XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label rain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rain. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 November 2012

SOAR INTO THE SUN : Brainless Korean’s Top Gun Entertainment


Quote: 
Tae-hun: Jangan teriak, kupingku sakit. Ini bukan korps militer! 

Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh Zooomoney Entertainment, Red Muffler dan CJ Entertainment ini sudah rilis di Korea Selatan pada tanggal 15 Agustus 2012 yang lalu. 

Cast: 

Rain sebagai Jang Tae-hun
Shin Se-kyung sebagai Yu Se-yeong
Yoo Joon-sang sebagai Lee Cheol-hui
Kim Seong-su sebagai Dae-seo
Lee Ha-na sebagai Yu-jin
Lee Jong-Suk
Jeong Seok-won


Director: 

Merupakan film ketiga bagi Kim Dong-woon setelah Yugamseureoyun Doshi (2009).

W For Words:
Top Gun (1986) pada masanya telah mengubah peta perfilman yang bertemakan kesatuan angkatan udara hingga melejitkan nama Tom Cruise sebagai mega bintang sampai sekarang. Tak diduga seperempat abad kemudian, Ahn Sang-hoon dan Kim Dong-woon menyusun skrip dengan benang merah yang sama. Apakah industri perfilman Korea Selatan yang sedang berkembang pesat tengah kehabisan ide? Atau semata ingin membuat sebuah hiburan murni tanpa harus memutar otak untuk menikmatinya? Zooomoney Entertainment, Red Muffler, CJ Entertainment mungkin punya alasan sendiri.

Jang Tae-hun adalah pilot termuda Angkatan Udara elit Korea Selatan yang disebut skuad Black Eagle. Paska bencana yang disebabkannya, ia dipindahkan ke regu pesawat tempur 21 sebagai hukuman. Disanalah Tae-hun berjumpa dengan teman-teman lamanya, Yu-jin dan Dae-seo serta staf maintenance yang cantik, Se-yeong. Perseteruan dengan pimpinan Falcon, Jenderal Cheol-hui dalam kompetisi tempur F-15K berujung pada kekalahan Tae-hun. Ia lantas merencanakan pembalasan dengan merancang konstruksi pesawat jet yang lebih baik lagi. 
Durasinya yang nyaris mencapai dua jam memang membutuhkan kesabaran terlebih di paruh pertama menitikberatkan pada romantika Tae-hun dan Se-yeong yang tidak memberikan warna baru samasekali layaknya serial televisi melankolis. Belum lagi subplot yang melibatkan beberapa karakter pendukung lain yang juga tidak sampai memperkuat bangunan plot utama. Barulah di paruh kedua anda disuguhi dua klimaks yang mencengangkan yaitu pertempuran udara di atas kota Seoul dan pertarungan penentuan di atas daerah lautan/pegunungan yang sangat akrobatik.

Sutradara Dong-woon menyuguhkan sinematografi, art direction, set dan lighting yang nyaris sempurna, lengkap dalam balutan musik hip-hop yang enerjik. Birokrasi angkatan udara dan urusan teknis pesawat jet juga tertata dengan rapi, bukan sekadar tempelan belaka. Manuver-manuver yang dilakukan seakan mengindahkan teknik pengambilan gambar standar sehingga pengalaman menontonnya benar-benar terasa beda di layar lebar bioskop kesayangan. Kekurangannya adalah tempo film yang cenderung turun naik tanpa substansi memadai.

Semua karakter dalam film ini berjalan dalam satu dimensi. Layaknya Tom Cruise, Rain amat predictable dengan sifat emosional dan percaya diri cenderung angkuh dalam sosok pilot keren penakluk wanita.  Para penggemarnya bisa jadi kecewa melihat wajah tampan pria yang akan menjalani wajib militer ini lebih sering tersembunyi di balik helm. Pendatang baru Se-kyung memang cantik tapi ia hanyalah seorang love interest yang tak banyak berpengaruh pada konstruksi cerita. Menarik melihat Jong-seok dalam wujud pilot debutan yang dipercaya dalam misi besar pamungkas.

Sulit bagi saya untuk betul-betul merekomendasikan Soar Into The Sun sebagai tontonan memikat dikarenakan dramatisasi konflik nan cheesy yang mudah diterka arahnya. Tentunya kita tahu bujet besar dikucurkan produksi film yang juga dikenal dengan judul R2B: Return to Base ini habis di departemen spesial efek demi memenuhi standar Hollywood. Mungkin itulah satu-satunya alasan tepat bagi anda yang datang ke bioskop hanya untuk menghabiskan waktu berharga dengan mindless entertainment semacam ini yang setidaknya terlihat mahal dan eksklusif.

Durasi: 
113 menit 

Asian Box Office: 
$7,706,110 in Korea till Nov 2012 

Overall: 

7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent


Sabtu, 28 November 2009

NINJA ASSASSIN : Petualangan Ninja Pembunuh Pembelot

Cerita:
Berangkat dari anak jalanan saat ditemukan, Raizo ditempa oleh Ozunu Clan menjadi ninja pembunuh yang paling berbahaya di dunia. Perkumpulan rahasia mereka sangat dirahasiakan sehingga seringkali dianggap mitos belaka oleh public. Dihantui pengeksekusian gadis yang dicintai oleh temannya, Raizo bertekad melarikan diri dan menghilang. Sementara itu di Berlin, agen Europol, Mika Coretti dan atasannya, Ryan Maslow sedang melacak jejak uang gelap hasil pembunuhan beberapa politikus yang mengarah pada jaringan bawah tanah yang sulit diungkap. Investigasi kemudian berubah haluan saat Mika menjadi incaran Ozunu Clan untuk dibunuh. Raizo kemudian menyalamatkan Mika tetapi tahu bahwa hal tersebut tidak mengubah apapun sebelum Ozunu Clan habis ditumpas.

Gambar:
Keseluruhan syuting dilakukan di Jerman termasuk Studio Babelsberg. Adegan pertempuran antar ninja sedikit mengingatkan kita pada apa yang sudah ditampilkan dalam The Matrix, hanya saja dengan volume darah yang sangat tinggi.

Cast:
Baru saja tampil dalam debut Hollywood perdananya Speed Racer (2008), Rain kembali untuk memerankan Raizo, ninja pembunuh yang memiliki masa lalu kelam dan dituntut menuntaskan dendam terhadap kelompoknya sendiri.
Naomie Harris yang pernah mendukung 28 Days Later (2002) kini kebagian karakter Mika Coretti, agen Europol kulit hitam yang berhati lembut.
Rick Yune sebagai Takeshi
Sung Kang sebagai Hollywood
Linh Dan Pham sebagai love interestnya Raizo
Shô Kosugi sebagai Ozunu

Sutradara:
Pria kebangsaan Australia, James McTeigue dalam debutnya pernah menangani versi IMAX dari V For Vendetta (2005) yang cukup ramai dibicarakan itu.

Comment:
Sebelum menyaksikan, saya diperingatkan rekan-rekan betapa buruknya film ini. Oleh karena itu, saya memasuki bioskop dengan ekspektasi rendah dan berniat menonton saja. Ternyata pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar. Ninja Assassin menawarkan aksi, aksi dan aksi hampir sepanjang durasi film. Semua dikemas dalam koreografi yang memikat dan setting yang memang mendukung. Sebagai sebuah film kekerasan, terlalu banyak adegan berdarah-darah yang ditampilkan tetapi tidak sampai menjijikan karena secara pintar mampu dikombinasikan dengan lighting dan angle yang memukau. Ceritanya sendiri mengenai cinta, pengorbanan diri dan berusaha yakin dengan apa yang kau percayai. Simpel bukan? Rain sukses menggali emosinya untuk pengembangan karakter Raizo. Beberapa hal memang terasa tidak masuk akal seperti halnya di awal kumpulan ninja Ozunu Clan seperti mengerikan dan kekuatannya tidak tersentuh karena mampu mendengar detak jantung dari jauh tapi semakin lama film bergulir, sosok mereka tidak lagi kasat mata. Bahkan deru helikopter dan tembakan saja tidak bisa diprediksi? Belum lagi make-up yang kurang mulus sehingga goresan di tubuh terasa palsu. Saran saya, nikmati saja film remake ini tanpa banyak logika dan takut darah!

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!