XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label andrew lau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label andrew lau. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Desember 2010

HAUNTED CHANGI : Menelusuri Rumah Sakit Bersejarah Terbengkalai

Tagline:
In January 2010, a group of filmmakers began exploring Old Changi Hospital in Singapore.. with terrifying and tragic results.

Storyline:
Empat orang masing-masing Andrew, Sheena, Audi dan Farid mempunyai proyek menyelidiki RS Changi yang terbengkalai dan konon berhantu. Berbagai kamera ditempatkan di setiap sudut untuk mengambil gambar sepanjang hari, siang dan malam. Terkadang mereka turun langsung ke lokasi untuk mencari terowongan rahasia yang tersembunyi sejak jaman penjajahan Jepang atas bangsa Singapura tersebut. Kemudian bergabungnya Tim Pemburu Hantu Singapura dengan keempat muda-mudi tersebut. Apa yang akan mereka temukan disana?

Nice-to-know:
Tanggal premiere film ini di negara asalnya adalah 2 September 2010.

Cast:
Andrew Lau sebagai Director
Sheena Chung sebagai Producer
Farid Azlam sebagai Sound
Audi Khalis sebagai Camera

Director:
Andrew Lau

Comment:
Film ini sangat menghebohkan Singapore beberapa bulan terakhir. Pasalnya keempat orang yang berinisiatif terjun langsung dalam proyek ini menggunakan media sosial seperti Twitter dan Facebook untuk menciptakan eforia tersendiri. Bagaimana mereka membeberkan timeline produksi mulai dari ide awal hingga berjalannya syuting. Taktik promosi yang pintar sehingga membuat publik setempat penasaran luar biasa apalagi Rumah Sakit Tua Changi itu memang sudah kesohor angkernya sejak tahun 1997.
Prolog dibuka dengan pengenalan para kru yang terlebih dahulu menceritakan sejarah rumah sakit tersebut sekaligus mewawancarai beberapa penduduk setempat. Hal ini sangat krusial mengingat audiens di luar Singapura membutuhkan informasi tersebut untuk benar-benar masuk ke dalam tujuan pembuatan dokumenter ini. Bisa diartikan juga pemanasan agar anda bisa berimajinasi terlebih dahulu akan apa yang ditampilkan kelak. Nyaris separuh durasi film dihabiskan untuk hal ini dan suka tidak suka memang agak membosankan.
Ketakutan yang berusaha dihadirkan terbagi menjadi dua yaitu siang dan malam hari. Pada siang hari, walau tanpa spesial efek apapun, gedung tua itu sudah sangat mengerikan yang menyiratkan akan kesepian yang misterius. Bagian ini diyakini mampu membuat anda terjaga untuk berusaha menangkap setiap detil yang mungkin muncul. Pada malam hari memang dibantu oleh night vision dari berbagai jenis kamera yang sukses menyingkap bayangan dari pencahayaan yang minim. Bagian ini saya acungi jempol akan keberanian mereka menelusuri lorong-lorong sempit dimana terkadang bertemu dengan hal-hal aneh yang sulit dijelaskan.
Twist dirancang pada akhir cerita yang meski tidak terlalu mencengangkan tetapi kenyataan yang terbangun cukup membuat audiens sedikit "blank". Haunted Changi merupakan proyek ambisius negeri Singapura untuk menembus pasaran horor internasional dengan konsep found footage pertamanya. Benarkah rekaman yang terdiri dari potongan-potongan gambar ini asli? Terus terang saya sedikit meragukannya atas berbagai alasan. Bagaimana menurut anda?

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 29 September 2010

LEGEND OF THE FIST : Kembalinya Chen Zhen Pahlawan Bertopeng

Original title:
Jing wu feng yun: Chen Zhen

Storyline:
7 tahun berlalu paska kematian Chen Zhen yang menemukan siapa pelaku penembakan gurunya Huo Yuanjia pada saat tentara Jepang menguasai Shanghai. Seorang pria misterius tiba dari luar negeri dan segera menjadi kawan dari bos mafia Liu Yutian. Pria tersebut sesungguhnya adalah penyamaran Chen Zhen yang bertekad mengobrak-abrik gerombolan penjahat yang berniat membentuk koalisi dengan Jepang. Dengan topeng dan seragam yang menutupi identitasnya, Chen Zhen beraksi setiap malam menyelamatkan orang-orang tidak bersalah yang diburu tentara Jepang.

Nice-to-know:
Merupakan versi terbaru dari film klasik Fist of Fury (1972).

Cast:
Donnie Yen sebagai Chen Zhen
Shu Qi sebagai Kiki
Anthony Wong sebagai Liu Yutian
Shawn Yue
Yasuaki Kurata sebagai Ayah Chikaraishi
Ryu Kohata sebagai Colonel Chikaraishi

Director:
Film ke-38 bagi Andrew Lau Wai Keung yang mengawalinya lewat Lian ai de tian kong (1984).

Comment:
Siapa yang tidak mengenal film lawas legendaris Fist Of Fury yang melejitkan nama Bruce Lee pada tahun 1972? Sudah diremake berkali-kali dengan berbagai style termasuk yang paling ternama salah satunya adalah Fist Of Legend (1994) yang dibintangi Jet Li. Kini di abad 21 bisa disebut era nya Donnie Yen untuk film-film martial arts Hongkong dan giliran Andrew Lau lah yang mengarahkannya dalam versi terbarunya ini.
Chen Zhen sendiri sesungguhnya merupakan karakter fiktif. Dan entah mengapa saya lebih merasa karakter ini justru lebih terinspirasi oleh Green Hornet dengan topeng dan jubah hitam yang dikenakannya. Belum lagi polisi-polisi bermuka dua Huang Bo dan rekan-rekannya yang terasa komikal itu. Seakan menegaskan unsur komedi dan aksi yang mendasari film ini.
Donnie Yen memang terampil sebagai Chen Zhen. Kemampuan bertarungnya dengan tangan kosong ataupun double-stick masih memukau terutama pada bagian pembuka dan penutup film. Sayangnya hanya itu yang bisa ia perlihatkan, tidak ada kedalaman emosi seperti layaknya Ip Man. Aktingnya terasa datar dan hanya menuntaskan apa yang harus ia lakukan saja.
Shu Qi bermain menarik sebagai Kiki dengan pesona penyanyi dan penjiwaan wanita yang harus berdiri di dua pihak sekaligus. Sama halnya dengan Anthony Wong yang berperan seperti biasanya sebagai konglomerat pemilik night club Liu Yutian. Jika dipikirkan, terlalu banyak karakter yang lalu lalang dalam film ini dan tidak terlalu memberikan kontribusi yang bermakna dalam membangun konflik yang sekadar mengambang.
Sutradara sekaliber Andrew seperti kehilangan sentuhan terbaiknya yang kebingungan menentukan mood film mau diarahkan kemana. Padahal skrip sudah ditulis oleh empat orang termasuk Gordon Chan yang juga bertindak sebagai produser kali ini. Meski demikian kinerjanya menghadirkan scene-scene berkemilau dalam suasana Shanghai tahun 1920an patut diacungi jempol.
Selebihnya Legend Of The Fist : The Return of Chen Zhen hanyalah film aksi biasa yang tidak menunjukkan kedalaman emosi apapun dan banyak menyisakan pertanyaan yang tidak terjawab. Satu-satunya yang cukup heroik dan patut diingat adalah semboyan “the Chinese are not the sick men of Asia" yang berulangkali dikumandangkan agar bangsa berkulit kuning tidak diremehkan begitu saja di peta dunia terutama bangsa Barat pada khususnya.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$32,978 till May 2011 (limited)

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 30 Agustus 2009

LOOK FOR A STAR : Pencarian Tiga Jenis Cinta Sejati

Storyline:
Dalam suatu perjalanan ke Macau, duda kaya bernama Sam Ching beserta sekretarisnya Jo dan supirnya Tim bertemu Milan, gadis bandar kasino sekaligus penari sebuah bar. Keduanya jatuh hati pada pandangan pertema tanpa Milan mengetahui siapa Sam sesungguhnya. Pada kesempatan lain, Jo yang dikecewakan sahabat lamanya Joseph yang memilih wanita lain untuk dinikahi malah berjumpa teknisi sederhana Lin Jiu. Sedangkan Tim terpikat pada Shannon yang sudah berputeri Queenie yang lucu menggemaskan. Jatuh bangun hubungan diantara mereka justru semakin membuat satu sama lain mengenal pasangannya masing-masing. Akankah acara "Ikuti Kata Hatimu" menjadi panggung pamungkas persetujuan cinta tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi dan didistribusikan oleh Media Asia Films.

Cast:
Andy Lau sebagai Sam Ching
Shu Qi sebagai Milan Sit
Zhang Hanyu sebagai Lin Jiu
Denise Ho sebagai Jo Kwok
Lam Ka Wah sebagai Tim Ma
Zhang Xinyi sebagai Shannon Fok
David Chiang sebagai Uncle
George Lam sebagai Mr Yamazaki
Rebecca Pan sebagai Sam's Mother

Director:
Sebelumnya sukses dengan trilogi Infernal Affairs yang sudah menjadi cult itu, Andrew Lau kini mencoba peruntungan drama romantis di usianya yang sudah menginjak 50 tahun.

Comment:
Kapan terakhir kali sebuah drama romantis buatan Hongkong menghibur anda dengan maksimal? Saya butuh waktu untuk mengingatnya dan yang terbersit di kepala hanyalah Needing You ataupun Love On A Diet yang kebetulan dibintangi mega aktor Andy Lau juga. Inilah film yang dibintangi banyak aktor-aktris ternama termasuk para kawakan seperti David Chiang, George Lam, Rebecca Pan, Maria Cordero. Pemasangan Andy Lau dengan Shu Qi terasa menarik disini terlepas dari jauhnya perbedaan usia di antara keduanya, berhasil berbaur dengan alami lewat karakter Sam yang dewasa dan penyabar dengan Milan yang simpatik dan mandiri. Tokoh yang dimainkan Denise Ho dan Lam Ka Wah juga semakin memperkuat premis bahwa kehidupan cinta yang sempurna memang sulit diraih. Masing-masing screen time dari trio tersebut memiliki kekuatan cerita sendiri-sendiri.
Sutradara handal Andrew Lau yang biasanya menangani genre action crime kini bekerjasama dengan penulis Cindy Tang dan James Yuen dalam menerjemahkan ansambel cerita cinta yang saling terpaut yang berfokus pada aspek jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Bukan hal yang baru sebenarnya tapi dikembangkan secara fresh dengan mengambil latarbelakang Macau yang diekspos indah.
Look For A Star akan mengajak anda menikmati kembali manisnya romansa mulai dari debaran jantung saat menghabiskan waktu dengan seseorang yang berarti bagi anda, rasa sungkan menemui kekasih, barang pemberian sang tambatan hati yang sangat berarti, kehangatan berpegangan tangan, pengungkapan cinta yang tulus hingga harap-harap cemas menanti jawabannya. Sesuatu yang sudah jarang diekspos belakangan ini terutama bagi drama romantis konsumsi orang dewasa dan semuanya tersampaikan dengan memuaskan. Jangan lupa membawa tissue jika ada momen tertentu dalam film ini yang akan menyentuh hati anda. Well done!

Durasi:
115 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 23 Maret 2009

FLOCK : Berkolaborasi Mengejar Pelaku Kekerasan Seksual

Tagline:
Evil has many faces. He has seen them all.

Cerita:
Erroll Babbage telah menghabiskan hampir seluruh karirnya untuk melacak pelaku pelecehan seksual dan metodenya yang tidak lazim hampir sama brutalnya dengan kriminal yang dia monitor. Saat dia menghubungkan salah satu orang yang bebas bersyarat dengan menghilangnya salah satu gadis setempat, dia dan rekan barunya Allison Lowry harus mendatangi S&M bawah tanah untuk menemukannya sebelum terlambat. Bisakah permainan kucing tikus tersebut diakhiri dengan baik?

Gambar:
Lokasi syuting dilakukan di Albuquerque dan Bernalillo, New Mexico yang terasa pas menggambarkan suasana sepi dan gersang kota tempat penyidikan.

Cast:
Terakhir tampil lewat peran tokoh nyata Clifford Irving dalam The Hoax (2006), Richard Gere disini terlihat temperamen memainkan karakter detektif Erroll Babbage.
Sebelum tampil memikat dalam Stardust (2007), Claire Danes terlebih dahulu didapuk sebagai Allison Lowry, detektif forensik yang baru ditugaskan di kota kecil mendampingi seniornya.

Sutradara:
Andrew Lau Wai Keung mungkin baru dikenal sebatas Asia lewat karyanya trilogi Infernal Affairs (2002-2003) yang legendaris itu. Inilah film internasional pertamanya yang langsung memasang dua bintang Hollywood yang cukup ternama.

Comment:
Thriller yang mengangkat tema sulit yaitu kekerasan seksual yang dikaitkan dengan investigasi cenderung berat dan sukar diterima di pasaran, selayaknya yang pernah dilakukan Nicolas Cage dalam 8 MM. Terlepas dari fakta tersebut, Flock bisa dikatakan film gelap yang cukup baik karena menampilkan sesuatu yang jauh di atas permukaan walau belum terlalu maksimal. Gaya investigasi yang dilakukan Lau cukup unik. Namun editingnya kurang mulus disebabkan terlalu banyak adegan kilat dan beku yang biasanya terjadi di serial teve saja. Di sisi cast, Gere memukau dalam mengeluarkan emosi saat memperlakukan setiap tersangka sebagai pelaku kejahatan, tetapi Danes yang biasanya cemerlang kali ini kurang "berisi". Kejutan yang ditampilkan di ending mungkin tidak akan terduga oleh penonton walaupun masih kurang menggetarkan.

Durasi:
95 menit

Box Office:
$5,359,167

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!