XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label comedy. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Juli 2018

BROTHER OF THE YEAR : Her Worst Enemy That Never Leaves

Original title:
Nong, Pee, Teerak

Quote:
Jane: Kau tak punya hak menghentikan aku menikah.
Chut: Kenapa tidak? Aku cuma takkan mengizinkanmu.


Nice-to-know:
Dalam film, Sunny dan Yaya memainkan karakter kelahiran Thai-French sedangkan Nichkhun Thai-Japanese. Aslinya Sunny adalah Thai-Singaporean-French, Yaya adalah Thai-Norwegian dan Nichkhun adalah American-born Thai-Chinese.

Cast:
Sunny Suwanmethanont sebagai Chut
Urassaya Sperbund sebagai Jane
Nichkhun sebagai Moji 
Anchuleeon Buagaew sebagai Ibu
Chanchalerm Manasaporn

Director:
Merupakan film keempat bagi Witthaya Thongyooyong setelah The Little Comedian (2015).

W For Words:
Selayaknya orangtua, kita tidak pernah bisa memilih siapa saudara kandung kita, tentunya anak tunggal adalah pengecualian. Anak perempuan ataupun laki-laki tentu saja sama di mata mereka yang melahirkan dan membesarkannya. Namun apakah di mata satu sama lain, mereka punya hak dan kewajiban yang sama untuk dapat saling mengisi? GDH yang dikenal sebagai pioneer dalam industri perfilman Thailand kali ini punya kisah menarik mengenai siblings, yang lagi-lagi dikemas dalam genre komedi romantik dengan cara yang unik.

Chut adalah perjaka ting-ting yang berkarir di bidang periklanan, yang memiliki kekasih Muay yang nyaris tak dianggapnya, yang kerap mabuk dan one night stand dengan wanita yang tak perlu diketahui namanya. Kebiasaan hidupnya berubah saat adiknya Jane pulang dari studinya di Jepang, yang dari segala sisi merupakan kebalikan 180 derajat dari sang abang. Bukan terpacu untuk berbenah diri, Chut malah berusaha menjatuhkan Jane yang segera meniti karir dan berencana menikah dengan kekasih Jepang yang baru dikenalnya, Moji.

Sejak awal kwartet Nontra Kumwong, Tossaphon Riantong, Witthaya Thongyooyong dan Adisorn Trisirikasem tidak membuang waktu untuk mengenalkan para tokohnya, melainkan langsung masuk ke dalam konflik yang kemudian membuka karakter mereka selapis demi selapis lewat presentasi situasi terkini dan juga cuplikan masa lalu. Stigma kakak yang wajib beri contoh kepada adik, atau adik yang harus nurut kepada kakaknya juga dihadirkan di sini. Keberpihakan yang dibangun dari pencapaian hasil sang kakak atau adik itu sendiri, memang tak jarang menimbulkan kompetisi di antara keduanya.

Thongyooyong yang juga duduk di bangku pengisah mampu memadukan gaya hidup bebas masyarakat Thailand dengan kultur moral masyarakat Jepang di jaman modern ini. Coba simak perilaku ibu, ‘bibi’, teman-teman kantor Chut dan bos, calon ibu mertua Jane yang cukup kontras. First act nya yang banyak diisi oleh adegan slapstick dijamin membuat anda terpingkal-pingkal. Sedangkan third act nya yang dramatis niscaya membuat anda menitikkan air mata. Perubahan tone yang signifikan tersebut mampu dijembatani dengan smooth melalui konflik personal Jane dan Chut yang turut berkembang.

Urassaya Sperbund alias Yaya adalah nama baru di dunia layar lebar tetapi kemampuannya memainkan rentang emosi mulai dari marah, kesal, bahagia hingga sedih patut diacungi jempol. Jane dengan cepat akan menarik simpati anda. Sebaliknya Chut yang menyebalkan diperankan dengan apik oleh Sunny yang tampaknya sudah tak asing dengan peran cowok slengean. Terlepas dari peran tipikal cowok baik-baik nan sempurna dan screentime yang terbatas, Nickhun tetap berhasil memberikan sensitifitas pria Jepang yang bertanggungjawab pada diri dan keluarganya ke dalam karakter Moji.

Sesungguhnya Brother Of The Year memiliki isu yang kompleks, yang patut dikaji dari berbagai sisi untuk mendapatkan sebuah obyektifitas yang sempurna. Namun Thongyooyong memilih cara-cara yang klise, yang dibangun melalui momentum pernikahan, untuk meluluhkan kesalahpahamanan di antara keduanya. Secara tontonan terbilang berhasil. Secara kehidupan nyata mungkin anda punya pengalaman sendiri. The point is, this movie served as a sweet reminder that “Brothers and sisters are as close as hands and feet. A friend, might also be an enemy that never leaves.”

Durasi:
124 menit

Asian Box Office:
$66.76 millio
n till Jun 2018 in Thailand

Movie-meter:

Rabu, 22 Juli 2015

BAJRANGI BHAIJAAN : Crossing Borders With A Heart

Quote:
Pawan: I don’t have a passport or a visa. But i promise, i’ll take Munni home myself. 

Nice-to-know:
Merupakan film keempat Salman khan dengan Kareena Kapoor.

Cast:
Salman Khan sebagai Pawan Kumar Chaturvedi / Bajrangi Bhaijan
Kareena Kapoor sebagai Rasika
Harshaali Malhotra sebagai Shahida / Munni
Nawazuddin Siddiqui sebagai Chand Nawab
Sharat Saxena sebagai Dayanand             
Najeem Khan

Director:
Merupakan feature film keempat bagi Kabir Khan setelah Ek Tha Tiger (2012).

W For Words:
Sama seperti Indonesia, Bollywood memiliki tradisi merilis film-film unggulan untuk menyambut Idul Fitri yang biasanya dibintangi oleh aktor besar. Kali ini giliran Salman Khan yang sudah berusia setengah abad untuk unjuk gigi paska pemenjaraan dirinya yang tertunda akibat kasus pembunuhan seorang pria tuna wisma. Well, we won’t talk further about that except his latest movie produced by Eros International, Kabir Khan Films, Rockline Entertainment and Salman Khan Films which collected 100 crore in just four days release. Amazing!












Seorang gadis cilik tuna wicara Pakistan berusia 6 tahun, Shahida tanpa sengaja terpisah dari keluarganya dan terdampar di India. Adalah mantan pegulat, Pawan yang tinggal di rumah kerabat ayahnya Dayanand, menemukannya dan kemudian menamakannya Munni. Pawan yang berniat menikahi Rasika menyanggupi tantangan untuk memulangkan Munni ke rumah asalnya walaupun harus melintasi perbatasan tanpa visa dan paspor. Pawan malah dituduh sebagai mata-mata dan jadi buronan. Wartawan lokal Chand membantunya dan menyebarkan kisahnya kepada publik.

Skrip yang digagas Prasad bersama Khan, Shaikh dan Hussain ini mesti diakui memang memiliki setup-setup kemanusiaan yang potensial mengetuk hati penontonnya. Modal yang kemudian didukung juga oleh directing skills mumpuni dari Khan yang begitu cekatan menangani setting sederhana hingga kompleks dengan grande. Karakter demi karakter diperkenalkan secara detail di paruh pertama sebelum pembahasan konflik antar negara yang mulai mencuat di paruh kedua. Toh film ini tidak berbicara politik bilateral melainkan perpaduan drama dan komedi dalam takaran yang pas tanpa harus terkesan preachy.
















Tidak seperti biasanya yang lebih mengandalkan otot, Salman di sini sukses menampilkan sisi rapuh selain kepolosan dan keteguhan hati seorang Bhaijaan. Si kecil Harshaali juga berhasil mencuri perhatian anda lewat sorot mata, ekspresi dan gesture yang sudah berbicara dengan sendirinya. Penampilan menawan Nawazuddin yang baru muncul setelah intermission mampu menghadirkan tawa lewat polah tingkah nya yang canggung tapi berhati baik. Sedangkan si cantik Kareena rasanya lebih berfungsi sebagai cameo dengan jumlah scene yang masih terbilang memadai.

Bajrangi Bhaijaan patut mendapat applause karena mengusung elemen patriotisme, cinta, kekeluargaan dan persaudaraan yang begitu emosional di atas segala batas yang ada. Terima kasih pada kontribusi musik Julius Packiam dan hits Pritam yang mendukung storytelling. Sekuens opening dan ending di pegunungan Kashmir bukan hanya indah tapi juga membuka dan menutup film secara brilian. Tak ayal, sajian blockbuster yang satu ini akan memenangkan hati banyak orang yang tak akan sungkan menitikkan air matanya. A hero with a heart? Definitely Salman’s best role to date!

Durasi:
154 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 18 Oktober 2012

GRABBERS : Enjoyable Creature Horror In Campy Ways


Quotes: 
Dr. Adam Smith: This is something completely different, something alien! In that it's undocumented, not from, you know...  

Nice-to-know: 
Sebelum syuting, sutradara Jon Wright mengajak Richard Coyle dan Ruth Bradley keluar minum dan memfilmkan keduanya saat mabuk. 

Cast: 

Richard Coyle sebagai Garda CiarĂ¡n O'Shea
Ruth Bradley sebagai Garda Lisa Nolan
Russell Tovey sebagai Dr. Adam Smith
Bronagh Gallagher sebagai Una Maher
Louis Dempsey sebagai Tadhg Murphy

Lalor Roddy sebagai
Paddy Barrett


Director: 

Merupakan feature film kedua bagi Jon Wright setelah Tormented (2009).

W For Words: 
Produksi keroyokan Forward Films, High Treason Productions, Irish Film Board, Nvizible dan Samson Films ini (lagi-lagi) mengetengahkan serbuan alien dalam wujud sejenis gurita. Ide yang muncul saat penulis skrip Kevin Lehane berkeliling dunia ala backpacker mendengar mitos bahwa memakan sejenis vitamin B yang disebut Marmite dapat menghindari gigitan nyamuk. Kala itulah ia berpikir bagaimana jika nyamuk mabuk setelah menyedot darah manusia. Premis itu kemudian dikembangkan menjadi skenario film Inggris berbujet 4 juta Poundsterling!

Sesuatu dari luar angkasa jatuh di perairan Irlandia yaitu kawanan gurita haus darah yang bisa meneror seantero warga di Pulau Erin. Petugas Garda lokal, Ciaran O’Shea bekerjasama dengan Lisa Nolan berupaya memecahkan misteri tersebut dengan mempelajari makhluk yang hanya bisa bertahan hidup dengan darah dan air itu. Ide gila yang muncul dari si pemabuk O’Shea adalah mengunci warga di bar Marley dan mengadakan pesta minum agar darah mereka terkontaminasi alkohol yang diyakini akan mematikan kawanan makhluk tersebut. Berhasilkah rencana tersebut? 

Harus diakui, gagasan film ini memang what the f*ck alias gila! Sutradara Wright mengeksekusinya dengan pas. Minimnya bujet memang terlihat dari sinematografi Trevor Forrest yang ala kadarnya, mengingatkan anda pada film-film sejenis di tahun 80-90an. Meski demikian intensitas thriller tetap terjaga yang terkadang diselingi oleh komedi situasi yang tidak direncanakan. Visual dan spesial efek  “gurita” jantan dan betina beserta telur-telur dan bayi-bayi mereka setidaknya terlihat meyakinkan di layar, menciptakan teror tatkala dibutuhkan mulai dari cipratan darah hingga kepala menggelinding.

Tokoh-tokoh dalam film ini juga norak dengan keunikan masing-masing. Dr. Adam Smith yang spontan dan pelaut Paddy Barrett yang eksentrik akan membuat kening anda berkerut dengan tingkah mereka. Belum lagi deretan aktor-aktris uzur yang seliweran dengan amat fun nya. Namun perhatian penonton jelas jatuh pada duet Garda yang likeable, O’Shea dan Nolan yang chemistry nya secara pas dihidupkan oleh Coyle dan Bradley. Pada akhir film, anda akan berseru untuk mereka dalam perjuangannya mengalahkan gurita jantan raksasa itu bagaimanapun caranya.

Berbagai referensi  lawas juga dipunyai film ini. Anda akan melihat beberapa homages baik dari adegan ataupun percakapan seperti  The War of the Worlds (1953), Jaws (1975), Alien (1979), Gremlins (1984), Tremors (1990) serta yang terbaru Slither (2006). Lupakan kemiripan premis karena unsur alkohol lah yang membuatnya berbeda! Semakin mabuk maka tingkah laku dan celotehan para penghuni pulau di pesisir ini akan semakin tak terduga, semakin membuat anda terpingkal meskipun tak semua lrish jokes tersebut dapat diterima oleh nalar.

Grabbers terbukti setia pada pakemnya yang tidak berusaha ambisius. Jenis hiburan yang sejak awal disetel ke level medium dan berhasil mencapainya dengan baik. Anda boleh menertawakan plotnya, mengolok-olok logikanya, memandang rendah production value nya tetapi pada akhirnya mengakui bahwa sisi hiburan film yang diputar pada Edinburgh Film Festival ini amat memadai. Pesan saya cuma satu, jangan berharap terlalu tinggi. Grab this movie before it’s over. You will know how to get drunk and have some fun moments.

Durasi: 
94 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 21 September 2012

TED : As Crazy As Its Charms


Quotes: 
Ted: [dressed in a suit and tie] I look stupid.
John: No, you don't, you look dapper.
Ted: John, I look like something you give to your kid when you tell 'em Grandma died.

Nice-to-know: 
Tak banyak yang tahu jika Mark Wahlberg dan Seth MacFarlane lolos dari tragedi 9/11 karena tidak naik pesawat yang menabrak World Trade Center pada waktu itu. Wahlberg sudah memesan tiket penerbangan American Airlines Flight 11 tapi memutuskan berkendara ke New York terlebih dahulu sebelum terbang ke California berikutnya. McFarlane sudah dijadwalkan di pesawat yang sama tetapi tertinggal 10 menit dan sempat melihat tabrakan tersebut ketika duduk di bandara.

Cast: 
Mark Wahlberg sebagai John Bennett
Mila Kunis sebagai Lori Collins
Seth MacFarlane sebagai Ted
Joel McHale sebagai Rex
Giovanni Ribisi sebagai Donny
Patrick Warburton sebagai
Guy

Director: 
Merupakan feature film debut bagi Seth MacFarlane yang lebih dikenal sebagai aktor dan penulis ini.

W For Words:
Setiap anak di belahan dunia manapun pasti pernah memiliki mainan kesayangan masa kecil. Berapa dari anda yang akan unjuk tangan jika saya sebutkan boneka teddy bear sebagai salah satu contohnya? Nyaris semua! Berapa dari anda yang, katakan saja, beruntung mendapati boneka teddy bear anda hidup? Tidak ada! Setidaknya imajinasi tersebut mampu divisualisasikan secara unik lewat kolaborasi Universal Pictures, Media Rights Capital, Fuzzy Door Productions, Bluegrass Films dan Smart Entertainment yang diperuntukkan bagi kalangan dewasa saja ini.

John Bennett kecil tidak pernah memiliki teman sampai orangtuanya membelikan boneka teddy bear pada hari Natal. Satu permintaan saat bintang jatuh terkabul, Ted hidup dan menjadi sahabat terbaik John.. sampai berusia 35 tahun! Empat tahun sudah, John menjalin hubungan kasih dengan Lori Collins yang secara status sosial dan pendapatan jauh di atasnya. Hal itu tidak mengurangi kemesraan mereka dimana John sendiri mulai berpikir untuk menikah. Masalahnya Lori tidak terlalu menyukai Ted yang dianggapnya sebagai penghambat. Bagaimana kelanjutan polemik dilematis ini?

Rasanya tinggal menunggu waktu bagi seorang berbakat seperti Seth MacFarlane untuk dapat mengeluarkan segenap potensi yang dimilikinya. Kesempatan itu tiba melalui film ini dimana ia bertindak sebagai produser, sutradara, penulis dan pengisi suara! Premis yang semula terdengar bodoh, absurd dan mustahil itu mampu dikejawantahkan secara brilian menjadi komedi slapstick bernuansa satir yang mampu mengundang tawa dan simpati dari penonton pada saat bersamaan. Semua karakter dalam film ini memiliki fungsi masing-masing untuk menjembatani setiap konflik yang ada.

Mark Wahlberg sukses menghidupkan tokoh pria dewasa John Bennett yang pecundang tetapi tetap pribadi yang menyenangkan, kawan dan kekasih yang setia. Mila Kunis memberikan persona tepat bagi wanita karir Lori Collins yang memiliki perencanaan dan masa depan yang cemerlang. Keduanya berbagi  chemistry yang believable, tidak luar biasa tapi cukup menerjemahkan problema apa yang kira-kira ada di antara mereka. Pihak antagonis berhasil dibawakan Giovanni Ribisi dan Max Harris sebagai ayah dan anak yang terganggu mentalitasnya. Selain itu Joel McHale juga memberikan kontribusi menarik lewat sosok atasan yang congkak dan kelewat percaya diri.

Polah tingkah Ted di sepanjang film memang efektif mengocok tawa. Anda tetap akan jatuh cinta padanya walau segila apapun kelakuannya. Adegan paling membekas dalam benak anda bisa jadi ketika Ted menunjukkan kemesumannya lewat bahasa tubuh nan eksplisit. Hilarious! Kinerja animasi dari Tippett Studio dan Iloura secara luar biasa mampu mewujudkan gerak bibir, mata, tubuh yang amat nyata layaknya manusia dalam ukuran mini. Alih suara dari MacFarlane turut memberikan “nyawa” tersendiri, terlepas dari betapa familiarnya formula sidekick yang digunakan sang creator dalam membangun sisi komedik yang diinginkan.
Berbagai referensi yang digunakan film ini memang lawas. Teddy Ruxpin adalah boneka beruang yang bisa berbicara dan menjadi mainan terlaris medio 1985-1986. Hm, Ted mungkin tidak “semanis” Teddy karena lebih suka mengisap ganja dan bermain perempuan. Masih ada sains fiksi petualangan klasik, Flash Gordon (1980) yang menampilkan Sam J. Jones sebagai dirinya sendiri. Sosok yang menjadi role model bagi John Bennett yang mendambakan kekuatan serupa untuk setidaknya mengubah hidupnya ke arah yang lebih baik. Manusiawi bukan?
Kelebihan utama Ted tidak hanya menjual kelucuan tapi juga definisi nyata tentang cinta dan persahabatan sejati yang begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari. SIapa yang tidak pernah ada di posisi John Bennett? Untuk itulah film yang menggunakan narasi linier layaknya komik bergambar itu memang lebih disegmentasikan untuk penonton pria dewasa. Satu pertanyaan antah berantah yang tak terjawab adalah jika Ted begitu terkenal, mengapa ia masih harus bekerja dan John masih kesulitan uang? In the end, not every moviegoers will fully appreciate this movie but surely everyone of them will love Ted, cute heart-warming bear who always know how to have fun and friends.

Durasi: 
106 menit

U.S. Box Office:
$217,838,900 till Sep 2012

Overall:out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 14 September 2012

THE WATCH : Absolutely Predictable Alien Watchers


Quote: 
Evan: [Looking at green gunge] What a second I've seen this stuff before.
Franklin: Had you just won a Nickelodeon Kid's choice award?   

Nice-to-know: 
Awalnya film ini dikabarkan berjudul "Neighborhood Watch".

Cast: 
Ben Stiller sebagai Evan
Vince Vaughn sebagai Bob
Jonah Hill sebagai Franklin
Richard Ayoade sebagai Jamarcus
Rosemarie DeWitt sebagai Abby
Will Forte sebagai Sgt. Bressman
Doug Jones sebagai Hero Alien


Director: 

Merupakan feature film kedua bagi Akiva Schaffer setelah Hot Rod (2007) yang lebih banyak menangani acara Saturday Night Live ini.

W For Words: 
Intensi filmmakers sedari awal sudah jelas yaitu mengusung genre sci-fi comedy. Namun apakah tema alien tidak basi karena sudah dieksplorasi berulang kali dalam berbagai cara? Tampaknya duo produser Shawn Levy dan Tom McNulty masih cukup percaya diri dengan kwartet kocak Ben Stiller, Vince Vaughn, Jonah Hill dan Richard Ayoade yang diharapkan mampu menjaga kekuatan box-office nya terlebih di pasaran Amerika Serikat dan sekitarnya. Let’s see if it still works around the corner even after changing its’ original title.
 
Senior manager Costco, Evan mendapati salah satu petugas securitynya terbunuh mengenaskan di lingkungan kerja. Hal ini membuatnya berinisiatif mengumpulkan tim siskamling yang ternyata hanya menarik Bob, Franklin dan Jamarcus. Mereka sepakat mengintai kompleks tempat tinggal setiap malam untuk membekuk pelakunya yang disinyalir psikopat atau bahkan binatang buas. Rumah tangga Evan sendiri sedang bermasalah dimana istrinya Abby sangat mendambakan anak. Apa reaksi mereka saat mengetahui bahwa dalang di balik semua itu adalah kawanan alien yang berniat menguasai bumi?

Seth Rogen dan Evan Goldberg yang terkenal dengan komedi karakteristik dalam film-film sebelumnya kali ini tidak mampu menyuguhkan skrip yang fresh dan unpredictable. Terlampau banyak aspek dalam film bergenre serupa yang sudah digunakan sebelumnya, termasuk baru-baru ini dari Inggris yaitu Attack The Block (2011). Invasi alien yang dikombinasikan dengan satir gagal mengundang tawa ataupun ketegangan yang dibutuhkan untuk menjaga minat penonton. Belum lagi sempilan dialog dan adegan vulgar disana-sini yang tidak inspiratif samasekali, cenderung membuat kening berkerut.
 
Vaughn dengan tipikal family guy yang menghadapi masalah dengan putrinya tidak memberikan hal baru. Sama halnya Stiller yang malah berupaya menghidupkan momen menyentuh dengan istrinya gagal menunjukkan kepemimpinan di antara grup mereka. Jika harus memilih dua yang setidaknya likeable adalah Hill yang tengah naik daun dan Ayoade yang sedikit rasis. Keduanya mampu membangkitkan unsur komedik spontan tanpa harus bersusah payah. Penampilan khusus Billy Crudup sedikit membantu saat semua kecurigaan bertumpu pada karakter tetangga yang diperankannya.

Tampilan kawanan alien yang menyerbu bumi itupun amat tipikal, tidak inovatif dan tidak menyeramkan. Semua sisi yang dapat dijual The Watch pun nihil tak tersisa. Film ini hanya diperuntukkan bagi anda yang benar-benar menggemari old faces like Stiller and Vaughn or new ones like Hill and Ayoade yang “diyakini” kaliber di bidang komedi. Beri sedikit kredit pada sutradara Schaffer yang sebenarnya berbakat, terlihat dari kesiapan berbagai departemen pendukung. Yeah, faktor mitos makhluk angkasa luar itu sendiri sampai kapanpun tetap mengundang rasa penasaran, mengingat bumi bukanlah satu-satunya planet di dalam sistem tata surya kita ini. Who knows what is over there?

Durasi: 
102 menit

U.S. Box Office: 
$33,998,900 till Sept 2012

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 16 September 2011

GOOD NEIGHBOURS : Sosialisasi Tetangga Motivasi Pembunuhan

Tagline:
You never know who's living right next door.


Storyline:
Tahun 1995 dimana referendum kedua yang menyatakan pemisahan kota Quebec dimulai. Musim dingin, pembunuh serial sedang mengintai kompleks tempat tinggal Montreal. Para penghuni apartemen tua termasuk si gadis pelayan Louise pun mulai was-was dan seringkali berdiskusi dengan sahabatnya yang lumpuh Spencer. Tak lama kemudian, Victor pun pindah kesana dan mulai tertarik pada Louise. Sedangkan suasana mulai memanas ketika wanita Perancis bernama Johanne menjadi terganggu dengan kucing-kucing Louise. Kini masing-masing harus belajar siapa yang harus dipercaya dan tidak.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Park Ex Pictures.

Cast:
Mulai dikenal setelah beberapa lakonnya dalam serial televisi, Jay Baruchel bermain sebagai Victor
Aktor Inggris ini mulai angkat nama lewat Underworld (2003), Scott Speedman berperan sebagai Spencer
Emily Hampshire sebagai Louise
Xavier Dolan sebagai Jean-Marc
Gary Farmer sebagai Brandt
Kaniehtiio Horn sebagai Johanne

Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Jacob Tierney setelah Twist (2003) dan The Trotsky (2009).

Comment:
Suka tidak suka, kita harus mengakui bahwa tetangga adalah orang terdekat kita di luar keluarga. Seringkali segala macam bantuan darurat justru dibutuhkan dari mereka. Tentunya hal ini hanya berlaku bagi lingkungan tempat tinggal yang tingkat sosialisasinya tinggi antar para penghuninya, bukan sekumpulan individualis yang justru menyimpan perasaan-perasaan negatif berlebihan terhadap satu sama lainnya. Mana yang anda pilih?
Tierney yang mengerjakan skrip hasil adaptasi novel Chrystine Brouillet ini mengusung tema komedi hitam yang dibumbui dengan thriller. Fokus cerita pada tiga orang kesepian yaitu Spencer, Victor dan Louise dengan karakteristik masing-masing. Mereka memiliki keterikatan batin satu sama lain yang semakin terungkap seiring berjalannya tempo film yang merambat perlahan. Proses mencapai tahap itu memang membutuhkan kesabaran anda dalam menunggu sekitar satu jam, nyaris dua pertiga durasi film secara keseluruhan.
Beruntung, tiga karakter utama disini berhasil menyuguhkan akting yang maksimal. Ada Baruchel yang selalu terlihat clumsy, selalu berniat baiknya terhadap semua orang di sekitarnya meski terkadang disalahartikan. Hampshire yang terobsesi kucing, selalu paranoid terhadap pembunuh serial yang memperkosa dan membunuh wanita-wanita seusianya. Speedman yang misterius, selalu bersikap sinis karena kelumpuhannya itu. Anda akan menerka-nerka, tokoh mana yang pada akhirny paling “krusial” alias pemegang kunci, terlepas dari rasa empati yang mulai tumbuh terhadap mereka.
Tierney yang juga dikenal sebagai aktor itu (termasuk sebagai Jonah disini) masih perlu mengasah kemampuannya dalam menyutradarai. Konsep apartemen kelas menengah di Montreal itu memang sukses dirombak sedemikian rupa menjadi sebuah panggung pertunjukkan. Namun intensitas film yang mengalir datar-datar saja bisa jadi membosankan bagi mayoritas penonton apalagi yang tertipu dengan teaser trailer “berkedok” thriller yang menggoda itu.
Good Neighbours adalah contoh nyata potret sekumpulan orang yang seakan-akan tidak ingin benar-benar berkumpul satu sama lain hanya karena berada di tempat yang sama. Film yang samasekali tidak bernilai buruk, kalau tidak mau dikatakan layak tonton, tetapi sayangnya tidak mampu mencapai klimaks yang diharapkan. Persembahan komedi bernuansakan seks yang dibangun di atas thriller berdarah-darah, mengombinasikan perasaan jenaka dan ngeri secara bersamaan. Lihat saja karikatural yang disuguhkan bersamaan dengan credit title bergulir, membuat anda berpikir ulang dari perspektif yang berbeda akan keseluruhan isi film.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$1,088 till Aug 2011 (limited showing)

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 22 Mei 2011

SEVERANCE : Outing Eksekutif Kantor Bertahan Hidup

Quotes:
Richard: I can't spell success without "u". And you, and you, and you...

Harris: There's only one "u" in success.

Storyline:
Perusahaan senjata multinasional Palisade Defence menghadiahi Divisi Sales nya dengan team-building outing di akhir pekan. Masing-masing Richard, Jill, Harris, Gordon, Steve, Maggie, Billy yang mendapati tempat mereka bernaung hanyalah pondok tua nan sederhana setelah ditinggal sopir bus yang merajuk. Konflik mulai terjadi saat kaki Gordon putus karena jerat binatang. Saat malam datang, mereka mendapati bahwa ada segerombolan pembunuh yang terobsesi akibat kegilaan perang mengintai nyawa mereka satu-persatu. Berhasilkah mereka lolos dari lokasi yang sudah seperti taman bermain tersebut?

Nice-to-know:
Proses casting berlangsung selama 4 bulan karena sutradara Christopher Smith menginginkan orang-orang yang tepat untuk ambil bagian disini.

Cast:
Angkat nama lewat serial tenar 24 (2002-2003), Laura Harris bermain sebagai Maggie
Danny Dyer sebagai Steve
Toby Stephens sebagai Harris
Claudie Blakley sebagai Jill
Andy Nyman sebagai Gordon
Babou Ceesay sebagai Billy
Tim McInnerny sebagai Richard

Director:
Merupakan feature film kedua bagi Christopher Smith setelah Creep (2004).

Comment:
Jarang sekali sebuah thriller comedy Inggris dibuat apalagi sampai mampu mencuri perhatian selayaknya film ini. Duet penulis James Moran dan Christopher Smith mampu mengembangkan sebuah plot sederhana yang dikemas dengan menarik. Jika klisenya sekumpulan muda-mudi yang terdampar di suatu tempat asing untuk kemudian dihabisi satu-persatu, maka kali ini diganti dengan sekelompok eksekutif perusahaan yang harus bertahan hidup saat dikirim untuk pelatihan kekompakan tim.
Jangan berharap untuk menemukan muka-muka cantik ataupun tampan disini karena yang ada hanyalah dua wanita berkarakter serius serta beberapa pria berusia 30-40 tahunan berpenampilan tidak menarik samasekali. Tipikal orang-orang corporate yang bermuka dua dan sulit ditebak pemikirannya. Itulah sebabnya sulit untuk menarik simpati penonton yang mungkin tidak akan keberatan jika kematian mulai menghampiri para tokoh tersebut dengan cara-cara yang tidak biasa.
Tiga nama yang paling mencuat disini adalah Dyer, Harris dan Nyman. Dyer yang menyebalkan di awal karena karakternya Steve adalah pecandu yang tidak pernah serius tapi berubah di pertengahan film. Harris cukup memikat sebagai wanita paling cantik disini dan Maggie juga tangguh dalam menghadapi situasi apapun. Begitu pula Nyman yang kekanak-kanakan dan tidak bertanggungjawab harus ditempatkan pada kesialan yang tidak menyenangkan di awal cerita.
Sutradara Smith berhasil memadukan unsur komedi dan horor sekaligus. Segala bentuk lelucon corporate yang sinis tak jarang memancing tawa terutama dari sang bos Tim McInnerny yang kaku itu. Sedangkan adegan sadis dan miris juga berkali-kali membuat audiens muak dan jijik. Tim spesial efek mampu menyajikan hal tersebut dengan real apalagi dibantu dengan kinerja kamera yang sepintas terasa mengganggu tapi herannya terasa tepat sasaran.
Lupakan bagian opening yang memang lambat itu karena semakin dalam anda menyimak plot ceritanya maka akan menemukan hiburan yang berbeda dari biasanya. Severance terbukti konsisten dengan konsep old-style nya di tengah-tengah hutan belantara yang menjadi panggung sempurna tersebut. Film yang juga menggunakan dwi bahasa ini memang diperuntukkan khusus bagi pecinta genre sejenis. Bagi anda di luar kelompok terkait, bisa jadi tidak menemukan sesuatu yang spesial disini.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$136,432 till Jun 2007

Overall:
7 out of 10

Movie-meter: