XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Jumat, 10 Desember 2010

DUE DATE : Perjalanan Mimpi Buruk Tak Terduga

Quotes:
Ethan Tremblay: Did you call me over here to apologize?
Peter Highman: What? Fuck You!

Storyline:
Peter Highman hanya memiliki waktu 5 hari untuk pergi ke Los Angeles dari Atlanta sebelum kelahiran putra pertamanya dimana istrinya Sarah menunggu. Sayangnya di airport, lewat serangkaian kejadian semenjak bertemu pemain teater bernama Ethan Tremblay, Peter mengalami kesialan terutama namanya masuk dalam daftar dilarang terbang. Ethan yang ditemani bulldog kesayangan bernama Sonny menawarkan tumpangan yang kemudian terpaksa diterima Peter untuk melintasi negara bagian termasuk cita-cita Ethan yaitu Hollywood dan tempat menabur abu almarhum ayahnya yakni Grand Canyon. Akankah keputusan Peter itu akan disesalinya di kemudian hari?

Nice-to-know:
Diselundupkan ke bioskop dengan nama "Maternity Day"

Cast:
Baru saja menyelesaikan peran Tony Stark dalam Iron Man 2, Robert Downey Jr. bermain sebagai Peter Highman yang sangat diuji batas kesabaran dan kemanusiaannya dalam perjalanan menunggui istrinya yang akan melahirkan.
Bermain dalam dua film drama komedi di tahun ini yaitu It's Kind of a Funny Story dan Dinner for Schmucks, Zack Galifianakis berperan sebagai Ethan Tremblay/Chase yang terobsesi untuk menjadi bintang di Hollywood.
Michelle Monaghan sebagai Sarah Highman
Jamie Foxx sebagai Darryl
Juliette Lewis sebagai Heidi

Director:
Nama Todd Phillips mencuat setelah kesuksesan tak terduga dari The Hangover (2009) yang akan dilanjutkan dengan sekuelnya tahun depan.

Comment:
Ada 2 hal yang perlu saya ingatkan sebelum anda memutuskan untuk menonton film ini. Pertama, ini adalah komedi, jadi singkirkan cara pikir rasional anda untuk sejenak. Kedua, pastikan anda sudah mengenal gaya Todd Phillips sebelumnya yaitu The Hangover. Jika anda bisa menerima kedua fakta tersebut, bisa jadi penilaian anda tidak akan jauh berbeda dari apa yang saya berikan. Namun jika tidak, rasanya anda akan mengganggap film ini sinting.
Oke dalam hal cast kita punya Downey Jr. dan Galifianakis yang teramat sangat mendominasi film ini. Dari awal sampai akhir mereka akan saling bertukar interaksi yang penuh humor slapstick termasuk dari dialog dan bahasa tubuh masing-masing. Harus diakui karakter Peter dan Ethan yang saling berseberangan itu bukanlah karakter yang mudah menarik simpati audiens. Penyebabnya adalah krisis identitas Ethan yang cukup mengganggu dan emosi terpendam Peter yang mengindahkan empati itu. Namun bagaimanapun juga chemistry keduanya tetaplah nilai jual utama. Downey Jr. tetap terlihat cool dan Galifianakis freak. Perpaduan 360 derajat yang merupakan makanan empuk bagi komedi situasi seperti ini.
Sutradara Phillips dapat dikatakan melakukan pengulangan beberapa elemen dari The Hangover seperti pasangan hidup yang menunggu nun jauh disana (dulu Barrese, kini Monaghan), karakter pendukung pria kulit hitam yang ternama (dulu Tyson, kini Foxx), pelacur yang numpang lewat (dulu Graham, kini Lewis) serta ganja ataupun drugs yang mengaburkan kesadaran Tidak salah sepanjang masih dapat dihadirkan dengan tema yang fresh dan eksekusi yang kreatif.
Kesimpulan akhir, Due Date cukup menghibur bagi saya yang mampu terpingkal-pingkal selepas kepenatan jam kerja yang ketat itu. Namun yang disayangkan adalah endingnya yang terkesan "too easy" dan tidak ada kejutan yang berarti. See it if you are a fan of Downey Jr. and acceptable for the concept of over-the-top comedy road-movie style.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$90,882,138 till early Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 09 Desember 2010

CIN.. TETANGGA GUE KUNTILANAK! : Bertetangga Dengan Wanita Jadi-Jadian Menuntut Balas

Storyline:
Afgan dan Nono adalah penyiar radio yang membawakan program "Malam Jumat Seram" yang khusus membahas cerita-cerita hantu. Tanpa sengaja keduanya ditelepon oleh seorang gadis patah hati bernama Anissa yang bertekad bunuh diri setelah kematian calon suaminya. Insiden pun terjadi dan beruntung keduanya tidak dipersalahkan oleh pihak kepolisian. Namun mereka tidak berhenti dan bersama Nadine bekerjasama mengumpulkan kisah horor untuk dijadikan bahan film independen termasuk salah satunya narasumbernya adalah pembantu tetangganya yang bernama Bi Iyem. Bi Iyem menceritakan mantan majikannya Safina yang tertekan karena suaminya, Anton berselingkuh dengan sekretarisnya, Yuli hingga akhirnya tewas setelah melahirkan seorang bayi. Kekejian Yuli tidak sampai disitu karena membayar dukun untuk memasang paku di jasad Safina sehingga menjadi kuntilanak berwujud wanita cantik. Kini tugas Bi Iyem, Nadine, Afgan dan Nono membebaskan roh Safina sekaligus membalaskan dendamnya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Vincent Pictures.

Cast:
Cynthiara Alona
Dafino Kandou
Ar Rozzy Mahally
Mayang
Melinda
Chairil JM
Trisno ”Tutul”
De’ratu
Deden Dower
Topan Dicky

Director:
Tidak banyak yang tahu bahwa Yan Senjaya pernah menjadi produser dalam Ken Arok - Ken Dedes di tahun 1983.

Comment:
Di penghujung tahun 2010 alias bulan Desember ini rasanya kelesuan menyergap perfilman nasional kita. Calon-calon penghuni daftar film terburuk sepanjang tahun bisa jadi berasal dari rilis akhir tahun. Mungkin inilah salah satunya dimana dari judul, poster dan ikhtisar ceritanya tidak ada yang positif. Entah apa yang ada dalam benak produser Lukito dan Wong Fen Sen saat memutuskan maju dengan proyek ini. Mungkin mereka lupa bahwa sekarang bukan tahun 1990an lagi tetapi tahun 2000an itupun sudah satu dasawarsa berlalu!
Prolog film dibuka dengan tulisan "Dari kumpulan cerpen horor". Jika ini terdiri dari kumpulan beberapa film pendek, bisa jadi segala kekurangan saya maafkan. Tetapi dari ide-ide tersebut ditambal sulam menjadi sebuah plot maka yang ada dalam pikiran saya adalah hasil jahitan yang acak adut tak jelas pola dan teksturnya. Itulah yang terjadi disini dan tak usah menelusuri terlalu jauh, lihat dulu dari karakter-karakternya. Kita punya tiga remaja yang penasaran akan hantu, seorang pembantu yang serba tahu, seorang dukun yang bergaya Joker dengan jahitan di sudut mulutnya, seorang suami tak setia, seorang wanita sekretaris berhati iblis, sesosok arwah penasaran yang mencari anaknya dan sebuah bayi yang ajaib tingkahnya. Ya, saya tidak salah ketik, karena bayi aneh itu bisa berganti-ganti "wujud" sehingga tidak saya kategorikan orang!
Sesungguhnya masing-masing dari mereka memiliki porsi masing-masing tetapi dipaksakan tumplek blek dalam satu scene sehingga memusingkan penonton yang harus memutar otak untuk mengingat-ingat kembali si ini hubungannya apa, si itu kenapa bisa kenal juga, dsb. Percayalah, usaha "mengingat-ingat" bukan sesuatu yang terpuji dalam mencerna film ini karena tidak ada gunanya juga. Lebih baik duduk dan nikmati saja dengan dua sikap. Satu, tertawalah jika dirasa perlu akan kelakuan jayus duet Afgan dan Nono yang serasa "Dumb & Dumber" itu. Dua, meringislah apabila dirasa anda mulai "tersiksa" dengan non existing plot yang disuguhkan penulis dan sutradara senior bernama Yan itu yang bisa-bisanya memakai beberapa visual efek ala FTV disini.
Jika anda tidak mau dipaksa mengucapkan judul film ini (karena memang bukan jati diri anda), maka sebaiknya anda tidak perlu merasa terpaksa juga menyaksikan Cin.. Tetangga Gue Kuntilanak! yang tampaknya terlalu serius ditambal sulam hingga berkali-kali melukai jari (dan sebagian jiwa) para filmmakernya. Ouch!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 07 Desember 2010

DOUBT : Ketika Keraguan Melangkahi Iman dan Janji

Tagline:
There is no evidence. There are no witnesses. But for one, there is no doubt.

Storyline:
Paroki St. Nicholas pada tahun 1964 di Bronx, pendeta karismatik Father Flynn berusaha menerapkan aturan yang berbeda dari yang sudah terbentuk oleh Sister Aloysius Beauvier. Kepala sekolah wanita ini terlalu percaya pada kekuatan ketakutan dan kedisiplinan dalam mendidik murid-muridnya yang perlahan mulai membangkang. Masuknya siswa kulit hitam pertama bernama Donald Miller semakin menimbulkan kekisruhan yang berbuntut pada kecurigaan Sister Aloysius akan perilaku menyimpang Father Flynn. Sister James yang masih muda dan belum berpengalaman semakin bingung menentukan sikap di antara keduanya. Benarkah tuduhan tersebut dapat mencoreng nama paroki terkait sekaligus memecat Donald sebagai Putra Altar?

Nice-to-know:
John Patrick Shanley sempat menawarkan peran Sister James kepada Natalie Portman tetapi menolaknya. Sebaliknya Oprah Winfrey tertarik peran Mrs. Miller tetapi sang sutradara menolaknya tanpa memberi kesempatan samasekali.

Cast:
Tak banyak yang tahu bahwa Meryl Streep pernah mengisi suara dalam The Ant Bully (2006). Kali ini ia bermain sebagai Sister Aloysius Beauvier yang konservatif dan penuh rasa curiga.
Pernah memenangkan Oscar kategori Aktor Terbaik lewat Capote (2005), Philip Seymour Hoffman berperan sebagai Father Brendan Flynn yang mendapat tantangan berat.
Terakhir kali mendukung Miss Pettigrew Lives for a Day (2008), Amy Adams kebagian tokoh simpatik Sister James.
Carrie Preston sebagai Christine Hurley
John Costelloe sebagai Warren Hurley
Lloyd Clay Brown sebagai Jimmy Hurley
Joseph Foster sebagai Donald Miller (as Joseph Foster II)

Director:
Sejauh ini baru film kedua bagi John Patrick Shanley setelah Joe Versus the Volcano (1990) yang juga ditulisnya sendiri

Comment:
Nilai jual utama film ini adalah aktor-aktris utamanya yaitu Meryl Streep dan Phillip Seymour Hoffman yang sama-sama berkaliber Oscar. Dan mereka memenuhi harapan tersebut dengan menyajikan akting yang brilian dengan pertukaran dialog yang menarik. Salah satunya adalah menjelang ending dimana terjadi percakapan lebih kurang 10 menit antara Sister Aloysius dan Father Flynn yang sangat menguras emosi mulai dari kemarahan dan keangkuhan yang berbaur sempurna dengan pendakwaan dan pembelaan diri. Bagaimana hubungan mereka terus berkembang dari berusaha saling adaptasi dari cara yang normal hingga menjadi ketidak sukaan yang saling bertentangan.
Penulis sekaligus sutradara Shanley bekerja dengan efektif dalam menjaga plot cerita agar tetap menarik dengan setting Paroki yang kaku sunyi yang mendukung serta penokohan yang simple tetapi sangat menggigit itu. Peran Adams sebagai supporting character juga cukup efektif, sedikit mewakili karakter penonton yang netral di antara hitam dan putih. Jelas sebuah kinerja tim yang pantas sekali dilirik para juri ajang penghargaan manapun di tahun 2008 itu.
Konflik yang dihadirkan dalam Doubt memang cenderung sensitif dan controversial. Namun semua itu disampaikan dengan cara yang halus tetapi tidak kehilangan ketajamannya dalam bercerita. Sebuah contoh dimana setiap manusia memiliki sudut pandang dan harga diri tersendiri yang terkadang dituntut untuk mempertahankannya sampai titik tertentu tanpa peduli konsep benar salah yang mendasarinya. Film ini memberikan contoh yang teramat realistis untuk kasus tersebut.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$33,422,556 till April 2009

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 06 Desember 2010

PERFUME : THE STORY OF A MURDERER Obsesi Kecantikan Wanita Pembuat Parfum

Quotes:
Jean-Baptiste Grenouille: You want to make this leather smell good, don't you?
Giuseppe Baldini: Why of course, and so it shall.
Jean-Baptiste Grenouille: With Amor and Psyche by Pelissier?
Giuseppe Baldini: What ever gave you the absurd idea I would use someone else's perfume?
Jean-Baptiste Grenouille: It's all over you.

Storyline:
Pada abad ke-18 di Paris, Jean-Baptiste Grenouille terbuang oleh ibunya semenjak lahir. Beranjak dewasa ia mempunyai penciuman yang sangat tajam yang kemudian digunakannya untuk bekerja di sebuah toko parfum terkenal milik Giuseppe Baldini. Dengan kepandaiannya, Jean-Baptiste mampu meracik parfum-parfum beraroma baru hasil temuannya. Sayangnya rasa penasaran dan kreatifitasnya menuntunnya mencari formula-formula baru bagi parfumnya yang terkadang tidak biasa. Plus obsesinya mengabadikan kecantikan wanita bisa jadi menjerumuskannya semakin dalam sebagai orang yang berbahaya.

Nice-to-know:
Ridley Scott sempat dikabarkan tertarik dengan proyek ini bertahun-tahun yang lalu dimana Tim Burton juga dipertimbangkan sebagai sutradaranya disamping Martin Scorsese, Milos Forman dan Stanley Kubrick.

Cast:
Ben Whishaw sebagai Jean-Baptiste Grenouille
Dustin Hoffman sebagai Giuseppe Baldini
Karoline Herfurth sebagai The Plum Girl
Rachel Hurd-Wood sebagai Laura
Alan Rickman sebagai Antoine Richis
Sara Forestier sebagai Jeanne

Director:
Sutradara Tom Tykwer sempat menggarap salah satu segmen berjudul "Faubourg Saint-Denis" dalam Paris, je t'aime.

Comment:
Film ini menyajikan tema yang tidak biasa apalagi dengan citarasa Eropa, rasanya bermimpi bisa ditayangkan di bioskop Indonesia. Namun hal ini tidak menghalangi saya untuk menyaksikannya juga sebab storyline nya sangat menarik bagi saya. Menyimpan penasaran karena apa yang akan disajikan lebih? Drama kah? Thriller kah? Slasher kah?
Sutradara Tykwer menjawabnya dengan brilian. Ia sajikan thriller halus yang kental dengan unsur drama terutama dalam menyikapi sisi kemanusiaan yang terdalam sekalipun. Sinematografi yang lembut berpadu lengkap dengan elemen-elemen metafora yang dominan di sepanjang film. Sangat cantik!
Whishaw mempotretkan karakter pemuda cerdas yang terobsesi pada kecantikan wanita dengan luar biasa. Ekspresinya yang dingin sekaligus sorot matanya yang tajam tetap menyiratkan kepolosan seorang remaja yang suka bereksperimen. Kita sendiri bingung apakah harus mengkategorikan Jean-Baptiste sebagai seorang psikopat atau bukan? Narasi John Hurt yang mengantarkan cerita dari awal hingga akhir semakin melengkapi storytelling yang gemilang dan menarik untuk diikuti selayaknya sebuah simfoni orchestra yang sempurna.
Endingnya yang provokatif tergolong tidak biasa dan di luar dugaan saya. Namun tetap masuk akal walau bisa dikatakan absurd. Semua itu menjadikan Perfume : The Story Of A Murderer sebuah pengalaman menonton karya Eropa yang mumpuni dengan keindahan sekaligus kemisteriusan. Bagi yang sudah membaca novelnya, bisa jadi film ini sangat mendekati penulisannya. Anyone?

Durasi:
145 menit

U.S. Box Office:
$2,208,939 till end of Feb 2007.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 04 Desember 2010

PARANORMAL ACTIVITY 2 : Gangguan Supernatural Koneksi Bayi Hunter

Quotes:
Katie: It wasn't Witchy! It made her feel better.

Storyline:
Keluarga Rey terlihat seperti keluarga Amerika pada umumnya, harmonis dan berkecukupan. Rumah mereka cukup mewah dan berisikan suami istri Dan & Kristi, putri Dan dari pernikahan sebelumnya yaitu Ali serta pembantunya Martine dan anjing kesayangan Abby. Kebahagiaan semakin bertambah setelah lahirnya putra pertama mereka, Hunter. Tepat setahun setelah kelahiran Hunter, pada suatu hari seisi rumah mereka diacak-acak walau tidak kehilangan suatu barang apapun. Dan yang penasaran akhirnya memutuskan memasang kamera CCTV pada seantero ruangan. Apa yang akan terekam kemudian bisa jadi menggetarkan anda semua!

Nice-to-know:
Rumah yang menjadi setting film ini dimiliki sutradara Oren Peli yang kemudian merenovasinya dalam skala besar setelah kesuksesan film pertamanya.

Cast:
Brian Boland sebagai Daniel
Sprague Grayden sebagai Kristi
Molly Ephraim sebagai Ali
Katie Featherston sebagai Katie
Seth Ginsberg sebagai Brad
Micah Sloat sebagai Micah
Vivis Cortez sebagai Martine

Director:
Merupakan film feature ketiga sejauh ini bagi Tod Williams yang diawali dengan The Adventures of Sebastian Cole (1998).

Comment:
Tahun 2009 sebuah film indie berbujet rendah yang mencetak sukses besar sekaligus eforia hebat di seluruh dunia, Paranormal Activity bisa jadi banyak mengilhami konsep film-film found footage berikutnya. Setahun berlalu dan kali ini anda akan disuguhi prekuelnya, saya ulangi lagi prekuel, bukan sekuel! Film tersebut bisa jadi membosankan tetapi berhasil menciptakan momen-momen mengejutkan yang tidak pernah anda saksikan sebelumnya. Dan jika anda menyukainya maka dipastikan anda akan menyukai yang satu ini juga.
Fokus dari Micah dan Katie akan beralih pada Kristi dan Daniel yang notabene masih saudara kandung sekaligus iparnya. Bukan hanya mereka, masih ada Ali, Hunter, Martine, Brad dan seekor anjing Abby. Itulah sebabnya karakterisasi disini lebih variatif dan tidak terlalu monoton. Semuanya bermain natural walau harus diakui kharisma Grayden masih di bawah Featherston sebagai leading femalenya. Si batita sendiri yang dimainkan oleh si kembar William Juan Prieto dan Jackson Xenia Prieto dipastikan akan mencuri perhatian anda.
Mood film dibangun sedemikian rupa untuk lebih menakuti anda dengan setting yang lebih luas mulai dari tangga, gudang, kamar tidur bayi, dapur, ruang makan hingga kolam renang. Mata anda akan ditantang untuk mencari "keanehan" pada gambar-gambar yang tertangkap pencahayaan malam hari. Mengasyikkan sekaligus mendebarkan, bukan? Strategi yang jitu untuk menjaga audiens dari rasa kantuk yang mungkin muncul. Setelah apa yang ditunggu-tunggu hadir bisa jadi anda terlompat dari kursi, bukan dari apa yang anda lihat tetapi lebih karena apa yang anda dengar. Berbagai suara yang ditampilkan diyakini mampu mendirikan bulu kuduk anda.
Sutradara Williams memang menggunakan format yang sama dengan originalnya. Namun bukan berarti tidak ada kejutan dalam Paranormal Activity 2. Link yang terhubung dengan film garapan Oren Peli dahulu itu menjadi jelas sewaktu mendekati endingnya, apa yang sesungguhnya menjadi misteri antara kakak beradik Katie dan Kristi. Twist yang menutup film ini mungkin tidak terlalu shocking tetapi cukup untuk membuat mulut anda ternganga. Secara keseluruhan, prekuel ini lebih menarik bagi saya karena intensitas yang "lebih" berwarna.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$83,583,230 till end of Nov 2010.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 03 Desember 2010

RAPUNZEL : Kebebasan dan Romantika Puteri Terkungkung

Quotes:
Rapunzel-Who are you, and how did you find me?
Flynn Rider-I know not who you are, nor how I came to find you, but may I just say... Hi. How you doin'?

Storyline:
Setelah menerima kekuatan penyembuhan sebuah bunga ajaib, bayi Puteri Rapunzel diculik dari istana pada suatu malam oleh Mother Gothel. Ya kekuatan itu lalu tumbuh di rambut panjang Rapunzel yang keemasan sehingga Mother Gothel mengurung putri malang itu di sebuah menara tinggi tanpa pintu demi membuatnya tetap sehat dan awet muda. Rapunzel yang terus bersabar ditemani bunglonnya, Pascal lambat laun merasa bosan terkungkung dan mengajukan permohonan keluar menara di usia 18 tahunnya untuk melihat festival lampion kerajaan. Mother Gothel tidak mengijinkannya hingga suatu saat Rapunzel nekad melarikan diri dengan bantuan sang pencuri mahkota, Flynn Ryder. Keduanya mengalami petualangan seru kemudian walau dikejar pihak-pihak yang memiliki tujuan berbeda. Akankah Rapunzel menemukan arti hidup yang baru di usianya yang muda itu?

Nice-to-know:
Merupakan film dongeng Disney pertama yang menggunakan teknologi CGI sekaligus mendapatkan rating PG.

Voice:
Sempat bermain dalam beberapa episode serial televisi top Grey's Anatomy, Mandy Moore kali ini menghidupkan sosok Rapunzel dengan suara merdunya.
Terakhir kali mendukung film anak-anak juga yaitu Alvin and the Chipmunks: The Squeakquel (2009), Zachary Levi kini mengisi suara Flynn Ryder, pencuri yang dalam pelariannya bertemu seorang putri berkemampuan ajaib.
Donna Murphy sebagai Mother Gothel
Ron Perlman sebagai Stabbington Brother

Director:
Nathan Greno dan Byron Howard sebelumnya pernah bekerjasama membuat film pendek yaitu Let It Begin (2009). Howard sendiri sempat menangani animasi CGI Disney lainnya, Bolt di tahun 2008.

Comment:
Tanpa ekspektasi apapun, saya pergi menonton film ini dengan setengah hati. Namun sejak scene pertama bergulir, saya merasa akan ada sesuatu yang istimewa disini. Dugaan tersebut tidak salah. Saya jatuh cinta sejak pandangan pertama dengan karakter Rapunzel dan bunglonnya, Pascal. Kemudian diperkenalkanlah karakter pencuri Flynn, ibu jahat Gothel dan kuda kerajaan Maximus. Lengkaplah kelima tokoh yang akan membombardir anda dengan berbagai macam perasaan selama lebih kurang 90 menit mulai dari senang hingga sedih.
Sejenak saya lupa bahwa film ini murni animasi CGI. Sebab banyak sekali elemen animasi klasik Disney seperti kehadiran putri, pahlawan penyelamat, nenek jahat dan jalinan kisah indah yang membelitnya. Background yang dipenuhi dengan pepohonan dan rerumputan hijau beratapkan langit biru sungguh memanjakan mata. Belum lagi festival tahunan lentera kerajaan yang mampu memaksimalkan konsep 3D yang diusungnya. Terutama pada satu scene dimana Rapunzel dan Flynn berlayar menelusuri sungai di malam hari. Indah sekali menyaksikan lampion-lampion tersebut seakan melayang langsung di hadapan wajah anda.
Meski menghadirkan beberapa humor slapstick, hal tersebut malah memperkaya eksplorasi ceritanya. Jangan katakan ini film feminis walau mungkin penonton perempuan akan dihibur oleh kemandirian dan rasa penasaran Rapunzel, tetapi penonton lelaki juga terwakili oleh ketangguhan dan keberanian Flynn. Aksi dan romantisme dihadirkan secara seimbang disini. Belum lagi kemunculan seekor bunglon yang cerdik lucu dan seekor kuda yang jumawa tangguh berhasil mencuri perhatian saat berinteraksi dengan tokoh-tokoh manusia tersebut walaupun tidak bisa berbicara samasekali.
Mandy Moore mampu bernyanyi dan berdialog sama baiknya sebagai Rapunzel. Ia pernah berakting dengan baik di berbagai drama sebelumnya tetapi mmbawakan sosok lugu nan bersemangat disini, saya menyadari bakat besar yang dimilikinya. Sebaliknya Levi juga terampil mengimbangi dengan menyuarakan Flynn dengan penjiwaan yang menarik. Chemistry keduanya benar-benar tergambar secara natural lewat proses yang tidak dipaksakan.
Saya bangga pada Walt Disney yang masih mampu bertaji di penghujung tahun 2010 ini. Kisah klasik Rapunzel ini bukan hanya berhasil dimodernisasi dengan kreatifitas tinggi tetapi juga disuguhkan dengan kehangatan hati. Percayalah meski ini animasi, emosi anda akan turut terseret jauh mengikuti petualangan Rapunzel dan Flynn diiringi dengan lagu-lagu penuh makna. Suatu karya yang tidak boleh anda lewatkan begitu saja dan mungkin saja Tangled akan menjadi salah satu all-time favorit anda seperti saya yang ingin menyaksikannya lagi dan lagi. Thumbs up untuk kinerja duet sutradara Greno dan Howard.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$68,706,298 in opening week of mid NovNov 2010.

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 02 Desember 2010

LONDON VIRGINIA : Gadis “Sempurna” Dambakan Makna Hidup

Storyline:
London menikmati segala hal dalam hidupnya, karirnya yang lancar sebagai model dan artis papan atas serta keluarga berkecukupan yang selalu mendukungnya. Namun dalam hidup, masalah memang selalu datang silih berganti, mulai dari tuntutan menikah dari anggota keluarganya ataupun perjanjian bisnis yang gagal. Diam-diam asisten ayahnya, Candra menyukai London dan menyamar menjadi banci bernama Sandra untuk menjadi asisten London. Keduanya pun dekat satu sama lain. Di lain kesempatan, Vira dan Camel datang ke Ibukota dari Sukabumi dengan harapan bisa menjadi penyanyi. Nasib mempertemukan keduanya dengan London di suatu klub. Akankah London menemukan inspirasi baru dalam hidupnya kelak?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Qibri Karya Utama yang bekerjasama dengan Momentia Pictures.

Cast:
Cheverly Amalia sebagai London
Gading Marten sebagai Candra / Sandra
Abdurrahman Arif sebagai Camel
Sabrina Athika sebagai Vira / Virginia
Pierre Gruno
Barry Prima

Director:
Merupakan film kedua Allo Geafarry setelah Anak Setan tahun lalu itu.

Comment:
Terlepas dari konsep yang sedikit carut marut, saya tetap menganggap ini sebuah “film”. Diartikan saja menjadi dua plot utama dan plot tambahan. Plot utama mengenai seorang gadis yang sepintas terlihat sempurna hidupnya didampingi oleh asisten bancinya yang sebenarnya seorang pria yang mencintainya. Plot tambahannya tentang dua orang “kampung” yang punya mimpi di kota Metropolitan. Kita akan melihat kedua plot tersebut silih berganti walau porsinya sangat tidak sebanding.
Sutradara Allo berusaha menyajikan setting Jakarta yang terkesan megah dan menjadi impian para pendatang. Sayang sekali hanya Tugu Monas yang ditampilkan disini sebagai latar belakangnya, bukan hanya sekali tapi berkali-kali sampai penutupan film juga! Setting tersebut kemudian ditegaskan lagi dengan perbedaan miskin dan kaya, mulai dari rumah elite London hingga rumah kumuh Virginia.
Gading yang paling berpengalaman di dunia akting malah terkesan under perform. Saya tidak menangkap “tujuan” utamanya menjadi banci untuk mendapatkan cinta tetapi lebih ke ekspresi diri untuk menjadi pendamping superstar (baca: sahabat). Entah skrip yang mengharuskan begitu atau ia yang kurang eksplorasi. Abdurrahman dan Sabrina sebagai “second layer” juga kurang mendapat karakterisasi yang kuat selain dialek Sunda yang juga kurang kental. Cita-cita keduanya seakan tidak memiliki motif yang jelas untuk diraih dengan gigih. Nama-nama lawas seperti Barry dan Pierre pun seakan tempelan belaka plus beberapa cameo terkenal yang bisa dengan mudah anda sebutkan.
Kita sampai pada paragraf akhir sekaligus inti dari review saya kali ini. Bisa dikatakan nyaris tanpa promosi samasekali, film ini merupakan ONE WOMAN SHOW dari seorang Cheverine Amalia. Lihat bagaimana ia tampil sebagai gadis cantik dan stylish dengan berbagai peran dalam hidupnya yang digambarkan serba sempurna mulai dari artis, model, entrepreneur, sosialita, produser dsb. Dan memang dalam produksi film ini juga ia memegang lebih dari tiga jabatan sekaligus. Bisa dilihat dengan mata kepala anda sendiri saat credit title bergulir. Apakah London Virginia ini proyek yang menjadi obsesi terpendamnya? Hanya ia sendiri yang mampu menjawabnya dan anda yang menilainya kelak.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 01 Desember 2010

FOREVER : Obsesi Cinta Ceria Gadis Psycho

Storyline:
Konsultan video pernikahan dalam W.E.D (Wedding Education Department) bernama Joey memiliki cita-cita untuk mempromosikan romantisme pernikahan seumur hidup kepada kalangan muda Singapore dengan konsep-konsep videonya yang unik. Salah satunya adalah video pernikahan yang ia lakukan sendiri dengan guru music tampan, Gin. Hal tersebut membuat Joey bermimpi untuk benar-benar bersanding dengan Gin padahal Gin sendiri sudah bertunangan dengan gadis cantik blasteran, Cecilia. Joey berulang kali meneror Gin untuk menunjukkan ketulusan cintanya. Akankah usahanya berhasil pada akhirnya?

Nice-to-know:
Forever melakukan pemutaran perdananya pada Jiffest edisi ke-12 ini bahkan sebelum rilis di negaranya sendiri.

Cast:
Teo Kiat-Sing sebagai Joey
Mo Tzu-yi sebagai Gin
Sarah Ng
Joanna Dong

Director:
Merupakan film kedua bagi Wee Li Lin setelah Gone Shopping (2008) yang sempat bersaing dalam the New Talents award di 11th Shanghai International Film Festival.

Comment:
Film ini bisa dikatakan bentuk lain dari FIKSI. Mau tidak mau saya bandingkan keduanya. Jika Fiksi berkesan dark maka Forever ini sangatlah light alias terang benderang. Fokusnya pada seorang cewek yang terobsesi pada seorang cowok yang sudah bertunangan. Ia menguntit, menelepon, mengirim kue, menyanyikan lagu hingga menyembah-nyembah. Apabila kita mengambil sudut pandang sang cowok, mungkin kita akan berpikiran si cewek ini psikopat mengerikan. Wong udah ditolak berkali-kali kok masih ngotot? Namun pintarnya sutradara Wee menghadirkan film ini dengan nuansa komedi satir yang penuh bahasa gambar komikal sekaligus imajinatif sehingga segala tingkah laku ekstrim itu seakan diperhalus dan terkadang diterjemahkan menjadi keluguan saja.
Penunjukan Teo Kiat Sing sebagai Joey cukup tepat. Dengan tampang biasa-biasa saja dibingkai dengan kacamata berframe hitam membuatnya terlihat nerd. Konon seorang nerd biasanya memiliki sisi terdalam dari apa yang terlihat di luarnya. Memang cuma sebuah konsep karena belum tentu benar dan jangan juga anda artikan seorang nerd selalu menyimpan sisi psikopat dalam dirinya. Sedangkan Gin dan Cecilia merupakan pasangan sempurna disini, tampan dan cantik, seakan semakin memancing rasa posesif dan jealous dalam diri Joey. Keduanya bermain natural dan mampu menarik mata penonton untuk tetap fokus pada layar.
Rasanya sulit bagi anda untuk jatuh cinta pada Forever, apalagi sampai mengerti betul konsep yang berusaha disampaikan. Sinematografinya memang cukup menjual dengan warna-warna terang yang pucat. Humor yang dibawakan benar-benar khas film-film Singapore sehingga bisa jadi sulit membuat anda tertawa lepas. Sungguh! Endingnya yang cukup absurd serasa menantang persepsi anda sendiri apakah itu imajinasi atau kenyataan. Petunjuknya pehatikan kondisi sekeliling para karakternya dan mulailah berasumsi!

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 30 November 2010

SUSAH JAGA KEPERAWANAN DI JAKARTA : Realita Gadis Kampung Menjual Diri Di Ibukota

Storyline:
Primadona Desa Kandang Jago, Srinthil bermimpi bisa menjadi bintang film dan hidup berkecukupan di kota besar. Dua sahabatnya sejak kecil yaitu Kunil dan Centini hanya bisa mendengarkan sambil turut membayangkan. Demi menghindari perjodohan orangtuanya, ketiga dara tersebut nekad lari ke Jakarta dengan uang pas-pasan. Kesulitan mencari tempat tinggal yang sewanya sesuai dengan bujet, mereka akhirnya terdampar di sebuah motel yang seringkali dijadikan transaksi seks singkat. Disitulah Srinthil bertemu teman lamanya yang juga seorang pekerja seks. Lewat Jiun sang pekerja di motel tersebut, ketiganya nekad mencoba menjadi PSK sambil tetap berusaha mempertahankan kehormatan mereka. Beruntung banci setiakawan bernama Bertha mau membantu untuk mendandani Srinthil, Kunil dan Centini serta membantu “memuaskan” klien-klien ketiganya. Akankah kebohongan dan pertaruhan yang mereka jalani akan dibayar mahal kelak?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Sentra Film dan gala premierenya diadakan di Epicentrum XXI pada tanggal 29 November 2010 yang lalu.

Cast:
Masayu Anastasia sebagai Srinthil
Aulia Sarah sebagai Centini
Sarah Rizkya sebagai Kunil
Rifky Balweel sebagai Jiun
Indra Birowo sebagai Bertha
Tessy Srimulat

Director:
Merupakan film pertama Joko Nugroho yang perilisannya tertunda nyaris 2 tahun!

Comment:
Saya merasa film ini seperti produk tambal sulam. Pergantian rumah produksi dan guntingan sensor LSF bisa jadi menjadi penyebab utamanya. Sejujurnya saya sempat tertarik pada konsep Urbanisexy beberapa tahun lalu dan saya merasa judul tersebut lebih tepat dengan isi film secara keseluruhan. Plot cerita sebetulnya biasa saja mengenai trio gadis kampung yang nekad mengadu nasib di Jakarta dan akhirnya berlabuh sebagai wanita-wanita penghibur. Yang membedakan adalah mereka masih berusaha mempertahankan keperawanan masing-masing dan itu sukses! Terima kasih pada Indra yang bermain sangat “total” sebagai Bertha dengan berbagai macam wig dan kostum yang sangat “tampil”! Sebagian dari anda bisa jadi jengah melihat aksi Indra yang semakin lebay seiring bertambahnya durasi film ini.
Masayu, Aulia dan Sarah berusaha menyajikan akting semaksimal mungkin. Namun diantara ketiganya, Masayu lah yang paling luwes dengan bahasa tubuh dan ekspresinya yang juara itu. Sayangnya kedangkalan karakterisasi mereka tak bisa dipungkiri karena sepanjang film kita hanya disajikan polah tingkah Srinthil, Kunil dan Centini yang tiada habisnya menerima pelanggan dan kemudian berlari-lari keluar kamar. Lagi dan lagi.. Sempat membuat saya berpikir untuk menyalakan counter tetapi setelah dipikir-pikir rasanya lebih baik memejamkan mata sejenak
Sutradara Joko selaku masinis terkesan kesulitan menjaga keretanya tetap berada di jalur yang benar. Alhasil sepanjang perjalanan melenceng sana-sini, sempat tersasar pula karena berpindah jalur hingga pada akhirnya sampai juga di stasiun setelah kehilangan beberapa muatannya. Itulah yang terjadi pada Susahnya Jaga Keperawanan Di Jakarta. Anda hanya dapat menikmatinya sekitar 30 menit pertama saja, selebihnya anda boleh memilih untuk turun dari kereta daripada mengalami pusing kepala, gangguan penglihatan atau pendengaran akut akibat visualisasi yang melelahkan dan tata musik yang berlebihan.
Kesalahan akan kualitas akhir di bawah standar ini mungkin pantas dialamatkan pada perombakan skrip sebelum akhirnya dirilis juga. Membuat film ini seperti kebingungan menentukan identitasnya sendiri, apakah komedi hitam, drama realita, atau apapun itu namanya, anda sendiri yang boleh menentukan!

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 29 November 2010

HISSS : Perjalanan Balas Dendam Wanita Ular

Tagline:
She's sexy... venomous... and she'll swallow you whole...

Storyline:
Diangkat dari mitos negeri Timur Jauh dimana ular betina diyakini mampu bertransformasi menjadi manusia dan mengejar para penculik pasangannya.

Nice-to-know:
Irrfan Khan menggantikan Amitabh Bachchan untuk peran utama pria disini.

Cast:
Irrfan Khan
Mallika Sherawat sebagai Nagin
Jeff Doucette sebagai George States
Divya Dutta

Director:
Jennifer Chambers Lynch merupakan putri dari sutradara David Lynch dan pelukis Peggy Lynch yang bercerai sejak usianya masih 6 tahun.

Comment:
Benang merah cerita film ini rasanya sudah berkali-kali diangkat sebelumnya terutama dari daratan Asia, sebut saja Thailand ataupun China. Namun dengan citarasa India, saya mengharapkan sesuatu yang berbeda disini. Dan terbukti penggarapannya sedikit di luar kebiasaan Bollywood tetapi lebih bernuansakan Hollywood. Sayangnya tidak dibarengi bujet yang memadai sehingga visual efeknya terasa kurang menjual.
Plotnya seharusnya setia dengan penceritaan mitos/legenda yang beredar di masyarakat, tetapi sutradara Lynch malah percaya dengan horor/thriller sederhana beralur linier. Alhasil film ini hanya menarik di bagian prolog nya saja tetapi memasuki pertengahan hingga bagian ending semakin kehilangan fokusnya. Skrip yang ditulis oleh Lynch juga sama buruknya karena hanya berusaha mengejutkan dan membuat para penonton jijik melihat scene-scene "berdarah" yang sejujurnya masih kurang power.
Pemilihan Mallika terbilang tepat karena tubuh seksinya benar-benar menjual terutama saat transformasi ular ke wanita ataupun sebaliknya. Sayang hal ini lagi-lagi dicoreng dengan spesial efek yang tidak meyakinkan plus adegan making love bersama ular yang pointless. Sedangkan Irrfan harus diakui masih cukup berkharisma sebagai police officer tetapi dialog-dialog yang terlontar dari mulutnya terasa klise dan tidak berisi samasekali. Apalagi ia satu-satunya tokoh sentral yang mampu "berbicara" disini dan berbagi scene dengan beberapa aktor pendukung lainnya seperti si antagonis Doucette yang tidak rasional itu.
Ending ditutup dengan menggelikan saat dua orang yang berduka dengan kehilangannya masing-masing membuat saya bertanya-tanya film apa yang baru saja saya saksikan. Poin minus pula, kemolekan tubuh Mallika yang menjadi komoditi utama film ini justru disensor habis-habisan. Hisss bukanlah film yang sangat buruk tetapi cukup aneh untuk dinikmati secara rasional karena akan meninggalkan banyak pertanyaan di benak anda selepas menontonnya.

Durasi:
95 menit

U.K. Box Office:
£8,519 till end of Oct 2010.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent