XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label cathy sharon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cathy sharon. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2011

THE PERFECT HOUSE : Guru Pengganti Rumah Sempurna

Quotes:
Madame Rita: Anda tidak kenal cucu saya, nak Julie..


Storyline:
Julie adalah seorang guru privat untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus termasuk Angie, anak autis yang mencapai tahap berhasil dibimbingnya. Sewaktu berniat cuti, Julie justru kedatangan Madame Rita yang memintanya menangani cucunya Januar. Guru lamanya, Lulu menghilang entah kemana. Akhirnya Julie menyanggupi untuk datang ke rumah megah nan klasik di daerah Puncak yang terpencil itu. Di antar asistennya Dwi, Julie kemudian harus membiasakan diri dengan interaksi tegang antara nenek dan cucu tersebut di samping perilaku aneh sang pembantu Yadi. Lama kelamaan, Julie semakin bersimpati dengan Januar yang cerdas itu. Ia merencanakan pelarian tanpa mengetahui rahasia apa yang sesungguhnya tersimpan di rumah tersebut.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh VL Production dimana gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 25 Oktober 2011.

Cast:
Cathy Sharon sebagai Julie
Bella Esperance sebagai Madame Rita
Endy Arfian sebagai Januar
Mike Lucock sebagai Yadi
Wanda Nizar sebagai Dwi

Director:
Merupakan film keempat bagi Affandi Abdul Rachman yang diawali dengan Pencarian Terakhir di tahun 2008 dan menyusul satu judul setiap tahunnya kemudian.

Comment:
Pertama kali mendengar proyek ini di awal kuartal kedua tahun 2011, antusiasme saya merebak.Meskipun harus menunggu berbulan-bulan, produksi pertama VL Production ini harus melanglang buana terlebih dahulu hingga ke Puchon International Fantastic Film Festival di bulan Juni, akhirnya di penghujung kuartal ketiga pun dirilis juga. Kebetulan saya termasuk satu dari sedikit media yang beruntung mendapatkan kesempatan pertama menyaksikannya lewat screening khusus.
Trio penulis Alim Sudio, Affandi Abdul Rachman dan Vera Lasut menggarap sebuah thriller psikologis yang hanya memfokuskan diri pada kompleksitas 3 karakter utamanya saja di sebuah rumah kuno terpencil. Hal ini membuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk memperkaya karakteristik secara. Premis yang sebetulnya terdengar lazim pun bisa disiasati dengan konstruksi konflik yang merambat secara perlahan dan sedikit membutuhkan kesabaran.

Kembalinya Bella ke ranah perfilman nasional disini terbilang gemilang. Peran Madame Rita dihidupkannya dengan meyakinkan lewat aksen Indo-Belanda yang tegas dan lantang. Ekspresi wajah dengan lirikan matanya pun konsisten di sepanjang film sebagai momok yang ditakuti. Sedangkan Cathy menjiwai peran Julie dengan baik, tokoh Ibu Guru yang lembut dan pelindung. Usahanya untuk mendobrak norma-norma yang berlaku di dalam rumah tersebut cukup memikat.
Penampilan si kecil Endy yang baru berusia 10 tahun juga patut diacungi jempol. Meskipun emosinya masih cenderung turun naik tapi kepolosan tingkah laku dan mata berbinar lugu Januar mampu menyihir penonton. Usaha Mike yang total mengandalkan bahasa tubuh menutupi fakta bahwa karakter Yadi sangatlah minim dialog. Apresiasi khusus pantas diberikan pada Wanda lewat peran minor Dwi yang secara mengejutkan meninggal dunia seminggu sebelum filmnya rilis nasional.

Sutradara Affandi berhasil bekerjasama dengan Faozan Rizal dan Benny Lauda untuk menjaga kesinambungan sinematografi indah dengan tata artistik dinamis lewat tampilan interior rumah yang bergaya lawas itu, sangat mendukung atmosfer yang ingin dibangun sebagai panggung bercerita. Sisi minor film ini mungkin ada pada editing beberapa adegan yang terasa diputus begitu saja, salah satu contoh saat Julie bersembunyi di kamar Madame Rita, tanpa penjelasan sekuensi lebih lanjut.
Saya berani katakan bahwa The Perfect House dapat dikatakan thriller lokal terbaik di sepanjang tahun 2011 yang banyak diisi oleh komedi horor. Kinerja berbagai departemen yang saling bersinergi mampu menghadirkan tontonan menarik yang sangat solid production valuenya. Kejutan twist di akhir cerita terbukti cukup “mengganggu” walau tidak akan asing bagi anda penyuka genre serupa, menutup rangkaian mimpi buruk konstan sepanjang satu setengah jam. Satu rumah berjuta cerita, siapkah anda memasukinya?

Durasi:
96 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 08 September 2010

DAWAI 2 ASMARA : Inspirasi Perjalanan Dua Pilihan Hati

Storyline:
Thufa tengah bimbang saat kliennya memutuskan untuk memakai jasa penyanyi dangdut senior Rhoma Irama untuk pentas panggungnya padahal ia telah berjanji pada kekasihnya Delon yang penyanyi pop untuk tampil. Belum selesai memutuskan, teman semasa kecilnya Ridho pulang ke Indonesia karena dipanggil ayahnya dengan tugas menciptakan nuansa baru pada musik dangdut yang didaulat musik asli tradisional Indonesia. Ridho sendiri tengah dekat dengan Haura Sydney, mahasiswi Australia yang sedang membuat karya tulis di Indonesia. Konflik cinta segitiga tersebut semakin memuncak ketika kepentingan demi kepentingan seakan saling bertubrukan. Siapa yang akhirnya dipilih Thufa dan bagaimana Ridho dapat menjawab tantangan ayahnya itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rumah Kreatif 23

Cast:
Rhoma Irama
Ridho Rhoma
Cathy Sharon
Delon
Pepeng Naif

Director:
Endri Pelita & Asep Kusdinar

Comment:
Kesan paling tepat menggambarkan film ini menurut saya adalah tidak fokus! Duet sutradara Endri dan Asep memegang peranan yang sangat penting disini, Endri merangkap sebagai produser dan Asep memegang posisi penulis. Keduanya tampak terlalu ambisius menyajikan suatu tontonan yang mumpuni dari berbagai lini. Alhasil konsep cerita menjadi tercerai-berai tidak karuan. Coba bayangkan sebagai berikut:
Pertama, ada sang legenda Rhoma Irama yang berusaha menginspirasi sebagai tokoh dangdut kenamaan Indonesia. Ia mencoba memperkenalkan putranya yang baru pulang studi dari luar negeri sekaligus mempertahankan kharismanya sendiri. Lihat beberapa scene yang mempertontonkan ilmu kanuragan dan kearifan guru besar yang dimiliki Rhoma. Masih cukup menjual rasanya.
Kedua, ada cinta segitiga antara Ridho, Cathy dan Delon. Jujur saja ketiganya tidak berbagi chemistry dengan baik. Beruntung dari segi akting, Cathy masih cukup konsisten lumayan menutupi kekurangan Ridho dan Delon yang seringkali terlihat canggung kalau tidak mau dikatakan aneh di sebagian besar scene yang mereka lakukan kecuali scene menyanyi tentunya!
Ketiga, ada penggemar berat Ridho yang berprofesi sebagai supir taksi. Subplot tambahan ini dibuat untuk memperpanjang konflik walau menjadi tidak terintegrasi dengan baik ke dalam bangunan cerita. Ending yang melibatkan tokoh ini teramat sangat ganjil dan terlalu didramatisir.
Keempat, ada tokoh gadis bule yang entah darimana terpikir membuat karya tulis 200 halaman tentang dangdut?! Lihat bagaimana dengan mudahnya ia terpikat pada sosok Ridho dan mau terlibat dalam semua hal berbau dangdut tersebut. Weird!!
Sinematografi yang ditampilkan sedikit bernuansa film tahun 1980an yang sayangnya tidak didukung oleh editing yang baik terutama saat pergantian scene sehingga terkesan seperti meloncat-loncat dari satu potongan klip ke yang lainnya. Musik latar yang disuguhkan malah lebih terasa India dibandingkan Melayu, entah jika kuping saya yang salah tangkap. Pada akhirnya Dawai 2 Asmara hanyalah sebuah proyek idealis yang dibuat dengan semangat tinggi tetapi belum memberikan hasil maksimal sebagai suatu tontonan utuh yang solid dari berbagai aspek.

Durasi:
100 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 02 Agustus 2007

SANG DEWI : Asmara Getir Petinju Bisu dan Pelacur Cantik

Cerita:
Laras yang berparas bidadari merasa hidupnya tidak lengkap karena cinta selalu jauh darinya dan memaksanya menjadi pelacur demi bertahan hidup.
Beno yang bisu sedari kecil bekerja sebagai pembersih sasana sambil diam-diam berlatih tinju dengan saudara seperjuangannya demi mewujudkan impian naik ring tinju suatu saat nanti.
Nasib mempertemukan Laras dan Beno kembali setelah masa kecil mereka. Akankah rasa cinta bisa tumbuh di saat keduanya mulai menjalani kehidupan yang berliku dan tidak adil itu?

Gambar:
Sasana tinju dan jalan-jalan ibukota bagi dua tokoh utamanya seakan bercerita tentang mirisnya hidup yang mereka jalani.

Act:
Volland Humonggio yang aslinya memang menguasai beladiri bermain cukup baik sebagai petinju bisu Beno yang pantang menyerah mengejar cinta dan mimpinya.
Sabai Morscheck tampil cukup meyakinkan sebagai Laras, pelacur cantik yang merasa cinta selalu menjauhinya di saat ia tengah menggenggam kebahagiaan.
Didukung pula oleh Donny Alamsyah dan Cathy Sharon sebagai dua sahabat setia Beno.

Sutradara:
Karya perdana Dwi Ilalang yang berusaha menggabungkan aksi, tinju, drama, romantisme dalam satu film. Namun penggunaan judul Sang Dewi agak dirasa kurang tepat.

Komentar:
Sebetulnya plot cerita cukup menarik hanya terkesan sering kurang fokus. Andai mau dieksplorasi lebih jauh lagi, Sang Dewi mungkin akan lebih baik kualitas secara keseluruhannya. Unsur mengharukan bisa ditemukan pada beberapa adegan tapi kesalahan fatal terjadi pada endingnya yang terasa dipaksakan dan terasa antiklimaks. Lagu indah Sang Dewi sekaligus cameo penyanyinya Titi DJ pun hanya sekadar tempelan belaka. Namun sesekali bolehlah manjakan diri anda dengan film lokal yang berbeda nuansanya seperti ini.

Durasi:
105 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!