XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 31 Oktober 2009

WARRIOR AND THE WOLF : Mitos Serigala dan Pejuang Berhati Lembut

Storyline:
Di masa perang terjadi sebelum negeri China bersatu, ribuan prajurit dikirim untuk bertempur secara brutal. Akan tetapi berbeda dengan Lu Chenkang yang bersifat pemberani, loyal dan memiliki keahlian berperang yang tinggi. Tidak hanya itu, Lu juga lembut hatinya dan menghindari pembunuhan. Pada waktu, ia memimpin pasukannya untuk menyerang sebuah desa misterius, Lu bertemu seorang wanita muda yang bersembunyi dari badai salju. Lambat laun mereka saling jatuh cinta.

Nice-to-know:
Berjudul asli Lang zai ji dan dirilis di China pada tanggal 2 Oktober 2009.

Cast:
Maggie Q
Jô Odagiri sebagai Lu Chenkang
Chung Hua Tou

Director:
Tian Zhuangzhuang sebelumnya paling dikenal lewat Lan feng zheng (1993) yang controversial bahkan di negaranya sendiri itu.

Comment:
Saya sempat penasaran dengan kualitas film ini semenjak melihat poster dan trailernya yang menarik itu. Namun sekitar satu setengah jam kemudian, saya menyesalinya karena tidak ada yang terlihat benar dalam film ini. Entah apa tujuan pembuatan proyek ini dan bagaimana kelompok tersebut dapat menyelesaikannya menjadi suatu tanda tanya besar dalam benak saya!
Sutradara Tian tampaknya terlalu asyik sendiri bermain narasi satu arah yang sangat egosentris itu. Tidak masalah jika dibekali dengan plot cerita yang baik tapi nyatanya kali ini benar-benar sulit diterima logika karena tidak ada keakuratan sejarah yang melatarbelakanginya. Belum lagi alur maju mundur yang tidak konsisten semakin membingungkan audiens untuk bisa mencerna apa yang sesungguhnya ingin disampaikan.
Odagiri dan Maggie juga tidak membawa pengaruh positif apapun disini. Chemistry keduanya terasa dipaksakan. Hal ini diperburuk oleh dubbing bahasa Mandarin yang sangat kentara dimana gerak bibir dan kata-kata yang terlontar tidak sinkron. Sekadar catatan, Odagiri berdarah asli Jepang dan Maggie sendiri lebih fasih berbahasa Inggris. Seakan-akan tidak ada cast lain yang lebih tepat untuk mengisi kedua peran utama tersebut.
Nilai plus yang mungkin anda temukan di dalamnya mungkin hanya sinematografi yang cantik dimana lanskap daratan tinggi memanjakan mata anda. Ditambah dengan sex scene yang berulang-ulang antara Odagiri dan Maggie di sepanjang durasinya cenderung membosankan. Mereka mengawali dengan beberapa pemerkosaan hingga berakhir dengan layaknya hubungan suami istri sukarela? Hm, let’s say it’s very weird.
Mitos orang-orang Harran yang berasal dari klan serigala juga tidak menjelaskan apa-apa walau sepertinya bisa menjelaskan penggunaan film ini. Anda akan teramat lelah menyaksikan Warrior and the Wolf yang tidak menjanjikan apa-apa seperti penonton yang memilih untuk beranjak dari gedung bioskop sebelum film berakhir. Dan jangan bilang kalau saya belum memperingatkan anda untuk melewatkan yang satu ini.

Durasi:
95 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 30 Oktober 2009

RUMA MAIDA : Mempertahankan Gedung Tua Penuh Kenangan

Cerita:
Gadis pengajar anak-anak kurang beruntung, Maida telah berusaha selama 2 tahun di sebuah gedung tua terbengkalai sampai akhirnya menemui hambatan saat seorang arsitek, Sakera mendatanginya dan berniat membongkar gedung tersebut untuk menjadikannya perkantoran atas perintah bosnya, Dasaad. Maida menolak dengan alasan fasilitas itu adalah satu-satunya tempat bernaung bagi anak-anak yang kesehariannya hanya bisa mengamen, berjualan koran dll untuk bertahan hidup. Tidak diduga, hubungan Maida dan Sakera pun semakin dekat karena mereka sering bertukar pikiran sampai pada akhirnya mereka bertekad mencaritahu sejarah gedung tua yang pernah menjadi saksi masa lalu tersebut untuk membatalkan pembongkaran.

Gambar:
Beberapa flashback ditampilkan dalam adegan hitam putih sephia lengkap dengan kostumnya. Sedangkan setting masa kini yang berlokasi di Jakarta dan Semarang juga turut mendapat perhatian dari sisi artistik.

Act:
Atiqah Hasiholan yang baru saja dipuji dalam Jamila dan Sang Presiden kali ini berperan sebagai Maida, gadis keturunan campur yang idealis dan teguh hati.
Terakhir muncul dalam komedi kacau Merem Melek, Yama Carlos bermain sebagai Sakera, arsitek muda yang rendah hati dan berjiwa sosial.
Baru saja mendukung sekuel Get Married, Nino Fernandez disini kebagian peran Ishak Pahing, komposer Belanda yang pro kemerdekaan.
Turut didukung pula oleh Davina Veronica Hariadi, Imelda Soraya, Wulan Guritno, Frans Tumbuan, ayah-anak Henky & Verdy Solaiman.

Sutradara:
Pernah menggunakan frame serupa dalam Ruang (2005), Teddy Soeriaatmadja kali ini bekerjasama dengan novelis Ayu Utami untuk mengarahkan film berlatar belakang sejarah nasional yang dibiayai oleh Lamp Pictures dan Karuna Pictures.

Comment:
Acungan jempol patut dilayangkan pada penulis skenario sekaligus ide ceritanya yaitu Ayu Utami yang bisa dibilang sukses mengadopsi suatu perjalanan panjang sejarah yang pernah terjadi di masa lalu dari mulai Kebangkitan Nasional 1920 hingga Kemerdekaan R.I. 1945 hingga melibatkan beberapa tokoh nasional yang hidup di jamannya semisal Bung Karno, Bung Hatta, Laksamana Maeda, WR Supratman, Sutan Syahrir dsb. Semuanya itu mungkin tidak terlalu berarti andai Teddy Soeriaatmadja tidak mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa gambar yang baik. Penyajian Ruma Maida ini cukup mengesankan karena ada batasan jelas antara masa lalu dan masa kini yang seimbang. Para pemainnya tampil memikat terutama Atiqah yang tampaknya semakin matang. Sebuah film tentang kisah cinta syahdu sekaligus tragis antara dua insan dengan latar pra dan pasca kemerdekaan Indonesia yang tentunya patut anda saksikan.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 29 Oktober 2009

PUTIH ABU-ABU DAN SEPATU KETS : Gejolak Remaja Hadapi Peliknya Kehidupan

Cerita:
Remaja putri idola sekolah, Dea berpacaran dengan Adit, vokalis sebuah band yang sedang naik daun. Dikarenakan cemburu dengan Michela yang sempat menggoda Adit, Dea nekad berhubungan intim dengan Adit pada suatu kesempatan. Sialnya hal tersebut direkam oleh Adit melalui ponsel yang akhirnya tersebar ke seantero sekolah.. Di lain fokus, tiga sahabat yakni Flory, Kemala dan Icha yang masih duduk di bangku SMU kelas 1 memiliki problemanya masing-masing. Flory yang ibunya seorang lesbian hingga kondisi keluarganya berantakan dan Kemala yang rasa penasarannya terhadap hal-hal dewasa sangat tinggi.. Semuanya berbaur dalam komunitas remaja yang masih perlu belajar dengan hal-hal kedewasaan secara alami.

Gambar:
Sebagai film remaja, film ini menampilkan gambar-gambar yang indah seputar sekolah, rumah tinggal dsb dengan pencahayaan yang temaram.

Act:
Kesemuanya merupakan pendatang baru di layar lebar.
Arumi Bachsin sebagai Dea
Adipati sebagai Adit
Michella Putri sebagai Kemala
Rendy Septino
Rana Audi Marissa sebagai Icha
Filda Effendi sebagai Flory
Steven William

Sutradara:
Nayato Fio Nuala yang pernah beken dengan Ekskul (2005) yang kontroversial sekaligus dipuji itu kini kembali dengan drama remaja yang skenarionya ditulis oleh Viva Westi ini.

Comment:
Film yang konon diangkat dari kisah nyata ini promosinya cukup agresif yang sepintas memang terlihat beda dari film remaja kebanyakan, lihat saja posternya yang terkesan atraktif dengan warna pucat. Premis tersebut tidaklah salah karena secara keseluruhan Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets bercerita dengan cukup baik dan lancar apalagi didukung dengan bahasa gambar yang kaya. Akting para pemainnya pun terasa wajar, mungkin karena sebagian besar dari mereka adalah remaja yang sudah biasa dengan problematika sehari-hari. Bagi sang sutradara, ini adalah kemajuan yang signifikan secara berbelas-belas film terakhirnya tidak bisa dibilang bermutu. Namun bukan berarti Putih Abu-Abu tidak memiliki kekurangan. Awal film terasa terlalu bertele-tele, konflik utama baru muncul setelah sejam film diputar dan itupun diakhiri dengan simpel saja. Hasil akhir seharusnya bisa lebih baik tetapi cuma sampai pada tahap lumayan standar.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 28 Oktober 2009

9 : Perlawanan Penghuni Bumi Masa Depan

Quotes:
9-Why do you listen to 1?
5-A group must have a leader.
9-But what if he's wrong?

Cerita:
Saat 9 terbangun, ia menyadari bahwa kondisi dunia setelah kiamat tanpa manusia satupun! Kemudian ia menemukan sebuah komunitas kecil dimana yang semua jenisnya sama seperti dirinya selalu hidup dalam bayang-bayang ketakutan robot penghancur segala makhluk di bumi. 9 kemudian meyakinkan yang lain untuk melakukan perlawanan daripada bersembunyi selama ini. Strategi pun disiapkan dan mungkin saja masa depan peradaban ada di tangan mereka.

Gambar:
Animasinya tergolong mengagumkan, detail dan terlihat real dimana makhluk-makhluk penghuni bumi di masa depan diwujudkan dalam sosok yang unik.

Voice:
Christopher Plummer sebagai #1
Martin Landau sebagai #2
John C. Reilly sebagai #5
Crispin Glover sebagai #6
Jennifer Connelly sebagai #7
Fred Tatasciore sebagai #8 / Radio Announcer
Elijah Wood sebagai #9

Sutradara:
Merupakan animasi remake bagi Shane Acker yang pernah mengarahkan film pendek 11 menit berjudul sama yaitu 9 (2005).

Comment:
Menonton film ini di awal seakan dimulai dari tengah-tengah. Sulit rasanya mencari penjelasan yang detail atas apa yang sesungguhnya terjadi sebelum itu sehingga penonton boleh jadi tidak terlalu intens lagi untuk mengikuti keseluruhan kisahnya apalagi peduli pada nasib tokoh-tokohnya. Plot cerita yang terasa berlubang-lubang dan ambigu disana-sini, belum lagi eksplorasi cerita yang kurang masuk akal. Memang harus diakui dari segi animasi, 9 sangat rapi dan memanjakan mata ditambah beberapa adegan aksi yang cukup memikat. Itulah poin utamanya. Tetapi di luar keunikan gaya dan tampilan artnya, rasanya masih banyak film sejenis lain yang lebih menjanjikan.

Durasi:
80 menit

U.S. Box Office:
$31,339,937 till end Oct 2009

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 27 Oktober 2009

THE UNINVITED : Trauma Masa Lalu Berbuntut Halusinasi

Quotes:
Anna-[going through Rachael's stuff] Geez when are they bringing in the stripper pole.
Alex-I know, she's like a crack-whore without the dignity.

Cerita:
Setelah kematian ibunya yang sedang sakit dalam kebakaran, gadis remaja Anna dikirim ke rumah sakit jiwa untuk diterapi Dr. Silberling karena pernah mencoba bunuh diri. 10 bulan kemudian, sekembalinya Anna ke rumah, ia tidak lagi mendapati situasi yang sama karena ayahnya berencana menikah lagi dengan mantan pengasuh ibunya, Rachel Summers. Bekerjasama dengan saudarinya Alex, Anna berusaha menguak misteri pemicu tragedi kematian ibunya yang mungkin saja dilakukan oleh Rachel. Dan lagi Anna terus menerus dihantui ibunya yang seakan masih menyimpan rahasia. Apa yang sesungguhnya terjadi di rumah kapal pada malam itu?

Gambar:
Keseluruhan syuting dilakukan di Kanada. Beberapa scene yang menyeramkan bahkan terasa sangat minim pencahayaannya sehingga menyulitkan penglihatan penonton.

Act:
Aktris muda asal Australia, Emily Browning pernah angkat nama lewat Lemony Snicket's A Series Of Unfortunate Events (2004) disini berperan sebagai Anna, gadis muda yang harus kembali ke rumah tempat traumanya berasal.
Pernah mendukung Eddie Murphy dalam Meet Dave (2008), Elizabeth Banks kali ini bermain sebagai Rachel Summers, pengasuh manula ataupun orang sakit yang sepintas terlihat manis tak berdosa.
Arielle Kebbel sebagai Alex dan David Strathairn sebagai Steven, sang ayah.

Sutradara:
The Guard Brothers yaitu Charles dan Thomas pertama kali bekerja sama dalam Inside Out (1999) dan kali ini meremake film horor Korea, A Tale Of Two Sisters yang cukup mendapat sambutan di kancah perfilman Asia beberapa tahun lalu.

Comment:
Kegagalan beberapa sineas Hollywood untuk mengangkat horor Asia sukses mungkin sedikit berdampak buruk pada film ini yang mengusung A Tale Of Two Sisters dari Korea sehingga hasil box-officenya tidak terlalu memuaskan. Padahal The Uninvited bisa dibilang di atas rata-rata apalagi sukses melakukan transplantasi ke gaya barat, tidak seperti The Grudge yang masih membawa lokasi awal. Penuturan cerita yang runut sehingga penonton digiring untuk bisa mengikuti sekaligus menerka-nerka endingnya yang sungguh tidak terduga. Dari segi cast cukup memukau, Browning bermain paling baik dengan gaya dan penjiwaannya yang alami. Disini unsur suspensi menjadi jualan utamanya di luar horor, berbeda dengan versi originalnya. Bukan hal yang buruk walau mungkin penonton versi original akan kecewa. Film ini harus diakui menjadi salah satu horor remake Asia terbaik yang muncul dalam 5 tahun terakhir. Tanpa bermaksud membandingkan, versi original dan versi remake punya plus dan minus sendiri-sendiri.

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$28,573,173 till April 2009

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 26 Oktober 2009

CLIFFHANGER : Aksi Kucing Tikus Di Atas Pegunungan Bersalju

Quotes:
Jessie-This rope looks 60 years old. Will it hold?
Gabe-Don't think so.
Jessie-Bad answer.

Cerita:
Sekelompok pencuri dipimpin Eric Qualen membajak pesawat tujuan Denver yang membawa uang 100 juta dollar. Sayangnya rencana untuk memindahkan koper berisi uang ke pesawat lain gagal total sehingga koper tersebut jatuh ke pegunungan Rocky. Mereka kemudian meminta bantuan tim pendaki keadaan darurat Gabe dan Hal dimana Gabe sendiri masih trauma melakukan pendakian akibat kecelakaan beberapa waktu lalu. Sekarang jutaan dollar dan hidup mereka bergantung pada pertimbangan. Melawan daya ledak, rasa dingin dan rasa pusing yang berat, Gabe harus memperdaya Eric sekaligus menyelamatkan kekasihnya Jessie pada klimaks yang menegangkan.

Gambar:
Bersetting di Rocky Mountain, Colorado dan beberapa spesial efek di dalam studio di Italia, Cliffhanger sukses menyajikan petualangan seru di atas ketinggian pegunungan bersalju yang tengah dilanda badai.

Act:
Terakhir muncul dalam komedi Stop! Or My Mom Will Shoot (1992), Sylvester Stallone kembali dalam film aksi ini sebagai Gabe Walker, pendaki gunung handal yang berusaha mengatasi trauma masa lalunya.
Peran antagonis Eric Qualen dipegang oleh John Lithgow.
Love interestnya Gabe, Jessie Deighan dimainkan oleh si cantik Janine Turner.
Kolega Gabe, Hal Tucker dibintangi oleh Michael Rooker.

Sutradara:
Sukses mengarahkan Die Hard 2 (1990) dengan jagoan Bruce Willis, nama Renny Harlin melambung tinggi di Hollywood dan kali ini bertanggungjawab atas peran megabintang yang lain, Sylvester Stallone.

Comment:
Diawali dengan sedikit drama menegangkan untuk menjelaskan masa lalu tokoh utama, film ini mengalir cepat menuju inti ceritanya yang juga tak kalah mendebarkan. Walau bisa ditebak, plot ceritanya cukup menarik apalagi disajikan dengan tensi tinggi. Setting sangat membantu memvisualisasikan pertaruhan hidup mati yang ada di Rocky Mountains ini sehingga penonton seakan ikut merasakan ketinggian dan kedinginan yang dialami para tokohnya. Cast utama tampil meyakinkan terutama Lithgow, Stallone sendiri cukup memenuhi standar aksinya. Sang sutradara tidak pelak lagi memang piawai memaksimalkan bujet 65 juta dollar yang disediakan untuk mengetengahkan film blockbuster tahun 1993 ini. Cliffhanger mungkin akan mengendap cukup lama dalam ingatan pecinta film aksi tahun 1990an.

Durasi:
110 menit

Worldwide Box Office:
$255,000,000

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 25 Oktober 2009

BLACK WATER : Bertahan Hidup Dari Serangan Buaya

Tagline:
What you can't see can hurt you..

Cerita:
Lee bersama kakaknya, Grace yang bersuamikan Adam berlibur bersama ke Australia Utara untuk memancing di rawa Blackwater Barry bersama pemandu dadakan, Jim dengan menggunakan motor boat kecil. Malang tak dapat ditolak saat seekor buaya raksasa membalikkan boat itu dan membuat trio malang itu terapung-apung di daerah yang sama sekali asing bagi mereka. Bertahan hidup di atas sebatang pohon sama sekali bukan situasi yang menguntungkan karena buaya ganas tersebut terus mengintai gerak-gerik mereka.

Gambar:
Bersetting langsung di Northern Australia, suasana film ini sangat konstan dengan kesunyian dan lokasi terasing yang mencekam.

Act:
Tiga aktor-aktris asli Australia yang namanya belum dikenal yaitu
Maeve Dermody sebagai Lee
Diana Glenn sebagai Grace
Andy Rodoreda sebagai Adam


Sutradara:
Kolaborasi penyutradaraan layar lebar perdana bagi Andrew Traucki dan David Nerlich.

Comment:
Masih ingat dengan film semi dokumenter berjudul Open Water yang cukup dibicarakan beberapa tahun lalu? Jika itu bercerita tentang hiu di perairan terbuka, film ini berkisah tentang buaya. Tokohnya hanya 3 orang sepanjang film sehingga dibutuhkan penjiwaan dan penyajian konflik yang lugas sekaligus konsisten. Black Water yang juga diilhami dari kejadian nyata boleh dibilang berhasil dalam elemen-elemen yang telah saya sebutkan di atas. Glenn, Dermody dan Rodoreda sukses menjaga empati penonton terhadap nasib mereka karena menciptakan chemistry yang pas di antaranya. Spesial efek buaya memang tidak terlihat terlalu nyata tetapi cukup menakutkan sebagai momok pemangsa. Secara keseluruhan, film yang lumayan terjaga tensinya sepanjang film walau mungkin membosankan bagi sebagian orang.

Durasi:
90 menit

Australia Box Office:
AUD 111,189 till June 2008

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 24 Oktober 2009

KEMBANG PERAWAN : Mencari Arti Hidup Dengan Simbolisme

Cerita:
Empat sahabat yang dikenal sebagai pecundang di SMA nya yaitu Astu, Syaki, Didan dan Balqi bertekad memulai hidup baru selepas kelulusannya terutama Astu yang diam-diam menyimpan hati pada Astari. Mereka berempat kemudian melakukan evaluasi menyeluruh tentang apa yang salah pada diri mereka mulai dari bertemu psikiater, paranormal, dsb. Sampai pada akhirnya mereka berlabuh di suatu desa tempat tinggal nenek Astu dan mempelajari teori bahwa dengan memiliki Kembang Perawan di desa tersebut yang belakangan diketahui bernama Kinasih, nasib sial yang selama ini mengikuti mereka akan hilang. Namun ternyata apa yang mereka temukan disana adalah jatidiri yang sesungguhnya..

Gambar:
Keindahan desa Cikesang ditampilkan dengan pas seakan-akan hijaunya sawah, jernihnya sungai dan batas cakrawala menjadi latar belakang yang mengagumkan.

Act:
Masing-masing tampil natural sesuai penjiwaan karakternya.
Astu diperankan oleh Adly Fairuz
Syaki oleh Mario Merdhita
Didan oleh Kris Anjar
Balqi oleh Dimas Anggara
Nenek Astu oleh Titi Qadarsih
Janda Nani oleh Indah Kalalo
Kinasih oleh Ryana Dea
Astari oleh Olivia Lubis Jensen


Sutradara:
Pria yang pernah menghasilkan dwilogi Kawin Kontrak lewat penulisannya, Joko Nugroho kali ini bertindak sebagai penulis sekaligus sutradara film yang judulnya diambil dari album Gita Gutawa.

Comment:
Melihat posternya sepintas tidak menyiratkan kualitas yang sesungguhnya. Setelah mengetahui tim produksinya adalah Frame Ritz yang biasanya menangani FTV-FTV di SCTV, saya sedikit percaya dengan isinya. Dugaan tersebut tidaklah salah karena Kembang Perawan secara standar baku yang baik mampu bercerita dengan lugas dari awal sampai akhir. Para pemainnya pun tampil wajar. Settingnya dibuat sedemikian rupa hingga terkesan sangat natural dan membumi. Plot ceritanya boleh dibilang cukup orisinil walau sudah banyak film asing dengan tema sejenis yaitu masa akil baliq remaja pria tetapi disuguhkan dengan gaya Indonesia. Alur berceritanya sangat runut. Hal-hal tersebut bukan tanpa kekurangan karena pakem hal-hal klise masih digunakan di beberapa bagian utama cerita. Akhir kata, acungan jempol pantas diberikan pada sang sutradara yang eksplorasinya tergolong berhasil dan mampu membawa Kembang Perawan menjadi film remaja yang cukup memorable dan sarat dengan pesan moral tentang pencarian jati diri.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 23 Oktober 2009

SELENDANG ROCKER : Perseteruan Kocak Artis Melayu dan Rocker

Cerita:
Grup rock yang mulai turun pamor, The Pangky's didapuk produser untuk mengubah haluan menjadi grup beraliran Melayu dengan berkolaborasi dengan Munanada, grup Melayu yang telah terbukti kesuksesannya. Hal tersebut tidaklah begitu saja diterima para anggota The Pangky yaitu Ipank pada vokal, Ozi pada drum, Erick pada gitar dan Joy pada keyboard karena masing-masing mereka dituntut untuk menyesuaikan diri dengan peraturan baru termasuk mencopot segala atribut penampilannya. Munanada sendiripun bukan orang yang mudah bekerjasama dan sangat agamais sampai akhirnya ia terlibat perang dingin dengan Ipank. Malang bagi Ipank karena kemudian ia jatuh cinta dengan Gaby yang ternyata putri Munanada dari istri ketiganya! Akankah pada akhirnya The Pangky's bisa berdiri lagi?

Gambar:
Penampilan panggung The Pangky's dan Munanada ditampilkan sedemikian rupa untuk memancing tawa sehingga tak jarang tercipta nuansa komikal di setiap adegannya.

Act:
Peran utama layar lebar pertama bagi Candil yang didapuk sebagai Ipank, rocker pemarah yang suaranya sangat melengking.
Rapper yang tengah naik daun, Saykoji bermain sebagai Joy, keyboardist bertubuh tambun berkepala plontos yang hobi makan dan kentut.
Komedian Ramzi kebagian peran Ozi, drummer keturunan Arab yang seringkali terlambat.
Edric Tjandra sebagai Erick, pemain gitar yang mudah tersinggung.
Penampilan kocak Joe P-Project sebagai Munanada, penyanyi Melayu senior yang senang bertingkah.
Terakhir Sarah Jane sebagai Gaby, putri Munanada yang jatuh cinta pada Ipank.

Sutradara:
Terakhir bermain dalam komedi hitam Asmara Dua Diana, Awi Suryadi kini mencoba genre komedi musikal dengan memanfaatkan beberapa artis musik asli sebagai karakter utama di filmnya.

Comment:
Trailer film ini menyiratkan janji dan mungkin akan mengingatkan anda pada D'Bijis (2006). Tetapi setelah menontonnya, kualitas akhirnya tidak berbeda jauh dengan D'Bijis yang cukup mengecewakan itu, hanya mungkin sedikit lebih baik. Dari segi cast, kehadiran Candil dan Joe P-Project menjadi nilai jual yang baik karena keduanya menampilkan karakter yang kuat dan saling berseberangan, ditambah lagi oleh Ramzi yang semakin lugas melawak. Namun hal tersebut tidak terbantu oleh skenario yang ditulis oleh Benni Setiawan karena terkesan menggampangkan plot cerita. Awi selaku sang sutradara yang tiga karya awal layar lebarnya tergolong diterima masyarakat dengan baik kali ini malah semakin turun. Alhasil, Selendang Rocker hanya akan sekadar menghibur dengan standar komedi nasional tanpa ada kesan mendalam yang ditinggalkan.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 22 Oktober 2009

DISTRICT 13 ULTIMATUM : Duet Maut Polisi Hentikan Pengeboman Massal

Storyline:
Setelah menuntaskan misi melawan raja narkoba, Kapten Damien Tomaso kembali ke rumah dan menghabiskan waktu bersama istri tercinta. Ketenangan tiba-tiba terusik saat gerombolan polisi mendobrak masuk dan menemukan 3 kg heroin di dapur sehingga Damien ditangkap. Sementara itu sekelompok remaja yang dikepalai Roland membuat film mengenai agen-agen kotor dari agensi keaman yang mengeksekusi polisi di mobil mereka dan meninggalkan mobil dengan mayat tersebut di Distrik 13 untuk mengambinghitamkan dan memulai perang sipil. Di balik kejadian ini, kepala keamanan Walter Gassman menerima imbalan besar dari konstruktor Harriburton yang tertarik untuk mendirikan bangunan di wilayah miskin dan memaksa Presiden Perancis untuk membom atom lima menara di dalam distrik itu. Akankah Belle yang membantu pembebasan Damien dapat menggagalkan rencana busuk itu?

Nice-to-know:
Syutingnya berlangsung selama 14 minggu dan sempat terjadi kericuhan saat Luc Besson diboikot media Perancis.

Cast:
Pernah mendukung Taxi 2 (2000), Cyril Raffaelli bermain sebagai Kapten Damien Tomaso yang difitnah.
David Belle sebagai Leïto
Philippe Torreton sebagai Presiden
Daniel Duval sebagai Walter Gassman
Elodie Yung sebagai Tao

Director:
Sejauh ini merupakan film kelima Patrick Alessandrin setelah karya terakhirnya, Mean Spirit (2003).

Comment:
Prekuelnya District 13 (2004) nampaknya cukup bergaung di Eropa sana dan sayangnya tidak beredar di Indonesia sehingga saya tidak memiliki referensi apapun dalam menyaksikan film ini ataupun mengetahui apa yang terjadi sebelumnya. Namun tergambar dari opening film ini, plotnya bisa dikatakan sangat sederhana dan hanya mengandalkan sekuens action yang dominan sepanjang film. Adegan demi adegan bergulir cepat yang sebagian besar diambil dengan kamera tangan, tidak heran jika gambarnya kerap bergoyang-goyang mengikuti pergerakan karakter utama. Terkadang cukup mengganggu walau berdampak real di beberapa bagian terutama saat Belle meloncat dari satu gedung ke gedung yang lain.
Dari segi cast, dynamic duo Raffaelli dan Belle saling bekerjasama yang baik tetapi sayangnya tidak banyak sekuens yang memperlihatkan itu. Keragaman karakter terutama dari geng anak muda yang membantu di akhir sedikit out of nowhere karena jika tidak ada juga tidak akan dipermasalahkan sebetulnya.
District 13 : Ultimatum hanyalah satu dari sekian non-stop action movie keluaran Eropa dan Perancis secara spesifik. Entah mengapa saya tidak menyukai gagasan endingnya yang terkesan tidak serius dan sangat dipermudah. Namun demikian koreografi dan fighting scenenya cukup menjanjikan dan dijamin memuaskan anda yang menyukai genre ini.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$36,039 (USA) till end of March 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent