XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label shiloh fernandez. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label shiloh fernandez. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Mei 2013

EVIL DEAD : You’re All Going To Scream Together


Quote:
Mia: You're all going to die tonight!

Nice-to-know:
Inisial nama lima karakter utama jika dieja akan membentuk kata
D.E.M.O.N.  

Cast:
Jane Levy sebagai Mia
Shiloh Fernandez sebagai David
Lou Taylor Pucci sebagai Eric
Jessica Lucas sebagai Olivia
Elizabeth Blackmore sebagai Natalie
Jim McLarty sebagai Harold
 


Director:
Merupakan feature film pertama bagi Fede Alvarez setelah empat film pendek sebelumnya
.

W For Words:
Hollywood tampaknya kian telaten mendaur ulang horor lawas setelah terakhir Don't Be Afraid of the Dark (2011) dan segera menyusul Carrie (2013). Tak terkecuali produksi terbaru FilmDistrict, Ghost House Pictures dan TriStar Pictures ini. Mudah-mudahan alasannya bukan karena kehabisan ide, melainkan "pelestarian" sebuah karya besar (dikenang sebagai salah satu yang terbaik di genrenya sepanjang masa) demi menjangkau audiens yang lebih luas lagi. Itu harapan saya. Pada akhirnya memang harus siap diperbandingkan satu sama lain, mana yang lebih baik. Bukan begitu?
 
Mia yang kecanduan narkoba terpaksa diisolir di pondok terpencil tengah hutan. Kakaknya David datang menjenguk bersama kekasihnya Natalie dan teman-teman mereka guru Fisika, Eric dan mahasiswi perawat, Olivia. Ketika menemukan buku misterius di lantai bawah, Eric tanpa sengaja merapal mantera pembangkit iblis yang segera merasuki Mia. Satu persatu dari mereka mulai bertingkah aneh dan saling membunuh. David harus mencari cara untuk menghentikan semua itu sebelum hujan darah turun dan iblis mampu berkuasa kembali di bumi. 

Sam Raimi merupakan otak dari Evil Dead yang ditulis dan disutradarainya dalam dua versi resmi yaitu The Evil Dead (1981) dan Evil Dead II (1987) dengan tokoh utama Ashley ‘Ash’ J. Williams. Namun pujian kali ini pantas dialamatkan pada Fede Alvarez dan Rodo Sayagues yang tampak tidak mau terjebak stereotype dengan menggabungkan berbagai plot dari dua pendahulunya dengan penyesuaian yang lebih logis dan modern tentunya. Lihat bagaimana kakak beradik David dan Mia memiliki hubungan sebab akibat yang menjelaskan situasi nyata yang dialami keduanya saat ini.

Alvarez sebagai filmmaker juga menunjukkan taringnya. Sinematografi yang kelam, blocking yang dinamis sampai pengaturan sekuens yang runut menjadikan tontonan satu ini begitu menyenangkan. Memang masih terasa pengaruh gaya Raimi terlebih menyangkut penggunaan efek tradisional untuk membangun horornya. Pengemasan kejutan dari satu adegan sadis dengan yang lainnya juga sukses menciptakan sensasi miris sekaligus magis membius. Tensinya pun terjaga secara maksimal selama kurang dari sembilan puluh satu menit, terima kasih pada lembaga sensor film kita.

Aktor-aktris belia yang belum terlalu dikenal tersebut mampu melebur dalam peran masing-masing. Levy berhasil menghidupkan sosok iblis yang kotor dan menjijikkan di samping Mia yang terlihat liar dan rapuh. Fernandez tak kalah dramatisnya menghadapi pergulatan batin dalam diri David yang merupakan karakter sentral. Pucci kali ini bertugas menonjolkan sisi komedinya sebagai Eric yang konyol dan eksentrik, tokoh yang mungkin akan membuat anda geregetan sejak menit pertama. Sedangkan Blackmore dan Lucas justru menampilkan pesonanya tatkala menjadi  Natalie dan Olivia yang ‘berbeda’.

Evil Dead tampaknya akan tercatat sebagai satu dari sedikit remake tersukses sepanjang sejarah, bahkan lebih daripada inisiatornya yang dikenal sebagai film kelas B. Begitu banyak sick moment dan changeover twist yang digulirkan membuat anda sulit menerka tokoh mana yang bertahan paling akhir. Itupun jika sempat berpikir mengingat begitu intensnya teror berpacu dengan waktu. Penonton lama dan baru dijamin terpuaskan dengan tertawa, menjerit dan meringis bersama di dalam bioskop. Definitely best rare cinematic experiences for truly horror fans who might prefer late night show.

Durasi:
91
menit

U.S. Box Office:
$53.200.013 till May 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 27 Agustus 2011

RED RIDING HOOD : Ancaman Siluman Serigala Penduduk Desa

Quotes:
Valerie: I'll do anything to be with you.
Peter: I thought you'd say that.


Storyline:
Valerie terjebak di antara dua pilihan yaitu Peter yang mencintainya sejak kecil atau Henry yang dijodohkan oleh orangtuanya. Valerie tampaknya lebih memilih Peter dan merencanakan pelarian bersama keluar dari desa Daggerhorn yang tengah dilanda badai salju. Tak dinyana, kakak Valerie terbunuh oleh serigala untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Pengorbanan hewan yang dilakukan warga desa rupanya sia-sia karena sang monster tersebut lebih mengincar nyawa manusia. Father Solomon pun dipanggil untuk menangkap serigala itu tetapi selama bulan purnama korban masih akan berjatuhan lagi.

Nice-to-know:
Pengecualian bagi Valerie (Amanda Seyfried), semua karakter dari Daggerhorn dimainkan oleh aktor-aktris dengan mata coklat atau setidaknya menggunakan kontak lens warna coklat. Pada akhirnya Julie Christie yang terkenal dengan mata birunya tetap kebagian peran Nenek Valerie.

Cast:
Sebelum ini bermain mengesankan dalam Letters To Juliet (2010), Amanda Seyfried bermain sebagai Valerie
Terakhir muncul dalam The Book Of Eli (2010), Gary Oldman berperan sebagai Solomon
Billy Burke sebagai Cesaire
Shiloh Fernandez sebagai Peter
Max Irons sebagai Henry
Virginia Madsen sebagai Suzette

Director:
Merupakan film kelima Catherine Hardwicke setelah karya terakhirnya Twilight (2008) itu menjadi salah satu film legendaris di kalangan remaja.

Comment:
Siapa yang tidak mengenal legenda si kerudung merah dan sang serigala? Saya yakin sejak kecil anda sudah mengetahuinya dari berbagai versi mulai dari komik, buku, animasi sampai live action movie. Kini penulis skrip David Johnson mengembangkan plot serupa mengenai penduduk desa kecil bernama Daggerhorn selama musim dingin dimana sosok Valerie harus menempatkan diri di tengah cinta, sahabat dan keluarganya sendiri.
Sosok serigala yang ternyata manusia ini menjadi teka-teki yang harus anda jawab di penghujung cerita. Sejak awal anda boleh menerka-nerka siapa kira-kira orangnya setelah mengaitkan dengan motif yang mungkin melatarbelakanginya. Twist inilah yang diyakini filmmaker mampu menjaga penonton untuk tetap pada tempat duduknya masing-masing hingga detik terakhir selain efek CGI yang membuat sang monster terlihat meyakinkan tentunya.

Seyfried menghidupkan karakter Valerie dengan baik dimana sisi emosionalnya dalam memperjuangkan cinta sekaligus integritas dirinya sendiri terpampang jelas. Oldman seperti biasa memperlihatkan kelas yang berbeda walaupun dialog-dialog yang tercipta Solomon disini masih klise adanya. Saya tidak habis pikir mengapa Fernandez berakting dengan kemarahan nyaris di sepanjang film sebagai Peter, dimaksudkan untuk mengelabui penonton barangkali?
Sutradara Hardwicke meneruskan apa yang dilakukannya dalam Twilight (2008) yaitu sinematografi pucat musim dingin yang menekankan rasa sepi. Layaknya palet berwarna-warni yang memanjakan mata. Sayangnya kesan dongeng masih cukup kuat lewat berbagai pengadeganannya sehingga apa yang seharusnya terlihat sadis menjadi diperhalus, sama halnya dengan romantisme yang agak didramatisir dalam tempo yang lambat.

Red Riding Hood mungkin mengingatkan anda pada The Village (2004) milik M. Night Shyamalan dengan tata kostum dan setting yang serupa. Usaha produser Leonardo DiCaprio dkk memang cukup keras untuk menghidupkan dongeng klasik abadi segala usia ke dalam drama thriller masa kini yang lebih gelap dan dewasa. Sayangnya hasil akhirnya masih cenderung gagal karena mencoba terlalu kompleks untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda di setiap elemennya.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$37,652,565 till May 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent