XL #PerempuanHebat for Kartini Day
THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day
Rabu, 09 Mei 2012
HATTRICK : Serba-Serbi Idealisme Dan Patriotisme Futsal
Minggu, 02 Oktober 2011
SIMFONI LUAR BIASA : Tujuan Musisi Anak Berkebutuhan Khusus
Rinjani to Jayden: You are young enough to try anything once!

Storyline:
Kehidupan keras untuk menembus cita-cita sebagai musisi dialami Jayden di Mania sehingga tantenya mengutusnya untuk kembali ke Jakarta. Dengan berat hati, Jayden pun bertemu kembali dengan ibunya Marlina beserta ayah tirinya Hans dan adik tirinya Carissa yang sangat menyambutnya. Demi mengisi kekosongan waktu, Jayden setuju mengajar di Sekolah Luar Biasa pimpinan Ibu Rinjani. Disanalah ia berkenalan dengan murid-murid spesial seperti Amelia, Zaky, Arda, Dafa, Jemima, Rangga, Juan, Cindy dsb. Belum lagi guru seni Laras, guru olahraga suportif Pak Bimo hingga guru ilmu pengetahuan sinis Pak Dimas. Berhasilkah Jayden mempertahankan mimpinya sendiri sekaligus mewujudkan mimpi anak-anak berkebutuhan khusus tersebut pada akhirnya?
Nice-to-know:
Diproduksi oleh Nation Pictures & Primetime dimana gala premierenya dilangsungkan di Robinson’s Movie Galleria – Filipina pada 31 Juli 2011.
Cast:
Christian Bautista sebagai Jayden
Ira Wibowo sebagai Marlina
Ira Maya Sopha sebagai Rinjani
Maribeth sebagai Tante
Vallery Thomas sebagai Carissa
Verdy Solaeman sebagai Pak Dimas
Gista Putri sebagai Laras
Stanly Saklil sebagai Pak Bimo
Sophie Navita sebagai Helena
Director:
Merupakan film pertama Awi Suryadi di tahun 2011 setelah 2 film di tahun 2010 yang dirilis dalam pecan yang sama.
Comment:
Kebintangan seorang solois pria tampan asal Filipina bernama Christian Bautista ini bisa saja dieksploitasi secara berlebihan dalam sebuah film. Untungnya produser Delon Tio yang mempercayakan Maggie Tjiojakin dan Awi Suryadi sebagai penulis skenarionya memilih untuk mengetengahkan perjalanan hidup seorang pria muda dalam mengejar mimpi masa depan sekaligus menjawab pertanyaan masa kini dan masa lampau yang kerap menghinggapi pikirannya.
Bautista memberikan penjiwaan yang cukup natural. Rasa frustrasinya sebagai musisi gagal di awal cerita perlahan-lahan bergeser menjadi guru musik teladan bagi anak-anak berkemampuan khusus melalui proses interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Karakter Jayden di tangannya memang tidak luar biasa dalam artian kelas festival internasional tetapi rasanya sudah dalam kapasitas yang mencukupi kebutuhan. Menarik mendengarnya berbicara dalam 3 bahasa secara bergantian dengan cukup fasih.

Penampilan anak-anak SLB Cahaya Mulya juga lumayan memikat. Masing-masing tidak berusaha mengambil simpati penonton dengan tingkah lakunya yang “unik” melainkan kepolosan yang tulus sesuai usia masing-masing. Coba dengarkan aksi memukau mereka dalam menyanyikan Kidung ataupun Imagine lewat pembagian suara alto dan sopran yang merdu di telinga.
Gista, Verdy dan Stanly memberikan sumbangsih yang tidak sedikit sebagai staf pengajar dengan ragam karakter yang variatif. Ira Wibowo yang sebetulnya terasa terlalu muda sebagai Ibu Jayden mampu memposisikan dirinya sebagai istri, orangtua dan juga ketua yayasan sekolah luar biasa itu. Ira Maya seperti biasa menyuguhkan akting berkelas sebagai Kepsek yang arif dan berwibawa.

Dengan sisi-sisi positif yang saya sebutkan di atas, bukan berarti film ini tanpa cela. Kekurangan yang paling mencolok adalah eksplorasi karakter anak-anak yang dirasa amat kurang. Hanya 1-2 anak yang namanya patut diingat, itupun dengan latar belakang yang minim. Pertimbangannya bisa jadi karena film ini berkisah tentang Jayden sehingga hal tersebut dirasa tidak perlu. Belum lagi proses membentuk anak-anak luar biasa itu menjadi kelompok vokal terkesan terlalu instan.
Simfoni Luar Biasa di tangan Awi hadir dalam sinematografi klasik ala tahun 80an. Meski demikian film musikal ini mampu bertutur dengan nyaman sehingga minus yang ada menjadi termaafkan. Sisi emosionalnya cukup menghangatkan hati walau tidak sampai menyentuh batas tertinggi yang diharapkan bisa mengharu-biru penonton. Setiap manusia boleh saja memiliki tujuan hidupnya masing-masing tetapi yang terpenting adalah bagaimana ia beradaptasi dengan segala hambatan yang dihadapi sebelum mencapai garis finish.
Durasi:
105 menit
Overall:
8 out of 10
Movie-meter:
Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa
Rabu, 31 Agustus 2011
GET MARRIED 3 : Ketidaksiapan Ayah Kekhawatiran Ibu
Rendy: Kalo tahu penontonnya banyak, aku bisa lebih banyak atraksi tadi

Storyline:
Bertahun-tahun sudah, Mae dan Rendy kini sudah memiliki tiga bayi yang lucu-lucu, masing-masing diberi nama Mark, Oprah dan Hanung. Kebahagiaan itu tidak bertahan lama karena Mae malah mengalami baby blues syndrome yang membuatnya terus-menerus menangis. Rendy yang khawatir langsung mengutus Guntoro, Beni, Eman untuk menemani keseharian Mae. Campur tangan juga datang dari ayah ibu Mae serta ibu Rendy yang memiliki gayanya masing-masing. Semua mulai porak poranda saat Rendy nekad mendatangkan Eyang Mae dari Arab hingga berujung pada pertengkaran Mae dan Rendy karena Rendy dinilai tidak becus sebagai ayah dan suami sekaligus. Akankah keduanya dapat kembali rukun seperti sediakala?
Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision Plus dimana screeningnya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 25 Agustus 2011.
Cast:
Nirina Zubir sebagai Mae
Fedi Nuril sebagai Rendy
Amink sebagai Eman
Ringgo Agus Rahman sebagai Beni
Deddy Mahendra Desta sebagai Guntoro
Meriam Bellina
Jaja Mihardja
Ira Wibowo
Ratna Riantiarno
Director:
Merupakan film ke-8 Monty Tiwa yang diawali lewat Maaf, Saya Telah Menghamili Istri Anda (2007).
Comment:
Satu sekuel sudah merupakan pertaruhan tersendiri, apalagi jika tidak melampaui kesuksesan prekuelnya dari segi kualitas maupun perolehan jumlah penonton. Jika dilanjutkan dengan sekuel keduanya? Nah ini tentu keberanian seorang produser bernama Chand Parwez Servia untuk melakukannya. Namun melihat Get Married sudah memiliki fan base khusus, rasanya keputusan tersebut tidak dibuat secara mentah-mentah.
Musfar Yasin yang mengangkat tema cinta beda kasta dalam Get Married, tugasnya dilanjutkan oleh Cassandra Massardi dalam dua sekuelnya kemudian yang masing-masing mengetengahkan topik kesulitan memperoleh keturunan dan problematika baby blues syndrome. Yang terakhir ini boleh dibilang terlalu ringan untuk dieksplorasi panjang lebar, untuk itu dibutuhkan tambahan konflik lawas nan klise dalam sebuah hubungan suami istri yaitu kepercayaan!
Pergantian sutradara dari Hanung Bramantyo ke Monty Tiwa juga memberikan kontribusi yang signifikan. Monty di mata saya adalah sutradara bertalenta yang angin-anginan, ia bisa bagus dengan karya jelas, bisa juga buruk dengan karya tak tentu arah. Kali ini Monty tampaknya sudah berusaha menyuguhkan unsur drama dan komedi tontonan keluarga yang seimbang sehingga minus-minus yang terjadi tidak boleh ditimpakan lagi kepadanya.
Entah mengapa tokoh Rendy “ditakdirkan” untuk selalu berganti dari awal sampai sekarang. Jika sebelumnya dua tokoh “Indo”, kali ini pilihan justru jatuh pada Fedi Nuril! Khusus akting, saya tidak meragukan aktor yang satu ini tetapi membayangkannya memiliki pesona yang sama dalam balutan komedi? Nanti dulu. Terbukti sepanjang satu setengah jam, Fedi tidak konsisten melakukannya, terkadang lucu (sebagian atas bantuan dialog) sedangkan sisanya canggung!
Lain halnya dengan Nirina, Desta, Ringgo, Amink yang sudah memiliki keterikatan dengan peran masing-masing. Jujur saja tidak ada yang baru dari apa yang mereka tampilkan disini. Fakta bahwa semua faktor komedik yang sudah terduga itu memang tidak lagi menyenangkan untuk sebuah film komedi. Apabila digambarkan dalam grafik, maka tinggal bayangkan sebuah kurva menukik tajam yang tinggal menunggu waktu untuk keluar dari titik nadir sekalipun.
Meski secara keseluruhan masih memenuhi standar hiburan film liburan, Get Married 3 terasa sekali menyeret penonton (yang sebenarnya datang ke bioskop sudah dengan perasaan apatis) untuk terus mengikuti sajian basi dengan bumbu yang tidak lagi menggugah selera. Andai masih ada pihak yang berupaya memperpanjang nyawa franchise ini di kemudian hari, saya sangat merekomendasikan format sinetron saja. Setidaknya penghasilan dari slot iklan adalah ide yang jauh lebih baik dibandingkan merampok orang untuk membayar karcis bioskop.
Durasi:
90 menit
Overall:
7 out of 10
Movie-meter:
Kamis, 02 Juni 2011
KENTUT : Pengharapan Sepele Puncak Persaingan Politik
Jasmera: Jadi kalo masih ada yang tergilas, itu wajar. Apalagi tertindas, itu juga masih wajar. Sebab kesengsaraan memang diciptakan untuk manusia..
Storyline:
Kabupaten Kuncup Mekar dipimpin oleh Bupati Anwar yang segera mengakhiri masa jabatannya. Dua kandidat kuat penggantinya adalah Patiwa dan Jasmera yang memiliki program masing-masing yang sangat bertolak belakang. Patiwa jelas idealis sedangkan Jasmera radikal dan keduanya harus menjalani serangkaian debat agar publik dapat menentukan pilihannya. Ketika sebuah insiden menimpa Patiwa yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit, Jasmera merasa berada di atas angin dan mulai menghalalkan segala cara. Kesembuhan Patiwa membutuhkan waktu dan harus ditandai dengan keluarnya kentut terlebih dahulu sebelum putaran kedua dimulai..
Nice-to-know:
Diproduksi oleh Citra Sinema dan gala premierenya diselenggarakan di PPHUI pada tanggal 30 Mei 2011 yang lalu.
Cast:
Deddy Mizwar sebagai Jasmera
Ira Wibowo sebagai Irma
Keke Soeryo sebagai Patiwa
Cok Simbara sebagai Dokter Ferru
Iis Dahlia sebagai Delarosa
Anwar Fuady sebagai Bupati Anwar
Rahman Yakob sebagai Rahman Sianipar
Hengky Tornando
Director:
Merupakan film ketiga bagi Aria Kusumadewa yang memenangkan gelar Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2009 di karya sebelumnya yaitu Identitas.
Comment:
Nyaris tanpa gaung tiba-tiba film ini muncul dengan judul satu kata yang sangat enteng. Namun melihat nama-nama di belakangnya, optimisme akan sebuah film lokal berkualitas pun mencuat. Siapa yang tidak kenal Deddy Mizwar? Dan kali ini ia bertandem dengan Aria Kusumadewa yang meskipun baru menghasilkan dua film sebelumnya tapi sudah diakui eksistensinya sebagai sutradara papan atas Indonesia.
Plotnya sendiri terdiri dari tiga babak yang mudah dicerna dan faktual dengan kondisi politik negara ini. Babak pertama, pengenalan dua kubu yang saling bersaing. Babak kedua, debat terbuka demi meyakinkan publik akan program masing-masing. Babak ketiga, keterlibatan banyak pihak dalam melakukan intervensi sosial politik terhadap kedua pihak tersebut. Lihat bagaimana segala kompleksitas tersebut tersaji lewat interaksi-interaksi cerdas dalam balutan dialog-dialog sinis di antara tokoh-tokohnya, tak jarang memancing tawa membahana audiens yang menyaksikannya.
Deddy menunjukkan kelasnya dalam peran Jasmera. Penampilannya yang sangat tidak sedap dipandang dengan segala jenis warna merah yang melekat di tubuhnya itu berbanding lurus dengan pola pikirnya yang mengagungkan poligami dan hedonisme yang bertanggungjawab. Tanpa lupa aksen dan gaya bicaranya tak jarang menyindir tokoh-tokoh masyarakat yang sudah dikenal luas. Tidak perlu saya sebutkan disini karena hanya akan memprovokasi tanpa dasar. Jauh bertolak belakang dengan peran Nagabonar yang idealis itu.
Keke yang mengawali karirnya di dunia modeling ternyata memikat dalam debutnya sebagai aktris ini. Peran Patiwa berhasil mencuri perhatian di paruh pertama film dimana sosok wanita keibuan yang arif dan bijaksana terbukti memenangkan hati calon pemilihnya. Ira Wibowo juga tak kalah konsisten sebagai asistennya yang bernama Irma. Lihat interaksinya dengan Dokter Ferry yang secara mengejutkan menandai kembalinya Cok Simbara di ajang layar lebar. Jangan lupakan pula kontribusi Rahman Yakob sebagai Kepala Satpam yang berkarakter unik itu.
Sutradara Aria kembali menggunakan pendekatan personal dalam membangun karakterisasi para tokohnya disini. Penegasan konflik di babak pertama dan kedua memang jauh lebih tajam dan menarik karena terpusat pada karakter Patiwa dan Jasmera saja. Sedangkan di babak ketiga, ia terkesan berupaya menjejali penonton dengan berbagai macam karakter dari yang paling penting hingga tidak terlalu penting. Hal ini menyebabkan film sedikit keluar dari jalurnya meski apa yang disuguhkannya tetaplah menarik untuk disimak.
Kentut merupakan suguhan satir yang sukses menyentil masyarakat kita sendiri. Persaingan kekuasaan dan kepentingan di tingkat Kabupaten ini jelas dapat diaplikasikan pada skala yang lebih besar lagi. Sayangnya Aria yang juga bertindak sebagai penulis skrip telanjur menganggap penonton sudah tahu bagaimana menyimpulkan endingnya sehingga memutuskan untuk mengakhirinya dengan lebih cepat tanpa banyak konklusi. Namun usahanya tetap harus diapresiasi karena menyajikan sesuatu yang berani sekaligus berbeda di jaman yang serba tidak kondusif ini.
Kentut memang tidak selalu berbau ataupun bersuara, tapi proses pembuangan gas itu sendiri tidak pernah dapat dipungkiri. Sama halnya seperti manusia dalam bersikap ataupun berpendapat, pasti memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai.
Durasi:
85 menit
Overall:
7.5 out of 10

