XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label joe p-project. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label joe p-project. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Oktober 2012

I LOVE YOU, MAS BRO : Drama Nanggung Komedi Garing


Quotes:
Alim: 
Sorry bro, gua gak punya bakat boring kayak loe.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Rapi Films ini screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 23 Oktober 2012 yang lalu.

Cast: 
Andhika Pratama sebagai Bagus
Ramon Y Tungka sebagai Alim
Cecep Reza sebagai Rizky
Tya Ariestya sebagai Alia
Tamara Tyasmara sebagai Max
Joe P-Project sebagai Boss Boss
Bobby Samuel sebagai Vina
Yurike Prastica sebagai Ibu Vivi
Alfie Alfandi sebagai Tanto
Mayang Naomi sebagai Meta
Epy Kusnandar sebagai Notaris

Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Raymond Handaya yang sebelumnya lebih banyak bertindak sebagai astrada dan asisten produser.

W For Words: 
Cassandra Massardi boleh dikategorikan sebagai penata skrip yang sukses mengingat sudah nyaris 20 film ditanganinya termasuk yang satu ini. Beragam topik yang saling berkolaborasi mulai dari cinta, keluarga, persahabatan kembali ditampilkan. Namun apakah cukup kreatif untuk setidaknya membuat penonton berpaling dan tertarik menyaksikan drama persembahan Rapi Films ini? Sutradara debutan pun ditunjuk untuk menangani dua aktor yang sudah malang melintang di jagat perfilman nasional selain sederetan aktor-aktris baru yang turut menyemarakkan suasana.

Empat saudara yang kesemuanya laki-laki yaitu Bagus yang juling kala menatap cewek, Alim yang rajin mendatangi masalah, Rizky yang otaknya kurang maksimal, Vina yang kecewek-cewekan hingga kerap berdandan tumbuh bersama sejak kecil. Alim yang lebih dekat dengan adik-adiknya tak jarang menimbulkan kecemburuan dalam diri Bagus. Saat kecelakaan mobil merenggut nyawa kedua orangtua mereka, Bagus dan Alim harus mencari cara masing-masing demi bertahan hidup apalagi seorang mafia misterius dan konco-konconya mulai datang menagih hutang lima ratus juta rupiah.

Satu hal yang paling fatal dalam film ini adalah sisi humor yang coba digali tapi berujung garing. Komedi situasi antar empat bersaudara sudah terlalu sering diperlihatkan sebelumnya dimana sejak awal Bagus, Alim, Rizky dan Vina sudah dikondisikan sesuai karakteristik tipikal masing-masing. Mungkin ini adalah penampilan terburuk Joe P-Project yang biasanya kocak dengan spontanitasnya. Bagaimana tidak, tokoh Bos yang dimainkannya sibuk memberi instruksi bodoh pada anak buahnya atau berbicara dengan burung nuri yang juga didubbing suaranya.

Unsur dramanya pun tidak kuat. Alasan mengedepankan sosok Alim di dalam keluarga tidak berjalan wajar. Ketegaran Bagus, Alim, Rizky dan Vina dalam menjalani hidup setelah kematian orangtuanya juga tidak terlihat bersungguh-sungguh.  Kehadiran Alia, Meta dan Max terkesan sebagai pengalih dari kejenuhan, padahal sosok keduanya sebagai love interest Alim, Bagus dan Vina sebenarnya mampu menghadirkan konflik serius tersendiri andai digali lebih dalam. Penyimpulan berbagai subplot yang berkembang di akhir cerita terbilang instan, lagi-lagi tanpa nyawa yang dibutuhkan.

Begitu banyaknya nama-nama berbakat yang mendukung tidak satupun memberikan kesan yang berarti. Sulit menyebutkan secara pasti salahnya dimana. Skrip? Sutradara? Atau ada faktor lain? Ramon yang umumnya mencuri perhatian, Andhika yang biasanya memiliki karisma tidak jua mampu keluar dari st
ereotype bad boy dan good boy yang melekat pada mereka. Apabila harus memilih, Tya dan Bobby setidaknya masih berakting lumayan dalam menyembunyikan perasaan mereka dalam-dalam sambil tetap berusaha memberikan sinyal kepada orang yang disukai. 

I Love You Mas Bro memang bukan drama komedi hancur lebur. Faktanya, ia masih ada dalam tahap tontonan standar. Lupakan elemen action basa-basi yang kontinuitasnya pantas dipertanyakan itu. Berbagai intrik dan twist yang tertata di sepanjang durasinya sudah bisa diduga dari awal. Itu sebabnya beberapa penonton memilih untuk meninggalkan gedung bioskop lebih dahulu sebelum film benar-benar berakhir. Sebagai ilustrasi, jika melihat dialog yang serba klise dan gagal total dalam bertutur, rasanya anda sudah bisa menerka kesalahan utama ada pada siapa. Sorry to say.. I cannot love you, mas bro!


Durasi: 
99 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 05 September 2012

RADIO GALAU FM : Galau Tak Kenal Jomblo Atau Berpasangan

Quotes:
Bara: Ujan di luar sih udah berhenti tapi ujan di hati gue masih deres

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Rapi Films ini screeningnya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 5 September 2012.

Cast:
Dimas Anggara sebagai Bara Mahesa
Natasha Rizki sebagai Velin Caliandra
Jordi Onsu sebagai Rio
Joe P Project sebagai Ayah Bara
Alisia Rininta sebagai Diandra Pramita
Indri Giana sebagai Tata
Ramon Y Tungka sebagai Edo

Director:
Merupakan film kesebelas bagi Iqbal Rais setelah The Tarix Jabrix (2011).

W For Words:
Sesungguhnya novel Radio Galau FM terdiri dari 12 chapter yang menceritakan petualangan cinta seorang remaja pria bernama Bernard Batubara dan 5 chapter tambahan kiriman followers @RadioGalauFM tentunya dengan satu tema: GALAU. Terbitan 2011 ini lantas menuai sukses karena dianggap dekat dengan kehidupan pribadi pembacanya. Akun Twitternya yang berhasil meraup lebih dari empat ratus ribu pengikut itu pun berhasil menciptakan eforia bagi galauers. Tak heran jika Rapi Films melihat peluang ini untuk melakukan adaptasi layar lebar dengan bintang-bintang anyar.

Aktif di mading sekolah, Bara Mahesa bermimpi menjadi penulis sukses meski impian terdekatnya belum tercapai yaitu punya pacar. Kesempatan itu datang saat adik kelasnya, Velin menunjukkan sinyal cinta yang kuat. Segera Bara membalasnya setelah berkonsultasi dengan ayah dan kakaknya Rara yang sama-sama gokil itu. Lambat laun, Velin berubah manja serta penuntut hingga Bara meminta break dan memilih untuk mendekati kakak kelasnya, Diandra. Benarkah keputusan Bara tersebut menghalau kegalauan dari hidupnya?

Istimewanya, sudut pandang dari novel dan film ini adalah remaja laki-laki bernama Bara Mahesa. Untuk itu penonton pria bisa jadi merasa amat dekat dengan karakter utamanya. *switch sudut pandang pria* Fase galau karena jomblo atau pacaran mulai dari pencarian hingga penemuan kekasih hati dijelaskan secara gamblang. Proses pendekatan yang berujung 'penembakan' akan membuat anda tertawa mengenang pengalaman pribadi, dag-dig-dug sekaligus harap-harap cemas menanti jawaban gadis pujaan. Proses pacaran yang kerap membuat cowo sulit mengerti isi hati cewe pun dijabarkan disini, tak ayal anda akan berujar: "Ah itu gue banget."

Namun bukan berarti penonton wanita dikesampingkan begitu saja. *switch sudut pandang wanita* Penulis skrip Haqi Achmad punya cara khusus bagi anda untuk memasuki pikiran karakter Velin atau Diandra yang sebenarnya hanya ingin perhatian dalam skala besar atau kecil. Semuanya dilakukan pada timing tepat sehingga konsep the battle of sexes dapat diselesaikan secara seimbang walaupun keduanya memiliki dunia masing-masing yang samasekali berbeda. Natasha Rizki mampu menerjemahkan emosi Velin lewat tangisan berurai air mata, menegaskan dirinya sebagai gadis rapuh nan posesif. Kebalikannya Alisia Rininta adalah gadis high class Diandra yang punya segudang tingkah menyebalkan karena merasa memiliki kelebihan fisik.

Dimas Anggara akhirnya mendapat kesempatan emas untuk berkibar sebagai aktor setelah lakonnya dalam Kembang Perawan (2009). Keragaman ekspresi yang luwes turut mengiringi karakter Bara yang masih mencari jati diri dan tambatan hati. Tiga chemistry inti dengan orang-orang terdekatnya berhasil dibawakan secara pas. Apresiasi khusus ditujukan bagi Joe P'Project sebagai ayah nyablak gaul, Jordi Onsu sebagai sohib kepo cerewet dan Tiara Sumiarto sebagai kak Rara yang gokil nyentrik. Yang terakhir ini seringkali kemunculannya tak sedap dipandang mata.

Kembalinya Iqbal Rais ke bangku sutradara setelah sempat berjuang melawan leukimia memang pantas diacungi jempol. Kapabilitasnya menggarap drama roman terbukti masih terjaga terlepas dari segmentasi film yang jauh lebih muda dari karya-karya sebelumnya. Frame demi frame tertata rapi untuk menghadirkan konteks emosi yang dibutuhkan sehingga storytellingnya mengalir lancar dan tidak melebar kesana-sini. Sumbangan musik dari Andhika Triyadi juga mampu menghidupkan suasana di samping kreatifitas Khikmawan Santosa yang lagi-lagi menata suara dengan begitu asyik, sound effect denyut jantung akan membuat anda terpingkal-pingkal.

Untungnya Radio Galau FM tidak berusaha menjadi istimewa. Pengerucutan belasan karakter yang semula ada di novelnya membuat konflik cinta remaja ini semakin fokus. Kesahajaannya meramu formula biasa menjadi baru lewat sentuhan personal yang sudah disesuaikan dengan perkembangan jaman jelas menjadi nilai tambah tersendiri. Fenomena sosial media dan ponsel komunikatif masa kini turut menjadi sarana percakapan yang umum disamping realita dialog dan spontanitas humor yang berkali-kali mengundang tawa. Galau is word of the year and get ready to experience it in the movie.Beware, reflection might come along afterwards!

Durasi:
94 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 23 Oktober 2009

SELENDANG ROCKER : Perseteruan Kocak Artis Melayu dan Rocker

Cerita:
Grup rock yang mulai turun pamor, The Pangky's didapuk produser untuk mengubah haluan menjadi grup beraliran Melayu dengan berkolaborasi dengan Munanada, grup Melayu yang telah terbukti kesuksesannya. Hal tersebut tidaklah begitu saja diterima para anggota The Pangky yaitu Ipank pada vokal, Ozi pada drum, Erick pada gitar dan Joy pada keyboard karena masing-masing mereka dituntut untuk menyesuaikan diri dengan peraturan baru termasuk mencopot segala atribut penampilannya. Munanada sendiripun bukan orang yang mudah bekerjasama dan sangat agamais sampai akhirnya ia terlibat perang dingin dengan Ipank. Malang bagi Ipank karena kemudian ia jatuh cinta dengan Gaby yang ternyata putri Munanada dari istri ketiganya! Akankah pada akhirnya The Pangky's bisa berdiri lagi?

Gambar:
Penampilan panggung The Pangky's dan Munanada ditampilkan sedemikian rupa untuk memancing tawa sehingga tak jarang tercipta nuansa komikal di setiap adegannya.

Act:
Peran utama layar lebar pertama bagi Candil yang didapuk sebagai Ipank, rocker pemarah yang suaranya sangat melengking.
Rapper yang tengah naik daun, Saykoji bermain sebagai Joy, keyboardist bertubuh tambun berkepala plontos yang hobi makan dan kentut.
Komedian Ramzi kebagian peran Ozi, drummer keturunan Arab yang seringkali terlambat.
Edric Tjandra sebagai Erick, pemain gitar yang mudah tersinggung.
Penampilan kocak Joe P-Project sebagai Munanada, penyanyi Melayu senior yang senang bertingkah.
Terakhir Sarah Jane sebagai Gaby, putri Munanada yang jatuh cinta pada Ipank.

Sutradara:
Terakhir bermain dalam komedi hitam Asmara Dua Diana, Awi Suryadi kini mencoba genre komedi musikal dengan memanfaatkan beberapa artis musik asli sebagai karakter utama di filmnya.

Comment:
Trailer film ini menyiratkan janji dan mungkin akan mengingatkan anda pada D'Bijis (2006). Tetapi setelah menontonnya, kualitas akhirnya tidak berbeda jauh dengan D'Bijis yang cukup mengecewakan itu, hanya mungkin sedikit lebih baik. Dari segi cast, kehadiran Candil dan Joe P-Project menjadi nilai jual yang baik karena keduanya menampilkan karakter yang kuat dan saling berseberangan, ditambah lagi oleh Ramzi yang semakin lugas melawak. Namun hal tersebut tidak terbantu oleh skenario yang ditulis oleh Benni Setiawan karena terkesan menggampangkan plot cerita. Awi selaku sang sutradara yang tiga karya awal layar lebarnya tergolong diterima masyarakat dengan baik kali ini malah semakin turun. Alhasil, Selendang Rocker hanya akan sekadar menghibur dengan standar komedi nasional tanpa ada kesan mendalam yang ditinggalkan.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!