XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label emily blunt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label emily blunt. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Oktober 2012

LOOPER : Gripping Time Travel Tale About Hitman


Quotes:
Older Joe: I'm going to stop this guy. 
Joe: None of this concerns me... 
Older Joe: It is going to happen to you! 
Joe: It's going to happen to YOU, it's not going to happen to ME! 

Nice-to-know:
Adegan dimana Joe muda terjatuh menghindari ledakan bertepatan dengan hari ulang tahun ke-30 Joseph Gordon-Levitt. Ia lantas dibiarkan menggantung dengan kabel karena kru menyanyikan “Happy Birthday" sambil menyodorkan kue ulang tahun. 

Cast:
Joseph Gordon-Levitt sebagai Joe
Bruce Willis sebagai Old Joe
Emily Blunt sebagai Sara
Paul Dano sebagai Seth
Noah Segan sebagai Kid Blue
Piper Perabo sebagai Suzie
Jeff Daniels sebagai Abe 

Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Rian Johnson setelah Brick (2005) dan The Brothers Bloom (2008).

W For Words:
Science fiction dengan premis time travel memang tidak banyak. Oleh karena itu beberapa diantaranya tercatat sebagai cult movies sebut saja Terminator, Planet of the Apes, Star Trek dsb yang telah melahirkan berbagai seri. Namun untuk yang satu ini, referensi terdekat mungkin ada pada 12 Monkeys (1995). Selain sama-sama dibintangi Bruce Willis, duet Joseph Gordon-Levitt dan Emily Blunt yang telah memasuki jajaran bintang papan atas Hollywood mengingatkan anda pada Brad Pitt dan Madeleine Stowe di situasi yang kurang lebih sama pada masanya dahulu. 

2044, Joe adalah penembak jitu yang mengarungi perjalanan waktu untuk menghabisi target-targetnya dari masa depan. Ia dan looper-looper lainnya menikmati kehidupan mewah hasil bayaran tinggi yang didapat. Pada satu kesempatan, Joe tanpa sengaja membebaskan buruannya karena menyadari bahwa orang itu adalah dirinya sendiri dalam versi 30 tahun lebih tua. Keduanya lantas terlibat dalam permainan hidup dan mati sambil melibatkan nyawa seorang anak yang diyakini akan menjelma menjadi The Rainmaker di masa mendatang.

Upaya Gordon-Levitt untuk menyamakan penampilannya dengan Willis patut diacungi jempol (terima kasih pada hasil make-up Kazuhiro Tsuji). Aktingnya sebagai Joe muda kian matang dan dominan di setiap kemunculannya. Willis yang mulai menua terbukti masih tangguh dan cekatan sebagai Joe tua meski dengan gaya yang tak jauh berbeda. Sama halnya dengan Daniels sebagai antagonis Abe yang berdarah dingin. Blunt amatlah likeable sebagai ibu protektif yang keras kepala. Kredit tersendiri pantas dilayangkan bagi si cilik Gagnon yang mampu memberikan kesan polos dan misterius secara bersamaan. 

Satu-satunya komplain saya terhadap skrip yang brilian ini adalah paruh pertamanya yang terlalu naratif menjelaskan paradoks alam semesta, mitos dan kondisi yang dihadapi Joe. Beruntung di paruh kedua, tempo lebih efektif dalam bertutur sambil mempersempit karakter yang ada menuju klimaks yang ditunggu-tunggu itu. Kerumitan buah pikiran nan orisinil milik Johnson tersebut mampu diterjemahkan lewat cara yang paling sederhana sekalipun tanpa harus merendahkan intelejensi penonton.

Johnson yang juga bertindak sebagai sutradara sukses mengetengahkan konsep masa lalu, masa kini dan masa depan yang saling berkaitan. Bagaimana labirin pikirannya dituangkan ke dalam setiap potongan puzzle yang fasih bertutur membentuk sebuah pola tidak biasa. Pembagian ragam karakternya yang variatif terbilang seimbang. Elemen-elemen futuristik semisal sepeda terbang, telekinesis sampai senjata masa depan turut membangkitkan imajinasi. Penggunaan spesial efek juga tergolong maksimal, tidak melulu bombastis tapi tetap disesuaikan dengan kebutuhan cerita.

Eksekusi Johnson yang rapi diikuti dengan koneksi past and future yang sinergis dari Gordon-Levitt dan Willis menjadikan Looper sebuah time travel sci-fi movie terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Perjalanan waktu yang akan membawa anda berputar-putar melihat masa depan secara antusias sambil melontarkan segudang pertanyaan yang turut terjawab pada akhirnya. Jangan lupakan endingnya yang emosional dan mind-blowing itu yang menegaskan hukum sebab akibat yang dapat mengubah segalanya. Beware that you might need second viewing to understand the concepts better!

Durasi:
118 menit

U.S. Movie Box Office:
$20,801,552 till September 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 20 Juli 2011

WILD TARGET : Pembunuh Bayaran “Targetkan” Pencuri Cantik

Quotes:
Rose: It's like everywhere you go, there's that smell.
Victor Maynard: What smell?
Rose: Cleanliness. Bleach. It's like being in a hospital. It's so safe, it's dangerous. I can't breathe here. I mean it, I'm frightened. I'm frightened if I stay here much longer, I'll end up like you. Afraid of everything.

Storyline:
Pembunuh bayaran kelas wahid, Victor Maynard selalu hidup seorang diri walau ibunya seringkali mendesaknya untuk menikah dan memiliki keturunan. Sayangnya saat bertemu calon korbannya, Rose yang ternyata seorang pencuri kelas kakap, Victor malah ragu-ragu. Tanpa sengaja interaksi pertamanya dengan Rose dan juga Tony, remaja yang kebetulan ada di lokasi kejadian malah membawa ketiganya berdiri di atas perahu yang sama. Rose menyangka ada yang mau membunuhnya sehingga membayar Victor untuk melindunginya. Dari saling bertengkar, ketiganya kemudian mulai saling memahami. Namun apakah Ferguson yang mengutus Victor tinggal diam melihat targetnya lolos begitu saja?

Nice-to-know:
Diproduksi secara kolaborasi oleh Magic Light Pictures, CinemaNX, Isle of Man Film, Matador Pictures, Cinema Four dan dirilis di Inggris Raya pada tanggal 18 Juni 2011 yang lalu.

Cast:
Terakhir kali mengisi suara Dr. Elefun dalam Astro Boy (2009), Bill Nighy berperan sebagai Victor Maynard
Mengawali karir aktrisnya dalam Warrior Queen (2003), Emily Blunt bermain sebagai Rose
Rupert Grint sebagai Tony
Rupert Everett sebagai Ferguson
Eileen Atkins sebagai Louisa Maynard
Martin Freeman sebagai Hector Dixon

Director:
Kembalinya Jonathan Lynn di bangku sutradara setelah The Fighting Temptations (2003).

Comment:
Film yang konon terinspirasi dari film Perancis berjudul Cible émouvante ( 1993) ini nyatanya tetap bernuansakan British yang kental. Suatu hal yang baik karena tidak berusaha mengikuti pakem film-film Hollywood pada umumnya. Lucinda Coxon mengadopsi skrip Pierre Salvadori secara mulus tanpa menghilangkan esensi komedi situasi yang berbasis pada dua orang yang berlawanan jenis sekaligus berseberangan kepribadian.
Prolog dibuka dengan stylish dimana karakter Rose bersepeda dengan berjaket merah, sedangkan Victor berjas rapi berkutat dengan pekerjaannya. Begitu Victor mengetahui bahwa Rose adalah targetnya, iapun bimbang saat harus menarik pelatuk. Pada scene ini mungkin kita bertanya-tanya apa yang membuat Victor ragu, rasa kesepiankah sebagai perjaka ting-ting atau ketertarikannya pada pencuri cantik itu? Sebuah pertanyaan yang tidak pernah terjawab tapi mampu dimaafkan.
Setelah premis disampaikan mengenai latar belakang dua tokoh tersebut, penonton lantas disuguhkan “interaksi” Victor dan Rose yang unik dan tajam. Sayangnya memasuki pertengahan film dengan setting rumah Victor, intensitas cukup menurun drastis sebelum kembali memuncak pada bagian endingnya meskipun harusnya tidak terlalu sulit ditebak. Nighy dan Blunt merupakan pilihan tepat, chemistry yang aneh di antara keduanya malah memberikan excitement tersendiri sehingga mampu membuat penonton berpihak pada mereka sejak menit pertama.
Yang menjadi ganjalan bagi saya adalah karakter Tony yang rasanya tidak terlalu penting dan seringkali tidak tepat kemunculannya. Namun bukan salah Grint yang sudah menjiwainya dengan gayanya yang khas itu. Tony seakan cuma menjadi penyeimbang di tengah-tengah Victor dan Rose. Apakah dimaksudkan untuk mengganggu kecenderungan seksual Victor atau menjadi apprentice yang membuat hidup Victor setidaknya lebih bermakna di luar dirinya (dan ibunya) sendiri itu?
Wild Target mengatur timing setiap humornya dengan pas, setidaknya mampu membuat anda tersenyum walau tidak sampai terpingkal-pingkal. Sajian grey comedy (not black enough) yang menghibur dengan hati yang tulus lewat serangkaian karakter yang teramat manusiawi. Siapa pula yang tidak jatuh cinta pada si cantik kleptomania nan sensual menggoda macam Emily Blunt itu? Rasanya saya pun tidak berkeberatan memberikan foot massage baginya semalam suntuk.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$117,190 till Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 19 Maret 2011

GNOMEO & JULIET : Perkelahian Membutakan Cinta Penghuni Kebun

Tagline:
A little adventure goes a lawn way.

Storyline:
Montague dan Capulet bukan lagi dua keluarga yang berseteru melainkan dua tetangga yang tidak cocok satu sama lain. Hal ini terjadi juga pada para penghuni kebun mereka yang terbagi menjadi topi merah yang dikepalai Lord Redbrick dan topi biru yang diketuai oleh Lady Blueberry. Masing-masing berusaha mempertahankan areanya dan menghancurkan area lawan. Hingga pada suatu malam saat mengincar anggrek bulan, Gnomeo si topi biru tanpa sengaja bertemu dengan Juliet si topi merah. Dikarenakan masing-masing sedang dalam penyamaran, keduanya pun jatuh cinta. Akankah romansa terlarang tersebut pada akhirnya dapat berakhir bahagia?

Nice-to-know:
Awalnya Ewan McGregor dan Kate Winslet akan menyuarakan Gnomeo & Juliet pada saat produksi film diumumkan.

Voice:
James McAvoy sebagai Gnomeo
Emily Blunt sebagai Juliet
Ashley Jensen sebagai Nanette
Michael Caine sebagai Lord Redbrick
Matt Lucas sebagai Benny
Maggie Smith sebagai Lady Bluebury
Jason Statham sebagai Tybalt
Patrick Stewart sebagai Bill Shakespeare
Julie Walters sebagai Miss Montague

Director:
Sebelumnya Kelly Asbury merupakan salah satu dari tiga yang menyutradarai Shrek 2 (2004).

Comment:
Siapa yang tidak mengenal adaptasi Shakespeare ini yang kemudian coba ditularkan pada generasi yang lebih muda. Ya film ini memang terasa sekali ditujukan pada anak-anak sebelum mereka mengenal percintaan tragis yang sesungguhnya. Segala sesuatu pada plot ceritanya memang dipermudah dan diperhalus sedemikian rupa sehingga tak jarang kita akan menganggap semua karakter disini adalah mainan. Mengingatkan anda pada premis Toy Story? Benar sekali!
Pengenalan satu persatu karakternya dilakukan secara singkat dan cepat. Oleh karena begitu banyaknya cameo, maka kekuatan masing-masing karakter terasa lemah. Belum lagi ekspresi tokoh-tokoh tergolong kaku yang seharusnya memberikan kontribusi pada sisi emosional yang lebih kentara. Dengan demikian sulit rasanya penonton untuk ,ai bersikap peduli pada mereka termasuk pada Gnomeo dan Juliet itu sendiri.
Sulih suara yang dilakukan oleh aktor-aktris ternama juga tidak berjalan dengan maksimal. McAvoy dan Blunt merupakan aktor-aktris berbakat tapi tanpa melihat wajah mereka rasanya suara dapat diganti siapapun juga. Sederet nama kaliber semisal Caine ataupun Walters tidak memorable samasekali. Semakin menyiratkan kesalahan dalam casting atau memang skrip yang tidak memberikan ruang tersebut?
Sutradara Asbury memang sudah berusaha melakukan usaha terbaiknya untuk mengangkat tema yang biasa-biasa saja menjadi tontonan yang tetap fresh dan berisi. Saya katakan ia berhasil karena di tangan orang lain, bisa jadi hasil akhirnya akan lebih buruk lagi. Ide untuk menggunakan beberapa tembang lawas Elton John sebagai latar belakang musik memang cukup kreatif meskipun tidak berarti banyak selain sebagai pengiring tarian para tokohnya terutama pada bagian ending.
Gnomeo & Juliet menarik untuk penonton muda tapi bagi orang dewasa terasa flat dan sedikit membosankan. Scene demi scene disajikan dalam tempo lambat dan tidak melulu didukung oleh logika yang pantas. Animasinya tidak luar biasa walaupun Disney sudah merombaknya sedemikian rupa supaya berciri khas langsung dengan imajinasi William Shakespeare yang kebetulan karakternya juga muncul disini. Penggunaan efek 3D nya tidak terlalu signifikan sehingga versi 2D nya sudah lebih dari cukup untuk anda saksikan bersama anak-anak atau adik-adik anda.

Durasi:
75 menit

U.S. Box Office:
$89,102,365 till March 2011

Overall:

7 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 25 Desember 2010

GULLIVER'S TRAVELS : Petualangan Negeri Liliput Raksasa Bernyali Kecil

Tagline:
Something big is going down

Storyline:
Llemuel Gulliver merupakan pria biasa dengan mimpi besar tetapi kurang percaya diri. Itulah sebabnya pekerjaan administrasi surat-menyurat yang dilakoninya selama 10 tahun tidak memberikan apa-apa termasuk modal untuk mendekati karyawan divisi perjalanan, Darcy Silverman. Karena ditantang rekan kerja barunya, Gulliver nekad menyambangi Darcy pada suatu malam untuk mengajaknya kencan tetapi berakhir mendapat tugas membuat liputan perjalanan wisata. Satu yang ia lakoni adalah bepergian ke Segitiga Bermuda hingga terdampar di negeri liliput saat kapalnya diterjang badai dan tornado. Gulliver pun menjadi tawanan hingga akhirnya memutuskan untuk memulai petualangannya sendiri

Nice-to-know:
Awalnya Taylor Lautner sempat dipertimbangkan sebagai Horatio tetapi batal karena dianggap terlalu muda oleh produser

Cast:
Paska kesuksesan Kungfu Panda (2008), Jack Black kembali lagi dalam film semua umur sebagai Gulliver, pegawai bagian surat yang terdampar di negeri liliput saat melakukan perjalanan ke Segitiga Bermuda.
Baru saja mengisi suara Vector dalam Despicable Me, Jason Segel berperan sebagai Horatio
Emily Blunt keluar dari Iron Man 2 untuk bermain sebagai Princess Mary
Amanda Peet sebagai Darcy Silverman
Billy Connolly sebagai Raja Theodore
Chris O’Dowd sebagai Jenderal Edward

Director:
Rob Letterman tahun lalu menggarap animasi yang juga berformat 3D yaitu Monsters Vs Aliens.

Comment:
Merupakan adaptasi novel klasik yang sudah berulang-ulang kali difilmkan ke dalam layar lebar ataupun layar kaca dengan berbagai pemain di berbagai jaman. Sekarang sudah tahun 2010 apakah sutradara Letterman punya formula baru untuk modernisasi? Jawabannya tidak juga karena yang ia tambahkan hanyalah alat pelacak GPS, robot raksasa petarung, billboard, baliho, kaleng Coca-cola besar dsb. Tidak lebih. Sisanya hanyalah formula lama seperti Kerajaan Liliput dan segala atribut di dalamnya.
Dari jajaran cast, mungkin mayoritas dari anda menyukai Jack Black seperti halnya saya. Ia adalah salah satu komedian masa kini yang orisinil dari segi aksi dan gaya humornya yang biasanya bekerja dengan baik dalam film-film sejenis. Namun sebagai Gulliver sang raksasa yang biasanya serius, Black menjiwainya dalam kacamata komedik yang terkesan tidak pernah serius. Beberapa bagian cukup berhasil tapi sebagian besar sangat mudah ditebak. Aktor-aktris lain terkesan tidak terlalu penting alias out of the frame. Memang terkadang Blunt dapat mencuri perhatian, tetapi nama-nama seperti Segel ataupun Peet tidak terlalu mengesankan apalagi O’Dowd yang masih kelewat kaku sebagai antagonis.
Mengenai efek 3D, rasanya tidak perlu anda istimewakan. Beberapa scene memang dimaksudkan untuk 3D dan sudah disesuaikan kedalaman gambarnya tetapi sayangnya tidak ada yang benar-benar “keluar” dari layar. Seharusnya untuk versi modern kisah yang sedemikian terkenal, unsur 3D tidak boleh menjadi gimmick semata. Soundtrack pendukungnya juga tidak kuat selain satu dua lagu yang menyisipkan pesan moral bahwa peperangan tidaklah perlu atas alasan apapun juga.
Rasanya Gulliver’s Travels hanya diperuntukkan bagi para pecinta Black pada khususnya ataupun publik pada umumnya terutama yang perlu mengisi waktu bersama keluarga di liburan Natal tahun 2010 ini. Tidak lebih dan tidak kurang. Namun perlu diingat bahwa komedi disini lebih cocok bagi kalangan remaja dewasa, bukan anak-anak, jadi pikir dua kali sebelum mengajak anak anda yang masih di bawah umur. Satu hal lagi sebagai penutup, semua elemen dalam film ini serba prediktif dan secara mengejutkan kurang imajinatif sama sekali.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 23 Februari 2010

WOLFMAN : Manusia Serigala Resahkan Penduduk London Klasik

Quotes:
Lawrence Talbot-I am what I say I am... a monster.

Storyline:
Setelah saudara kandungnya menghilang, Lawrence Talbot kembali ke kediaman keluarganya termasuk perjumpaan kembali dengan ayahnya yang aneh, Sir John Talbot. Berusaha mencari adiknya atas permintaan sang tunangan Gwen Conliffe, Lawrence malah menemukan takdir yang menakutkan bagi dirinya terlebih setelah masa kecilnya hancur dikarenakan kematian ibunya. Diserang oleh serigala jadi-jadian pada suatu malam, beberapa waktu kemudian Lawrence mulai mendapati "perubahan" pada dirinya terutama pada bulan purnama. Korban penduduk desa pun terus berjatuhan yang memacu Inspektur Aberline untuk turun tangan. Akankah kutukan tersebut dapat diakhiri?

Nice-to-know:
Awalnya direncanakan untuk tayang di tahun 2007. Tetapi karena kesulitan mencari sutradara, akhirnya berpindah ke Februari 2009 lalu November 2009 hingga akhirnya Februari 2010.

Cast:
Memenangkan Oscar Aktor Terbaik lewat Traffic (2000), Benicio Del Toro adalah salah satu dari sedikit aktor Amerika Latin yang paling bersinar di Hollywood. Kali ini ia membawakan karakter Lawrence Talbot.
Terkenal lewat peran psikopat Dr. Hannibal Lecter, Anthony Hopkins disini bermain sebagai Sir John Talbot yang eksentrik sekaligus misterius.
Memulai karir lewat Boudica (2003), Emily Blunt kebagian peran Gwen Conliffe yang berduka atas menghilangnya tunangan yang dicintainya sekaligus bernostalgia dengan cinta lamanya dalam diri Lawrence Talbot.

Director:
Film pertama yang mendapat rating Dewasa bagi sutradara kelahiran Texas bernama Joe Johnston ini yang pertama kali angkat nama lewat film keempatnya, Jumanji (1995) yang meledak di box-office dunia itu.

Comment:
Original score yang dikerjakan pemenang Oscar, Danny Elfman benar-benar membuat film ini terasa hidup apalagi setting kota London kuno tahun 1940an berhasil dibangun dengan apik lengkap beserta segala atributnya. Belum lagi kostum dan make-up yang juga dikerjakan pemenang Oscar, Rick Baker menempatkan film ini sangat relevan dengan situasi aslinya. Kinerja penulis skrip Andrew Kevin Walker juga sukses membangun nuansa mitos lycan dan kemungkinan delusional yang dialami Lawrence Talbot sehingga perpanjangan film dari versi aslinya yang cuma 70 menit cukup beralasan dan memberikan kesan yang berbeda. Sang sutradara, Johnston mampu mempertahankan suasana mencekam sepanjang film dengan atmosfir yang gelap, kering, berkabut dan sorotan bulan purnama yang indah. Del Toro dan Hopkins tampil sesuai kalibernya masing-masing dan berbagi chemistry yang tidak biasa. Blunt dan Weaving juga lumayan ciamik dalam mendukung keduanya. Plotnya memang sedikit "pendek" dalam mencapai tujuannya tetapi sinematografinya bisa dibilang tepat. Alhasil adaptasi terbaru Wolfman ini akan membuat anda terlompat dari kursi dengan beberapa elemen kejutannya serta adegan sadis seperti terpotongnya kepala dari tubuh korban-korban sang serigala jadi-jadian.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$35,555,065 the opening week of mid Feb 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!