XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label takashi shimizu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label takashi shimizu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 November 2010

THE SHOCK LABYRINTH : Terkurung Menyelesaikan Masa Lalu Terpendam

Storyline:
Hujan di tengah malam, Yuki yang sudah menghilang selama 10 tahun tiba-tiba kembali. Ketiga sahabatnya masing-masing Ken, Hajime, Rin dan juga adik kandungnya, Miyu terheran-heran tetapi tetap menerima kepulangan Yuki. Beberapa saat kemudian, Yuki yang terlihat lemah jatuh dari tangga dan segera dibawa ke rumah sakit. Namun rumah sakit yang mereka tuju ternyata bernuansa mistis seperti labirin. Lambat laun mereka menyadari bahwa ini adalah labirin yang sama dengan apa yang pernah dialami di masa kecil mereka. Apa yang sesungguhnya terjadi di masa lampau?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Asmik Ace Entertainment dan Ogura Jimusyo Co.

Cast:
Yûya Yagira
Ai Maeda
Suzuki Matsuo
Shôichirô Masumoto
Ryo Katsuji
Misako Renbutsu
Erina Mizuno

Director:
Takashi Shimizu angkat nama lewat Ju-On (2002) yang diremake Hollywood menjadi The Grudge (2004) yang juga ditanganinya.

Comment:
Ide cerita ini bisa dikatakan orisinil dan menarik karena diangkat dari arena bermain the Labyrinth of Horrors yang berlokasi di taman hiburan Fuji-Q High Land dimana anda bisa memandang Pegunungan Fuji dari sana. Sedikit fakta menarik, wahana ini tercatat dalam rekor Guinness sebagai rumah hantu terluas di dunia.
Itulah sebabnya Shimizu melakukan syuting langsung di lokasi pada saat jam-jam tutup taman hiburan tersebut untuk membangun nuansa horor yang mencekam. Bukan hanya itu, ia juga bermain dengan efek 3D, sebuah terobosan baru dimana film ini tercatat sebagai film horor Asia pertama yang melakukannya. Mungkin suatu saat bisa diharapkan Thailand mengadopsi teknik serupa, atau Indonesia barangkali. Jangan bermimpi di siang bolong karena menghasilkan horor yang berkualitas saja susah!
Okay kita kembali lagi pada film ini. Sayangnya Blitzmegaplex tidak memutarnya dalam format 3D sehingga sulit merasakan pengalaman baru tersebut. Namun saya bisa meraba apa yang coba dihadirkan disini. Mulai dari tetesan air yang mengambang, boneka kelinci berwarna putih yang melayang-layang hingga “obyek-obyek” menyeramkan yang seakan-akan menghantam langsung ke arah anda. Menarik bukan? Itulah satu-satunya nilai jual yang patut dibanggakan disini.
Mengapa saya katakana satu-satunya? Sebab sisanya berantakan! Semua elemen horor yang berusaha diciptakan sejak menit awal itu terasa mubazir. Terkadang memang ada beberapa scene yang cukup menyeramkan tetapi tidak akan sampai menghantui anda dengan mimpi buruk setelah menontonnya. Alur cerita yang lambat memang membosankan, ditambah lagi penyingkapan misteri cerita yang berlarut-larut hingga sejam durasinya.
Didukung dengan musik latar yang cukup berpengaruh buruk bagi telinga anda, The Shock Labyrinth mungkin seharusnya lebih setia dengan formula horor baku yang sudah-sudah daripada bermain dengan transisi bolak-balik masa lalu-masa depan yang dikombinasikan dengan imajinasi. Shimizu tampaknya berusaha terlalu pintar menghadirkan horor fresh tetapi tidak cukup efektif dalam misi utamanya menakut-nakuti penonton. Sayang memang!

Durasi:
85 menit

Asian Box Office:
$805,638 in Japan till September 2010

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 19 Desember 2009

JU-ON 4 : Kepingan-Kepingan Horor Yang Saling Terkait

Cerita:
Pada suatu rumah, seorang remaja putra secara sadis membantai lima anggota keluarganya setelah gagal dalam ujian. Ia kemudian menggantung dirinya sendiri di sebuah pohon, meninggalkan rekaman suaranya sendiri di sebuah tape recorder yang berbunyi, “Go… Go now.” diikuti dengan suara perempuan yang aneh. Suara tersebut ternyata milik seorang gadis yang pada masa kecilnya berteman akrab dengan Akane. Saat keduanya duduk di bangku sekolah dasar, mereka seringkali merasakan pengalaman supernatural yang kuat yang ternyata memiliki motif sendiri.

Gambar:
Dengan pencahayaan minimalis dan scene close-up, film yang berjudul internasional White Ghost ini masih menyajikan gambar-gambar menyeramkan.


Act:

Hiroki Suzuki

Ichirôta Miyakawa
Natsuki Kasa

Akina Minami

Chinami Iwamoto
Shûsei Uto

Sutradara:

Mengawali karir penyutradaraan serial televisi yang diangkat ke layar lebar Tales Of Terror (2004), Ryuta Miyake kembali dalam film keduanya yang merupakan episode lanjutan franchise Ju-On atau The Grudge yang terkenal itu dengan skenario yang ditulis bersama Takashi Shimizu.


Comment:
Tiga cerita pertama membuka film berjudul Jepang Shiroi Rojo ini dengan cukup menegangkan. Penampakan tiba-tiba dengan sound memekakkan telinga disertai pencahayaan yang lembut bisa jadi membuat anda memekik ketakutan. Membuat saya dan penonton lain bertanya-tanya, apa yang selanjutnya disuguhkan? Tetapi jawabannya sangatlah tidak memuaskan. Kepingan demi kepingan yang lebih mengarah ke sadisme berdarah-darah dibandingkan horor ditampilkan satu persatu dengan subjudul nama-nama tokoh yang saling terkait satu sama lain. What the heck? Tentunya membingungkan bagi sebagian besar penonton karena dipaksa menerima adegan demi adegan begitu saja tanpa rangkaian penjelasan yang masuk akal sampai akhirnya tidak peduli lagi pada bangunan cerita. Di Indonesia, film yang beredar di jaringan Blitz Megaplex ini diberi titel Ju-On 4 walaupun sesungguhnya tidak terhubung dengan tiga prekuelnya. Mana Takeo? Kayako? Atau Toshio yang cuma tampil beberapa detik? Sosok hantu cilik dan gadis dewasa serta seorang nenek memegang bola basket malah berulang kali ditampilkan. Mengecewakan fans Ju-On tentunya dan rasanya tidak terlalu penting untuk berusaha meneruskan satu dari beberapa franchise horor ternama jepang.

Durasi:
115 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!