XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label action comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label action comedy. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 April 2012

MIRROR MIRROR : THE UNTOLD ADVENTURE OF SNOW WHITE Re-storytelling Effort In Such Diversity


Quotes:
The Queen: They're not wrinkles. They're just crinkles.

Nice-to-know:
Lily Collins dalam sesi interview mengakui bahwa ia sempat diaudisi untuk peran Snow White dalam Snow White and the Huntsman (2012) sebelum kalah dari Kristen Stewart.

Cast:
Julia Roberts sebagai The Queen
Lily Collins sebagai Snow White
Armie Hammer sebagai Prince Alcott
Nathan Lane sebagai Brighton
Jordan Prentice sebagai Napoleon
Mark Povinelli sebagai Half Pint
Joe Gnoffo sebagai Grub
Sean Bean sebagai King

Director:
Merupakan film keempat Tarsem Singh setelah tahun lalu mencuri perhatian lewat Immortals.

W for Words:
Siapa yang tidak mengenal dongeng Putri Salju dan kutukan Nenek Sihir serta Pangeran Tampan yang menyelamatkannya. Hollywood dan industri perfilman manapun di dunia pernah mengadaptasinya dalam berbagai judul termasuk yang satu ini dan yang akan segera beredar nantinya yaitu Snow White and the Huntsman. Menarik melihat dua film ini akan berhadapan langsung dalam tangga box-office di tahun 2012 meskipun secara penekanan samasekali berbeda, antara light dan dark.
Setelah Raja menghilang, Ratu kejam mengontrol kerajaan dengan pajak tinggi. Putrinya yang berusia 18 tahun, Snow White dikurung dalam menara karena dianggap akan menyaingi kecantikannya. Namun Snow White berhasil menyelinap keluar dan mempertemukannya dengan Pangeran Alcott yang tampan dan kaya raya. Ratu tak tinggal diam, ia merencanakan pernikahan dengan Pangeran Alcott walau harus menyingkirkan Snow White. Dibantu 7 kurcaci perampok, Snow White mulai mengenal jati dirinya sendiri untuk melanjutkan perjuangan ayahnya di masa lampau.

Jason Keller dan Melisa Wallack menerjemahkan kinerja klasik dari Jacob Grimm danWilhelm Grimm dengan twist menyenangkan. Di luar topik cinta yang masih menjadi jualan, film ini bercerita mengenai politik lewat tirani Sang Ratu yang memeras keringat rakyat dengan pajak tinggi dan juga strata sosial melalui keberadaan 7 kurcaci yang terpinggirkan dari peradaban karena dianggap miskin, tidak mampu ataupun tidak normal. Transformasi Snow White dari gadis pingitan menjadi mandiri hingga memimpin pemberontakan pun merupakan pencapaian tersendiri yang semakin menegaskan emansipasi wanita.
Sutradara Tarsem Singh terkenal dengan visualisasi estetikanya yang memukau. Kelebihan itu terpancar dari tatanan setiap sudut kerajaan yang memanjakan mata terlebih dunia dalam cermin ajaib yang sangat imajinatif itu. Anda tidak perlu gimmick 3D untuk menikmati suguhannya kali ini. Sayangnya Tarsem melakukan hal bodoh sewaktu credit title bergulir yakni sosok Lily Collins yang bernyanyi dan berdansa dengan menggelikan dalam alunan musik India bersama seantero cast disini. Dude, it’s a live action movie, not animation like we’ve seen before!

Julia Roberts bermain di luar kebiasaannya yaitu ratu iblis sekaligus ibu tiri pencemburu. Upaya Ratu mempercantik diri lewat perawatan “tak biasa” merupakan bagian terbaik dari film yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Lily Collins walaupun alisnya “unik” menampilkan pesona aktris muda bermasa depan cerah dimana tokoh Snow White di tangannya terasa feminin dan menyenangkan. Armie Hammer sendiri menjiwai peran Pangeran dengan santai dan lugas. Sedangkan Tujuh kurcaci diperankan oleh aktor-aktor yang wajahnya tak asing lagi karena filmografi yang demikian panjang adanya.
Mirror Mirror adalah sajian Singh di luar kebiasaan genrenya yang justru sukses menghadirkan tontonan keluarga yang menyegarkan, berwarna, sarat pesan moral yang disampaikan secara sederhana tanpa kesan menggurui. Humornya yang terkadang sarkastis bekerja dengan baik walau sebagian di antaranya terasa dipaksakan. Andai saja film ini beredar sebelum franchise Shrek (2001-2010) mungkin hasilnya akan lebih diapresiasi oleh penikmat film. Anyway it’s still a nice effort by the filmmakers for re-storytelling in such diversity!

Durasi:
106 menit

U.S. Box Office:
$36,773,242 till April 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 21 April 2012

21 JUMP STREET : Stupid Yet Entertaining Cover Up


Tagline:
They're too old for this shift.

Nice-to-know:
Channing Tatum sempat melepaskan tawaran bermain disini sebanyak dua kali sebelum akhirnya diyakinkan oleh Jonah Hill yang juga bertindak sebagai eksekutif produser untuk mengambil peran Jenko.

Cast:
Jonah Hill sebagai Schmidt
Channing Tatum sebagai Jenko
Brie Larson sebagai Molly Tracey
Dave Franco sebagai Eric Molson
Rob Riggle sebagai Mr. Walters
DeRay Davis sebagai Domingo
Ice Cube sebagai Captain Dickson

Director:
Merupakan kolaborasi kedua Phil Lord dan Chris Miller setelah Cloudy with a Chance of Meatballs (2009).

W for Words:
Siapa diantara anda yang pernah menjadi penikmat serial televisi 21 Jump Street di penghujung era 1980an? Salah satunya adalah saya yang masih balita tapi sesekali menyimak bersama kakak di rumah. Cukup ya nostalgianya. Jika waktu itu Patrick Hasburgh dan Stephen J. Cannell menggagas ide ceritaya maka kali ini Michael Bacall bersama dengan Jonah Hill menggarap skrip layar lebarnya dengan karakter-karakter yang samasekali berbeda nama dan kepribadian.
Dua polisi patroli sekali lagi mendapat kesempatan mengulang masa SMU mereka. Schmidt yang kutu buku dan Jenko yang populer mendapat tugas untuk meringkus pengedar sekaligus penyalur narkoba yang dapat menyebabkan kematian setelah serangkaian fase ‘teler’. Sayangnya kondisi pergaulan remaja sekarang tidaklah sama dengan bertahun-tahun lalu. Mereka pun harus berpacu dengan waktu melakukan adaptasi sekaligus menunaikan misinya di samping ujian terhadap persahabatan itu sendiri.

Terus terang saya tak pernah terkesan dengan Jonah Hill sebelumnya. Namun kontribusinya dalam reboot ini teramat besar. Schmidt di tangannya terasa hidup mulai dari sekelumit potret masa kecilnya yang tergambar lewat interaksinya dengan kedua orangtuanya hingga tumbuh berkembang menjadi siswa cerdas tetapi sulit bergaul apalagi bercinta. Chemistry nya dengan Brie Larson juga tercipta manis dimana sederetan dialog “unyu” di antara mereka tetap menjadi highlight tersendiri.
Channing Tatum yang sudah identik dengan idiom ‘tampan bodoh’ justru terlihat nyaman dengan predikat tersebut lewat karakter Jenko. Keunggulan telak di awal dari sahabatnya yang kemudian berbalik 180 derajat membuat persaingan dua tokoh ini semakin memanas. Upaya saling unjuk gigi menjadi babak-babak yang menarik untuk disimak walau terjadi di atas kebodohan dan kesalahpahaman yang semu. Ya, bromance memang tidak selamanya berjalan mulus, bukan?

Berbagai twist konyol berhasil diselipkan seperti pertukaran identitas Schmidt dan Jenko di SMU atau kejar-kejaran mobil yang (seharusnya) berpotensi memicu ledakan besar. Sutradara Lord dan Miller yang juga bersahabat seakan mengerti benar konsep buddies-bromance sehingga tarik ulur di antara kedua tokoh utama terasa wajar. Coba tebak di bagian mana kehadiran cameo dua tokoh sentral serial televisi lawasnya yaitu Johnny Depp dan Peter DeLuise. Niscaya anda akan ternganga kala adegan tersebut muncul.
21 Jump Street tak dipungkiri adalah tontonan bodoh yang justru sangat menyenangkan untuk dinikmati. Action dan comedy nya berjalan konstan di atas konflik kepentingan “cinta, sahabat atau dedikasi” yang terkadang menjadi obyektifitas yang teramat sulit untuk dipilih. Penyamaran “tak sempurna” membuat kekuatan film ini terasa “sempurna” dalam mengembangkan setiap formula lazim dalam film sejenis tanpa harus terbilang basi dan klise. Just enjoy the show as much as your popcorn in your hand does!

Durasi:
109 menit

U.S. Box Office:
$109,413,763 till April 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 23 Oktober 2011

THE THREE MUSKETEERS : Aksi Bersekutu Mencegah Pecahnya Eropa

Quotes:
Porthos: There were four of us, against forty of them.


Storyline:
D'Artagnan muda bersama dengan tiga pendekar legendaris yaitu Athos si ahli meloloskan diri, Porthos si jago tarung dan Aramis si master siasat harus menggagalkan upaya berkobarnya perang di Eropa terutama antara Perancis dan Inggris. Si pencuri cantik Milady de Winter yang berniat mencuri kalung berlian, si gila kuasa Duke of Buckingham, si jahat Cardinal Richlieu dan tangan kanannya, Rochefort siap menggagalkan D’Artagnan dan The Three Musketeers dengan berbagai cara dan intrik yang teramat picik dalam petualangan seru.

Nice-to-know:
Christoph Waltz memiliki tanggal lahir yang sama yaitu 4 Oktober dengan Charlton Heston yang memainkan Richelieu di The Three Musketeers/The Four Musketeers.

Cast:
Tahun lalu tampil dalam Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief, Logan Lerman kali ini kebagian tokoh D'Artagnan
Matthew Macfadyen sebagai Athos
Milla Jovovich sebagai Milady de Winter
Luke Evans sebagai Aramis
Ray Stevenson sebagai Porthos
Til Schweiger sebagai Cagliostro
Mads Mikkelsen sebagai Rochefort
Christoph Waltz sebagai Richelieu
Orlando Bloom sebagai Duke of Buckingham

Director:
Pernah menangani Milla Jovovich sebelumnya dalam Resident Evil (2002), Paul W.S. Anderson menggarap film layar lebar ke-9 nya kali ini.

Comment:
Siapa yang tidak mengenal novel klasik “Les Trois Mousquetaires” karya Alexandre Dumas père yang mendunia dan sudah diterjemahkan dalam puluhan bahasa itu? Bisa jadi sebagian dari anda yang masih berusia muda yang menjawab tidak. Tidak terlambat untuk mencari referensi sekarang karena sifatnya yang timeless itu. Filmnya pun sudah diremake berkali-kali mulai dari versi tahun 1935 yang dibintangi oleh Walter Abel dan Ian Keith hingga yang terbaru di abad 21 ini.
Duet penulis Alex Litvak dan Andrew Davies memang berusaha setia dengan naskah originalnya. Apalagi Glen MacPherson berhasil menyuguhkan sinematografi yang memikat dengan lokasi-lokasi pilihan yang amat memanjakan mata. Sayangnya sutradara Anderson terlalu banyak memasukkan unsur modern terutama untuk adegan aksinya yang banyak mencomot ide-ide dari film-film memorable yang terkadang tidak pada tempatnya. Berusaha meremajakan? Bukan begitu caranya!

Sebut saja karakter Millady yang terkesan over-the-top dalam film. Tidak mengherankan melihat fakta Jovovich adalah istri dari sang sutradara! Setidaknya ada 3 adegan yang paling mencolok. Lihat bagaimana ia meloloskan diri dari dinding berpeluru di ruang bawah tanah dan menerobos laser mematikan saat mencuri kalung berlian. Familiar dengan Resident Evil? Atau saat ia mengenakan baju minim menuruni istana dengan tali. Ingat Mission Impossible? Meski demikian harus diakui Jovovich memang tampil cantik disini dengan kostum klasik menawan.
Lerman yang masih berpenampilan ‘boyish’ justru tampil cemerlang. Karakter d’Artagnan muda di tangannya justru terasa dinamis dan bersemangat. Aksi memainkan pedangnya juga lumayan. Di luar dugaan, tiga pendekar yang harusnya menjadi sentral cerita malah terpinggirkan. Meski demikian Macfadyen, Stevenson dan Evans lumayan menjiwai Athos, Portos, Aramis dengan karakteristik unik masing-masing. Menyenangkan melihat Bloom bermain santai sebagai Duke of Buckingham.

Semua adegan aksinya memang memenuhi standar film hiburan berbujet besar. Adu siasat, perebutan harta, alih kekuasaan mewarnai pertentangan dua kubu. Paling menghibur adalah pertempuran dua kapal udara di angkasa mulai dari adu meriam sampai tumpang tindih, terlepas dari kemudahan membangun kapal sedemikian megah hanya dalam kejapan mata. Duel pedang di atap antara D’Artagnan dan Rochefort juga memikat, terlebih dilakukan sendiri oleh mereka!
The Three Musketeers adalah sebuah remake yang menghibur walaupun dikotori oleh modernisasi yang tidak perlu dan tak jarang berlebihan. Entah mengapa elemen komedi yang disisipkan malah membuat saya merasa film ini lebih ke arah parodi. Bagi penonton yang sudah mengenal kiprah tiga pendekar ini bisa jadi mempertanyakan motif produser melakukan remake. Sedangkan bagi penonton yang belum, mungkin akan puas dengan full entertainment yang dibalut 3D. Possibly a sequel in the future for united. One for all, all for one...

Durasi:
113 menit

Europe Box Office:
€9,599,925 in Germany till Okt 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 20 Juli 2011

WILD TARGET : Pembunuh Bayaran “Targetkan” Pencuri Cantik

Quotes:
Rose: It's like everywhere you go, there's that smell.
Victor Maynard: What smell?
Rose: Cleanliness. Bleach. It's like being in a hospital. It's so safe, it's dangerous. I can't breathe here. I mean it, I'm frightened. I'm frightened if I stay here much longer, I'll end up like you. Afraid of everything.

Storyline:
Pembunuh bayaran kelas wahid, Victor Maynard selalu hidup seorang diri walau ibunya seringkali mendesaknya untuk menikah dan memiliki keturunan. Sayangnya saat bertemu calon korbannya, Rose yang ternyata seorang pencuri kelas kakap, Victor malah ragu-ragu. Tanpa sengaja interaksi pertamanya dengan Rose dan juga Tony, remaja yang kebetulan ada di lokasi kejadian malah membawa ketiganya berdiri di atas perahu yang sama. Rose menyangka ada yang mau membunuhnya sehingga membayar Victor untuk melindunginya. Dari saling bertengkar, ketiganya kemudian mulai saling memahami. Namun apakah Ferguson yang mengutus Victor tinggal diam melihat targetnya lolos begitu saja?

Nice-to-know:
Diproduksi secara kolaborasi oleh Magic Light Pictures, CinemaNX, Isle of Man Film, Matador Pictures, Cinema Four dan dirilis di Inggris Raya pada tanggal 18 Juni 2011 yang lalu.

Cast:
Terakhir kali mengisi suara Dr. Elefun dalam Astro Boy (2009), Bill Nighy berperan sebagai Victor Maynard
Mengawali karir aktrisnya dalam Warrior Queen (2003), Emily Blunt bermain sebagai Rose
Rupert Grint sebagai Tony
Rupert Everett sebagai Ferguson
Eileen Atkins sebagai Louisa Maynard
Martin Freeman sebagai Hector Dixon

Director:
Kembalinya Jonathan Lynn di bangku sutradara setelah The Fighting Temptations (2003).

Comment:
Film yang konon terinspirasi dari film Perancis berjudul Cible émouvante ( 1993) ini nyatanya tetap bernuansakan British yang kental. Suatu hal yang baik karena tidak berusaha mengikuti pakem film-film Hollywood pada umumnya. Lucinda Coxon mengadopsi skrip Pierre Salvadori secara mulus tanpa menghilangkan esensi komedi situasi yang berbasis pada dua orang yang berlawanan jenis sekaligus berseberangan kepribadian.
Prolog dibuka dengan stylish dimana karakter Rose bersepeda dengan berjaket merah, sedangkan Victor berjas rapi berkutat dengan pekerjaannya. Begitu Victor mengetahui bahwa Rose adalah targetnya, iapun bimbang saat harus menarik pelatuk. Pada scene ini mungkin kita bertanya-tanya apa yang membuat Victor ragu, rasa kesepiankah sebagai perjaka ting-ting atau ketertarikannya pada pencuri cantik itu? Sebuah pertanyaan yang tidak pernah terjawab tapi mampu dimaafkan.
Setelah premis disampaikan mengenai latar belakang dua tokoh tersebut, penonton lantas disuguhkan “interaksi” Victor dan Rose yang unik dan tajam. Sayangnya memasuki pertengahan film dengan setting rumah Victor, intensitas cukup menurun drastis sebelum kembali memuncak pada bagian endingnya meskipun harusnya tidak terlalu sulit ditebak. Nighy dan Blunt merupakan pilihan tepat, chemistry yang aneh di antara keduanya malah memberikan excitement tersendiri sehingga mampu membuat penonton berpihak pada mereka sejak menit pertama.
Yang menjadi ganjalan bagi saya adalah karakter Tony yang rasanya tidak terlalu penting dan seringkali tidak tepat kemunculannya. Namun bukan salah Grint yang sudah menjiwainya dengan gayanya yang khas itu. Tony seakan cuma menjadi penyeimbang di tengah-tengah Victor dan Rose. Apakah dimaksudkan untuk mengganggu kecenderungan seksual Victor atau menjadi apprentice yang membuat hidup Victor setidaknya lebih bermakna di luar dirinya (dan ibunya) sendiri itu?
Wild Target mengatur timing setiap humornya dengan pas, setidaknya mampu membuat anda tersenyum walau tidak sampai terpingkal-pingkal. Sajian grey comedy (not black enough) yang menghibur dengan hati yang tulus lewat serangkaian karakter yang teramat manusiawi. Siapa pula yang tidak jatuh cinta pada si cantik kleptomania nan sensual menggoda macam Emily Blunt itu? Rasanya saya pun tidak berkeberatan memberikan foot massage baginya semalam suntuk.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$117,190 till Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 08 Juli 2011

