XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label rosamund pike. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rosamund pike. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Desember 2012

JACK REACHER : Smart Thriller New Hero Interpretation


Quote:
Jack Reacher: You think I'm a hero? I am not a hero. And if you're smart, that scares you. Because I have nothing to lose. 

Nice-to-know: 

Karakter Jack Reacher dari buku seri Lee Child merupakan seseorang dengan tinggi 195cm dan berat 105-125 kg sedangkan Tom Cruise hanya setinggi 172cm.

Cast: 
Tom Cruise sebagai Reacher
Rosamund Pike sebagai Helen
Rodin
Richard Jenkins sebagai Rodin
David Oyelowo sebagai Emerson
Werner Herzog sebagai The Zec
Jai Courtney sebagai Charlie

Joseph Sikora sebagai Barr


Director: 
Merupakan film kedua bagi Christopher McQuarrie yang pernah memenangkan Oscar lewat The Usual Suspects (1995) kategori naskah terbaik.

W For Words: 
Sebelum melihat film ini, ada baiknya anda mengenal sosok protagonis fiktif dalam novel Lee Child terlebih dahulu. Jack Reacher adalah mantan tentara Amerika Serikat berambut pirang dengan tinggi 195 cm dan berat 125 kg. Selama 13 tahun pengabdiannya, ia sempat ditugaskan dalam Unit Investigasi Khusus untuk menangani kasus-kasus sulit yang melibatkan rekan-rekannya. Bisa anda bayangkan Tom Cruise memerankannya? Bagi saya, superstar Hollywood yang hanya bertinggi sekitar 173 cm itu memang tak perlu diragukan lagi aksi dan aktingnya meski sudah memasuki usia “rawan” sekalipun. 

Mantan tentara militer, Barr ditangkap Kapten Emerson dengan tuduhan menembak mati lima penduduk sipil di tengah kota. Ia tidak mengaku bersalah dan sempat menyebutkan nama Jack Reacher sebelum koma. Jack adalah mantan rekannya selama bertugas di Iran yang segera mencium adanya motif lain di balik pembunuhan random tersebut. Berseberangan dengannya adalah Jaksa Penuntut Rodin yang tidak pernah kalah. Sebaliknya, putri kandung Rodin yaitu Helen bertindak sebagai Pengacara Barr. Jack harus memecahkan kasus itu sekaligus mengungkap siapa dalang sesungguhnya.

Christopher McQuarrie yang menulis skrip berdasarkan chapter “One Shot” jelas bukan nama sembarangan di bidangnya karena status sebagai pemegang Piala Oscar. Ia tergolong cekatan menggunakan multi POV di setiap  penelusuran konfliknya sehingga setiap karakter bisa menjadi hitam, putih hingga abu-abu. Itulah sebabnya anda akan terus berupaya menerka kira-kira kejutan apa lagi yang menanti selanjutnya sesuai petunjuk minim yang disediakan. Saya sarankan untuk menonton dalam keadaan fresh sehingga memiliki fokus yang cukup baik untuk mengikuti storytelling demikian.

McQuarrie sebagai sutradara pun tidak kalah dinamis menggunakan gaya lambat yang efisien dalam bertutur. Itulah sebabnya unsur drama terasa lebih dominan disini apalagi persinggungan dengan latar belakang masing-masing tokohnya yang sangat variatif itu. Faktor crime nya memang tidak terlalu “keras”, mungkin karena rating “Remaja” yang disandangnya. Namun berbagai elemen aksi yang diselipkan mulai dari tukar-menukar peluru, kejar-mengejar mobil dsb akan membuat anda tetap terjaga di kursi selama lebih dari dua jam durasinya.

Cruise adalah pilihan tepat jika franchise ini berencana dikembangkan ke depannya. Reacher di tangannya terbilang dingin dan tangguh tanpa harus kehilangan karismanya yang dominan. Sempat meragukan Pike untuk mengimbangi, nyatanya Helen mampu dilakoninya dengan cerdas dan tegas dalam mengambil keputusan. Courtney memerankan sosok protagonis yang tepat karena Charlie memiliki postur mantap dan kemampuan membunuh yang meyakinkan. Oyelowo menjiwai karakter polisi tipikal yang selalu terlambat selangkah. Jenkins dan Herzog berhasil mencuri perhatian walau screen time mereka terbatas.

Jack Reacher mungkin tidak akan memuaskan seluruh pecinta novelnya tetapi jelas tidak mengecewakan bagi penggemar crime drama/thriller. Saya menikmati tiap menitnya dimana sekecil apapun petunjuk yang ditinggalkan bisa membuka keseluruhan misteri yang ada. Bagaikan potongan puzzle yang terus dirangkai hingga menjadi sebuah gambaran utuh. Mudah-mudahan seri berikutnya dapat bermunculan dengan petualangan yang lebih seru lagi. When you got a hero who has great fighting techniques, brilliant investigative skills and smart modus operandi, you couldn’t ask for more!


Durasi: 
130 menit

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 31 Maret 2012

WRATH OF THE TITANS : Slightly Better Epic Demigods’ Letdown


Quotes:
Zeus: You will learn someday that being half human, makes you stronger than a god.

Nice-to-know:
Gemma Arterton sedianya kembali dalam produksi film ini tapi mengalami konflik jadwal dengan Hansel and Gretel: Witch Hunters (2012).

Cast:
Sam Worthington sebagai Perseus
Liam Neeson sebagai Zeus
Ralph Fiennes sebagai Hades
Édgar Ramírez sebagai Ares
Toby Kebbell sebagai Agenor
Rosamund Pike sebagai Andromeda
Bill Nighy sebagai Hephaestus
Danny Huston sebagai Poseidon

Director:
Merupakan feature film kelima bagi Jonathan Liebesman yang terakhir menggarap Battle Los Angeles (2011).

W for Words:
Pada Clash of the Titans (2010), Perseus berhasil mengalahkan Medusa dan Kraken sambil menyelamatkan Andromeda dan juga kota Argos dari kehancuran. Film tersebut sukses mengumpulkan nyaris 500 juta dollar lewat peredaran internasionalnya saja. Untuk itulah Warner Bros bermata silau untuk melanjutkan petualangan tokoh yang masih diperankan oleh Sam Worthington itu ke dalam installment baru, tentunya dengan konflik yang berbeda dan musuh-musuh yang jauh lebih tangguh.
Satu dekade setelah peristiwa yang mengangkat namanya, Perseus yang merupakan keturunan dari Zeus berupaya menjalani hidup normal sebagai nelayan bersama putranya Helius di sebuah desa yang tenang. Sementara itu, perebutan kekuasaan terjadi di antara para dewa dan the Titans itu sendiri. Pemimpin Titans yaitu Kronos bekerjasama dengan Hades dan Ares mengancam kedudukan Zeus dengan pasukan mautnya. Kini Perseus harus sekali lagi mengerahkan segenap kemampuannya untuk melindungi apa yang ia punya meski harus membahayakan nyawanya.

Kali ini anda akan menjadi saksi visualisasi monster-monster yang dihidupkan oleh CGI dengan senyata mungkin mulai dari chimera, trio Cyclopes, raksasa berkepala dua Makhai hingga sang Kronos itu. Kesemuanya berguna dalam menciptakan teror yang cukup mencengangkan dan berdarah untuk sebuah film remaja. Sutradara Liebesman yang banyak menggunakan shaky cam style di paruh pertama terutama untuk pertarungan Perseus melawan raksasa mampu menghadirkan serangkaian adegan aksi ala blockbuster yang lebih nyaman untuk disimak di paruh keduanya.
Saya tidak melihat ada perbedaan akting Worthington disini. Sorot matanya masih terasa kosong dan intonasi suaranya datar saja padahal muatan emosinya jauh lebih berisi, lihat saja nasib ayahnya Zeus dan putra remajanya Helius yang berkali-kali terancam. Pike yang menggantikan Davalos sebagai Andromeda memang terlihat jauh lebih dewasa walau cenderung lebih feminin yang mengurangi kesan tangguhnya. Dua aktor senior, Neeson dan Fiennes seperti biasa tidak mengecewakan samasekali sebagai dua saudara yang saling berebut kekuasaan menjelang akhir dunia, Zeus dan Hades.

Wrath of the Titans untungnya masih menyisakan beberapa adegan yang memorable, salah satunya adalah sekuens labirin di penghujung film yang terasa mencekam. Selebihnya tidak ada perbaikan yang signifikan dari prekuelnya selain action yang lebih intens dan visual yang lebih menjual termasuk konversi 3D yang lebih efektif di setengah jam terakhir durasinya. Kekurangan dari plot cerita dan pengembangan karakternya yang miskin tidak membantu para penggemar kisah ini untuk memberikan opini yang positif. See it only if you want to see some fantasy action in the fantastic spare time but for me, the last few demigods movies have been such a letdown including this one.

Durasi:
99 menit

U.S. Box Office:
$34,200,000 in opening week of Apr 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 29 Oktober 2011

JOHNNY ENGLISH REBORN : Tiga Vortex Agen Rahasia Dodol

Tagline:
A little intelligence goes a long way


Storyline:
Insiden di Mozambique membuat Johnny English pension dari MI-7 dan memilih untuk menenangkan diri bersama biksu-biksu Tibet. Takdir membuat Pamela dari Her Majesty's Secret Service harus menugaskan Johnny kembali untuk menghentikan sekelompok pembunuh bayaran internasional yang ingin menghabisi pemimpin dunia sekaligus menciptakan kekacauan global. Johnny yang juga dilengkapi dengan persenjataan unik bin ajaib itu didaulat bekerjasama dengan Agent Tucker. Berhasilkah mereka menumpas operasi yang KGB, CIA dan bahkan MI-7 tersebut sebelum terlambat?

Nice-to-know:
Pierce Brosnan sempat dikabarkan akan mengisi salah satu peran dalam film ini. Namun akhirnya mantan gadis Bond, Rosamund Pike dalam Die Another Day (2002) yang membintanginya.

Cast:
Pertama kali muncul dalam film pendek televisi Canned Laughteri tahun 1979, Rowan Atkinson kembali memerankan Johnny English
Gillian Anderson sebagai Pamela
Rosamund Pike sebagai Kate
Dominic West sebagai Ambrose
Daniel Kaluuya sebagai Agent Tucker
Pik Sen Lim sebagai Pembunuh China

Director:
Oliver Parker yang juga dikenal sebagai aktor ini pertama kali mengerjakan Othello (1995). Film ini adalah karya layar lebarnya ke-9 sejauh ini.

Comment:
Anda termasuk pecinta franchise James Bond? Saya yakin nyaris suara bulat berkata iya, tidak peduli generasi tua ataupun muda. Bagaimana jika franchise tersebut diparodikan? Tidak hanya sekali tetapi dua kali? Rentang waktu 8 tahun setelah Johnny English (2003) rasanya cukup panjang tetapi tidak masalah jika duet William Davies dan Hamish McColl yakin mampu menghasilkan skrip yang jauh lebih bagus dibandingkan pendahulunya tersebut.
Rowan Atkinson.Siapa yang tidak mengenal ketololannya lewat serial televisi legendaris Mr. Bean itu. Rowan kini melanjutkan peran agen rahasia MI-7 yang paling tidak diminati. Tidak usah pertanyakan bagaimana ia bisa dipercayakan menangani misi penting. Cukup duduk manis menikmati aksi konyolnya di sepanjang durasi film yang membuat gemas bin ngakak. Penampilannya sedikit lebih “kelimis” dan berwibawa disini, bisa jadi karena pengaruh “mendalami ilmu” di Tibet bersama para biksu?

Di luar nama Rowan, Anderson dan Pike menjadi kembang alias daya tarik tersendiri. Anderson dengan wibawanya, tak jarang mengingatkan kita pada karakter Dana Scully dalam The X-Files. Lain lagi Pike dengan gaya elegannya menjadi “match” yang sepadan bagi Johnny English. Sedangkan Kaluuya seakan ditakdirkan sebagai Chris Tucker disini dengan nama yang juga serupa “Agent Tucker”! Kombo “pin-pin-bo” hitam putih ini lumayan ampuh memancing tawa getir penonton.
Satu yang saya cermati adalah kemunculan Pik Sen Lim yang timbul tenggelam. Wanita tua Chinese berpostur pendek ini ditugaskan menghabisi Johnny English sejak awal. Permainan kucing tikus keduanya yang terjadi tiga kali lebih merupakan repetisi formula komedi yang cukup mengganggu. Johnny kerapkali mendapat kesempatan menghabisinya tetapi selalu berakhir dengan bertindak bodoh. Meski demikian, penampilan Pik kali ini akan memorable bagi sebagian orang, termasuk saya!

Sutradara Parker jelas menggunakan waktunya untuk bercerita secara lebih efektif, memberikan kesempatan penonton untuk mencerna elemen aksi dan komedi yang saling bersinergi. Visualisasinya pun lumayan menjanjikan berkat setting lokasi yang variatif dan juga proses editing yang cukup efisien. Scoring musik milik Ilan Eshkeri bekerja dengan baik memainkan tone film, konsistensinya senada dengan film-film James Bond dalam meramu ketegangan terlebih di penghujung cerita.
Saya menemukan Johnny English Reborn ini masih di atas prekuelnya dari segi storytelling dan plot cerita yang jauh lebih reasonable untuk diikuti. Tidak munculnya Rowan Atkinson dalam jangka waktu panjang bisa jadi memberi waktu bagi para penggemar untuk merindukannya. Memang bahasa tubuh dan pola pikir komediknya masih itu-itu saja yang membuat geregetan tetapi setidaknya masih mampu memancing derai tawa yang sesekali disertai air mata bahagia. Nikmatilah waktu anda bersama sarjana universitas kenamaan Newcastle dan Oxford ini dan mohon jangan ragukan intelejensi aslinya.

Durasi:
101 menit

U.S. Box Office:
$3,833,300 in opening week end of Oct 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent