XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Kamis, 03 September 2009

KERAMAT : "Live Show" Mencekam Sebuah Kru Film Di Bantul

Cerita:
Sebuah tim produksi film, berangkat dari Jakarta ke daerah Bantul Yogyakarta dalam rangka persiapan shooting film. Dengan style kota besar yang dibawanya, mereka bersikap seenaknya saat memasuki daerah yang disucikan dan keramat. Akibat mengusik tabu, sehingga kejadian demi kejadian aneh mereka alami. Melalui paranormal, mereka mengetahui alam mistis di sekitar mereka sedang bergolak karena sesuatu hal. Kehadiran mereka tampaknya memperburuk keadaan. Bagaimana mereka bisa keluar dengan selamat dari tempat tersebut?

Gambar:
Tanpa sinematografi karena handheld camera style biasanya tidak fokus dalam mempertunjukan scene demi scenenya terutama di adegan malam hari.

Act:
Poppy Sovia
Migi Parahita
Sadha Triyudha
Miea Kusuma
Dimas Projosujadi
Diaz Ardiawan
Brama Sutasara


Sutradara:
Hanyalah sebuah film eksperimen bagi seorang Monty Tiwa yang belakangan semakin kehilangan sentuhannya sehingga berusaha menggali ide-ide baru yang sayangnya tidak pernah tergarap dengan baik olehnya!

Komentar:
Sulitnya mengambil tema orisinil bagi sebuah film bertipe semi dokumenter seperti ini. Alhasil Keramat yang dibumbui kejadian nyata gempa di Bantul beberapa tahun lalu dengan memadukan unsur lokal "terkesan" mengekor formula film-film luar seperti Blair Witch Project, Cloverfield ataupun Quarantine. Jika ketiga film tersebut bisa dibilang berhasil mengekspos kengerian dengan konsisten dan setidaknya "terasa" masuk akal, tidak halnya dengan Keramat. Semua elemen kejutan yang berusaha ditampilkan sayangnya malah membuat penonton semakin "enggan" dan mengernyitkan kening karena terganggu semua panca inderanya. Dari awal sampai akhir, tidak ada penjelasan yang jelas atas tindakan A, tindakan B dsb dan berujung pada suatu konklusi yang campur aduk. Para pemainnya juga sama sekali tidak membantu dalam "berakting". Hm, mudah-mudahan tidak ada lagi yang mencoba hal serupa jika tidak didukung dengan skill yang baik. Percayalah, hasilnya hanya akan menjadi mimpi buruk saja!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 02 September 2009

CARRIERS : Perjalanan Sahabat Saudara Menghindari Wabah

Quotes:
Doctor: Sometimes choosing life is just choosing a more painful form of death.


Storyline:
Merebaknya virus mematikan di belahan bumi membuat Brian dan kekasihnya Bobby serta adiknya Danny dan teman mereka Kate bertekad mengungsi ke pantai dimana abang adik tersebut biasa menghabiskan liburan masa kecil mereka. Sayangnya dalam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi rusak di tengah gurun hingga harus menumpang pada seorang pria bernama Frank dengan putrinya Jodie yang terinfeksi. Keenam orang yang saling menjaga jarak itu mulai menciptakan dilema dan konflik yang semakin memuncak hingga tidak terlihat jalan kembali seperti sediakalanya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Paramount Vantage, Likely Story, This Is That Productions dan Ivy Boy Productions.

Cast:
Mulai dikenal sejak membintangi Thumbsucker (2005), Lou Taylor Pucci berperan sebagai Danny Green
Chris Pine sebagai Brian Green
Piper Perabo sebagai Bobby
Pebalet ini pernah mendukung The Ring Two (2005), Emily VanCamp bermain sebagai Kate

Director:
Merupakan debut sekaligus kolaborasi pertama bagi kakak beradik asal Spanyol bernama David dan Alex Pastor ini.

Comment:
Epidemi penyakit menular biasanya digambarkan mengerikan dalam sebuah film. Hal yang sama berlaku pada skrip yang dikembangkan David dan Alex Pastor ini, hanya saja mereka memperkuat jalinan keempat tokoh utama disini yang terdiri dari dua pasang kekasih dan sepasang abang adik kandung. Bagaimana perjalanan yang seharusnya menuju kebebasan bersama harus berantakan karena kecerobohan dan keegoisan masing-masing.
Pucci merupakan salah satu aktor muda berbakat yang belum banyak diketahui. Peran Danny yang lemah hati itu dilakoninya dengan baik, tak jarang sahabat dan abangnya sendiri bisa begitu dominan terhadapnya. Sedangkan Pine yang namanya semakin melejit sebagai calon aktor besar di masa mendatang tidak mengecewakan sebagai Brian yang temperamen dan bajingan itu. Perabo dan VanCamp juga memperkaya karakteristik dalam film dengan sisi feminin yang tidak monoton tersebut.
Pastor brothers yang juga bertindak sebagai sutradara itu menghadirkan konsep film yang cukup inovatif dengan production value yang sangat berarti. Terkadang durasinya yang nyaris mencapai satu setengah jam itu terasa sangat lama dikarenakan gaya penuturan yang seksama. Meskipun penonton sudah tahu kemana suatu adegan akan mengarah tapi perpanjangan detil cerita tetap dilakukan untuk menegaskan konflik apa yang sesungguhnya dialami para tokohnya itu.
Jika anda mengharapkan adegan sadis ataupun kejutan horor bertubi-tubi yang mencekam, bersiaplah untuk kecewa. Carriers tak lebih dari sekadar drama yang kental dengan aroma persahabatan dan kekeluargaan, mengaduk-aduk emosi penonton untuk benar-benar bersimpati pada semua karakternya yang terbilang abu-abu. Plotnya memang tak terlalu berfokus pada penyebab merebaknya virus mematikan itu tetapi lebih pada situasi dimana rasa kemanusiaan bisa dikalahkan oleh keputus asaan yang menyedihkan.

Durasi:
84 menit

U.S. Box Office:
$90,820 till Sep 2009

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 01 September 2009

BANDSLAM : Kompetisi Band Pencarian Jati Diri

Quotes:
Will Burton: So, how big is this whole bandslam thing around here?

Sa5m: Texas high school football big.


Storyline:
Ketika penulis lagu dan vokalis band, Charlotte Banks meminta anak baru Will Burton untuk menjadi managernya mungkin tujuannya cuma satu yaitu menyaingi kepopuleran The Glory Dogs yang dipimpin mantan kekasihnya, Ben. Terlebih dalam ajang kompetisi band tahunan terbesar yaitu Bandslam, semua peserta harus tampil prima dengan ciri khas tersendiri. Will sendiri sangat dekat dengan ibunya Karen setelah kasus yang menimpa ayahnya di masa lampau. Pertemuan dengan Sa5m yang juga bersuara merdu dan jago gitar membuat Ben memiliki semangat baru untuk lepas dari kerangkengnya selama ini. Berhasilkah mereka bersatu dalam musik dan menjadi yang terbaik pada akhirnya?

Nice-to-know:
Awalnya film ini sempat akan diberi judul "Will", lalu diganti Rock On" sebelum diputuskan "Bandslam".

Cast:
Sebelum ini sempat mendukung serial televisi tenar Law & Order (2008), Gaelan Connell bermain sebagai Will Burton
Baru saja tampil dalam Super Sweet 16 : The Movie (2007) bersama saudarinya AJ, Alyson Michalka berperan sebagai Charlotte Barnes
Vanessa Hudgens sebagai Sa5m
Scott Porter sebagai Ben Wheatly
Ryan Donowho sebagai Basher Martin
Charlie Saxton sebagai Bug
Lisa Kudrow sebagai Karen Burton
Tim Jo sebagai Omar

Director:
Merupakan film kedua bagi Todd Graff setelah Camp (2003) yang juga bertemakan musikal tersebut.

Comment:
Film remaja bertemakan musikal yang terakhir kali mengesankan bagi saya adalah School of Rock (2003) karya Richard Linklater. Dan ternyata pada tahun yang sama, Todd Graff juga membuat Camp yang memiliki rating yang cukup baik juga. Sayangnya saya memang belum sempat menyaksikannya dan malah langsung pada karya keduanya 6 tahun kemudian tanpa ekspektasi apapun. And tell you that it surprises me!
Secara garis besar, semestinya tidak ada yang spesial pada skrip film ini. Semuanya sangat mudah ditebak dimana ada sebuah band yang bukan siapa-siapa berusaha membuktikan dirinya dalam kompetisi berskala nasional, seorang remaja pria dalam proses pencarian identitas dibantu orang-orang di sekitarnya, karakter dua gadis yang bertolak belakang plus tentunya lagu-lagu dan aksi panggung yang setidaknya harus terlihat meyakinkan.
Perbedaannya adalah penulis Josh A. Cagan dibantu juga oleh sutradara Graff yang memberikan beberapa penekanan pada karakter-karakter dalam film ini sesuai dengan porsi konflik masing-masing. Dan tidak ada yang berakting buruk kali ini. Kredit khusus patut diberikan pada Gaelan yang mampu menerjemahkan tokoh Will dengan lugu sekaligus bernyawa. Juga debut Alyson yang di luar dugaan cukup bermain lugas dengan dualisme karakter. Sedangkan Vanessa tampaknya masih sedikit terbawa popularitas dan kharisma yang sama dalam High School Musical.
Lagu-lagu yang disuguhkan dalam film ini memang tidak terlalu memorable dan ear-catchy. Namun terbilang cukup untuk menjaga konsep pertunjukan musik itu sendiri. Terlebih tembang yang dihadirkan pada final chapter, penonton serasa diajak merasakan energi dan semangat para personil I Can’t Go On, I’ll Go On di atas panggung. Selain atmosfir dari penonton juga yang meyakinkan, seakan kompetisi tersebut benar-benar diadakan secara live.
Bandslam tidak hanya sekadar memberikan performance cemerlang tetapi juga karakterisasi yang sangat kaya sudut pandangnya. Bagaimana peran orangtua terhadap perkembangan anak, romantisme remaja yang norak tapi menggemaskan, persahabatan yang mengajarkan banyak hal dan lain-lain dihadirkan satu-persatu tanpa kesan berlebihan. Saya puas dan cukup tersentuh dengan film remaja yang terkonsep baik dan tidak terlalu berambisius seperti ini. Bagaimana dengan anda?

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$5,205,343 till Sept 2009

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 31 Agustus 2009

CIN(T)A : Perenungan Abstrak Percintaan Beda Latar Belakang

Cerita:
Mahasiswa baru beretnis Tapanuli Tionghoa bernama Cina adalah pemuda yang cerdas dan selalu optimis menghadapi hidupnya walau sering terbentur terbatasnya dana dalam mengejar cita-citanya. Sedangkan mahasiswi "abadi" beretnis Jawa bernama Anissa adalah pemudi penyendiri dikarenakan masalah keluarganya dan bermimpi menjadi aktris terkenal walau terancam drop out dari kuliahnya. Berdua mereka mulai berbagi dan membuka diri mendiskusikan hal-hal mendasar tentang cinta dan agama di antara mereka yang bertolak belakang.

Gambar:
Pendekatan sinematografi yang dilakukan tergolong unik dengan banyak bermain close up terhadap mimik dua pemeran utamanya.

Act:
Dua pendatang baru yang mungkin tidak pernah terdengar namanya, Sunny Soon dan Saira Jihan yang sangat cameraface bermain cukup memuaskan dalam film ini sebagai Cina dan Anissa yang dipersatukan karena perbedaaan.

Sutradara:
Mengusung tema "God Is A Director", nama baru Sammaria Simanjuntak menghasilkan Cin(t)a yang bisa dibilang film indie dengan semangat baru yang tentunya menyegarkan bagi perfilman nasional.

Komentar:
Menyaksikan Cin(t)a tanpa ekspektasi apapun, saya akan mereview film ini dalam dua bagian. Bagian pertama, perkenalan Cina dan Anissa yang boleh dibilang tidak direncanakan ternyata sangatlah menarik. Mimik muka dan gestur mereka terasa hidup saat berbalas dialog yang lucu sekaligus menggigit. Seakan penonton bisa merasakan langsung ketertarikan dua insan tersebut. Bagian kedua, kedekatan Cina dan Anissa yang mulai menimbulkan konflik karena perbedaan etnis dan agama yang sangat mendasar. Berdua mereka mulai "melanglang" dengan pikiran-pikiran absurd yang sebetulnya tidak perlu ditambah kompleks. Hm, saya pribadi bisa menikmati paruh pertama dengan lepas dan mulai berkerut pada paruh kedua dikarenakan tema yang cukup berat. Namun realistisnya film ini dari segala sisi dan terasa "beda" dengan konsep "jari-jemari" yang personal apalagi didukung beberapa upbeat groovy song yang melatarbelakangi soundnya membuat saya merekomendasikan pada anda semua untuk menyaksikannya.

Durasi:
75 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 30 Agustus 2009

LOOK FOR A STAR : Pencarian Tiga Jenis Cinta Sejati

Storyline:
Dalam suatu perjalanan ke Macau, duda kaya bernama Sam Ching beserta sekretarisnya Jo dan supirnya Tim bertemu Milan, gadis bandar kasino sekaligus penari sebuah bar. Keduanya jatuh hati pada pandangan pertema tanpa Milan mengetahui siapa Sam sesungguhnya. Pada kesempatan lain, Jo yang dikecewakan sahabat lamanya Joseph yang memilih wanita lain untuk dinikahi malah berjumpa teknisi sederhana Lin Jiu. Sedangkan Tim terpikat pada Shannon yang sudah berputeri Queenie yang lucu menggemaskan. Jatuh bangun hubungan diantara mereka justru semakin membuat satu sama lain mengenal pasangannya masing-masing. Akankah acara "Ikuti Kata Hatimu" menjadi panggung pamungkas persetujuan cinta tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi dan didistribusikan oleh Media Asia Films.

Cast:
Andy Lau sebagai Sam Ching
Shu Qi sebagai Milan Sit
Zhang Hanyu sebagai Lin Jiu
Denise Ho sebagai Jo Kwok
Lam Ka Wah sebagai Tim Ma
Zhang Xinyi sebagai Shannon Fok
David Chiang sebagai Uncle
George Lam sebagai Mr Yamazaki
Rebecca Pan sebagai Sam's Mother

Director:
Sebelumnya sukses dengan trilogi Infernal Affairs yang sudah menjadi cult itu, Andrew Lau kini mencoba peruntungan drama romantis di usianya yang sudah menginjak 50 tahun.

Comment:
Kapan terakhir kali sebuah drama romantis buatan Hongkong menghibur anda dengan maksimal? Saya butuh waktu untuk mengingatnya dan yang terbersit di kepala hanyalah Needing You ataupun Love On A Diet yang kebetulan dibintangi mega aktor Andy Lau juga. Inilah film yang dibintangi banyak aktor-aktris ternama termasuk para kawakan seperti David Chiang, George Lam, Rebecca Pan, Maria Cordero. Pemasangan Andy Lau dengan Shu Qi terasa menarik disini terlepas dari jauhnya perbedaan usia di antara keduanya, berhasil berbaur dengan alami lewat karakter Sam yang dewasa dan penyabar dengan Milan yang simpatik dan mandiri. Tokoh yang dimainkan Denise Ho dan Lam Ka Wah juga semakin memperkuat premis bahwa kehidupan cinta yang sempurna memang sulit diraih. Masing-masing screen time dari trio tersebut memiliki kekuatan cerita sendiri-sendiri.
Sutradara handal Andrew Lau yang biasanya menangani genre action crime kini bekerjasama dengan penulis Cindy Tang dan James Yuen dalam menerjemahkan ansambel cerita cinta yang saling terpaut yang berfokus pada aspek jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Bukan hal yang baru sebenarnya tapi dikembangkan secara fresh dengan mengambil latarbelakang Macau yang diekspos indah.
Look For A Star akan mengajak anda menikmati kembali manisnya romansa mulai dari debaran jantung saat menghabiskan waktu dengan seseorang yang berarti bagi anda, rasa sungkan menemui kekasih, barang pemberian sang tambatan hati yang sangat berarti, kehangatan berpegangan tangan, pengungkapan cinta yang tulus hingga harap-harap cemas menanti jawabannya. Sesuatu yang sudah jarang diekspos belakangan ini terutama bagi drama romantis konsumsi orang dewasa dan semuanya tersampaikan dengan memuaskan. Jangan lupa membawa tissue jika ada momen tertentu dalam film ini yang akan menyentuh hati anda. Well done!

Durasi:
115 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 29 Agustus 2009

THE PROPOSAL : Pernikahan Palsu Berbuntut Perasaan Cinta

Quotes:
Margaret Tate-What am I allergic to?
Andrew Paxton-Pine nuts, and the full spectrum of human emotion.

Cerita:
Kepala editor perfeksionis, Margaret Tate dihadapkan pada situasi sulit saat mengetahui dirinya akan dideportasi ke Kanada sekaligus kehilangan jabatan prestisiusnya. Tak kehilangan akal, Margaret langsung menggaet asisten pribadinya, Andew Paxton untuk merencanakan pernikahan palsu demi perjanjian mutualisme bersama. Namun hal tersebut tidaklah mudah karena mereka diawasi lembaga hukum Amerika dan juga harus melewati serangkaian tes kecocokan satu sama lain. Sebelumnya, Margaret harus berakhir pekan di kampung halaman Andrew demi merayakan ultah ke-95 Nenek Annie. Bagaimana kedua insan ini berinteraksi pada akhirnya untuk memuluskan rencana masing-masing?

Gambar:
Sebagian besar mengambil lokasi di Massachusetts termasuk tempat kerja Margaret dan Andrew. Sedangkan nuansa berbeda didapat pada Sitka, kampung halaman Andrew yang sebetulnya bertempat di Newport, Rhode Island.

Act:
Memulai karirnya dalam Hangmen (1987), Sandra Bullock adalah salah satu aktris kelas A Hollywood yang masih aktif dengan berbagai peran termasuk sebagai Margaret Tate, wanita karir mandiri yang perfeksionis sekaligus dibenci anak buahnya.
Nama Ryan Reynolds tengah membubung tinggi di kancah perfilman Hollywood saat ini apalagi jika dibandingkan dengan debutnya dalam Ordinary Magic (1993). Sebagai Andrew Paxton, Ryan bermain menarik dengan memperlihatkan ketulusan hati sekaligus keseriusannya dalam bekerja.

Didukung pula oleh Craig T. Nelson dan Mary Steenburgen sebagai orangtua Andrew serta Betty White dan Malin Akerman sebagai Nenek Annie dan Gertrude yang juga mantan kekasih Andrew.

Sutradara:
Angkat nama saat menyutradarai debutnya Step Up (2006) yang mendapat sambutan baik, Anne Fletcher kembali dengan film ketiganya, The Proposal dengan menggaet ratu komedi romantis Hollywood dan aktor muda yang sedang naik daun dalam satu frame.

Komentar:
Secara keseluruhan jalan cerita The Proposal bisa ditebak, selayaknya komedi romantis. Tetapi yang menarik untuk disaksikan adalah proses menuju ke sana yang untungnya terasa manis di segala unsur. Pertama, kita punya Bullock yang menguasai genre ini sejak dulu yang dipadukan secara pas dengan Reynolds yang tengah laris walau baru saja melepas masa lajangnya. Kedua, cerita dunia karir antar bos wanita dengan bawahan prianya boleh jadi banyak terjadi di dunia nyata sehingga banyak memunculkan dialog tajam antar mereka. Ketiga, situasi yang semula tidak menguntungkan menjadi saling bersinergi untuk sebuah akhir yang menyenangkan di tempat yang terkesan indah dan sangat realistis. Sebagai produser, Bullock tahu betul apa yang harus dijualnya dan sebagai sutradara, Fletcher mampu mengeksekusi tugasnya dengan baik. Dengan demikian, saya tidak ragu menobatkan film ini sebagai komedi romantis terbaik tahun ini yang akan dengan mudah disukai publik!

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$159,166,329 till end of Aug 2009

Overall:
8.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 28 Agustus 2009

KATA MAAF TERAKHIR : Permintaan Khusus Menjelang Ajal

Cerita:
Mengetahui hidupnya akan berakhir dalam waktu singkat, Darma berusaha mencapai beberapa "target" yang telah ditetapkannya yaitu shalat lima waktu, puasa sebulan penuh, berhenti merokok serta meminta maaf pada mantan istrinya, Dania dan kedua anak mereka yaitu Reza dan Lara. Keinginan terakhir itulah yang ternyata teramat sulit dilakukan karena kesalahan besar yang dilakukan Darma di masa lalu dengan menghamili Alina, sahabat Dania sendiri. Akankah Darma dimaafkan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya?

Gambar:
Sinematografi yang dijual tidak jauh beda dengan kualitas sinetron atau film televisi.

Act:
Setelah sekian lama berkiprah, Tio Pakusadewo kembali memegang peran utama sebagai Darma, lelaki setengah baya yang berusaha bertobat setelah melakukan kesalahan fatal terhadap keluarganya.
Pernah tampil sekilas dalam Lantai 13, perannya sebagai Dania merupakan salah satu terobosan berarti bagi Maia Estianty yang dituntut harus bisa menangis disini.
Amanda dan Ade Surya Akbar tampil cukup natural sebagai kedua anak Dania, Reza dan Lara.
Didukung pula oleh dua senior, Dwi Sasono dan Kinaryosih sebagai Dokter Rey dan Alina.

Sutradara:
Film layar lebar pertama bagi Maruli Ara dimana momentumnya cukup bagus karena disajikan sebagai tontonan bulan Ramadhan.

Komentar:
Jika ditilik secara keseluruhan sebetulnya tidak ada yang spesial pada Kata Maaf Terakhir. Namun plot cerita drama keluarga yang sederhana tersebut dikemas secara wajar dan didukung dengan kemampuan aktualisasi akting yang lumayan baik dari seluruh aktor-aktris pendukungnya terutama Tio dan Amanda yang berhasil menciptakan chemistry kuat saat mereka berbagi layar. Kesan melankolis cukup berhasil dibangun sehingga beberapa adegan niscaya mampu membuat anda terharu. Akhir kata, film ini sangat pas menjadi teman berbuka anda di bulan puasa ini sembari merenungkan makna dari sebuah keluarga.

Durasi:
100 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 27 Agustus 2009

POCONG JALAN BLORA : Hantu Baru Format Lama

Cerita:
Empat sekawan Josh, Mei, Joe dan Sandra sepakat menjawab keingintahuan mereka akan penampakan pocong tanpa kepala di jalan Blora. Selepas malam itu, keempatnya diganggu teror supernatural yang sulit dijelaskan yang berujung pada hilangnya Mei secara misterius setelah bertengkar dengan pacarnya Freddy. Sandra berusaha mencari petunjuk dengan mengunjungi apartemen Mei dan menemukan sudah berganti penyewa yaitu Hilda. Beruntung Hilda yang memiliki indera keenam mau membantu memecahkan semua keganjilan tersebut. Kemana sebenarnya Mei? Siapa sesungguhnya identitas pocong tanpa kepala tersebut?

Gambar:
Gambar-gambar retro minimalis yang menjadi ciri khas Nayato kembali muncul disini. Sayangnya "penampakan" tidak cukup konsisten dan tidak terlalu menyeramkan.

Act:
Sebagian muka-muka lama seperti Monique Henry, Abdurahman Arif turut mendampangi muka-muka baru Arumi Bachsin, Garneta Haruni, Fikri Baladraf, Zidni Adam Jawas dan Ridwan Ghany sebagai tokoh-tokoh sentral film ini.

Sutradara:
Terakhir bereksperimen dengan genre drama remaja Virgin 2 : Bukan Film Porno, Ian Jacobs kembali ke habitatnya yaitu horor. Formula sama masih digunakannya disini yakni bintang-bintang baru dengan cerita tambal sulam dari film-film sebelumnya.

Komentar:
Tidak ada hal baru yang ditawarkan teammaker film ini selain hantu urban berwujud pocong tanpa kepala? What? Itulah yang terjadi, dipadukan dengan tempelan "inspirasi dari kejadian nyata" dengan mengusung tagline "The Scariest Horor Movie In Years". Double WHAT? Pengulangan saja dari tema yang diusung terdahulu ditambah plot campur aduk tanpa inovasi kreatif sama sekali! Menghantui lewat mimpi yang kerapkali muncul bukan lagi suatu kejutan apalagi penampakannya tidak cukup mengerikan. Hm, Nayato atau Ian Jacobs atau siapapun namanya, tolong berhentilah membodohi penonton. You have talent, please take it to the next level. Otherwise you will only be a specialist director for trash movies.

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 26 Agustus 2009

REVOLUTIONARY ROAD : Krisis Perkawinan Antara Mimpi dan Realita

Quotes:
Frank Wheeler-Well I support you, don't I? I work ten hours a day at a job I can't stand!
April Wheeler-You don't have to!
Frank Wheeler-But I have the backbone not to run away from my responsibilities!

Cerita:
1955, tahun ketujuh dalam perkawinannya, sepintas Frank dan April Wheeler terlihat berbahagia. Namun sesungguhnya tidak! Kehidupan di Connecticut dengan dua anak, April menjadi ibu rumah tangga sedangkan Frank disibukkan dengan pekerjaannya sebagai administrasi kantor. Sampai pada suatu ketika, April mempunyai ide untuk pindah ke Paris dan menjadi sekretaris sementara Frank bisa melanjutkan hobinya. Rencana yang semula matang menjadi mentah kembali saat Frank dipromosikan naik jabatan. Dilema antar kedua orangtua muda tersebut semakin memuncak. Apakah semua bisa terselesaikan tanpa perceraian menjadi jalan keluarnya?

Gambar:
Bersetting asli di Connecticut, kehidupan keluarga urban di tepi kota besar disorot dengan sangat baik, konstan dengan gaya tahun 1950an yang kental di segala sisi.

Act:
Terakhir tampil dalam Body Of Lies, Leonardo DiCaprio kembali pada genre drama yang pernah membesarkan namanya. Dalam peran Frank Wheeler, Leo terlihat matang dan dewasa sebagai karyawan administrasi yang sebetulnya tidak ia sukai.
Sama seperti Leo dimana terlibat juga dalam satu proyek yang akhirnya mengantarkan Piala Oscar baginya dalam The Reader, Kate Winslet sekali lagi membuktikan talentanya. Dalam karakter April Wheeler, Kate tampil emosional dan pemimpi sehingga masuk nominasi Aktris Terbaik BAFTA Film Award 2009.

Sutradara:
Meraih Piala Oscar pada debut penyutradaraan layar lebarnya dalam American Beauty (1999), Sam Mendes yang juga suami dari Kate Winslet di kehidupan nyata memang belum banyak berkarya tetapi sudah diakui kualitasnya di dunia perfilman internasional.

Komentar:
Dibuat berdasarkan novel karangan Richard Yates, Sam Mendes mentranskripsikan hampir 100% sama dalam bentuk layar lebarnya termasuk lokasi, scene dan karakter. Bicara tentang karakter, Leo dan Kate bermain nyaris sempurna sebagai pasangan yang tengah mengalami krisis perkawinan sehingga kita bisa mengerti kebencian dan ketidaksukaan satu sama lain akan situasi yang tengah berjalan. Sinematografinya terasa kuat di berbagai elemen. Satu-satunya yang patut diperhatikan adalah Revolutionary Road menonjolkan kedepresian secara dominan, maka dari itu bukan tipe film dimana penonton bisa duduk nyaman begitu saja. Film yang bagus dari berbagai sisi tetapi bukan dari unsur hiburan.

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$22,877,808 till Apr 2009

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 25 Agustus 2009

MEMORY : Halusinasi Supernatural Kontra Trauma Masa Lalu

Cerita:
Suatu malam, departemen kepolisian menerima telepon yang menyatakan suara teriakan di sebuah rumah yang baru saja ditempati perempuan berusia 30an Ingorn dan anaknya, Pear. Gadis kecil tersebut terlihat shock dengan beberapa memar di tubuhnya. Sesuai peraturan orangtua-anak, Pear diijinkan bertemu psikiater Krid untuk memeriksanya. Krid yang juga berangkat dari trauma masa lalu melihat ketakutan pada sorot mata Pear yang menurut Ingorn disebabkan penampakan arwah penasaran. Apa yang sesungguhnya terjadi pada Pear? Dapatkah Krid menjawabnya?

Gambar:
Beberapa adegan lambat dengan suasana minimalis di sebuah rumah bercahayakan temaram konon akan membuat anda bergidik. Sinematografinya bisa dibilang cukup konsisten.

Act:
Bersamaan dengan perannya dalam The Coffin, Ananda Everingham disini bermain sebagai Krid, psikiater muda yang berpisah dengan istrinya setelah kecelakaan mobil yang menewaskan putri semata wayang mereka.
Mai Charoenpura sebagai Ingorn, wanita misterius yang sangat protektif terhadap putrinya.
Parujee Khemsawad sebagai Pear, gadis kecil yang mengalami delusi paranoid tanpa sebab yang jelas.

Sutradara:
Torpong Tunkamhang

Komentar:
Dengan mood lambat, film ini bergulir hampir tanpa riak jika tidak diselingi dengan subplot cerita yang berpindah-pindah antara Krid dan Ingorn terutama di awal cerita. Tapi hal tersebut tidak menjadikan Memory menjemukan karena diterjemahkan dengan menarik dan mampu menjaga rasa penasaran penonton untuk terus mengikuti. Perlahan-lahan anda akan dibimbing pada suatu konklusi di akhir yang sulit diduga dengan petunjuk yang sedikit. Saya lebih suka menyebut film ini sebagai drama psikologis dengan sentuhan horor/thriller secara bersamaan selayaknya khas film Thailand pada umumnya. Bagaimana menurut anda?

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!