XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label zidni adam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zidni adam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 November 2012

HANTU BUDEG : Komedi Horor Dendam Penunggu Hotel


Tagline:
Ditulikan oleh dendam, dibunuh oleh nafsu..

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Sentra Films ini mengadakan pemutaran perdananya di Hollywood XXI pada tanggal 14 November 2012 yang lalu.

Cast: 
Tyas Mirasih sebagai Magda
Keith Foo sebagai Bram
Amel Alvie sebagai Ira
Awang Sogi sebagai Royce
Febriyanie sebagai Inge
Zidni Adam sebagai Kojek
Anie Klaus sebagai Ayu

Director: 
Merupakan film kedua bagi Findo Purwono Hw di tahun 2012 setelah Fallin’ In Love.

W For Words: 
Formula horor Indonesia saat ini memang sudah bergeser ke komedi seks. Bukan hanya aktris seksi berbikini tetapi juga aktor topless yang biasanya diakhiri dengan adegan berhubungan intim. Momok horor yang muncul biasanya berupa pocong dan/atau kuntilanak yang sedianya hanya jadi pelengkap. Tidak masalah jika skripnya digarap dengan rapi layaknya beberapa produksi Korea atau Thailand sehingga kualitasnya dapat dipertanggungjawabkan. Karya terbaru Findo dari Sentra Films ini tak jauh berbeda dari yang sudah-sudah termasuk film terdahulunya Setan Budeg (2009) dari Maxima Pictures.

Kojek baru saja diputus pacarnya Ira karena terlalu pelit. Ia lantas diyakinkan kawan-kawannya Magda, Inge, Royce dan Bram untuk membiayai rekreasi demi memulihkan sakit hati. Mobil butut dan penginapan murah bernama hotel Cempaka pun disewanya sehingga memancing protes. Mereka berlima akhirnya sepakat pindah ke hotel yang lebih bagus sebelum diganggu oleh pocong dan kuntilanak. Mau tak mau Kojek, Bram, Royce, Inge dan Magda kembali ke hotel Cempaka untuk mencari ketenangan dimana teror hantu budeg dengan tusuk konde telah menanti.

Skrip yang ditulis oleh Midhu Laksana ini berisikan setiap elemen klise yang ada di sebuah film horor sebut saja foto berpenampakan, penginapan berhantu lengkap dengan kuntilanak bermuka pucat dan pocong berwajah bubur. Namun tidak adanya logika memadai yang melatarbelakangi membuat semuanya berantakan seperti motif perjalanan yang mengada-ada, reaksi atas kejadian yang tidak relevan dsb. Kesemua itu membuat kepedulian anda terhadap karakter-karakternya menjadi nol, tidak akan melihat lagi betapa menariknya penampilan fisik mereka di layar lebar.

Sutradara Findo tak berupaya menjadikannya lebih watchable lagi. Pengulangan formula dari judul-judul yang ditanganinya kembali dimasukkan. Momok hantu budeg itu sendiri yang seharusnya kuat tak lagi istimewa. Permainan kamera shaky untuk menegaskan teror suara yang membuat seseorang budeg samasekali tidak inspiratif kalau tidak mau dibilang konyol. Ya ya ya, saya tahu kalau hantu yang membunuh manusia dengan cara menusuk telinganya itu memang inovatif tapi belum cukup untuk menghadirkan unsur kengerian yang diharapkan.

Saya katakan Hantu Budeg adalah repetisi formula Setan Budeg dalam bentuk lain tapi tidak ditunjang oleh kualitas yang lebih baik. Akting predictable dari Tyas dan Keith tak mampu ditutupi terlepas dari sensualnya adegan intim yang mereka lakukan. Lagi-lagi sebuah horor komedi yang akan segera anda lupakan dalam hitungan detik begitu meninggalkan gedung bioskop. Kualitas skrip yang memadai tampaknya masih menjadi masalah utama yang dihadapi industri perfilman Indonesia layaknya sebuah masakan yang tidak akan enak rasanya jika tak ditunjang oleh bahan dan bumbu yang tepat. Sampai kapan mereka (atau kita) akan pura-pura “tuli” mendengar kritik serupa?

Durasi: 
88 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 24 Mei 2012

KAKEK CANGKUL : Menggali Kreatifitas Tak Bertuan



Quotes:
Duta: Ya jelas beda lah. Kalo dia lecek dari atas sampe bawah..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh D’Color Films ini screeningnya dilangsungkan di  Hollywood XXI pada tanggal 1 Mei 2012.

Cast:
Herfiza Novianti sebagai Thalia
Rizky Mocil sebagai Coki
Zidni Adam sebagai Danu
Febriyanie Ferdzilla sebagai Miki
Zaky Zimah sebagai Duta
Yurike Prastica sebagai Mama Lela
Derry Drajat sebagai Pak Lurah
Posman Tobing

Director:
Merupakan film kedua bagi Nuri Dahlia.

W For Words:
Nenek Gayung yang mengangkat fenomena arwah penasaran yang beredar di masyarakat di luar dugaan mencatat sukses dengan perolehan lebih dari empat ratus ribu penonton hingga saat ini sejak rilisnya tepat sebulan lalu. Salah jika anda berpikir hal tersebut memicu kemunculan sekuelnya karena sejak awal Movie Eight dan Unlimited Production memang sudah merencanakan trilogi komedi horor yang akan ditutup oleh Nenek Pispot nanti. Epik bukan? Apalagi semua itu hanya membutuhkan biaya produksi yang tidak terlalu besar dengan keuntungan yang (diharapkan) berlipat-lipat. 
Duta yang tengah berjalan pulang ke kampung bersama ibunya bertemu empat sahabat Coki, Danu, Thalia dan Miki yang tengah menuju wisata arung jeram. Kelimanya bergabung dengan pemuda petualang bernama Jantan mengarungi arus liar yang tidak butuh lama membalikkan perahu. Jantan yang diyakini tidak selamat justru kembali, bersamaan dengan hantu kakek cangkul yang menuntut kuburannya sendiri. Bagaimana mereka berlima dapat mengatasi gangguan supernatural tersebut?

Adegan arung jeram dan camping di pembuka langsung mengingatkan saya pada sebuah segmen In The Middle milik Banjong Pisanthanakun dalam omnibus horor favorit sepanjang masa, 4BIA (2008). Demi apa Bono Sutisno (tak perlu saya sebutkan nama aslinya) memotong ide tersebut dan merekatkannya ke dalam benang merah sekuel trilogy horor komedi “inovatif” lokal ini? Penampilan Jantan bahkan dibuat sama persis dengan kaos merah dan make-up pucat. Interaksi konyol Duta, Danu, Coki, Thalia dan Miki yang pontang-panting berlarian di hutan dan masuk ke dalam tenda juga serupa. Gotcha!
Penampakan kakek cangkul itu sendiri tidaklah seefektif nenek gayung dalam menebar ketakutan dengan repetisi yang lebih minor. Beruntung suasana hutan sunyi berkabut di malam hari mampu menciptakan atmosfir menyeramkan sehingga tidak terlalu sulit bagi Nuri Dahlia membangun setting. Konsentrasinya tinggal bagaimana menciptakan chemistry di antara Zaky, Zidni, Rizky, Herfiza dan Febriyanie yang dominan menyita layar dengan lelucon-lelucon basi yang sebagian di antaranya masih cukup efektif. Penampilan Bolot, Yurike dan Derry yang komikal turut memberikan warna tersendiri.

Sebagai bagian dari “franchise”, Kakek Cangkul memang bukan film berkualitas buruk walaupun logikanya patut dipertanyakan. Bagian penutup yang mengingatkan anda pada film-film Nayato juga terkesan antiklimaks tanpa motif penyelesaian yang cukup jelas. Namun lagi-lagi saya ingin memperingatkan sineas tanah air siapapun itu, mohon tempatkan kreatifitas dan originalitas karya-karya anda di atas dasar apapun juga karena aspek itulah yang membuat anda dihargai. Next pispot, please..

Durasi:
76 menit
Overall:
6.5 out of 10
Movie-meter:

Kamis, 21 April 2011

SUSTER KERAMAS 2 : Terjebak Di Rumah Sakit Penuh Misteri

Quotes:
(Menyelimuti mayat) Gak usah rapi-rapi amat lah.. Gak dinilai ini..

Storyline:
Tiga sohib masing-masing Jack, Tando dan Shelly memiliki hobi yang sama yaitu balap motor di jalan raya. Hingga pada suatu malam, Shelly mengalami kecelakaan yang cukup fatal. Jack dan Tando pun membawanya ke rumah sakit terdekat. Di lain kesempatan, Cakil yang mengantar seorang gadis Jepang mengalami cedera parah karena jari-jarinya terjepit pintu mobil. Kedua grup tersebut bertemu di rumah sakit saat menunggu dokter bertugas. Sayangnya tidak lama kemudian, berbagai kejadian supernatural menghantui mereka yang berujung pada satu konklusi yang tidak pernah terduga sebelumnya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dan screening terbatas diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 19 April 2011.

Cast:
Ricky Harun sebagai Jack
Zidni Adam sebagai Tando
Marcell Darwin sebagai Cakil
Violenzia Jeanette sebagai Shelly
Sola Aoi
Eva Asmarani
Tasya Djerly Emor

Director:
Film pertama Findo Purwono HW di tahun 2011 ini setelah sebelumnya Love In Perth di penghujung 2010 lalu.

Comment:
Saat pertama menyaksikan trailernya, saya sungguh merasa miris dengan konten seperti apa yang kira-kira akan disajikan. Sebab aksi semua jenis hantu dan musik hingar-bingar mengisi preview selama kurang lebih satu menit tersebut, samasekali tidak ada kesan menyembunyikan daya tarik yang sesungguhnya. Untuk hal ini jelas memang urusan produser apapun alasannya.
Pertama saya ingatkan bahwa sekuel ini tidak ada hubungannya dengan Suster Keramas (2009) meskipun masih digawangi penulis yang sama yakni Abbe Ac. Plot ceritanya benar-benar baru dan entah disengaja atau tidak, justru terdapat beberapa kemiripan dengan film-film Thai/Hongkong seperti Phobia 2 ataupun The Eye. Tidak perlu saya sebutkan bagian mana karena anda mungkin bisa menebaknya sendiri jika rajin mengamati.
Comebacknya Marcell Darwin ternyata belum memberikan perubahan yang signifikan, bisa jadi karena ia harus “berbagi” Sola Aoi dengan Ricky Harun. Keduanya silih berganti berakting pintar-pintar bodoh termasuk berkali-kali mengarahkan mata ke belahan dada. Tidak heran karena setiap pria pasti akan melakukan hal serupa! Zidni Adam yang satu-satunya pernah mendukung prekuelnya justru kebagian bermain dengan suster-suster dan penjaga kamar mayat. Dan ia tampak cukup “menghayati” terlebih saat berpura-pura sebagai orang buta.
Saya cukup mengagumi keberanian aktris-aktris yang terlibat disini mempertontonkan tubuh mereka masing-masing. Rasanya di rumah sakit manapun tidak ada suster-suster yang demikian seronok dan nekad mencopot seragam mereka di WC kamar mandi. Imajinasi tersebut hanya terdapat disini. Di sisi lain, Sola Aoi tidaklah selugas Maria Ozawa dalam berekspresi lugu dan berdialog spontan. Saya heran adegan topless yang hanya ditutupi rambut panjangnya bisa lolos gunting sensor begitu saja. Hmm..
Usaha Abbe Ac untuk menyajikan sebuah twist ending “kreatif” itu patut diapresiasi. Namun memasuki pertengahan seharusnya tidak terlalu sulit diduga terlebih karena terdapat banyak kelemahan yang tidak dapat ditutupi. Sutradara Findo juga kurang mampu mengeksplorasi suasana rumah sakit yang sunyi dari unsur psikologisnya. Ia malah lebih percaya pada trik-trik lama yang sudah basi dan tidak inovatif.
Suster Keramas 2 merupakan panggung pertemuan manusia dengan segala jenis hantu dalam nuansa komedi dan horor sekaligus. Sebagian berhasil membuat ngeri/tertawa tapi justru lebih banyak gagalnya. Repetisi selama kurang lebih 80 menit yang melelahkan akhirnya ditutup dengan theme song yang menyayat perasaan dengan lirik dan musiknya. Semoga tidak ada episode ketiganya!!!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 04 Maret 2010

BELUM CUKUP UMUR : Problematika Kehamilan Dini Remaja Belia

Storyline:
Persahabatan Aya dan Brenda yang sama-sama berusia 16 tahun sedikit terusik saat Aya mengaku positif hamil akibat perbuatan pacarnya, Ares yang dua tahun lebih tua. Brenda yang marah meminta pertanggungjawaban Ares. Namun karena masih sama-sama muda, mereka tidak bernyali untuk itu. Solusi terbaik diyakini menggugurkan kandungan yang masih berusia tiga bulan ke bawah tersebut. Dimulailah petualangan mencari dokter kandungan yang mau mengerjakan hal tersebut terhadap anak di bawah umur. Di saat itulah persahabatan dan kasih sayang mereka bertiga diuji oleh hambatan-hambatan yang mereka temui sepanjang perjalanan.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Handmade Films dan diproduseri oleh Albert Pondaga.

Cast:
Cukup kompak sebagai trio sahabat remaja
Joanna Alexandra sebagai Aya
Zidni Adam Jawas sebagai Ares
Mentari sebagai Brenda

Director:
Baru saja minggu lalu menggarap Kain Kafan Perawan, Nayato rupanya kembali kejar setoran dengan film ini ironisnya dengan bintang-bintang yang sudah pernah bekerjasama dengannya sebelum ini. Kontrak multi film kah?

Comment:
Sebagai sebuah drama, film ini mengajarkan arti cinta, kesetiakawanan, seks pra nikah bagi kalangan remaja kota besar yang rasanya sudah tidak umum lagi. Semua dikemas Nayato dengan style yang colorful memanjakan mata dan ilustrasi musik yang sesuai. Untungnya kali ini eksplorasi yang dilakukannya tidak berlebihan sehingga nilainya tidak jatuh lagi seperti biasanya. Dari segi casting, Joanna dan Mentari tampil cukup apik sebagai remaja belasan tahun, begitu pula dengan Zidni yang terlihat nerd dan lugu. Belum Cukup Umur sepintas terlihat mengadopsi drama remaja sukses Hollywood, Juno (2008) di awal cerita dan mungkin juga mengingatkan sebagian penonton lokal pada Married By Accident (2008) tetapi seiring bergulirnya cerita, tema tersendiri yang diusung rupanya berbeda dan sedikit menawarkan twist di ending yang cukup mengejutkan sekaligus menyebalkan?! Durasi 70 menit rasanya terlalu panjang untuk sebuah pesan moral singkat tapi terlalu pendek juga untuk "keharusan" mengeksplorasinya secara lebih detail lagi.

Durasi:
70 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!