ATTACK THE BLOCK : Geng Remaja London Hadapi Serangan Alien

Quotes:
Sam: We should call the police.
Pest: You'd be better off calling the Ghostbusters love.

Storyline:
Di sebuah pemukiman menengah ke bawah London Selatan, pada suatu malam gang remaja berandalan yang dipimpin Moses memeras suster muda yang baru lulus, Sam. Selang beberapa waktu kemudian, alien meluncur turun ke Bumi yang lantas langsung dihabisi oleh Moses dkk. Mereka tidak menyadari bahaya yang lebih besar mengintai dimana kumpulan alien lain tiba juga di kompleks tempat tinggal mereka untuk membalas dendam? Moses, Brewis, Pest, Dennis, Jerome pun mulai mempersenjatai diri mereka masing-masing untuk bertahan sekaligus memenangkan pertempuran tak terduga ini.

Nice-to-know:
Penulis sutradara Joe Cornish terinsipirasi dari kehidupan pribadinya dahulu dalam membuat film ini.

Cast:
John Boyega sebagai Moses
Nick Frost sebagai Ron
Jodie Whittaker sebagai Sam
Luke Treadaway sebagai Brewis
Jumayn Hunter sebagai Hi-Hatz
Alex Esmail sebagai Pest

Director:
Merupakan feature film pertama bagi Joe Cornish setelah 1 dokumenter dan 2 serial konsumsi televisi sebelumnya.

Comment:
Jujur saja saat menyaksikan trailer film ini saya merasa pesimis. Demikian pula dengan beberapa penonton lain di sebelah saya yang mengatakan film ini lebih layak ditonton di DVD saja. Bukan apa-apa. Sudah banyak film sejenis bermunculan ke permukaan dengan hasil akhir yang mengecewakan dan terkesan membodohi penonton. Namun tidak fair rasanya jika saya tidak memberi kesempatan pada film yang mendapat rating cukup tinggi di IMDB ini untuk ditelaah lebih jauh.
Garis besar cerita adalah sekumpulan manusia yang berusaha bertahan hidup dari invasi alien mematikan. Memang terdengar sama saja dengan film-film bergenre sejenis. Untungnya Cornish kali ini memperkuat penokohan para karakter utamanya yang sudah “tidak biasa” itu dengan variasi tersendiri dimana pertukaran sudut pandang menjadi sebuah hal yang menarik disini. Unsur S.A.R.A juga turut ditambahkan sebagai atribut krusial tanpa bermaksud mengundang kontroversi luas.
Kinerja Cornish sebagai sutradara memang patut diacungi jempol. Plot yang terlihat klise mampu disiasati dengan baik sehingga membuat audiens tetap di kursi masing-masing menerka-nerka suguhan berikutnya. Dialog yang tercipta diantara para karakternya juga cukup smart terlepas dari beberapa penggunaan kata-kata yang tidak pantas di bagian openingnya. Tidak lupa menyebutkan sinematografi yang energetic dengan tempo yang pas sebagai latar aksi yang memikat.
Penampakan kawanan alien disini lebih mirip gorilla. Makhluk besar berbulu hitam lebat yang dilengkapi dengan gigi-gigi hijau bercahaya. Tampilan yang minimalis dan agak tradisional sehingga terkesan mudah disiasati dari segi visual/spesial efeknya. Put some men behind the costumes and you can add some visual graphics. Voila! Faktanya bisa jadi tidak sesederhana itu. Tidak ada salahnya karena momok mengerikannya tetap dapat tercapai secara maksimal.
Aktor aktris yang paling mencuri perhatian kali ini adalah Boyega dan Whittaker. Bagaimana karakter keduanya mengalami turning point sedemikian rupa. Moses dan Sam sama-sama memulai dari kesalahan dan kesalahpahaman tapi pada akhirnya mampu memperbaiki semua itu. Esmail juga bermain menarik sebagai Pest. Sedangkan bintang senior seperti Frost tetap memberikan warna tersendiri sebagai pengedar obat yang menyedihkan nasibnya.
Attack The Block terbukti mampu menghibur dalam hal memancing tawa dengan black humor sense nya plus memacu adrenalin dengan chasing scenes nya dari berbagai setting lokasi mulai dari jalan raya London plus gedung apartemen sepi yang temaram di malam hari. Awalnya anda akan membenci anak-anak muda ini karena satu dan lain hal tapi pada akhirnya mampu bersimpati sekaligus peduli pada nasib mereka masing-masing. Dan jangan lupa, semuanya dikemas dalam nuansa British yang kental!

Durasi:
85 menit

U.K. Box Office:
£2,444,205 till Jun 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 11 Mei 2011

INFESTATION : Serbuan Alien Serangga Raksasa

Tagline:
You will be infected.

Storyline:
Cooper yang tidak bahagia dengan pekerjaannya memilih untuk mengganggu rekan-rekannya di kantor hingga membuatnya dipanggil atasannya, Maureen. Sekelebat cahaya tiba-tiba membuat mereka semua pingsan. Saat terbangun, Cooper menyadari dirinya terbungkus benang layaknya kepompong. Iapun membangunkan beberapa orang di sekitarnya sebelum menyadari dunianya telah berubah drastic. Sekelompok alien berwujud serangga raksasa pun sedang menciptakan dunia baru untuk menyempurnakan populasi mereka. Berhasilkah Cooper dkk selamat sekaligus menjadi pahlawan kesiangan bagi umat manusia?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Heavy Duty Entertainment dan Icon Productions

Cast:
Sempat mendukung Fanboys (2008) sebelum ini, Chris Marquette berperan sebagai Cooper
Brooke Nevin sebagai Sara
Kinsey Packard sebagai Cindy
E. Quincy Sloan sebagai Hugo
Wesley Thompson sebagai Albert
Ray Wise sebagai Ethan

Director:
Merupakan film panjang kedua bagi Kyle Rankin setelah The Battle of Shaker Heights (2003).

Comment:
Di medio awal tahun 200an sempat muncul beberapa film yang mengatas namakan serangga sebut saja Arachnid (2001) dan Eight-Legged Freaks (2002). Satu produksi independen bernuansa serius sedangkan yang lain produksi studio besar Hollywood bernuansa komedi. Nyaris satu dekade kemudian muncullah film ini dengan tema serupa, tentunya sudah dibekali dengan tema survival masa kini sehingga cukup menyegarkan.
Sutradara Rankin menggunakan formula sederhana yaitu from zero to hero terlihat dari berbagai karakter yang ia sodorkan berikut polah tingkahnya. Sedangkan dari sisi teknis, sinematografinya terasa sesuai dengan mood film yang ingin diketengahkan yaitu sedikit bias. Bujet rendah yang digunakan disini berhasil dimaksimalkan dengan baik lewat kinerja tata rias maupun spesial efek sederhana yang tergolong menarik.
Nyaris tidak ada nama terkenal yang mengisi jajaran castnya dimana fakta ini justru membantu penonton untuk lebih lepas dalam mengikuti kiprah para tokohnya satu-persatu. Yang mungkin sudah pernah diketahui sebelumnya adalah Marquette yang memerankan Cooper dengan sangat natural. Kita akan bersimpati pada keluguannya yang masih mencari jatidiri dan juga kekerasan hatinya dalam membuktikan eksistensinya sendiri di mata orang-orang terutama ayahnya yang pensiunan militer dan ambisius. Dimainkan oleh Wise dengan cukup kharismatik.
Prolog film berhasil dibuka dengan menarik. Sayangnya kemudian terjadi penurunan tensi dimana keklisean film-film kelas B kembali dihadirkan disini. Meski demikian konsep aksi dan humor yang berjalan seimbang rasanya mampu menjaga minat penonton untuk terus mengikuti hingga akhir tanpa perlu banyak berpikir.
Infestation dikemas sebagai sebuah tontonan ringan yang berkualitas standar, tidak luar biasa tapi juga tidak buruk. Berbagai jenis serangga dari berbagai ukuran hasil kinerja CGI jelas akan memuaskan keingintahuan anda sejak menit pertama hingga terakhir tanpa terasa ada yang ditutup-tutupi. Mudah-mudahan “penampakan” tersebut tidak sampai membuat anda bergidik apalagi membayangkan situasi serupa terjadi di kehidupan anda sendiri. Let them (or us) save the world!

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Senin, 18 April 2011

THE EXTRAORDINARY ADVENTURES OF ADELE BLANC-SEC : Sejuta Petualangan Komplit Wartawati Eksentrik

Tagline:
A Face of Beauty. A Mind of Adventure.

Storyline:
Abad 20 di Paris, seorang penulis popular bernama Adele Blanc-Sec selalu mengerjakan misi apapun yang dibebankan padanya mulai dari membongkar kuburan, mencuri mumi, mengelabui polisi dsb. Tidak ada yang tahu bahwa sesungguhnya Adele memiliki saudari kembar yang tanpa sengaja terbunuh olehnya sehingga menyimpan rasa bersalah selama bertahun-tahun. Saat mendengar jika Esperandieu sanggup membangkitkan yang sudah mati, Adele tidak menyia-nyiakan kesempatan itu walau harus berseteru dengan pihak-pihak yang berbeda kepentingan dengannya.

Nice-to-know:
Diproduksi secara bersama-sama oleh Europa Corp, Apipoulaï dan TF1 Films Production.

Cast:
Sebelum ini mendukung Le Petit Nicolas (2009) yang cukup mengesankan itu, Louise Bourgoin berperan sebagai Adèle Blanc-Sec
Mathieu Amalric sebagai Dieuleveult
Gilles Lellouche sebagai Inspektur Albert Caponi
Jacky Nercessian sebagai Marie-Joseph Espérandieu
Philippe Nahon sebagai Le professeur Ménard
Nicolas Giraud sebagai Andrej Zborowski

Director:
Siapa yang tidak kenal nama sutradara Perancis populer Luc Besson? Karyanya sebelum ini adalah dua episode Arthur and the Minimoys (2007) dan Arthur and the Revenge of Maltazard (2009).

Comment:
Jika anda menyukai film petualangan semacam Tomb Raider, National Treasure ataupun The Mummy, bisa jadi anda berpikir untuk menemukan konten yang sama dalam film ini, terlebih setelah melihat poster dan judulnya. Nanti dulu! Karena terbukti Besson menerjemahkan komik best-seller karya Jacques Tardi ini dengan gaya yang unik
Adele Blanc-Sec adalah tipe heroine (pahlawan wanita) yang tidak memiliki senjata mematikan untuk menuntaskan misi-misinya, tetapi lebih memilih menggunakan pengetahuan, kecerdasan, keberanian, spontanitas dan permainan kata-kata yang dimilikinya. Belum lagi jika melihat sifat antusias, egois dan kewarasan yang dipertanyakan (ia menyimpan mayat saudarinya bertahun-tahun!). Semua itu membuktikan betapa kayanya karakterisasi seorang wartawati yang telah menyelesaikan banyak hal.








Tidak ada yang lebih pantas selain Bourgoin dalam mentransformasikan karakter Adele yang “ajaib” itu. Pergerakan bibir yang cepat dalam melontarkan ratusan kata-kata dalam sekali tarikan nafas sudah menjadi bukti tersendiri. Belum lagi “seribu” penyamaran kocak yang dilakukannya saat berusaha mendobrak penjara. Atau inisiatifnya mengendalikan berbagai jenis hewan. Dijamin anda akan terpingkal-pingkal dibuatnya!
Tokoh yang terlalu banyak dihadirkan memang tidak dibagi dalam porsi yang cukup. Semisal karakter Polisi, Inspektur, Presiden, Pemburu yang sepertinya hanya mengisi scene demi scene saja tanpa kekuatan berarti. Bahkan rata-rata menampilkan “kebodohan” komikal yang sangat umum dalam film-film Perancis bergaya komedi. Jika dikatakan setia dengan komiknya, saya juga belum bisa memastikan.








Sebagai sutradara handal, Besson berhasil membuat para penonton terhanyut dalam perjalanan Adele yang sulit diterka arahnya itu. Berbagai twist dihadirkan di sepanjang durasinya sehingga kita merasa sedang membaca sebuah buku berisikan banyak chapter dengan tema yang berbeda-beda. Penggunaan CGI nya juga tergolong mulus seperti visualisasi pterodactyl dan mumi hidup yang justru tidak menakutkan samasekali.
The Extraordinary Adventures Of Adele Blanc-Sec adalah sebuah tontonan fun dengan berbagai elemen fantasi yang mengasyikkan untuk diikuti. Hanya saja anda perlu sedikit mengesampingkan logika dan menerima apapun yang disodorkan dengan pikiran terbuka. Jika hasil box-office internasional nya menggembirakan, bersiaplah untuk sebuah trilogi baru dengan adaptasi dua komik lainnya yang akan segera menyusul!

Durasi:
105 menit

Europe Box Office:
$13,331,416 in France till May 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 18 Maret 2011

THE PARIS EXPRESS : Misi Antar Paket Biang Masalah

Tagline:
Express Delivery.. Zero Stress..

Storyline:
Seorang kurir ekspress, Sam dengan skuternya bertekad menyelesaikan pekerjaan dadakan yang memberinya komisi besar dalam waktu sesingkat mungkin. Berbagai cara ditempuhnya demi menepati janji tepat waktu ke pesta pernikahan saudara kekasihnya, Nadia. Sayangnya tugas yang dikira mudah itu ternyata melibatkan banyak pihak yang mengincar paket tersebut. Kini Sam harus memutar otaknya untuk dapat menyelamatkan harinya sekaligus dirinya sendiri dari bahaya yang timbul satu-persatu.

Nice-to-know:
Berjudul asli Coursier dalam bahasa Perancis yang berarti kurir.

Cast:
Baru saja tampil sebagai Billy The Kid dalam Lucky Luke (2009), Michaël Youn kebagian peran sebagai Samuel Skjqurilngskwicz.
Géraldine Nakache sebagai Nadia
Jimmy Jean-Louis sebagai Steve Loki
Didier Flamand sebagai Maurice Skjqurilngskwicz
Catalina Denis sebagai Louise
Natalia Dontcheva sebagai Iris

Director:
Merupakan film kedua Hervé Renoh setelah Requiem (2001).

Comment:
Bisa jadi ide film ini muncul dari gabungan antara Taxi dan The Transporter, hanya saja unsur serius yang sedikit ditinggalkan dan digantikan oleh unsur komedi. Menarik rasanya melihat Europa Corp. yang juga dibentuk salah satunya oleh Luc Besson dalam menghasilkan film-film Perancis dengan berbagai genre yang bisa dijual di pasaran internasional.
Walau terbilang minim pengalaman, sutradara Renoh cukup handal meramu bumbu aksi dengan komedi secara seimbang di sepanjang durasinya. Anda juga seakan diajak tour menelusuri semua sudut jalan dan distrik kota Paris lewat petualangan Samuel dengan skuternya. Scene panjang dan pendek bergantian dihadirkan sebagai amplitudo ketegangan.
Pemilihan Youn sebagai Samuel memang terasa dapat dipercaya sebagai pria biasa yang berubah menjadi pahlawan dadakan. Meskipun kelemahan skrip dalam menggiringnya ke proses tersebut cukup terlihat. Nakache dan Denis terlihat pas sebagai dua karakter utama wanita. Sedangkan dari sisi antagonis tidaklah terlalu menakutkan mengingat sisi komedinya cukup dominan sehingga berbagai tingkah karikatural juga muncul disini. Lumayan menyenangkan melihat situasi tak diharapkan dapat disikapi secara jenaka oleh para tokoh disini yang kebetulan saling berbagi layar secara natural.
Walaupun di beberapa adegan krusial terasa berantakan karena dieksekusi terburu-buru (entah disengaja atau tidak demi menyiasati kekurangan yang mungkin timbul), The Paris Express cukup memenuhi standar tontonan aksi komedi yang fun untuk disaksikan di waktu senggang anda. Saran saya jangan coba-coba menyebutkan nama belakang Samuel jika tidak ingin lidah anda keseleo. Ending yang chaos memberikan twist yang menggelitik walau sebetulnya tidak baru. Berbagai ciri khas action tahun 80an akan muncul kembali disini seperti salah satu contohnya senjata palsu yang dapat mengecoh perhatian orang.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter: