XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label kongkiat khomsiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kongkiat khomsiri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juli 2011

SLICE : Pengarahan Masa Lalu Pembunuhan Berantai

Quotes:
Nat: Bolehkah aku bermain denganmu?


Storyline:
Kasus pembunuhan berantai terjadi di Bangkok dimana korban-korbannya selalu dimasukkan dalam koper merah setelah terjadi mutilasi di beberapa bagian tubuh. Kepolisian kemudian mengutus Kapten Chin untuk menangani kasus ini terlebih target berikutnya adalah putra seorang politisi. Adalah seorang pembunuh bayaran bernama Tai yang merasa pelaku tersebut berkaitan dengan masa lalunya. Ia pun dibebaskan bersyarat dan diberikan waktu untuk menangkap si pelaku. Penelusuran pun dimulai dari kampung halamannya hingga mengarah pada kenyataan yang mungkin tidak pernah diduganya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Five Star Production Company dan dirilis di Thailand pada tanggal 22 Oktober 2009.

Cast:
Sebelumnya bermain dalam Rahtree Reborn (2009), Arak Amornsupasiri berperan sebagai Tai
Chatchai Plengpanich sebagai Chin
Sonthaya Chitmanee
Jessica Pasaphan sebagai Noi

Director:
Kongkiat Khomsiri sebelumnya sempat menangani Art of the Devil 2 & 3 yang cukup sukses itu.

Comment:
Horor/thriller Thailand merupakan salah satu film dengan twist paling cerdas untuk ukuran perfilman Asia. Tak heran jika berbagai judul yang dianggap luar biasa konon akan diremake oleh Hollywood termasuk yang satu ini. Lantas jika berbagai macam twist sudah dihadirkan sebelumnya, akankah ada kejutan baru yang patut ditunggu? Itulah yang menarik untuk dijawab karena anda tidak akan pernah tahu sebelum menyaksikannya sendiri.
Sepintas film yang berjudul asli Cheun ini tidak istimewa. Nanti dulu karena premis yang semula umum mengenai pembunuh berantai yang misterius dan sulit diterka identitasnya ternyata menjadi unik karena calon pemecah kasus justru dapat dikatakan berasal dari pihak antagonis. Permainan cat and mouse disini pun diwarnai dengan flashback yang terjalin rapi. Cerita yang ditulis oleh Wisit Sasanatieng ini menawarkan banyak topsy turvy yang mengasyikkan.
Amornsupasiri membuktikan diri sebagai aktor serba bisa mulai dari genre action hingga komedi romantis berhasil dilakoninya. Penampilan gahar sang narapidana berdarah dingin bernama Tai sedikit banyak terbantu oleh sapuan tattoo tak lazim di sekujur tubuhnya. Namun sisi personalnya kemudian dipertunjukkan pada penonton lewat serangkaian peristiwa lalunya sejak kecil hingga menjadi sosok seperti sekarang ini.
Terus terang tone warna yang digunakan sutradara Khomsiri memang tidak nyaman untuk disaksikan. Nuansa depresi terekam jelas di paruh pertama film, mengingatkan kita pada Se7en (1995) yang legendaris itu. Perubahan terjadi di paruh kedua film dengan kemunculan warna-warni pastel yang sedikit menenangkan walau kesan suffering masih belum terhapus. Kesemuanya itu dibalut dalam elemen gory yang tak terhindarkan sehingga kucuran darah segar ataupun potongan tubuh berserakan bukan lagi hal yang baru di layar.
Entah mengapa menurut opini saya flashback dalam film ini seperti membentuk jalinan kisah sendiri yang benar-benar baru. Kisah persahabatan dua anak yang memilih “jalan” yang berbeda di kemudian hari. Semuanya terpampang jelas lewat proses kejadian-kejadian teramat wajar dan bisa jadi pernah dialami oleh kita semua. Siapa yang tidak pernah berkelompok sewaktu kecil dan memiliki sahabat terdekat? Interaksi yang natural antara Polyong dan Poolsawad pun mampu membuat penonton berempati pada kedua bocah tersebut yang terikat oleh permainan nasib yang tidak adil.
Jika anda berniat menyaksikan Slice sebaiknya hindari membaca review apapun yang tertulis di internet ataupun media lainnya. Semakin sedikit anda mengetahui, maka akan semakin tergelitik untuk mengikuti kisahnya dari awal sampai akhir. Oleh karena itu saya memutuskan tidak “membuka” terlalu banyak dalam tulisan kali ini. Pesannya cuma satu, nikmatilah proses yang disajikan secara utuh dan jangan heran jika di akhir cerita seakan tidak ada lagi karakter jahat dalam benak anda. Everything comes in a shade of gray, isn’t it?

Durasi:
90 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 03 Juli 2011

FOUR : Antologi Horor Thailand Invasi Pikiran

Tagline:
Face your deepest fear

Terbagi dalam 4 segmen:
CLEAN-UP DAY (10 min) by Ekkasith Thairath
Sekelompok remaja putra sedang nongkrong di café terbuka di suatu sore yang cerah. Pembahasan mengenai global warming pun berujung pada virus. Sederetan virus memang sudah disinyalir berbahaya dan mematikan manusia. Namun adakah virus yang mampu memusnahkan kaum manusia secara massal? Di luar dugaan, salah seorang dari mereka yang bernama Nut sudah menciptakan sebuah virus maut dimana teman-temannya akan menjadi korban terlebih dahulu.

THE GIFT SHOP FOR THE ONES YOU HATE (35 min) by Kongkiat Khomsiri
Boy, seorang karyawan yang baru dipromosikan sebagai manajer dihujani berbagai hadiah dari orang-orang di sekitarnya. Dalam perjalanan pulang, Boy yang sesungguhnya masih berduka akibat kekasihnya yang tewas gantung diri menemukan sebuah toko misterius bernama 'GIFT SHOP FOR THE ONES YOU HATE'. Bukan toko sembarangan dimana barang-barang yang dijual di dalamnya dapat mencelakakan siapapun yang dituju. Hidup Boy pun mulai berantakan karena dilanda ketakutan berlebihan akan barang-barang yang pernah diterimanya.

EERIE NIGHTS (35 min) by Phawat Panangkasiri
Song merupakan buronan pelarian polisi yang berbahaya karena sifat ekstrimnya yang sulit diduga. Lelah bermotor dengan adiknya Joe dan sahabatnya Nueng, mereka beristirahat di sebuah rumah tua yang terbengkalai. Di sanalah kejadian-kejadian misterius mulai terjadi dimana halusinasi dan kenyataan menjadi sulit dibedakan. Akankah karma bekerja pada akhirnya?

HOO AA GONG (40 min) by Chookiat Sakveerakul
Satu keluarga disfungsi dilanda musibah saat kakek tertua tiba-tiba meninggal. Demi penghormatan terakhir, mayatnya diawetkan dan dipertahankan di dalam rumah! Sebuah tindakan sinting sekaligus sulit dipercaya hingga satu-persatu anggota keluarga tersebut mulai merasakan sang kakek bangun kembali dari tidur abadinya. Benarkah ada warisan tersembunyi yang ingin ditunjukkannya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Sahamongkol Media Channel

Cast:
Ananda Everingham
Alexander Rendel
Pakorn Chatborirak
Alice Tsoi

Director:
Digawangi oleh empat sutradara yang sebelumnya angkat nama lewat film-film horor thriller macam Body #19, Slice, 13 Beloved dan Shadows of the Naga
Ekkasith Thairath
Kongkiat Khomsiri
Chookiat Sakveerakul
Phawat Panangkasiri

Comment:
Kesuksesan antologi horor macam 4BIA (2008) dan sekuelnya PHOBIA 2 (2009) memang sedikit mengubah peta perfilman Thailand. Berbagai judul dengan formula serupa pun bermunculan kemudian walau tidak semuanya mampu mengekor sukses yang sama dalam arti kualitas dan kuantitas secara harfiah. Salah satunya adalah film ini yang kembali menyuguhkan horor dalam berbagai nuansa mulai dari gore hingga comedy sekalipun.
Sayangnya bakat besar masing-masing dari Ekkasith, Kongkiat, Chookiat, Phawat tidak secara otomatis dapat menghadirkan kisah yang fresh dan enak diikuti. Keempat chapter dalam antologi kali ini tergolong gagal menampilkan kejutan-kejutan baru yang diharapkan bisa menohok para penontonnya. Yang tersisa kemudian hanyalah balutan segmen-segmen yang seperti kelimpungan mencari celah kreatifitas yang belum terjamah sebelumnya.
Favorit saya disini hanyalah chapter genap 2 dan 4. Hoo Aa Gong membalut komedi horor keluarga ala film Mandarin tahun 1980an (ingat Happy Ghost?) dengan cerdas. Karakterisasi para tokohnya pun mudah terbaca tanpa harus ada introduksi resmi seiring film berjalan. The Gift Shop For The Ones You Hate membangun konsep layaknya Final Destination yang dibumbui balas dendam. Penonton seakan diajak peduli pada nasib sang tokoh utama yang mengalami kondisi superparanoid.
Sedangkan chapter ganjil 1 dan 3 tidak meninggalkan kesan apapun. Clean-Up Day memang nyaris berhasil dengan ide-idenya tetapi terasa terlalu singkat untuk dapat meninggalkan shock teraphy yang kuat dalam benak penonton meski usaha di menit-menit terakhirnya boleh diapresiasi. Eerie Nights agak membosankan dalam bertutur dimana plotnya sudah berkali-kali digunakan dalam feature film yang berdiri sendiri.
Bagi anda yang berniat menyaksikan FOUR sebaiknya jangan berekspektasi kelewat tinggi apalagi berniat membandingkannya dengan dwilogi Phobia yang fenomenal itu. Film berjudul asli Lud 4 Lud ini justru lebih terasa sebagai proyek coba-coba yang untungnya masih mampu menyihir penonton lewat detail hal-hal kecil yang biasa terlewatkan oleh mata dan pikiran. Tidak percaya? Coba saja perhatikan secara seksama dalam perjalanan rollercoaster horor dua jam tersebut.

Durasi:
120 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter: