XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label rosemarie dewitt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rosemarie dewitt. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2015

THE POLTERGEIST : Classic Haunted House Tale Got Modernized

Quote:
Madison Bowen: They're here...


Nice-to-know:
Rosemarie Dewitt ingin membintangi reboot ini usai merasakan animo besar penonton gala premiere The Conjuring (2013) yang dibintangi suaminya Ron Livingston.

Cast:
Sam Rockwell sebagai Eric Bowen
Rosemarie DeWitt sebagai Amy Bowen
Saxon Sharbino sebagai Kendra Bowen
Kyle Catlett sebagai Griffin Bowen
Kennedi Clements sebagai Madison Bowen
Jared Harris sebagai Carrigan Burke
Jane Adams sebagai Dr. Brooke Powell
Susan Heyward sebagai
Sophie


Director:
Merupakan film kedua bagi Gil Kenan setelah City of Ember (2008).

W For Words:
Poltergeist (1982) merupakan salah satu contoh simbiosis mutualisme antara Tobe Hooper dan Steven Spielberg yang bertindak sebagai sutradara dan produser-penulis dalam menghasilkan film cult yang menjadi benchmark horor rumah berhantu selama beberapa waktu ke depan. Kini lebih dari tiga dekade kemudian, Sam Raimi yang sebetulnya salah satu nama handal di genre terkait, berniat merebootnya dengan berbagai penyesuaian. Sayangnya ia hanya bertindak sebagai produser dan akhirnya mempercayakan duet Gil Kenan dan David Lindsay-Abaire untuk mencoba mengekor kesuksesan duet yang tersebut di atas.

Karena resesi ekonomi dan terancam pailit, Eric Bowen mengajak istrinya Amy pindah ke kompleks perumahan anyar Berkeley Square yang dijual dengan harga murah karena dibangun di atas tanah bekas pemakaman. Anak-anak mereka yakni remaja putri Kendra, Griffin dan Madison harus menyesuaikan diri dengan kondisi rumah yang unik tersebut. Lambat laun mereka merasakan adanya entitas lain yang ‘hidup’ bersama mereka. Ketika Madison menghilang, pakar supernatural Dr. Brooke Powell pun dipanggil beserta mantan suaminya pengusir hantu ternama Carrigan untuk mengatasi masalah itu.















Sutradara Kenan memang berusaha setia dengan source originalnya hingga yang bisa dilakukannya (dengan cukup berhasil) adalah memaksimalkan setting rumah demi menciptakan klastrofobik dan juga tata kamera Javier Aguirresarobe yang dinamis menangkap setiap pergerakan obyek dan subyeknya sekaligus. Beberapa jump scares yang disiapkan terbilang inovatif dalam membangun ketakutan penonton, terlepas dari mood keseluruhan yang cenderung masih terlalu ‘light’. Terima kasih pada timing editing dan scoring music yang cukup efektif tersebut.

Rockwell dan DeWitt mampu menejermahkan peran orangtua dengan baik terlepas dari keterbatasan karakter mereka. Sama halnya dengan Sharbino dan Clements yang terasa begitu satu dimensi. Sebaliknya Catlett diberi keleluasaan lebih untuk menggali karakter Griffin dibandingkan pendahulunya. Pasangan Harris dan Adams jelas tidak berada pada kelas yang sama dengan The Warrens dalam The Conjuring (2013). Namun kehadiran keduanya di paruh kedua film berhasil mencuri perhatian dengan love-hate relationship nya yang tergambar jelas. 














Pada akhirnya harus diakui memang sulit untuk mengapreasi The Poltergeist secara utuh. Jika dibandingkan dengan originalnya, reboot ini jauh dari kata menyeramkan, meski masih bisa membuat anda deg-degan. Jika dibandingkan dengan horor kontemporer, horor yang satu ini terlalu ‘klasik’, walau berupaya relevan lewat penggunaan segala jenis gadget terbaru. Nampaknya perpaduan efek visual yang natural dengan kinerja CGI jadi salah satu kendala utama, terlebih beban teknologi 3D yang juga dibebatkan padanya. Then it’s up to you whether you want to visit this reboot or revisit the original one. Both still have fun haunted house experiences, something i believe that you just want to see on screen.


Durasi:
93 menit

U.S. Box Office:
$44,619,721 till Jun 2015

Movie-meter:

Minggu, 03 April 2011

THE COMPANY MEN : Bertahan Hidup Paska Pemutusan Kerja

Tagline:
In America, We Give Our Lives To Our Jobs. It's Time To Take Them Back

Storyline:
Kehidupan para eksekutif mapan Amerika hancur dalam seketika saat GTX mengumumkan pengecilan karyawan. Diantaranya adalah Bobby Walker yang memiliki tempat tinggal megah, mobil mewah dan segala perlengkapan mahal. Juga ada Phil Woodward yang harus bersaing dengan pria-pria yang berusia setengahnya untuk mendapatkan pekerjaan baru. Mantan eksekutif Gene McClary juga harus berpedih hati menyaksikan rekan-rekannya berjuang menghidupi keluarga dan meninggalkan kehidupan sempurna mereka satu persatu. Resesi ekonomi bisa saja melanda negara manapun juga dan pemulihannya membutuhkan waktu yang tidak singkat..

Nice-to-know:
Keseluruhan syuting dilakukan di Massachusetts termasuk gedung perkantoran One Communications di dekat Route 128.

Cast:
Pertama kali bermain film di usia 9 tahun lewat The Dark End of the Street (1981), Ben Affleck bermain sebagai Bobby Walker yang harus merelakan aset-asetnya hilang satu persatu demi bertahan hidup setelah kehilangan pekerjaan
Tommy Lee Jones sebagai Gene McClary
Chris Cooper sebagai Phil Woodward
Maria Bello sebagai Sally Wilcox
Tom Kemp sebagai Conal
Nancy Villone sebagai Diane
Rosemarie DeWitt sebagai Maggie Walker
Kevin Costner sebagai Jack Dolan

Director:
Merupakan debut pertama John Wells sebagai sutradara layar lebar setelah sebelumnya menangani serial televisi sukses sepanjang masa, E.R. (1998-2009).

Comment:
Bagi para penonton di luar Amerika Serikat rasanya sulit untuk bisa terkoneksi sepenuhnya dengan keadaan resesi ekonomi di tahun 2010 yang menjadi tema film ini. Namun bayangkan saja satu hal, kemalangan bisa terjadi pada siapa saja, dalam hal ini kehilangan pekerjaan baik karena pemecatan atau pengecilan perusahaan yang umum terjadi dimanapun anda berada.
Lee Jones sebagai manajemen eksekutif Gene mungkin memberikan sumbangsih terbesar bagi GTX dengan ide-idenya. Cooper sebagai Phil juga selalu mendukung Gene dalam pengambilan keputusan penting. Sedangkan Affleck merupakan sales berpenghasilan tinggi dari komisi yang diterimanya. Jobless bagi mereka berdampak besar dalam hidup masing-masing terlebih tanggungjawab terhadap keluarga maupun kerabat dekatnya. Disini ketiganya bermain dengan maksimal meski tidak banyak interaksi yang melibatkan secara bersamaan.
Sedangkan Bello, DeWitt, Villone juga tidak kalah kontribusinya sebagai pendukung tiga pria yang tersebut di atas. Jangan lupakan kehadiran Costner sebagai Jack, si tukang kayu handal yang selalu cekatan dan semangat dalam bekerja dengan filosofi-filosofinya. Sayang sekali peranan mereka tidak sampai pada tingkat penghargaan internasional karena lemahnya proses pemasaran film ataupun rendahnya minat penonton.
Sutradara Wells tampaknya masih mengadopsi gaya serial televisi dalam film feature pertamanya ini. Terbukti perpindahan scene dari hidup Bobby-Gene-Phil terasa seperti pergantian episode. Tempo lambat yang dipakainya cenderung membosankan karena terlampau smooth dan sedikitnya letupan emosi yang muncul untuk tetap membawa penonton bersinergi dengan jalan cerita yang dituturkan.
The Company Men sebagai sebuah drama merupakan babak “gelap” yang menuntut orang untuk bertahan hidup dari kekalahan yang dialaminya. Terkadang hal ini diperlukan sebagai sebuah refleksi diri demi mencapai taraf kehidupan yang lebih baik lagi di masa mendatang. Isu kapitalisme perusahaan yang seringkali menguntungkan pihak yang sudah di atas angin dan merugikan pihak yang sudah kalah pun disajikan secara nyata. Coba saksikan film ini dan bayangkan diri anda jika berada di posisi mereka!

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$1,547,510 till Jan 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 13 Oktober 2009

RACHEL GETTING MARRIED : Kembalinya Saudari Bermasalah Menjelang Pernikahan

Quotes:
Rachel-Kym, you took Ethan for granted. Okay? You were high for his life. You were not present. Okay? You were high.
Kym-[Whispering] Yes.
Rachel-And you drove him off a bridge... and now he's dead.
Paul-[Tearfully] Rachel, it was an accident.
Kym-Yes, I was. Yes, I was stoned out of my mind. Who do I have to be now? I mean, I could be Mother Teresa and it wouldn't make a difference, what I did. Did I sacrifice every bit of... love I'm allowed for this life because I killed our little brother?

Cerita:
Kym dibebaskan dari rehab selama beberapa hari untuk menghadiri pesta pernikahan adiknya, Rachel dan calon suaminya, Sidney. Lingkungan keluarga selalu menjadi suatu tantangan bagi pecandu yang sedang menjalani masa pengobatan. Ketegangan pun terjadi antara Kym dan Rachel serta Kym dan ibunya, Carol hanya karena beberapa hal kecil. Semua itu juga dipicu oleh kejadian masa lalu dimana Kym pernah mencelakakan adik laki-lakinya, Ethan saat sedang mabuk mengendarai mobil. Berdamai nampaknya sebuah usaha yang cukup sulit bagi Kym dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya..

Gambar:
Full setting di Connecticut, film ini berhasil mendeskripsikan gambaran keluarga Amerika yang penuh dinamika. Beberapa seremoni pernikahan disini juga cukup unik dan memberikan ide-ide segar.

Act:
Bermain tiga film dalam tahun 2008 selain Get Smart dan Passengers, Anne Hathaway justru dinominasikan untuk Aktris Terbaik Oscar 2009 lewat peran Kym, wanita muda yang bermasalah dengan obat-obatan dan emosionalnya.
Pernah mendukung Russell Crowe dalam Cinderella Man (2005), Rosemarie DeWitt bermain sebagai Rachel yang tengah mempersiapkan pesta pernikahannya tapi harus menghadapi saudari masa lalunya yang bermasalah.
Tunde Adebimpe sebagai Sidney, calon suami Rachel.

Sutradara:
Pernah memenangkan Piala Oscar kategori Sutradara Terbaik dalam The Silence Of The Lambs (1992), Jonathan Demme kali ini berusaha mengetengahkan drama keluarga yang penuh konflik dan dibintangi banyak aktor-aktris yang menjanjikan.

Comment:
Ceritanya hanyalah sebuah pernikahan yang dihadiri seluruh anggota keluarga. Kelihatan sebagai drama keluarga biasa bukan? Tetapi konflik yang perlahan-lahan dibangun sejak awal semakin rumit memasuki pertengahan film. Bagaimana seorang wanita muda yang bermasalah hidupnya dan memiliki tekanan batin masa lalu bisa mempengaruhi pernikahan dan hubungannya dengan seluruh anggota keluarga yang lain. Dua jempol untuk Hathaway yang tampil brilian dengan sorot mata, mimik dan penjiwaan yang kuat. Namun tampaknya itulah salah satu nilai jual film ini. Penggarapan Demme sebenarnya cemerlang tetapi gaya yang digunakannya tidak biasa seperti editing yang aneh, banyaknya scene panjang serta kamera tangan yang cukup mengganggu. Ketiga hal tersebut rasanya sudah bisa membuat penonton sakit kepala untuk tetap bertahan di kursi masing-masing walaupun plot ceritanya sesungguhnya potensial. Tapi sekali lagi, Hathaway lah yang menyelamatkan film ini untuk mampu membawa Rachel Getting Married berbicara di panggung festival film manapun.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$12,796,277 till April 2009

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!