XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label kate hudson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kate hudson. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2012

A LITTLE BIT OF HEAVEN : Cancer Weeper That Trying Too Hard To Be Fun

Quotes:
Marley Corbett: Do you mind if I ask you a personal question?
Julian Goldstein: No.
Marley Corbett: Why do you not have a girlfriend?

Nice-to-know:
Dirilis di Amerika Serikat pada tanggal 4 Mei 2012 yang lalu.

Cast:
Gael GarcĂ­a Bernal sebagai Julian Goldstein
Kate Hudson sebagai Marley Corbett
Kathy Bates sebagai Beverly Corbett
Peter Dinklage sebagai Vinnie
Lucy Punch sebagai Sarah Walker
Rosemarie DeWitt sebagai Renee Blair
Whoopi Goldberg sebagai God


Director:
Merupakan feature film kedua bagi Nicole Kassell setelah The Woodsman (2004).

W For Words:
Tampaknya Kate Hudson adalah satu dari sedikit aktris Hollywood yang terus menerus terjebak dalam peranan komedi romantik. Beberapa berkualitas baik, beberapa tidak, tentunya kembali ke masalah selera. Kali ini ia kebagian tokoh Marley Corbett yang menderita kanker, penyakit yang sudah ribuan kali menjadi tema cerita dalam sebuah film. Sah-sah saja selama interpretasi karakternya variatif dan memberikan perspektif baru. Pesan saya, jangan tertipu dengan poster film ini yang terlihat ceria sehingga anda mengharapkan suguhan ringan nan manis antara Hudson dan Gael Garcia Bernal.

Eksekutif periklanan sukses, Marley hidup di New Orleans dengan sedikit kepusingan. Ia tidak mau terikat apalagi memiliki anak. Daya pikatnya sudah cukup membuat pria manapun bertekuk lutut. Sayangnya pemeriksaan kesehatan yang dijalaninya mendiagnosa Marley mengidap kanker yang mungkin akan merenggut nyawanya. Saat itulah ia bermimpi bertemu Tuhan yang menawarkannya tiga permintaan. Semangat hidup muncul kembali ketika dokter tampan Julian Goldstein yang merawatnya mulai memikat hati. Mampukah Marley memanfaatkan sisa waktunya secara maksimal?

Kekurangan utama jelas terletak pada skrip karya Gren Wells. Elemen drama, romansa, komedi tidak berhasil menyeimbangkan unsur kebahagiaan hingga kesedihan secara konsisten. Beberapa momen memang sudah diciptakan untuk itu tetapi tidak benar-benar menggugah penonton dalam merasakan keterikatan yang sama. Sutradara Kassell sukses menghadirkan esensi feminis lewat karakter Marley yang digambarkan wanita ceria, tegar dan cerdas meskipun dalam keadaan sakit sekalipun. Pergeseran kondisinya tercermin melalui pilihan baju dan warnanya yang semakin pudar, tak melulu ekspresi pucat dengan bahasa tubuh yang semakin lemah.

Hudson lagi-lagi menampilkan kesan happy-go-lucky woman dengan pergeseran cara pandang hidup dari menit awal hingga akhir. Malang, percintaannya dengan Bernal yang berakting datar justru terkesan dipaksakan dengan chemistry yang minim di antara mereka. Apakah penonton mudah dibuat percaya bahwa menizer seperti Marley bisa menyukai Julian tanpa mengindahkan keputusasaannya di penghujung hidup? Interaksi dengan orangtuanya sedikit banyak menguak latar belakang keluarga Marley yang menyebabkan sikap detachment nya tersebut. Acungan jempol bagi nama-nama senior Bates dan Williams sebagai pendukung yang tepat.

Tiga sahabat Marley menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Punch yang easy going dan eksentrik, DeWitt yang family minded dan protektif, Romano yang gay oriented dan suportif hingga sepakat mengundang Mr. “A Little Bit Of Heaven” alias Dinklage yang sukses mencerahkan suasana dengan pertukaran dialog dan adegan kocaknya bersama Marley. Cameo Whoopi Goldberg sebagai Tuhan tidak inspiratif meski dapat menggali sisi kemanusiaan Marley untuk benar-benar sadar sebelum terlambat. Mitos tiga permintaan yang ternama itu disini hanya sebatas lalu tanpa makna yang berarti. Gee!

Satu-satunya yang memorable bagi saya adalah konsep pemakaman riang yang diidamkan oleh Marley. There’s a FUN in funeral words. Exactly! Terkadang kepergian seseorang tak perlu ditangisi, jadikan kenangannya sebagai episode terindah yang tak akan terulang kembali. A Little Bit Of Heaven mungkin bisa membuat anda tersenyum dalam kesedihan, hanya saja inkonsistensi subplot dengan banyak karakter yang timbul tenggelam menjadikannya tidak memorable. Antusiasme dan kecantikan Hudson di tengah hiruk pikuk kota New Orleans yang stylish saja rupanya belum cukup.

Durasi:
108 menit

U.S. Box Office:
$10,011 till May 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 03 Agustus 2011

THE KILLER INSIDE ME : Pembunuh Psikotik Problema Perempuan

Quotes:
Sheriff Bob Maples: Name of Joyce Lakeland. Lives about four or five miles out on Derrick Road past the old Branch place.
Lou Ford: Oh, I know the old Branch place. She a hustling lady, Bob?
Sheriff Bob Maples: Well, I guess so, but she's - she's been pretty decent about it.



Storyline:
Hidup di Oklahoma pada akhir tahun 40an, wakil sheriff Lou Ford sepintas terlihat tenang dan berbudi pekerti yang baik. Saat bosnya sheriff Bob Maples menugaskan Lou untuk mengganggu pelacur bernama Joyce Lakeland, Lou malah terlibat percintaan panas yang dilakoni dengan seks setiap harinya. Saat Joyce menganggap Lou mencintainya, ia tidak tahu bahwa dirinya dimanfaatkan untuk menghabisi Elmer Conway, putra Chester Conway yang kaya raya di daerah tersebut. Pembunuhan demi pembunuhan keji pun dirancang Lou hingga bukti-bukti semakin memberatkannya. Namun Lou terbukti tetap tenang sampai saat-saat terakhirnya sekalipun.

Cast:
Pernah menerima nominasi Oscar untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik lewat The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford (2007), Casey Affleck bermain sebagai Lou Ford
Kate Hudson sebagai Amy Stanton
Jessica Alba sebagai Joyce Lakeland
Ned Beatty sebagai Chester Conway
Elias Koteas sebagai Joe Rothman
Tom Bower sebagai Sheriff Bob Maples
Simon Baker sebagai Howard Hendricks
Bill Pullman sebagai Billy Boy Walker

Director:
Pria kelahiran Inggris bernama Michael Winterbottom ini mengawali karir penyutradaraan lewat Forget About Me (1990).

Comment:
Dengan judul dan trailer yang demikian disturbing, rasanya konten film yang satu ini sudah dapat diprediksikan sebelum anda menonton filmnya. Diangkat dari novel karya Jim Thompson, konon produksi film ini sempat kocar-kacir akibat begitu banyaknya aktor-aktris yang drop off sebelum proses syuting dimulai. Pada akhirnya produser berhasil mendapatkan beberapa bintang under the radar yang juga kualitasnya tidak kalah.
Sejak awal, film memang tidak menyimpan suspensi apapun. Semua sudah terpampang secara jelas akan sepak terjang Lou Ford sebagai pembunuh keji berkedok keluguan. Yang menarik adalah bagaimana intensitas film dapat dipertahankan sambil membuat penonton penasaran akan closing brilian yang diharapkan. Inilah tantangan yang tidak mudah karena dibutuhkan komitmen antara sutradara dan cast yang harus saling bersinergi.
Casey Affleck terbukti tidak mengecewakan. Saya selalu menganggapnya aktor yang lebih versatile dibandingkan kakaknya yang jauh lebih populer. Lihat cara Casey membawakan peran Lou dengan karisma tersendiri, tenang nan menghanyutkan, hangat yang berdarah dingin. Bagaimana kenangan masa kecil demikian mempengaruhinya hingga tega menyiksa para wanita yang mencintainya itu. Kekerasan fisik yang dilakoninya begitu meyakinkan hingga membuat emosi penonton tercabik-cabik.
Alba dan Hudson sesungguhnya bukanlah aktris yang istimewa. Peran Joyce dan Amy memang tidak dominan tetapi sangat krusial saat berbagi layar langsung dengan Lou Ford. Sedangkan jajaran aktor senior macam Beatty, Koteas, Pullman, Bower, Baker samasekali tidak mengecewakan dengan karakternya masing-masing disini.
Sutradara Winterbottom sukses menjaga sisi artistik film yang dihadirkan dalam konsep noir tahun 40an sehingga atmosfernya teramat mendukung. Belum lagi sumbangsih musik oleh duet Cadbury dan Parmenter yang turut membangun suasana terlebih ketika Lou Ford “beraksi”. Esensi kekerasan yang dihadirkannya mungkin belum separah kinerja David Lynch ataupun Coen Brothers tapi sudah cukup realistis untuk mengganggu rasa kemanusiaan penonton.
Ending process yang diharapkan klimaks justru menjadi sedikit antiklimaks. Hal ini menurut saya disebabkan oleh durasi yang terlampau panjang (mungkin ada baiknya dipangkas 10-15 menit). Saat Lou Ford berusaha digiring memasuki kuburannya sendiri, bagian ini terasa kurang maksimal padahal seluruh tokoh kunci sudah berkumpul dalam satu frame. Belum lagi adegan ledakan yang terasa sekali spesial efeknya itu malah sedikit memancing tawa.
The Killer Inside Me mungkin dapat dikategorikan sebagai black comedy meski tidak banyak unsur humor yang dapat diangkat. Jelas bukan sebuah film yang dapat dinikmati mayoritas orang. Ini adalah sebuah contoh studi kasus bagaimana pikiran sakit seorang psikopat mampu menjerumuskannya ke dalam tindakan-tindakan di luar batas. Mudah-mudahan perilaku S/M yang disajikan secara gambling disini tidak menginspirasi anda untuk berbuat serupa!

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$214,966 till August 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 09 Juli 2011

SOMETHING BORROWED : Pertentangan Hati Taruhan Persahabatan

Tagline:
It's a thin line between love and friendship.

Storyline:
Rachel dan Darcy adalah dua soulmate sedari kecil meski keduanya berbeda kepribadian. Rachel selalu menyikapi serius hidupnya sebagai pengacara sedangkan Darcy sangat menikmati menit-menit hidupnya. Di ultah ke-30 nya, Rachel justru bertemu kembali dengan tunangan Darcy yaitu Dex yang merupakan teman seangkatannya semasa kuliah jurusan hukum dahulu. Rahasia mulai terkuak saat ternyata Rachel dan Dex sama-sama pernah memiliki ketertarikan satu sama lain. Satu malam dihabiskan bersama membuat mereka berusaha mencari tahu makna dari hubungan tersebut sebelum semua benar-benar terlambat oleh pernikahan.

Nice-to-know:
Colin Farrell sempat dikabarkan akan bermain sebagai Marcus dan Peter Facinelli sempat mencoba peran Dex sebelum keduanya batal.

Cast:
Terakhir menyaksikannya dalam ensemble drama He’s Just Not That Into You (2009), Ginnifer Goodwin bermain sebagai Rachel
Sempat mengisi peran The Killer Inside Me tahun lalu, Kate Hudson berperan sebagai Darcy
Colin Egglesfield sebagai Dex
John Krasinski sebagai Ethan
Steve Howey sebagai Marcus
Ashley Williams sebagai Claire

Director:
Merupakan film ketiga Luke Greenfield setelah terakhir The Girl Next Door (2004).

Comment:
Penemuan cinta yang dibalut dengan perebutan pria diantara dua wanita kerapkali menjadi formula lawas komedi romantik Hollywood sejak dulu kala. Namun jika ditambahkan dengan pembahasan kisah cinta yang belum sempat selesai di antaranya bisa jadi sebuah hal yang baru apalagi jika tergarap dengan baik. Penasaran dengan adaptasi novel berjudul sama karangan Emily Giffin ini? Jawabannya HARUS iya karena terbukti memberikan nuansa yang berbeda.

Rachel & Darcy - Persahabatan yang dibangun sejak kecil biasanya putus..
Darcy yang dominan lebih sering diamini oleh Rachel yang pengalah. Keduanya selalu berbagi momen-momen penting dalam hidupnya secara bersama-sama termasuk dirty little secrets yang tidak heran selalu datang dari Darcy. Yang hebat disini adalah persaingan keduanya tergolong sehat, tidak ada yang melakukan hal-hal buruk untuk saling mengungguli satu sama lain. Itulah sebabnya penonton mampu bersimpati pada keduanya di sepanjang kisah meski tak diragukan akan berpihak lebih pada Rachel.

Darcy & Dex - Aku membuatnya lebih menikmati hidupnya dan dia membuatku sedikit lebih serius..
Di mata orang, Darcy & Dex merupakan pasangan sempurna. Keduanya good looking dan terlihat saling melengkapi dari dua kepribadian yang berbeda sekalipun. Konsep itulah yang membuat keduanya (dan sebagian besar pasangan lain di dunia) memutuskan untuk bersatu. Jangan salah, kesempurnaan hanya terjadi dalam dongeng, bukan dunia nyata yang penuh realita. Terlepas dari manisnya sikap satu sama lain, rasanya penonton mampu melihat sedikit celah “serius” dalam hubungan mereka.

Rachel & Dex – Andai aku tahu lebih awal perasaan ini. Sekarang semuanya sudah terlambat..
Hati-hati, perkawanan pria dan wanita seringkali dibumbui oleh cinta terpendam salah satu pihak (bisa jadi keduanya!). Jika itu yang terjadi, pilihan ada di tangan anda untuk tetap meneruskan persahabatan atau mengungkapkan perasaan yang bisa merusak semuanya. Dex yang ragu-ragu untuk mendekati atau Rachel yang terlalu rendah diri untuk melangkah? Sikap mundur maju keduanya tak jarang membuat penonton gemas sekaligus geregetan.

Karakter Rachel terasa pas di tangan Goodwin, wanita cerdas, baik hati kalau mau dikatakan tak berdaya, yang menganggap kecantikannya patut disembunyikan. Begitu pula karakter Darcy yang sangat melekat dalam diri Hudson, wanita cantik yang tak jarang egosentris, manipulatif dan patut diuji intelektualitasnya. Interaksi keduanya sebagai soulmates menepis stereotype film-film sejenis yang menonjolkan kebodohan female fighting saat akhirnya harus saling berhadapan.


Tokoh Ethan tidak kalah menariknya disini sebagai satu-satunya yang berpihak pada Rachel. Krasinski menjiwainya secara fun dengan tingkah laku yang jujur dan permainan kata-katanya yang menohok. Tokoh Dex juga dihidupkan dengan charming oleh Egglesfield. Tipe pria don juan yang untungnya tidak memanfaatkan kelebihannya itu untuk menarik wanita tetapi lebih pada usahanya untuk menjadi pria yang utuh dalam mewujudkan mimpi-mimpi hidupnya.


Sutradara Greenfield terbilang berhasil menggarap chick flick yang dewasa dan tidak dangkal ini. Bagaimana potongan-potongan masa lalu dari ketiga tokoh utamanya bertukaran dihadirkan lewat sudut pandang Rachel. Hal tersebut mampu menjawab setiap pertanyaan yang mungkin timbul dari penonton sebelum memutuskan kemana mereka akan berpihak. Sinematografinya cukup apik meski setting The Hamptons House agak berlebihan penggunaannya. Komposisi musik latar yang timeless tergolong tepat mengisi setiap bold scenes nya untuk mempertajam suasana galau dan sedih yang silih berganti hadir.

Something Borrowed tidak hanya manis romantis tapi juga sendu provokatif. Drama bermakna yang kental dengan proses “introspeksi” dengan kandungan momen back and forth nya. Membuat anda berpikir dalam-dalam bagaimana menjadi seorang sahabat sempurna, kekasih ideal tanpa harus menyakiti? Atau menerawang apakah sebuah kesalahan dapat diperbaiki secara benar, untuk kemudian melangkah maju merengkuh impian-impian pribadi yang terpendam? Ahhh pertanyaan-pertanyaan dilematis yang pasti dihadapi setiap orang tanpa terkecuali sebelum rasa penyesalan itu benar-benar datang pada akhirnya..

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$38,438,310 till Jun 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 29 Januari 2009

BRIDE WARS : Perseteruan Dua Calon Pengantin Bersahabat

Quotes:
Emma-Your wedding's gonna be huge, just like your ass at prom.
Liv-Your wedding can suck it.

Cerita:
Liv dan Emma berteman baik sejak kecil dan selalu ada untuk satu sama lain baik dalam suka maupun duka. Walaupun mereka bertunangan dengan Nate dan Fletcher hanya berbeda beberapa jam saja, bersama-sama menyusun rencana pernikahan di tempat termewah yaitu Plaza Hotel di New York. Sayang karena kesalahan administrasi dan ketidak cocokan tanggal pernikahan membuat kedua pengantin yang semula teman baik itu saling berkompetisi satu sama lain untuk mempertahankan impiannya sejak kecil.

Gambar:
Bersetting sebagian besar di Massachusetts tempat Liv dan Emma tumbuh sampai menekuni dua profesi yang berbeda. Kemegahan The Plaza Hotel yang sesungguhnya di New York juga menjadi daya tarik tersendiri.

Act:
Anne Hathaway melejit melalui debutnya dalam film remaja produksi Disney, The Princess Diaries (2001) sebagai Mia Thermopolis. Setelah itu ia berhasil menanggalkan imagenya dan terlibat dalam beberapa peran wanita dewasa, termasuk di film ini sebagai Emma yang menghadapi keraguan pernikahan dengan suami sekaligus teman baik sesame guru, Fletcher yang diperankan oleh Chris Pratt.
Pernah mendukung serial televisi remaja sukses Party Of Five, Kate Hudson disini memerankan Liv, wanita karir yang sepintas terlihat sempurna kehidupannya termasuk saling mencintai dengan calon suaminya Nate yang dimainkan oleh Bryan Greenberg.
Didukung pula oleh aktris senior Candice Bergen sebagai Marion St Claire dan Steve Howey sebagai Daniel, kakak kandung Liv.

Sutradara:
Gary Winick yang pernah sukses dengan Charlotte’s Web (2006), kali ini kembali pada genre drama komedi romantis dengan andalannya dua Hollywood’s sweethearts masa kini, Hathaway dan Hudson.

Komentar:
Melihat premis dan cast Bride Wars awalnya cukup menjanjikan. Tetapi saat menyaksikan dan memasuki menit ketiga puluh sampai menjelang akhir, saya merasa kecewa. Apa lacur? Hudson dan Hathaway berakting egois dengan cara kotornya masing-masing untuk menjatuhkan sesama selayaknya genre komedi hitam tetapi apa yang mereka perlihatkan terasa sangat dipaksakan dan tidak natural. Sebagai komedi romantis yang ringan, seharusnya film ini bisa menghibur. Sayangnya tidak didukung eksplorasi cerita dan gaya penyutradaraan yang maksimal. Alhasil level Bride Wars jauh di bawah genre serupa dan akan dengan mudah terlupakan oleh penonton.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$58,715,510 till May 2009

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 06 Desember 2008

MY BEST FRIEND'S GIRL : Cinta Itu Jujur Sekaligus Kejam

Quotes:
Tank-I would kick you in the ass, but my foot might get sucked in.
Alexis-Well I would kick you in the dick, but my foot might get Herpes.

Cerita:
Tank yang menangani klaim perusahaan sehari-harinya juga berprofesi rahasia sebagai pasangan kencan yang buruk dengan bayaran tinggi, atas inisiatif para mantan kekasihnya dengan harapan para wanita itu akan kembali pada pelukan mereka. Hebatnya, ia selalu sukses memberikan kencan mimpi buruk pada wanita malang tersebut hingga ia menghadapi ujian terbesar saat harus mengencani Alexis atas prakarsa teman sekaligus saudara jauhnya, Dustin. Di luar dugaan Tank dan Alexis saling tertarik sehingga Dustin harus mencari cara agar ia tetap berkesempatan mendapatkan gadis impiannya kembali. Bagaimana akhir dari kisah cinta segitiga ini?

Gambar:
Setting perkantoran dan suburban Amerika diperlihatkan dengan jelas di film ini lengkap dengan kehidupan dan kebiasaan sehari-harinya.

Act:
Hampir tidak ada yang berbeda dari semua film yang diperankannya, Dane Cook kembali berakting sebagai pria yang berkelakuan menyebalkan namun berhasil memperbaiki semuanya di akhir film.
Kate Hudson, the new America’s sweetheart seperti biasa tampil manis sebagai gadis cantik nan menyenangkan.
Jason Biggs tampaknya masih terjebak pada peran pria lugu, clumsy yang tidak tahu bagaimana menjerat hati wanita.

Sutradara:
Nama Howard Deutch tentunya sudah tidak asing lagi dengan genre komedi. Di film ini, formula drama komedi Hollywood kembali diaplikasikannya dengan ide dan visi Dane Cook yang juga bertindak sebagai produser. Hasilnya memang tidak jelek tapi sejujurnya tidak menawarkan sesuatu yang baru.

Komentar:
Lelucon di film ini memang tergolong kasar dan dirty, khas Dane Cook yang kabarnya tidak disukai oleh publik Amrik sana. Sebagai hiburan ringan, anda yang menyukai film sejenis American Pie atau pernah menonton Employee Of The Month, bisa jadi menyukai film ini. Untuk sedikit nilai tambah, fun juga menyaksikan beberapa gagasan kencan buruk yang mungkin saja bisa anda terapkan jika terpaksa :D

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office (till end of Nov):
$18,035,467

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!