XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label shanty. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label shanty. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 September 2010

LASKAR PEMIMPI : Komedi Musikal Berlatar Agresi Militer 2

Quotes:
Kopral Jono: Bebek-bebek kami masih lebih pintar daripada bebek-bebek kalian..

Storyline:
Sri Mulyani hanya bisa meratapi ayahnya yang dibawa tentara Belanda dalam Agresi Militer II di Maguwo, Jawa Tengah pada bulan Desember 1948. Iapun mengembara hingga ke wilayah Panjen dan berjumpa dengan pasukan gerilya Indonesia pimpinan Kapten Hadi Sugito yang tengah membuka pendaftaran anggota baru. Lantas bergabunglah Udjo yang didesak pujaan hati Wiwid, Ahok yang beretnis Cina, Tumino yang beretnis Jawa, Toar si gerilyawan rabun, Kopral Jono yang turun pangkat dan ingin menikahi kekasihnya Yayuk yang juga adik kandung Wiwid ke dalam squad yang juga melibatkan Letnan Bowo, tangan kanan Kapten Hadi Sugito.
Persiapan demi persiapan pun mereka lakukan sebelum menghadapi Belanda yang dipimpin Letnan Kuyt. Malangnya Letnan Kuyt berhasil menculik Wiwid, Yayuk beserta warga desa lainnya terlebih dahulu hingga membuat Kapten Jono cs berang. Berbekal informasi dari tentara KNIL yang mereka tawan yakni si gembul Once, mereka nekad menyerbu markas Letnan Kuyt. Berhasilkah mereka mencatatkan diri sebagai pahlawan tanpa nama yang terlupakan sejarah perjuangan Indonesia?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kharisma Starvision Plus dan diproduseri oleh Chand Parwez Servia.

Cast:
Tika Panggabean sebagai Sri Mulyani
Udjo Project Pop sebagai Udjo
Odie Project Pop sebagai Ahok
Gugum Project Pop sebagai Tumino
Yosi Project Pop sebagai Toar
Oon Project Pop sebagai Once
Dwi Sasono sebagai Kopral Jono
Shanty sebagai Wiwid
Gading Marten sebagai Kapten Hadi Sugito
T Rifnu Wikana sebagai Letnan Bowo
Masayu Anastasia sebagai Yayuk
Marcell Siahaan
Candil

Director:
Setelah menyelesaikan 3 film tahun 2009 lalu yang ditutup dengan Keramat, Monty Tiwa kembali dengan film pertamanya di tahun 2010 lewat Laskar Pemimpi ini.

Comment:
Poster film ini terkesan “epik” tapi melihat jajaran pemain dan sutradaranya, kesan tersebut langsung sirna. Siapa yang tidak mengenal Project Pop sebagai grup vokal pengocok tawa dengan polah tingkah dan lirik-lirik jenakanya yang telah eksis lebih dari satu dekade di blantika musikIndonesia?
Benar sekali. Film ini didesain menjadi panggung mereka, berakting dan bernyanyi sekaligus nyaris di setiap scenenya. Jika boleh saya mengatakan, kebebasan improvisasi rasanya diberikan secara penuh kepada masing-masing personil Project Pop, skrip yang ditulis Eric dan Monty Tiwa sepertinya hanya menjadi buku panduan belaka yang tidak mutlak dihafal.
Di luar dugaan, Oon dan Udjo mendapat porsi yang "lebih" dibandingkan rekan-rekannya. Tidak apalah toh keduanya gape memasang mimik komedik yang sangat diandalkan memancing tawa.Nama-nama seperti Dwi Sasono, Shanty, Masayu Anastasia, Teuku Rifnu Wikana yang sebenarnya lebih senior dalam bidang film terasa dikesampingkan kali ini. Ironisnya, Rifnu justru baru saja merampungkan Darah Garuda yang bertemakan mirip tapi jauh lebih serius itu.
Monty yang kabarnya melakukan persiapan yang cukup lama untuk film ini sayangnya hanya memperhatikan kostum pejuang/tentara dan setting outdoornya saja sehingga aspek lain yang serba jelas tertangkap kamera menjadi kedodoran. Adegan "epik"nya yang melibatkan persenjataan pun tidak sampai menggelegar, lebih terdengar seperti bunyi petasan basah yang nyaris gagal meledak. Ya itulah kenyataannya karena elemen melodinya justru lebih dominan disini, itupun tidak terlalu mulus timingnya.
Terlepas dari kekurangan disana-sini, kemunculan Laskar Pemimpi yang bisa disebut bergenre action komedi musikal perjuangan ini sedikit memperkaya tema perfilman nasional yang sudah semakin monoton.

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 17 Juni 2010

RED COBEX : Geng Ibu-Ibu Berantas Ketidakadilan

Cerita:
Geng Red CobeX dapat dibilang multikultural karena para anggotanya dari berbagai daerah beranggotakan yaitu ibu-anak Ambon, Mama Ana dan Yopie, Tante Lisa dari Manado, Yu Halimah dari Tegal, Mbok Bariah dari Madura, Cik Meymey yang Cina Betawi. Mereka sangat disegani karena membela kaum lemah dengan menyingkirkan orang-orang yang mengambil keuntungan dari hal-hal maksiat ataupun tidak halal. Sayangnya aksi main hakim sendiri tidak ditolerir polisi yang tetap menjebloskan mereka ke dalam penjara Nusa Kembang. Namun Yopie yang dianggap tidak bersalah dibebaskan dan sementara menumpang tinggal di rumah sahabat karibnya, Ramli yang juga suami Ipah. Yopie mencoba hidup jujur dengan bekerja sebagai pelayan yang membawanya bertemu Astuti, gadis Jawa yang manis. Akankah Yopie dapat menemukan jati diri nya sendiri tanpa menyakiti hati Mama Ana and the gank?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision dan gala premierenya dilangsungkan di Planet Hollywood pada tanggal 15 Juni yang lalu.

Cast:
Tika Panggabean sebagai Mama Ana
Indy Barends sebagai Tante Lisa
Sarah Sechan sebagai Mbok Bariah
Cut Mini sebagai Cik Meymey
Aida Nurmala sebagai Yu Halimah
Lukman Sardi sebagai Yopie
Revalina S Temat sebagai Astuti
Shanty sebagai Ipah
Irfan Hakim sebagai Ramli

Director:
Upi Avianto mengawali karir penyutradaraannya lewat 30 Hari Mencari Cinta (2004) yang cukup sukses itu.

Comment:
Dibuka dengan kehebohan geng Red Cobex memberantas preman di sebuah kampung, terus terang prolog tersebut menimbulkan firasat buruk dalam diri saya akan kualitas film secara keseluruhan. Dugaan itu tidak salah karena selama 105 menit durasinya, saya dan sebagian besar penonton merasa sangat tersiksa! Pertama, plot ceritanya sangat mengada-ngada dan klise. Sekelompok orang multiras yang kali ini diwakili ibu-ibu berusaha menunjukkan tajinya plus bumbu romansa dua pasangan yaitu sepasang suami istri dan dua sejoli yang sedang jatuh cinta. Kedua, genre komedi yang diusung tidak didukung oleh humor cerdas dan kreatif. Semua adegan pengocok tawa terlalu dipaksakan slapstick dan tidak lucu sama sekali. Satu-satunya yang membantu mungkin musik latar yang setidaknya terdengar kocak. Ketiga, gaya penyutradaraan yang acak adut. Entah apa yang ada di benak Upi yang sebetulnya menggunakan nama besarnya sebagai sutradara wanita lokal berbakat untuk menyedot calon penonton. Saya tidak menyalahkan jajaran castnya disini karena skrip yang mengharuskan mereka berada di relnya. Namun setidaknya masing-masing berusaha konsisten dengan logat dan gaya khas daerah yang diharuskan. Padahal banyak nama tenar nan berbakat yang ambil bagian disini. Yang mengganggu adalah pemilihan Lukman sebagai anak Tika. What?! Alhasil, Red Cobex gagal merebut simpati penonton yang sudah tidak peduli lagi dengan jalan cerita ataupun para tokohnya meskipun animo awalnya cukup tinggi.

Durasi:
105 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 01 Desember 2008

TAKUT / FACES OF FEAR : Antologi Horor Lokal Dengan Berbagai Rasa

And the SIX stories are..
SHOW UNIT (17min) by Rako Prijanto
Seorang pria (Lukman Sardi) yang tanpa sengaja membunuh anak perempuan kekasihnya (Marcella Zalianty). Berusaha menyembunyikan kenyataan, ia malah membunuh ayah anak tersebut (Donny Alamsyah). Masalah mulai muncul saat mayat anak itu hilang tanpa jejak.
Thrill-meter: 3 out of 5
Rako yang biasanya menangani film drama kali ini sedikit bereksperimen dalam konsep thriller bernuansa hitam putih yang dominan. Hasilnya tidak mengecewakan sebagai sebuah opening. Lukman tampil beda di film ini.

TITISAN NAYA (15min) by Riri Riza
Seorang gadis (Dinna Olivia) yang tidak mempercayai hal-hal mistis dan memilih menggoda sepupunya (Junior Lim) pada saat upacara adat pemandian keris di rumah kerabatnya sampai akhirnya ia mengalami delusi yang tidak pernah terbayangkan.
Thrill-meter: 3 out of 5
Riri yang lebih dikenal dengan film anak boleh diacungi jempol dalam usahanya memberikan sentuhan mistik dengan pencahayaan suram. Cukup menarik jika dikembangkan menjadi film panjang terutama dengan mempertahankan Dinna sebagai aktris utamanya.

PEEPER (10min) by Ray Nayoan
Seorang lelaki yang memiliki hobi mengintip (Epy) bertemu dengan penari opera (Wiwied Gunawan) yang memiliki rahasia kecantikan awet mudanya.
Thrill-meter: 2.5 out of 5
Ray menyuguhkan sesuatu yang beda disini. Thriller yang bersifat tradisional dan lebih kepada hukuman terhadap tabiat buruk seseorang. Menarik melihat Wiwied menari dan "bertopeng" disini dengan Epy sebagai lelaki mesum yang terlihat polos.

THE LIST (10min) by Robby Ertanto
Seorang wanita (Shanty) yang terobsesi mengerjai mantan pacarnya (Fauzi Baadila) lewat media dukun santet.
Thrill-meter: 2 out of 5
Meski section ini paling tidak menyeramkan, kredit boleh diberikan pada Robby yang juga bermain dengan sentuhan komedi. Shanty dan Fauzi tidak kalah memikat sebagai sepasang mantan kekasih yang saling membenci.

THE RESCUE (11min) by Raditya Sidharta
Penyelamatan seorang gadis cilik (Eva Celia) oleh tim gegana (Reuben & Shogi) saat penduduk kota menjadi zombie akibat wabah virus yang mematikan.
Thrill-meter: 2.5 out of 5
Rasanya Raditya ingin menampilkan sosok zombie versi Indonesia, tidak buruk tapi masih kurang orisinil. Ceritanya klise dan masih mengikuti pakem film sejenis buatan Hollywood.

DARA (22min) by Mo Brothers
Seorang chef wanita handal yang cantik (Shareefa Danish) dan digilai banyak pria termasuk (Mike Muliadro) menyimpan rahasia kelam seorang psikopat pembunuh nan sadis.
Thrill-meter: 4 out of 5
Bagian penutup yang manis sekaligus mengerikan, aplaus patut diberikan pada Shareefa yang mampu bermain "dingin" dengan sorot mata dan mimik mukanya. Mo Brothers rupanya mempunyai bakat membuat film gore dengan subsidi kantung darah yang konon banyak digunakan dalam film ini. Boleh ditunggu karya mereka selanjutnya.

Komentar:
TAKUT boleh dibilang cukup berhasil memadukan film horor kontemporer yang diberi sentuhan art dan ethnic. Semua ceritanya memang tidak berhubungan tapi memberikan citarasa yang berbeda-beda. Well done! Pembuatan film ini memang masih mendapat bantuan dan sentuhan sineas-sineas luar yang sudah berpengalaman mengerjakan thriller horror berkualitas tapi diharapkan hanya untuk sebuah awal. Untuk berikutnya, diharapkan bisa memacu kreatifitas filmmaker kita dalam menghasilkan karya yang semakin baik lagi terutama di genre yang sangat populer beberapa tahun terakhir ini.

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni tidak boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!