XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label biography. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biography. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Oktober 2013

CAPTAIN PHILLIPS : Terrifying Ordeal At The Sea


Quote:
Captain Richard Phillips: Listen up, we have been boarded by armed pirates. If they find you, remember, you know this ship, they don't. Stick together and we'll be alright. Good luck.

Nice-to-know:
Sewaktu interview dengan NPR dalam program "Fresh Air", Tom Hanks mengaku bahwa ia berjumpa pertama kali dengan aktor-aktor yang berperan sebagai bajak laut Somalia langsung pada syuting adegan di jembatan.

Cast:
Tom Hanks sebagai Captain Richard Phillips
Barkhad Abdi sebagai Muse
Barkhad Abdirahman sebagai Bilal
Faysal Ahmed sebagai Najee
Mahat M. Ali sebagai Elmi
Michael Chernus sebagai Shane Murphy
Catherine Keener sebagai Andrea Phillips 


Director:
Merupakan feature film kedelapan bagi Paul Greengrass setelah Green Zone (2010).

W For Words:
Ada yang sudah menonton film Denmark berjudul A Hijacking (2012) dimana bajak laut Somalia bernegosiasi dengan pihak-pihak berwenang Kopenhagen? Jika sudah, anda bisa bandingkan dengan produksi kolaborasi Michael De Luca Productions, Scott Rudin Productions, Translux dan Trigger Street Productions yang satu ini. Setidaknya ada dua nama besar yang menjadi jaminan mutu di dalamnya yaitu sutradara peraih nominasi Oscar, Paul Greengrass dan tentunya aktor kawakan penerima Piala Oscar, Tom Hanks.

Tahun 2009, kapal container Maersk Alabama bermuatan lebih dari 15,000 kubik cargo milik Amerika Serikat berlayar menuju Mombasa, Kenya. Sang kapten, Richard Phillips memerintahkan 20 krunya dengan penuh otoritas. Tak lama kemudian, dua kapal boat berisikan bandit Somalia menguntit dan bertekad membajaknya. Empat di antaranya berhasil naik dan mengambil alih kekuasaan dengan senjata api. Ketuanya Muse menyandera Phillips dan melarikan diri dengan sekoci. Namun Angkatan Laut tidak tinggal diam dan memulai operasi pembebasan.
Penulis skrip Billy Ray berdasarkan novel biografi karangan Richard Phillips sendiri bersama Stephan Talty, A Captain’s Duty: Somali Pirates, Navy SEALs, and Dangerous Days at Sea yang terbit di tahun 2010 ini tidak kehilangan fokus saat harus berpindah dari ‘panggung’ berskala besar ke yang lebih kecil. Kesemua karakter yang terlibat memegang kunci masing-masing sehingga pertukaran dialog yang terjadi begitu hidup sesuai dengan situasi yang dihadapi. Kita sebagai penonton tetap dikawal ketat mengikuti moment to moment terlepas dari ending yang mungkin sudah bisa diprediksi.

Sutradara Greengrass yang terkenal dengan shaky handheld cam style nya (thanks to The Bourne trilogy) masih mempertahankan trademark tersebut. Tak jarang anda benar-benar merasa mabuk laut dibuatnya saat arus dan ombak mengombang-ambingkan kapal di tengah perairan terbuka itu. Storytelling yang straightforward cenderung tidak mengurangi tensi samasekali. Layer demi layer yang dibuka selama lebih dari dua jam durasinya seakan memberi waktu yang cukup bagi anda untuk betul-betul mengenal situasi yang dihadapi Phillips, bajak laut bahkan pihak militer US sekalipun.

Konsistensi Hanks dalam berakting dari masa ke masa memang patut diacungi jempol. Upayanya menghidupkan sosok Phillips begitu luar biasa sehingga klimaksnya terasa emosional. Bagaimana pergeseran karakteristiknya selama empat hari penyanderaan merupakan salah satu highlight dalam film ini. Abdi sebagai lawannya terbilang fenomenal sebagai debutan. Sosok Muse yang awalnya dibenci justru semakin manusiawi seiring waktu berjalan. Abdirahman, Ahmed dan Ali pun tak kalah cemerlang dalam membangun dramatisasinya secara wajar.

Captain Phillips adalah sebuah biopic menegangkan yang tak boleh dilewatkan. Bagaimana kekerasan dan ketakutan yang mewarnai pembajakan dan penyanderaan disuguhkan dengan begitu nyata tanpa faktor berat sebelah di antara subyek dan obyeknya. Format IMAX sebetulnya tidak terlalu diwajibkan bagi real moviegoers yang mengharapkan eksperimen ‘lebih’ dengan gambar dan suara dari biasanya. In the end, it’s all about the combination of smart filmmaking and captivating performances by its cast. Ready for the adventure and be the witness?

Durasi:
134 menit

U.S. Box Office:
$53,300,000 till
mid October 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 03 Maret 2010

CONFUCIUS : "Biografi" Ahli Sosial Budaya Cina Kuno

Quotes:
Kong Qiu-If you can't change the world, you should change yourself..

Storyline:
Pada abad ke-6 SM China masih terdiri atas kerajaan feodal dan pemerintahan resmi, bersaing satu sama lain demi supremasi. Seorang pemikir sosial budaya bernama Kong Qiu bekerja di kantor kementerian Kerajaan Lu yang tengah berambisi menjadi salah satu dari tiga kelompok penguasa terkuat pada saat itu. Sayangnya keberhasilan Kong Qiu dalam memulihkan martabat Pengadilan diganjal oleh tentara Lu yang dipimpin oleh seorang Jenderal muda. Kong Qiu pun dilucuti dan dibuang ke pengasingan dengan simbolis giok patah. Disanalah ia menua dengan menjadi pengembara, berkelana dari kerajaan ke kerajaan lainnya, diikuti dengan rombongan pengikut setia yang dipimpin oleh Yan Hui. Perhentian pertamanya adalah Kerajaan Wei. Bencana politik kembali mengancam Kerajaan Lu, Kong Qiu diminta kembali dan menyetujuinya hanya sebagai guru tanpa terlibat dalam politik lagi.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Beijing Dadi Century Limited dan bersetting Hebei, China.

Cast:
Baru saja tampil dalam film adaptasi komik Jepang yang gagal, Chow Yun Fat kembali sebagai salah satu tokoh sosial budaya legendaris, Kong Qiu.
Diplot sebagai Permaisuri Nan Zi adalah aktris China yang sedang naik daun, Zhou Xun.

Director:
Film keenam secara keseluruhan bagi sutradara wanita bernama Mei Hu ini setelah terakhir menggarap On the Other Side of the Bridge (2002).

Comment:
Sepintas terlihat menjanjikan sebagai film biografi karena nyaris semua orang beretnis Cina tau siapa itu Kong Qiu. Sayangnya ternyata Pemerintah Cina terlalu "ikut campur" dalam proses produksinya sehingga banyak fakta yang tidak valid. Teramat nyata, Kong Qiu yang seorang guru dan ahli ideologi malah digambarkan seorang politikus dan ahli militer! Sangat mengecewakan karena dampaknya menjadi signifikan bagi kaum muda Cina ataupun non-Cina yang belum mengenal sosok Kong Qiu. Kabarnya, Pemerintah Cina sengaja menyingkirkan Avatar dari jaringan bioskop agar Confucius bisa leluasa tayang tanpa saingan. Hm.. Itulah sebabnya banyak pengguna internet yang memboikot film ini dan memberikan rating yang sangat rendah. Efek CGI yang digunakan juga buruk sehingga banyak adegan yang terasa kopian dari film sejenis lainnya. Musik latar yang ditambahkan juga tidak lebih baik dan mengingatkan saya pada backsound Phantom Of The Opera. Benarkah?! Sutradara wanita memang memberikan nafas feminis pada film ini tetapi tidak menolong kualitas secara keseluruhan. Alurnya teramat lambat dan perpindahan scene demi scenenya terasa tercerai-berai. Alhasil Confucius tidak akan meninggalkan jejak apapun dari segi box office apalagi sampai menjadi cult movie.

Durasi:
120 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!