XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label chris hemsworth. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label chris hemsworth. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 November 2013

THOR : THE DARK WORLD Surprisingly Better Asgard Tryouts


Quote:
Loki: After all this time, now you come to visit me, brother? Why? To mock?
Thor: I need your help. And I wish I could trust you...
Loki: If you did, you'd be the fool I always took you for.

Nice-to-know:
Terdapat 30 macam palu yang digunakan Thor dengan berat yang beragam untuk kepentingan yang berbeda.

Cast:
Chris Hemsworth sebagai Thor
Natalie Portman sebagai Jane Foster
Tom Hiddleston sebagai Loki
Anthony Hopkins sebagai Odin
Christopher Eccleston sebagai Malekith
Jaimie Alexander sebagai Sif
Zachary Levi sebagai Fandral
Ray Stevenson sebagai Volstagg
Tadanobu Asano sebagai Hogun
Idris Elba sebagai Heimdall
Rene Russo sebagai Frigga


Director:
Alan Taylor mulai angkat nama setelah menyutradarai The Emperor's New Clothes (2001).

W For Words:
Superhero andalan Marvel Comics yang ruang lingkup sebenarnya bukan di bumi yakni Thor kembali lagi. Bukan hanya pendapatan nyaris 200 juta dollar di Amerika Serikat dan sekitarnya saja yang menjadi alasan utama Marvel Entertainment dan Marvel Studios melanjutkannya meski tanpa Paramount Pictures. Namun lebih karena fanbase nya yang tidak sedikit dan memiliki loyalitas tinggi. Jadi tidak usah heran jika dua atau tiga tahun lagi anda akan menemukan seri lainnya. Apalagi kali ini Loki telah menjelma menjadi daya tarik tersendiri. At the end of the day, you will agree with this!

Ketika merindukan Thor yang sudah pergi tanpa kabar selama bertahun-tahun, Jane Foster malah menemukan senjata kuno berkekuatan besar, the Ather yang secara tidak langsung membangunkan Malekith dan armada Dark Elf nya yang selama ini menjadi musuh utama kaum Asgard. Lantas Thor mau tidak mau bekerjasama dengan adiknya, Loki yang sebetulnya tengah menjalani masa hukuman di penjara. Mereka harus bahu membahu memerangi musuh sebelum keseimbangan alam semesta terganggu dan menghancurkan segala isinya.

Cerita yang digagas Don Payne dan Robert Rodat berdasarkan komik karya Stan Lee, Larry Lieber dan Jack Kirby ini kemudian digarap oleh Christopher Yost, Christopher Markus dan Stephen McFeely ke dalam format skenario. Hasilnya? Konsep paralelisme Bumi dan Asgard terjembatani dengan cerdas tanpa membuat penonton mengernyitkan dahi karena kebingungan. Ragam karakteristik nan unik juga menjadi poin plus. Apalagi chemistry antar tokohnya yang tergolong memikat terutama antara Thor dan Loki yang mengalami pergeseran emosional dari awal sampai akhir.

Sutradara alumni Game of Thrones, Alan Taylor tampaknya tahu betul apa yang harus dilakukannya dalam installment ini, terlebih melanjutkan ‘peristiwa’ yang terjadi dalam The Avengers (2012). Tanpa bermaksud mengecilkan peranan Branagh sebelumnya, The Dark World mungkin lebih gelap tetapi justru lebih ringan untuk dinikmati. Terima kasih pada beberapa bagian komedik yang sulit untuk tidak ditertawakan. Set pieces dan spesial efeknya terbilang mengesankan walaupun gimmick 3D nya tak terlalu diwajibkan bagi para moviegoers yang ingin sensasi lebih.

Besar kemungkinan Hiddleston akan menjadi fan-favorite dengan karakter Loki yang humoris, mempesona dan berperangai misterius. Lompatan fungsionalnya terhadap Thor series amat terasa signifikan. Kendati demikian kharisma Hemsworth tidak sepenuhnya tertutupi. Ketangguhan dan sifat kepahlawanannya tetaplah menonjol. Ketidakpeduliannya terhadap kekuasaan diyakini kian menggugah simpati anda. Duet Dennings dan Howard cukup mencuri perhatian. Si cantik Portman juga tidak bisa diabaikan begitu saja karena masih memegang peranan penting. Sama halnya dengan Elba dan Skarsgård.

Menilik dari trailer yang awalnya tidak terlalu membangkitkan selera itu, pada akhirnya Thor : The Dark World menjadi presentasi yang cukup memuaskan bagi saya. Lupakan sisi antagonis yang terkesan kurang tergarap walakin Eccleston samasekali tidak bermain buruk. Toh rentetan aksinya tetap terjaga intensitasnya sampai penghujung film. Kiprah Thor dengan ‘palu’ yang menggebrak serta Loki yang unpredictably eccentric adalah jaminan yang tak boleh dilewatkan sekaligus membuka pintu Marvel Universe yang diharapkan kembali dengan grande idea yang lebih menjanjikan lagi dalam Age of Ultron. Don't forget post credit-title in the middle and the very end!

Durasi:
112 menit

U.S. Box Office:
$146,965,000 till mid November 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 05 Oktober 2013

RUSH : Iconic Rivalry and Friendship On/Off The Track


Quote:
James Hunt: The closer you are to death, the more alive you feel. It’s a wonderful way to live. It’s the only way to drive.

Nice-to-know: 
Brühl and Hemsworth tidak diperkenankan mengendarai mobil Formula 1 sungguhan.

Cast:
Chris Hemsworth sebagai James Hunt
Daniel Brühl sebagai Niki Lauda
Olivia Wilde sebagai Suzy Miller
Alexandra Maria Lara sebagai Marlene Lauda
Pierfrancesco Favino sebagai Clay Regazzoni
David Calder sebagai Louis Stanley


Director:
Merupakan feature film ke
=22 bagi Ron Howard yang mengawalinya sejak Grand Theft Auto (1977).

W For Words:
Jika anda mencari referensi film ‘balap mobil’ terbaik sepanjang masa di internet, bisa jadi akan muncul dua judul yakni Grand Prix (1966) atau Winning (1969). Yes, it was very long time ago. Yang terbaru yang bisa saya sebutkan hanyalah produksi Perancis, Michel Vaillant (2003) atau Hollywood product, Speed Racer (2008) yang sebenarnya merupakan remake berjudul serupa di tahun 1967. Kali ini sutradara kondang yang juga seorang aktor, Ron Howard mengetengahkan “kisah nyata” bertemakan serupa dengan dua bintang yang kian bersinar namanya. 

Formula 1 di tahun 70an memang menawarkan kemudahan hidup bagi para pembalapnya terutama si tampan dari Inggris bernama James Hunt. Kapanpun dan dimanapun selalu menarik perhatian media dan wanita termasuk supermodel Suzy Miller yang akhirnya dinikahinya. Sang rival dari Austria, Niki Lauda sebaliknya lebih mengandalkan kerja keras dan perhitungan yang matang. Saat balapan maut di situasi yang kurang kondusif mengakibatkan kecelakaan, keduanya lantas harus jatuh bangun bukan hanya di arena tetapi dalam mengarungi hidup itu sendiri. 

Skrip yang ditulis Peter Morgan ini semenjak menit awal sudah menempatkan Lauda dan Hunt di ‘posisi’ masing-masing mulai dari karakteristik menyetir hingga gaya hidup mereka yang begitu bertolak belakang. Penonton seakan dibiarkan menjadi saksi untuk menentukan keberpihakan selama rentang waktu 6 tahun sekaligus mengenal para tokoh pendukung yang secara langsung ataupun tidak turut andil terhadap perjalanan hidup keduanya dalam merangkak naik ke mimbar juara lengkap dengan polemik tak berkesudahan di sepanjang prosesnya.


Brühl  pantas mendapat acungan jempol atas penampilan luar biasanya menyuguhkan aksen Austria yang kental termasuk bahasa tubuh yang begitu mendekati aslinya. Memang secara karakter, Lauda tergolong challenging dimana terjadi pergeseran psikologis yang signifikan sebelum dan sesudah kecelakaan. Hemsworth masih menokohkan stereotype womanizer yang fancy. Tokoh Hunt di tangannya terbukti lebih memiliki aura bintang walau dari tingkat kesulitan tidak terlalu bisa dibanggakan. As supporting characters, Wilde, Maria Lara, Dormer dan McKay jelas tak mengecewakan samasekali.
Sutradara Howard masih menggunakan konsep biopik yang tipikal dimana footage dari siaran televisi masih menjadi motor storytelling. Terlepas dari detail balapan seru dari satu sirkuit ke sirkuit lain yang minim porsinya, presentasi real life Hunt dan Lauda yang dramatis justru menjadi kekuatan utamanya. Toh teknis pengambilan gambar yang variatif tetap membuat anda merasakan atmosfir yang sesungguhnya. Pace film juga terbilang dinamis meskipun durasinya panjang. Kontribusi Hans Zimmer dalam ‘menghidupkan’ cerita melalui scoring music megahnya jelas tidak sedikit.

Rush sesuai dengan rating Dewasa yang disandangnya tetap menyisakan adegan-adegan miris yang akan membuat anda mengernyitkan kening. Varian lintasan dan tipe mobil yang disuguhkan memang menghadirkan sensasi istimewa terlepas dari unsur bahaya yang meliputinya. Bagi saya, emosionalitas persahabatan dan rivalitas yang sesungguhnya saling menguatkan dua legenda F1 ini sudah merupakan elemen kemenangan film tersendiri. But for all of us, seeing fearless instinct competing against analytical thinking while learning life lessons might be the strongest adrenaline rush ever.

Durasi:
123 menit

U.S. Box Office:
$13,686,319 till September 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 09 Desember 2012

RED DAWN : Guerillas Movement For Patriotic Unnecessary Remake


Quote:
Jed Eckert: Marines don't die, they go to hell and regroup.
  
Nice-to-know: 

Chris Hemsworth dan Isabel Lucas berkencan di kehidupan nyata dan sama-sama membintangi soap opera Australia "Home and Away".

Cast: 
Chris Hemsworth sebagai Jed Eckert
Josh Peck sebagai Matt Eckert
Josh Hutcherson sebagai Robert Kitner
Adrianne Palicki sebagai Toni Walsh
Isabel Lucas sebagai Erica Martin
Connor Cruise sebagai Daryl Jenkins


Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Dan Bradley yang sebelumnya lebih banyak berkecimpung sebagai stunt coordinator sejak tahun 1983.

W For Words: 
Pada tahun 1984 terdapat sebuah film bertajuk Red Dawn yang dibintangi oleh Patrick Swayze, C. Thomas Howell dan Lea Thompson. Genre action yang disutradarai oleh John Milius itu pada akhirnya sukses meraup pendapatan lebih dari empat kali pengeluarannya hanya di Amerika Serikat saja. Siapa nyana jika lebih dari satu dekade kemudian Contrafilm, Metro-Goldwyn-Mayer dan Vincent Newman Entertainment berpikiran untuk meremakenya dengan bintang-bintang masa kini. Satu pertanyaan besar adalah seberapa jauh perombakan skrip dalam penyesuaiannya dengan jaman modern?

Mantan anggota angkatan laut, Jed Eckert baru saja kembali ke rumah tapi bersitegang dengan adiknya yang masih duduk di bangku SMU Matt hingga ditengarai sang ayah Tom yang juga berjiwa keras. Suatu malam, kota kecil Spokane tempat tinggal mereka mendadak diserang pasukan tentara Korea Utara sehingga Pemerintah segera memberlakukan peraturan militer bagi warganya. Kakak beradik itu tak tinggal diam dan mengajak kawan-kawannya mengadakan perlawanan di bawah nama “The Wolverines” yang segera memancing amarah Kapten Lo yang kejam. 

Carl Ellsworth dan Jeremy Passmore tampaknya tidak memberi banyak perubahan pada skrip asli milik Kevin Reynolds dan John Milius selain penekanan pada hubungan abang adik Jed-Matt yang lebih kuat dan perpindahan Calumet, Colorado ke Spokane, Washington. Satu hal yang terlupakan adalah fakta bahwa Perang Dingin sudah lama berlalu. Jika demikian mengapa rasisme antar bangsa masih cukup kental? Hal ini terlihat dari figur Kapten Korea Utara, ayah Afro Amerika yang pembelot dan Jenderal Rusia dengan maksud tertentu yang mulai muncul sejak pertengahan film. 

Latar belakang sutradara Bradley jelas berguna dalam merekonstruksi sekuens aksi seru yang bertebaran di sepanjang film ini. Sayangnya kelemahan narasi masih cukup terasa disana-sini sehingga berbagai faktual menjadi terabaikan. Aksi The Wolverines memang believable tapi kemampuan memperdaya pasukan tentara yang jauh lebih berpengalaman jelas patut dipertanyakan. Belum lagi persiapan minim dengan perbekalan seadanya, bagaimana mereka bisa bertahan hidup? Penggunaan CGI nya tergolong amatir walau tidak sampai konyol sekali.

Hemsworth secara dominan mampu menegaskan kepemimpinannya, terima kasih pada beberapa judul blockbuster Hollywood yang sudah mengangkat namanya.  Sesungguhnya Peck menerima peran menantang dimana transformasi karakter Matt dari awal hingga akhir begitu kentara dan ia memperlihatkan potensinya. Chemistry keduanya menjadi aspek yang paling menarik dalam film. Duet Hutcherson dan Cruise juga lumayan kompak sebagai pendukung yang mampu mencuri perhatian. Kemunculan Dean Morgan di pertengahan terasa sebagai cameo belaka.

Mungkin Red Dawn sebaiknya tidak perlu diproduksi kembali apalagi sampai dipresentasikan kepada publik. Bukan drama perang inspiratif melainkan propaganda action akan sebuah patriotistik Amerika Serikat yang kental. Sulit rasanya untuk percaya bahwa di masa seperti sekarang ini, hal serupa dapat terjadi di luar sana. Tidak ada salahnya apabila anda berandai-andai menempatkan diri pada posisi mereka untuk benar-benar dapat terikat pada film secara keseluruhan. It’s a pure entertainment holiday season movie but doesn’t come up with something special that will be remembered for long time.

Durasi: 
93 menit 

U.S. Box Office: 

$31,272,953 till Dec 2012 

Overall: 

7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 01 September 2012

THE CABIN IN THE WOODS : A Tribute To Timeless Horror Flicks

Tagline
You think you know the story.

Nice-to-know:
Tanggal rilis mengalami pemunduran hingga 3 tahun karena studio sempat berniat mengkonversi film ke format 3D walau ditentang oleh Joss Whedon dan Drew Goddard.

Cast:
Kristen Connolly sebagai Dana
Chris Hemsworth sebagai Curt
Anna Hutchison sebagai Jules
Fran Kranz sebagai Marty
Jesse Williams sebagai Holden
Richard Jenkins sebagai Sitterson
Bradley Whitford sebagai Hadley

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Drew Goddard yang sebelumnya berpengalaman menulis berbagai serial televisi ternama.

W For Words:
Judulnya sederhana. Posternya pun tidak istimewa. Jangan buru-buru membuat keputusan bahwa ini akan menjadi thriller horor yang biasa-biasa saja karena anda akan tertipu mentah-mentah. Keterlambatan rilis internasional selama tiga tahun lebih dari rencana awal tak lantas menyurutkan animo para pecinta genre ini termasuk di Indonesia. Bahkan saya sempat berinisiatif mengakomodir ratusan suara terangkum dalam sebuah petisi yang ditujukan kepada jaringan 21 Cineplex untuk mempercepat tanggal penayangannya.

Dana dan sahabat sekamarnya Jules, sepakat mengajak bintang football sekolah, Curt berlibur di sebuah pondok tengah hutan. Turut serta adalah Holden yang segera memikat perhatian Dana dan si kutu buku geek, Marty. Ketika pintu bawah tanah terbuka, mereka turun dan menemukan artefak tua yang membangkitkan kumpulan zombie ganas yang mulai memburu kelimanya. Tak hanya itu, sebuah rahasia gelap tersimpan di balik semua itu dimana permainan nasib akan sangat menentukan hasil akhirnya.

Premis dan skenario yang dirancang secara brilian oleh duet Joss Whedon dan Drew Goddard sukses membawa genre ini ke tingkatan yang baru sekaligus lebih tinggi. Tidak lupa berbagai elemen sains fiksi, mitologi sampai satir dicampur aduk sedemikian rupa untuk menghasilkan plot cerita yang fresh dan unpredictable. Percayalah semakin sedikit anda mengetahui apapun tentang film ini, maka kenikmatan menontonnya akan semakin tinggi. Tinggalkan trailer, review atau diskusi yang terpampang dimana-mana sebelum menontonnya sendiri.

Goddard yang juga bertindak sebagai sutradara memang tidak menawarkan horor intens bergaya thriller slasher yang diharapkan. Sebaliknya kejutan demi kejutan bergaya dark humor yang berjalan meniti durasinya kerapkali membuat anda tergelak. Dialog-dialog simpel dari para pendukungnya mungkin terdengar klise di samping adegan-adegan yang juga terkesan familiar. Namun kinerja kamera yang liar dengan angle yang variatif berhasil menciptakan nuansa mencekam yang tidak umum.

Connolly, Hutchison, Hemsworth, Williams, Krantz yang diidentifikasikan sebagai "virgin", "whore", "jock", "scholar", "fool" tersebut menjiwai peran lima pelajar sesuai standarnya. Tak ada aksi bodoh atau reaksi murahan yang biasa terjadi sehingga masing-masing dari mereka mampu mendapatkan simpati penonton sejak awal untuk tidak menjadi korban. Kehadiran dua aktor senior, Jenkins dan Whitford serta satu aktris berpengalaman yang berada di balik ruang kendali semakin memperkuat jajaran cast kali ini.

Tak dipungkiri, The Cabin In The Woods menyimpan kejutan manis nan cerdasnya pada 30 menit terakhir dimana emosi anda akan dimainkan lewat pemaparan utuh konsep tak terduganya yang menjalin benang merah dengan setiap ikonik horor yang pernah ada. Brilian! Lupakan beberapa unsur logika yang terabaikan atau korelasi yang tak terdefinisikan, perjalanan pilihan anda ke pondok di tengah hutan ini akan sangat menyenangkan. Mungkin sedikit berlebihan jika saya menyebutnya sebagai sebuah surat kematian berdarah yang menjadi signature penghormatan dari sejarah film horor sepanjang masa.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$42,043,633 till July 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 02 Juni 2012

SNOW WHITE AND THE HUNTSMAN : Shallow Retelling Of Hunted Swan White


Quotes:
The Huntsman: Who are you? Why does the queen want you dead?
Snow White: You should know. You're the one hunting me!

Nice-to-know:
Johnny Depp, Tom Hardy dan Michael Fassbender sempat dipertimbangkan untuk memerankan Sang Pemburu sedangkan Viggo Mortensen dan Hugh Jackman menolak tawaran tersebut.

Cast:
Kristen Stewart sebagai Snow White
Chris Hemsworth sebagai The Huntsman
Charlize Theron sebagai Ravenna
Sam Claflin sebagai William
Sam Spruell sebagai Finn
Ian McShane sebagai Beith
Bob Hoskins sebagai Muir
Ray Winstone sebagai Gort

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Rupert Sanders yang selama ini pernah main dalam serial televise Made In Hollywood dan Janela Indiscreta sebagai dirinya sendiri.

W For Words:
Dongeng Snow White memang terbilang inspiratif dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jika Tarsem Singh melalui Mirror Mirror (2012) sudah merekonstruksinya sedemikian rupa dalam balutan komedi ringan beberapa bulan lalu maka kali ini giliran Rupert Sanders yang mengerjakannya dalam nuansa yang lebih gelap dan serius. Seberapa berhasil tentu amat bergantung pada skrip hasil keroyokan Evan Daugherty, John Lee Hancock dan Hossein Amini ini. Jadwal rilis yang berdekatan juga membuat dua judul tersebut layak diperbandingkan oleh penikmat film internasional.

Snow White terlahir cantik, bijaksana dan dicintai warganya. Beranjak dewasa, Ratu Jahat yang telah merebut takhta bertekad menyingkirkannya. Beruntung Snow White mampu melarikan diri ke hutan gelap yang berbahaya. Ratu tak tinggal diam dan mengutus Sang Pemburu untuk menangkap Snow White hidup-hidup. Kala berjumpa, Pemburu justru balik bersimpati pada Snow White dan melatihnya menjadi pejuang bersama dengan 7 kurcaci kompak yang mendukung gerakan perlawanan terhadap Ratu sekaligus mengembalikan negeri seperti sediakalanya.

Entah mengapa Stewart justru mengalami penurunan kualita akting justru setelah terlibat dalam Twilight Saga yang membesarkan namanya. Well, it’s personal point for me though. Karakter Snow White di tangannya terasa hambar dan tanpa heroisme samasekali sehingga gagal mengundang simpati penonton terlepas dari daya tarik fisik dan masa kecil tragis yang dialaminya. Chemistry nya dengan Hemsworth dan Claflin yang memperebutkannya juga tidak maksimal apalagi keterlibatan romansa yang serba tanggung. Hey, are we on for another Bella-Edward-Jacob triangle this time?

Dua tokoh antagonis disini justru tampil cemerlang. Charlize Theron yang berambut pirang terkesan garang dan penuh ambisi dalam menjiwai tokoh Queen Ravenna yang juga didukung oleh dandanan dan kostum mengesankan karya Colleen Atwood. Saudaranya Finn dihidupkan Sam Spruell dengan tatanan rambut aneh dan mimik wajah memuakkan. Kepatuhannya terhadap Ravenna bisa jadi memunculkan anggapan-anggapan “liar” dalam benak penonton seperti hubungan incest di antara keduanya. Sayang porsi mereka tidaklah sedominan Stewart atau Hemsworth sehingga lebih mirip cameo yang timbul tenggelam.

Sutradara Sanders tampak sibuk membelanjakan bujet besar ke dalam departemen artistik dan spesial efek yang tidak main-main. Thanks to Dominic Watkins! Namun konsep cerita terasa tidak berjalan kemana-mana, berputar-putar di pertengahan sebelum bergerak cepat dalam setengah jam terakhir, mengakhiri penantian penonton akan “aksi” seru. Itupun terjadi di luar logika, bagaimana pasukan Duke Hammond yang kalah jumlah masih dapat “leluasa” memasuki istana setelah dihujani panah, bara api dsb. Pertarungan epic ala Lord of the Rings wannabe yang berupaya disodorkan pada akhirnya terkesan sebagai basa-basi. Apalagi adegan pamungkas dimana Snow White dan Queen Ravenna berhadapan. How can she..? Ah, forget it.

Snow White and the Huntsman memang memiliki elemen-elemen yang dibutuhkan sebagai nilai jual sebuah film musim panas tapi gagal dipersatukan ke dalam tontonan utuh yang diharapkan. Hutan gelap misterius dimana troll bersembunyi, padang rumput indah tempat tinggal 7 kurcaci hanyalah unsur pelengkap yang sia-sia ditampilkan. Semua tenggelam dalam narasi membosankan dan action yang tak kunjung datang, Tokoh-tokoh menarik yang “kalah pamor” dari tokoh-tokoh tidak menarik. Hiburan yang “ditakdirkan” sebagai kategori A tapi justru gagal karena berusaha terlalu keras. Should we blame on Stewart first?

Durasi:
127 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 05 Mei 2012

THE AVENGERS : Teamed Up Superheroes And Bang Bang Boom


Quotes:
Loki: What have I to fear?
Tony Stark: The Avengers. That's what we call ourselves. Sort of like a team. Earth's mightiest heroes, type thing.

Nice-to-know:
Film Marvel pertama yang didistribusikan oleh Walt Disney Pictures ini sudah tayang di Amerika Serikat pada tanggal 11 April 2012 yang lalu.

Cast:
Robert Downey Jr. sebagai Tony Stark / Iron Man
Chris Evans sebagai Steve Rogers / Captain America
Mark Ruffalo sebagai Bruce Banner / The Hulk
Chris Hemsworth sebagai Thor
Scarlett Johansson sebagai Natasha Romanoff / Black Widow
Jeremy Renner sebagai Clint Barton / Hawkeye
Tom Hiddleston sebagai Loki

Director:
Merupakan film kedua bagi Joss Whedon setelah Serenity (2005).

W For Words:
Sulit dipercaya jika keluaran pertama Marvel Studio di tahun 2008 yaitu Iron Man sesungguhnya merupakan proyek perjudian. Nyatanya empat film kemudian yang disusul berturut-turut oleh Iron Man 2 (2010), Thor (2011), Captain America : The First Avenger (2011), kesemua karakter pahlawan super tersebut bersatu-padu dalam sebuah film blockbuster yang diluncurkan sebagai appetizer summer movies tahun 2012 ini sekaligus tayangan pembuka teater IMAX Gandaria City XXI yang baru beroperasi di Indonesia.
Kepala S.H.I.E.L.D sebuah perusahaan penjaga perdamaian dunia, Nick Fury kerapkali berhubungan dengan komite Marvel Super Heroes yang beranggotakan Iron Man, The Incredible Hulk, Thor, Captain America, Hawkeye dan Black Widow. Suatu ketika adik Thor, Loki dan kawanannya bertekad menguasai dunia melalui kubus The Tesseract yang mampu menyerap kekuatan tanpa batas dari dimensi lain. Kini para pahlawan super itu beraksi kembali demi mencegah kerusakan dan kehancuran yang lebih besar lagi.

Komik yang digagas oleh Stan Lee dan Jack Kirby itu kemudian disadur oleh Joss Whedon dan Zak Penn ke dalam skrip yang sangat sederhana dengan tujuan mudah dimengerti oleh penonton yang murni menginginkan sebuah hiburan belaka. Bertindak pula sebagai sutradara, Whedon tampak paham betul bagaimana menghabiskan bujet 220 juta dollar ke dalam eksekusi cerdas nan jitu. Terlepas dari durasinya yang terlalu lama, penonton tidak akan terlalu merasakannya karena sibuk dijejali adegan aksi penuh antusiasme dari awal sampai akhir.
Seperti sudah diduga sebelumnya, Iron Man mendapat porsi terbesar dengan figur Tony Stark yang haus popularitasnya itu. Captain America dan Thor terlihat lebih nyaman di belakangnya melanjutkan apa yang sudah dilanjutkan duet Chris sebelumnya dalam feature film masing-masing. Black Widow memberikan kesan feminisme yang kental apalagi dalam kostum spandex yang seksi itu. Debut penampilan Jeremy Renner sebagai Hawkeye dan Mark Ruffalo sebagai Hulk yang teramat destruktif patut diacungi jempol terlepas dari faktor “kurang terdepan” nya mereka di antara yang lainnya. Jangan khawatir, anda tak akan kehilangan salah satu aksi dari mereka karena kemunculan yang bergantian.

Mengingat Captain America dan Thor sudah dibalut dalam teknologi 3D maka tidak ada alasan film ini muncul tanpa 3D. Jika anda bertanya pada saya apakah 3D nya layak? Saya cenderung menjawab iya. Joss Whedon memang melakukan post-converted di akhir tahun 2011 lalu tetapi sudah cukup memfasilitasi live action movie semacam ini. Pertarungan indoor yang dominan disini mungkin efek 3D nya tidak akan terasa tetapi khusus outdoor –terlebih di pertarungan akhir- jelas terasa karena kedalaman gambar yang signifikan, membuat anda seperti melihat ke luar jendela New York City.
Para pecinta komik The Avengers dipastikan menaruh harapan setinggi-tingginya akan adaptasi teranyarnya ini. Saya pastikan anda tidak akan kecewa! Bagi khalayak umum yang tidak terlalu memfavoritkan komiknya akan tetap menikmati sajian yang tak hanya luar biasa tetapi juga paling menghibur di antara deretan film adaptasi komik lainnya. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain melihat pahlawan super kesukaan anda belajar untuk kompak sebagai sebuah kesatuan demi rasa kemanusiaan yang tinggi. Kita berharap saja sekuel yang tampaknya tidak terhindari itu tak akan lebih dari sekadar pengulangan belaka.

Durasi:
142 menit

U.S. Box Office:
$178,400,000 till April 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 04 November 2011

THOR : Kebangkitan Heroik Pahlawan Terbuang Asgard

Quotes:
Thor: These people are innocent. You cannot sacrifice an entire race!
Loki: Then die with them.


Storyline:
Putra Odin, Thor dan Loki sudah bersaing sejak kecil. Namun beranjak dewasa, Thor jauh lebih menonjol dengan arogansi dan kecekatannya dalam bertarung. Dalam satu insiden, Thor dibuang dari Asgard oleh ayahnya ke dunia bersama godam ajaibnya. Disanalah Thor berjumpa ilmuwan Jane Foster yang sedang melakukan penelitian fenomena aurora di New Mexico bersama Erik dan Darcy. Jane lantas mengajari Thor hal-hal dasar sekaligus membantunya kembali ke Asgard dimana terjadi peperangan kekuatan jahat yang juga mengancam Bumi.

Nice-to-know:
Sebagai persiapan bermain disini, Chris Hemsworth rela menambah beban latihannya dalam 6 bulan di gym sekaligus menjalani diet habis-habisan yang diisi dengan menu telur, ayam, sandwich, sayur mayur, nasi merah dan minuman berprotein.

Cast:
Aktor Australia ini mulai dikenal sejak membintangi Star Trek (2009), Chris Hemsworth didapuk sebagai Thor
Natalie Portman sebagai Jane Foster
Sebelumnya tampil dalam Archipelago (2010), Tom Hiddleston berperan sebagai Loki
Anthony Hopkins sebagai Odin
Stellan Skarsgård sebagai Erik Selvig
Kat Dennings sebagai Darcy Lewis

Director:
Merupakan feature film ke-12 Kenneth Branagh setelah terakhir Sleuth di tahun 2007. Nama Joss Whedon yang juga menggarap post credit scenes tidak dicantumkan dalam credit title.

Comment:
Thor adalah salah satu tokoh legendaris dalam Marvel Comics. Menilik begitu banyaknya film adaptasi superhero tentunya Paramount Pictures tidak akan gegabah untuk sekadar menjadi pengikut. Cerita yang dikembangkan oleh duet J. Michael Straczynski dan Mark Protosevich ini lantas berusaha menampilkan dunia paralel yang dihubungkan oleh portal Bifrost Bridge sekaligus mempersatukan karakter manusia masa kini dengan tokoh pahlawan masa silam.
Terus terang konsep inipun tidak baru dan terkesan menggampangkan logika cerita. Paling mengganggu adalah perubahan sifat dan sikap Thor yang terlalu instan setelah menginjak Bumi beberapa hari. Ya ya ya, jawabannya bisa jadi cinta Jane Foster yang menyebabkan itu semua. That’s the power of love! Namun saya ingin melihat sesuatu yang lebih realistis terlebih kekuatan dari segi persahabatan atau ikatan keluarga daripada romansa yang begitu-begitu saja.

Hopkins lah yang paling mengagumkan sebagai si tua Odin terlepas dari minimnya porsi disini. Hiddleston juga memberikan performa menarik saat harus berdiri di antara identitas dirinya sendiri dan nama keluarganya. Sedangkan Hemsworth memperlihatkan karisma pahlawan yang cukup kuat dengan rambut panjang keemasan dan tubuh kekarnya. Portman yang biasanya berakting menawan, kali ini mengandalkan kecantikannya saja karena hanya menjadi peran pendukung.
Sutradara Branagh merupakan salah satu nama lawas yang menjawab tantangan modern menghadirkan kisah kepahlawanan klasik. Ia mempertahankan konsep drama ala Shakespeare beserta konflik keluarga kerajaan Asgard yang menjadi menu utama. Perbedaan tone warna Bumi dan Asgard seakan dituangkan dalam dualisme kanvas yang kontras. Balutan 3D nyaris merusak segala adegan aksi disini walaupun pada adegan non aksi cukup membantu visualisasi yang lebih nyata dan gelap.

Dialog yang disuguhkan trio penulis skrip Ashley Miller, Zack Stentz dan Don Payne harus diakui cukup kontradiktif. Saat Thor di Bumi terasa sekali sarkastis komediknya sedangkan ketika di Asgard jauh lebih serius kompleks. Setting Asgard dikerjakan dengan spesial efek yang solid, agak mengingatkan saya pada tampilan video game arcade di playstation atau komputer semasa kecil. Komposisi musik Patrick Doyle memenuhi standar film fantasi semacam ini, tidak bombastis tetapi cukup wajar.
Thor adalah film pembuka musim panas yang cukup menghentak walaupun bagi saya cukup mengecewakan karena elemen fantasinya kelewat cupu untuk dapat diterima akal sehat. Plot cerita yang mudah ditebak tidak sampai merusak sisi menarik perjalanan Thor yang terbuang nista hingga bangkit kembali secara heroik. Bukan tipikal film “pahlawan” pada umumnya, masih beruntung Thor tidak kehilangan sisi magisnya dengan godam ajaib yang juga bertindak sebagal senjata pamungkas kebaikan versus kejahatan.

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$181,030,624 till Aug 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent