama 4 hari karena tertangkap berkeliaran di hari Nyepi. Proses menjalani hukuman itu mendekatkan keduanya. Dewi baru mengetahui ternyata Fredo tengah galau karena pernikahannya tidak jadi berlangsung. Di sisi lain Dewi tengah belajar bahwa jatuh cinta itu bukan hal yang mudah. Bagaimana akhir dari kisah mereka berdua saat tunangan Fredo, Mae ternyata ingin kembali?

Gambar:
Bersettingkan di Pulau Bali, Saus Kacang menampilkan sedikit suasana eksotis nan relijius umat Hindu mulai dari pantai hingga lingkungan pura yang sakral.

Act:
Bunga Citra Lestari yang tampil mengesankan dengan debutnya, Cinta Pertama (2006) tampil dominan di film ini. Eksplorasi akting berusaha dilakukannya sebagai seorang gadis tegar Dewi yang mencoba bangkit dari kegagalan cinta. Usahanya cukup meyakinkan walau pengembangan karakter masih sangat miskin.
Ashraf Sinclair berusaha menampilan sosok Fredo menyebalkan yang sebenarnya terluka hatinya. Ekspresi emosinya masih agak tanggung dan karakter orang Melayu masih terbawa dengan kuat sehingga terkadang cukup mengganggu.
Nadia Saphira tampil memadai sesuai porsinya yang memang tidak banyak sebagai sahabat Dewi yang lugu tapi baik hati.

Sutradara:
Indrayanto Kurniawan yang berpengalaman dalam serial tv, Ada Apa Dengan Cinta berupaya menampilkan sesuatu yang baru dalam debut layar lebarnya. Tapi sayang, walau sebenarnya eksekusi cerita cukup baik tapi pengembangan skenario masih lemah sehingga perannya sebagai seorang leader di film ini sedikit tercela.

Komentar:
Andai saja endingnya tidak dibuat semudah itu, film ini bisa saja bernilai "lebih". Namun sayang, konsep ringan yang dibawa sepanjang film tidak cukup membawa film ini menjadi tontonan mengasyikan. Semua menjadi klise dan serba tanggung. Nilai jualnya ya cuma pasangan suami istri baru paling hot tahun 2008, Bunga Citra Lestari dan Ashraf Sinclair serta "jual suara" nya BCL dengan lagu-lagu yang cukup ear-catchy itu.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10