XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label animation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label animation. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 September 2015

MONSTER HUNT : Seamless Animation That Breaking Barriers


Tagline:
Some people are not what you see. Some monsters are not what you think. Some adventures are not what you expect.

Nice-to-know:
Aktor muda dari You Are The Apple Of My Eye (2011), Kai Ko sempat memerankan Song Tianyin sebelum terlibat kasus narkoba hingga diganti oleh Jing Boran.

Cast:
Bai Baihe sebagai Huo Xiaolan
Jing Boran sebagai Song Tianyin
Wu Jiang sebagai Luo Gang
Tang Wei sebagai Dealer
Eric Tsang sebagai Zhu Gao
Chen Yao sebagai Cook
Wallace Chung sebagai Boss
Yan Ni sebagai Madam Zheng
Guo Xiaodong sebagai Song Daitian
Elaine Jin sebagai Grandma
Sandra Ng sebagai Pang Ying

Director:
Merupakan feature debut Raman Hui setelah Shrek The Third (2007) bersama Chris Miller.

W For Words:
Tidak banyak yang mengenal nama Raman Hui, pria kelahiran Hongkong 52 tahun silam. Karirnya di dunia film berawal dari Pacific Data Images di tahun 1989 yang kemudian diakuisisi oleh Dreamworks  Animation. Dua short movienya Sleepy Guy (1995) dan Fat Cat on a Diet (2000) memang belum mendunia. Namun kesempatan emasnya bekerjasama dengan Chris Miller menyutradarai Shrek The Third (2007) tidak disia-siakan. Puncaknya adalah ide pembuatan Monster Hunt yang muncul sejak tahun 2005 akhirnya direalisasikan tahun 2013 meskipun menyisakan berbagai hambatan lagi mulai dari pendanaan hingga pergantian pemain yang menyebabkan reshoot nyaris 70%.
Pecundang Tianyin yang sebetulnya keturunan pendekar dari desa Yongning tanpa sengaja dititipkan benih keturunan raja monster di dalam perutnya. Pemburu monster haus uang, Xiaolan harus mengikutinya kemanapun hingga ‘persalinan’ tiba. Bayi menggemaskan yang kemudian dinamakan Wuba itu menjadi incaran banyak pihak mulai dari pemilik kios jagal hingga koki ahli yang tengah mempersiapkan hidangan istimewanya. Kini Tianyin dan Xiaolan yang diam-diam tertarik satu sama lain harus menyelamatkan Wuba dan mengembalikan ke habitat asalnya.














Alan Yuen yang dikenal sebagai penulis skenario, produser dan sutradara ini mengambil inspirasi dari literatur Cina klasik yang berjudul " The Classic of Mountains and Seas." yang mirip dengan National Geographic dimana pembahasan berkisar tentang kawanan monster yang tinggal di pegunungan. Oleh karena itu tercipta varian karakter yang beragam dengan plot device yang terbilang umum. Mungkin sebagian besar penonton akan menyebutkan Kungfu Panda atau Shrek sebagai referensinya. Tidak masalah karena originalitas secara keseluruhan masih dapat dipertanggungjawabkan.

Hui mempertaruhkan budget besar yang awalnya tidak mendapat sokongan Pemerintahan China demi menciptakan fantasy comedy yang secara grafis nyaris tanpa cela. Tekad kuat dan kerja kerasnya terganjar dengan predikat film Mandarin terlaris sepanjang masa sekaligus menyingkirkan film-film box office Hollywood. Desainer produksi Yohei Tanada memasukkan sedikit unsur animasi Jepang. Musik Leon Ko juga mampu menciptakan ambience yang dibutuhkan. Jangan lupakan editing Cheung Ka-Fai yang ketat demi flow storytelling yang dinamis.













Boran mengambil tampuk yang tanpa sengaja ditinggalkan Kai Ko dengan gemilang. Tokoh Tianyin yang polos dan canggung tapi simpatik itu terasa hidup di tangannya. Baihe juga berhasil menerjemahkan karakter Xiaolan yang culas dan serakah menjadi lembut dan penyayang. Simak keterampilan Wu Jiang mempertontonkan jurus silatnya sebagai antagonis Luo Gang. Tak terhitung sumbangsih Eric Tsang dan Sandra Ng yang membuka film ini dengan brilian atau Elaine Jin yang mengocok tawa sebagai nenek pikun. Penampilan cameo Tang Wei dan Chen Yao mungkin tidak akan meninggalkan impresi tetapi jelas cukup penting untuk kebutuhan cerita.

Monster Hunt setidaknya membuktikan, sukses adalah milik sebuah pionir, bukan pengekor. Standar animasi tinggi untuk perfilman Asia telah ditetapkannya, bahkan dipadu-padankan dengan kisah moral sederhana mengenai bagaimana menghargai perbedaan yang ada, menyikapi toleransi antar sesama selain tentunya menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan.
Some adventures are not what you expect. Be prepare for pure entertainment you shouldn’t miss for any reasons. Adorable Wuba is like the cherry on top of the cake you’ll craving for more.

Durasi:
121 menit

China Box Office:
$
360,000,000 till September 2015

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 09 Desember 2014

STAND BY ME DORAEMON : Childhood Friendships Last Forever

Quote:
Nobita: No! Don’t go, Doraemon!
Doraemon: You’ll be fine without me.

Nice-to-know:
Berbeda dari film-film Doraemon sebelumnya, Stand By Me Doraemon menggunakan animasi 3DCG yang dikerjakan sejak Juni 2010 sekaligus memperingati ulang tahun ke-80.

Cast:
Wasabi Mizuta
sebagai Doraemon
Megumi Ohara
sebagai Nobita
Yumi Kakazu
sebagai Shizuka
Tomokazu Seki
sebagai Suneo
Subaru Kimura
sebagai Gian
Yoshiko Kamei
sebagai Sewashi
Vanilla Yamazaki
sebagai Jaiko
Shihoko Hagino
sebagai Dekisugi
Wataru Takagi
sebagai Sensei
Kotono Mitsuishi
sebagai Ibu Nobita
Yasunori Matsumoto
sebagai Ayah Nobita
Miyako Takeuchi
sebagai Ibu Gian
Aruno Tahara
sebagai Ayah Shizuka
Satoshi Tsumabuki
sebagai
Nobita dewasa

Director:
Merupakan film kesepuluh bagi Takashi Yamazaki yang kali ini didampingi debutan Ryuichi Yagi.

W For Words:
Saya dan kamu bersama generasi di atas dan di bawah kita sekalipun tidak akan pernah melewatkan aksi robot kucing maha penolong mulai dari versi komik, serial televisi hingga seri layar lebarnya. Demi memperingati ulang tahun ke-80, karya yang tercetus lewat kreatifitas Fujiko F. Fujio ini kembali digagas dalam format layar lebar. Kompilasi cerita lama yang terstruktur rapi dalam sebuah jalinan kisah utuh, berawal dari perkenalan sampai berujung pada perpisahan(?). Poster dan trailernya yang memang menjual ‘haru’ telah membangkitkan rasa penasaran bagi para fansnya di seluruh dunia sejak beberapa bulan lalu. Beruntung publik Indonesia bisa menyaksikannya melalui jaringan bioskop Blitzmegaplex dan Cinemaxx.













Bocah lelaki canggung berusia 10 tahun, Nobita kerap ditimpa kemalangan. Tidak pernah mendapat nilai baik di sekolah, kerap dimarahi guru dan orangtua hingga dijahili teman-temannya. Pada suatu ketika, Sewashi yang merupakan keturunan Nobita dari abad 22 membawa robot kucing untuk mengubah nasib kakek buyutnya tersebut. Misi Doraemon adalah menolong Nobita dengan berbagai peralatan canggih di kantong ajaibnya. Lambat laun keduanya mulai akrab sampai tiba waktunya Doraemon harus kembali ke masanya sekaligus melepaskan Nobita hidup mandiri. 












Secara plot, feature movie terbaru ini tidak memiliki masalah samasekali bagi para pembaca setia Doraemon. Namun bagi penonton yang samasekali awam rasanya akan sulit mencerna karena minimnya pengenalan latar belakang setiap karakter kunci yang digambarkan lewat satu dua kejadian sehari-hari saja. Beruntung eksplorasi chemistry antara Doraemon dan Nobita atau Nobita dan Shizuka terbilang berhasil dimaksimalkan sehingga amat membantu pergerakan momentum rasa dari A ke B dan seterusnya di sepanjang durasi. Tuntunan rasa yang begitu kontradiktif di paruh awal dan akhir pun mampu dicapai dengan baik.

Secara teknis, penggambaran karakter Shizuka lah yang terasa agak berbeda karena matanya dibuat lebih besar dan dagu yang lebih tajam. Sedangkan Doraemon dan Nobita mengandalkan bentuk iris mata yang variatif selain tentunya mulut untuk ‘berbicara’. Teknik animasi 3DCG terbilang efektif dalam menerjemahkan visual yang diinginkan, lengkap dengan kontras warna-warni yang dipilih sedemikian rupa. Penggambaran setting masa depan yang futuristik dan juga perjalanan mesin waktu yang spektakuler memikat adalah dua poin plus yang membuat anda wajib menyaksikan ini di layar lebar! Tanpa perlu dipertanyakan, efek 3D jelas akan menambah daya tariknya.

Dubbing yang dilakukan Wasabi Mizuta, Megumi Ohara, Yumi Kakazu dan kawan-kawan mampu menerjemahkan emosi dalam menghidupkan karakter masing-masing. Penggarapan scoring music terutama pada bagian sedih efektif menggugah perasaan penonton untuk menggulirkan air mata. Lagu tema, Himawari no Yakusoku yang dinyanyikan Motohiro Hata bisa jadi akan tinggal lama di benak anda, terlebih ketika menyaksikan end credit roll dimana suguhan rangkaian bloopers kocak akan menahan anda untuk tetap duduk di bangku bioskop.
Stand By Me Doraemon adalah sebuah pemenuhan fantasi sekaligus perjalanan nostalgia yang kompeten, ditujukan bagi semua orang yang pernah mengalami masa kanak-kanak. Mengapa tidak? Pada satu titik, mungkin anda pernah menjadi Nobita, Shizuka, Giant, Suneo ataupun Dekisugi. Bagaimana persahabatan mampu menjelma sebagai kekuatan yang mendorong kita untuk tumbuh bersama. Bagaimana tekad tinggi bisa menjadi modal utama dalam menaklukkan rasa takut sekaligus meraih mimpi semustahil apapun. This movie is about growing-up and leaving childhood behind, with or without ‘it’!

Durasi:
95 menit

Overall:
8.5 out of 10


Movie-meter:

Sabtu, 24 November 2012

HOTEL TRANSYLVANIA : More Gags But Less Heartfelt Quirky Animation


Quote: 
Jonathan: Are these monster gonna kill me?
Dracula: Not as long as they think you're a monster.
Jonathan: That's kinda racist.


Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh Columbia Pictures dan Sony Pictures Animation ini dirilis bertepatan dengan peringatan Hari Rabies Sedunia yaitu 28 September 2012. 

Cast: 

Adam Sandler sebagai Dracula
Andy Samberg sebagai Jonathan
Selena Gomez sebagai Mavis
Kevin James sebagai Frankenstein
Fran Drescher sebagai Eunice
Steve Buscemi sebagai Wayne


Director: 
Merupakan debut Genndy Tartakovsky yang sebelumnya lebih berpengalaman menyutradarai serial animasi televisi kondang termasuk The Powerpuff Girls, Star Wars : Clone Wars dsb.

W For Words: 
Transylvania adalah nama daerah hutan dan pegunungan yang terletak di Romania tengah. Novel fiksi bergenre gothic horror mengenai Dracula dari Bram Stoker di tahun 1897 menjadikan Transylvania dikenal sebagai daratan misteri yang penuh magis sebelum diasosiasikan dengan kehidupan vampir. Animasi terbaru ini setia dengan gambaran tersebut dan bisa jadi merupakan perwujudan imajinatif dari apa yang selama ini ada dalam benak anda. Setidaknya itulah asumsi yang muncul ketika pertama kali saya membaca premisnya yang berlanjut dengan melihat trailernya.

Count Dracula terus berupaya meyakinkan putrinya Mavis bahwa manusia adalah makhluk berbahaya. Untuk itulah selama 118 tahun, mereka hidup dalam kastil megah mewah yang hanya diperuntukkan untuk para monster dan keluarganya. Mavis sendiri sesungguhnya telah bosan dengan perayaan ulang tahun yang begitu-begitu saja setiap tahunnya hingga datanglah seorang pemuda backpacker bernama Jonathan yang di luar dugaan mampu menemukan tempat itu. Tak dinyana, Jonathan membawa perubahan besar hingga Dracula sepakat menyingkirkannya demi kelangsungan hidup kaumnya.
Skrip yang ditulis oleh Todd Durham, Dan Hageman dan Kevin Hageman ini sesungguhnya memiliki konsep menarik tentang cinta, hubungan ayah anak, perbedaan jenis hingga pencarian identitas. Sayangnya suguhan over-the-top humor secara simultan di sepanjang durasinya kerap kali mengambil waktu penonton untuk bisa benar-benar memaknai niat baik yang ingin disampaikan. Serentetan slapstick yang tak jarang menyerempet kekerasan dan dialog one-liner yang membuat mata melotot adalah kendala utama yang harus anda maklumi jika ingin menikmati animasi yang satu ini.

Sutradara Tartakovsky terbilang sukses menciptakan setting variatif yang kaya warna. Visual yang rasanya cukup bisa dinikmati dalam format 2D tanpa harus merogoh kocek lebih untuk versi 3D nya. Animasinya tajam dimana penampakan tokoh-tokohnya merupakan paduan gaya lawas dan anyar. Tidak sepenuhnya baru tapi kesan familiar jelas perlu agar penonton merasa lebih dekat. Balutan musik shuffle dari LMFAO (Sorry for Party Rocking), Becky Gomez, Will.I.Am, Traci L. berhasil menghadirkan riuh rendah pesta menggantikan kemonotonan suasana.

Sandler mengubah sedikit aksennya untuk menghidupkan karakter Dracula. He did well! Gomez juga terbilang tepat untuk “meremajakan” karakter Mavis. Sedangkan Samberg tampak sedikit meleset dalam menghadirkan karakter Jonathan yang sudah inkonsisten.  Seorang backpacker umumnya berjiwa bebas dan petualang, tidak ada alasan yang cukup logis untuk membuatnya jatuh cinta pada Mavis atau tertarik pada kehidupan para monster di tempat yang terisolasi. Berbagai nama kondang seperti Buscemi, Shannon, James, Spade, Lovitz tak terlalu memberikan dampak yang signifikan.

Sejauh ini Hotel Transylvania tergolong disukai di Amerika Serikat terbukti dengan raupan dollar yang tidak sedikit hingga sekuelnya sudah direncanakan muncul di tahun 2015 mendatang. Kabar buruk bagi anda (mayoritas penonton dewasa) yang tidak menyukainya. Pengalaman sinematik yang hiperaktif ini rasanya lebih bersahabat pada penonton anak-anak, tentunya dengan bimbingan orangtua. Saya sendiri menganggapnya tidak memorable tapi jelas tidak buruk juga meskipun gagasan akan cinta sejati dan penerimaan diri apa adanya belum mampu menyentuh titik maksimum yang diharapkan.

Durasi: 
91 menit 

U.S. Box Office: 
$142,734,519 till Nov 2012 

Overall: 

7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 16 Juni 2012

A MONSTER IN PARIS : Charming Monster Singing Parisian

Quotes:
“La Seine”
All the tears that you see
Running down my face
They reflect my story
Peaceful and free of rage
I am a monster, I, Francoeur
I no longer fear the storm
I sing of life and it’s pleasures
Until my last hours
O rage, without despair
I look at Paris
And I bet you one day
You will also sing
Of what we call love
It’s the end of this poem
Ephemeral and sensitive wherever I go
You know, Paname
I leave
Love… In the soul

Nice-to-know:
Film berjudul asli Un monstre à Paris ini berbujet US$ 25 juta.

Voice:
Vanessa Paradis sebagai Lucille
Mathieu Chedid sebagai Francoeur / M
Gad Elmaleh sebagai Raoul
Sébastien Desjours sebagai Emile
François Cluzet sebagai Le préfet Maynott
Ludivine Sagnier sebagai Maud

Director:
Merupakan film ketiga bagi Bibo Bergeron setelah Shark Tale (2004).

W For Words:
Ada baiknya sesekali anda memalingkan wajah dari animasi Hollywood yang belakangan semakin dibanjiri oleh binatang sebagai tokoh utamanya. Produksi kolaborasi Bibo Films, Europa Corp., Walking The Dog, uFilm dan France 3 Cinéma ini mungkin mengangkat kutu bernama Francoeur alias Mr. M sebagai sosok monster tetapi berhasil dimanusiakan sedemikian rupa oleh duet penulis skrip Bibo Bergeron dan Stéphane Kazandjian ini ke dalam kisah yang menyentuh dan sarat dengan pesan kemanusiaan tanpa harus menggurui penonton.
Paris, 1910. Dalam kondisi banjir, petugas proyektor film Emile dan penemu Raoul tanpa sengaja menciptakan sebuah monster di lab yang ditinggal pemiliknya ke New York. Walikota Le préfet Maynott yang tengah mencalonkan diri kembali melakukan pengejaran besar-besaran demi nama baiknya. Padahal monster bertinggi badan 7 kaki tersebut tidaklah berbahaya, Francoeur terbukti sangat menyukai musik dan sukses mengiringi penyanyi Lucille dalam menghibur penonton dalam berbagai kesempatan.
Paruh pertama memang terasa lambat. Pengenalan terhadap karakter-karakternya kurang didukung dengan humor yang baik untuk membuat penonton tetap excited. Beruntung setelahnya sutradara Bergeron mampu meningkatkan tempo tanpa harus terburu-buru tanpa melalui aksi kejar-kejaran seru yang didukung oleh grafis lanskap setiap sudut kota Paris yang indah. Konsep animasinya sendiri terkesan gabungan tradisional dan modern layaknya produksi Walt Disney dan Dreamworks, menciptakan atmostir yang menyenangkan sebagai latar belakang narasinya.

Tokoh Lucille adalah penyanyi bersuara merdu yang dihidupkan secara mengagumkan oleh aktris berbakat Paradis. Sedangkan Francoeur merupakan tokoh monster menggemaskan dengan hati emas dan talentanya dalam bermusik. Keduanya berkali-kali menciptakan chemistry yang indah, terutama saat menyanyikan lagu cabaret “La Seine”. You will fall for ‘em! Dua sahabat Raoul dan Emile juga fun to watch dengan keluguan dan spontanitasnya. Walikota ambisius Maynott jelas tokoh yang akan anda benci dengan agresifitasnya memburu Mr. M kemanapun pergi. Salah satu adegan mungkin mengingatkan anda akan KingKong (2005), silakan tebak yang mana.

A Monster In Paris memang animasi yang ditujukan bagi anak-anak tetapi enjoyable bagi orang dewasa. Setiap adegannya terbilang memiliki arti yang krusial terhadap bangunan cerita itu sendiri dengan kandungan pesan moral bahwa justifikasi terhadap seseorang harus dilakukan dari hati, bukan dari penampilannya. Totally different approach for monster presentation. Simply a charming French animated flick with great balances between art, visual and music department itself. At first I was kinda underestimated but later afterwards left the theatre with warm feeling, buoyed with those original scoring and musical performances!

Durasi:
85 menit

Europe Box Office:
1,639,161 in French till Dec 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 04 April 2012

SEEFOOD : Example Of Bad Animation Should Be


Tagline:
The sharks are coming.. to the land!!

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Sea Level ini rencananya akan tayang di Amerika Serikat bulan Oktober 2012 mendatang.

Cast:
Gavin Yap sebagai Julius
Diong Chae Lian sebagai Pup
Steven Bone sebagai Lanky
Colin Chong sebagai Lee
Choong Chi-Ren sebagai Fatman
Jason Cottom sebagai Larry
Kennie Dowle sebagai Octo

Director:
Merupakan feature film pertama bagi Aun Hoe Goh.

W for Words:
Melihat trailernya di Blitzmegaplex mungkin tidak banyak orang yang menyangka bahwa film ini adalah produksi Malaysia. Premisnya mengingatkan kita pada Finding Nemo (2003) dan Shark Tale (2004) dimana tokoh utamanya memiliki warna yang kurang lebih sama. Tidak ada salahnya jika terdapat kemiripan disana-sini jika tetap dilandasi dengan ide cerita yang orisinil. Namun tidak demikian dengan animasi 3D pertama dari Silver Ant Sdn. Bhd yang sukses membuat kening saya berkerut sepanjang film.
Hiu bersirip putih, Julius dan hiu bambu, Pup adalah dua sahabat karib. Pada suatu hari, para penyelam mencuri telur-telur yang belum menetas dari sarangnya. Dilandasi kemarahan dan tekad yang bulat, Pup nekad melancong ke dunia manusia di pesisir pantai untuk menyelamatkan kawanannya. Julius panik mengetahui misi Pup itu dan meminta bantuan Octo, Martle cs untuk menyusul ke darat menggunakan peralatan canggih yang terkubur di dasar samudera sekaligus bertualang untuk pertama kalinya.

Entah apa yang ada di pikiran Jeffrey Chiang saat menulis skrip ini. Padahal tokoh-tokohnya lumayan cute dimana penonton seharusnya bersimpati pada mereka. Faktanya semua permasalahannya terangkat dan terselesaikan dengan mentah tanpa banyak penjelasan. Penonton dipaksa memaklumi konsep film anak-anak sehingga keunikan Pup yang bisa hidup di dua dunia pun dianggap wajar. Pesan moral yang biasa disisipkan dalam film animasi pun kali ini luput dari perhatiannya. Gosh!
Sutradara Aun Hoe Goh semakin memperparah dengan penyutradaraannya yang tidak maksimal. Tiga hal yang paling mengganggu adalah editing buruk yang amat mempengaruhi sekuensi adegan satu dengan lainnya, scoring music yang terlampau kasar sehingga adegan di dalam laut seperti membuat saya berada di dalam akuarium dengan udara terbatas serta inkonsistensi angle camera dimana terkadang Pup terlihat lebih besar dibandingkan obyek-obyek di sekitarnya.
Dialog yang tercipta antar tokohnya juga terkesan kosong tanpa humor wajar wajib untuk memancing sedikit tawa. Come on! It’s a kid movie, at least they deserved to be happy during the show! Tokoh-tokoh manusianya justru mengingatkan saya pada serial Ipin & Upin. Terdapat banyak sekali korelasi yang tidak mendukung cerita secara benar seperti armada belut listrik bermata merah yang siap mengambil tahta samudera, ibu dan anak yang mengendarai mobil di malam hari, serangan kepiting menggunakan kelapa yang gagal segagal-gagalnya.

Jika saja ada kuisioner yang diberikan saya selepas menonton, maka lembar tersebut tidak akan memakan waktu lama untuk diisi dengan mencentang kotak di kolom paling kiri alias buruk/poor di semua aspeknya. Tanpa balutan action yang setidaknya lumayan menegangkan dan konklusi lemah yang menutup film samasekali membuat saya hanya duduk termangu di dalam bioskop selama lebih dari satu setengah jam untuk benar-benar meyakinkan diri bahwa Seefood merupakan animasi terburuk yang pernah saya saksikan sepanjang hidup bahkan kartun sederhana yang bergulir seiring credit title masih lebih menarik!

Durasi:
93 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 13 Maret 2012

LEAFIE : HEN INTO THE WILD Freedom Of Boundaries Is All About


Quotes:
Leafie: Fly with all your strength. Mommy will be watching.

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Madangeul Naon Amtak ini sudah rilis di Korea pada tanggal 28 Juli 2011 yang lalu.

Voice:
Moon So-ri sebagai Leafie – Ipssak
Yoo Seung Ho sebagai Greenie – Chorok
Choi Min-sik sebagai Wanderer
Park Cheol-min sebagai Mayor – Dalsu
Kim Sang-hyun sebagai One-Eye
Kyeong Jeon Sook sebagai Jjaek

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Oh Seung Yun.

W for Words:
Sebuah animasi dari negeri ginseng yang memiliki premis manis diangkat dari novel karya Hwang Seon Mi yang secara fenomenal telah terjual lebih dari satu juta copy. Myung Films dan Odoltogi Production pun melihat peluang tersebut hingga mengutus Kim Eun Jeong untuk mengerjakan skripnya dan juga Oh Seung Yun untuk menggarap filmnya. Pertaruhan yang tidak sia-sia karena film ini laris manis di Korea dan China dimana telah diputar di lebih dari 1.400 layar!
Ayam petelur Leafie merasa bosan dengan hidupnya yang terkungkung di dalam kandang. Ia bertekad melarikan diri dan bertemu dengan itik pengembara dan kukang walikota di sebuah hutan setelah melewati serangan serigala bermata satu. Hidup Leafie berubah saat telur yang dieraminya menetas dimana bayi itik tersebut menganggapnya ibu. Greenie lantas bertumbuh semakin besar dan belajar untuk terbang seperti ayahnya sekaligus mempersiapkan diri mengikuti pemilihan itik penjaga bagi kawanannya. Petualangan Leafie mungkin tidak lagi sama dengan bayangannya dahulu.

Terus terang kisah ini amatlah menyentuh karena melibatkan hubungan emosional antara orangtua (ibu) dan anak. Bagaimana kasih sayang orangtua kerapkali berbenturan dengan anak yang beranjak dewasa. Durasi satu setengah jam akan membawa anda pada petualangan Leafie di awal dan Greenie di akhir. Proses di antaranya akan melibatkan perjuangan hidup, penerimaan perbedaan serta pengejaran mimpi yang akan menohok hati sekaligus menggugah perasaan anda.
Oh Seung Yun menyuguhkan konsep animasi yang sederhana, memang tidak seglamor produksi Hollywood tapi tetap mampu memberikan detail yang mengagumkan. Narasi yang juga terdefinisikan dengan baik diperkuat dengan music scoring layaknya orchestra menawan menjadi nilai tambah lain. Karakterisasinya beragam meski tidak semuanya mendapat porsi memadai masih dapat menggelorakan unsur drama dan komedi yang cukup kental.

Berbagai adegan mengharukan antara Leafie dan Greenie mungkin dapat membuat air mata anda berderai. Manusiawi karena kita semua bisa merasakan situasi serupa dalam kehidupan nyata. Kisah yang mengajarkan anda untuk menggapai cita-cita tanpa harus mengabaikan orangtua yang telah membesarkan anda melalui proses yang tidak mudah. Walaupun mungkin berakhir di luar harapan penonton, Leafie : A Hen Into The Wild jelas tetap merupakan salah satu animasi Asia terbaik yang pernah dibuat. Solid enough to rock your deepest heart!

Durasi:
92 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 04 Maret 2012

LEGENDS OF VALHALLA : THOR Surprisingly Good Non Hollywood Substances


Quotes:
Thor: Mom, I don’t want to be a blacksmith, I wanna be a warrior.

Nice-to-know:
Film berjudul asli Thor med hammeren ini sudah rilis 14 Oktober 2011 lalu di Iceland sana.

Cast:
Justin Gregg sebagai Thor
Paul Tylak sebagai Crusher
Nicola Coughlan sebagai Edda
Liz Lloyd sebagai Hel
Alan Stanford sebagai Odinn
Emmett Scanlan sebagai Sindri

Director:
Óskar Jónasson sebelumnya menangani Reykjavik-Rotterdam (2008). Kali ini ia dibantu juga oleh Toby Genkel dan Gunnar Karlsson yang bertindak sebagai asisten sutradara.

W for Words:
Putra Odin yang bernama Thor diyakini sebagai salah satu sosok dewa mitologi Jerman penguasa kilat, petir dan badai yang dihasilkan oleh godam ajaibnya. Kali ini Friðrik Erlingsson bersama dengan Mick Casale, Mark Hodkinson, Toby Genkel dan sang sutradara sendiri Óskar Jónasson menggagas sebuah cerita fiksi yang pada akhirnya dikonversi menjadi animasi, tentunya sudah disesuaikan dengan perkembangan jaman masa kini.
Thor hidup sederhana bersama ibunya sebagai pandai besi. Diam-diam Thor menyimpan impian lain yaitu menjadi pendekar yang dapat diandalkan untuk melawan kaum raksasa yang seringkali menyambangi desa bangsanya dengan semena-mena. Ayah Thor, Odinn yang hidup mewah di langit tanpa sengaja membuang godam ajaib Crusher hasil temuan Sindri ke bumi. Kini Thor pun berkesempatan memenuhi takdirnya sekaligus menyelamatkan gadis yang disukainya, Edda dari tangan ratu penguasa dunia bawah Hel.

Kreatifitas desain produksi dalam mewujudkan tiga lapisan dunia patut diacungi jempol karena menghasilkan nuansa yang berbeda-beda. Scoring music karya Stephen McKeon juga fantastis untuk mempertahankan mood anda dalam mengikuti setiap sajian sutradara Jonasson. Penggunaan efek 3D nya memang belum luar biasa tetapi cukup efisien menangkap sapu, bebatuan dan obyek-obyek lain yang seakan berlontaran ke hadapan anda.
Sedikit spoiler di bagian ini, tiga hal baru yang paling menarik bagi saya adalah cara pengiriman persembahan dari dunia manusia ke Raja Odinn, jembatan pelangi menuju istana langit yang dihasilkan dari tiupan tuba dan tentu saja tindak tanduk si crusher yang bisa berbicara dengan sepasang mata berbinarnya itu. Selebihnya adalah elemen-elemen dasar yang biasa anda temui dalam animasi Hollywood tapi sudah mengalami retouch sedemikian rupa sehingga hasilnya fresh.

Di luar dugaan, Legends of Valhalla: Thor adalah proyek animasi yang penuh potensi untuk meraih perhatian komunitas film di seluruh dunia dengan gaya penyutradaraan yang tidak biasa. Semua witty jokes disini mengalir lugas dan bersahabat dengan anak-anak atau orang dewasa sekalipun. Pendekatan memikat terhadap mitos Nordik era baru dimana Thor muda yang kelewat percaya diri pada akhirnya bisa menemukan jalan hidupnya berbekal keberanian dan ketekunan. Hope we’ll see many more great movies from CAOZ in the future!

Durasi:
86 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent