XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label olivia lubis jensen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label olivia lubis jensen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Desember 2012

POTONG BEBEK ANGSA : Komedi Bodoh Hangover KW Tiga


Quote: 
Sasha: Ini tuh yang ngomong, Otong mabok ato Otong sadar sih?
Otong: Otong mabok, mabok asmara.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Falcon Pictures ini gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 24 Desember 2012.

Cast:
Olivia Jensen Lubis sebagai Sasha
Boy William sebagai Masen
Ricky Harun sebagai Otong
George Rudy sebagai Gembong Mafia
Max Don sebagai Bos mafia Afro-American
Oka Sugawa sebagai Bowo
Dewi Rezer sebagai Ibu
Ferry Salim sebagai Ayah


Director: 
Merupakan karya kedua Alyandara setelah Xia Aimei di awal tahun.

W For Words: 
Mengadaptasi satu (atau dua) film Hollywood yang sudah memiliki reputasi dan fanbase internasional tersendiri tentunya harus menimbang resiko yang ada agar tidak gagal total. Sayangnya Falcon Pictures tampaknya tidak berpikir panjang bahwa secara konten budaya dan adat istiadat pun “kegilaan” dalam Dude, Where’s My Car? (2000) dan The Hangover (2009) tidak dapat diterapkan begitu saja terhadap film lokal. Sah-sah saja sebenarnya jika “versi gue (ato kite)” tetap melakukannya karena penilaian akhir ada pada bursa alias penonton. Penasaran? Saya sih iya!

Sasha yang tengah berangkat ke Paris dalam dua hari diundang sahabatnya Ivan ke pesta kostum. Ia lantas mengajak kakaknya Masen dan sohibnya Otong. Kasus salah alamat akhirnya berbuntut panjang. Minuman memabukkan membuat ketiganya lupa diri dan terbangun di pesisir pantai dengan sebuah mobil sedan silver yang bukan milik mereka. Sasha panik karena paspor, tiket dan dokumen penting miliknya ada di mobil Masen. Bukan hanya itu, seorang polisi bernama Bowo, tiga mafia Afro Amerika dan gerombolan mafia lokal turut memburu ketiganya yang harus tunggang langgang mencari jawaban.

Skrip yang ditulis oleh Hilman Mutasi dan Away Martianto ini memiliki logika jumpalitan yang rasanya hanya bisa dicerna oleh makhluk angkasa luar. Kemalasan memberi nama kepada para tokohnya sudah menjadi indikasi. Simpati penonton yang harusnya terbangun dari kelucuan spontan dan kepanikan wajar ketiga karakter utamanya sejak menit awal terbilang gagal. Beberapa penonton mungkin berharap Otong, Masen dan Sasha tak “terbangun” lagi untuk selama-lamanya daripada menyaksikan kebodohan episodik tak berkesudahan yang begitu mengganggu nalar.

Pertama, Sasha yang panik mencari ponsel begitu tersadar malah lupa apa yang seharusnya dilakukan setelah dipinjami oleh Ivan. Kedua, adakah polisi sebodoh Bowo yang bertugas sendiri. Tunggu, dia polisi atau detektif? Ketiga, mengapa gerombolan Gembong Mafia begitu tolol meninggalkan mobil tanpa dijaga saat ingin menangkap ketiga muda-mudi itu? Keempat, kenapa mafia Afro-Amerika menggunakan dialek campuran. Kelima, aksi kejar-kejarannya sangat tidak believable. Lontaran peluru yang semuanya luput (cuma satu mengenai lengan Otong) hingga penyelesaian kelemut yang semestinya bisa lebih dini. Thumbs up if you could get through these!

Saya nobatkan gelar worst costume in a movie tahun ini bagi trio Ricky, Olivia, Boy sekaligus salut mereka mampu bertahan mengenakan kain seprai, pakaian balet dan kostum bebek di sepanjang film. Seberapa kerasnya Otong mencoba melucu, saya tidak tertawa. Seberapa kuatnya persahabatan Otong dan Masen, saya tidak tergugah. Seberapa manisnya Otong berupaya mendapatkan hati Sasha, saya tidak tersentuh. Salahkan pada himpitan komedi situasi berpondasi lemah yang gagal menambatkan konflik apapun dengan kendali ceritanya.

Kinerja Alyandra yang di bawah standar saat mengarahkan Xia Aimei beberapa waktu lalu bisa dimaklumi karena debutnya. Namun karya keduanya ini yang juga tidak inspiratif membuat kapabilitasnya dipertanyakan. Saya justru menangkap gaya Anggy Umbara dalam Mama Cake (2012) disini yang menyelipkan gimmick-gimmick ala komik dan video game di berbagai scene. Karena sudah pernah melihat sebelumnya, saya tidak melihat hal tersebut sebagai terobosan baru yang kreatif. Ya setidaknya editing Cesa David dan tata musik Ramondo Gascaro sedikit membuat perbedaan positif.

Satu-satunya unsur hiburan dalam Potong Bebek Angsa adalah suguhan penampilan Super Senior dalam membawakan lagu ciptaan Pak Kasur versi baru ini plus behind the scene yang menampilkan kesalahan-kesalahan saat syuting. Selebihnya adalah rentetan chaos tak bertanggungjawab yang urung memunculkan tawa tapi sukses menimbulkan manyun. Andai saja membuat film semudah memberikan kostum Pocong, Bebek dan Angsa untuk dipakai oleh Ricky Harun, Boy William dan Olivia Jensen hingga menjadikannya judul film sekaligus. Mengerikan!


Durasi: 

75 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 31 Mei 2012

GERIMIS MENGUNDANG : Nothing Extra-romance From “Serumpun” Couple

Quotes:
Zamani: Saya ingin kenali kamu. Saya ingin kenali kamu lebih dalam lagi.
 
Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Erama Creative Sdn Bhd. bersama WannaB Pictures ini gala premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI pada tanggal 31 Mei 2012.

Cast:
Kamal Adli sebagai Zamani
Olivia Jensen sebagai Mikha
Ag. Karim Kadir
Denny Martin
Dg. Hasnah Ibrahim
Dhitra Marfie
Ebby Cornelis
Felix Agus
Henny Yuliani

Director:
Merupakan film ke-20 bagi Ahmad Idham Ahmad Nadzri yang juga terkenal sebagai pelakon ini.

W For Words:
Masih ingat dengan hit Melayu “Gerimis Mengundang” dari band asal Malaysia, Slam di awal tahun 90an? Lagu yang merajai tangga lagu manapun di Indonesia pada waktu itu kali ini diangkat kembali sebagai judul film kolaborasi Indonesia-Malaysia terbaru yang menampilkan duet Kamal Adli dan Olivia Jensen sebagai pasangan kekasih. Sutradara Ahmad Idham Ahmad Nadzri yang sudah sangat berpengalaman menyutradarai puluhan film negeri jiran tersebut pun ditunjuk sebagai eksekutor skrip karya Azwan Annuar.

Kala ikut ayahnya dalam misi dinas di Sabah, Mikha berjumpa pilot helikopter, Zamani. Pertengkaran yang awalnya mewarnai pertemuan keduanya perlahan mencair setelah Zamani berhasil mengejar pencopet yang melarikan tas Mikha. Kedekatan mereka mulai terusik ketika ayah Mikha meninggal saat   perjalanan pulang. Mikha yang sedih dan menyalahkan Zamani yang dinilainya tidak berperasaan tersebut berbalik bersimpati begitu mengetahui pria keras kepala itu sudah ditinggal mati kedua orangtuanya sejak kecil. Akankah kisah mereka yang berjarak jauh itu akan berakhir bahagia?

Saya bersyukur hubungan Zamani dan Mikha tidak terasa dibuat-buat, mengalir secara wajar terlepas dari hal-hal klise yang terbangun sebagai pondasinya. Ya, bagaimana keduanya bertemu saling curi pandang, bersikap sinis tidak mau mengakui ketertarikan satu sama lain, berbaikan untuk sama-sama membuka hati sebelum berserah pada takdir akan kelanjutan hubungan masing-masing. Formula yang tidak sulit diterka untuk model percintaan dalam sebuah film.
 
Sutradara Ahmad Nadzri memang tidak melakukan sesuatu yang istimewa dalam penyajiannya. Namun lokasi syuting yang mencakup Likas Bay, Sutera Harbour Resort, Filipino market, Mari-Mari Cultural Village, Pulau Manukan sampai Kundasang highlands di Sabah patut diacungi jempol karena berhasil menghadirkan suasana yang berbeda dari biasanya. Penggunaan helikopter di beberapa adegannya turut memperkuat production value tersendiri walaupun tidak terlalu detail penggambarannya.

Gerimis Mengundang yang rencana awalnya diputar untuk menyambut Hari Kasih Sayang periode lalu ini memang bukan film yang memorable, entah dengan versi teater musikalnya yang konon menggandeng Singapura selain dua negara yang disebutkan di atas. Anda cukup menikmati pertukaran dialog romantis antara Kamal dan Olivia yang memang sama-sama camera-face itu, berusaha untuk larut dalam nuansa bahagia dan sedih yang silih berganti dikedepankan demi mengundang simpati. What you see is what you get, do not expect something “extra-romance” from "serumpun" couple other than this.

Durasi:
103 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
:

Rabu, 14 September 2011

MASIH BUKAN CINTA BIASA : Kedatangan Anak Biologis Bergaya Rocker

Quotes:
Tommy: Siapa sih kamu? Ngapain datang kemari?
Vino: Saya gak akan kesini kalau gak punya bukti-bukti yang kuat!


Storyline:
Tommy yang tengah jengah mengurusi urusan rumah tangga karena kesibukan Lintang yang sendirian mencari nafkah tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Vino. Remaja pria berpenampilan rocker itu mengaku sebagai anak Tommy dari Voni, salah satu fansnya di masa lalu ketika band The Boxis masih berada di puncak kejayaan. Seketika suasana keluarga yang dibangun Tommy bersama Lintang dan putri mereka Nikita yang beranjak dewasa pun mulai terganggu. Tommy bersama teman-temannya pun mulai menelusuri jejak Voni sekaligus mendidik Vino agar tidak keluar dari jalurnya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh WannaB Pictures dimana gala premierenya diadakan di Plaza Indonesia XXI pada tanggal 13 September 2011.

Cast:
Ferdy Taher sebagai Tommy
Wulan Guritno sebagai Lintang
Olivia Jensen sebagai Nikita
Axel Andaviar sebagai Vino
Aline Adita sebagai Voni
Joe P. Project
Dalton
Budi Arab

Director:
Karya terbaik Benni Setiawan sejauh ini adalah 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta di tahun 2010 yang lalu yang menyabet banyak nominasi dalam ajang Festival Film Indonesia.

Comment:
Genre drama keluarga yang menyoroti hubungan orangtua dan anak memang tergolong jarang diangkat oleh sineas kita. Salah satunya yang cukup menyedot perhatian adalah Bukan Cinta Biasa di pertengahan tahun 2009 yang lalu, lebih karena faktor cast yang fresh yaitu Ferdy dan Olivia serta penggunaan judul dari lagu populer yang dinyanyikan Afgan tersebut. Selang 2 tahun dari tangan penulis dan sutradara yang sama, lahirlah sekuelnya dengan premis yang kurang lebih sama.
Entah apa yang ada di benak Benni Setiawan saat menggagas skrip film ini, mudah-mudahan bukan karena ingin mengeruk untung belaka. Sebab 80% pengangkatan konfliknya hingga penyelesaiannya pun tidak jauh berbeda. Tinggal mengganti tokoh anak remaja perempuan menjadi laki-laki sehingga pendekatan sang ayah jelas tidak sama. Yang baru mungkin dari sisi persaudaraan kakak adik ditambah kehadiran beberapa tokoh pendukung yang menyumbangkan esensi tersendiri.
Penampilan Axel sebagai Vino merupakan faktor utama yang paling berpengaruh terhadap keseluruhan film ini. Untungnya ia berhasil membawakan imej personil band rock yang selalu mempertanyakan eksistensi diri di mata orangtuanya, ibu yang tidak memperlakukannya dengan baik dan ayah yang tidak pernah dikenalnya itu. Sayangnya lagi-lagi Benni merusak eksplorasi Axel dengan turn over karakter Vino yang tidak konsisten sepanjang film.
Ferdy Taher masih tetap Tommy yang dulu dengan rambut panjang, tato, kaos tanpa lengan, jaket kulit hingga jeans belel. Kecintaannya terhadap musik cadas menegaskan kekerasan karakternya walau sedikit tertutupi oleh kepatuhannya terhadap Lintang. Wulan dan Olivia serta Joe P Project juga masih memainkan karakter yang kurang lebih sama. Kehadiran Aline sebagai ibu kandung Vino terkesan tempelan belaka dengan minimnya penjelasan latar belakangnya.
Kualitas Masih Bukan Cinta Biasa secara garis besar “masih” menawarkan ketidakstabilan yang cukup mengganggu, sama seperti prekuelnya. Beruntung berbagai momen menyentuh yang disebabkan oleh asas kekeluargaan itu “masih” dapat dihadirkan dengan wajar dan tepat pada tempatnya. Jika film ini harus diberi apresiasi maka patut dilayangkan pada aktor-aktris yang “masih” berakting di dalamnya, bukan untuk Benni yang untuk kesekian kalinya “masih” melakukan closing yang demikian mudahnya. Semoga tidak berlanjut dengan Masih Tetap Bukan Cinta Biasa dengan modal yang “masih” itu-itu saja. “Masih” penasaran?

Durasi:
100 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 21 Juni 2011

MILLI AND NATHAN : Datang Pergi Romantisme Remaja

Quotes:
Milli: Cinta itu seperti kopi, enak diminum kalo masih panas. Tapi resikonya jadi cepat habis..

Storyline:
Sekelas dalam sebuah SMU di Bandung, Milli dan Nathan saling menyukai satu sama lain. Nathan yang cerdas dan fokus pada cita-citanya sebagai kebanggaan keluarga seringkali mengingatkan Milli untuk rajin belajar. Namun sikap Milli yang polos malah semakin menarik Nathan untuk menjatuhi pilihannya. Keduanya pun berpacaran layaknya remaja berbahagia, apalagi didukung oleh kedua sahabat mereka yaitu Asti dan Oji. Selepas kelulusan, Nathan lebih memilih melanjutkan kuliah di Jakarta, meninggalkan Milli yang memilih untuk menetap dan meneruskan impiannya sebagai penulis novel. Perpisahan tidak terhindarkan meski beberapa tahun kemudian keduanya bertemu kembali tanpa bisa membohongi perasaan masing-masing. Apakah menyatukan dua hati yang saling mencinta sedemikian sulit karena pertentangan ego?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Falcon Pictures dan gala premierenya diselenggarakan di fX Platinum XXI pada tanggal 22 Juni 2011.

Cast:
Olivia Jensen Lubis sebagai Milli
Chris Laurent sebagai Nathan
Sabai Morscheck sebagai Asti
Chaca Rasidy Ariefiansyah sebagai Oji
Fendy Chow sebagai Oscar
Frans L. Tumbuan
Minati Atmanagara
Mario Lawalata
Him Damsyik

Director:
Pria kelahiran Salatiga berusia 46 tahun bernama Hanny R. Saputra ini mulai dikenal luas lewat debutnya, Virgin di tahun 2004.

Comment:
Romantisme remaja.. Ah rasanya sebuah tema drama cinta yang tak lekang oleh waktu dan telah melahirkan berjuta-juta versi diantaranya. Lantas yang tersisa hanyalah eksekusi sebuah skenario dengan sentuhan baru plus nilai jual yang coba ditawarkan disana-sini. Kali ini faktor nama sohor Hanny R. Saputra dan Olivia Jensen lah yang berusaha mengangkat film secara keseluruhan. Berhasil atau tidaknya tentu dikembalikan kepada penilaian masing-masing penonton.
Plot ceritanya sendiri nyaris sama dengan sebuah judul film nasional yang baru saja tayang beberapa waktu lalu. Tidak perlu saya sebutkan agar tidak terkesan spoiler. Perbandingan dari berbagai segi boleh saja dilakukan tapi yang jelas masing-masing film memiliki plus minus tersendiri. Kali ini sang penulis skrip handal Titien Wattimena berupaya menyuguhkan detail konflik dari sudut pandang para karakter utamanya sehingga didapatkan sisi personal yang ingin disampaikan.
Olivia merupakan aktris muda berbakat dalam hal akting tapi masih terlihat kesulitan memvariasikan perannya dari satu film ke film lainnya. Karakter Milli di tangannya digambarkan siswi optimis, lugu, ceria kemudian bertransformasi menjadi penulis muda cerdas, sukses, mandiri. Sedangkan debut Chris tidak terlalu mengecewakan meski ia lebih mengandalkan wajah fresh dan cutenya sebagai heartthrob bernama Nathan yang sikapnya selalu maju mundur itu.
Chemistry mereka terjalin cukup manis dan menggemaskan. Saya tidak akan berbicara mengenai French kiss yang kabarnya digunting LSF tersebut. Namun sejak menit awal penonton diajak bersimpati pada keduanya. Sedangkan karakter yang dihidupkan oleh Sabai dan Chaca juga turut memperkuat esensi persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah itu dimana permainan “Pancasila Lima Dasar” mungkin akan membawa ingatan anda melayang kembali..
Sutradara Hanny masih menggunakan ciri khasnya yakni tempo lambat untuk mengeksekusi skrip detail dari Titien. Bisa jadi anda akan merasa bosan walau jika ditelaah lebih jauh, gambar-gambar yang disuguhkan sebetulnya berbicara banyak. Terima kasih pada lokasi setting Kota Kembang yang mampu dimaksimalkan untuk mendukung penceritaan. Dramatisasi terbangun dengan baik tanpa kesan berlebihan walau sayangnya harus ditutup dengan ending yang terlalu rushing tanpa penjelasan lebih dalam akan alasan dan situasi sebenarnya yang dihadapi tokoh Nathan tersebut.
Milli & Nathan memang tidak akan mengajarkan anda akan konsep baru percintaan dua sejoli muda usia tetapi harus diakui cukup mengesankan dalam bertutur dan menegaskan problema yang terjadi di antara kedua tokoh utamanya. Suatu suguhan yang mengajak anda berandai-andai untuk mengalami perasaan seperti yang dimiliki Milli. Bukankah bahagia dan sedih itu satu paket? Terbungkus dalam balutan satu cinta yang tulus bersemi..

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 16 Juni 2011

THE TARIX JABRIX 3 : Pertaruhan Imej Gank Motor Bandung

Quotes:
Cacing: Sebelum kita balapan, bagaimana kalau kita berkencan? Bonceng-boncengan yuu..

Storyline:
Kesempatan The Tarix Jabrix untuk menjadi pahlawan gagal karena kebakaran yang melanda sebuah panti asuhan tidak berhasil mereka tangani dengan baik. Caca Sutarya kembali ke pekerjaannya sebagai agen asuransi dimana si bos memintanya pergi ke Bandung untuk bernegosiasi dengan geng motor setempat Road Devils yang banyak menyebabkan kerugian moral sekaligus material. Cacing pun mengajak Mulder, Dadang dan si kembar Coki-Ciko untuk turut serta. Sesampainya di tujuan mereka langsung dihadang Road Devils yang ternyata diketuai oleh cewek cantik bernama Melly, bukan Barokah lagi. Cacing pun harus menggunakan “pesona” sekaligus “kemampuan”nya untuk bersaing dengan Melly demi nama geng motor mereka masing-masing.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision dan gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 14 Juni 2011.

Cast:
Tria Changcut sebagai Caca Sutarya
Dipa Changcut sebagai Mulyana Derajat
Alda Changcut sebagai Ciko
Qibil Changcut sebagai Coki
Erick Changcut sebagai Dadang
Olivia Jensen sebagai Melly
Kamidia Radisti sebagai Mayang
Joe P Project sebagai Ayah Mulder
Ingrid Widjanarko sebagai Ibu Caca
Candil sebagai Bertie
Budi Dalton sebagai Laksamana Roda Gila

Director:
Merupakan film layar lebar kedelapan bagi Iqbal Rais dimana The Tarix Jabrix 1 sendiri adalah debut pertamanya.

Comment:
Meneruskan film yang sudah sukses dan begitu ikonik memang tidak mudah, apalagi sampai berlanjut di dua sekuelnya. Namun Iqbal Rais dan The Changcuters menjawab tantangan tersebut dimana film ketiga The Tarix Jabrix akhirnya muncul dalam kurun waktu 4 tahun! Tentu saja ada berbagai elemen baru yang dihadirkan disini dan secara keseluruhan saya menilai film ini cukup solid sebagai sebuah komedi ringan tanpa harus banyak berpikir.
Plotnya sendiri masih membahas para anggota The Tarix Jabrix secara personal tanpa kehilangan esensi persahabatan di antara mereka berlima. Namun tema utama yang ingin ditonjolkan adalah persaingan The Tarix Jabrix dengan Road Devils yang berbeda visi tersebut. Bagaimana kedua topik tersebut dapat berbaur secara tepat merupakan tugas penulis skrip Cassandra yang kali ini sedikit memperbaiki kinejanya yang biasanya klise.
Sutradara Iqbal secara cerdik mampu mengambil benang merah dari dua prekuelnya untuk bercerita secara fasih walaupun di beberapa bagian terasa dipermudah. Saya acungi jempol bagi pemanfaatan setting yang maksimal mulai dari Tangkuban Perahu, Kawah Putih, Gunung Patuha dan berbagai lokasi kebanggaan Jawa Barat lainnya. Suatu aspek yang mungkin sepele bagi orang lain tapi penting bagi saya karena berdaya jual tinggi sebagai jati diri Indonesia.
Tria masih mendapat porsi dominan disini sebagai Caca Sutarya yang berprofesi sebagai agen asuransi sekaligus pemimpin geng motor Tarix Jabrix. Menurut saya, Cacing tidak sengocol yang lalu dimana hal ini positif karena penonton dapat melihat sisinya yang lain. Erick dituntut menggenggam atau melepaskan cintanya terhadap Mayang, beda lagi Dipa yang berusaha menemukan jati dirinya sendiri tanpa campur tangan ayahnya.
Jika anda pernah melihatnya dalam peran ABG labil melankolis sebelumnya, disini ia terlihat lebih dewasa sebagai Jendral pemimpin Road Devils yang berjaket kulit, berhelm dan bermotor serba merah itu. Dan sifat judes dominan Olivia tersebut berbanding terbalik dengan Kamidia yang tengah bimbang menghadapi pernikahan dengan pria yang tidak menyukai hobi bermotornya itu. Selebihnya Candil, Eddy, Joe turut memberikan andil sendiri sebagai komedian setia negeri ini. Tanpa lupa menyebutkan nama Budi Dalton sebagai Koboyi yang tampilannya mengingatkan pada sosok David Carradine.
The Tarix Jabrix 3 masih mengusung semboyan bersikap sopan, tidak melanggar aturan lalu lintas, hormat orangtua tapi kali ini melengkapinya juga dengan sederetan tips bermanfaat dan pesan moral yang tidak bersifat menggurui. Penuturan yang fun dengan background musik yang easy listening menjadikannya sebuah tontonan wajib yang dapat dinikmati berbagai kalangan hingga pada akhirnya dapat memaafkan kelemahan-kelemahan minor yang ada. Siap untuk Tarix? Ambil motor anda, cek prosedur standarnya sebelum memulai petualangan hidup anda masing-masing..

Durasi:
85 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 02 April 2010

CINTA 2 HATI : Dilema Cinta Segitiga Tidak Berujung?

Storyline:
Penyanyi muda yang tengah berkibar, Alfa dikejutkan oleh kehadiran gadis muda cantik bernama Jane di apartemennya pada suatu pagi. Ternyata Jane adalah cucu tunggal kesayangan konglomerat Bakti Hasan yang menginginkan Alfa untuk mendampingi Jane yang sakit keras. Awalnya Alfa menolak karena sudah menjalin hubungan dengan Laras, mahasiswi kembang kampus. Namun ia tergetar juga melihat Jane yang kesepian, apalagi Laras dengan berat hati membiarkan Alfa memberi perhatian pada Jane. Sementara itu penyakit terus menggerogoti tubuh Jane dan mungkin usianya tidak lama lagi, terlebih jika operasi gagal dilakukan. Bagaimana akhir dari kemelut cinta segitiga ini?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Wannabe Pictures.

Cast:
Mengulang apa yang ditampilkannya dalam film pertamanya BCB, Olivia Lubis Jensen kali ini bermain sebagai gadis pesakitan Jane yang manja sekaligus kesepian.
Debut pertamanya di layar lebar, Afgan sebagai Alfa, penyanyi muda idola remaja yang baik hati.
Terakhir bermain mengesankan dalam Queen Bee, Tika Putri berperan sebagai kekasih idola pujaan gadis-gadis yang berjiwa besar.
Deddy Mizwar didaulat sebagai Bakti Hasan, konglomerat tanah air sekaligus opa yang sangat menyayangi Jane.

Director:
Selain sutradara, Benni Setiawan juga menjabat sebagai penulis cerita dan skenario film ini. Dia lah yang membawa Bukan Cinta Biasa (2009) sukses besar tahun lalu.

Comment:
Film dibuka dengan tidak mulus. Maksud saya seakan penonton sudah ditempatkan di tengah-tengah episode. Disitu kita diajak mengenal karakter Jane, Alfa, Laras dan opa Bakti. Terus terang penonton akan sulit bersimpati pada Jane yang di paruh pertama film terlalu sibuk merengek-rengek walau cukup masuk akal mengingat karakternya sejak kecil sudah dilimpahi harta di atas perasaan sangat kesepian ditinggal mati kedua orangtuanya. Olivia membawakannya tidak jauh berbeda dengan apa yang diperlihatkannya dulu. Afgan bernyanyi disini bukannya berakting, terutama ekspresi dan emosinya yang datar-datar saja sepanjang film. Sebaliknya Tika bermain cukup baik, dia terlihat tegar dan terluka perasaannya secara bersamaan. Deddy seperti biasa menunjukkan kelasnya sebagai aktor senior yang berhasil mengayomi aktor-aktris belia masa kini saat berbagi layar. Sang sutradara Benni nampaknya sedikit terlalu ambisius untuk mengulangi kesuksesan serupa. Beberapa momen menyentuh berhasil didapatnya, terima kasih pada backsound dan live singingnya Afgan disini. Namun sayangnya semua itu tidak didukung logika cerita yang bisa diterima penonton sejak awal. Terutama perasaan Alfa yang tidak konsisten di pertengahan hingga akhir, juga perubahan sikap Jane yang saya harapkan bisa signifikan antara sebelum dan sesudah "kejadian" itu. Endingnya juga dibikin ngepop. Hm, setidaknya Cinta 2 Hati berusaha bercerita terlepas dari minus-minus yang seharusnya bisa bikin film ini "lebih" plus.

Durasi:
105 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Sabtu, 09 Mei 2009

BUKAN CINTA BIASA : "Harmonisme" Hubungan Ayah Dan Anak

Tagline:
Kepikir punya anakpun nggak! Tiba-tiba ia hadir dan mengubah segalanya.

Cerita:
Pada suatu pagi, vokalis grup band rock jadul bernama Tommy tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan seorang gadis belia berusia 16 tahun, Nikita yang mengaku anaknya dari mantan kekasihnya Lintang yang juga jago beladiri. Awalnya Tommy kebingungan karena Nikita menerapkan sejumlah aturan di rumahnya sendiri tapi lambat laun rasa sayang seorang ayah kepada putrinya mulai tumbuh. Tommy pun berusaha mengubah hidupnya menjadi lebih tertata dengan mengikuti saran Nikita. Waktu 6 bulan hampir tiba, saat Nikita harus meninggalkan ayah kandung dan pacar barunya Brad untuk pergi ke USA menyusul ibu dan ayah tirinya Steve. Namun apakah Tommy akan tinggal diam begitu saja?

Gambar:
Cukup menarik walau masih terkesan biasa saja seperti film-film televisi secara keseluruhan.

Act:
Ferdy Taher dari grup band yang cukup tersohor Element kali ini kebagian peran utama sebagai rocker kasar dan berantakan, Tommy yang tiba-tiba harus menghadapi putri remajanya yang baru saja ditemuinya. Secara fisik, Ferdy sudah cukup meyakinkan dengan tato dan rambut gondrongnya walau dari segi karakteristik masih kurang tergali.
Remaja Indo, Olivia Lubis Jensen sebagai Nikita yang terkesan lebih dewasa dari usianya sehingga merasa pantas membenahi kehidupan ayahnya yang dinilai kacau.

Wulan Guritno sebagai Lintang, mantan kekasih Tommy yang berusaha memulai hidup baru bersama putrinya di Amrik.
Julia Perez sebagai Angel, kekasih Tommy yang seksi tapi posesif.
Rocky sebagai Brad, kekasih Nikita yang juga seorang vokalis band masa kini.


Sutradara:
Nama Benni Setiawan memang belum terlalu dikenal. Tapi usahanya menulis kisah yang boleh dibilang baru dalam perfilman lokal untuk kemudian menyutradarainya sendiri bisa diberi pujian. Hasil akhir? Karya perdananya ini tidaklah buruk!

Komentar:
Jujur saya memiliki ekspektasi tinggi saat membaca resensi film ini. Tapi sayangnya hanya 30 menit pertama yang memenuhi kriteria menarik. Setelah itu film ini menjadi tidak konsisten dan seakan kehilangan fokus. Hubungan ayah dan anak harusnya bisa dieksplorasi lagi dari berbagai segi, bukan hanya berputar-putar pada masalah yang sama dan malah cenderung dirusak dengan unsur komedi yang sama sekali tidak lucu. Namun tidak ada salahnya menyaksikan Bukan Cinta Biasa karena beberapa pesan moral tentang nilai-nilai keluarga masih bisa anda ambil. Penampilan cameo Afgan dan hits teranyarnya yang menjadi judul film ini cukup membantu membangun mood film secara keseluruhan.

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!