XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label irish bella. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label irish bella. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 April 2011

KUNTILANAK KESURUPAN : Penulisan Biografi Artis Mengundang Hantu

Quotes:
Maya-Kunti lapar gak, Maya masak nih, ada pepes anjing..

Storyline:
Momon menawarkan Wesley untuk menulis biografi artis tenar bernama Indra Devian dengan bayaran tinggi. Tanpa ragu karena novel buatannya juga sedang stuck, Wesley menerima tawaran itu. Sayangnya sejak saat itu, Wesley dan teman-temannya masing-masing Kevin, Dylla, Gizka tak terkecuali pembantunya Maya mendapat gangguan bertubi-tubi dari kuntilanak dan pocong. Bahkan adik kesayangannya, Alice mendadak menghilang. Apa sesungguhnya yang diinginkan kuntilanak tersebut? Adakah hubungannya dengan Indra Devian sebenarnya?

Nice to know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan screeningnya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 12 April 2011.

Cast:
Guntur Triyoga sebagai Wesley
Fero Walandouw sebagai Kevin
Irish Bella sebagai Alice
Reymond Knuliq sebagai Momon
Aziz Gagap sebagai Maya
Julia Perez

Director:
Film keempat Nayato di tahun 2011 ini setelah terakhir Virgin 3 kurang dari sebulan yang lalu.

Comment:
Another title, same storyboard. Jika anda melihat trailernya, saya katakan itu sudah jauh lebih penting daripada isi filmnya sendiri. Percayalah akan review saya berikut ini. Namun jika anda tetap penasaran tidak ada salahnya menyaksikan sendiri. Toh kita semua datang ke bioskop untuk mendapatkan hiburan terlepas dari perasaan puas/tidak yang muncul setelahnya.
Sutradara Nayato masih juga menggunakan template-template favoritnya yaitu kamar, rumah, kampus, hutan yang sama persis dengan karya-karya sebelumnya. Yang berbeda hanyalah sound effect rusak yang sengaja dibelinya untuk memekakkan seisi gedung bioskop. Mudah-mudahan anda tidak perlu ke Dokter THT sehabis menyaksikannya karena tentunya akan menghabiskan lebih banyak uang dibandingkan tiket bioskop yang tidak seberapa.
Masih ingat dengan cast Pocong Ngesot? Tiga diantaranya kembali lagi disini dengan peran yang sangat serupa yakni Aziz Gagap, Fero Walandouw, Reymond Knuliq tetapi dengan nama yang berlainan. Ditambah dengan dua bintang baru kesayangan Nayato yaitu Irish (Heart 2 Heart) dan Guntur (Gaby dan Lagunya). Kesemuanya seakan-akan diinstruksikan untuk berakting senorak dan selebay mungkin, tanpa peduli perasaan penonton yang sudah sangat terganggu.
Jika anda menganggap hanya kuntilanak yang menjadi momok disini, salah besar! Ia bertandem dengan pocong bahkan saling membagi tugas untuk menakut-nakuti orang-orang tertentu. Sungguh kerjasama yang baik walaupun pada akhirnya kemenangan mutlak tetap di tangan manusia. Betapa tidak, si kunti dan si pocong menjadi “bulan-bulanan” mulai dari disembur, ditendang, dikentutin, ditampol, kejeduk pintu dsb. Satu-satunya yang cukup manusiawi hanya pada saat si kunti digendong oleh Aziz Gagap ke dapur. Lucukah semua itu? Saya cuma bisa berkata, “Memprihatinkan!”
Kekurangan lain yang juga kentara adalah editingnya yang teramat kasar. Saya tidak menangkap manfaat pembagian scene per scene yang ujung-ujung selalu dipotong begitu saja, selayaknya stripping video klip gagal tapi tetap dipaksakan tayang demi menghabiskan durasi. Itulah minus terbesar yang saya tangkap ketika menonton Kuntilanak Kesurupan. Tak hanya mempertanyakan logika cerita tetapi juga penggunaan judul yang demikian. Dan jangan buru-buru meninggalkan bioskop setelah credit title bergulir untuk mendapatkan jawabannya (jika dirasa perlu)!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 15 Maret 2011

VIRGIN 3 : Satu Malam Mengubah Segalanya

Storyline:
Demi merayakan malam terakhir Putri di Jakarta sebelum bertolak ke Melbourne, Dini, Tika dan Sherry nekad masuk ke klab malam yang eksklusif atas bantuan seorang fotografer bernama Tyo. Keempat remaja cewek yang masih belia dan minim pengalaman itu segera menarik perhatian sejumlah pria hidung belang dengan berbagai motif yang mulai mencekoki mereka minuman dan obat-obatan. Lewat serangkaian kejadian, keempatnya kemudian terbangun di sebuah kamar mewah di pagi hari dalam keadaan mabuk dengan luka berdarah di sekujur tubuh. Belum lagi kemunculan seorang pria asing yang belakangan diketahui bernama Allan di toilet hotel tersebut. Apa yang sesungguhnya terjadi semalam?

Nice to know:
Diproduksi oleh Starvision dan gala premierenya dilangsungkan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 15 Maret 2011.

Cast:
Irish Bella sebagai Sherry
Alex Abbad sebagai Allan
Fero Walandouw sebagai Ben
Gege Elisa sebagai Tika
Shapira Indah sebagai Dini
Ynessa Ioa Gaffar sebagai Putri
Raffi Ahmad

Director:
Film ketiga bagi Nayato di tahun 2011 ini setelah dua film bergenre horor komedi.

Comment:
Tidak butuh waktu lama bagi Nayato untuk kembali menghadirkan drama remaja yang berlatar belakang seks bebas. Dan tidak usah kaget jika franchise Virgin yang awalnya diprakarsai oleh Hanny R. Saputra mulai saat ini akan diklaim olehnya. Jika pada sekuelnya tahun lalu bersubtitle Bukan Film Porno maka sekuel keduanya ini bertajuk Satu Malam Mengubah Segalanya. Mungkin beberapa di antara anda mulai berpikir jika skenario yang ditulis oleh Cassandra Massardi ini jangan-jangan jiplakan The Hangover? Hm, jangan terlalu cepat menyimpulkan.
Saya sendiri sebetulnya lebih suka memberi subjudul Clubbing Satu Malam karena lebih dari separuh durasinya setting dihabiskan di klab malam dengan musik menghentak-hentak. Berbagai jenis dan bentuk muda-mudi sibuk berdansa, minum, lalu lalang dengan pakaian minim nan mencolok mata. Seakan gemerlap kehidupan benar-benar tertuang disana walaupun motif masing-masing belum tentu sama, bisa baik, bisa jahat. Seabu-abu warna seragam empat tokoh remaja putri kita disini.
Tak dipungkiri jika Irish, Shapira, Gege, Ynessa memang camera-face sekali. Nilai jualnya ditambah dengan kulit putih, wajah Indo dan juga berbodi yahud. Namun sedikit mengganggu mendengar mereka berdialog dengan cepat dan tak jarang berteriak akibat frustrasi. Seperti biasa Nayato tidak banyak memberikan ruang akting yang cukup bagi artis-artis barunya. Beruntung Alex Abbad masih bisa mencuri perhatian dengan peranan yang lain dari biasanya, kesan misterius cukup berhasil dipertahankannya di sepanjang film. Belum lagi Raffi yang tampil sekilas sebagai cameo penjual burger di sekolah.
Tampaknya Nayato kali ini sedikit bereksperimen dengan petualangan semalam suntuk yang menggunakan alur linier dengan berbagai subplot sederhana. Namun tak jarang shaky handheld camera semakin melelahkan mata untuk terus mengikuti sampai habis. Entah angin surga mana yang merasuk ke kepalanya, isu human trafficking dibahas juga di bagian ending. Untuk mempertegas maksud dan tujuannya, digunakanlah tulisan besar dengan huruf warna merah yang seharusnya tidak perlu.
Terlepas dari berbagai kekurangan tersebut di atas dan juga beberapa stereotype film-film bergenre sejenis yang masih ditemui, Virgin 3 sebetulnya masih dapat dikatakan lumayan menarik untuk disimak. Komposisi Tya Subiakto yang mengisi musik scoring nya terasa pas membangun mood film yang turun naik. Nuansa depresi tidak sampai lekat disini tetapi rasanya cukup menyampaikan untuk pesan moral yang dibidik khusus remaja belasan tahun yang seringkali mencoba hal-hal baru di luar kebiasaan mereka.

Durasi:

80 menit

Overall:

6.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 09 November 2010

HEART 2 HEART : Melodrama Cinta Remaja Melankolis

Storyline:
Lewat sahabatnya, Indah berjumpa dengan Pandu. Keduanya tertarik satu sama lain sejak awal 3 hari kemudian mereka saling berbagi kasih di hutan, tepi danau, kebun teh dan tempat-tempat indah lainnya di sekitar villa milik orangtua Indah. Keduanya sepakat akan melanjutkan kisah tersebut di Jakarta dimana Indah lebih dulu berangkat baru disusul Pandu. Sayangnya di Jakarta, Indah sudah dijodohkan oleh pilihan mamanya dengan Ramon. Pandu hanya bisa menggigit jari dan menatap dari kejauhan. Malang tak dapat ditolak, Indah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan pita suara dan penglihatannya yang membuatnya jadi sensitif dan harus hidup menyendiri di villa. Akankah Pandu dapat mengembalikan keceriaan Indah?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kharisma Starvision Plus dan gala premierenya dilangsungkan di Cilandak 21 tanggal 8 November 2010 yang lalu.

Cast:
Aliff Alli sebagai Pandu
Irish Bella sebagai Indah
Argatama Levy sebagai Ramon
Arumi Bachsin sebagai Kakak Indah
Wulan Guritno sebagai Mama Indah
George Taka sebagai Papa Indah
Indah Permatasari sebagai Sahabat Indah

Director:
Rasanya baru minggu lalu Nayato Fio Nuala berusaha “menghibur” para penikmat film Indonesia dengan Gaby dan Lagunya.

Comment:
Setidaknya saya perhatikan ada 3 hal yang coba dijual disini. Pertama, ini adalah buah tangan Titien Wattimena, seorang penulis scenario handal yang sudah diganjar penghargaan festival film dalam negeri. Kedua, kehadiran kolaborasi Melly dan Anto Hoed absen dari kontribusi mereka mengisi soundtrack layar lebar. Ketiga, dua bintang muda yang baru pertama bermain film dan cukup eye-candy yaitu Aliff dan Irish memulai debutnya disini.
Plus faktor, Heart milik Starvision beberapa tahun lalu lumayan sukses setelah disuguhkan akting apik trio Nirina Zubir-Irwansyah-Acha Septriasa. Film ini bisa dibilang kelanjutannya, sama halnya seperti yang dilakukan Nayato dalam Virgin 2 : Bukan Film Porno. Dan hasilnya juga tidak jauh berbeda yaitu sebuah sekuel yang lemah dalam eksekusi cerita tetapi cukup menjual dari sisi sinematografi.
Statement barusan sekaligus meluluh lantakkan ketiga hal tersebut di atas. Jalinan skenario Titien yang sedemikian melankolis menjadi tidak berarti lagi. Kerja keras Melly-Anto yang begitu mendayu-dayu seakan bertabrakan dengan konsep scene yang dihadirkan. Usaha giat Irish dan Aliff dalam menyuguhkan akting yang baik terkesan sia-sia karena stereotype karakter film-film Nayato benar-benar sudah baku, apalagi mereka masih miskin pengalaman sehingga terbawa arus begitu saja.
Betul sekali, lagi-lagi Nayato menjadi diktator ulung dalam sebuah proyek film! Potensi apapun yang dimiliki tidak berhasil mengubah cayanya menyutradarai dengan blueprint yang itu-itu saja. Ibarat peribahasa karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Maka bisa saya ganti menjadi karena telanjur rusaknya susu sebelanga, tidak akan ada artinya lagi jika ditambahkan beberapa tetes madu manis ke dalamnya. Itulah yang terjadi pada Heart 2 Heart yang cukup membosankan dan terkadang ada kesan misinterpretasi skrip. Walau demikian melodrama ini tidak sampai hancur lebur, toh kisah cinta remaja dengan latar belakang setting yang indah masih dapat menjual selayaknya posternya yang begitu manis. Betul?

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa